SALIB DAN HAYAT JIWA
Beberapa bab ini membahas dasar-dasar ekonomi Allah serta sasarannya. Di sini kita tidak menyinggung ajaran-ajaran yang tidak penting, melainkan hal-hal yang mendasar tentang ekonomi Allah; tidak semata-mata menurut doktrin, melainkan menurut pengalaman. Dalam ekonomi-Nya, Allah ingin menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita, dan hal ini telah digenapkan-Nya di dalam roh manusia. Allah Tritunggal telah dibagikan ke dalam kita. Untuk tujuan inilah Allah menciptakan kita dengan tiga bagian : tubuh, jiwa, dan roh. Makhluk yang terdiri dari tiga bagian ini adalah Bait Allah. Bait Allah terdiri dari tiga bagian : pelataran luar, tempat kudus dan tempat maha kudus, yaitu tempat bersemayamnya kemuliaan Allah dan Kristus Allah. Ketiga bagian dari manusia kita cocok sekali dengan ketiga bagian dari bait tersebut tubuh seperti pelataran luar, jiwa seperti tempat kudus, dan roh seperti tempat maha kudus. Hari ini Allah di dalam Kristus tinggal di dalam roh kita, tempat maha kudus.
ALLAH TRITUNGGAL DIPERLUAS
DI DALAM MANUSIA
Ekonomi Allah ialah membagikan diri-Nya sendiri ke dalam roh kita sebagai tempat tinggal-Nya dan memakalnya sebagai dasar untuk memperluas diri-Nya ke seluruh manusia kita. Roh kita adalah rumah-Nya, tempat kediaman-Nya, tempat bagi Tuhan memperluas diri-Nya ke seluruh manusia kita. Melalui hal itu Ia akan meresapi setiap bagian manusia kita dengan diri-Nya sendiri. Pertama, Ia membaurkan diri-Nya sepenuhnya dengan roh kita, kemudian dengan jiwa kita, dan akhirnya dengan tubuh kita. Dia masuk ke dalam roh kita untuk memulai perbauran itu melalui melahirkan kembali roh kita. Kelahiran kembali adalah perbauran diri Allah sendiri dengan roh kita. Setelah kelahiran kembali, jika kita bekerja sama dengan-Nya, mempersembahkan diri kita kepadaNya, dan memberikan kepada-Nya kesempatan, maka Ia akan memperluas diri-Nya sendiri dari roh kita ke dalam jiwa kita untuk memperbarui seluruh bagian jiwa kita. Ini adalah usaha transformasi-Nya. Lewat transformasi, intisari dari Allah Tritunggal berbaur dengan jiwa kita, diri kita sendiri. Bila jiwa kita telah diubah menjadi gambar Tuhan, maka pikiran, keinginan, dan keputusan kita akan senantiasa mengekspresikan Tuhan.
Karena itu, langkah Allah yang pertama ialah melahirkan kembali roh kita, langkah kedua ialah mengubah jiwa kita, dan terakhir mengalih-rupakan/mengubah tubuh kita pada kedatangan Tuhan yang kedua kalinya. Setelah itu Tuhan akan menjenuhi tubuh kita dan kemuliaan-Nya akan meresapi seluruh manusia kita. Transfigurasi (alih rupa) ini adalah penyempurnaan terakhir dari perbauran-Nya dengan diri kita. Pada waktu itu, ekonomi Allah dalam membagikan diri-Nya ke dalam kita akan rampung sepenuhnya. Ingatlah ketiga langkah yang olehnya Allah membaurkan diri-Nya sendiri dengan kita dalam setiap cara itu. Di bawah ini adalah kidung yang mengungkapkan penyempurnaan yang terakhir ini.
(Kidung 763)
Kristus, harapan mulia, Dialah hayat-Ku;
Lahirkanku kembali dan ubah jiwaku;
Dengan kuat kuasa-Nya mengubah tubuhku,
Hingga menjadi mulia, pri tubuh-Nya.
Koor :
Dia datang, ubahku mulia!
Tubuhku diubah rupa, serupa tubuh-Nya.
Dia datang, untukku datang-Nya!
Dialah harapan mulia, muliakan kita.
Kristus harapan mulia, Dia rahasia Allah;
Bawa Allah padaku, jadi bagianku,
Dia datang, baurkanku dengan diri Allah,
Berbagian mulia-Nya, pantulkan Dia.
Kristus, harapan mulia, Dialah Penebusku;
Dia menebus tubuhku, lepas drita, maut.
Dia mengubah tubuhku, jadi tubuh mulia;
Kekal menelan maut, bebaskanku.
Kristus harapan mulia, Dialah riwayatku;
Kualami hayat-Nya, Dia esa denganku;
Dia bawa ku masuk kebebasan, mulia,
Mutlak esa dengan-Nya hingga kekal.
KEDUA PIHAK BERPERANG DEMI JIWA
Kita semua mengetahui satu peristiwa yang menyedihkan. Sebelum Allah yang muha masuk ke dalam roh kita, Iblis, musuh Allah, terlebih dulu masuk ke dalam kita. Iblis melalui Adam masuk ke dalam tubuh manusia, ketika ia memakan buah pohon pengetahuan. Akibatnya, dosa tinggal dalam anggota-anggota tubuh kita dan memerintah sebagai seorang tuan yang ilegal; ia memaksa kita melakukan perkara-perkara yang tidak kita sukai. Inilah dosa yang disinggung dalam Roma 6, 7, dan 8. Itu tidak lain adalah si jahat dan yang penuh dosa dari alam semesta, dialah musuh Allah. Ketika ia masuk ke dalam tubuh kita, tubuh kita berubah sifat sehingga menjadi daging. Daging adalah tubuh yang telah dirusak, diruntuhkan, dan dibejatkan, dengan didiami oleh si jahat itu. Karena itu, daging ini mengancam akan menguasai jiwa. Seperti halnya roh manusia menjadi dasar bagi Allah untuk menyebarkan diri-Nya sendiri, demikian pula prinsipnya dengan tubuh kita yang telah bejat ini. Daging dimiliki oleh Iblis, menjadi dasar baginya untuk usaha jahanamnya. Iblis memakai tempat ini - daging - untuk mempengaruhi jiwa, lalu melalui jiwa, ia mematikan roh. Semua usaha Iblis selalu dimulai dari arah luar ke arah dalam. Tetapi usaha ilahi selalu dimulai dari inti atau tengah dan menyebar ke arah sekitarnya. Kita boleh menggambarkannya sebagai berikut :
Diagram
Jiwa tidak dapat melawan Iblis, Iblis jauh lebih kuat daripada jiwa manusia. Kondisi kita sebelum kita beroleh selamat ialah : jiwa kita telah diracuni oleh Iblis lewat daging. Ketika kita mendengar Injil, pikiran dan hati nurani kita diterangi, kita menyesal dan roh kita hancur, kita lalu bertobat dan membuka diri kita kepada Tuhan; kemudian, dengan mulia Ia masuk ke dalam roh kita, menjadi hayat kita dalam Roh Kudus. Walau Iblis telah mengambil tubuh sebagai dasar untuk memerangi roh di dalam, tetapi Tuhan yang mulia memakai roh sebagai dasar untuk memerangi daging di luar.
Kita menjadi sangat kompleks, sebab kita telah menjadi medan pertempuran! Kita adalah medan pertempuran universal untuk peperangan universal. Iblis dengan Allah, Allah dengan Iblis berperang satu sama lain setiap hari di dalam kita. Iblis berperang menuju pusat, sedang Allaha berperang menuju luar. Bagaimana sikap kita? Kita tidak bisa netral; kita harus berdiri pada salah satu pihak. Dalam bagian luar manusia ada musuh Allah, dan dalam bagian batinnya ada Allah sendiri. Di antara keduanya, di tengah-tengah adalah jiwa. Iblis berada dalam tubuh yang telah dirusak, Allah berada di dalam roh yang telah dilahirkan kembali, dan kita berada di antaranya, di dalam jiwa manusia. Kita adalah seorang manusia yang sangat penting. Kita bisa mengubah seluruh situasi. Jika kita memihak kepada Iblis, di satu aspek, Allah akan kalah. Sudah tentu Allah tidak mungkin terkalahkan, tetapi karena kita memihak kepada Iblis, Allah sementara waktu seolah-olah dikalahkan. Tetapi, jika kita memihak kepada Allah, itu akan sangat mulia, Iblis akan mutlak ditaklukkan.
Kepada siapakah Anda memihak? Itulah problemnya. Dengarkan firman Tuhan, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya." Menyangkal diri! Dengan kata lain, letakkanlah jiwa ke dalam maut di atas salib, sebab jiwa itulah diri. Kita wajib senantiasa menyangkal diri, senantiasa meletakkan diri ke dalam maut, senantiasa menyalibkan diri. Apakah yang akan terjadi ketika jiwa telah disalibkan? Bila jiwa telah diletakkan ke dalam maut, hanya Allah dan Iblislah yang tertinggal. Dengan menyalibkan jiwa, kita telah menghancurkan jembatan musuh.
Iblis berada di dalam daging, sebab ia adalah dosa yang berinkarnasi menjadi daging, dan ego manusia berada di dalam jiwa. Dosa telah menikah dengan diri secara ilegal; pada kenyataannya, mereka telah melangsungkan pernikahan sejak lama. Semua kerusuhan dalam batin kita dikarenakan adanya fakta pernikahan ego dengan dosa, dan mereka telah menjadi satu. Tetapi ketika kita diselamatkan, Allah, Kristus, dan Roh Kudus masuk ke dalam roh kita sebagai hayat ilahi. Dalam daging, tubuh yang telah bejat, ada dosa; dalam jiwa, jiwa yang telah terancam, ada ego; sedang di dalam roh manusia yang telah dilahirkan kembali, ada hayat ilahi, hayat kekal, itulah hayat dan kekuatan untuk mengatur. Hidup dan bertindak oleh hayat jiwa berarti hidup dan bertindak oleh ego sendiri, yang melibatkan kita dalam pernikahan dengan Iblis. Pernikahan ini berarti kita bukan orang yang bebas, melainkan berada di bawah belenggu si jahat, dosa. Si jahat akan bangkit menculik, menaklukkan kita, dan membawa kita di bawah tahanannya, membuat kita menjadi orang yang paling malang. Tetapi jika kita menyangkal jiwa, ego, dan hidup oleh roh, Kristus sebagai hayat akan mengatur dan meresapi seluruh manusia kita.
SALIB MENANGGULANGI JIWA
Setelah kita dilahirkan kembali, kita harus tidak hidup dan melakukan perkara oleh diri kita lagi. Asalkan kita hidup oleh diri sendiri, kita akan berada di bawah belenggu Iblis. Mungkin Anda berkata, "Aku rasa, aku tidak hidup atau berbuat sesuatu oleh diri sendiri." Di sini Anda perlu membedakan roh dari jiwa, agar Anda menyadari betapa Anda hidup dalam jiwa. Anda mengatakan Anda tidak hidup atau berbuat sesuatu oleh jiwa, tetapi saya ingin bertanya, Anda hidup oleh apa? Apa oleh daging? Boleh jadi Anda menjawab, "Tidak, aku tidak hidup oleh daging!" Lalu, apakah Anda hidup oleh roh? Anda berkata, "Ya, tetapi aku meragukannya." Jika Anda tidak hidup oleh daging dan tidak pula oleh roh, oleh apakah Anda hidup? Jawabannya hanyalah : Anda hidup oleh jiwa. Anda berkata, "Oh, aku tidak suka melakukan dosa apa pun, aku tidak suka bersifat daging, aku tidak suka bekerja sama dengan Iblis. Aku mengasihi Allah. Aku senang mengikuti Tuhan dan berjalan di jalanNya. Aku suka ini, aku suka itu, aku suka ..." Tetapi Anda tetap berada di dalam jiwa! Katakanlah kepada Tuhan, Anda berada di mana. Anda sendiri sangat meragukan apakah Anda hidup di dalam roh- Kalau Anda tidak berada dalam daging dan tidak pula. dalam roh, Anda berada di dalam jiwa. Puji Tuhan, Anda tidak berada di Mesir, sebab Anda telah mengalami Paskah. Anda telah diselamatkan dari Mesir, tetapi Anda belum memasuki tanah permai Kanaan; Anda masih berkelana di padang gurun jiwa.
1. Kasih Manusia
Sekarang kita tiba pada persoalan ini : bagaimana kita membedakan roh dari jiwa? Bagaimana kita dapat mengetahui bila kita berada di dalam roh atau di dalam jiwa, dan bagaimana kita dapat memisahkan roh dari jiwa? Bacalah firman Tuhan di bawah :
"Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya" (Mat. 10:37-39).
Kata "nyawa" di sini dalam bahasa Yunani sama dengan kata "Jiwa". Memikul salib dalam ayat ini ditujukan kepada kasih manusia kita kepada orang-orang yang kita kasihi. Kasih manusia adalah sesuatu yang berada dalam pwa kita, dan itu harus ditanggulangi oleh salib. Berapa banyak kita mengasihi orang-orang yang kekasih itu? Jika kita ingin membedakan roh dari jiwa, kita harus mengecek kasih kita. Bagaimana kita mengasihi orang tua kita, anak-anak kita, ayah atau ibu kita? Bagaimana kita mengasihi saudara atau saudari kita? Ini bukan perkataan manusia, melainkan firman Tuhan. Pembedaan roh dari jiwa akan ternyata bila kita telah memeriksa kasih alumiah manusia kita itu. Kasih alamiah kita harus ditanggulangi oleh salib. Dalam surat-surat rasuli Perjanjian Baru, Roh Kudus mengatakan kepada kita bahwa suami harus mengasihi istri, istri harus patuh kepada suami, orang tua harus memperhatikan anak-anak, dan anak-anak harus menghormati orang tua. Tetapi semuaityn ini harus berada di dalam hayat kebangkitan. Kasih Plannah dan hubungan alamiah harus terkerat oleh salib. 119telah ditanggulangi oleh salib, kita akan berada di dalain roh, itu berarti kita berada di dalam hayat kebangkil.nn. Kita akan hidup di dalam hayat kebangkitan Wink dalam hayat alamiah, melainkan dalam hayat rohom Satu cara untuk menguji apakah jiwa kita telah dihancurkan ialah, apakah salib telah menanggulangi kasih alamiah kita. Bila kasih alamiah telah terkerat oleh salib, maka kita akan kehilangan jiwa kita.
Lagi pula, jika kita ingin kehilangan jiwa kita melalui menanggulangi kasih alamiah, kita perlu belajar bagaimana membenci.
"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku" (Luk. 14:26-27).
Sekali lagi di sini "nyawa" dalam bahasa Yunani sama dengan "jiwa". Selain mengasihi orang-orang yang kita cintai, kita juga memiliki kasih diri, yaitu mengasihi diri atau jiwa kita. Memikul salib sangat berkaitan dengan kasih diri ini. Vikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci . . ." Membenci siapa? Musuh kita? Kita harus mengasihi musuh-musuh kita, tetapi kita harus belajar membenci jiwa, diri kita sendiri. Membenci diri kita sendiri ada kaitannya dengan kehilangan jiwa kita. Melalui membenci diri kita, kita dapat menyalibkan diri di dalam jiwa kita itu.
2. Mengasihi Dunia
"Kata-Nya kepada mereka semua, 'Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ta akan menyelamatkannya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?" (Luk. 9,23-25).
"Ingatlah akan istri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya" (Luk. 17:32-33).
Dalam semua ayat di atas, kata "nyawa" dalam bahasa Yunani sama dengan kata "jiwa". Ayat ini memperlihatkan kepada kita bahwa jiwa banyak sekali terlibat dalam kasih dunia. Meninggalkan kasih dunia dan benda-benda duniawi berarti kita harus menanggulangi jiwa kita. Bila jiwa terkerat, maka kasih dunia pun akan tertinggal. Sebab itu, kedua perkara ini, kasih dunia dan jiwa berkaitan satu sama lain.
"Ingatlah akan istri Lot!" Ini seorang istri, bukan seorang suami! Itulah kasih seorang istri yang mencintai benda-benda duniawi. Tuhan mengatakan harus berhati-hati, jika Anda mengasihi dunia, Anda akan kehilangan pun Anda. Jika kita mengasihi perkara-perkara dunia, kita akan kehilangan jiwa kita dalam arti yang buruk, tetapi jika kita meninggalkan kasih dunia, kita akan kehilangan jiwa kita dalam arti yang baik. Saudara saudari, kasih dunia merupakan suatu bukti di mana jiwa kita berada.
3. Hayat Alamiah
"Sesungguhnya Aku berkata kepadamu : Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap saja, tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal" (Yoh. 12:24-25).
Di sini kata "nyawa" pun berarti "jiwa". Dengan membaca dan merenungkan kedua ayat ini secara cermat dan mendalam, kita akan nampak bahwa jiwa sangat berkaitan dengan hayat alamiah dan kekuatan alamiah. Hayat dan kekuatan alamiah kita harus ditanggulangi melalui kehilangan jiwa. Ketika hayat dan kekuatan alamiah dimatikan, jiwa kita baru dapat dihancurkan. Bagaimanakah orang dapat membedakan roh dari jiwa? Hanya dengan menyalibkan hayat diri itu dan meletakkan diri kita di bawah maut. Jiwa telah tertipu, karena kelihatannya ia tidak menyatakan dosa. Sebab itu, kita harus selalu belajar memeriksa jiwa melalui menyalibkan diri sendiri.
Misalkan kita sedang bersekutu dengan seorang saudara, bagaimana kita dapat membedakan apakah persekutuan kita itu berasal dari roh atau dari jiwa? Melalui menyalibkan diri kita sendiri, kita akan mengetahui dengan jelas hal tersebut. Saya tidak seharusnya berkata, "Aku tidak melakukan sesuatu yang jahat. Aku sedang melakukan sesuatu yang baik saat aku bersekutu dengan saudara itu." Memang persekutuan itu perihal yang baik, tetapi hal itu boleh jadi sama sekali berada di dalam jiwa! Bila salib menanggulangi diri kita, kita akan segera jelas apakah persekutuan kita di dalam roh atau di dalam jiwa. Jangan kita memeriksa jiwa atau roh dengan membedakan baik atau jahat. Cara pengecekan seperti itu hanya akan membuat kita menjadi gelap. Tidak ada cara lain untuk memeriksa jiwa dan roh kecuali melalui salib. Satu-satunya jalan untuk menentukan apakah kita berada di dalam jiwa atau di dalam roh ialah melalui memeriksa apakah kita sekarang berada di atas salib atau tidak. Apakah aku memiliki unsur kegemaran diriku, atau aku memusatkan aktivitasku pada diriku sendiri? Sudahkah salib menanggulangi kegemaran diriku dan sikap egosentris itu? Periksalah diri Anda sendiri dengan cara demikian. Semua keputusan dan aktivitas harus diperiksa melalui salib, tidak dengan standar baik atau buruk. Dalam setiap judul pembicaraan Anda, sudahkah diri Anda disalibkan? Janganlah menganalisis dengan berpikir. "Apakah aku berada di dalam roh atau jiwa? Aku harus memikirkan sejenak untuk mengetahui berapa dalamnya perasaanku. Kalau tidak begitu dalam, itu berarti aku berada di dalam jiwa. Tetapi kalau nampaknya dalam, mungkin berada di dalam roh." Kalau kita mengana1isis demikian, kita benar-benar akan dipersulit. Periksa saja dengan satu cara ini, dan kita akan sangat jelas`: Apakah kita telah diletakkan di atas salib? Dengan perkataan lain, sudahkah kita menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Tuhan di dalam roh? Bila kita menyangkal diri melalui memikul salib, Tuhan akan mendapat kedudukan penuh di dalam kita, dan hal itu akan memudahkan kita untuk bergaul dengan-Nya.
Dalam ajaran-ajaran Perjanjian Baru, penghajaran mempunyai kedudukan sendiri, tetapi kedudukan salib lebih besar. Sering kali hajaran Allah bekerja bersama salib. Tetapi janganlah menunggu hajaran Allah. Kita harus setiap waktu belajar memikul salib, sebab kita tahu bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus. Dari hari ke hari kita harus menempuh pelajaran menyangkal diri, memikul salib, dan tidak memberikan kedudukan sedikit pun kepada jiwa. Jika kita berbuat demikian, niscayalah kita akan benar-benar bersatu dengan Tuhan di dalam roh, dan Tuhan akan beroleh kedudukan untuk memiliki kita dan meresapi kita dengan diri-Nya sendiri.