← Daftar isi Roma (2) · bab 12/19

HAYAT ALLAH TRITUNGGAL DISALURKAN KE DALAM MANUSIA TRIPARTIT

Sebelum kita melihat hayat Allah Tritunggal disalur-kan ke dalam manusia tripartit, kita perlu mengatakan perkataan lebih lanjut tentang penyaluran Allah Tritunggal menurut kebenaran Allah, melalui kekudusan-Nya, dan ke-pada kemuliaan-Nya. Kita telah melihat bahwa kebenaran adalah prosedur Allah, kekudusan adalah sifat Allah, dan kemuliaan adalah ekspresi Allah. Karena itu, penyaluran Allah adalah menurut kebenaran-Nya, melalui sifat kudus-Nya, dan kepada ekspresi diri-Nya sendiri. Ekspresi Allah ter-utama ada di dalam gereja. Jadi, sasaran dari penyaluran Allah Tritunggal adalah agar Allah dapat diekspresikan di dalam gereja.

KEBENARAN YANG TERTINGGI

Dalam berita sebelumnya kita telah melihat bahwa kebenaran Allah berhubungan dengan kematian Kristus, yang mengakhiri semua hal negatif. Karena kejatuhan manusia, maka segala sesuatu dalam penciptaan ini menjadi tidak benar. Misalnya, nyamuk-nyamuk mengganggu kita. Lagi pula, ada ketidakbenaran dalam setiap aspek kemasyara-katan. Adam adalah kepala dari ciptaan lama. Ketika ia ja-tuh, segala sesuatu di bawah kekepalaannya di mata Allah menjadi tidak benar. Kematian Kristus mengakhiri hal-hal yang tidak benar ini dan memenuhi tuntutan-tuntutan kebenaran Allah. Maka, kematian Kristus adalah kebenaran yang tertinggi.

Ketika Kristus mati di kayu salib, kita juga mati, karena kita mati di dalam Dia. Kita disatukan dengan Kristus di dalam kematian-Nya. Ini berarti bukan hanya kematian Kristus itu sendiri adalah benar, kematian kita dalam Kristus juga adalah benar di mata Allah.

KEKUDUSAN DALAM TINDAKAN

Namun, kematian Kristus bukanlah kesimpulan atau penutupnya, karena kematian ini membawa masuk kebang-kitan, yang di dalamnya kita ditunaskan dan dilahirkan kembali. Tidak hanya demikian, kebangkitan Kristus me-miliki fungsi yang menguduskan, di dalamnya tercakup trans-formasi dan penyerupaan. Akhirnya, melalui proses pengu-dusan ini, kita akan diserupakan dengan gambar Putra Allah. Inilah pengalaman yang subyektif terhadap pengudusan. Pengudusan adalah tindakan kekudusan yang subyektif; ini adalah kekudusan dalam tindakan. Pengudusan ini sebe-narnya adalah Kristus yang bangkit yang menggarapkan sifat kudus Allah ke dalam diri kita. Ini sangat berbeda dengan konsepsi kekudusan yang terdapat di antara kelom-pok orang yang disebut orang-orang kudus.

PEMULIAAN, HASIL DARI PENGUDUSAN

Hasil dari pengudusan adalah pemuliaan, ekspresi Allah. Jadi, penyaluran Allah Tritunggal adalah untuk kemuliaan-Nya. Hasil dari pengudusan adalah pemuliaan.

Pemuliaan dimulai pada hari Pentakosta. Gereja bukan dilahirkan pada hari Pentakosta, melainkan pada hari ke-bangkitan Kristus. 1Petrus 1:3 mengatakan bahwa kita dilahirkan kembali ketika Kristus bangkit. Ketika Dia bang-kit, satu butir gandum menjadilah banyak butir, untuk mem-bentuk roti, yaitu gereja (Yoh. 12:24; 1 Kor. 10:17). Jadi, gereja dihasilkan pada hari kebangkitan. Tetapi apakah yang terjadi pada hari Pentakosta? Pada hari itu gereja di-muliakan. Jika kita hadir di sidang gereja pada hari Pen-takosta itu, kita pasti akan memproklamirkan, “Sungguh mulia!” Kita tidak akan membicarakan tentang kebenaran atau kekudusan, karena kita telah memiliki perasaan akan kemuliaan yang melimpah.

Tuhan Yesus memulai doa-Nya dalam Yohanes 17 de-ngan kata-kata, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau” (ayat 1). Bagaimanakah Putra memuliakan Bapa? Dia memuliakan Bapa dalam kesatuan. Kesatuan dalam Yohanes 17 adalah gereja. Kesatuan orang-orang beriman adalah hidup gereja yang tepat. Ketika kesatuan ini termanifestasikan dengan penuh, maka Putra akan memuliakan Bapa di dalam gereja. Ini menunjukkan bahwa di mana saja ada hidup gereja yang tepat, di sana ada pemuliaan Bapa, karena hidup ge-reja itu mengekspresikan Bapa. Karena itu, jika kita ber-kumpul bersama-sama sebagai gereja secara normal, kita harus merasakan bahwa ada kemuliaan di dalam sidang-sidang kita. Hidup gereja mutlak merupakan perkara pemuliaan. Gereja adalah sasaran Allah; ini bukanlah prosedur Allah atau cara-Nya. Allah ingin dimuliakan di dalam gereja.

SEMAKIN BANYAK PENGUDUSAN,

SEMAKIN BANYAK KEMULIAAN

Pemuliaan gereja yang dimulai pada hari Pantekosta itu belumlah mencapai perampungannya. Sebaliknya, pro-ses pemuliaan ini masih terus berlangsung. Menurut ke-adaan gereja, mungkin ada banyak kemuliaan pada waktu-waktu tertentu daripada waktu lainnya. Berapa banyak kemuliaan termanifestasi di dalam gereja itu tergantung pa-da tingkatan pengudusan kita. Para penonton pertandingan bola basket mungkin sangat antusias; namun, pada mereka tidak ada kemuliaan, hanya ada kegirangan, karena tidak ada pengudusan. Semakin kita dikuduskan melalui Kristus menjenuhi diri kita dengan sifat kudus-Nya, kita akan se-makin mengekspresikan Allah ketika kita berkumpul ber-sama sebagai gereja.

Pengudusan ini pada dasarnya merupakan perkara in-dividual, sedangkan pemuliaan terutama merupakan perka-ra korporat. Misalnya, sepanjang hari ini saya marah-marah terhadap istri saya, hal ini merusak pengudusan pribadi saya. Meskipun saya mengaku dosa kepada Tuhan dan me-nerima pembasuhan-Nya, saya mungkin tidak memiliki pe-rasaan kemuliaan dalam sidang pada malam harinya, se-kalipun setiap orang lainnya merasakan kemuliaan itu. Ka-rena saya kekurangan pengudusan, maka saya tidak dapat merasakan kemuliaan yang dapat dirasakan oleh orang lain. Saya tidak memiliki pengudusan dalam kehidupan pribadi saya yang memberikan perasaan akan kemuliaan dalam si-dang itu. Namun, misalnya, saya tinggal dalam persekutu-an dengan Tuhan sepanjang hari, bahkan ketika istri saya mempersulit saya. Segala sesuatu yang terjadi pada hari itu hanya akan membantu proses pengudusan ini. Karena itu, dalam sidang-sidang saya dapat merasakan kemuliaan. Hal ini menyatakan satu fakta bahwa semakin kita meng-alami pengudusan, kita akan semakin berbagian dalam pe-muliaan.

Kemuliaan, yaitu ekspresi Allah di dalam gereja, adalah sasaran penyaluran Allah. Pengudusan adalah prosesnya, dan kebenaran adalah tumpuan yang menopangnya. Karena itu, penyaluran Allah Tritunggal adalah menurut kebenaran-Nya, melalui kekudusan-Nya, dan kepada sasaran kemuliaan-Nya.

HAYAT ALLAH TRITUNGGAL DISALURKAN

KE DALAM SELURUH DIRI KITA

Sekarang kita sampai kepada perkara yang sangat mustika, yaitu hayat Allah Tritunggal disalurkan ke dalam manusia tripartit (tiga bagian). Sungguh menakjubkan bahwa Allah itu tritunggal dan bahwa kita itu tripartit!

Roma 8:2 membicarakan tentang hayat Allah Tritunggal. Ayat 10 mewahyukan bahwa hayat ini telah disalurkan ke dalam roh kita dan telah membuat roh kita menjadi hayat. Tidak hanya demikian, menurut ayat 6, hayat ini dapat disalurkan ke dalam pikiran kita dan juga dapat membuat pikiran kita menjadi hayat. Akhirnya, seperti yang diwahyukan ayat 11, hayat ilahi ini bahkan dapat disalurkan ke dalam tubuh fana kita. Dalam ayat-ayat ini kita melihat tiga bagian dari manusia: roh, jiwa (yang diwakili oleh pi-kiran), dan tubuh. Roh adalah pusatnya, tubuh adalah ling-karannya, dan pikiran ada di antaranya. Dari pusat di te-ngah-tangah sampai kepada lingkarannya, hayat Allah Tritunggal ini disalurkan ke dalam seluruh diri kita.

HAYAT YANG DISALURKAN KE DALAM KITA

Hayat yang akan disalurkan ke dalam tiga bagian dari manusia ini adalah hayat Allah Tritunggal. Dalam Roma 8:2, Paulus membicarakan tentang Roh hayat dalam Kristus Yesus. Dalam frasa ini terlihat Allah Tritunggal. Roh itu dan Kristus, Sang Putra, disinggung dengan jelas, sedang-kan Allah Bapa ditunjukkan oleh fakta bahwa Roh itu ada-lah Roh Allah. Jadi, di sini kita memiliki Allah, Kristus, dan Roh itu. Namun, butir utamanya bukanlah Allah Tritunggal, melainkan hayat. Mengatakan Roh hayat itu sebenarnya mengatakan bahwa Roh itu adalah hayat. Hayat di sini sesungguhnya adalah hayat Allah Tritunggal.

Ketika kita dilahirkan kembali, kita menerima hayat yang lain, satu hayat tambahan di luar hayat alamiah kita. Ada bermacam-macam hayat: hayat tumbuh-tumbuhan, ha-yat hewan, hayat manusia, dan hayat Allah. Sebagai manu-sia, kita semua memiliki hayat jasmani dan hayat jiwani. Hayat jasmani dan hayat jiwani ini ditunjukkan oleh kata Yunani “bios” dan “psuche” secara berurutan. Namun, keti-ka Paulus membicarakan tentang hayat dalam Roma 8, ia masih memakai kata Yunani lainnya, yaitu kata “zoe”. Da-lam Alkitab, zoe menunjukkan hayat Allah, hayat yang ilahi, yang tidak terbatas, tidak tercipta, dan kekal. Inilah hayat yang kita terima melalui percaya kepada Tuhan Yesus. Seperti Yohanes 3:36 mengatakan, “Siapa saja yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.” Dalam Roma 8:2, 6, 10, dan 11, Paulus memakai kata Yunani ini untuk hayat untuk menunjukkan bahwa penyaluran Allah adalah untuk menyalurkan zoe ke dalam diri kita. Dengan kata lain, Allah damba menyalurkan diri-Nya sendiri seba-gai zoe ke dalam ketiga bagian dari manusia.

Penyaluran zoe ilahi ke dalam kita ini dimulai ketika kita dilahirkan kembali. Menurut Roma 8:2, hayat ini ada-lah Roh itu dan hayat ini ada di dalam Kristus Yesus. Te-tapi sekarang, melalui penyaluran Allah, hayat ini juga ber-hubungan dengan kita. Tanpa hayat ini, kita akan binasa. Puji Tuhan, ketika kita dilahirkan kembali, zoe ini disalur-kan ke dalam roh kita!

SATU PROSES YANG PANJANG

Agar hayat ilahi ini dapat disalurkan ke dalam kita, terlebih dulu hayat ini harus melalui satu proses yang pan-jang yang melibatkan inkarnasi, kehidupan insani, penya-liban, penguburan, kebangkitan, kenaikan, dan turun kem-bali. Hayat yang disalurkan ke dalam kita ini sebenarnya adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Dalam Kejadian 1:1, hayat ini tidak dapat disalurkan ke dalam ma-nusia, karena hayat ini belum melalui tahap-tahap yang diperlukan. Tetapi sekarang, hayat ini telah dimungkinkan untuk disalurkan ke dalam kita. Hayat ini ada dan terse-dia, dan kita dapat menerimanya hanya dengan berseru ke-pada nama Tuhan Yesus.

ROH KITA ADALAH HAYAT

Roma 8:10 mengatakan, “Tetapi jika Kristus ada di da-lam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena pembenaran.” Roh yang disebutkan dalam ayat ini bukan Roh Kudus, ini dibuktikan dengan fakta bahwa di sini Paulus membandingkan tubuh dengan roh. Paulus mengatakan bahwa tubuh memang mati, tetapi roh itu adalah kehidupan (hayat). Kita mengira Paulus akan mengatakan bahwa “roh itu hidup”. Namun, ia mengatakan bahwa “roh adalah hayat”, adalah “zoe”. Ke-tika kita berseru kepada nama Tuhan Yesus, zoe ini ma-suk ke dalam roh kita dan membuat roh kita menjadi zoe. Sekarang bukan hanya Allah Tritunggal itu adalah hayat, melainkan roh kita juga adalah hayat.

Jika kita melihat hal ini, kita akan memiliki keberani-an untuk mengumumkan kepada alam semesta, khususnya kepada Iblis, bahwa roh kita adalah hayat. Kita akan mem-proklamirkan bahwa sedikitnya satu bagian dari diri kita, yaitu roh kita, adalah zoe. Oh, betapa kita semua memer-lukan wahyu ini! Kiranya kita semua bukan hanya melihat bahwa kita telah diselamatkan dan dilahirkan kembali, me-lainkan juga melihat bahwa bagian diri kita yang paling dalam ini telah menjadi hayat.

Mengenal bahwa roh kita adalah zoe (hayat) akan men-jadi satu bantuan yang besar bagi kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika Anda tergoda untuk marah, jangan berusaha menekan amarah Anda. Sebaliknya, umumkan saja, “Rohku adalah zoe!” Demikian juga, jika istri atau su-ami Anda mempersulit Anda, janganlah berdebat, tetapi beri tahukanlah orang yang mengganggu Anda itu bahwa roh Anda adalah zoe. Mengatakan hal ini akan memudah-kan kita untuk melawan godaan-godaan Iblis. Puji Tuhan, roh kita adalah zoe!

Alasan mengapa bahwa saya begitu hidup (lincah) dan energik ialah karena roh saya adalah zoe. Namun, saya te-lah membuang waktu bertahun-tahun dalam kekristenan yang terorganisir dan tidak seorang pun memberi tahu saya bahwa roh saya adalah zoe. Saya dibimbing dalam berbagai praktek agama, tetapi saya tidak diberi tahu bahwa roh sa-ya adalah hayat. Tetapi sekarang saya tahu bahwa zoe (ha-yat) ilahi telah disalurkan ke dalam roh saya, ke dalam pu-sat dari diri saya. Sekarang saya tahu bahwa roh saya telah menjadi zoe!

BUKAN KEBAJIKAN YANG CEMERLANG,

MELAINKAN ALLAH TRITUNGGAL SEBAGAI HAYAT

Konghucu adalah seorang filsuf besar yang beretika yang mengajarkan murid-muridnya untuk mengembangkan apa yang disebut “kebajikan batiniah yang cemerlang”. Apa yang mereka sebut kebajikan yang cemerlang itu sebenar-nya adalah hati nurani. Murid-murid Konghucu itu mungkin memiliki kebajikan yang cemerlang, tetapi kita memiliki hayat ilahi. Sebenarnya, Sang ilahi itu sendiri yang telah masuk ke dalam kita untuk menjadi hayat kita. Kebajikan yang cemerlang tidak dapat dibandingkan dengan Allah Tritunggal sebagai hayat ilahi.

Karena kami sadar bahwa roh kami adalah hayat, maka kami dapat meyakinkan sejumlah pengajar filsafat di China untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Sebelumnya, mereka bangga karena mereka tahu bagaimana cara me-ngembangkan kebajikan cemerlang yang batiniah. Setelah mendengarkan mereka selama sejangka waktu, kami pun memberi tahu mereka bahwa apa yang mereka miliki itu tidak dapat dibandingkan dengan apa yang kami miliki. Be-berapa dari antara mereka sangat terkejut dan dengan jujur mengatakan bahwa mereka ingin mengetahui hal ini lebih jauh. Kami lalu menjelaskan bahwa sebagai orang-orang Kristen, kami memiliki Allah Tritunggal di dalam kami se-bagai hayat kami. Kami memberi tahu mereka bahwa apa yang mereka miliki itu mungkin adalah satu kebajikan yang cemerlang, yaitu sesuatu yang diciptakan oleh Allah, tetapi apa yang kami miliki sesungguhnya adalah Sang Pencipta dari kebajikan yang cemerlang itu sendiri. Kami membantu mereka untuk melihat bahwa Sang Pencipta ini telah melalui inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Sekarang Dia berada dalam kenaikan dan siap sedia untuk masuk ke dalam siapa pun yang berseru kepa-da nama-Nya. Akibat dari kesaksian yang demikian ini, ba-nyak dari pengajar filsafat itu yang terbuka kepada Tuhan, berseru kepada nama-Nya, dan menerima Dia ke dalam me-reka untuk menjadi hayat mereka. Kemudian mereka sen-diri bersaksi tentang perbedaan antara kebajikan yang cemer-lang dengan hayat ilahi. Melalui memberitakan Injil dengan taraf yang tinggi ini, kami dapat membawa sejumlah pro-fesor, dokter, perawat, dan pengacara kepada Tuhan.

PIKIRAN KITA MENJADI HAYAT

Kita telah menekankan satu fakta bahwa roh kita telah menjadi hayat karena Kristus tinggal di dalam kita. Tetapi bagaimana dengan jiwa dan tubuh kita? Pertimbangkanlah ayat 6: “Karena meletakkan pikiran di atas daging adalah maut, tetapi meletakkan pikiran di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera” (Tl.). Di sini kita melihat bahwa pi-kiran kita juga dapat menjadi zoe. Ketika kita meletakkan pikiran kita di atas roh, pikiran kita, yang mewakili jiwa kita itu, akan menjadi zoe. Kita tidak perlu mengikuti cara tertentu untuk membudayakan kebajikan yang cemerlang. Sebaliknya, kita hanya perlu meletakkan pikiran kita di atas roh dan pikiran itu akan menjadi zoe. Inilah penyaluran hayat ilahi ke dalam jiwa kita.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita perlu mem-praktekkan berpaling dari pikiran kepada roh. Apakah Anda ingin bergosip? Palingkanlah pikiran Anda ke roh. Apakah Anda tergoda untuk marah? Palingkanlah pikiran Anda ke roh. Buanglah etika dan pengajaran agama, kembalilah kepada firman Allah yang hidup, yang mewahyukan bahwa hayat Allah Tritunggal disalurkan ke dalam roh kita dan membuat roh kita menjadi hayat, juga mewahyukan bah-wa pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat. Kita memiliki sesuatu yang lebih tinggi daripada kebajikan yang cemerlang, etika, dan moralitas. Kita memiliki Allah Tritunggal yang disalurkan ke dalam kita. Apa yang dapat dibandingkan dengan hal ini? Ini bukanlah filsafat atau pengajaran agama. Ini adalah hayat “zoe” yang disalurkan ke dalam roh kita dan ke dalam pikiran kita.

HAYAT YANG DISALURKAN KE DALAM TUBUH FANA KITA

Ayat 11 mewahyukan lebih banyak tentang penyaluran Allah. Di sini Paulus berkata, “Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tu-buhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.” Saya terkejut dengan penulisan yang secara tidak langsung dari ayat ini. Ayat ini mewahyukan bahwa zoe da-pat disalurkan melalui Roh itu ke dalam tubuh fana kita. Karena itu, bukan hanya roh kita dan pikiran kita adalah zoe, tetapi bahkan tubuh kita pun menjadi penuh dengan zoe.

MELIHAT VISI INI

Kita semua perlu melihat visi tentang penyaluran ha-yat Allah Tritunggal ke dalam ketiga bagian diri kita. Jika kita melihat visi ilahi ini, maka konsepsi alamiah kita tentang etika dan moralitas akan diruntuhkan. Kita perlu berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu. Sejak Engkau masuk ke dalamku, rohku telah menjadi hayat. Sekarang, jika aku meletakkan pikiran di atas roh, maka pikiranku juga akan menjadi hayat. Oh Tuhan, aku memuji Engkau! Melalui Roh-Mu yang berhuni ini, ‘hayat zoe-Mu’ bahkan dapat disalurkan ke dalam tubuh fanaku. Tuhan aku menyembah Engkau untuk hal ini. Aku menik-mati hal ini, dan aku menjadi satu dengan Engkau dalam pe-nyaluran ini.” Inilah penyaluran dari hayat Allah Tritunggal ke dalam manusia tripartit. Melalui penyaluran yang demi-kian ini, Allah Tritunggal menjadi satu dengan manusia tripartit, dan manusia tripartit menjadi satu dengan Allah Tritunggal. Melalui penyaluran hayat ilahi inilah kita menjadi putra-putra Allah. Tidak hanya demikian, oleh penyaluran inilah kita ditransformasi dan diserupakan dengan gambar Kristus. Inilah kehidupan kristiani, juga adalah hidup gereja.

MANUSIA-MANUSIA HAYAT

Marilah kita berpaling dari agama, etika, dan penga-jaran filsafat, dan kembali kepada wahyu yang sederhana namun dalam ini di dalam firman kudus mengenai ekonomi Allah. Allah kita adalah Allah Tritunggal yang telah mela-lui proses inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, dan kenaik-an. Sekarang Dia adalah Roh yang almuhit untuk menjadi zoe ilahi bagi partisipasi, pengalaman, dan kenikmatan ki-ta. Pertama-tama Dia menyalurkan diri-Nya sendiri ke da-lam roh kita, pusat dari diri kita. Dari pusat, Dia menye-bar ke dalam pikiran kita dan menjenuhinya dengan zoe. Kemudian Dia meluas ke dalam tubuh fana kita dan mem-buat seluruh diri kita menjadi zoe. Dengan cara ini, kita menjadi manusia-manusia zoe. Haleluya, kita bukanlah ma-nusia agama, moralitas, atau etika. Kita adalah manusia-manusia hayat!