← Daftar isi Mengenal Alkitab (1) · bab 5/8

SIDANG PEMECAHAN ROTI

Minggu ke-5 Senin Doa Baca: Kis. 20:7a; 1 Kor. 11:20

"Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti. . . ."

"Apabila kamu berkumpul, . . . untuk makan perjamuan Tuhan."

MENGENANG TUHAN -- BERINTIKAN TUHAN

Sidang pemecahan roti tidak lain untuk mengenang Tuhan, berintikan Tuhan, supaya Tuhan mendapatkan kepuasan. Segala sesuatu dalam sidang ini, baik menyanyikan kidung, berdoa, membaca Alkitab, atau perkataan dari inspirasi, harus berintikan Tuhan, membicarakan persona dan pekerjaan Tuhan, kasih dan kebajikan Tuhan, hidup dan kesengsaraan Tuhan di bumi, atau kehormatan dan kemuliaan-Nya di surga, agar orang merenungkan atau menyadari hal-hal ini, dengan demikian mengenang Tuhan. Dalam sidang semacam ini, kita wajib memikirkan Tuhan di dalam hati serta memandang Tuhan di dalam roh, sehingga kita menerima inspirasi tentang Tuhan, lalu kita menyatakan inspirasi yang kita terima melalui kidung, doa, pembacaan Alkitab, atau kata-kata, agar perasaan seluruh sidang terarah kepada Tuhan, dan semua orang mengenang Tuhan.

1. Makan Perjamuan Malam Tuhan

Pemecahan roti adalah makan perjamuan malam Tuhan dan datang ke meja Tuhan. Makan perjamuan malam Tuhan adalah untuk memperingati Tuhan; datang ke meja Tuhan adalah untuk bersekutu dengan yang Tuhan genapkan untuk kita. Pada aspek makan perjamuan malam Tuhan, yang penting melakukan tiga hal yang berikut:

a. Mengenang Tuhan

Seperti yang telah ditetapkan oleh Tuhan, setiap kali kita memecahkan roti, tidak hanya tersedia seketul roti untuk kita pecahkan dan makan, tetapi juga ada cawan untuk kita terima dan minum. Dengan makan roti Tuhan dan minum cawan Tuhan, kita makan perjamuan malam Tuhan, mengenang Tuhan. Roti dan cawan merupakan satu tanda. Roti mengacu kepada tubuh-Nya dikorbankan untuk kita, cawan mengacu kepada darah yang dialirkan-Nya untuk kita. Tubuh-Nya telah dikorbankan-Nya bagi kita di kayu salib, darah-Nya juga telah dialirkan-Nya bagi kita di kayu salib. Dia berkorban bagi kita, adalah membagikan hayat kepada kita, supaya kita ada bagian dengan-Nya. Dia berdarah bagi kita, untuk menebus kita, supaya dosa kita diampuni. Ketika kita memandang atau menerima roti yang kita pecah-pecahkan, kita wajib merenungkan bagaimana Tuhan telah berinkarnasi bagi kita, mati dalam daging bagi kita, dan bagaimana tubuh-Nya terkoyak bagi kita serta diberikan kepada kita, supaya kita beroleh hayat-Nya. Dalam Alkitab, roti melambangkan hayat. Tuhan Yesus berkata, Dia adalah roti hayat, yang memberi hayat kepada orang dunia (Yoh.6:33-35). Setiap kali menyebut roti, kita seharusnya memikirkan tentang hayat. Tuhan memecah-mecahkan tubuh-Nya, seperti roti dibagikan kepada kita, artinya Ia mengorbankan tubuh-Nya bagi kita, supaya kita mendapatkan hayat-Nya. Kalau kita menerima tubuh-Nya yang terkoyak, kita berbagian dengan hayat-Nya.

Cawan menyatakan Perjanjian Baru yang Tuhan tetapkan bagi kita melalui penumpahan darah-Nya. Setiap kali kita memandang atau menerima cawan untuk kita minum, seharusnya memikirkan Tuhan bagi kita mempunyai bagian dengan darah daging (Ibr.2:14), tidak saja mengorbankan tubuh-Nya bagi kita, supaya kita mendapatkan hayat-Nya, juga berdarah bagi kita, supaya kita mendapatkan berkat yang paling bagus, yaitu terlepas dari dosa, mendapatkan Allah dan segala sesuatu yang dimiliki Allah. Kita seharusnya berdasarkan hal-hal yang sebagai tanda ini, memikirkan Tuhan menanggung dosa bagi kita, menjadi dosa bagi kita, menerima hukuman dan kutukan bagi kita, mengalirkan darah-Nya bagi kita, menjadi cawan berkat kita, menjadi bagian kekal kita. Darah ini juga membuat kita ditebus, diampuni, dikuduskan, dibenarkan, berdamai dengan Allah, diperkenan Allah. Darah ini juga mencuci dosa kita, membersihkan hati nurani kita, supaya kita dengan berani datang mendekati Allah, mengucapkan perkataan yang lebih indah di hadapan Allah, menentang serangan roh jahat bagi kita, supaya kita bisa mengalahkan Iblis yang menuduh kita.

Minggu ke-5 – Selasa Doa Baca: 1 Kor. 11:23b-24

"Bahwa Tuhan Yesus, . . . mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata . . . perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!"

Roti dalam Alkitab membicarakan tentang hayat, cawan dalam Alkitab menyatakan "bagian", seperti "Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku" (Mzm.16:5). Kita asalnya berdosa, berbuat jahat, bagian yang seharusnya kita terima di hadapan Allah adalah "cawan murka Allah", yaitu masuk ke dalam telaga api, menerima penderitaan kebinasaan selama-lamanya (Why.14:10; 21:8). Tetapi Allah menyuruh Tuhan Yesus di kayu salib meminum cawan murka bagi kita (Yoh. 18:11), bagi kita menerima penghukuman Allah yang adil, mencicipi penderitaan kebinasaan dalam telaga api, mengalirkan darah-Nya untuk menebus dosa kita, menetapkan Perjanjian Baru bagi kita, menggantinya dengan "cawan keselamatan", menjadi "cawan berkat" kita, menjadi bagian berkat kekal kita, menjadi bagian dalam cawan kita.

b. Menikmati Tuhan

Meskipun inti pemecahan roti adalah memperingati Tuhan, tetapi peringatan ini bukan hanya merenungkan Tuhan dan segala yang Tuhan kerjakan untuk kita, melainkan menikmati Tuhan dan segala yang Tuhan rampungkan untuk kita. Tuhan berkata, kita makan roti-Nya dan minum cawan-Nya, adalah memperingati Dia. Roti dan cawan-Nya menunjukkan tubuh dan darah-Nya. Sebab itu makan roti dan minum cawan adalah makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya. Kita makan tubuh Tuhan dan minum darah Tuhan, bukan saja menerima diri Tuhan, juga menikmati diri Tuhan, dan segala yang Tuhan rampungkan bagi kita. Kita demikian menerima, demikian menikmati Tuhan dan segala yang Tuhan rampungkan melalui mengorbankan diri-Nya berdarah bagi kita, adalah memperingati Tuhan. Kita demikian makan Tuhan, minum Tuhan, menikmati Tuhan, barulah memperingati Tuhan dengan sesungguhnya. Inilah makna yang dalam dari makan perjamuan malam Tuhan.

Makan, minum, dan menikmati Tuhan dalam perjamuan malam-Nya, merupakan pernyataan (deklarasi) dan kesaksian kita. Kita menyatakan bahwa kita disatukan juga berbaur dengan Tuhan, sebagaimana roti berbaur dengan kita setelah kita terima ke dalam tubuh kita. Kita bersaksi, bahwa kita hidup dengan makan, minum, dan menikmati Tuhan, mengambil-Nya sebagai hayat kita setiap hari. Saat kita memecahkan roti untuk makan dan minum Tuhan, kita menyatakan, bahwa dengan mengorbankan tubuh-Nya dan menumpahkan darah-Nya, Tuhan telah masuk ke dalam kita untuk bersatu dengan kita. Kita pun bersaksi, bahwa dengan menerima tubuh yang Tuhan korbankan bagi kita, kita telah berbagian di dalam-Nya dan segala yang Ia rampungkan bagi kita, kita telah bersatu dengan-Nya, dan kita hidup dengan Dia sebagai hayat dan suplai hayat kita. Inilah pernyataan dan kesaksian kita ketika kita memecahkan roti.

c. Memamerkan Kematian Tuhan

Setiap kali kita makan roti Tuhan dan minum cawan Tuhan, kita memperingati Tuhan, bersamaan dengan itu juga memamerkan kematian Tuhan. Kita bukan memperingati kematian Tuhan, tetapi memperingati Tuhan. Ketika memperingati Tuhan, kita juga memamerkan kematian Tuhan, untuk dilihat oleh kita sendiri, juga dilihat oleh malaikat dan segala sesuatu. Ketika kita memperingati Tuhan, roti dan cawan dipamerkan terpisah di atas meja. Roti mengacu kepada tubuh Tuhan, cawan mengacu kepada darah Tuhan. Tubuh dan darah terpisah, menandakan kematian, dengan demikian memamerkan kematian. Demikianlah kita memamerkan kematian Tuhan ketika memecahkan roti untuk memperingati-Nya.

"Sebab setiap kali kamu makan roti dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang" (1 Kor.11:26). Ini menyiratkan ketika kita memecahkan roti untuk memperingati Tuhan dan memamerkan kematian-Nya, bersamaan dengan itu kita juga menantikan kedatangan Tuhan. Ini menunjukkan kita seharusnya dalam roh dan suasana menantikan kedatangan Tuhan, memamerkan kematian Tuhan dan memecahkan roti memperingati Dia.

Minggu ke-5 – Rabu Doa Baca: 1 Kor. 10:16-17

"Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu."

2. Menghadiri Perjamuan Tuhan

Dalam sidang pemecahan roti, kita bersama-sama makan satu roti yang melambangkan Tubuh Kristus, bersama-sama minum cawan yang melambangkan darah Kristus. Kita bersama-sama makan satu roti, bersama-sama minum satu cawan, mengandung arti saling bersekutu. Sebab itu persekutuan ini menjadi persekutuan dengan tubuh Kristus, dan persekutuan dengan darah Kristus. Demikianlah kita bersama-sama makan minum dan membagi nikmat roti Tuhan, cawan Tuhan, berarti "mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan" (1 Kor.10:21). Dalam perjamuan ini, kita bersama kaum saleh bersama-sama membagi nikmat tubuh Tuhan dan darah Tuhan, saling bersekutu. Kita bersama-sama menikmati darah Kristus, menghapus segala rintangan di antara kaum saleh. Roti yang melambangkan tubuh pribadi Kristus yang kita nikmati bersama, masuk ke dalam kita, supaya kita semua menjadi satu ketul roti, melambangkan satu Tubuh Kristus yang korporat. Pada aspek makan perjamuan malam Tuhan, roti mengacu kepada tubuh pribadi yang Tuhan korbankan di kayu salib bagi kita. Tetapi pada aspek menghadiri perjamuan Tuhan, roti mengacu kepada Tubuh Tuhan yang korporat, yang terbentuk oleh semua orang saleh yang Tuhan lahirkan kembali melalui kebangkitan Tuhan. Yang di depan adalah tubuh fisik, yang dikorbankan untuk kita; yang di belakang adalah Tubuh yang misterius, yang tersusun dari kaum saleh dalam kebangkitan Tuhan. Sebab itu setiap kali kita memecahkan roti, di satu pihak menerima tubuh yang Tuhan korbankan bagi kita di kayu salib, untuk memperingati Dia, menikmati Dia; di satu pihak kita juga menikmati Tubuh misterius yang dihasilkan oleh kebangkitan-Nya dari kematian, bersama kaum saleh bersekutu dalam Tubuh-Nya yang misterius ini, mempersaksikan keesaan Tubuh-Nya yang misterius ini. Bukan saja merupakan hubungan kita dengan Tuhan, juga hubungan kita dengan semua orang saleh.

MENYEMBAH BAPA -- BERINTIKAN BAPA

Sidang pemecahan roti adalah sidang kaum beriman untuk penyembahan. Menurut urutan dalam karunia keselamatan Allah, terlebih dulu menerima Tuhan, kemudian mendekati Bapa. Dalam sidang penyembahan ini, seharusnya kita lebih dulu memperingati Tuhan, kemudian menyembah Bapa. Pada potongan memperingati Tuhan, berintikan Tuhan. Pada potongan menyembah Bapa, berintikan menyembah Bapa, segala doa, nyanyian atau kata-kata persekutuan, seharusnya mengarah kepada Bapa.

Karena karunia keselamatan mempunyai dua tahap, maka sidang pemecahan roti sebaiknya juga terbagi dua tahap. Tahap pertama keselamatan, yaitu Anda menyadari diri sendiri sebagai orang berdosa, yang sepatutnya terhukum dan binasa. Namun Tuhan membelaskasihani Anda, Ia datang ke dunia dan mati bagi Anda; Ia menolong Anda, mengalirkan darah-Nya untuk mengampuni dosa Anda. Karena Anda menerima darah-Nya, dosa Anda mendapat pengampunan. Inilah tahap pertama dari keselamatan. Tetapi keselamatan tidak berakhir di sini. Setelah Anda beroleh selamat, Anda beroleh Tuhan Yesus, Anda pun menjadi milik-Nya. Kemudian Tuhan Yesus membawa Anda ke hadirat Allah untuk memanggil Bapa-Nya sebagai Bapa Anda; Roh Kudus di dalam Anda mengajar Anda menyebut Allah, "Abba, ya Bapa" (Rm.8:14-16). Itulah tahap kedua dari keselamatan. Kalau tahap pertama adalah tahap Tuhan, maka tahap kedua adalah tahap Bapa. Dalam tahap pertama kita beroleh pengampunan, dalam tahap kedua kita beroleh perkenan di hadirat Allah. Ketika kita beroleh selamat, pada tahap pertama kita berhubungan dengan Tuhan, sedang pada tahap kedua kita berhubungan dengan Allah. Dari kedudukan orang dosa kita datang ke hadapan Tuhan, dan dari hadapan Tuhan kita datang ke hadapan Allah. Kita terlebih dulu menjumpai Tuhan, kemudian baru menjumpai Bapa. Karena itu, dalam Alkitab ada firman yang mengatakan, "Barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa" (1 Yoh.2:23). Keselamatan ada aspek Anak, yaitu aspek Tuhan, juga ada aspek Bapa, yaitu aspek Allah. Tidak ada orang yang dapat datang kepada Bapa dengan melangkahi Anak. Kita harus datang dulu kepada Tuhan, yaitu menjumpai salib, beroleh pengampunan dan penggantian dari orang yang benar bagi orang yang tidak benar, kemudian barulah Tuhan dapat membawa kita ke hadapan Bapa. Jadi bukan datang ke hadapan Bapa untuk beroleh keselamatan, melainkan datang dulu ke hadapan Anak untuk beroleh keselamatan, setelah itu baru datang ke hadirat Bapa. Beroleh pengampunan dulu, kemudian beroleh perkenan.

Catatan:

Minggu ke-5 – Kamis Doa Baca: Ibr. 2:12

"Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat."

DENGAN PUJIAN MEMPERINGATI TUHAN

Sidang pemecahan roti adalah untuk memperingati Tuhan. Kalau keselamatan Tuhan mengandung dua aspek, dengan sendirinya sidang ini pun mempunyai dua aspek. Sebelum memecahkan roti ialah aspek Anak, sedang sesudah memecahkan roti itulah aspek Bapa. Aspek Tuhan berlangsung sebelum memecahkan roti, sedang aspek Allah berlangsung sesudah memecahkan roti.

Tahap pertama datang ke hadapan Tuhan, kita menyadari diri sendiri sebagai seorang dosa, anak durhaka, dan anak murka yang berada di bawah hukuman Allah, yang tak berdaya menyelamatkan diri sendiri. Akan tetapi, karena Tuhan Yesus mengalirkan darah dan menebus dosa kita, kita baru dapat datang ke hadapan Tuhan, menerima hayat-Nya. Ketika kita menjadi orang berdosa, kita lebih dulu datang ke hadapan Tuhan; kita menyadari betapa dosa kita beroleh pengampunan. Karena itu, dalam tahap pertama sidang pemecahan roti ini, setiap kidung dan puji syukur ditujukan ke hadapan Tuhan.

Ketika kita datang ke hadapan Tuhan, kita memuji Tuhan dan mengucapkan syukur saja. Sebenarnya selain puji syukur tidak perlu berbuat yang lain. Dalam sidang ini, tidak cocok memanjatkan doa permohonan, kita tidak perlu mohon Tuhan berdarah bagi kita, sebab hat itu adalah fakta yang telah Ia rampungkan, tak perlu kita mohon untuk itu, kita cukup bersyukur dan memuji-Nya saja. Baik dengan berdoa atau berkidung, yang penting kita harus bersyukur dan memuji. Bersyukur ditujukan kepada karya Tuhan, memuji ditujukan kepada diri Tuhan sendiri. Bersyukur karena karya-Nya, memuji karena apa ada-Nya. Pada mulanya lebih banyak bersyukur, akhirnya menjadi puji-pujian. Di satu pihak bersyukur, di pihak lain memuji. Kita nampak betapa ajaib karya yang digenapkan-Nya bagi kita, kita pun nampak betapa ajaib persona-Nya sebagai Juruselamat kita. Sewaktu kita bersyukur di hadapan Tuhan hingga suatu tingkat, kita akan memuji-muji-Nya, dan ketika puji-pujian kita mencapai puncak, itulah saatnya kita memecahkan roti.

TUHAN MEMIMPIN KITA

DATANG KE HADAPAN BAPA MEMUJI DIA

Setelah memecahkan roti, datanglah kita ke tahap kedua. Tuhan tidak merasa puas kalau setelah orang datang ke hadapan-Nya lalu berhenti di situ saja. Setelah seorang menerima Tuhan, tidak berhenti pada Tuhan saja. Itulah suatu hal yang ajaib. Setelah kita menerima Tuhan, kita lalu diterima oleh Allah. Dalam Injil, yang kita terima adalah Tuhan, bukan Bapa. Seluruh Alkitab tidak menerangkan bahwa kita harus menerima Bapa, sebaliknya kita selalu diharuskan menerima Anak; tetapi kita sendiri diterima oleh Bapa. Karena kita menerima Anak, Bapa menganggap kita layak diterima oleh Bapa. Kita menerima Anak adalah bagian depan karunia keselamatan, Bapa menerima kita, barulah karunia keselamatan sempurna. Kita menerima Anak, itu hanya setengah; Allah melihat kita layak menjadi milik-Nya, itu barulah sempurna. Sebab itu setelah memecahkan roti, kita boleh datang ke hadapan Bapa. Kita telah menerima Tuhan dan telah berjumpa dengan Tuhan, maka Tuhan membawa kita ke hadapan Bapa. Inilah tahap kedua dari pemecahan roti, yakni kita wajib datang ke hadapan Allah dan memuji Alah.

Mazmur pasal 22 juga memperlihatkan kepada kita dua tahap ini: Tahap pertama dari ayat 1 sampai ayat 21, membicarakan Tuhan bagaimana menerima penghinaan dan menderita sengsara, bahkan ditinggalkan oleh Allah Bapa. Ini menerangkan Tuhan mati bagi kita di atas salib. Tahap kedua, dimulai dari ayat 22 sampai ayat terakhir, membicarakan Tuhan memimpin "saudara-saudara-Nya" memuji-muji Allah dalam perhimpunan. Dengan kata lain, tahap pertama untuk memperingati Tuhan, sedang tahap kedua Tuhan memimpin kita datang ke hadapan Bapa untuk memuji-muji-Nya.

Catatan:

Minggu ke-5 – Jumat Doa Baca: Ef. 2:18

"Karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa."

BAPA TUHAN JUGA BAPA KITA

Pada hari Tuhan Yesus bangkit, Ia berkata kepada Maria, "Bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu" (Yoh.20:17). Dalam Injil Yohanes, Tuhan menyebut "Bapa-Ku", atau hanya menyebut "Bapa" saja, tetapi sampai di sini Ia berkata, "Bapa-Ku dan Bapamu". Tatkala kita menerima kematian dan kebangkitan Tuhan, Bapa Tuhan Yesus lalu menjadi Bapa kita pula. Ketiga perumpamaan dalam Injil Lukas pasal 15, didahului dengan gembala yang baik, kini kita harus menjumpai Bapa. Karena itu, dalam tahap kedua sidang ini, segala nyanyian dan doa dialihkan ke arah Bapa. Kalau pada tahap pertama kita bertemu dengan Anak, maka dalam tahap kedua kita dipimpin Tuhan untuk menjumpai Bapa. Roh Kudus itulah pemimpin sidang, dan dalam sidang ini Ia selalu memimpin demikian. Pimpinan Roh Kudus tidak pernah melanggar prinsip keselamatan. Kita wajib belajar menuruti pimpinan Roh Kudus.

ANAK SULUNG MEMIMPIN ANAK-ANAK MEMUJI BAPA

Ibrani 2 memperlihatkan kepada kita, bahwa Tuhan Yesus akan membawa anak-anak ke dalam kemuliaan. Ketika Tuhan di bumi, Ia adalah Anak Tunggal Allah. Kini Ia telah mati dan bangkit, kita telah memperoleh-Nya, dan telah menjadi anak-anak Allah. Tuhan Yesus adalah Anak Sulung, kita adalah anak-anak. Ayat 12 mengatakan, "Memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat." Sidang yang dikatakan dalam Ibrani 2 ialah sidang Anak Sulung memimpin anak-anak memuji-muji Bapa. Jadi tahap kedua dari sidang pemecahan roti juga merupakan sidang Anak Sulung memimpin anak-anak, dalam hal ini kita seharusnya menjamah titik yang tertinggi. Tahap kedua sidang pemecahan roti adalah saat yang terbaik bagi kita memuji Bapa di bumi. Sebab itu kita wajib belajar membubungkan roh kita setinggi-tingginya dalam potongan waktu ini.

Allah itu "Bersemayam (bertakhta) di atas puji-pujian orang Israel" (Mzm.22:4). Semakin menjamah puji-pujian, gereja Allah ma-kin menjamah takhta. Demikian pula semakin menjamah puji-pujian, orang makin mengenal takhta. Marilah kita membaca nyanyian berikut ini:

Bapa, kami sujud di depan-Mu, khidmat, tulus;

Para anak-Mu, semua berhimpun, 'tuk berkidung,

Kurnia ajaib, bawa kami pulang,

D'ngan Putra-Mu, hampir pada Bapa.

Syair ini sangat indah, sebab ia menjamah perasaan Anak memimpin anak-anak memuji-muji Bapa. Syair yang demikian sukar diperoleh.

Sidang pertemuan yang tercantum dalam Ibrani pasal 2 adalah sidang yang terbaik. Hari ini, kita di sini telah mempelajari sedikit, pada suatu hari kelak di sorga, kita akan mengikuti sidang semacam itu dengan sempurna. Sebelum kita memasuki kemuliaan, kita wajib belajar sedikit tentang apa yang disebut Anak Sulung memimpin anak-anak memuji Bapa di dalam sidang. Inilah titik tertinggi yang dapat dicapai dalam sidang gereja, dan hal ini sungguh mulia.

Catatan:

Minggu ke-5 – Sabtu Doa Baca: 1 Kor. 10:21

"Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat."

ORANG YANG MEMECAHKAN ROTI

Orang yang memecahkan roti seharusnya "orang yang sudah percaya", yaitu mereka yang sudah percaya sehingga menerima karunia keselamatan Tuhan, telah memiliki hayat Tuhan, menjadi milik Tuhan. Hanya orang beriman yang demikian, baru boleh memecahkan roti. Sebab itu hanya orang yang sudah beroleh selamat, disatukan dengan Tuhan, dan tidak hidup dalam dosa, baru bersyarat makan roti Tuhan, minum cawan Tuhan, selain itu tidak boleh ikut mengambil bagian dalam roti Tuhan dan cawan Tuhan.

WAKTU PEMECAHAN ROTI

1. "Mereka bertekun . . . memecahkan roti" (Kis. 2:42)

Kaum saleh semula tekun memecahkan roti. Tanpa hentinya mereka memecahkan roti secara tekun dan berkesinambungan.

2. "Tiap-tiap hari . . . memecah-mecahkan roti" (Kis. 2:46)

Kaum saleh semula tekun melakukan pemecahan roti sampai setiap hari ada pemecahan roti. Waktu itu mereka berapi-api terhadap Tuhan, sangat mengasihi Tuhan, sehingga dengan sendirinya mereka memecahkan roti setiap hari. Ini memberitahu kita, kalau memungkinkan semakin sering memecahkan roti memperingati Tuhan semakin baik.

3. "Pada hari pertama dalam minggu itu,

ketika kamu berkumpul untuk memecah-mecahkan roti"

(Kis. 20:7)

Kaum beriman semula pertama-tama memecahkan roti setiap hari. Kemudian lama-kelamaan memasuki rel yang sebenarnya, setiap minggu sekali, dilaksanakan pada hari pertama dalam satu minggu. Hari pertama dalam satu minggu adalah hari Tuhan, adalah hari kebangkitan Tuhan, juga permulaan satu minggu itu, melambangkan perkara lama sudah lewat, lalu ada permulaan yang baru. Sebab itu pada hari itu memecahkan roti memperingati Tuhan paling cocok. Karena kita memecahkan roti adalah memamerkan kematian Tuhan, dan dalam kebangkitan memperingati Tuhan.

4. "Makan perjamuan (malam) Tuhan" (1 Kor. 11:20)

Berhubung memecahkan roti adalah makan perjamuan malam Tuhan, jadi paling baik dilaksanakan pada petang hari. Apalagi petang hari kita telah menyelesaikan semua pekerjaan, beban di atas diri kita sudah tertanggal semua, hati kita sudah bebas dan segar, cocok untuk dengan tenang memperingati Tuhan, dan paling mudah menjamah penyertaan Tuhan. Tetapi ini bukan keharusan. Kalau dilaksanakan pada malam hari ada kesulitan, atau tidak memudahkan saudara saudari, boleh juga dipertimbangkan menurut situasi, dan dilaksanakan di pagi hari atau siang hari.

SETELAH MEMECAHKAN ROTI

1. "Kamu tidak boleh minum dari cawan Tuhan

dan juga dari cawan roh-roh jahat.

Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan

dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat" (1 Kor. 10:21).

Jika kita mengambil bagian dalam perjamuan (meja) Tuhan, maka kita tidak boleh mengambil bagian dalam perjamuan roh-roh jahat; dan apabila kita telah minum cawan Tuhan, kita tidak boleh minum cawan roh-roh jahat. Perjamuan roh-roh jahat dan cawan roh-roh jahat adalah barang yang dipersembahkan kepada berhala, sebab itu setelah memecahkan roti kita tidak boleh makan barang yang dipersembahkan kepada berhala.

2. "Karena itu, marilah kita berpesta, bukan dengan ragi lama,

bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan,

tetapi dengan roti tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran" (1 Kor. 5:8).

Ragi di sini mengacu kepada segala kejahatan dan segala yang merusak manusia. Dalam Perjanjian Lama, segera setelah orang Israel merayakan hari raya Paskah, mereka harus menempuh hari raya Roti Tidak Beragi, menghapus semua ragi dalam penghidupan mereka. Pemecahan roti dalam Perjanjian Baru menggantikan hari raya Paskah dalam Perjanjian Lama, sebab itu setelah pemecahan roti, kita juga seharusnya seperti orang Israel menempuh hari raya Roti Tidak Beragi, menghapus semua dosa, dan hal-hal yang merusak kita dari penghidupan kita, hanya berdasarkan hayat Tuhan yang kudus dan tanpa dosa, yaitu roti tidak beragi yang tulus dan sesungguhnya, menempuh penghidupan kudus yang terlepas dari dosa, menjadi orang yang benar-benar memelihara hari raya Roti Tidak Beragi.

Catatan:

Minggu ke-6 – Minggu Doa Baca: 1 Kor. 11:28;29

"Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya."

Terakhir masih perlu mengetengahkan dua tiga hal lagi. Dalam sidang pemecahan roti ada satu keadaan istimewa yang perlu kita perhatikan, yaitu kita adalah orang-orang yang telah dikuduskan oleh darah Tuhan, bukan orang-orang yang mohon supaya dikuduskan oleh darah Tuhan; kita adalah orang-orang yang telah beroleh hayat Tuhan, bukan orang-orang yang mohon supaya beroleh hayat Tuhan. Sebab itu, dalam sidang ini kita lebih baik mengucapkan syukur. "Yang atasnya kita ucapkan syukur. . . ." (1 Kor. 10:16), sesungguhnya kita mengucapkan syukur karena cawan yang atasnya Tuhan sudah mengucapkan syukur atau berkat. Pada malam ketika Tuhan diserahkan, Ia "Mengambil roti, mengucap berkat . . . mengambil cawan, mengucap syukur . . ." (Mat.26:26-27). Pada waktu itu Tuhan hanya mengucap berkat dan mengucap syukur. Selesai Ia memecahkan roti dengan murid-murid-Nya, Ia menyanyikan pujian lalu pergi keluar (Mat. 26:30). Sebab itu nada yang normal dalam sidang ini adalah pengucapan syukur dan menyanyikan pujian. Sidang ini bukan untuk memohon, juga bukan untuk berkhotbah. Kalau ingin menyinggung sedikit perkara tentang Tuhan, mungkin juga boleh, tetapi mungkin tidak perlu. Khotbah-khotbah lain akan lebih jauh menyimpang dari ini. (Pembicaraan Paulus dalam sekali sidang pemecahan roti di Troas yang tercantum dalam Kisah Para Rasul 20, merupakan perkecualian). Sidang ini hanya mementingkan pengucapan syukur dan puji-pujian.

Pemecahan roti diadakan seminggu sekali. Ketika Tuhan menyelenggarakan pemecahan roti, Ia berkata, "Setiap kali kamu makan . . . setiap kali kamu minum . . . ." (kata "setiap kali" dalam bahasa aslinya mengandung arti "sering"). Gereja semula memecahkan roti pada hari pertama dalam seminggu (Kis.20:7). Tuhan kita tidak saja telah mati, Ia pun telah bangkit, sebab itu kita memperingati Tuhan dalam kebangkitan. Hari pertama dalam seminggu itulah hari kebangkitan Tuhan. Perkara yang terpenting bagi kita pada hari pertama dalam seminggu ialah memperingati Tuhan. Semoga setiap saudara saudari tidak melupakan hal ini.

Lagi pula, ketika kita memperingati Tuhan, kita harus "layak". Satu Korintus 11:27-29 mengatakan, "Jadi barangsiapa dengan cara tidak layak makan roti dan minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah setiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengaku tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya." Sewaktu kita makan, yang paling penting ialah layak. Yang dimaksud bukan orangnya yang layak atau tidak layak, melainkan sikapnya layak atau tidak layak. Kalau seorang telah menjadi milik Tuhan, sudah tidak ada masalah baginya. Kalau ia bukan milik Tuhan, ia sama sekali tidak boleh memecahkan roti. Maka masalah layak atau tidak layak, bukan orangnya, melainkan benar atau tidak sikap orang itu. Ketika kita menerima tubuh ini, kalau makan seenaknya, tidak mengakuinya sebagai tubuh, itu tidak seharusnya. Sebab itu Tuhan menyuruh kita menguji diri sendiri. Meskipun orang kita tidak ada masalah, tetapi ketika kita makan, kita harus tahu ini adalah tubuh Tuhan. Sikap kita tidak boleh ceroboh atau sembarangan, juga tidak boleh meremehkannya atau bersikap santai. Apa yang kita lakukan di sini harus sepadan dengan tubuh Tuhan. Tuhan telah memberikan darah dan daging-Nya kepada kita, kita harus menerimanya dengan khidmat, dan memperingati-Nya dengan khidmat juga.

Catatan: