PELAKSANAAN KEHIDUPAN TUBUH
Dalam berita ini kita akan melihat tentang praktek (pelaksanaan) kehidupan Tubuh seperti yang disajikan dalam pasal-pasal penutupan dari Kitab Roma.
KEPUTRAAN ADALAH BAGI TUBUH
Kita telah melihat bahwa kita melayani Allah di dalam Injil Putra-Nya (1:9). Injil ini adalah Injil keputraan. Ke-putraan meliputi penyataan, kebangkitan, pembenaran, pengudusan, transformasi, penyerupaan, pemuliaan, dan ma-nifestasi. Sekarang kita sedang menjalani proses penyataan ini; yaitu, kita sedang dinyatakan untuk menjadi putra-putra Allah melalui kuat kuasa kebangkitan. Keputraan ini adalah bagi Tubuh. Untuk menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus, kita harus menjadi putra-putra Allah.
Kita telah menunjukkan bahwa di satu aspek, pasal 12 ini adalah kelanjutan dari pasal 8, dengan pasal 9—11 se-bagai tambahan mengenai pemilihan berdasarkan anuge-rah. Pasal 8 mewahyukan bahwa kita akan diserupakan dengan gambar Putra Allah (ayat 29). Penyerupaan ini me-layakkan kita bagi praktek kehidupan Tubuh.
Kehidupan Tubuh bukan hanya perkara kaum beriman berkumpul bersama-sama saja. Banyak kelompok yang telah terbentuk untuk mendapatkan kehidupan Tubuh ini. Namun, hasilnya, gagal. Kelompok kaum beriman itu tidak menyadari bahwa kehidupan Tubuh ini tergantung pada ke-putraan, yang berasal dari penyataan. Jika kita ingin me-miliki praktek kehidupan Tubuh yang tepat, kita harus ditransformasi menurut kuat kuasa kebangkitan.
TUBUH DIPERSEMBAHKAN, JIWA DIUBAH,
DAN ROH MENYALA-NYALA
Dalam pasal 12, Paulus menyinggung tentang tubuh, ji-wa, dan roh. Dalam ayat 1, ia berkata, “Karena itu, Sauda-ra-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persem-bahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: Itulah ibadahmu yang sejati.” Tubuh fisik kita harus dipersembahkan kepada Tuhan, agar Dia bisa mendapatkan Tubuh. Seseorang mungkin memiliki satu hati untuk kehi-dupan Tubuh, tetapi jika ia tidak mempersembahkan tu-buhnya, maka secara riil ia bukanlah untuk kehidupan Tubuh. Anda mungkin memperhatikan sidang-sidang, tetapi apakah yang akan digenapkan jika tubuh Anda tetap berada di rumah? Jika kita tidak dapat mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan bagi kehidupan gereja, kita tidak dapat memiliki satu kehidupan sidang yang riil. Jika Anda menga-takan bahwa Anda memperhatikan sidang-sidang gereja, Anda perlu bertanya kepada diri Anda sendiri apakah Anda telah mempersembahkan tubuh Anda kepada Tuhan untuk si-dang-sidang itu. Di manakah tubuh Anda pada waktu sidang? Tubuh adalah wadah diri kita, karena roh ada di dalam jiwa dan jiwa ada di dalam tubuh ini. Kita harus mempersembahkan wadah ini kepada Tuhan demi Tubuh-Nya.
Ayat 2 membicarakan tentang pikiran, yang adalah ba-gian utama dari jiwa: “Janganlah kamu menjadi serupa de-ngan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu (pikiranmu), sehingga kamu dapat membedakan mana ke-hendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna.” Bila pikiran kita diperbarui, jiwa kita akan diubah (ditransformasi). Jadi, tubuh kita perlu dipersembah-kan, dan jiwa kita perlu diubah (ditransformasi).
Dalam ayat ini Paulus meminta agar kita tidak men-jadi serupa dengan zaman ini. Dunia, yaitu sistem Iblis ini, adalah satu kosmos yang tersusun dari banyak zaman. Abad ke-19 adalah satu zaman, dan abad ke-20 adalah zaman la-innya. Sebenarnya ada beberapa perbedaan zaman di dalam abad ke-20 itu sendiri. Zaman sekarang ini adalah satu ba-gian dari sistem dunia Iblis. “Zaman” ini bukan hanya me-liputi dunia sekuler, juga mencakup dunia agama. Hari ini jika kita diserupakan dengan agama, maka kita tidak akan berguna bagi praktek kehidupan Tubuh.
Pada zaman Paulus, diserupakan dengan zaman itu ter-utama adalah perkara diserupakan dengan Yudaisme. Yu-daisme adalah satu penghalang yang serius bagi praktek kehidupan Tubuh pada abad pertama. Sebagaimana Yudais-me adalah bagian dari zaman itu pada masa Paulus, demi-kian juga “kekristenan”, sebagai “agama yang terorganisir” adalah bagian dari zaman ini. Jika Anda diserupakan dengan “kekristenan yang terorganisir” ini, Anda akan diserupakan dengan zaman ini. Janganlah kita diserupakan dengan zaman ini, sebaliknya, kita perlu diubah oleh pembaruan pikiran kita.
Dalam Roma 12:11, Paulus membicarakan tentang roh; ia memberi tahu kita untuk “menyala-nyala di dalam roh”. Roh kita haruslah menyala-nyala; yaitu, harus dikobarkan dan membara. Jika kita memiliki satu tubuh yang diper-sembahkan, satu jiwa yang berada di dalam proses ditrans-formasi, dan satu roh yang menyala-nyala, maka kita akan dapat mempraktekkan kehidupan Tubuh dengan tepat.
MEMBICARAKAN DAN MEMPRAKTEKKAN
Banyak orang membicarakan tentang kehidupan Tubuh dalam Roma 12, tetapi tanpa praktek kehidupan Tubuh yang sesungguhnya. Misalnya, ada beberapa orang yang telah me-lihat bahwa di dalam Tubuh Kristus kita adalah “anggota yang seorang terhadap yamg lain” (12:5). Namun, mereka tidak dapat menyebutkan anggota-anggota yang secara khu-sus berhubungan dengan mereka. Jadi, perkataan mereka tentang menjadi anggota yang seorang terhadap yang lain itu hanyalah omongan belaka. Kita di sini bukan untuk membicarakan tentang kehidupan Tubuh, melainkan untuk praktek kehidupan Tubuh.
Pengajaran mengenai kehidupan Tubuh dalam Roma terdapat dalam pasal 12, tetapi prakteknya terdapat dalam pasal 14, 15, dan 16. Pasal-pasal ini menanggulangi masa-lah-masalah yang riil yang terjadi di dalam hidup gereja (church life). Bila kita melihat penanganan Paulus terhadap masalah-masalah ini, kita akan dapat mempelajari sesuatu yang berhubungan dengan praktek kehidupan Tubuh sehari-hari.
MENERIMA ORANG BERIMAN
Pasal 12 itu penting mengenai doktrin tentang kehidup-an Tubuh, sedangkan pasal 14 itu penting mengenai praktek kehidupan Tubuh. Dalam pasal 14, Paulus menunjukkan ma-salah tentang menerima orang beriman yang memiliki opini dan praktek yang berbeda dengan kita. Dalam Roma 14:1, Paulus berkata, “Terimalah orang yang lemah imannya tan-pa mempercakapkan pendapatnya.” Kemudian Paulus mem-berikan dua contoh yang mengenainya orang beriman dapat memiliki pandangan yang berbeda. Contoh yang pertama adalah mengenai makan: “Yang seorang yakin bahwa ia bo-leh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja” (ayat 2). Yang kedua adalah mengenai memelihara hari-hari: “Yang se-orang menganggap hari tertentu lebih penting daripada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja” (ayat 5). Dua perkara ini adalah ilustrasi dari banyak hal yang telah memecah belah orang-orang Kristen. Ambillah contoh mengenai baptisan. Ada orang memaksakan tentang baptisan selam, sedangkan yang lainnya memaksakan ten-tang baptisan percik. Jika kita memiliki praktek kehidupan Tubuh yang tepat, maka kita akan menerima semua orang beriman di dalam Kristus, entah mereka mempraktekkan baptisan selam atau baptisan percik.
Ada orang mengatakan bahwa kita yang ada di dalam pemulihan Tuhan ini terlalu sempit. Sebenarnya, kita rela menerima semua macam orang Kristen. Kita menerima orang-orang yang mempraktekkan baptisan selam dan orang-orang yang mempraktekkan baptisan percik. Lalu, siapakah orang-orang yang sempit itu — orang-orang dalam pemulihan Tuhan atau orang-orang yang menerima hanya orang-orang yang telah memenuhi tuntutan khusus yang berhubungan dengan doktrin atau praktek tertentu ke dalam persekutuan mereka?
Perpecahan di antara orang-orang Kristen berasal dari perbedaan-perbedaan atas doktrin atau praktek. Misalnya, ada kaum beriman telah terpecah belah atas hal-hal seperti penudungan kepala, pembasuhan kaki, dan pemeliharaan terhadap hari Tuhan dan hari Sabat. Fakta ini seharusnya memalingkan kita kepada Roma 14, di mana Paulus berpe-san kepada kita untuk menerima orang-orang yang memi-liki iman dalam Kristus dan tidak menghakimi mereka mengenai perkara-perkara sekundernya. Jika seseorang da-tang kepada kita dengan pendapat yang berbeda mengenai satu perkara tertentu, kita tetap harus menerimanya seba-gai seorang saudara di dalam Tuhan. Seperti yang dikata-kan Paulus di dalam Roma 15:7, “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.”
Pentingnya menerima orang beriman ini diilustrasikan oleh sebuah pengalaman yang kita miliki selama hari-hari pertama dalam hidup gereja di Los Angeles. Ada tiga kelom-pok kekristenan lain yang ingin datang bersama-sama de-ngan kita untuk menempuh hidup gereja. Kelompok yang satu memiliki latar belakang Pantekosta, dan yang lainnya memiliki latar belakang pengajaran Alkitab yang funda-mental. Ketika saya mempelajari kedambaan dan pengha-rapan mereka atas kemajuan dari berkumpul bersama-sama ini, saya mengingatkan mereka bahwa sepanjang abad orang-orang Kristen telah terpecah belah oleh karena pendapat mereka tentang doktrin dan praktek. Lebih jauh lagi, saya memberi tahu mereka bahwa jika mereka ingin berkumpul bersama-sama untuk hidup gereja menurut Roma 14, maka mereka harus menanggalkan pendapat mereka dan meneri-ma semua orang beriman sejati dalam Kristus, tidak peduli betapa berbedanya mereka dalam doktrin maupun praktek-nya. Mereka setuju untuk mengesampingkan perbedaan me-reka dan berkumpul bersama-sama dalam keesaan bagi hi-dup gereja. Di tempat sidang (pertemuan) itu digantungkan beberapa spanduk. Yang satu berbunyi, “Variety versus Uni-formity” (Beragam Lawan Seragam); yang lainnya, “Unity in Variety” (Kesatuan dalam Keberagaman); dan satunya lagi berbunyi, “All One in Christ” (Semua Satu dalam Kristus). Namun, setelah jangka waktu yang singkat, orang-orang yang berlatar belakang Pantekosta mulai memaksakan ten-tang praktek berbahasa lidah dan memainkan tambur dan rebana di dalam sidang-sidang gereja. Orang-orang yang berlatar belakang pengajaran Alkitab tidak dapat mentolelir hal ini dan menolaknya. Saya meminta orang-orang yang menentang berbahasa lidah dan memainkan rebana untuk bersama bergabung dengan orang-orang yang suka akan hal itu. Namun, mereka tidak mau melakukannya. Kemudian saya meminta orang-orang yang membela praktek-praktek ini untuk memperhatikan perasaan orang lain. Mereka juga menolak, dengan berpendirian bahwa tidak ada kesalahan apa pun dengan apa yang sedang mereka lakukan. Akhirnya, karena ketidakmampuan dari kedua pihak untuk menerima kaum beriman dengan doktrin dan praktek yang berbeda, kelompok-kelompok ini tidak dapat berkumpul bersama-sama dalam keesaan bagi hidup gereja.
SATU SIKAP YANG UMUM
Tuhan dapat bersaksi bagi kita bahwa kita telah men-jadi umum dalam praktek hidup gereja dengan menerima berbagai macam orang beriman yang berbeda-beda. Misal-nya, kita tidak menghentikan orang-orang kudus yang ber-bahasa lidah, atau kita berpendirian untuk tidak berbaha-sa lidah. Meskipun demikian, kita dituduh terlalu sempit. Sebenarnya, orang-orang yang ada dalam denominasi itulah yang sempit, karena mereka tidak menerima berbagai ma-cam orang Kristen. Kita telah berada di Los Angeles selama bertahun-tahun, tetapi kita belum pernah menolak orang beriman manapun di dalam Kristus. Lagi pula, kita tidak “membetulkan” orang lain. Sebaliknya, kita hanya belajar untuk meministrikan hayat kepada semua orang yang datang.
Sikap Paulus dalam Roma 14 sangat umum. Secara doktrin, Paulus tahu bahwa orang beriman bebas untuk makan daging sama seperti makan sayur-sayuran. Tetapi ia tidak mempermasalahkan masalah tentang makan secara doktrin. Sebaliknya, ia mengekspresikan satu sikap yang umum terhadap semua orang beriman; ia tidak meremeh-kan orang-orang yang hanya makan sayur-sayuran saja maupun orang-orang yang makan segala jenis makanan. Sikapnya juga sama terhadap orang-orang yang memelihara hari-hari tertentu.
Untuk memiliki praktek kehidupan Tubuh yang tepat, kita harus memiliki satu sikap yang umum. Kita tidak bo-leh menerapkan satu praktek tertentu kepada orang lain maupun menentang satu praktek tertentu. Ambillah contoh tentang memuji Tuhan dengan berteriak. Ada orang mungkin menentang hal ini dan menghakiminya karena tidak tertib, sedangkan orang-orang yang suka terhadapnya mungkin menuntutnya untuk menerapkan hal itu kepada orang lain. Kedua sikap itu tidak benar. Jika kita lebih suka diam di da-lam sidang-sidang, maka kita tidak boleh menerapkan pan-dangan kita kepada orang lain. Demikian juga, jika kita lebih suka berteriak, kita tidak boleh menerapkan hal ini kepada siapa pun juga. Demikian pula halnya mengenai doa-baca. Jika ada orang ingin mempraktekkan doa-baca, me-reka seharusnya memiliki kebebasan untuk melakukannya. Tetapi jika orang lain tidak mementingkan praktek ini, hal ini tidak boleh dipaksakan kepada mereka.
Dalam hidup gereja, kita harus menjadi umum, dapat menerima semua orang beriman sejati. Namun, tidaklah mudah untuk mempelajari pelajaran ini, karena kita ingin semua orang lain menjadi sama seperti kita. Marilah kita tidak membuat permintaan atau tuntutan terhadap orang lain agar mereka mengubah cara mereka demi kita. Seba-liknya, marilah kita memiliki kesatuan dalam keberagam-an, dan keberagaman tanpa memaksakan keseragaman. Sekalipun ada berbagai macam perbedaan, tetapi kita tetap adalah satu di dalam Kristus.
PERBEDAAN-PERBEDAAN
DI ANTARA GEREJA-GEREJA
Mungkin ada berbagai perbedaan bukan hanya di antara kaum beriman di dalam satu gereja lokal, tetapi juga di antara gereja-gereja lokal sendiri. Misalnya, ada gereja di sa-tu lokalitas mungkin mempraktekkan doa-baca, tetapi gereja di lokalitas lainnya mungkin tidak mempraktekkannya. Jika Anda mengunjungi satu gereja yang berbeda dalam praktek dengan gereja di lokalitas Anda, janganlah berusaha untuk mengoreksinya atau untuk mengubah apa pun. Di mana sa-ja Anda berada, Anda harus bersatu dengan gereja di tempat itu. Selama gereja itu adalah gereja lokal, Anda perlu berja-lan bersamanya tanpa menerapkan sesuatu atau menentang sesuatu. Saya mengakui bahwa mudah untuk membicarakan tentang hal ini, tetapi sulit untuk mempraktekkannya. Mes-kipun demikian, kita harus rela untuk mempelajari pelajar-an ini. Demikian, kita bukan hanya memiliki doktrin ten-tang Tubuh dalam Roma 12, tetapi juga memiliki praktek kehidupan Tubuh dalam Roma 14.
PERKARA ROH ITU
Roma 14:17 mengatakan, “Sebab Kerajaan Allah bukan-lah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, da-mai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus.” Menurut ayat ini, Kerajaan Allah adalah perkara Roh. Selama kita memiliki kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus, kita tidak boleh memperhatikan perbedaan da-lam doktrin maupun praktek.
LOKALITAS GEREJA
Roma 16:1 mengatakan, “Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari seiman kita yang melayani (adalah minister) jemaat di Kengkrea.” Ayat ini membahas aspek kedua dari praktek kehidupan Tubuh, yaitu perkara gereja lokal. Jika kita ingin memiliki kehidupan Tubuh yang riil, kita bukan hanya harus menerima orang beriman, tetapi juga memperhatikan gereja di lokal itu. Menurut Roma 16, praktek kehidupan Tubuh berada dalam lokalitas gereja. Pasal ini bukan hanya membicarakan tentang gereja lokal, gereja di Kengkrea, tetapi juga tentang gereja-gereja. Dalam ayat 4, Paulus menyinggung tentang gereja-gereja bangsabangsa bukan Yahudi, dan dalam ayat 16, tentang gerejagereja Kristus.
MEMBERI TUMPANGAN KEPADA GEREJA
Dalam ayat 23, Paulus berkata, “Salam kepada kamu dari Gayus, yang memberi tumpangan kepadaku, dan ke-pada seluruh jemaat.” Di sini Paulus menyebut seorang sau-dara yang memberi tumpangan kepada seluruh gereja. Di sini, jelaslah bahwa Paulus sedang membicarakan tentang gereja lokal, bukan tentang gereja universal. Paulus me-nunjukkan bahwa Gayus adalah tuan rumah dari seluruh gereja, bukan semua orang beriman. Ada perbedaan di an-tara memberi tumpangan kepada gereja dengan memberi tumpangan kepada orang beriman, karena kita mungkin memperhatikan orang beriman tanpa memperhatikan gere-ja. Tetapi konsepsi Paulus dalam kitab ini terutama bukan berhubungan dengan orang beriman, melainkan dengan ge-reja. Dalam hal memberi tumpangan, dalam perasaan dan konsepsi kita harus ada gereja. Jika Anda memberi tum-pangan kepada orang lain, bagaimana konsepsi Anda? Anda memberi tumpangan kepada orang beriman atau kepada ge-reja? Jika Anda memiliki konsepsi yang tepat, Anda akan sadar bahwa tumpangan yang Anda berikan bukan hanya untuk orang-orang beriman tertentu, melainkan untuk se-luruh gereja.
GEREJA DI DALAM RUMAH
Dalam ayat 5, Paulus memberikan salam kepada gere-ja di rumah Priska dan Akwila. Dengan memakai ayat ini sebagai dasar, beberapa orang mengatakan bahwa gereja di rumah itu berbeda dengan gereja di sebuah kota. Namun, jika Anda melihat perkara ini dengan teliti dalam konteks-nya, Anda akan melihat bahwa gereja di rumah Priska dan Akwila sebenarnya adalah gereja di Kota Roma. Gereja di Roma mengadakan sidang-sidangnya di rumah Priska dan Akwila.
Jika kita hari ini ingin memiliki praktek kehidupan Tubuh yang tepat, kita harus menjadi umum dalam mene-rima berbagai macam orang beriman. Selama seseorang itu adalah orang beriman sejati dalam Tuhan Yesus, kita ha-rus menerimanya, sekalipun pendapatnya berbeda dengan kita dalam hubungannya dengan doktrin atau praktek ter-tentu. Selain itu, kita perlu berada di satu gereja lokal dan menghormati lokalitas gereja itu. Betapa saya bersyukur kepada Tuhan untuk pasal 16! Dalam pasal ini, Roh Kudus dengan jelas menunjukkan bahwa untuk praktek kehidup-an Tubuh ini, kita perlu menjadi gereja lokal. Di mana saja kita berada, kita harus berada dalam gereja di lokal itu.