← Daftar isi Ekonomi Allah Tritunggal · bab 14/24

PRINSIP SALIB

Banyak orang Kristen tahu tentang salib, namun mereka tidak jelas mengenai prinsip salib. Apakah prinsip salib? Menurut Alkitab, Allah mempunyai dua ciptaan di alam semesta, yaitu ciptaan lama dan ciptaan baru. Munculnya ciptaan baru ialah melalui diakhirinya ciptaan lama dan dimulainya sesuatu yang baru. Hanya dengan mengakhiri ciptaan lama barulah ada ciptaan baru. Ciptaan lama diakhiri melalui pekerjaan salib, dan melalui salib pula ciptaan baru dimulai dalam kebangkitan.

BUTIR-BUTIR CIPTAAN LAMA

Apakah yang menjadi unsur-unsur ciptaan lama? Butir pertama dalam ciptaan lama adalah malaikat-malaikat dengan hayat malaikat, dan yang kedua ialah manusia dengan hayat manusia. Ini adalah dua jenis makhluk dengan dua jenis hayat. Penghulu malaikat, kepala malaikat-malaikat, telah memberontak melawan Allah dan menjadi Iblis, yang berarti "musuh Allah". Iblis tidak hanya memberontak, tetapi memimpin pemberontakan melawan Allah dengan sejumlah malaikat-malaikat yang mengikuti dia. Menurut Wahyu 12, sepertiga dari malaikat-malaikat, bintang-bintang di langit, telah mengikuti Iblis. Malaikat-malaikat yang memberontak ini menjadi angkatan-angkatan jahat - pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, kekuasaan-kekuasaan dan kekuatan-kekuatan - yang tercantum dalam Efesus 1, 2, dan 6. Pemberontakan hayat malaikat menghasilkan butir ketiga dan keempat dari ciptaan lama : Iblis dan kerajaannya.

Sekarang marilah kita dengan ringkas melanjutkan butir-butir yang lain dari ciptaan lama. Setelah penciptaan hayat manusia, musuh Allah juga menyesatkan manusia untuk bertindak melawan Allah. Tindakan ini menyebabkan terinjeksinya sesuatu ke dalam hayat manusia, yaitu "dosa - dosa tunggal, yang berpribadi. Sifat dosa dan pikiran Iblis itu diinjeksikan ke dalam hayat manusia. Dosa dalam alam semesta ini tercipta melalui penginjeksian hayat malaikat yang telah jatuh ke dalam hayat manusia. Dosa bukan ciptaan Allah, melainkan diciptakan melalui persatuan yang tidak sah dari hayat Iblis dengan hayat manusia. Jadi "dosa" adalah nomor lima dalam daftar butir-butir ciptaan lama. Dan tidak hanya dosa tunggal yang ada, tetapi ia juga membawakan banyak dosa. Sebab itu, buah-buah dosa, yaitu dosa-dosa, terdaftar sebagai butir keenam, termasuk dusta, pembunuhan, kesombongan, perzinaan dan sebagainya. Dosa-dosa ini dihasilkan oleh "dosa".

Dunia adalah yang ketujuh. Dunia bukan diciptakan oleh Allah. Allah menciptakan bumi, tetapi Iblis menciptakan dunia. Dosa diciptakan dalam Kejadian 3, namun sampai Kejadian 4 barulah ada sesuatu yang ditambahkan kepada dosa, yakni dunia ciptaan Iblis. Apakah dunia? Dunia adalah sistem seluruh kehidupan manusia yong berada di bawah Iblis. Dalam istilah Yunani "dunia" adalah "kosmos", yang berarti suatu "sistem". Allah menciptakan manusia untuk diri-Nya sendiri, tetapi Iblis telah mensistematiskan kemanusiaan. Manusia tidak lagi Untuk Allah, tetapi seluruhnya telah disistematiskan oleh Iblis dan untuk Iblis.

Di samping semuanya ini, butir lain dalam ciptaan lama adalah kematian, yang merupakan akibat dari dosa don dosa-dosa. Daging - tubuh yang berubah sifat, diracuni dan dihancurkan oleh Iblis - juga berasal dari ciptaan lama. Tubuh menjadi daging karena perusakan Iblis sebagai dosa. Manusia lama ialah butir lain, yang adalah diri manusia yang dirusak oleh Iblis. Manusia yang asalnya diciptakan oleh Allah, sekarang dirusak oleh Dosa.

Berikutnya adalah ego. Jiwa diciptakan oleh Allah, tetapi telah menjadi ego yang telah diancam dan dibejatkan oleh daging. Ia sama seperti tubuh. Asalnya Allah menciptakan tubuh sebagai benda yang baik dan murni, namun telah dirusak oleh sifat dosa Iblis dan menjadi daging. Prinsip yang sama itu berlaku pada jiwa, yang diciptakan dengan murni dan baik, tetapi kemudian dipengaruhi oleh daging. Jiwa terancam dan terkendali oleh daging, karenanya menjadi ego. Sebagaimana dosa membejatkan tubuh dan menjadikannya daging, demikian pula, daging mempengaruhi dan mengendalikan jiwa dan menjadikannya ego.

Akhirnya, butir kedua belas adalah keseluruhan ciptaan. Keseluruhan ciptaan telah diporak-porandakan dan dibejatkan oleh pemberontakan hayat malaikat dan oleh pelanggaran hayat manusia. Hal ini membawa seluruh ciptaan ke bawah sejenis keluhan karena kekangan dari kebejatan itu (Rm. 8).

INTI CIPTAAN LAMA

Gabungan kedua belas butir itu adalah ciptaan lama. Ciptaan lama mencakup banyak perkara. Tetapi kita harus jelas dalam butir ini bahwa manusia yang telah jatuh menjadi inti ciptaan lama. Dia berkaitan dengan setiap butir dalam kedua belas butir ciptaan lama. Pertama, Iblis masuk ke dalam manusia dan menjadi satu dengannya. Dalam Iblis tercakup kerajaan Iblis; karena Iblis berada di dalam manusia, kerajaan Iblis pun berada di dalam manusia. Iblis adalah penguasa dunia, maka dunia juga tercakup di dalam Iblis dan juga berada di dalam manusia. Dan sudah tentu yang terwujud dalam manusia adalah dosa dan dosa-dosa, yang mengakibatkan kematian. Daging, manusia lama, dan diri juga berada di dalam manusia; dan manusia masih tetap sebagai kepala seluruh ciptaan (Menurut Kej. 1, manusia ditentukan sebagai kepala dari seluruh ciptaan). Karena itu, manusia berkaitan dengan seluruh ciptaan, dan seluruh ciptaan berkaitan dengan manusia serta berpusat dalam manusia. Manusia adalah inti dari ciptaan lama dari setiap aspeknya. Manusia hampir-hampir menjadi yang almuhit, namun bukan pada aspek yang baik. Jika orang mau bertemu dengan Iblis, tidak perlu ia pergi ke tempat khusus, pergi saja kepada manusia, maka ia akan bertemu dengan Iblis. Kalau ia ingin bertemu dengan kerajaan Iblis, tidak perlu pula ia pergi ke bulan, pergi saja kepada manusia, ia akan bertemu dengan kerajaan Iblis. Demikian pula dengan dunia. Di dalam manusia yang mewakili ciptaan lama terdapat Iblis, kerajaan Iblis, dunia, dosa, dosa-dosa, kematian, daging, manusia lama, dan sebagainya. Kita bukan seorang manusia yang kecil. Sebaliknya kita adalah manusia besar dan almuhit dalam arti yang buruk. Sekarang, seluruh ciptaan berpusat di dalam manusia.

BERAKHIRNYA CIPTAAN LAMA

Puji Tuhan, pada suatu hari terjadilah suatu peristiwa : Allah sendiri berinkarnasi menjadi manusia ini. Ini berarti Allah meletakkan seluruh ciptaan di atas diriNya. Ketika Allah meletakkan manusia di atas diri-Nya, segala sesuatu dari ciptaan lama diletakkan pula di atas diri-Nya. Sebagai contoh : dikatakan dalam Alkitab bahwa Allah menjadikan Kristus sebagai dosa - bukanlah dosa-dosa yang jamak, melainkan "dosa" tunggal (2 Kor. 5:21). Allah pun telah meletakkan segala ketidakbenaran kita di atas Kristus (Yes. 53:6), yang "telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib" (1 Ptr. 2:24). Dia adalah "yang serupa dengan daging dosa" (Rm. 8:3, Tl.) : rupa itu adalah rupa daging, dan daging manusia ini adalah daging dosa. Yohanes 1:14 mengatakan bahwa "Firman telah menjadi daging" (Tl.), yaitu Dia menjadi seorang manusia. Ketika Dia menjadi seorang manusia dalam daging, Dia menjadi manusia dalam daging dosa, karena pada saat itu dosa telah berada di dalam daging manusia. Daging telah menjadi daging dosa, dan Tuhan berinkarnasi dalam daging ini. Tetapi, kita harus berhati-hati, karena jikalau kita mengatakan Dia menjadi daging yang sungguh seperti yang kita miliki, yaitu, sejauh menyangkut sifat dosa kita, maka kita akan keliru. Itulah sebabnya, Roma 8:3 memberi tahu kita bahwa Dia hanyalah menjadi rupa dari daging dosa itu, tanpa sifat dosa dari daging dosa.

Dalam Yohanes 3:14, Tuhan Yesus sendirl memberitahu kita bahwa Dia dilambangkan sebagai ular tembaga yang digantung di atas tiang, yaitu salib. Ular tembaga hanya memiliki rupa ular, tidak mengandung sifat racun ular itu. Tuhan Yesus dilahirkan dari seorang anak dara sehingga Dia dapat memiliki rupa daging dosa. Tetapi sejauh menyangkut sifat dosa daging, Ia tidak ada sangkut pautnya dengan manusia. Kita harus berhati-hati sekali dalam membicarakan perkara ini. Ketika Tuhan dijadikan dosa, Dia menjadi rupa dosa.

Dia tidak hanya meletakkan manusia ke atas diri-Nya, bahkan meletakkan Iblis, kerajaan Iblis, dunia, dosa, dosa-dosa, daging, dan sebagainya kepada diri-Nya. Di sini lagi-lagi kita harus berhati-hati. Tuhan berinkarnasi menjadi seorang manusia, bukan menjadi seekor ular; namun pada saat Dia disalibkan, Dia disalibkan sebagai seorang manusia dalam bentuk ular. Mengapa? Sebab pada tahap ini manusia telah bersatu dengan Iblis, ular itu. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus, bahkan Yohanes Pembaptis, memberi tahu orang-orang Farisi bahwa mereka adalah benih ular berbisa, dan keturunan ular beludak. Mereka adalah benih ular, sebab mereka memiliki hayat ular; sifat ular yang beracun terdapat di dalam mereka. Dalam pandangan Allah, sebagai manusia berdosa, mereka telah menjadi ular. Namun Tuhan telah berinkarnasi menjadi seorang manusia, yang hanya memiliki rupa daging dosa, tidak memiliki sifat dosa yang dimiliki orang-orong dosa itu. Seperti halnya ular tembaga di atas tiang itu, Tuhan hanya memiliki rupa ular, tetapi tidak memiliki sifat dan racun ular itu.

Sekarang kita datang kepada salib. Kristus pertama-tama mengenakan manusia yang sedemikian ini, yaitu yang almuhit dari ciptaan lama, kemudian membawa manusia ini ke atas salib, maka manusia yang almuhit ini disalibkan di situ. Ini berarti segala sesuatu telah dikhiri. Ini adalah prinsip salib. Melalui kematian sedemikian inilah Kristus membawa manusia kepada salib; dan karenanya segala sesuatu diakhiri. Tidak saja Kristus ang disalibkan di sana, tetapi juga manusia, dunia, Iblis an kerajaannya, dosa, dosa-dosa, manusia lama, dan sebagainya. Segala sesuatu dari ciptaan lama telah diakhiri oleh salib Kristus. Kita harus mengalami kematian yang almuhit ini.

Ayat-ayat berikut ini mewahyukan prinsip salib dan mengakhiri segala sesuatu dari ciptaan lama :

1. Hayat malaikat : Kolose 1:20;

2. Hayat manusia : Galatia 2:20;

3. Iblis : Ibrani 2:14 dan Yohanes 12:31;

4. Kerajaan Iblis : Kolose 2:15 dan Yohanes 12:31;

5. Dosa : 2 Korintus 5:21 dan Roma 8:3;

6. Dosa-dosa : 1 Petrus 2:24 dan Yesaya 53:6;

7. Dunia : Galatia 6:14 dan Yohanes 12:31;

8. Kematian : Ibrani 2:14;

9. Daging : Galatia 5:24;

10. Manusia lama : Roma 6:6;

11. Diri : Galatia 2:20;

12. Segala sesuatu, atau makhluk ciptaan : Kolose 1:20.

Yohanes 12:31 mengatakan bahwa dunia dan penguasa dunia ini, yaitu Iblis, telah dihakimi dan diusir. Kapankah hal ini terjadi? Menurut ayat 24, hal itu terjadi pada waktu kematian Kristus di atas salib. Melalui kematian-Nya, dunia telah dihakimi dan penguasa dunia ini telah diusir. Ibrani 2:14 menyatakan bahwa Kristus mengambil bagian dalam daging dan darah, agar melalui kematian Dia dapat memusnahkan/meniadakan dia yang berkuasa atas maut, yaitu Iblis. Ayat ini mewahyukan bahwa melalui kematian-Nya di dalam daging dan darah, Kristus telah memusnahkan Iblis, yang memegang kuasa maut. Kolose 1:20 mengatakan bahwa Dia telah memperdamaikan "segala sesuatu" dengan diri-Nya. Ini membuktikan tidak hanya manusia yang bersalah kepada Allah, tetapi segala sesuatu pun bersalah kepada Allah; jika tidak, tidak perlu ada pendamaian itu. Menurut konteks bagian kitab ini, seluruh ciptaan telah ditanggulangi oleh salib.

Kita harus terkesan sedalam-dalamnya akan kematian Kristus di atas salib ini. Kematian ini adalah kematian yang almuhit. Itulah sebabnya kita harus mengalaminya. Segala yang kita miliki, segala apa adanya kita, segala yang kita kerjakan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kita, telah dibawa kepada salib. Salib adalah akhir dari segala sesuatu yang berhubungan dengnn kita. Segala-galanya telah ditanggulangi dan dipaku di atas salib. Salib adalah satu-satunya tumpuan untuk megala apa adanya kita dan apa yang kita miliki. Kita harus meletakkan segala sesuatu ke atas salib : pengetahuan kita, hikmat kita, kemampuan kita, dan sebagainya. Ini adalah prinsip salib, dan tidak ada tumpuan lain. Kita mungkin menyangka alangkah "baiknya" kita. Terutama kaum muda, selalu menganggap betapa baiknya mereka, "Kami masih muda, kami baik, kami tidak seperti kaum tua ..." Tak peduli betapa baiknya kita, kita harus datang kepada salib. Kita harus disalibkan dan ditiadakan oleh salib. Semakin baik diri kita, semakin perlu pula kan ditiadakan oleh salib. Janganlah merasa bangga akan kebaikan diri Anda. Tak peduli apakah kita baik atau jahat, kita semua harus melewati salib. Jangan salah menilai diri kita sendiri. Hanya ada satu penilaian, yaitu kita harus meletakkan diri kita ke dalam maut.

Tidak ada satu pun milik ciptaan lama yang berada di dalam gereja. Gereja adalah manusia baru, ciptaan baru. Segalanya telah berlalu dan semuanya telah menjadi baru. Ini berarti segalanya telah diakhiri dalam kematian, dan semuanya adalah baru di dalam kebangkitan. Kita sekarang telah nampak prinsip salib, dan pada bab berikutnya kita akan melihat prinsip kebangkitan. Kita benar-benar percaya bahwa pikiran-pikiran kita akan terbuka untuk mengetahui segala sesuatu yang berhungan dengan kita, apakah itu baik atau buruk, harus mutlak diletakkan ke dalam maut. Kemudian barulah ada jalan bagi kita untuk masuk ke dalam kebangkitan dan ciptaan yang baru.