← Daftar isi Ekonomi Allah Tritunggal · bab 15/24

PRINSIP KEBANGKITAN

Dalam berita yang lalu kita telah membahas kedua belas butir dari ciptaan lama, yang pertama dari kedua belas butir itu adalah hayat malaikat. Tapi di sini kita perlu menunjukkan bahwa malaikat-malaikat yang tidak jatuh tidaklah termasuk dalam ciptaan lama. Meski pada satu masa mereka berada di bawah kepemimpinan Iblis, mantan penghulu semua malaikat, tetapi mereka tidak pernah mengikuti dia dalam pemberontakannya; maka mereka terpisah dari ciptaan lama. Hanya melaikat-malaikat pemberontak yang mengikuti Iblislah yang menjadi bagian dari ciptaan lama. Jadi, hayat malaikat yang sebagai butir pertama dari kedua belas butir negatif dalam ciptaan lama itu tidak mencakup malaikat-malaikat yang baik. Setelah malaikat-malaikat yang jatuh itu memberontak, mereka lalu menjadi pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, kuasa-kuasa, dan yang berwenang di angkasa (Ef. 1:2, 6; Kol. 2). Roh-roh jahat yang tercantum dalam Efesus 6 adalah malaikat-malaikat yang jatuh ini. Mayoritas malaikat yang tidak memberontak tidaklah termasuk dalam ciptaan lama yang diakhiri oleh penyaliban Kristus.

Namun, di antara umat manusia tidak terdapat pengecualian yang sedemikian, sebab semua umat manusia jatuh ke dalam pemberontakan Iblis itu. Pemberontakan umat manusia berawal dari manusia pertama, Adam, dan meliputi setiap keturunannya. Malaikat terbagi dalam dua golongan, yang tidak memberontak dan yang memberontak, tetapi sejauh yang menyangkut umat manusia, hanya ada satu golongan. Umat manusia yang jatuh diwakili oleh Adam dan berada di bawah kepemimpinan Adam; seluruh umat manusia melalui Adam telah tercakup dalam ciptaan lama yang jatuh itu.

Tentu saja Iblis, pemimpin malaikat-malaikat yang memberontak itu termasuk dalam ciptaan lama. Iblis menyalahgunakan wewenang yang diberikan kepadanya dan menggunakannya untuk membentuk kerajaannya (Mat. 12:26). Menurut Yesaya 14:12-14, Yehezkiel 28:13, 14 dan Lukas 4:5-7, Iblis telah ditunjuk oleh Allah pada mulanya sebagai kepala seluruh malaikat, dan sebagai penghulu dia telah menerima wewenang tertentu dari Allah. Pada waktu Tuhan Yesus dicobai di padang gurun, ia mengakui wewenang yang diberikan kepada Iblis itu. Di bawah pemerintahannya, Iblis membentuk satu kerajaan bersama sekelompok malaikat yang juga menyalahgunakan kekuasaan dan wewenang mereka.

Setelah manusia diciptakan, Iblis datang membujuk manusia untuk berdosa; dan dengan adanya "dosa" di dalam manusia itu, banyak buah yang dihasilkan, itulah yang disebut dosa-dosa. Menyusul kejatuhan, Iblis kemudian memperalat segala keperluan bagi eksistensi manusia seperti makanan, pakaian, pernikahan, rumah, dan seterusnya. Keperluan-keperluan tersebut diciptakan dan ditentukan oleh Allah bagi eksistensi manusia, tetapi Iblis memperalat semuanya itu untuk mensistematiskan umat manusia. Sistem Iblis ini disebut dunia.

Karena dosa, dosa-dosa, dunia, dan kematian masuk ke dalam umat manusia; dan karena kejatuhan, Iblis monginjeksikan sesuatu dari sifat dirinya ke dalam tubuh manusia untuk merusaknya, dan menyebabkannya berubah menjadI daging. Akibat lain dan kejatuhan ialah seluruh manusia berubah dan menjadi manusia lama. Di samping itu, jiwa manusia di bawah ancaman dan pengaruh daging, telah menjadi ego. Asalnya jiwa diciptakan dalam keadaan baik, tetapi melalui kejatuhan, jiwa telah menjadi ego.

Iblis adalah kepala malaikat, dan Adam adalah kepala makhluk ciptaan lainnya, tetapi keduanya mewakili semua yang telah memberontak. Karena itu, seluruh ciptaan telah terpengaruh dan terkena akibatnya (Rm. 8:20-22; Kol. 1:20), dan perlu dirukunkan kembali melalui penebusan Kristus.

KEMATIAN YANG ALMUHIT DALAM

ROH YANG KEKAL

Semua butir ini menyusun ciptaan lama, dan sebagaimana telah kita lihat, manusia yang jatuh itu menjadi pusatnya. Semua perkara yang negatif dari alam, semesta telah terhimpun bersama dan terpusat di dalam manusia. Iblis beserta kerajaannya dan sistem duniawi ada di dalam manusia; bersama dosa, dosa-dosa, kematian, ego, daging, dan manusia lama. Segala sesuatu dari ciptaan lama termasuk semua perkara negatif dalam alam semesta telah terpusat di dalam manusia yang jatuh ini.

Kemudian, Kristus berinkarnasi menjadi manusia. Kristus meletakkan manusia ke atas diri-Nya - bukan satu manusia yang keeil dan sederhana, tetapi satu manusia yang almuhit dari ciptaan lama. Inilah sebabnya mengapa Kristus berinkarnasi menjadi manusia, dan sebagai manusia la disalibkan di atas salib dalam rupa seekor ular. Di hadapan salib, Kristus adalah seorang manusia, tetapi di atas salib Dia adalah seorang manusia dalam rupa seekor ular. Tambahan lagi, Kristus telah dijadikan dosa di atas salib (2 Kor. 5:21). Ketika Dia di atas salib, Allah tidak saja meletakkan semua dosa kita di atas-Nya, tetapi Dia juga menjadikan-Nya dosa. Allah meletakkan segala ketidakbenaran (kejahatan) dan semua dosa umat manusia di atas Kristus, dan pada saat itu Dia juga membuat Kristus menjadi "dosa" dalam bentuk Iblis. Karena semua perkara negatif dalam alam semesta terpusat dalam manusia yang jatuh, maka Kristus datang ke dalam manusia ini dan membawa manusia ini ke atas salib. Ketika Dia membawa manusia ini ke atas salib, Dia pun membawa setiap perkara yang negatif dalam alam semesta ke atas salib. Ketika Dia mengakhiri manusia ini, Dia juga mengakhiri ciptaan lama. Seluruh butir dari kedua belas butir dalam ciptaan lama itu telah diakhiri oleh kematian Kristus yang almuhit di atas salib. Jika kita memiliki pandangan surgawi dan pengertian rohani, kita akan melompat dan berseru, "Haleluya!"

Pasal-pasal yang terakhir dari Kitab Yehezkiel menunjukkan kepada kita pembangunan rumah Allah, Bait Allah. Jika seluruh gambaran dilukis di atas kertas, maka kita akan menemukan mezbah, yang menjadi lambang salib itu tepat sekah ditempatkan di tengah-tengah seluruh bangunan. Baik ukuran-ukuran vertikal maupun horizontal dari bangunan tersebut menempatkan mezbah dengan tepat di tengah-tengah Bait Allah itu. Ini sangat menarik, karena mezbah melukiskan kematian Kristus yang almuhit, yang telah mengakhiri segenap, ciptaan lama melalui salib.

Kematian yang almuhit ini digenapkan oleh Roh yang kekal itu. Kita membaca dalam surat Ibrani 9:14, "…Kristus, yang melalui Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tidak bercacat." Kematian Kristus yang almuhit terjadi di dalam Roh yang kekal. Istilah "Roh yang kekal" ini hanya disebutkan sekali dalam Alkitab. Ketika Kristus berinkarnasi di dalam manusia, Dia telah menjadi inti atau pusat seluruh ciptaan yang mencakup seluruh perkara negatif dalam alam semesta, dan pada saat Kristus membawa manusia yang jatuh ini kepada kematian di atas salib, hal itu dilakukan-Nya di dalam Roh yang kekal. Dia mengakhiri manusia yang almahit ini dalam suatu Roh yang kekal, yaitu yang tidak berawal dan yang tidak dapat diakhiri. Dengan kata lain, kematian Kristus mengakhiri segala sesuatu kecuali Roh yang kekal ini. Kristus membawa segala sesuatu yang negatif bersama Dia ke atas salib dan mengakhirinya, namun Dia tetap sama karena Dia berada dalam Roh yang kekal. Meskipun semua perkara telah diakhiri di atas salib, tetapi Roh-Nya tidak dapat diakhiri. Sebab itu, melalui Roh inilah Kristus telah dibangkitkan. Kristus sebagai seorang manusia telah membawa perkara negatif kepada maut. Semua perkara telah masuk ke dalam kematian dan telah diakhiri; hanya Roh yang kekallah yang melalui maut tetapi tetap utuh. Di dalam Roh inilah dan melalui Roh inilah Kristus dibangkitkan.

Roma 1:4 mengatakan, "Dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati bahwa Dialah Anak Allah yang berkuasa." Apa itu kekudusan? Mengapa disebut Roh kekudusan, bukan disebut Roh Kudus? Kekudusan tak lain berarti pemisahan. Sekalipun Roh yang kekal ini masuk ke dalam maut, Dia adalah dan tetap sebagai Roh pemisah. Maut dapat mengakhiri segala sesuatu, tetapi tidak dapat mengakhiri Roh yang kekal ini; sebab Dia berbeda dan terpisah dari segalanya itu. Dia adalah Roh kekudusan, hal itu dibuktikan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Saya dapat meletakkan beberapa buah buku dan benda lain ke dalam tong sampah untuk dibuang, tetapi jika saya meletakkan seorang manusia ke dalam tong sampah, ia akan meloncat keluar : dia tidak mau diakhiri; dia berbeda dengan buku-buku itu. Dengan meloncat keluar, dia memisahkan dirinya dari benda-benda lainnya; dia menjadi orang yang dipisahkan. Demikian juga semua perkara, dibawa ke salib - manusia, Iblis, segala sesuatu - dan telah diakhiri; namun hanya Roh yang kekallah, yang juga dibawa ke salib dan ke dalam maut bersama Kristus, tetapi tidak dapat diakhiri. Dia adalah Roh pemisah. Maut telah melakukan segala sesuatu yang mungkin ia lakukan, tetapi tidak dapat menahan Roh ini. Oleh Roh yang berbeda inilah, Roh pemisah, Kristus telah dibangkitkan.

REALITAS KEBANGKITAN DALAM

ROH YANG KEKAL

Roma 8:11 mengatakan, "Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu." Siapakah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati? Roh pemisah itu juga. Roh apakah yang akan menghidupkan tubuh kita yang fana? Roh kebangkitan, yang berhuni di dalam kita. Ini berarti realitas kebangkitan dan prinsip kebangkitan tinggal di alam kita. Prinsip kebangkitan ialah pemisahan yang dihasilkan oleh Roh yang kekal ini, yaitu yang tidak dapat diakhiri oleh maut.

Setelah melihat prinsip kebangkitan berada di dalam Roh pemisah yang kekal, kita harus bertanya di manakah Roh itu pada hari ini? Kita harus berkata, "Haleluya, Dia berada di dalamku." Karena itu, prinsip kebangkitan ini juga berada di dalam kita. Semoga Tuhan mencelikan mata kita, agar kita nampak prinsip salib dan prinsip kebangkitan, yaitu segala sesuatu telah diakhiri oleh kematian, dan Roh yang kekal itu sekarang tinggal di dam kita. Jika kita nampak hal ini, kita akan melampaui gala-galanya. Kita akan berkata, "Haleluya." Kita tidak perlu memohon, meminta, menangis. Kita hanya perlu berseru setiap saat, "Haleluya!"

Yohanes 11:25 memberi tahu kita bahwa Kristus itu sendiri adalah kebangkitan. Marta, saudari dari Lazarus yang telah mati, mengeluh, sebab ia menganggap Tuhan datang terlambat. Baginya seolah-olah kebangkitan dan hayat itu masalah waktu. Ia beralasan jika Tuhan datang agak pagi, saudaranya tidak akan mati. Sebaliknya, Tuhan memberi tahu dia, itu sebenarnya bukan masalah waktu atau tempat, melainkan Kristus. Dia berkata, "Akulah kebangkitan." Lupakanlah waktu dan tempat : Di mana Kristus berada dan kapan Kristus berada, di situlah selalu kebangkitan.

Pada hari kebangkitan-Nya, Kristus datang kepada murid-murid-Nya; Dia menghembusi mereka dan berkata, "Terimalah Roh Kudus." Roh yang mereka terima ini mencakup prinsip dan realitas kebangkitan-Nya; tanpa Roh ini, para murid tidak akan bersangkut paut dengan kebangkitan-Nya. Kebangkitan Kristus berada dalam Roh ini. Jika kita memiliki Roh ini, kita memiliki realitas kebangkitan; jika kita tidak memiliki Roh ini, kita tidak akan bersangkut paut dengan kebangkitan. Kebangkitan justru adalah Kristus itu sendiri, dan prinsip serta realitas kebangkitan Kristus adalah Roh yang kekal, yang tidak dapat diakhiri. Roh yang kekal, yang tidak berawal dan tidak berakhir ini adalah prinsip dan realitas kebangkitan. Segala sesuatu yang diletakkan ke dalam maut pasti akan berakhir, hanya Roh yang kekallah yang tidak dapat ditahan atau diakhiri oleh maut. Itulah sebabnya, setelah kebangkitan, Kristus sebagai kebangkitan datang kepada murid-murid-Nya dan menghembusi mereka, serta menyuruh mereka menerima nafas-Nya sebagai Roh yang kekal, Roh pemisah. Roh yang kekal, yang sebagai prinsip dan realitas kebangkitan ini, telah masuk ke dalam murid-murid, dan prinsip serta realitas ini sekarang pun ada di dalam kita.

Ada dua ayat lagi yang bisa membantu kita untuk mengerti hal ini. Dalam Filipi 1:19 Paulus berbicara mengenai "suplai dari Roh Yesus Kristus" (Tl.). Ia seolah-olah berkata, "Aku berada dalam penjara, tetapi aku tidak takut, karena dalam batinku ada prinsip dan realitas kebangkitan. Apakah kebangkitan yang berada di dalamku itu? Itulah Roh Yesus yang mengandung suplai yang berlimpah, almuhit, dan serba cukup." Kemudian dalam Filipi 3:10, ia berkata, "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya." Apakah kuasa kebangkitan-Nya? Itulah suplai dari Roh Yesus. Suplai yang berlimpah, almuhit, dan serba cukup dari Roh Yesus itu ialah kuasa kebangkitan-Nya. Kuasa dan suplai ini tidak lain adalah Roh yang kekal, Roh pemisah. Namun Roh ini berada di dalam kita hari ini. Bukankah itu sudah cukup? Apa lagi kekurangan kita? Kita seharusnya berkata, "Haleluya." Kita harus berterima kasih kepada-Nya demi salib-Nya, dan kita harus memuji Dia juga demi Roh-Nya. Salib-Nya telah mengakhiri segala sesuatu yang negatif, dan sekarang Roh-Nya yang kekal tinggal di dalam kita sebagai kuat kuasa kebangkitan.

Pendek kata, kita tidak mungkin memiliki pengalaman yang riil atas salib, kecuali kita berada di dalam Roh yang kekal. Tak peduli berapa banyaknya kita mengetahui dan membicarakannya, jika kita tidak berada di dalam Roh yang kekal, kita tidak dapat mengalami kuat kuasa salib. Lebih banyak kita hidup dan berjalan dalam Roh pemisahan yang kekal, kita akan lebih banyak pula menyadari kuasa pembunuhan salib itu. Kita tidak perlu lagi menghitung diri kita telah mati; ini berarti melakukan bunuh diri rohani. Meski banyak orang Kristen yang mencoba melakukan bunuh diri rohani setiap hari, namun mereka tidak pernah sukses. Jika kita hanya hidup dan berjalan di dalam Roh, maka dosis yang almuhit itu berada di dalam kita, dan kita akan mengalami kuasa pembunuhan dari salib itu. Karena prinsip dan realitas kebangkitan-Nya dan kematian-Nya berada di dalam Roh yang kekal, maka kebangkitan-Nya pun mencakup khasiat kematian-Nya pula. Dalam Roh kebangkitan yang kekal ini terkandung faktor pembunuhan, yaitu kuasa pembunuhan salib.

Sebab itu, sekali lagi kita berkata, "Puji Tuhan!" Selama kita berada di dalam Roh yang almuhit, pengalaman salib itu adalah milik kita, dan realitas kebangkitan ada di dalam kita. Tak perlu melakukan apa pun, tetapi terima saja dengan iman yang hidup. Jika kita nampak hal ini, kita akan berkata, "Haleluya, puji Tuhan." Kita memliki iman yang hidup, kita menerimanya, dan menyatakannya dengan iman. Kemudian prinsip salib dan kebangkitan akan menjadi riil bagi kita dalam Roh yang berhuni di batin. Kita telah memiliki Dia dalam batin kita. Tidak perlu kita meminta apa-apa lagi, tetapi cukup menerima, mengalami, serta menikmati-Nya saja. Akhirnya kita akan mengalami suatu pertumbuhan hayat yang riil. Saya dapat menjamin Anda dalam hal ini. Ini adalah satu visi yang perlu kita lihat dan terima dengan iman.