← Daftar isi Ekonomi Allah Tritunggal · bab 17/24

PERSEKUTUAN HAYAT DAN PERASAAN HAYAT

"Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup - itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna. Inilah berita yang telah kami dengar dari Dia dan kami sampaikan kepada kamu : Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakan bahwa kita mempunyai persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa" (I Yoh. 1:1-7).

Dalam kutipan pendek ini, pertama-tama ada hayat kekal. Dari hayat kekal ini timbul persekutuan ilahi, dan persekutuan ilahi ini mendatangkan terang, yaitu Allah itu sendiri. Jadi, di sini ada hayat, persekutuan, dan terang.

Roma 8:6 memberi tahu kita, "Menaruh pikiran di atas daging itulah maut, tetapi menaruh pikiran di atas roh itulah hidup dan damai sejahtera" (Revised Standard Version). Ayat ini membicarakan maut, hidup, dan damai sejahtera. Kita harus memahami bahwa baik maut, hidup, dan damai sejahtera seperti yang disebutkan di sini adalah sesuatu yang dapat kita rasakan dalam batin kita. Kalau tidak, bagaimana mungkin kita mengetahui bahwa kita memiliki maut, hidup, dan damai sejahtera ini? Kita tahu bahwa kita memiliki maut, hidup, dan damai sejahtera melalui perasaan dalam batin kita. Kata "perasaan" tidak disebut dalam ayat ini, tetapi jelas bila kita menaruh pikiran di atas daging, kita mengetahui maut dengan merasakannya; di pihak lain, ketika kita menaruh pikiran kita di atas roh, kita mengetahui hayat dan damai sejahtera dengan merasakannya pula. Sebab itu, dalam ayat ini ada perasaan hayat. Kelihatannya ayat ini tidak ada hubungannya dengan 1 Yohanes, tetapi dalam realitas roh, hubungannya sangat erat dengan pasal pertama dari 1 Yohanes. Dalam 1 Yohanes 1 ada persekutuan hayat, dan dalam Roma 8:6 ada perasaan hayat.

Dalam bab yang lalu kita telah nampak bahwa hukum hayat dan pengurapan terkandung dalam kekayaan kebangkitan. Kita juga memiliki Allah itu sendiri, hayat ilahi, yaitu Kristus di dalam Roh itu, dan sifat ilahi sebagai kekayaan kita. Inilah kelima pokok dari kekayaan dalam kebangkitan, dan sebagai orang-orang dalam ciptaan baru, kita memiliki kedudukan dan hak penuh untuk menikmati semuanya itu. Di atas dasar ciptaan baru kita dapat mengalami kebangkitan yang mencakup Allah sebagai bagian kita, Kristus sebagai hayat kita, sifat ilahi, hukum hayat, dan pengurapan batiniah. Bayangkan, betapa limpahnya perkara-perkara ini! Hari demi hari, kita sedang menikmati kelima pokok kekayaan dalam kebangkitan ini, tidak peduli kita paham atau tidak. Sekalipun sebagai seorang anak Allah yang baru lahir, kita dapat menikmati kekayaan-kekayaan ini setiap hari.

PERSEKUTUAN HAYAT

Dari kekayaan Allah itu sendiri, hayat ilahi, sifat ilahi, hukum hayat, dan pengurapan batiniah, ada dua pokok lain : persekutuan hayat dan perasaan hayat. Keduanya ini adalah hasil dari kekayaan kebangkitan. Hayat kekal mendatangkan suatu persekutuan ilahi. Bila kita memiliki Kristus sebagai hayat dalam Roh itu, kita memiliki persekutuan dengan hayat tersebut. Persekutuan hayat ibarat peredaran darah. Darah dalam tubuh kita adalah hayat tubuh kita - jika tubuh kita tidak mengandung darah, tidak ada hayat, sebab hayat berada di dalam darah. Dalam tubuh juga ada peredaran darah, dan melalui peredaran darah, semua unsur yang negatif dikeluarkan dari tubuh dan makanan-makanan dikirimkan ke setiap bagian tubuh. Hari demi hari, peredaran darah mengeluarkan sisa-sisa pembakaran dan membawa suplai makanan ke setiap anggota tubuh. Peredaran darah secara berkesinambungan menunaikan tugas tersebut. Secara negatif, Ia mencuci anggota tubuh dan menyingkirkan ampas, dan secara positif, ia menyuplaikan kesehatan kepada tubuh.

Lalu, apakah persekutuan hayat? Sebagaimana darah adalah hayat, demikian pula darah rohani kita adalah Kristus di dalam Roh itu sebagai hayat kita. Dengan Kristus, darah rohani kita sebagai hayat kita, terdapatlah peredaran hayat. Kristus sebagai hayat kita mengalir terus sepanjang waktu di dalam kita seperti halnya peredaran darah senantiasa mengalir dalam tubuh, dan aliran hayat ini adalah persekutuan hayat. Dengan pengaliran hayat, yakni persekutuan hayat inilah segala kekayaan Kristus dibawa kepada kita. Pengaliran kekayaan Kristus yang berkesinambungan memenuhi keperluan kita akan makanan di pihak positifnya, serta pembersihan dan pembuangan pada pihak negatifnya. Hanya ahli kedokteran yang dapat memberi tahu kita, berapa banyak makanan dan pembuangan yang dilakukan setiap hari oleh peredaran darah. Karena itu, persekutuan hayat adalah peredaran hayat kekal, yakni Kristus.

Sebagai contoh, perhatikanlah tabung lampu. Arus listrik yang masuk ke tabung lampu itu tercatat pada meteran. Jika arus pada meterannya itu dihentikan, tidak ada cahaya yang akan tertampak dalam tabung lampu itu. Semua fungsi dari listrik tergantung pada arus listrik. Bila arus listrik dipadamkan, maka berhentilah fungsi tabung lampu untuk memberi terang.

Sebelum kita diselamatkan, sebagai orang yang tidak percaya, kita tidak memiliki arus ini. Saya ingat betul pengalaman pribadi saya. Sebelum saya diselamatkan, saya tidak memiliki perasaan hidup yang mengalir di dalam saya. Tetapi, begitu saya diselamatkan, saya semakin mengasihi Tuhan, menghubungi Dia dan hidup bagi Dia, saya semakin merasakan sesuatu di dalam saya yang terus-menerus mengalir. Inilah arus hayat atau persekutuan hayat. Hidup kekal, yaitu Putra Allah, begitu riil dan mustika. Bahkan Ia dapat terdengar, terlihat, terjamah, dideklarasikan dan diberitakan (1 Yoh. 1:1-3). Karena kita telah menerima hayat ini, kita memiliki persekutuan dan arus hayat tersebut. Melalui persekutuan hayat ini kita sangat mudah dibawa ke hadirat Allah.

PERASAAN HAYAT

Bagaimana kita dapat mengetahui kapan kita berada di hadirat Allah? Allah itu terang, dan bila kita berada di hadirat Allah, kita dapat merasakan terang itu. Kita tidak saja merasakan aliran batini, tetapi juga terang batini yang hanya berasal dari persekutuan hayat. Ini bukan suatu doktrin, melainkan suatu penjelasan dari pengalaman kita. Jika kita tidak dapat mengatakan "Amin" terhadap pengalaman-pengalaman ini, saya khawatir ada sesuatu yang tidak beres pada diri kita. Ini benar-benar suatu hal yang seharusnya kita alami sejak kita beroleh selamat, meskipun kita belum dapat menerangkannya. Izinkan saya mengulangi : Ada sesuatu di dalam kita yang sedang bergerak dan mengalir, dan ketika kita berada dalam aliran itu, kita justru berada di hadirat Allah. Lalu kita memiliki cahaya dalam batin kita, dan segala sesuatu berada dalam terang. Kita akan jelas terhadap segala hal - benar atau salah, kehendak Allah atau bukan, sesuatu yang dari maut atau hayat. Segala sesuatu menjadi jelas melalui perasaan batini tersebut.

Sebab itu, perasaan hayat sangat erat hubungannya dengan persekutuan hayat. Persekutuan hayat membantu kita memahami perasaan hayat melalui membawa kita ke hadirat Allah, di mana kita dapat menikmati sorotan Allah sebagai terang. Sorotan ini membuat kita jelas terhadap segala perkara. Ia menembus setiap sudut dan pelosok manusia kita, memberi kita suatu perasaan yang lembut dan peka. Kesalahan yang ringan pun dapat segera tertangkap oleh perasaan ini. Semakin banyak pengaliran hayat yang kita miliki, kita akan semakin berada di hadirat Allah, dan semakin banyak pula terang yang akan kita alami. Semakin kita mengalami terang ini, kita akan semakin memahami perasaan yang peka dan halus. Dengan perasaan inilah kita dapat mengenal Allah, kehendak-Nya, dan jalan-Nya. Perasaan ini menyelidiki dan menguji segala sesuatu.

Tambahan pula, perasaan hayat batini ini selalu tergantung pada tingkat hubungan batini kita dengan Tuhan. Bila kita menaruh pikiran kita di atas daging, seperti yang telah kita tunjukkan dalam Roma 8:6, berarti kita menaruh diri kita di atas daging. Menaruh pikiran di atas daging berarti diri kita bekerja sama dengan daging, dan bila kita bekerja sama dengan daging, sudah tentu hubungan kita dengan Allah akan menjadi keliru. Ingatlah ketiga lingkaran konsentris yang menggambarkan ketiga bagian dari manusia. Daging adalah tubuh (lingkaran luar) yang telah berubah sifat akibat perusakan Iblis. Pikiran berada dalam jiwa (lingkaran tengah), mewakili diri manusia, ego. Allah Tritunggal berdiam di dalam roh (lingkaran dalam). Pikiran terletak di antara daging dan roh, yang memiliki kemungkinan untuk bergerak ke arah mana saja. Jangan lupakan Roma 8:6 - ini salah satu ayat yang terpenting dalam Alkitab. Dalam suatu pengertian, ayat ini bahkan lebih penting daripada Yohanes 3:16. Jika kita hanya ingat Yohanes 3:16 dan melupakan Roma 8:6, kita adalah orang Kristen yang diselamatkan dengan keadaan tidak baik; kita tidak mungkin menjadi orang Kristen yang menang. Yohanes 3:16 cukup bagi kita untuk menerima hayat kekal, tetapi Roma 8:6 menunjukkan bagaimana kita menjadi orang Kristen yang menang.

Menaruh pikiran kita, yakni menaruh diri kita, di atas daging adalah maut. Menaruh pikiran kita, atau diri kita, di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera. Inilah kunci untuk mati atau hidup. Pikiran sangat netral, ia seolah berada di atas pagar; ia boleh berpaling ke arah daging, atau berpaling ke arah roh. Sekali lagi, kisah Taman Eden perlu kita renungkan. Tekad yang bebas dapat membuat salah satu dari kedua pilihan tersebut. Memilih pohon pengetahuan berarti mati, tetapi memilih pohon hayat berarti hidup. Kita berada di antara keduanya; kita netral terhadap hidup dan maut. Akibatnya tergantung pada pilihan kita, sikap kita. Dosa yang berpribadi mewakili Iblis yang berada dalam daging; Allah Tritunggal berada dalam roh setelah kita beroleh selamat dan diri kita (ego) berada dalam pikiran. Rahasia hidup dan mati tergantung pada kerja sama kita dengan roh atau dengan daging. Bila kita bekerja sama dengan daging, kita akan mendatangkan maut; bila kita bekerja sama dengan roh, kita akan menjadi pengambil bagian atas Allah yang adalah hayat.

1) Merasakan Maut

Bagaimana kita tahu adanya rasa maut? Kita tahu dengan merasakannya. Maut memberi kita, semacam perasaan batini tertentu. Salah satunya adalah kehampaan. Kita merasakan maut ketika kita merasa hampa dalam batin. Perasaan lain yang diberikan maut kepada kita adalah kegelapan. Bila kita merasakan kegelapan dalam batin kita, berarti kita memiliki kematian. Maut juga memberi kita perasaan kecemasan, yang meliputi kegelisaban dan terganggu. Ini adalah perasaan tidak adanya ketenangan dalam batin kita, merasa bahwa segala sesuatu berada dalam keadaan tegang, tanpa damai, tanpa perhentian, tanpa kenyamanan, tanpa keteduhan. Perasaan maut lainnya adalah kelemahan. Sering kita berkata, "Aku tidak sanggup menahannya lagi." Ini menunjukkan bahwa kita begitu lemah. Kita tidak bertenaga, tidak berdaya, dan tidak sanggup berdiri melawan frustrasi atau kekecewaan kita. Akhirnya, maut memberi kita perasaan tertekan, tertindas atau terkekang, segala macam "tekanan"! Karena kita begitu lemah, kita mudah tertekan. Mengapa? Karena pikiran kita ditaruh di atas daging yang mengakibatkan kematian. Kehampaan, kegelapan, keeemasan, kelemahan, dan rasa tertindas, semuanya itu adalah cita rasa maut. Kita mengetahui adanya maut di batin kita ketika kita merasakan kehampaan, kegelapan, kecemasan, kelemahan, dan rasa tertekan. Perasaan semacam itu membuktikan bahwa kita berada di dalam daging dan berdiri di pihak daging.

Tetapi perasaan maut ini sesungguhnya berasal dari perasaan hayat. Misalnya seseorang mati, menjadi mayat. Dia tidak akan memiliki perasaan-perasaan seperti kehampaan, kegelapan, kecemasan, dan sebagainya; karena dia tidak memiliki hayat. Tetapi jika dalam batinnya dia memiliki hayat, meskipun hayatnya sering sakit dan lemah, dia masih dapat merasakan kehampaan dan kegelapan. Dia mampu merasakan semuanya itu, karena dia masih hidup. Sebagai seorang manusia yang hidup, dia sedang menghubungi maut, dan hayat dalam batinnyalah yang memberi dia perasaan maut. Salah satu fungsi dan tujuan dari perasaan hayat adalah merasakan maut.

2). Merasakan Hayat dan Damai Sejahtera

Namun demikian, perasaan maut hanyalah sesuatu yang negatif. Pada aspek positifnya, ada perasaan hayat dan damai sejahtera. Apakah rasa hayat dan damai sejahtera itu? Pertama-tama, berlawanan dengan kehampaan, di sini ada kepuasan dan kekenyangan. Kita merasa bahwa kita dipuaskan oleh Tuhan. Kita kenyang di hadirat-Nya, tidak haus atau lapar. Kedua, kita merasa terang, lawan kegelapan. Sejalan dengan kepuasan batini, kita pun memiliki terang yang bereahaya dalam batin kita. Setiap penjuru dan pelosok manusia kita terasa penuh dengan terang. Setiap bagian menjadi tembus cahaya, tidak ada yang suram. Lalu, berkebahkan dengan kecemasan, kita memiliki kedamaian yang menenteramkan semua gangguan. Perasaan yang ada dalam batin kita ialah damai dengan perhentian, damai dengan kenyamanan, dan damai dengan ketenangan. Tidak ada perasaan tegang atau pertentangan. Ketangguhan yang berlawanan dengan kelemahan adalah rasa lain dari perasaan hayat. Kita merasakan ketangguhan dan kuasa yang penuh dari hayat. Ada sebuah motor hidup dalam batin kita; dan kelihatannya seperti tidak hanya ada satu motor melainkan ada empat motor. Kadang-kadang kita merasa memiliki tenaga sekuat sejuta ekor kuda. 0, dalam batin kita ada suatu penguatan yang riil yang dapat mengalahkan semua kelemahan kita! Kita tidak mempedulikan wajah panjang (cemberut) dari istri kita. Jika istri kita menerkam kita, kita akan berkata, "Haleluya!" Mereka tidak akan mempengaruhi kita dan membuat kita marah, karena kita tangguh. Kita tidak ringan dan lemah; kita berbobot dan penuh dengan tenaga. Tidak ada apa pun yang berdaya menunggangbalikkan kita! Puji Tuhan! Inilah perasaan batini hayat dan damai sejahtera. Akhirnya, berlawanan dengan tekanan, kita memiliki kebebasan. Melalui pengaliran hayat kita tidak hanya dibebaskan, tetapi juga mengungguli semua tekanan. Tidak ada apa pun yang dapat menindih kita. Semakin banyak tekanan, kita akan semakin berada di surga.

Demikianlah cara kita memahami hayat dan damai sejahtera. Kita memahaminya dengan merasakannya, dan kita merasakannya karena kita memiliki hayat. Hayat ini dalam batin kita adalah hayat yang mengalir. Melalui pengaliran hayat ini, kita hidup dan berada di hadirat Allah. Karena itu, kita memiliki perasaan batini yang dalam bahwa kita telah dipuaskan, diterangi, dikuatkan, dihibur, ditinggikan, dibebaskan, dan diunggulkan! Semakin kita berada dalam persekutuan hayat, kita akan semakin merasakan hayat; dan semakin kita merasakan hayat, kita akan semakin menikmati persekutuan hayat. Kedua hal ini selalu kita alami bergantian, yakni semakin banyak persekutuan hayat, semakin banyaklah perasaan hayat; semakin banyak perasaan hayat, semakin banyak pula persekutuan hayat. Ini sungguh ajaib! Puji Tuhan!

Persekutuan dan perasaan hayat merupakan produksi sekunder dari kebangkitan. Kekayaan utama dari kebangkitan adalah Allah itu sendiri, Kristus sebagai hayat, kodrat ilahi, bukum hayat, dan pengurapan Roh Kudus. Dari kekayaan-kekayaan ini timbullah perkara yang sekunder tetapi praktis; yakni persekutuan hayat dan perasaan hayat.