← Daftar isi Roma (2) · bab 10/19

PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL BAGI PENGGENAPAN KEHENDAK-NYA

Kitab Roma adalah sebuah kitab yang almuhit, suatu ringkasan dari kehidupan orang Kristen dan hidup gereja. Kita tidak mungkin dapat membahas habis wahyu yang disampaikan dan disiratkan dalam kitab ini. Mengatakan suatu wahyu “disiratkan”, berarti bahwa wahyu itu tidak disampaikan secara langsung dan gamblang, melainkan wahyu itu tersirat di dalam penyampaian itu. Dalam firman ilahi, apa yang disiratkan itu sering kali lebih penting dari-pada yang dinyatakan secara langsung. Dalam berita ini kita akan melihat satu dari wahyu-wahyu yang disiratkan dalam Kitab Roma: Penyaluran Allah Tritunggal bagi peng-genapan kehendak-Nya.

KEHENDAK KEKAL ALLAH

Kehendak kekal Allah adalah mendapatkan satu Tubuh bagi Kristus. Tubuh ini adalah gereja yang universal. Gere-ja yang universal perlu diekspresikan di berbagai lokal, be-rupa gereja-gereja lokal. Penyaluran Allah Tritunggal bagi penggenapan kehendak kekal-Nya sangat erat kaitannya dengan gerjea-gereja lokal. Untuk menggenapkan kehendak-Nya, Allah perlu menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya. Sesungguhnya inilah yang sedang Allah kerjakan bersama kita pada hari ini.

TRITUNGGAL ADALAH UNTUK

PENYALURAN

Agar Allah dapat menyalurkan diri-Nya sendiri ke da-lam kita, Dia harus menjadi tritunggal. Allah Tritunggal itu bukanlah untuk doktrin atau untuk teologi, melainkan un-tuk menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat-Nya guna mendapatkan satu Tubuh untuk mengekspresikan Kristus.

Kata “menyalurkan” di sini berarti “membagi-bagikan”. Misalnya kita memiliki sari buah-buahan (jus) dalam satu panci yang besar. Agar orang-orang dapat meminum jus itu, kita harus mencari jalan menyalurkan jus itu dari panci ke dalam mereka. Jalan yang paling baik adalah menuangkan jus itu ke dalam banyak cangkir dan membagi-bagikannya di antara orang-orang yang hadir. Jus itu tadinya ada di da-lam panci, tetapi sekarang jus itu ada di dalam orang-orang yang menerima penyaluran jus itu. Ketika kita membicara-kan tentang penyaluran Allah Tritunggal, yang kita mak-sudkan adalah Allah mem-bagi-kan diri-Nya sendiri kepada kita, menyalurkan diri-Nya ke dalam diri kita, sama seperti jus itu disalurkan dari wadahnya ke dalam orang-orang yang meminumnya. Dalam penyaluran-Nya, Allah sebenarnya ma-suk ke dalam diri kita, memenuhi bejana kita, dan menjadi satu dengan kita. Inilah penyaluran Allah Tritunggal bagi penggenapan kehendak-Nya.

Agar Allah dapat menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya, Dia harus tritunggal; yaitu, Dia harus menjadi Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh. Mes-kipun Allah kita itu tritunggal, tetapi kita menolak ajaran triteisme, yang menyatakan bahwa Tiga dari Trinitas ini adalah tiga Allah yang berbeda. Kita tidak memiliki tiga Allah; kita hanya memiliki Allah Tritunggal yang unik, Bapa, Putra, dan Roh.

Kita telah menunjukkan bahwa Trinitas dari ke-Allahan ini bukanlah untuk teologi, melainkan untuk penyaluran. Allah tidak ingin seorang diri saja. Dia damba untuk menya-lurkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia yang diciptakan, dipilih, dan dipanggil oleh-Nya. Haleluya, kita adalah orang-orang itu, dan Allah ingin menyalurkan diri-Nya ke dalam kita! Hal ini disiratkan dalam Kitab Roma. Sekarang mari-lah kita melihat Allah Tritunggal seperti yang diwahyukan dalam kitab ini dan kemudian melihat penyaluran Allah.

ALLAH YANG HARUS DIPUJI

SAMPAI SELAMA-LAMANYA

Roma 9:5 membicarakan tentang “. . . yang ada di atas segala sesuatu. Dialah Allah yang harus dipuji sampai se-lama-lamanya.” Banyak orang Kristen telah membaca Kitab Roma tanpa memperhatikan pernyataan yang terkandung dalam ayat ini. Ayat ini mengatakan bahwa Kristus adalah Allah, yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Sebagai Allah, Kristus ada di atas segala sesuatu: manusia, malai-kat, surga, dan bumi. Kristus adalah Allah yang telah dan akan dipuji sampai selama-lamanya dan yang ada di atas se-gala sesuatu. Kristus yang adalah Penyelamat kita dan ha-yat kita itu adalah Allah itu sendiri. Sungguh memalukan bila orang-orang Kristen berdebat tentang ke-Allahan Kristus dan berdebat apakah Kristus itu Allah atau bukan. Menu-rut ayat ini, Kristus adalah Allah yang ada di atas segala sesuatu dan yang dipuji sampai selama-lamanya.

ALLAH MENGUTUS PUTRA-NYA SENDIRI

Roma 8:3 mengatakan bahwa Allah mengutus Putra-Nya sendiri. Allah dalam Roma 8:3, tentunya, adalah Allah da-lam Roma 9:5. Kristus adalah Putra Allah. Lalu, bagaimana kita dapat menjelaskan bahwa Allah yang unik mengutus Putra-Nya sendiri padahal Kristus adalah Putra Allah dan Allah itu sendiri? Menurut Roma 9:5, Kristus adalah Allah. Menurut Roma 8:3, Allah mengutus Putra-Nya sendiri, yang adalah Kristus. Ini menunjukkan bahwa Kristus adalah Allah dan juga adalah Putra Allah. Hal ini mengingatkan kita kepada Yesaya 9:5. Ayat ini mengatakan bahwa seorang anak telah lahir, namanya disebut Allah yang perkasa dan bah-wa seorang putra telah diberikan, namanya disebut Bapa yang kekal. Di sini kita melihat misteri Allah Tritunggal: Allah itu tiga, tetapi Dia tetap satu.

KEMATIAN PUTRA ALLAH

Sekarang kita akan beralih ke Roma 5:10, yang mengatakan bahwa kita telah diperdamaikan kepada Allah melalui kematian Putra-Nya. Ayat ini menunjukkan bahwa Putra Allah pernah mati. Tetapi bagaimana mungkin Putra Allah mati? Bagi saya, ayat ini mungkin lebih dapat dipahami jika ayat ini mengatakan tentang kematian Yesus. Namun, ayat ini membicarakan tentang kematian Putra Allah. Entah kita dapat memahami hal ini atau tidak, ini adalah satu fakta bahwa ketika kita masih bermusuhan dengan Allah, kita telah diperdamaikan dengan Allah oleh kematian yang ajaib dari Putra Allah. Tidak hanya demikian, menurut Roma 5:10, sekarang kita sedang diselamatkan dalam hayat-Nya. Ini menunjukkan bahwa Dia yang telah mati ini masih tetap memiliki hayat. Hal ini menunjukkan kebangkitan Kristus.

DINYATAKAN SEBAGAI PUTRA ALLAH DALAM KEBANGKITAN

Roma 1:3-4 mengatakan bahwa Putra Allah, Yesus Kristus Tuhan kita, yang menurut daging berasal dari ke-turunan Daud, menurut Roh kekudusan dinyatakan sebagai Putra Allah yang berkuasa melalui kebangkitan dari antara orang mati. Semua gelar yang berhubungan dengan Kristus dalam ayat ini berhubungan dengan penyaluran Allah. Jika bukan untuk penyaluran Allah, Putra Allah tidak perlu men-jadi Yesus Kristus. Justru untuk penyaluran inilah Putra Allah perlu menjadi seorang manusia (Yesus) dan menjadi Dia yang diurapi (Kristus). Lagi pula, hanya melalui penya-luran inilah, Putra Allah, Yesus Kristus, dapat menjadi Tuhan kita. Karena Kristus telah disalurkan ke dalam kita, maka Dia bukan hanya Tuhan, lebih-lebih juga Tuhan kita.

Sesuai ayat 3, Putra Allah ini menurut daging berasal dari keturunan Daud. Di sini kita memiliki unsur daging. Menurut ayat 4, Kristus menurut Roh kekudusan dinyata-kan sebagai Putra Allah yang berkuasa melalui kebangkitan dari antara orang mati. Di sini kita memiliki unsur Roh. Meskipun Kristus adalah Putra Allah, tetapi Dia tetap per-lu dinyatakan sebagai Putra Allah dalam kebangkitan.

Frasa yang bermacam-macam dalam ayat ini menunjukkan Allah Tritunggal dalam penyaluran-Nya. Meskipun istilah “penyaluran” tidak ditemukan di sini maupun dalam bagian lainnya dalam Kitab Roma, tetapi fakta tentang penyaluran ini tetap disiratkan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Kristus dalam 1:3-4 adalah untuk penyaluran Allah.

ISTILAH-ISTILAH YANG DIPAKAI

SECARA BERGANTIAN

Sekarang kita melihat pasal 8, satu pasal yang tidak pernah habis dibahas atas wahyu maupun atas makna ro-haninya. Ayat 2 membicarakan tentang hukum Roh hayat di dalam Kristus Yesus. Dalam ayat ini ada sejumlah hal yang sulit dijelaskan: Hukum, Roh, hayat, dan Kristus Yesus. Perhatikanlah bahwa di sini Paulus tidak mengata-kan Yesus Kristus, melainkan Kristus Yesus. Dalam ayat 7-8, Paulus menyinggung tentang Allah. Kemudian dalam ayat 9, ia melanjutkan membicarakan tentang Roh Allah dan Roh Kristus. Seperti yang akan kita lihat, dalam ayat-ayat ini Paulus membicarakan tentang penyaluran Allah Tritunggal.

Paulus memakai istilah Allah, Roh Allah, dan Roh Kristus secara bergantian. Ia memulai dengan Allah, selan-jutnya dengan Roh Allah, dan kemudian dengan Roh Kristus. Tetapi bukan hanya berhenti sampai di sini saja, dalam ayat 10, Paulus membicarakan tentang Kristus, de-ngan mengatakan bahwa Kristus ada di dalam kita. Dalam beberapa ayat yang pendek ini, ada empat gelar ilahi yang dipakai secara bergantian: Allah, Roh Allah, Roh Kristus, dan Kristus. Empat istilah ini menunjuk kepada satu persona yang sama, yaitu Allah Tritunggal itu sendiri.

Roh Allah adalah Allah itu sendiri. Jangan menafsirkan Roh itu sebagai sesuatu yang berbeda dengan Allah. Dalam Perjanjian Baru, frasa-frasa seperti kasih Allah dan hayat Allah berarti bahwa kasih dan hayat itu adalah Allah itu sendiri. Sama prinsipnya, istilah Roh Allah berarti Roh itu adalah Allah. Sama halnya dengan Roh Kristus. Gelar ini berarti Roh itu adalah Kristus. Menurut konteksnya, Roh Kristus adalah Roh Allah.

Dari Roh Kristus, Paulus melanjutkan membicarakan Kristus. Jadi, Paulus membawa kita dari Allah kepada Kristus melalui Roh Allah dan Roh Kristus. Pemikiran Paulus bermula dari Allah kepada Roh Allah, kemudian da-ri Roh Allah kepada Roh Kristus, dan dari Roh Kristus kepa-da Kristus. Karena itu, kita memiliki Allah, Roh Allah, Roh Kristus, dan Kristus. Namun, empat istilah ini semuanya mengacu kepada Allah Tritunggal yang unik.

KRISTUS ADA DI DALAM KITA

Roma 8:10 mengatakan bahwa Kristus ada di dalam ki-ta. Kata depan “di dalam” di sini sangat patut diperhatikan. Kristus, Dia yang ajaib ini, sebenarnya ada di dalam kita! Agar Kristus ada di dalam kita, Allah harus menjadi Roh Allah, dan Roh Allah harus menjadi Roh Kristus, dan Roh Kristus harus menjadi Kristus. Jika Allah hanya Allah sendiri saja, Dia tidak dapat masuk ke dalam kita. Ada dua alasan untuk hal ini. Yang pertama Allah itu ilahi, tidak ter-batas, dan Mahakuasa. Namun, kita itu insani, dan Allah tidak dapat masuk ke dalam kita tanpa perantara insani.

Kedua, kita ini penuh dosa dan najis. Karena kejatuhan, se-tiap bagian dari diri kita telah tercemar. Tidak mungkin Allah yang kudus tinggal di dalam orang yang penuh dosa demikian. Untuk menjembatani kesenjangan di antara ke-ilahian dengan keinsanian ini, Allah harus menjadi seorang manusia yang bernama Yesus. “Yesus” berarti “Yehova Pe-nyelamat”. Sebagai yang demikian, Dia telah mati di kayu salib bagi dosa-dosa kita, mencucurkan darah-Nya untuk membersihkan kita dari semua kecemaran. Haleluya, Allah yang tidak terbatas menjadi manusia yang terbatas dan ma-ti di kayu salib bagi kita! Hal ini telah menyingkirkan semua rintangan yang menghalangi Allah masuk ke dalam kita. Sekarang di dalam Kristus yang tidak terbatas ini, Allah yang kudus dapat masuk ke dalam kita. Karena alasan ini-lah, maka dalam ayat 10 Paulus mengumumkan bahwa Kristus ada di dalam kita.

Sungguh bermakna, Paulus tidak mengatakan bahwa Allah ada di dalam kita, melainkan bahwa Kristus ada di dalam kita. Roh itu di sini menggabungkan Allah dengan Kristus. Roh itu adalah Roh Allah dan Roh Kristus. Betapa dalam dan tidak terkatakan semua istilah ini!

ROH ITU MEMBUAT RUMAH-NYA

DI DALAM KITA

Ayat 11 mengatakan, “Jika Roh Dia, yang telah mem-bangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.” Me-nurut ayat 10, Kristus ada di dalam kita. Tetapi menurut ayat 11, Roh Dia yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati tinggal (berumah) di dalam kita; yaitu, Roh itu membuat rumah-Nya di dalam kita. Dalam ayat ini kita memiliki Allah Tritunggal: Dia yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati (Bapa), Kristus Yesus (Putra), dan Roh itu. Di sini kita melihat Allah Tritunggal menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Selain itu, Dia membuat ru-mah-Nya di dalam kita dan bahkan memberikan hayat ke-pada tubuh fana kita. Ini adalah penyaluran penuh Allah Tritunggal ke dalam seluruh diri kita.

WAHYU YANG DISIRATKAN

Dalam ayat 11, kita tidak menemukan kata “tritunggal” atau “penyaluran”, tetapi fakta tentang penyaluran Allah Tritunggal ini disiratkan di sini. Allah Tritunggal disirat-kan di sini, dan penyaluran Allah Tritunggal ke dalam se-genap diri kita juga disiratkan. Kita telah menunjukkan bahwa Bapa, Putra, dan Roh semuanya tercakup dalam ayat ini. Tidak hanya demikian, perkataan Paulus tentang hayat akan diberikan kepada tubuh fana kita juga menyiratkan suatu penyaluran. Ini bukanlah satu wahyu yang dinyata-kan dengan kata-kata yang jelas; melainkan satu wahyu yang tersirat tentang penyaluran Allah Tritunggal ke dalam kaum beriman.

PROSES DAN PENYALURAN

Dalam ayat 11, Paulus membicarakan tentang Roh Dia yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Hal ini bukan hanya menyiratkan penyaluran Allah, tetapi juga menyiratkan proses yang diperlukan untuk penyaluran ini. Penyaluran memerlukan satu proses. Membangkitkan Kristus dari antara orang mati adalah bagian dari proses ini. Jadi, agar Roh Dia yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati berhuni di dalam kita, Allah harus ter-libat di dalam satu proses. Paulus tidak hanya mengatakan bahwa Roh itu berhuni di dalam kita, tetapi juga mengata-kan bahwa Roh Dia yang membangkitkan Yesus itu berhuni di dalam kita. Ini menyiratkan adanya proses yang dilalui.

Mempersiapkan makanan untuk dimakan dapat dipakai untuk mengilustrasikan proses yang diperlukan bagi penya-luran Allah. Kebanyakan dari makanan yang akan kita ma-kan itu harus diproses dulu sebelum kita memakannya. Misalnya, istri saya tidak membeli seekor ikan di pasar, membawanya ke rumah, kemudian langsung meletakkan-nya di atas meja pada waktu makan. Tidak, ikan itu harus diolah dengan memadai, demikian baru kita dapat memakan-nya. Sama prinsipnya, Allah Tritunggal juga harus melalui suatu proses untuk berhuni di dalam kita.

Proses yang ada dalam ayat 11 dinyatakan secara tidak langsung oleh ayat ini. Seluruh ayat ini sebenarnya meru-pakan satu pengutaraan yang panjang dan tidak langsung. Dalam ayat ini ada tiga perkara penting: Allah Tritunggal, proses, dan penyaluran. Agar Allah dapat menghuni kita, Dia harus menjadi Allah Tritunggal yang telah melalui su-atu proses yang lengkap.

Proses ini mencakup inkarnasi, penyaliban, dan kebang-kitan. Sebelum Putra Allah mati bagi kita di kayu salib, Dia harus berinkarnasi menjadi seorang manusia. Melalui in-karnasi ini, Dia mengenakan keinsanian dengan darah dan daging dan menjadi seorang manusia yang bernama Yesus. Hanya dengan cara inilah Dia dapat mencucurkan darah-Nya di kayu salib bagi dosa-dosa kita. Jadi, perkataan Paulus mengenai kebangkitan Kristus dalam ayat 11 menyiratkan inkarnasi dan penyaliban-Nya. Semua hal ini berhubungan dengan proses ini.

Allah kita bukan lagi Allah yang belum melalui proses. Dia yang berhuni di dalam kita itu telah sepenuhnya mela-lui proses. Roh yang berhuni di dalam kita adalah realisasi Putra, yang adalah perwujudan Bapa. Bapa terwujud di da-lam Putra, Putra direalisasikan sebagai Roh itu, dan Roh itu menghuni kita. Inilah Allah Tritunggal yang telah me-lalui proses lewat inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan, yang akan menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita, dan yang sekarang berhuni di dalam kita.

Ayat 11 menunjukkan bahwa Allah Tritunggal akan disalurkan bukan hanya ke dalam roh kita saja, pusat dari diri kita, seperti yang ditunjukkan dalam ayat 10, melain-kan juga ke dalam tubuh fana kita, bagian luar dari diri ki-ta. Ini berarti penyaluran Allah Tritunggal akan menjenuhi seluruh diri kita. Semakin saya mengalami dan menikmati penyaluran ini, saya semakin dikuatkan secara rohani, se-cara jiwani, dan secara jasmani. Saya dapat bersaksi dari pengalaman bahwa penyaluran Allah Tritunggal ini bukan hanya satu doktrin saja. Roh Dia yang membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati akan memberikan ha-yat kepada tubuh fana kita. Sungguh ajaib! Karena itu, ayat 11 ini menyiratkan banyak hal yang besar: Allah Tritunggal, proses, penyaluran, dan penjenuhan seluruh diri kita de-ngan hayat ilahi. Inilah penyaluran Allah Tritunggal.

HASIL PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL

ADALAH KEPUTRAAN

Penyaluran yang demikian ini menghasilkan keputraan. Penyaluran ini mentransformasi (mengubah) orang-orang dosa menjadi putra-putra Allah. Dulu kita adalah orang-orang dosa, musuh-musuh Allah, tetapi sekarang kita adalah putraputra Allah.

Ayat 14 mengatakan, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak (putra) Allah.” Kita tahu bahwa kita adalah putra-putra Allah melalui fakta bahwa kita dipimpin oleh Roh Allah. Hari demi hari, kita dipimpin oleh Roh Allah yang menghuni kita. Mungkin Anda ingin pergi ke suatu tempat, tetapi Roh itu malah memimpin Anda ke sidang ge-reja. Sering kali kita cenderung untuk melakukan hal-hal yang berlawanan dengan sifat Allah, tetapi Roh yang meng-huni itu lebih kuat daripada kita. Akhirnya, Dia akan me-mimpin kita dan kita akan mengikuti Dia. Pengalaman-pengalaman demikian adalah tanda dan bukti bahwa kita adalah putra-putra Allah.

Bukti lainnya dapat dilihat dalam ayat 15: “Sebab ka-mu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, ‘Ya Abba, ya Bapa!’” Melalui penyaluran Allah Tritunggal ini, kita benar-benar menjadi putra-putra Allah dalam ha-yat. Kita bukanlah anak-anak tiri. Jika kita adalah anak-anak tiri, kita tidak akan dapat berseru, “Abba Bapa,” de-ngan begitu manisnya. Ini dapat diilustrasikan dengan hu-bungan seseorang dengan bapanya dan dengan bapa tirinya. Ketika ia menyebut bapanya, “Ayah,” hal itu akan timbul secara alami dan rasanya sangat manis. Tetapi jika ia me-makai istilah ini dalam hubungannya dengan bapa tirinya, hal itu tidak akan timbul secara alami atau terasa manis. Fakta bahwa kita adalah putra-putra Allah dalam hayat di-buktikan oleh kita menikmati perasaan yang manis kapan saja kita berseru, “Abba Bapa.” Sebagai putra-putra Allah, kita memiliki hayat Allah, sifat Allah, dan Roh Putra Allah di dalam kita.

BUAH SULUNG DAN DOA SYAFAAT ROH ITU

Menurut ayat 23, kita juga memiliki buah sulung Roh itu. Buah sulung Roh itu adalah pencicipan terhadap Roh itu. Hari ini kita memiliki Roh yang menghuni sebagai pencicipan kenikmatan kita terhadap Allah. Pencicipan ini memberikan jaminan kepada kita bahwa kenikmatan yang penuh itu akan datang.

Ayat 26 mewahyukan bahwa Roh itu adalah Roh pen-doa syafaat. Secara batiniah, Roh itu terus-menerus berdoa bagi kita. Kita mungkin mengira bahwa kita berdoa sendi-rian; namun kita akan menemukan bahwa sebenarnya doa kita berasal dari Roh yang menghuni itu. Karena kita men-jadi satu dengan Dia dan Roh itu berbaur dengan roh kita, maka kita belum tentu bisa membedakan manakah yang berasal dari kita dan manakah yang berasal dari Dia. Se-perti yang dikatakan dalam 1 Korintus 6:17, “Siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Ketika kita berdoa, Dia juga berdoa; ketika Dia ber-doa, kita juga berdoa. Jadi, doa kita adalah doa-Nya, dan doa-Nya adalah doa kita.

HASIL AKHIR DARI PENYALURAN ALLAH

Menurut ayat 29, Putra tunggal Allah telah menjadi Putra sulung Allah di antara banyak saudara. Inilah hasil dari penyaluran Allah Tritunggal ke dalam kita. Penyalur-an ini membuat kita menjadi banyak putra Allah dan banyak saudara dari Putra sulung. Banyak putra Allah dan banyak saudara dari Putra sulung adalah anggota-anggota yang menyusun Tubuh Kristus. Karena itu, hasil akhir da-ri penyaluran Allah Tritunggal adalah putra-putra untuk menjadi anggota-anggota yang menyusun Tubuh Kristus. Inilah cara Allah menggenapkan kehendak kekal-Nya. Ke-hendak-Nya bukan digenapkan melalui pengajaran maupun oleh organisasi, melainkan melalui menyalurkan diri-Nya sendiri sebagai Allah Tritunggal yang telah melalui proses ke dalam seluruh diri kita.