← Daftar isi Mengenal Alkitab (1) · bab 4/8

PENGHIDUPAN KELOMPOK

Minggu ke-4 – Senin Doa Baca: Rm. 8:4

"Supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh."

YANG DIPERLUKAN UNTUK MEMBANGUN GEREJA --

PENGHIDUPAN YANG BERASAL

DARI ROH KUDUS DAN MELEWATI ROH MANUSIA

Penghidupan orang Kristen bukan penghidupan moral dan etika, juga bukan penghidupan melatih memakai hati nurani, melainkan satu penghidupan yang berasal dari Roh Kudus dan melalui roh manusia. Banyak orang membaca perkataan dalam Efesus pasal 5 tentang suami harus mengasihi istri, istri harus taat kepada suami dan lain-lain perkataan yang semacam itu, lalu ingin melaksanakannya, tetapi tidak ada seorang yang sukses, bahkan pendeta yang mengesahkan pernikahan pun tidak berhasil melaksanakannya. Sebenarnya asal kembali ke dalam roh, hidup berdasarkan roh, dengan sendirinya suami mengasihi istri, dan istri juga taat kepada suami. Ini bukan karena diajar, tetapi berasal dari Roh Kudus, dan melewati roh manusia. Hanya penghidupan yang demikianlah yang bisa membangun gereja.

Kalau kita mengasihi Tuhan, mengasihi gereja, dan berminat untuk pemulihan Tuhan, kita harus berupaya dalam pertumbuhan hayat, setiap hari membiarkan Kristus terbentuk di dalam kita, membiarkan hayat dan sifat-Nya tersusun di seantero diri kita, supaya unsur-Nya menjadi segala-gala kita. Kalau dalam setiap kelompok ada dua atau tiga orang yang demikian, kelompok ini pasti kaya, kuat, segar, dan lincah, juga penuh daya tarik serta daya pendukung.

DALAM PENGHIDUPAN MELATIH

HANYA BERPERILAKU MENURUT ROH

Ketika kita bangun pagi, tak peduli seberapa repotnya, perlu memakai beberapa menit untuk tenang di hadapan Tuhan, membuka diri dan berkata kepada Tuhan, "Tuhan, aku datang menyentuh-Mu, Engkau adalah hayatku, juga segalaku. Hari ini aku tidak memperhidupkan moral, tetapi memperhidupkan Kristus. Perilakuku tidak menurut hati kecil, tetapi menurut roh." Setelah berdoa membaca beberapa ayat Alkitab, lalu dalam penghidupan sehari-hari belajar berperilaku menurut roh.

UNTUK MEMPERKUAT SIDANG KELOMPOK

PERLU HAYAT YANG LIMPAH DAN KEBENARAN YANG TERANG

Sebagai orang Kristen hari ini, kalau kita mau memperkuat sidang kelompok, kita harus mempunyai hayat yang limpah; untuk memiliki hayat yang limpah, harus berlatih berperilaku menurut roh. Kalau kita seharian berperilaku menurut roh, batin Anda pasti bersukacita, membubung, dengan sendirinya Anda penuh dengan pujian, penuh dengan syukur. Anda akan berkata kepada Tuhan, "Tuhan, aku benar-benar menyembah kepada-Mu, Engkau benar-benar setiap hari menjadi hayat kita, menjadi segala kita. Tuhan, Engkau sungguh-sungguh adalah kenikmatanku, seorang saudara mempersulitku, aku tidak terjamah, seorang saudari memujiku, aku tidak tergerak. Tuhan, aku hanya hidup menurut roh."

Kalau kita mempunyai penghidupan yang demikian, ketika kita bersidang, kita bukan bersandiwara, melainkan menampilkan kesaksian dan ekspresi penghidupan sehari-hari. Penghidupan kita dari pagi sampai malam terus mengikuti roh, dengan sendirinya mengalirkan mazmur, puji-pujian, sampai sidang kita masih berdoa menurut roh, mempersembahkan pujian dan syukur. Kalau Anda menuntut bertumbuh dalam hayat, menuntut lebih mendalami kebenaran, dengan sendirinya Anda adalah orang yang dijenuhi oleh hayat, diperlengkapi oleh kebenaran. Anda menghadiri sidang kelompok yang mana pun, sidang itu akan mendapatkan suplai, akan terpengaruh, dengan sendirinya Anda menjadi soko guru sidang kelompok itu, juga menjadi kelimpahan, kekuatan, kesegaran, dan kelincahan sidang kelompok itu, juga sebagai daya tarik dan daya penopang kelompok itu. Dengan jalan inilah kelompok baru diperkuat.

Minggu ke-4 – Selasa Doa Baca: Kol. 3:16b

". . . Sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan pujipujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu."

DOA, BACA, NYANYI, UCAPKAN FIRMAN ALLAH

Setiap sidang, kita seharusnya membicarakan kebenaran, membaca kebenaran, menyanyikan kebenaran, mendoakan kebenaran. Kunci sidang kelompok adalah mendoakan, membacakan, menyanyikan, mengucapkan firman Alkitab. Sidang kelompok bukan untuk mengobrol, sidang kelompok adalah untuk membicarakan kebenaran.

1. Setiap Pagi Meluangkan Sepuluh Menit

Untuk Membaca Alkitab

Kita harus menjadi orang yang membaca Alkitab. Orang yang tidak membaca buku, tidak begitu pandai berbicara; orang yang membaca buku baru pandai berbicara. Setiap orang yang beroleh selamat setiap hari sedikitnya harus meluangkan sepuluh menit untuk membaca Alkitab, membaca Alkitab masuk ke dalam Anda, sampai-sampai bukan Anda yang membaca, melainkan Alkitab di dalam Anda membaca untuk Anda.

2. Dengan Roh Berdoa

Mengikuti Sidang Kelompok

Ketika Anda mengikuti sidang kelompok, harus membawa roh berdoa. Tak peduli ada orang yang datang atau tidak, atau Anda yang datang lebih dulu, begitu datang lalu berdoa. Berbicara dalam sidang kelompok, yang pertama bukan berkata kepada orang, melainkan berkata kepada Allah. Begitu Anda datang langsung berdoa, tujuh atau delapan orang yang datang kemudian dengan sendirinya juga ikut berdoa. Sidang kelompok yang demikian menjadi sidang berdoa, sedikitnya sepuluh menit, atau lima belas menit, semua datang lalu berdoa.

3. Belajar Menyanyi Lebih Dulu di Rumah

Kunci sidang kelompok juga tergantung pada menyanyi, sebab itu kita semua perlu belajar menyanyi. Sebaiknya setelah sidang kelompok, beritahukan apa yang akan dibaca minggu depan, agar semua orang lebih dulu doa baca, berdoa, mencari nyanyian yang cocok, lalu lebih dulu belajar menyanyi di rumah. Ketika Anda mempunyai persiapan-persiapan ini, sampai dalam sidang kelompok, Anda dapat berdoa, dapat menyanyi, dan dapat berbicara.

BEBAS, LINCAH, DAN SEGAR

Untuk sidang kelompok, kita harus menjadi orang yang bebas, lincah dan segar. Lupakanlah segala liturgi dan formalitas, latihlah roh kita untuk bersaksi, menyanyi, memuji, menyeru, dan merawat orang lain. Sidang kelompok tergantung pada penghidupan sehari-hari kita. Kita harus menempuh satu penghidupan yang bebas, lincah, dan segar, kita juga perlu sepanjang hari mempertahankan persekutuan dengan Tuhan. Kita harus menjadi orang yang hidup di dalam terang muka Tuhan, setiap hari mengeluarkan waktu di atas diri Tuhan, menyelidiki firman-Nya. Dengan demikian, dalam penghidupan sehari-hari kita dengan sendirinya menyimpan Kristus dengan berlimpah. Kita bisa berbicara, dan pembicaraan kita berisi Kristus. Kalau kita adalah orang yang demikian, kita akan menularkan ini kepada orang lain. Yang kita lakukan dalam sidang, bukan satu sandiwara, melainkan pengaliran apa adanya kita dan penghidupan, serta perilaku yang spontan. Kita bisa dengan lincah berseru, memuji, menyanyi, dan berbicara. Ini barulah jalan untuk menempuh penghidupan gereja yang normal.

Ringkasnya, kunci sidang kelompok tergantung pada doa, baca, menyanyi, berbicara. Keempat butir ini tidak dapat dilatih ketika datang dalam sidang kelompok, dalam penghidupan sehari-hari saudara saudari sudah melatih berdoa, membaca, menyanyi, dan berbicara. Kita harus banyak belajar berdoa, semakin berdoa semakin terlepas dari urusan-urusan, semakin datang kepada firman Allah. Kita doa baca Alkitab, dengan sendirinya menyanyi. Ketika kita menyatukan berdoa, membaca, dan menyanyi, sampai waktunya akan timbul hasil dari “berbicara". Kalau kita semua menjadi orang yang demikian, lewat sejangka waktu, seluruh gereja mendapatkan kebangunan rohani.

Minggu ke-4 – Rabu Doa baca: 2 Kor. 13:13

“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian "

Melalui Memakai Roh Mempunyai Doa yang Banyak dan Tuntas,

Dalam Wilayah Kristus Sebagai Elemen,

Menurut Kondisi dan Keadaan Rohani Anda,

serta Keadaan Sekarang di Dalam Tuhan dan di Depan Tuhan,

Ada Persekutuan yang Intim dan Tuntas

Pada awal Kisah Para Rasul, rasul-rasul berkumpul dengan kurang lebih seratus dua puluh orang saleh (Kis.1:15), boleh dikatakan itu adalah sidang kelompok rasul-rasul. Di antara mereka ada persekutuan yang intim. Seratus dua puluh orang itu sedikitnya berkumpul sepuluh hari, mereka makan bersama, doa bersama, bekerja bersama. Kejadian dalam hari Pentakosta timbul dari persekutuan selama sepuluh hari ini. Di tengah-tengah kita kekurangan persekutuan intim yang demikian.

Persekutuan kita tidak saja intim, juga tuntas. Kita mungkin saling mengenal, tetapi tidak mengenal dengan tuntas. Kalau demikian, kita tidak bisa mengatakan ada persekutuan yang tuntas. Anggota kelompok vital perlu lebih dulu ada pengenalan yang intim dan tuntas.

Persekutuan yang intim dan tuntas berada dalam Kristus. Kristus adalah elemen persekutuan itu, juga wilayah dan batasan persekutuan itu. Persekutuan itu sesungguhnya adalah Kristus sendiri, karena Kristus adalah elemen persekutuan, juga wilayah persekutuan.

Jalan untuk memiliki persekutuan yang intim dan tuntas adalah memakai roh kita. Setiap kali kita berbicara dalam persekutuan, kita perlu memakai roh kita. Menurut pengamatan saya, beberapa orang saleh mengerti ajaran memakai roh, tetapi dalam praktik tidak memiliki realitas memakai roh. Untuk memiliki persekutuan yang tepat, kita perlu melalui doa yang banyak dan tuntas memakai roh. Dalam kelompok vital, kita perlu menurut kondisi dan keadaan rohani kita, serta keadaan sekarang di dalam dan di depan Tuhan, mempunyai persekutuan.

Kita perlu memupuk hubungan yang intim dengan semua anggota dalam kelompok kita. Untuk ini saudari boleh pada siang hari menelepon saudari yang lain, ada kontak dan persekutuan beberapa menit. Kalau kita saling mengasihi, kita akan sering ingat dan rindu. Kalau kita berkontak demikian, keadaan kita akan berbeda. Kita akan dibangkitkan dan dikobarkan untuk mengasihi Tuhan. Hati kita satu dengan yang lain juga akan menjadi lunak, lalu kita bisa saling menerima kebaikan.

Melalui Doa yang Banyak dan Tuntas,

Dengan Roh Itu yang Seperti Minyak,

Melalui Kematian Kristus yang Seperti Garam,

dan di Dalam Kebangkitan Kristus yang Seperti Kemenyan,

Berbaur Menjadi Satu Seperti Tepung Halus dari Gandum,

dengan Semua Anggota dalam Kelompok Anda,

Menjadi Adonan yang Diberikan Kepada Tuhan

Dalam kelompok vital, kita perlu melalui doa yang banyak dan tuntas, dengan Roh itu yang seperti minyak, melalui kematian Kristus yang seperti garam, dan di dalam kebangkitan Kristus yang seperti kemenyan, berbaur menjadi satu seperti tepung halus dari gandum, dengan semua anggota kelompok Anda, menjadi adonan yang diberikan kepada Tuhan. Kita menjadi adonan tepung gandum, menyatakan kita diremukkan, digiling, dibaurkan. Menurut lambang korban sajian dalam Imamat 2:1-13, pembauran perlu ditambah minyak, supaya tepung tidak terlalu kering. Demikian juga, kita perlu Roh itu yang seperti minyak "mendiris" kita, supaya kita bisa berbaur menjadi satu. Untuk berbaur menjadi satu, kita juga perlu garam, yaitu kematian Kristus, untuk membunuh segala bakteri di dalam kita. Kemudian, kita juga perlu Kristus yang di dalam kebangkitan. Kalau kita berdasarkan belas kasihan Tuhan, bisa mengalami pembauran yang demikian, diri kita akan sangat berbeda dengan yang sekarang ini.

Catatan:

Minggu ke-4 – Kamis Doa Baca: Yoh. 13:34-35

"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi "

MELAKSANAKAN PERSEKUTUAN,

MELETAKKAN DASAR BAGI PEMBAURAN

Kalau kita melaksanakan pembauran, harus ingat persekutuan. Persekutuan adalah dasar pembauran. Sebab itu kita harus melaksanakan persekutuan. Dengan berbuat demikian, kita akan meletakkan dasar bagi pembauran. Namun bertahun-tahun kita tidak melaksanakan persekutuan, sebaliknya melaksanakan basa-basi, kita tidak seharusnya menyembunyikan diri di belakang topeng. Kalau tidak ada persekutuan yang intim dan tuntas sebagai dasar, tidak bisa ada pembauran.

Kita tidak seharusnya takut diketahui oleh orang lain, semakin diketahui dengan tepat oleh orang lain semakin baik. Ini akan membendung kesombongan kita, menghapus kepongahan kita, menyingkirkan perasaan superior kita, bahkan menghapus perasaan rendah hati kita. Namun kita kebanyakan tidak suka menelanjangi diri sendiri, sebaliknya suka sama-sama pura-pura, menutupi diri sendiri. Sebab itu kita sulit ada persekutuan yang intim dan tuntas, sehingga kita tidak bisa berbaur menjadi satu.

Kalau tidak ada pembauran, Tuhan di atas diri kita tidak mendapatkan jalan untuk maju. Pembauran adalah Tubuh, pembauran adalah keesaan, pembauran adalah sehati -- pembauran adalah segala sesuatu. Tetapi kita lebih suka tidak dijamah oleh orang lain, tidak diketahui oleh orang lain. Karena kita tidak senang diketahui oleh orang lain, maka kita menjadi sangat peka; kepekaan kita membuat kita mudah dijamah. Keadaan demikian memaksa kita berbicara dengan sangat hati-hati, takut saling menyandung. Sebab itu kita tidak ada daya dobrak. Daya dobrak tergantung pada sehati, sehati sesungguhnya adalah berbaur.

Kita sulit saling membuka diri, rebih sulit lagi setelah saling bersekutu, lalu dengan terus terang dan penuh kasih menyampaikan sedikit tanggapan. Kita dalam sidang berkumpul menjadi satu, seharusnya dengan leluasa memberitahu keadaan kita di hadapan Tuhan kepada orang lain, demikian juga orang lain juga dengan leluasa memberi respon. Karena kita takut menelanjangi diri sendiri akan melukai orang lain, sebab itu kita sama-sama berpura-pura, tidak mau orang lain mengetahui keadaan kita yang sebenarnya. Kita perlu persekutuan yang intim dan tuntas, sampai kita terhadap anggota kelompok kita mempunyai kasih yang intim.

SALING MENGASIHI DAIAM KEESAAN DAN KESEHATIAN

Keadaan kelompok vital adalah saling mengasihi dalam keesaan dan kesehatian. Dalam Yohanes pasal 17 Tuhan Yesus berkata, ketika murid-murid-Nya satu di dalam Allah Tritunggal, orang dunia akan percaya bahwa Tuhan telah mengutus-Nya datang (ayat 21,23). Inilah jalan untuk mendapatkan orang. Dalam Yohanes 13:34-35, Tuhan Yesus berkata, "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." Melalui kita saling mengasihi, orang dunia akan tahu, bahwa kita adalah murid-murid Tuhan. Inilah daya dobrak yang sesungguhnya. Sebelum kita berkata apa-apa, orang lain telah ditaklukkan, karena mereka melihat kita berada dalam keesaan, dan bersehati saling mengasihi.

Catatan:

Minggu ke-4 – Jumat Doa Baca: 1 Yoh. 3:18

"Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran."

SALING MEMPERHATIKAN,

SUPAYA SALING MENDORONG

DALAM KASIH DAN DALAM PEKERJAAN BAIK

Ibrani 10:24-25 adalah dasar kita melaksanakan sidang kelompok. Dua ayat ini mengatakan, "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." Di sini terlebih dulu dikatakan kita perlu saling memperhatikan, saling memikirkan orang lain. Ini menyatakan kita mempunyai perhatian yang sesungguhnya terhadap semua anggota dalam kelompok vital kita. Saling memperhatikan berarti saling merawat, saling memikirkan orang lain. Hari ini kita mungkin tidak memikirkan orang lain. Kita belum sungguh-sungguh memperhatikan apakah seorang bersidang, atau apakah seorang saudari sedang sakit. Keadaan saling memperhatikan perlu dipulihkan di antara kita.

Istri yang baik selalu memperhatikan suaminya sendiri. Saudari mungkin ingin memastikan apakah suaminya yang pergi itu sudah memakai jaket, ini berarti ia memikirkan suaminya, merawat suaminya. Kita perlu saling memperhatikan yang praktis ini. Saling memperhatikan yang praktis adalah saling mengasihi. Kita berkata bahwa kita saling mengasihi, tetapi dalam aspek apa kita saling mengasihi? Kita mungkin tidak dengan sesungguhnya memperhatikan orang lain. Arti kasih adalah dengan sungguh-sungguh memperhatikan orang lain dan memikirkan untuk orang lain. Ketika kita saling merawat, kita akan saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Kita akan saling dibangkitkan. Kalau ada orang merawat saya, dengan sendirinya ia akan membangkitkan saya, mendorong kasih saya, smendorong saya berbuat baik. Kita melalui saling merawat, lalu saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.

Kita perlu persekutuan yang intim, perlu perawatan dan penggembalaan yang praktis. Seorang saudari mungkin menunjukkan seorang saudari dalam kelompok tidak hadir karena ada suatu kesulitan. Setelah ia mempersekutukan suatu kesulitan dengan anggota lain dalam kelompok, lalu kelompok ini berdoa baginya, dan bersekutu bagaimana memberi perhatian dan bantuan yang praktis kepadanya.

SALING MENGASIHI PERLU DILAKSANAKAN

DALAM PERBUATAN DAN KETULUSAN

Kalau seorang saudara kehilangan pekerjaan, kita harus berdoa untuknya, demikian juga kita perlu memperhatikan keperluan jasmaninya. Inilah kasih yang sejati. Dalam surat kirimannya Yakobus berkata, "Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: 'Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!', tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?" (2:15-16). Dalam surat kirimannya yang pertama, Yohanes juga berkata, "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran" (3:17-18). Kalau kita melihat saudara ada keperluan, hanya memberitahu mereka, Tuhan bisa merawat mereka, itu bukan kasih, itu adalah omong kosong. Kita harus saling mengasihi dengan sungguh-sungguh.

Perawatan demikian ini mendorong dalam kasih dan pekerjaan baik. Pekerjaan-pekerjaan baik ini bukan mengacu kepada perkara besar dan kecil yang berkaitan dengan ekonomi Allah. Dalam kelompok Anda ada satu orang saleh mungkin tidak bisa memikirkan tentang ekonomi Allah, karena ekonomi Allah baginya sangat abstrak, sangat jauh, tak terjangkau. Ia mengira kita terlalu banyak membicarakan ekonomi Allah, tetapi sama sekali tidak berkaitan dengan keperluan hidup kita sekarang. Melalui perawatan kita terhadap saudara ini, ia akan terdorong untuk mempedulikan ekonomi Allah. Kalau tidak ada saling memperhatikan dalam kasih, kita mungkin tidak menaruh hati terhadap perkara-perkara tentang ekonomi Allah. Namun begitu seorang saudara mendapatkan perawatan praktis dalam kasih, ia akan sangat terharu, dan terdorong memikirkan penghidupan orang Kristen dan ekonomi Allah.

Minggu ke-4 – Sabtu Doa Baca: 1 Tes. 5:16-19

"Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, . . . Janganlah padamkan Roh."

MELALUI TETAP BERDOA, BERSYUKUR DALAM SEGALA HAL,

TIDAK MEMADAMKAN ROH ITU

Kisah Para Rasu14:31 mengatakan, ketika murid-murid berdoa, "Goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani." Saat itu murid-murid adalah sekelompok orang Galilea yang tinggal di Yerusalem, yang berada di bawah ancaman penganiayaan penganut agama Yahudi. Namun selain Tuhan, mereka tidak mempedulikan perkara yang lain. Mereka hanya mengasihi Tuhan, menuntut Tuhan, mereka tidak mengetahui yang lain kecuali Kristus Putra Allah. Mereka seharian tetap berdoa, bersyukur dalam hal, dan bersukacita. Sebab itu mereka tidak memadamkan Roh itu, sebaliknya mengobarkan roh mereka (2 Tim.1:6-7). Mereka tidak saja di dalam dipenuhi oleh Roh itu, di luar juga dipenuhi oleh Roh itu, mereka penuh dengan Kristus, sebab itu Kristus mengalir ke luar, mereka dengan penuh kuasa memberitakan firman Allah.

Setiap orang di tengah kita juga seharusnya melalui berbicara meluapkan Kristus. Kalau tidak demikian, kita seperti ban kempis. Karena kita kurang berdoa, maka tidak dipenuhi Kristus; mengapa kita tidak berdoa, karena kita meninggalkan Kristus. Kita tidak mengalir ke luar, karena penghidupan kita tidak menurut roh. Kita perlu "kecanduan" Kristus. Kita perlu tinggal di dalam Kristus, menjaga diri sendiri dalam persatuan hayat dan persatuan organik. Kita perlu berperilaku dan hidup menurut roh, bahkan seantero diri kita juga menurut roh. Dengan demikian, kita akan setiap hari dan di setiap tempat memberitakan Kristus. Inilah kelompok vital orang Kristen.

MEL.ALUI DOA MEMBEBASKAN ROH KITA

Doa yang tepat selalu membebaskan roh kita. Kalau kita berdoa tidak memakai dan membebaskan roh, doa kita tidak tepat. Doa harus memakai dan membebaskan roh. Ketika roh kita melalui berdoa mendapatkan kebebasan, kita menjadi orang yang bebas. Ketika kita tidak diikat, tetapi mendapatkan kebebasan, kita selalu bersukacita. Inilah sebabnya Paulus berkata, "Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa" (1 Tes.5:16-17). Senantiasa bersukacita berkaitan dengan tetap berdoa.

Tidak saja demikian, kalau kita tidak mendapatkan kebebasan, kita tidak bisa berbaur dengan orang. Kalau kita membawa roh yang tenang datang ke dalam sidang, kita akan terikat, tidak bisa berbaur. Ketika Anda bebas, saya bebas, setiap orang bebas, itu barulah pembauran yang sejati. Jalan untuk kita saling berbaur adalah melalui doa yang membebaskan roh.

Ketika kita berbagian dengan pencurahan roh, sidang kita menjadi kuat, doa kita juga kuat, pemberitaan kita juga kuat, ministri kita juga kuat. Segala milik kita menjadi kuat, karena Allah Tritunggal yang membaurkan diri-Nya dengan kita, adalah motor pembangkit listrik yang berada di dalam kita.

Untuk membangkitkan Anda, kuncinya adalah Anda harus berdoa; berdoa yang utama adalah memakai roh Anda. Kalau dalam doa Anda mengajar Tuhan, menjelaskan kepada Tuhan, banyak memberi ilustrasi, tidak akan ada daya dobrak, karena doa itu tidak bisa membuka kunci Roh itu. Kita seharusnya berdoa, "Tuhan, aku mau menjadi orang yang hidup. Tuhan, berilah aku daya dobrak." Di Getsemani, Tuhan berdoa tiga kali, setiap kali doa-Nya sangat pendek. Beberapa hari ini, kita semua perlu berdoa, "Tuhan, aku mau menjadi orang yang hidup." Saudari ketika menanak nasi dan memasak sayur di dapur harusnya berdoa, "Tuhan, aku mau menjadi orang yang hidup. Tuhan, aku mau memiliki daya dobrak." Jangan terlalu banyak berdoa bagi urusan, jangan menjelaskan kepada Tuhan, karena Ia sudah tahu semuanya. Mohonlah kepada-Nya, beritahukanlah Dia apa yang Anda minta menurut hasrat-Nya. Kita juga perlu mengucapkan syukur dalam segala hal. Dalam hari-hari yang kelam harus bersyukur; pada hari yang terang, cerah harus bersyukur. Urusan lancar harus bersyukur, urusan jelek menimpa juga bersyukur. Inilah artinya berdoa.

Minggu ke-5 – Minggu Doa baca: Kis. 6:4

"Dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman."

MELALUI DOA MENJADI ORANG YANG VITAL

Pemenang itu apa? Pemenang adalah orang yang vital. Seorang yang vital, seorang pemenang, adalah orang yang berdoa. Berdoa membuat Anda mempunyai vitalitas. Kalau Anda tidak vital, Anda tidak bisa berdoa untuk orang lain, membuat mereka juga vital. Beban yang seharusnya dimiliki oleh kelompok vital adalah: "Tuhan, jadikanlah aku vital, supaya kami mempunyai pertambahan yang tepat." Kalau kita tidak berdoa, kelompok kita tidak bisa vital, juga tidak ada pertambahan yang tepat.

BERKONTAK DENGAN ORANG DALAM ROH BERDOA,

DAN DISERTAI KESABARAN

Harus dalam roh berdoa berkontak dengan orang. Mungkin Anda tidak mempunyai banyak kesempatan mengkhususkan waktu berdoa kepada Tuhan. Kalau Anda bisa mengkhususkan waktu itu paling baik. Tetapi ketika mengendarai mobil ke tempat kerja, Anda juga bisa berdoa, "Tuhan, aku tidak tahu harus berkontak dengan siapa, berilah saya satu dua orang yang dapat dikontaki." Dengan demikian Anda boleh dalam roh berdoa berkontak dengan orang.

Setiap kali Anda berkontak dengan orang, peganglah kesempatan membicarakan sedikit perkara tentang Kristus, untuk menaburkan benih Kristus ke dalam mereka. Perkataan penaburan semacam ini tidak akan dilupakan selamanya. Pada saat ini, mungkin mereka tidak memberi respon, tetapi akhirnya mereka pasti akan memberi respon. Mungkin menjelang meninggal dunia, mereka baru memberi respon; ini menunjukkan benih Kristus yang ditaburkan ke dalam orang tidak sia-sia. Tidak saja demikian, ketika kita pergi mengunjungi orang, kita harus membawa selebaran Injil yang sudah disiapkan untuk dibagikan kepada mereka. Melalui beberapa selebaran ini, ada beberapa hal yang ditanamkan ke dalam orang yang kita kontaki, dan orang yang menerima selebaran mungkin akan menaruh selebaran itu di atas meja, sehingga anggota keluarganya juga bisa membacanya. Inilah menyebarkan benih Injil.

MENGIKUTI SIDANG KELOMPOK, DAN BERDOA

BAGI PEKERJAAN KITA BERKONTAK DENGAN ORANG

Setiap minggu kalian perlu mengadakan satu kali sidang kelompok, juga perlu menyediakan satu hari atau satu malam berkontak dengan orang. Setiap minggu Anda perlu mempunyai dua bagian waktu ini, yang di luar sidang doa gerejawi dan sidang pemecahan roti. Dalam sidang kelompok, kita harus berdoa untuk pekerjaan kita berkontak dengan orang. Kemudian kita harus bersekutu tentang keadaan orang yang kita kontak. Dengan demikian kita dapat mempelajari keadaan mereka, dan bersekutu menurut keadaan mereka, dan saling membantu. Setelah kalian mengevaluasi, harus berdoa lagi. Pelaksanaan ini sangat praktis, berguna, dan vital. Kemudian kalian dapat memutuskan siapa yang harus kalian kontak, dan bagaimana cara mengontak mereka. Kita harus percaya, apa yang kita lakukan melalui kelompok vital tidak akan sia-sia, karena ini adalah penaburan yang sangat praktis. Dengan demikian, kita berbuat demikian pasti mempunyai penuaian yang sesungguhnya.

PENGHIDUPAN ORANG KRISTEN YANG NORMAL

Untuk menempuh penghidupan orang Kristen yang normal, ada tiga hal yang sangat diperlukan: 1. Menuntut Tuhan, 2. Bersidang, 3. Mengontaki orang. Pertama, kita harus menuntut hayat Tuhan, kita seharusnya damba mengalami-Nya, bertumbuh besar di dalam-Nya, memperhidupkan Dia, dan mengekspresikan-Nya. Kemudian kita perlu mengikuti sidang rutin gereja, dan pergi berkontak dengan orang. Makna hidup kita di bumi bukanlah mencari nafkah. Kita hidup di bumi adalah untuk Tuhan, supaya kita bisa berkontak dengan orang, juga supaya Dia bisa melalui kita mendapatkan orang. Setiap tahun, kita harus sekuatnya mendapatkan orang bagi Tuhan. Inilah makna sejati penghidupan Kristen kita.