PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL — MENURUT KEBENARAN-NYA, MELALUI KEKUDUSAN-NYA, DAN KEPADA
KEMULIAAN-NYA
Sangatlah penting bagi kita untuk membaca Kitab Roma secara mendalam, dan tidak membacanya secara dangkal. Dalam berita ini kita akan melihat perkara tentang penya-luran Allah Tritunggal menurut kebenaran-Nya, melalui kekudusan-Nya, dan kepada kemuliaan-Nya. Di sini kita memiliki empat kata yang penting: Penyaluran, kebenaran, kekudusan, dan kemuliaan. Seperti yang telah kita tunjuk-kan dalam berita sebelumnya, Paulus tidak memakai kata “penyaluran” dalam Kitab Roma. Meskipun demikian, fakta tentang penyaluran Allah disiratkan di sepanjang kitab ini. Sebaliknya, kebenaran, kekudusan, dan kemuliaan, dibica-rakan oleh Paulus dengan jelas. Penyaluran Allah adalah me-nurut kebenaran-Nya, yaitu, berdasarkan kebenaran-Nya. Tidak hanya demikian, penyaluran ini melalui kekudusan-Nya; ini berarti penyaluran-Nya diproses melalui kekudusan. Akhirnya, penyaluran ini adalah kepada kemuliaan Allah; penyaluran ini menghasilkan kemuliaan Allah.
KEBENARAN ADALAH DASAR BAGI
PENYALURAN ALLAH
Banyak ayat dalam Kitab Roma yang membicarakan tentang kebenaran Allah. Dalam 1:17, Paulus mengatakan bahwa kebenaran Allah (Tl.) dinyatakan di dalam Injil. Da-lam 3:21, Paulus mengatakan bahwa kebenaran Allah telah dinyatakan (Tl.), dan dalam 3:25 dan 26, ia membicarakan tentang kebenaran (LAI: keadilan) Allah ditunjukkan. Da-lam 5:17, Paulus membicarakan tentang karunia kebenaran, dan dalam 5:21 tentang anugerah berkuasa melalui kebe-naran (Tl.). Dalam 8:10, ia mengatakan bahwa roh kita adalah hayat karena kebenaran (Tl.).
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa dalam Kitab Roma, kebenaran adalah kedudukan, pendirian, dan dasar bagi pe-nyaluran Allah. Penyaluran Allah Tritunggal ke dalam kita adalah menurut kebenaran Allah. Penyaluran Allah bukan menurut hukum Taurat, juga bukan menurut perbuatan moralitas, melainkan hanya menurut kekuasaan Allah. Mazmur 89:15 mengatakan bahwa kebenaran dan keadilan (keadilan dan hukum, LAI) adalah tumpuan takhta Allah (Tl.). Takhta Allah berdasar pada kebenaran-Nya. Tanpa kebenaran, takhta Allah tidak akan memiliki kedudukan. Karena itu, kebenaran itu sangat penting.
Alam semesta ini bersandar kepada kebenaran Allah. Andaikata tiba-tiba tidak ada kebenaran, alam semesta ini akan runtuh. Selain itu, Alkitab mewahyukan bahwa Kera-jaan Allah didirikan di atas kebenaran (Ibr. 1:8). Pemerin-tahan manusia juga sedikitnya berdasar pada beberapa ukur-an kebenaran. Misalnya, jika tidak ada kebenaran di negara ini (Amerika Serikat), pemerintahan negara ini akan runtuh.
Sama prinsipnya, jika tidak ada kebenaran dalam masyara-kat atau dalam kehidupan pribadi, kehidupan masyarakat dan kehidupan pribadi itu akan runtuh. Kebenaran adalah dasar penopang yang kepadanya semua hal bersandar. La-ngit, bumi, dan segala sesuatu di alam semesta ini berdasar pada kebenaran Allah.
Dalam ekonomi-Nya, Allah Tritunggal damba menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam tiga bagian dari manusia, yaitu ke dalam roh, jiwa, dan tubuh manusia. Namun, jika Allah tidak memenuhi tuntutan-tuntutan kebenaran-Nya, Dia tidak akan dapat menyalurkan diri-Nya ke dalam kita. Penyaluran-Nya haruslah menurut kebenaran-Nya.
Alkitab mewahyukan bahwa ada satu hubungan di antara Allah dengan manusia. Dalam hubungan ini ada sejumlah peristiwa yang terjadi. Peristiwa ini harus selalu berdasarkan kebenaran. Karena itu, bagi penyaluran Allah, dasar tuntutan yang pertama adalah kebenaran Allah.
TUNTUTAN-TUNTUTAN KEBENARAN, KEKUDUSAN, DAN KEMULIAAN ALLAH
Tiga atribut ilahi — kebenaran, kekudusan, dan kemuliaan—adalah tuntutan-tuntutan yang dihadapkan kepada kita. Kebenaran adalah lawan dari dosa. Saya percaya bahwa kita semua waspada terhadap tuntutan kebenaran Allah. Tetapi kita mungkin tidak waspada terhadap tuntutan kekudusan dan kemuliaan Allah. Kita mungkin tidak sadar bahwa kemuliaan adalah salah satu dari tuntutan Allah. Dalam Roma 3:23, Paulus menunjukkan bahwa kita semua telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Ini berarti kita belum memenuhi tuntutan kemuliaan Allah.
Kejadian 3:24 menunjukkan bahwa segera setelah ma-nusia jatuh, ia tidak dapat memenuhi tuntutan kebenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah. Ayat ini mengatakan, “. . . ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan (hayat).” Pedang melambangkan kebenaran (keadilan) Allah; api yang menyala-nyala melam-bangkan kekudusan Allah, dan kerub melambangkan ke-muliaan Allah. Pedang membunuh, api menghanguskan, dan kerub menyelidiki. Karena manusia telah jatuh dan penuh dosa, maka jalan ke pohon hayat telah ditutup oleh kebenar-an, kekudusan, dan kemuliaan Allah. Puji Tuhan, melalui penebusan Kristus, tuntutan-tuntutan kebenaran, kekudus-an, dan kemuliaan Allah telah dipenuhi dan jalan ke pohon hayat telah dibuka kembali. Agar manusia memiliki satu hubungan yang tepat dengan Allah, ketiga tuntutan ini ha-rus dipenuhi.
TIGA BAGIAN
Kebenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah ini mem-bentuk struktur dasar dari Kitab Roma. Kitab Roma dapat dibagi menjadi beberapa bagian. Setelah pembukaan (1:1-17) dan bagian tentang penghakiman (1:18—3:20), ada bagian-ba-gian tentang pembenaran (3:21—5:11), pengudusan (5:12— 8:13), dan pemuliaan (8:14-39). Bagian-bagian ini sangat erat hubungannya dengan kebenaran, kekudusan, dan ke-muliaan Allah. Karena itu, tiga atribut ilahi ini berhubung-an dengan struktur Kitab Roma.
Di bagian manakah dari tiga bagian ini kita berada pada hari ini? Jawaban yang tepat adalah kita ada di dalam bagian pengudusan. Kita telah melalui pembenaran, tetapi kita belum berada dalam pemuliaan. Kita semua telah dite-tapkan untuk menaruh seumur hidup kristiani kita di bu-mi dalam bagian pengudusan ini. Saya telah berada dalam bagian pengudusan ini selama lebih dari lima puluh tahun. Jangan putus asa dengan lamanya waktu yang harus Anda keluarkan dalam bagian ini. Mungkin waktunya kelihatan lama bagi Anda, tetapi tidak bagi Tuhan, karena bagi-Nya seribu tahun sama dengan satu hari (2 Ptr. 3:8).
Meskipun kita belum berada dalam bagian pemuliaan, tetapi kita dapat menikmati sesuatu dari pemuliaan ini se-waktu kita berada dalam bagian pengudusan. Kita dapat menikmati pencicipan dari pemuliaan ini. Kadang-kadang ketika saya datang ke hadirat Tuhan, saya menikmati pen-cicipan terhadap pemuliaan yang akan datang. Setiap orang Kristen yang tepat seharusnya memiliki pengalaman-penga-laman seperti ini.
Penyaluran Allah haruslah menurut kebenaran-Nya. Jika Kristus tidak menjadi seorang manusia dengan darah dan daging, dan jika Dia tidak mati di kayu salib untuk menghapus dosa-dosa kita, maka Allah tidak mungkin me-nyalurkan diri-Nya ke dalam kita. Ada beberapa orang, begitu mendengar hal ini, mereka mungkin menyanggah, “Mengatakan demikian itu terlalu legal (menurut hukum) dan keras. Bukankah Anda tahu bahwa Allah itu kasih? Dia tidak begitu keras dan legal. Karena Allah Bapa me-ngasihi aku, Dia dapat datang kepadaku dan menyalurkan diri-Nya kepadaku, tidak peduli betapa berdosanya aku ini.” Konsepsi yang demikian ini mengabaikan fakta bah-wa Allah itu adalah Allah yang benar. Sebagai Dia yang benar itu, Dia lebih keras dan lebih legal daripada siapa pun dari antara kita.
Memang, Allah adalah Bapa dan Dia mengasihi kita. Namun, menurut perumpamaan Lukas 15, kita tidak dapat datang secara langsung kepada Bapa. Anak yang hilang itu perlu gembala (Putra) untuk mencarinya dan menemukannya, dan ia memerlukan perempuan itu (Roh itu) untuk mene-ranginya sehingga ia dapat sadar, bertobat, dan memutus-kan untuk pulang ke rumah Bapa. Hanya melalui penca-rian dan penemuan Putra, dan melalui penerangan Roh itu, barulah orang-orang dosa dapat berpaling kepada Bapa. Tanpa penebusan Putra dan penerangan dari Roh itu, kita tidak dapat pulang kepada-Nya. Selain itu, jika Putra tidak mati bagi kita, Bapa tidak akan memiliki dasar untuk menerima kita. Namun, karena kematian penebusan dari Putra-Nya, Bapa memiliki dasar untuk menerima semua orang yang datang kepada-Nya melalui Kristus. Ini menun-jukkan bahwa penerimaan Bapa terhadap kita haruslah menurut kebenaran-Nya. Di luar inkarnasi dan penyaliban Kristus, tidak ada jalan bagi Allah yang benar untuk mene-rima kita dan menyalurkan diri-Nya ke dalam kita. Andai-kata Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam kita tanpa tun-tutan kebenaran-Nya dipenuhi, Dia akan menempatkan diri-Nya dalam posisi sebagai orang yang tidak benar. Ka-rena itu, penyaluran Allah Tritunggal haruslah menurut kebenaran-Nya.
Kebenaran Allah menuntut kita mati karena dosa kita. Namun, jika kita mati, maka kita akan binasa. Karena Allah tidak menghendaki kita binasa, Dia menyediakan Kristus sebagai pengganti kita. Kristus mati di kayu salib bagi kita menurut kebenaran Allah untuk memenuhi tuntut-an-tuntutan Allah. Tujuan kematian Kristus di kayu salib bukanlah untuk membuat kita dapat naik ke surga setelah kita meninggal; melainkan untuk memenuhi tuntutan-tun-tutan kebenaran Allah, supaya Dia dapat menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita.
Misalnya, Anda ingin menuang jus ke dalam sebuah gelas, tetapi Anda menemukan bahwa gelas itu kotor. Jika Anda mengisi gelas yang kotor itu dengan jus ini, jus ini ti-dak akan dapat diminum. Jadi, sebelum menuang jus ini ke dalam gelas, Anda harus membersihkan gelas itu terlebih dulu. Demikian juga, sebelum Allah dapat masuk ke dalam kita, Putra-Nya harus menjadi seorang manusia dan mati di kayu salib bagi kita, mencucurkan darah-Nya untuk mem-basuh kita dari dosa-dosa kita. Hal ini membuat kita men-jadi bejana yang bersih, dan siap untuk dipenuhi dengan Allah Tritunggal. Sebelum Allah dapat menyalurkan diri-Nya ke dalam kita, kita harus dibersihkan di dalam darah Kristus. Ini adalah menurut kebenaran Allah.
MENJADI BENAR MELALUI MATI
Kita telah menunjukkan bahwa Kristus mati di kayu salib untuk memenuhi tuntutan kebenaran Allah. Sekarang kita harus melanjutkan melihat bahwa Allah ingin agar ki-ta juga pergi ke salib dan mati. Jika kita tidak disalibkan di kayu salib, tuntutan kebenaran Allah itu tidak dapat di-penuhi di dalam kita secara riil. Di mata Bapa yang benar, tidak ada sesuatu pun yang lebih benar daripada kita mati di kayu salib. Jika kita mati, kita benar dalam segala hal. Namun, jika kita menolak untuk mati, maka hubungan kita dengan orang lain, bahkan terhadap hal-hal materi akan menjadi tidak benar. Kita mungkin memperlakukan orang dengan tidak lurus, atau kita mengurus harta kita de-ngan tidak tepat. Karena itu, untuk menjadi benar di hadap-an Allah, kita bukan hanya perlu dibasuh, juga perlu mati. Begitu kita mati, dengan spontan kita akan dibenarkan. Seorang Kristen yang tepat adalah orang yang telah mati bersama Kristus dan yang setiap hari berperilaku menurut fakta ini. Jika seorang beriman hidup secara alamiah, ia akan menjadi tidak benar. Tetapi jika ia mengalami kema-tian salib, ia akan menjadi benar dalam segala sesuatu, de-ngan setiap orang, dan dalam setiap hal.
ALLAH HANYA MENYALURKAN DIRI-NYA
SENDIRI KE DALAM ORANG-ORANG YANG
TELAH MATI
Kita telah menekankan fakta bahwa kebenaran Allah memerlukan kematian Kristus dan kematian kita. Kita ter-cakup di dalam kematian Kristus. Ketika Dia mati, kita ju-ga mati, karena kita mati di dalam-Nya. Kematian yang al-muhit ini adalah bagi pemenuhan tuntutan kebenaran Allah. Karena kebenaran Allah telah dipuaskan, maka Allah dibe-narkan dalam hal menyalurkan diri-Nya ke dalam umat tebusan-Nya yang telah disalibkan.
Allah tidak dapat menyalurkan diri-Nya sendiri ke da-lam orang-orang yang masih hidup di dalam hayat alamiah mereka. Allah hanya dapat menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam orang-orang yang telah mati. Jika Anda masih hi-dup secara alamiah, masih hidup dalam dosa dan dunia, Allah tidak memiliki kedudukan untuk menyalurkan diri-Nya ke dalam Anda. Hanya kematian Kristus dan kematian Anda bersama Kristuslah yang akan memenuhi tuntutan kebe-naran-Nya dan memberikan dasar kepada Allah dengan be-nar untuk menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam Anda. Hal ini bukan hanya diterapkan pada waktu kita diselamat-kan, melainkan juga diterapkan kepada pengalaman kita sehari-hari bersama Tuhan. Jika kita ingin mengalami pe-nyaluran Allah Tritunggal, maka kita harus mengambil posisi kita di hadapan-Nya sebagai orang-orang yang telah disalibkan. Kita harus percaya dan mengumumkan fakta tentang kematian kita bersama Kristus di kayu salib. Kare-na kita mati bersama Kristus secara riil, maka Allah akan memiliki kedudukan untuk menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita dengan segala kekayaan-Nya. Inilah penya-luran Allah menurut kebenaran-Nya.
KEKUDUSAN DAN KEBANGKITAN
Dalam Roma 6:19, Paulus membicarakan tentang “ke-benaran kepada pengudusan”. Ini menunjukkan bahwa ke-benaran membawa kita masuk ke dalam kekudusan, ke dalam pengudusan. Penyaluran Allah Tritunggal terjadi me-lalui kekudusan-Nya. Kekudusan Allah berhubungan de-ngan proses penyaluran-Nya. Sebagaimana kematian Kristus adalah bagi kebenaran, demikian juga kebangkitan Kristus adalah bagi kekudusan. Pada kenyataannya, Kristus yang bangkit ini adalah unsur kekudusan itu di dalam kita. Keku-dusan ini menunaskan kita, melahirkan kita kembali, dan menguduskan kita. Ini sepenuhnya perkara hayat.
Roma 8:11 mengatakan, “Jika Roh Dia, yang telah mem-bangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.” Per-hatikanlah bahwa dalam ayat ini, Paulus pertama-tama mem-bicarakan tentang Yesus, kemudian tentang Kristus Yesus. Nama Yesus berhubungan dengan kematian-Nya, dan gelar Kristus Yesus berhubungan dengan kebangkitan dan penya-luran hayat. Jadi, kematian berhubungan dengan Yesus, dan memberikan hayat berhubungan dengan Kristus.
Kematian Yesus adalah untuk memuaskan kebenaran Allah, sedangkan kebangkitan Kristus adalah bagi kekudus-an Allah. Kebenaran adalah prosedur Allah, jalan-Nya da-lam melakukan sesuatu, sedangkan kekudusan adalah sifat Allah. Prosedur kebenaran Allah dipertahankan melalui ke-matian Kristus, sedangkan sifat Allah disalurkan ke dalam kita melalui kebangkitan Kristus. Ketika Kristus yang bang-kit ini masuk ke dalam kita, Dia menyalurkan sifat Allah ke dalam kita. Sifat kudus ini kemudian menunaskan kita, melahirkan kita kembali, dan menguduskan kita. Kristus yang bangkit di dalam kita ini adalah unsur kekudusan yang menghidupkan kita. Unsur ini menunaskan kita, menghidup-kan kita, dan kemudian menguduskan kita. Inilah pengudus-an. Pengudusan mencakup satu proses yang panjang yang dimulai ketika kita diselamatkan dan dilanjutkan di sepan-jang hidup kristiani kita. Di dalam proses ini kita akan di-ubah dan bahkan diserupakan dengan gambar Putra su-lung Allah.
Pengudusan terjadi melalui proses kebangkitan. Saya memiliki jaminan bahwa kita semua memiliki Kristus yang bangkit di dalam kita dan bahwa kita sedang menjalani proses pengudusan melalui kebangkitan. Proses ini sebenar-nya adalah satu persona, yaitu Kristus yang bangkit itu sen-diri. Kristus dalam kebangkitan adalah kekudusan dan pengu-dusan kita. Perbedaan antara kekudusan dan pengudusan ini adalah bahwa kekudusan menekankan unsur Kristus, se-dangkan pengudusan menekankan tindakan dari unsur itu. Jadi, kita bukan hanya berada di bawah proses kekudusan, tetapi juga berada di bawah proses pengudusan. Unsur yang kudus ini sedang bergerak dan aktif di dalam kita, mengu-duskan kita.
KENAIKAN DAN PEMULIAAN
Kitab Roma bukan hanya membahas atribut kebenaran dan kekudusan, melainkan juga membahas atribut kemulia-an. Pemuliaan ini dimulai pada waktu kenaikan Kristus, dan akan rampung pada kedatangan-Nya kembali. Kenaik-an Kristus adalah bagi kemuliaan. Karena itu, kematian Kristus adalah bagi kebenaran Allah, kebangkitan Kristus adalah bagi kekudusan Allah, dan kenaikan Kristus adalah bagi kemuliaan Allah. Ketika Kristus datang kembali, pe-muliaan orang-orang kudus-Nya akan rampung.
Pemikiran ini terdapat dalam Roma 8. Dalam ayat 17, Paulus mengatakan bahwa jika kita menderita bersama Kristus, kita akan dimuliakan bersama Dia. Dalam ayat 18, ia selanjutnya berkata, “Sebab aku yakin bahwa penderi-taan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Seluruh makhluk dengan sangat rindu menanti “dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerde-kaan dan kemuliaan anak-anak Allah” (ayat 21). Dalam ayat 30, Paulus mengatakan bahwa orang-orang yang telah ditentukan, dipanggil, dan dibenarkan oleh Allah, juga dimu-liakan-Nya. Ketika kita sedang dikuduskan, kita juga dimu-liakan. Dengan pengudusan ini kita akan menikmati pen-cicipan tehadap pemuliaan ini.
Kita telah menunjukkan bahwa pemuliaan dimulai de-ngan kenaikan Kristus. Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita naik bersama Kristus dan duduk bersama-Nya di surga (Ef. 2:6). Kristus ada di dalam kita secara subyek-tif dan ada di surga secara obyektif. Kristus telah memba-wa kita masuk ke surga, dan Dia telah membawa surga ke dalam kita. Ketika kita menyadari fakta bahwa kita berba-gian dalam kenaikan Kristus ini, kita bukan hanya akan mengalami pengudusan, tetapi juga mengalami pemuliaan. Berada dalam kenaikan itu berarti berada dalam kemuliaan.
PENGALAMAN SUBYEKTIF TERHADAP KEBENARAN,
KEKUDUSAN, DAN KEMULIAAN
Kita perlu pengalaman yang subyektif terhadap kebe-naran, kekudusan, dan kemuliaan Allah. Disalibkan bersa-ma Kristus adalah untuk mengalami kebenaran, dan memi-liki Kristus hidup di dalam kita adalah untuk mengalami kekudusan. Menurut kebenaran-Nya dan melalui kekudusan-Nya, Allah Tritunggal disalurkan ke dalam kita sepenuhnya menuju kemuliaan-Nya. Ini berarti hasil dari penyaluran Allah adalah kemuliaan. Ketika orang-orang mengontak ki-ta atau mengunjungi rumah kita, mereka harus dapat me-rasakan bahwa kita telah mati bersama Kristus dan bahwa Kristus hidup di dalam kita. Jika keadaan kita demikian, kita akan memamerkan kebenaran Allah, kekudusan, dan bahkan kemuliaan-Nya.
Betapa kita memuji Tuhan atas penyingkapan keda-laman-kedalaman dari kitab ini kepada kita! Dalam Roma 3 dan 4 kita melihat bahwa Kristus mati bagi kita dan da-lam Roma 6, kita mati dalam Kristus. Kematian ini adalah menurut kebenaran Allah dan bagi kebenaran-Nya. Dalam Roma 6—8, kita melihat bahwa kita sedang dikuduskan me-lalui kehidupan, tindakan, pergerakan, dan pekerjaan dari Kristus yang bangkit di dalam kita. Setelah Kristus yang bangkit ini menunaskan kita dan melahirkan kita kembali, Dia akan menguduskan kita. Pengudusan meliputi transfor-masi (pengubahan) dan penyerupaan. Sewaktu proses pengu-dusan ini terjadi di dalam kita, kita akan mulai mengalami pemuliaan Allah. Hasil dari penyaluran Allah Tritunggal ke dalam kita adalah kemuliaan. Jika kita setiap hari berdiri pada kedudukan telah mati bersama Kristus, kita akan memiliki pengalaman yang subyektif terhadap kebenaran ini. Jika kita membiarkan Kristus hidup di dalam kita, ki-ta akan memiliki pengalaman yang subyektif terhadap ke-kudusan. Hasilnya akan menjadi kemuliaan, yaitu ekspresi Allah dari dalam kita.
SASARAN AKHIR
DARI PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL
Sebagaimana kebenaran adalah prosedur Allah, dan kekudusan adalah sifat Allah, maka kemuliaan adalah ekspresi Allah. Sasaran akhir dari penyaluran Allah Tritunggal adalah Allah diekspresikan melalui Tubuh Kristus. Ketika Tubuh Kristus telah menjadi ekspresi dari kemuliaan Allah, itu adalah waktu pemuliaan yang penuh. Sebagaimana yang diwahyukan Roma 8, alam semesta sangat rindu menantikan saat itu, yaitu menantikan untuk masuk ke dalam kemer-dekaan dan kemuliaan anak-anak Allah. Di dalam kemulia-an ini, Allah akan diekspresikan dengan penuh. Hal ini akan menjadi hasil akhir dari penyaluran Allah Tritunggal.
Hari ini setiap gereja lokal harus menjadi miniatur da-ri ekspresi Allah Tritunggal yang mulia ini. Kita yang ada di dalam gereja-gereja harus dapat berkata, “Iblis, lihatlah gereja ini. Di sini kamu dapat melihat kebenaran, kekudus-an, dan kemuliaan Allah.” Ketika Iblis melihat hal ini, ia akan dipaksa mengakui bahwa inilah hasil dari penyaluran Allah Tritunggal. Kita semua telah mati dalam Kristus dan karena itu kita semua benar di mata Allah. Maka tidak ada dasar bagi Iblis untuk menuduh kita atau menghakimi ki-ta. Sekarang Kristus hidup di dalam kita untuk mengudus-kan kita, mentransformasi (mengubah) kita, dan menyeru-pakan kita dengan gambar Kristus. Hasil dari proses ini adalah kemuliaan. Hal ini haruslah menjadi kesaksian yang diemban oleh setiap gereja dalam pemulihan Tuhan. Dalam setiap gereja haruslah ada dasar kebenaran, proses ke-kudusan Allah, dan sasaran kemuliaan Allah. Inilah penya-luran Allah Tritunggal menurut kebenaran-Nya, melalui kekudusan-Nya, dan kepada kemuliaan-Nya, seperti yang diwahyukan dalam Kitab Roma ini.