MANUSIA DAN DUA POHON
Rencana kekal Allah, ekonomi-Nya, diwahyukan kepada kita di mana-mana dalam keenam puluh enam kitab dalam seluruh Alkitab. Pada permulaan Alkitab, Allah terlihat menciptakan manusia sebagai inti segenap ciptaan dengan tujuan mengekspresikan diri-Nya sendiri. Dalam ekonomi-Nya, Allah berkeinginan agar manusia dapat mengekspresikan Dia sendiri sebagai inti seluruh alam semesta.
MANUSIA NETRAL DI ANTARA DUA POHON
Pada permulaan firman Allah, kita nampak adanya dua batang pohon, pohon kehidupan (hayat) dan pohon pengetahuan tentang hal baik dan jahat (Kej. 2). Untuk memahami rencana Allah dalam Alkitab, kita harus jelas sekali tentang kedua pohon ini, dan apa yang diwakilinya. Setelah Allah menciptakan manusia, Ia menempatkannya di hadapan kedua pohon tersebut, dan segenap hidup dan perbuatan manusia terlukis sebagai sebuah perjamuan atas sebatang pohon atau pohon lainnya. Allah memberi tahu manusia untuk berhati-hati sekali dalam hal menerima kedua pohon ini. Jika manusia menghadapi kedua pohon itu secara wajar, ia akan hidup, jika tidak, ia akan mati. Jadi itu adalah masalah hidup dan mati. Bagaimana manusia hidup dan berbuat setelah ia diciptakan, sepenuhnya tergantung pada bagaimana ia menghadapi kedua pohon tersebut. Pesan Allah sangat jelas; jika ia memakan buah pohon pengetahuan tentang hal baik dan jahat, ia akan mati; tetapi jika ia memakan buah pohon hayat, ia akan hidup.
Apakah makna kedua pohon itu? Berdasarkan seluruh wahyu Alkitab, pohon hayat melambangkan Allah mendiri sebagai hayat kita di dalam Kristus. Pohon hayat berdiri sebagai satu lambang hayat Allah dalam Kristus. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berkali-kali menampi1kan Tuhan Yesus sebagai "pohon" atau "carang" pohon. Dalam Kitab Yesaya, Yeremia dan Zakharia Tuhan mempunyai sebutan istimewa, yakni "carang". Sering pula pohon dipakai dalam Alkitab untuk melambangkan bahwa Kristus adalah bagian dan kenikmatan kita. Sebagai contoh, Tuhan Yesus dalam Kidung Agung 2 diibaratkan seperti pohon apel : "Seperti pohon apel di antara pohon-pohon di hutan, demikianlah kekasihku di antara teruna-teruna. Di bawah naungannya aku ingin duduk, buahnya manis bagi langit-langitku." Kita dapat duduk di bawah naungan-Nya, dan menikmati kekayaan-Nya, yakni buah-buah pohon itu. Contoh lain dari Kristus sebagai pohon ialah pohon anggur dalam Yohanes 15, "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya…"
Apakah makna pohon pengetahuan tentang baik dan jahat? Pohon ini tak lain mewakili Iblis, sumber maut. Pohon yang kedua ini mendatangkan kematian, sebab ia adalah sumber kematian. Kalau pohon pertama adalah sumber hayat, maka pohon kedua adalah sumber maut. Dalam alam semesta hanya Allah sendirilah sumber hayat dan hanya Iblislah sumber maut. Satu ayat yang menunjukkan bahwa Allah sendiri sebagai sumber hayat ialah Mazmur 36:10, "Sebab pada-Mu ada sumber hayat", dan satu ayat pula yang menunjukkan Iblis sebagai sumber maut, yaitu Ibrani 2:14 : "Yaitu Iblis yang berkuasa atas maut." Kuasa maut berada dalam tangan Iblis. Karena itu, dari awal waktu, ada dua pohon yang mewakili dua sumber, yang satu : sumber hayat, dan yang lainnya : sumber maut.
Pada mulanya, ada tiga persona - Allah, manusia, dan Iblis. Manusia dalam keadaan tak berdosa diciptakan oleh Allah, dan netral terhadap hayat dan maut. Karena manusia bisa beroleh hayat atau maut, maka manusia berdiri di atas kedudukan yang netral. Allah berdiri di atas kedudukan hayat, dan Iblis di atas kedudukan maut. Manusia diciptakan netral terhadap Allah maupun Iblis. Memang kehendak Allah bagi manusia yang netral dan tidak berdosa ini adalah agar manusia menerima Allah ke dalam dirinya, supaya Allah dengan manusia, manusia dengan Allah, dapat berbaur menjadi satu. Lalu manusia dapat menampung Allah sebagai hayatnya dan mengekspresikan Allah sebagai segala sesuatu. Dan manusia ciptaan yang sebagai inti alam semesta ini kemudian dapat memenuhi kehendak Allah yang terekspresikan sepenuhnya. Tetapi ada kemungkinan lain, yaitu manusia terbujuk untuk menerima pohon yang kedua, sumber maut itu. Sebagai akibatnya, manusia akan berbaur dengan pohon yang kedua. Oh, semoga mata kita tercelik dan melihat bahwa dalam alam semesta ini bukan masalah etika dan pengamalan kebajikan, melainkan muatu masalah menerima Allah sebagai hayat atau menerima Iblis sebagai maut. Kita harus dibebaskan dari pengertian atau konsepsi etis dan moral. Masalahnya bukan pada pengamalan kebajikan atau kejahatan, melainkan masalah menerima Allah sebagai hayat atau menerima Iblis sebagai maut. Penting sekali kita mengetahui dengan jelas ketiga persona ini! Allah berdiri di satu pihak, sebagai sumber hayat, yang diwakili oleh pohon hayat; Iblis berdiri di pihak lain, sebagai sumber maut, yang diwakili oleh pohon pengetahuan; dan Adam berdiri di tengah-tengah, sebagai yang netral dengan kedua belah tangan yang menerima. Ia dapat menerima Allah pada sebelah kanannya atau menerima Iblis pada sebelah kirinya.
MANUSIA DIRUSAK OLEH POHON MAUT
Namun, seperti kita ketahui, Adam telah dibujuk tintuk menerima sumber yang kedua, pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, ke dalam dirinya. Ini bukan sekadar melakukan perkara yang salah. Tidak! Melainkan jauh lebih serius daripada melanggar hukum dan peraturan Allah. Makna Adam memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat adalah ia menerima Iblis ke dalam dirinya. Adam tidak memakan sebatang ranting dari pohon itu, melainkan memakan buah dari pohon itu. Buah mengandung kekuatan reproduksi hayat. Sebagai contoh, ketika buah persik ditanam di tanah, tidak lama kemudian akan tumbuh sebatang pohon persik kecil. Adam merupakan "tanah", ketika ia memakan buah dari pohon pengetahuan ke dalam dirinya yang sebagai tanah, maka la menerima Iblis, yang kemudian bertumbuh di dalamnya. Oh, ini bukan satu masalah yang sepele! Tidak banyak orang Kristen yang memahami bahwa kejatuhan Adam demikian hebatnya. Buah Iblis tertanam di dalam Adam seperti benih tertanam dalam tanah; karenanya Iblis bertumbuh di dalam Adam dan menjadi bagiannya.
Sekarang kita perlu mengungkapkan Adam menerima Iblis ke dalain bagiannya yang mana. Iblis tidak saja masuk ke dalam Adam ketika ia jatuh di taman itu, tetapi ia tetap tinggal dalam umat manusia. Di manakah ia berlokasi dalam umat manusia? Seperti telah kita ketahui dalam bab-bab yang lalu, kita adalah manusia yang terdiri dari tiga bagian : roh, liwa, dan tubuh. Lihatlah lukisan itu. Tatkala Adam memakan buah dari pohon itu, ke dalam bagian manakah ia masuk? Sudah tentu, ia masuk ke dalam tubuhnya, sebab ia memakannya. Walau ini logis dan masuk akal, tetapi kita perlu menguatkannya dengan dasar Alkitab bahwa Iblis berada di dalam tubuh kita. Bacalah Roma 7:23 : "Tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku ..." Kata "lain" dalam terjemahan versi King James (juga dalam Alkitab bahasa Indonesia) lebih baik diterjemahkan "berbeda". Di dalam Paulus ada satu hukum yang berbeda dalam kategorinya. Anda boleh iadi memiliki tiga hukum yang kategorinya sama, misalnya yang pertama, dan yang dua "lainnya". Tetapi dalam bahasa Yunani di sini ada satu hukum yang kategorinya berbeda. "Tetapi dalam anggota-anggota tubahku, aku melihat hukum yang berbeda yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku", yakni bagian-bagian tubuh.
Apakah hukum dosa? Paulus berkata, "Maka bukan lagi aku yang melakukannya, tetapi dosa yang tinggal di dalam aku" (Rm. 7:20), dan "bukan lagi aku ... melainkan Kristus yang hidup di dalam aku" (Gal. 2:20). Di sini kita memiliki perbedaan antara "bukan lagi aku, tetapi dosa", dengan "bukan lagi aku, melainkan Kristus". Kristus adalah wujud Allah, tetapi dosa adalah wujud Iblis. Kata "dosa" dalam Roma 7 harus dicetak dengan huruf besar, sebab ia digambarkan sebagai pribadi. Dosa seperti seorang manusia, sebab dosa berdiam di dalam kita dan memaksa kita melakukan perkara-perkara yang berlawanan dengan kehendak kita (Rm. 7:17, 20). Ia bahkan lebih kuat daripada kita. Roma 6:14 mengatakan, "Sebab dosa tidak akan berkuasa lagi atas kamu." Ayat ini lebih baik diterjemahkan, "Sebab dosa tidak menjadi tuan atas kamu lagi." Dosa bisa menjadi tuan atas kita; karena itu, dosa tentu adalah si jahat, Iblis itu. Melalui kejatuhan, Iblis masuk ke dalam manusia sebagai dosa, serta menguasai, meruntuhkan, merusak, dan mengendalikan manusia. Di bagian manakah? Iblis berada di dalam anggota-anggota tubuh manusia.
Pada saat diciptakan oleh Allah, tubuh manusia adalah sesuatu yang sangat baik, tetapi sekarang telah menjadi "daging". Tubuh itu murni, sebab ia diciptakan dengan baik, tetapi ketika tubuh dirusak oleh lblis, ia menjadi daging. Paulus berkata, "...di dalam aku, yaitu di dalam daging, tidak ada apa yang baik" (Rm. 7:18, T1.). Melalui kejatuhan, Iblis datang dan diam di dalam tubuh kita, menyebabkan tubuh kita menjadi daging, yaitu tubuh yang telah dirusak dan diruntuhkan.
Surat Roma memakai dua istilah, "tubuh dosa" (6:6) dan "tubuh maut" (7:24). Tubuh tersebut "tubuh dosa", sebab Iblis berada dalam tubuh. Tubuh tak lain adalah tempat tinggal dosa, yaitu wujud Iblis. Apakah "tubuh maut"? Sumber dan kuasa maut ialah Iblis. Dosa adalah wujud Iblis dan maut adalah hasil atau efek Iblis. Tubuh yang dirusak dan diubah ini disebut "tubuh dosa" dan "tubuh maut", sebab tubuh ini telah menjadi tempat tinggal Iblis. Dosa maupun maut semua berkaitan dengan Iblis. "Tubuh dosa" berarti tubuh ini berdosa, dirusak dan diperbudak oleh dosa; "tubuh maut" berarti tubuh ini telah diperlemah dan penuh dengan maut. Tubuh adalah sesuatu yang bersifat Iblis dan menakutkan, sebab Iblis tinggal di dalam tubuh ini. Semua hawa nafsu berada dalam tubuh yang disebut daging. Firman Tuhan mewahyukan bahwa hawa nafsu adalah "keinginan (nafsu) daging" (Gal. 5:16). Daging adalah tubuh yang rusak, yang penuh dengan hawa nafsu, dan yang dihuni oleh Iblis. Sekarang Anda tahu bahwa kejatuhan manusia bukan hanya suatu masalah manusia melakukan sesuatu yang melawan Allah, bahkan menerima Iblis ke dalam tubuhnya. Sejak manusia jatuh, Iblis berdiam di dalam manusia. Itulah yang terjadi ketika manusia memakan pohon yang kedua.
Karena Iblis dan manusia menjadi satu melalui pohon yang kedua itu, maka Iblis tidak lagi berada di luar manusia, melainkan di dalam manusia. Penghulu di angkasa, Iblis itu sendiri, kini bekerja di dalam orang-orang ynng tidak taat (Ef 2:2). Setan merasa gembira dan bangga, karena ia telah berhasil merebut manusia. Tetapi Allah yang masih di luar manusia seolah-olah berkata, "Aku akan berinkarnasi. Kalaupun Iblis telah menggarapkan dirinya ke dalam manusia, maka Aku juga akan masuk ke dalam manusia dan mengenakan manusia ke atas diri-Ku sendiri." Sudahkah Anda lihat situasi yang kompleks ini? Allah "mengenakan" manusia ini - Iblis berada di dalamnya - melalui inkarnasi. Ketika Allah berinkarnasi sebagai seorang manusia, maka manusia yang ia kenakan adalah rupa manusia yang telah dirusak oleh Iblis. Pada waktu inkarnasi-Nya, manusia tidak lagi sebagai manusia yang murni, melainkan yang telah diruntuhkan dan dirusak oleh Iblis. Mari kita baca Roma 8:3 "…Allah. Dengan mengutus Anak-Nya sendiri sebagai manusia yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa dan untuk menghapuskan dosa ..." Ketika Tuhan Yesus berinkarnasi dalam daging, Ia serupa dengan daging dosa. Di dalam-Nya tidak ada dosa, tetapi ada rupa daging dosa. Dosa berada dalam manusia yang telah rusak, tetapi dalam diri Tuhan Yesus tidak ada dosa, yang ada hanya rupa dari daging dosa. Perjanjian Lama mengilustrasikan hal ini dengan lambang ular tembaga di atas tiang. Ular tembaga adalah lambang Kristus (Yoh. 3:14). Ketika Kristus terpancang di atas salib, Ia adalah seorang manusia dalam "rupa" ular. Ular itu adalah Iblis, musuh Allah, tetapi ketika Kristus berinkarnasi sebagai manusia, Ia bahkan mengenakan rupa dari daging yang berdosa, yaitu rupa Iblis. Ini sulit dimengerti oleh siapa pun. Hal ini sungguh sangat rumit. Biarlah saya ulangi. Manusia tercipta dengan murni, tetapi pada suatu hari Iblis masuk ke dalam manusia dan memilikinya. Iblis merasa gembira, mengira telah berhasil merebut manusia. Kemudian, Allah "mengenakan" manusia yang telah dikuasai Iblis di atas diri-Nya sendiri.
MANUSIA DIBEBASKAN DARI POHON MAUT
Setelah Allah menjadi seorang manusia dan mengenakan manusia itu (beserta Iblis yang ada di dalamnya) ke atas diri-Nya sendiri, Ia membawa manusia itu ke atas salib. Iblis mengira ia telah berhasil, tetapi ia hanya memberi Allah jalan yang mudah untuk menaruhnya kepada maut. Sebagai contoh, kalau seekor tikus terlepas di dalam sebuah rumah, agak sulit bagi tuan rumah untuk menangkapnya. Tetapi jika ia menaruh sebuah perangkap dengan suatu, umpan kecil, maka tikus itu akan tergoda untuk menangkap umpan itu. Pertama, tikus itu mengira ia akan berhasil memperoleh umpan itu, tetapi ia tidak menyadari bahwa ia telah terperangkap. Lalu, begitu ia terperangkap, maka mudah sekali bagi pemilik rumah itu untuk mematikannya. Demikian pula, Adam telah menjadi suatu perangkap untuk menangkap Iblis Iblis adalah tikus yang "nakal" yang terlepas dan berlari-lari di alam semesta. Ketika Iblis datang merebut manusia, ia mengira telah berhasil, tetapi ia tidak menyadari bahwa ia telah terjebak ke dalam sebuah perangkap. Iblis
menyangka manusia adalah rumahnya, tetapi tidak tahu kalau manusia adalah umpannya. Manusia hanyalah umpan belaka. Melalui merebut manusia, ia telah tertangkap dan terpenjara di dalam manusia. Sesudah itu, Tuhan datang dan mengenakan manusia ke atas diri-Nya sendiri dan membawanya ke atas salib, agar "melalui kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis yang berkuasa atas maut" (Ibr. 2:14). Manusia telah tertipu oleh Iblis, tetapi Iblis pun telah terperangkap di dalamnya. Melalui inkarnasi, Allah mengenakan manusia yang telah dirusak itu ke atas diri-Nya sendiri dan membawa manusia ini kepada maut di atas salib. Pada waktu itu juga, Iblis yang berada di dalam manusia yang telah jatuh ini dibawa pula kepada maut. Jadi, melalui kematian di atas salib inilah Kristus memusnahkan Iblis. Itulah sebabnya Iblis takut akan salib, dan itulah sebabnya Tuhan menyuruh kita memikul salib. Salib merupakan senjata satu-satunya bagi kita untuk menaklukkan Iblis.
Di manakah Iblis? Iblis berada di dalamku, di dalam dagingku. Tetapi di manakah dagingku sekarang? Bacalah Galatia 5:24, "... menyalibkan daging dengan segala hawa nafsunya." Dagingku, berikut Iblis yang ada di dalamnya, sekarang berada di atas salib; jadi, Iblis telah dimatikan di atas salib. Puji Tuhan! Tetapi apakah ini sudah berakhir atau tamat? Tidak, setelah mati harus dikubur. Tetapi, kuburan pun bukan yang terakhir! Setelah penguburan ada kebangkitan. Bani Israel masuk ke dalam Laut Merah bersama Firaun dan bala tentaranya, tetapi mereka telah bangkit dari air kematian tanpa Firaun dan bala tentaranya. Firaun dan bala tentaranya telah terkubur di dalam air maut. Kristus membawa manusia dengan Iblis ke dalam maut dan kuburan, dan membawa manusia tanpa Iblis keluar dari maut dan kuburan itu. Ia meninggalkan Iblis terkubur dalam kuburan. Sekarang manusia yang telah bangkit ini bersatu dengan Kristus.
MANUSIA DIBANGKITKAN
OLEH POHON HAYAT
Izinkan saya bertanya kepada Anda, kapankah Anda dilahirkan ulang? Tahun 1958? Itu terlalu terlambat! Anda telah dilahirkan ulang melalui kebangkitan Kristus (1 Ptr. 1:3). Ketika Kristus dibangkitkan, kita, orang-orang yang percaya kepada-Nya, juga telah dibangkitkan. Hal ini dapat dibuktikan oleh Efesus 2:5-6, Allah "telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, ... telah membangkitkan kita juga ..." Pada waktu kebangkitan Kristus, kita juga dibangkitkan bersama Dia. Oh, kita harus terkesan dengan hal ini! Manusia telah diruntuhkan oleh Iblis ketika Iblis masuk ke dalamnya. Tetapi Allah dengan inkarnasi mengenakan manusia ini beserta Iblis yang ada di dalamnya ke atas diri-Nya sendiri, membawa manusia ini ke atas salib, menaruh manusia ini termasuk Iblis ke dalam maut, dan mengubur manusia ini dalam kuburan. Kemudian Ia membawanya ke dalam kebangkitan, dan melalui kebangkitan ini, manusia dengan Allah menjadi satu. Melalui inkarnasi Allah masuk ke dalam manusia, dan melalui kebangkitan manusia bersatu dengan Allah. Sekarang Allah berada dalam roh manusia.
Kita harus bersukacita, tetapi tidak terlampau sukacita. Mengapa? Sebab kita harus selalu memikul salib setiap hari. Bila daging kita menjauhi salib, Iblis akan hidup lagi. Kita harus berkata, "Haleluya", sebab Tuhan Yesus berada di dalam roh kita; tetapi kita juga harus waspada, sebab kita masih berada di dalam daging. Bila daging meninggalkan salib, Iblis akan hidup lagi. Itulah sebabnya kita harus hidup dalam roh sepanjang waktu dan menerapkan salib ke atas daging. Walau Iblis masuk ke dalam manusia melalui kejatuhan, tetapi ia telah ditanggulangi oleh Tuhan, dan kini oleh kebangkitan, Tuhan berada di batin kita. Mulai sekarang dan seterusnya, kewajiban dan usaha kita ialah tidak mencoba melakukan kebajikan. Kebajikan hanya akan menipu dan membutakan kita. Kita harus dengan sederhana mengikuti Tuhan di dalam roh dan menerapkan salib ke atas daging. Ini akan dengan spontan mematikan Iblis. Belajarlah mempraktekkan satu hal ini dengan kedua aspek tersebut. Mengikuti Tuhan di dalam roh, dan meletakkan daging, termasuk Iblis, ke dalam maut di atas salib.
Lalu apakah yang menjadi hasilnya yang terakhir? Pada satu pihak, akan muncul Yerusalem Baru, dan pada pihak lain, lautan api. Yerusalem Baru adalah Allah Tritunggal berbaur dengan manusia yang telah dibangkitkan, dan lautan api adalah kebinasaan terakhir bagi Iblis. Lautan api adalah tempat Iblis. Segala yang tidak bersangkut paut dengan Allah Tritunggal dan manusia yang dibangkitkan, akan dimasukkan ke dalam lautan api bersama Iblis. Di Yerusalem Baru hanya ada sebatang pohon – pohon hayat. Pohon lainnya akan berada dalam lautan api. Inilah kesimpulan terakhir dari seluruh Alkitab. Alkitab berawal dengan tiga persona, tetapi perwujudan terakhir ialah Yerusalem Baru beserta pohon yang pertama di pusat kota itu dan manusia-manusia yang telah dibangkitkan sebagai ekspresi Allah Tritunggal. Pohon yang kedua akan tercampak ke dalam lautan api. Setiap perkara dan manusia yang berkaitan dengan pohon yang kedua ini akan menemui nasib yang sama dengan Iblis dalam lautan api.
Sebagai kesimpulan, makna dari gambaran ini bagi kita hari ini adalah hidup, orang Kristen yang normal tidak terdiri dari pengamalan kebajikan. Hidup orang Kristen yang normal adalah menerima Kristus, hidup, oleh Kristus, dan senantiasa meletakkan daging dengan Iblis ke dalam maut. Itulah mengikuti Kristus di dalam roh kita dan meletakkan daging kita ke dalam maut. Kemudian, harinya akan tiba, Allah Tritunggal dan manusia yang telah dibangkitkan akan menjadi satu ekspresi, yakni Yerusalem Baru dengan pohon hayat sebagai pusatnya.