← Daftar isi Roma (2) · bab 13/19

BUKAN HAYAT YANG MENGGANTIKAN, MELAINKAN HAYAT YANG DIOKULASIKAN

Ekonomi Allah adalah perkara penyaluran hayat ilahi ke dalam diri manusia kita. Hasil dari penyaluran ini, kita, yaitu umat pilihan Allah, memiliki hayat manusia dan hayat ilahi. Setiap macam hayat, bahkan hayat tumbuh-tumbuhan yang paling rendah sekalipun, adalah satu mis-teri. Tidak ada ilmuwan yang dapat menerangkan sepenuh-nya bagaimana suatu benih dapat bertumbuh menjadi satu bunga yang indah. Di dalam benih ini ada unsur hayat yang menghasilkan bunga dengan bentuk dan warna tertentu. Betapa ajaib!

HAYAT CIPTAAN YANG PALING AJAIB

Di antara berbagai bentuk hayat yang tercipta ini, yang paling ajaib adalah hayat manusia. Hayat malaikat itu tidak lebih ajaib daripada hayat manusia, ini bertentangan dengan pendapat dari banyak orang. Adalah salah bila me-ngira bahwa hayat malaikat itu lebih ajaib daripada hayat manusia. Allah tidak menentukan hayat malaikat untuk menampung hayat ilahi. Sebaliknya, Dia menciptakan hayat manusia untuk menjadi bejana bagi hayat ilahi. Meskipun Anda mengira bahwa diri Anda tidak lebih baik daripada malaikat, tetapi Allah menganggap Anda lebih baik daripa-da malaikat. Akan tetapi, secara tidak sadar ada beberapa orang, khususnya para saudari, ingin menjadi malaikat. Namun, Alkitab tidak membicarakan tentang kasih Allah terhadap malaikat, melainkan mewahyukan kasih-Nya ke-pada manusia. Malaikat-malaikat itu hanyalah hamba-ham-ba Allah. Di mata Allah, hayat yang paling ajaib di antara semua ciptaan-Nya adalah hayat manusia.

Kejadian 1:26 mengatakan, “Berfirmanlah Allah: ‘Baik-lah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.’” Jadi, malaikat-malaikat itu bukan diciptakan menu-rut gambar dan rupa Allah, sedangkan manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Tahukah Anda bahwa An-da dijadikan di dalam gambar Allah dan menurut rupa Allah? Kita bukanlah keturunan kera, melainkan keturunan ma-nusia yang diciptakan di dalam gambar Allah. Hanya dengan memiliki gambar Allah dan mengemban rupa Allahlah, kita bisa kelihatan seperti Allah. Inilah wahyu yang jelas dalam firman kudus. Karena manusia diciptakan menurut Allah, maka hayat manusia adalah yang paling unggul daripada semua hayat makhluk hidup ciptaan. Karena itu, kita boleh bangga atas fakta bahwa kita adalah manusia. Puji Tuhan bahwa kita adalah manusia, bukan malaikat!

GAMBAR, RUPA, DAN REALITAS

Suatu hari, melalui inkarnasi Kristus, Allah sendiri menjadi seorang manusia. Dengan cara ini Allah menyatukan diri-Nya dengan manusia. Yesus, Allah yang berinkarnasi itu, adalah Allah pun manusia. Inkarnasi Kristus ini bukan hanya membawa Allah turun ke tingkat manusia, tetapi ju-ga meninggikan manusia ke tingkat Allah. Melalui pencip-taan, manusia memiliki gambar Allah dan rupa Allah, tetapi tidak memiliki realitas Allah di dalamnya. Inkarnasi membawa realitas Allah ke dalam manusia. Tuhan Yesus bukan hanya memiliki gambar dan rupa Allah; Dia juga mewujudkan realitas Allah, karena Allah ada di dalam Dia. Pada prinsipnya, setiap orang yang telah dilahirkan kem-bali juga sama. Sebagai orang-orang yang telah dilahirkan kembali, kita bukan hanya mengemban gambar Allah dan memiliki rupa Allah, tetapi juga memiliki realitas Allah di dalam kita.

BEJANA UNTUK MENAMPUNG ALLAH

Alkitab mewahyukan bahwa manusia diciptakan seba-gai bejana untuk menampung Allah. Dalam Roma 9:21, Paulus membicarakan tentang bejana-bejana yang berharga (terhormat) dan dalam Roma 9:23, tentang bejana-bejana belas kasihan yang dipersiapkan untuk kemuliaan. Allah sen-diri adalah kehormatan dan kemuliaan yang sesungguhnya. Karena itu, fakta bahwa kita adalah bejana-bejana yang berharga (terhormat), yang dipersiapkan untuk kemuliaan, berarti kita telah dirancang untuk menampung Allah sebagai kehormatan dan kemuliaan kita.

Kita dapat memakai sebuah sarung tangan sebagai sa-tu ilustrasi dari manusia sebagai bejana, penampung Allah. Karena tujuan dari sarung tangan adalah untuk menam-pung tangan, maka sarung tangan itu dibuat menurut rupa tangan. Tangan memiliki ibu jari dan empat jari lainnya, maka, sarung tangan juga memiliki ibu jari dan empat jari lainnya. Meskipun sarung tangan itu bukan tangan, tetapi dijadikan menurut rupa tangan untuk menampung tangan. Sama prinsipnya, manusia adalah bejana untuk menampung Allah. Karena itu, ia dijadikan menurut rupa Allah.

Jika Anda memasukkan tangan Anda ke dalam sarung tangan yang telah dirancang untuk hal itu, maka tangan Anda akan merasa nyaman di dalam sarung tangan itu. De-mikian juga, Allah akan merasa nyaman di dalam manusia. Namun, Dia tidak akan merasa nyaman di dalam binatang atau bahkan di dalam malaikat. Hanya di dalam manusia-lah Allah akan merasa sentosa, penuh perhentian. Surga mungkin dapat menjadi tempat kediaman Allah yang semen-tara, tetapi rumah sejati-Nya adalah manusia.

Kita semua adalah “sarung tangan” yang dirancang un-tuk menampung Allah sebagai tangan ilahi. Kita dijadikan di dalam bentuk yang sesuai untuk menjadi tempat kedi-aman Allah. Allah memiliki pikiran, tekad, dan emosi, dan kita juga demikian. Sebagai manusia, kita tidak boleh men-jadi seperti ubur-ubur, tanpa memiliki tekad yang kuat. Seorang manusia yang tepat itu bukan hanya harus memi-liki pikiran dan tekad, melainkan juga penuh dengan emosi. Kita seharusnya mudah tertawa atau menangis. Kita tidak seharusnya seperti patung yang tidak berperasaan dalam menghadapi situasi apa pun. Alkitab mewahyukan bahwa Allah itu kaya dalam emosi: Dia membenci, Dia mengasihi, dan Dia marah. Menurut Yohanes 11:35, Tuhan Yesus, Allah yang berinkarnasi ini, menangis. Karena itu, untuk men-jadi bejana yang menampung Allah, manusia diciptakan dengan emosi. Emosi ini sangat penting, karena Allah sendiri kaya dalam emosi; Dia bukanlah Allah batu.

Semua kebajikan manusia diciptakan menurut atribut Allah. Misalnya, kebaikan manusia adalah gambar dari kebaikan Allah. Demikian juga dengan kelembutan. Kelembutan manusia adalah menurut rupa kelembutan Allah.

BISA MENJADI SEPERTI ALLAH

Kita adalah “sarung tangan” dalam rupa tangan ilahi. Ini berarti kita tidak memiliki ibu jari, melainkan bentuk ibu jari; juga tidak memiliki jari-jari, melainkan rupa jari-jari. Misalnya, kelembutan kita adalah penampung kelem-butan Allah. Kelembutan kita hanyalah bentuknya, sedang-kan kelembutan Allah adalah substansi, realitasnya. Karena kita diciptakan menurut rupa Allah, maka kita bisa menja-di seperti Allah. Binatang tidak akan pernah dapat menjadi seperti Allah, karena binatang tidak memiliki rupa Allah dan tidak dapat menampung Allah. Tetapi di dalam kasih, kebaikan, dan kelembutan kita, kita dapat menyatakan bahwa kita seperti Allah.

Dalam penciptaan-Nya atas manusia, Allah menjadikan manusia sebagai bejana untuk menampung diri-Nya, agar Dia bisa masuk ke dalam bejana ini dan memenuhinya de-ngan diri-Nya sendiri. Ketika Allah masuk ke dalam bejana yang Dia diciptakan, Dia akan menemukan bahwa bejana-bejana ini adalah bejana yang cocok bagi-Nya. Allah memi-liki emosi dan penampung-Nya juga memiliki emosi. Karena itu, di dalam penampung ini Allah memiliki tempat untuk menaruh, menyalurkan emosi-Nya. Dengan cara ini emosi manusia dan emosi ilahi menjadi satu. Emosi ilahi adalah isinya, dan emosi manusia adalah penampung dan ekspresinya.

Meskipun wahyu ini ada di dalam Alkitab, tetapi tidak banyak orang yang telah melihatnya. Kita memuji Tuhan bahwa di dalam pemulihan-Nya, wahyu ini telah sangat jelas. Tidak ada lagi yang tertutup terhadap fakta bahwa manusia adalah satu bejana untuk menampung Allah dan bahwa Allah akan merasa nyaman di dalam bejana yang ajaib ini. Jika kita melihat hal ini, kita akan dapat memahami subyek dari berita ini: Bukan hayat yang menggantikan, melainkan hayat yang diokulasikan.

PENYALURAN, BUKAN PENGGANTIAN

Kita telah melihat bahwa ketika hayat ilahi masuk ke dalam hayat manusia, hayat ilahi ini menjadi isi dan hayat manusia menjadi bejana penampung dan ekspresinya. Teta-pi tidak ada penggantian atau pertukaran hayat. Ini berarti kita bukan mengganti hayat insani dengan hayat ilahi. Bu-kannya menggantikan, melainkan ada penyaluran. Sarung tangan yang kosong itu diisi dengan tangan. Dengan mema-kai contoh lainnya, kita dapat mengatakan bahwa manusia itu ibarat “ban” yang perlu diisi dengan udara. Udara itu disalurkan ke dalam ban itu dan memenuhinya, tetapi uda-ra itu tidak menggantikan ban itu. Demikian juga, udara ilahi, yaitu pneuma ilahi, disalurkan ke dalam kita, tetapi ini bukanlah mengganti hayat insani kita. Sebaliknya se-perti yang akan kita lihat, hayat ini disalurkan ke dalam kita dan berbaur dengan kita.

Beberapa guru Kristen menganggap hayat orang Kristen adalah hayat yang menggantikan. Menurut konsepsi ini, hayat kita itu rendah dan hayat Kristus itu unggul. Karena itu Tuhan menyuruh kita mengesampingkan hayat kita un-tuk digantikan oleh-Nya. Kita memberikan hayat kita ke-pada-Nya, dan Dia menggantinya dengan hayat-Nya sendiri. Namun, hayat kristiani kita bukanlah hayat yang diganti-kan. Ini mutlak adalah perkara hayat ilahi disalurkan, di-infuskan, ke dalam hayat insani kita. Inilah konsepsi dasar dalam Kitab Suci.

BEJANA KEHORMATAN DAN KEMULIAAN

Dalam Kitab Roma, Paulus memakai tiga ilustrasi un-tuk memperlihatkan penyaluran hayat ilahi ini ke dalam kita. Di dalam setiap ilustrasi itu kita melihat bahwa hayat orang Kristen itu bukanlah hayat yang digantikan. Ilustrasi yang pertama adalah tentang bejana. Bila sesuatu ditem-patkan ke dalam satu bejana, maka tidak akan terjadi su-atu penggantian. Sebaliknya, ada satu penyaluran isi ke dalam bejana itu. Bejana itu mungkin bumiah, sama sekali tidak terhormat (berharga) atau mulia. Tetapi ketika isi yang demikian itu disalurkan ke dalam bejana tanah liat ini, maka bejana itu akan menjadi satu bejana yang terhormat, satu bejana kemuliaan. Ini bukanlah penggantian; ini ada-lah penyaluran.

KESATUAN HAYAT

Ilustrasi Paulus yang kedua adalah tentang kehidupan pernikahan. Pernikahan bukanlah penggantian hayat, me-lainkan kesatuan hayat. Dalam pernikahan, suami menjadi persona (pribadi) istri. Karena alasan ini, maka istri meng-ambil nama suaminya sebagai namanya sendiri.

Dalam pesta pernikahan di seluruh dunia, mempelai perempuan selalu bertudung. Ini menunjukkan bahwa da-lam kesatuan pernikahan itu hanya ada satu kepala. Jadi, pernikahan adalah kesatuan dua persona di bawah satu ke-pala. Di dalam kesatuan yang demikian ini tidak ada per-tukaran atau penggantian, melainkan kesatuan. Di dalam perpaduan ini, kesatuan ini, istri menjadi satu dengan su-aminya, dan suami menjadi satu dengan istrinya. Ini ada-lah kesatuan hayat, bukan penggantian hayat.

Dalam Roma 7:4, Paulus membicarakan bahwa kita di-nikahkan kepada Kristus: “Sebab itu, Saudara-saudaraku, kamu juga telah mati terhadap hukum Taurat melalui tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah.” Kristus adalah Suami kita dan kita adalah mempelai perempuan-Nya. Di antara Mempelai Laki-laki dan mempelai perempuan ini tidak ada penggantian hayat. Sebaliknya, ada satu kesatuan yang aja-ib. Kita menjadi satu dengan Dia dalam persona, nama, ha-yat, dan di dalam keberadaan. Jika seorang laki-laki dan istrinya ingin memiliki pernikahan yang tepat, mereka ha-rus belajar untuk menjadi satu. Demikian juga, hayat kris-tiani kita adalah satu hayat kesatuan dengan Kristus dan keesaan dengan-Nya.

OKULASI

Karena ilustrasi bejana maupun kehidupan pernikahan belum menggambarkan sesuatu yang organik yang berhubungan dengan penyaluran Allah, maka Paulus melanjutkan dengan memakai ilustrasi yang ketiga — okulasi (LAI: pencangkokan) sebuah pohon kepada pohon lainnya. Dalam Roma 11:17-24, Paulus memakai ilustrasi ranting dari po-hon zaitun liar yang diokulasikan (Tl.) ke pohon zaitun ga-rapan. Akibat dari okulasi ini, ranting-ranting dari pohon zaitun liar dan pohon zaitun garapan itu bertumbuh bersa-ma secara organik. Setiap pohon memiliki hayatnya sendiri, tetapi sekarang hayat ini bertumbuh bersama secara orga-nik dan memiliki satu hasil.

Seorang ahli bedah tentu tahu apa yang disebut pen-cangkokan kulit. Dalam prosedur ini, kulit yang sehat di-transplantasikan dari satu bagian tubuh pasien kepada bagi-an tubuh lainnya yang terluka atau terbakar untuk mem-bentuk kulit yang baru. Setelah pencangkokan ini selesai, maka kulit yang ditransplantasikan itu akan bertumbuh se-cara organik dengan jaringan yang kepadanya kulit itu telah dicangkokkan. Pencangkokan ini bisa dilakukan karena baik kulit maupun jaringan itu memiliki hayat. Unsur organik di dalam hayat membuat mereka bertumbuh bersama.

Dalam Surat Roma, Paulus memakai ilustrasi bejana, kehidupan pernikahan, dan pencangkokan. Ilustrasi bejana memperlihatkan bahwa kita adalah wadah Allah dengan Allah sebagai isi kita. Ilustrasi pernikahan memperlihatkan bahwa seorang laki-laki dan seorang perempuan dengan pikiran, emosi, tekad, kepribadian, karakter, dan watak yang berbe-da dapat digabungkan untuk membentuk satu unit. Ilustrasi pencangkokan memperlihatkan bahwa dua kehidupan disatu-kan dan kemudian bertumbuh bersama secara organik.

Ada satu bait dari sebuah kidung yang ditulis oleh A. B. Simpson (Hymns, #482) yang membicarakan tentang okulasi ini:

This the secret nature hideth,

Harvest grows from buried grain;

A poor tree with better grafted,

Richer, sweeter life doth gain.

Terjemahan bebasnya:

Inilah rahasia alam,

Tuaian tumbuh dari benih yang ditanam,

Pohon yang jelek (miskin) diokulasi

dengan pohon yang baik (kaya),

Menghasilkan hayat yang lebih kaya dan manis.

(Kidung No. 365 Yasperin. 1998:435)

Tidak diragukan lagi, ketika A. B. Simpson menulis kidung ini, ia memikirkan Roma 11. Saya tidak percaya bahwa A. B Simpson akan mengajar bahwa hayat orang Kristen adalah satu hayat yang digantikan. Menurut kidung ini, ia sadar bahwa ini adalah satu hayat yang diokulasikan, satu hayat di dalam dua bagian yang disatukan untuk bertumbuh secara organik.

OKULASI DARI HAYAT YANG SERUPA

Agar satu jenis hayat dapat diokulasikan kepada hayat lainnya, maka dua hayat itu haruslah sangat serupa. Misal-nya, mengokulasi sebuah ranting pohon pepaya ke pohon persik itu tidak mungkin. Namun, mengokulasi beberapa ranting dari pohon persik yang lemah kepada pohon persik yang sehat, yaitu pohon persik yang produktif, itu mungkin; karena hayat kedua pohon ini sangat serupa satu dengan yang lainnya. Kita dapat menerapkan prinsip ini kepada penyaluran hayat ilahi ke dalam manusia. Hayat ilahi tidak dapat diokulasikan kepada hayat anjing, karena tidak ada kesamaan di antara kedua macam hayat ini. Tetapi karena hayat manusia kita diciptakan menurut gambar Allah dan rupa-Nya, maka hayat manusia dapat disatukan dengan ha-yat ilahi. Meskipun hayat manusia kita itu bukanlah hayat ilahi, tetapi ia serupa dengan hayat ilahi. Karena itu, kedua hayat ini dapat diokulasikan bersama-sama dan kemudian bertumbuh bersama secara organik.

Dalam syair dari kidung yang ditulis oleh A. B. Simpson itu, pohon yang miskin diokulasikan kepada pohon yang lebih baik untuk mendapatkan hayat yang lebih kaya dan lebih manis. Hayat dari pohon yang miskin itu tidak sirna, malahan hayat itu bertumbuh bersama sebagai satu unit bersama hayat yang kaya dan manis dari pohon itu. Sekali lagi kita melihat bahwa ini bukanlah penggantian hayat, me-lainkan pengokulasian hayat.

DIPERTINGGI MELALUI OKULASI

Lagi pula, menurut hukum alam yang ditentukan oleh Allah, bukanlah hayat yang miskin yang mempengaruhi ha-yat yang kaya, melainkan hayat yang lebih kaya yang akan mempengaruhi hayat yang miskin. Sebenarnya, hayat yang kaya ini akan menelan semua kekurangan hayat yang mis-kin dan mengubah (mentransformasi) hayat yang miskin ini. Sama prinsipnya, ketika kita diokulasikan ke dalam Kristus, maka Kristus akan menelan semua kekurangan kita, tetapi Dia tidak memusnahkan hayat kita. Sebaliknya, sewaktu Dia menelan semua kekurangan kita, Dia juga mempertinggi keinsanian kita. Dia mempertinggi pikiran, tekad, emosi, dan semua kebajikan kita.

MENYALURKAN, BERBAUR, DAN TINGGAL

Dalam Yohanes 14:20, Tuhan Yesus berkata, “Pada wak-tu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” “Waktu itu” yang dibicarakan di sini adalah hari kebangkitan Kristus. Dalam ayat ini, Tuhan mengatakan bahwa pada hari ke-bangkitan-Nya, murid-murid-Nya akan tahu bahwa Dia ada di dalam Bapa, mereka ada di dalam Dia, dan Dia ada di dalam mereka. Ini bukanlah penggantian dari satu hayat terhadap yang lainnya — ini adalah satu perbauran hayat. Tuhan ada di dalam kita dan kita ada di dalam Dia. Ini adalah perbauran yang berasal dari penyaluran, infusi hayat Allah Tritunggal ke dalam kita.

Perbauran yang dibicarakan dalam Yohanes 14:20 ini seperti perbauran antara minyak zaitun dengan tepung yang halus dalam kurban sajian (Im. 2). Tepung halus ada dalam minyak itu, dan minyak itu ada dalam tepung halus itu. Ini adalah perbauran.

Perbauran ini menghasilkan saling tinggal. Karena itu, dalam Yohanes 15:4, Tuhan Yesus berkata, “Tinggallah di da-lam Aku dan Aku di dalam kamu.” Saling tinggal antara ki-ta di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam kita ini adalah apa yang kita maksud dengan hayat yang berbaur. Selain itu, hayat yang berbaur ini adalah hayat yang diokulasikan.

SATU HAYAT, SATU KEHIDUPAN

Yohanes 6:57 mengatakan, “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Di sini Tuhan mengatakan bahwa Dia hidup karena Bapa. Perkataan ini menunjukkan bahwa ada dua Persona yang hidup oleh satu hayat dan hanya memiliki satu kehidupan. Putra dan Bapa adalah dua, tetapi Mereka tidak menempuh dua kehidupan, atau memiliki dua kehidupan. Mereka me-miliki satu hayat dengan satu kehidupan. Putra hidup ber-dasarkan Bapa, dan Bapa hidup melalui Putra. Dalam ayat ini, Tuhan juga mengatakan bahwa siapa saja yang makan Dia akan hidup oleh Dia. Ini menunjukkan bahwa sebagai-mana Putra dan Bapa adalah dua Persona dengan satu ha-yat dan satu kehidupan, demikian juga kita dan Putra ha-rus memiliki satu hayat dengan satu kehidupan. Sekali lagi kita melihat bahwa ini adalah hayat yang diokulasikan, bukan hayat yang menggantikan.

Dalam Galatia 2:20, Paulus membicarakan tentang pengalaman kristianinya sendiri. Dalam ayat ini, Paulus mengatakan bahwa ia telah disalibkan bersama Kristus dan bahwa Kristus sekarang hidup di dalam dia. Sekali lagi ki-ta melihat ada dua persona, Kristus dan Paulus, dengan sa-tu hayat dan satu kehidupan.

MENELAN SEMUA KELEMAHAN DAN KEKURANGAN KITA

Kita telah menunjukkan bahwa hayat yang lebih unggul akan menelan kelemahan dan kekurangan dari hayat yang lebih rendah. Ini berarti hayat ilahi akan menelan ke-lemahan dan kekurangan dari hayat insani kita. Ini di-mungkinkan karena di dalam hayat Kristus ada kuasa pembunuhan penyaliban-Nya. Ingatlah, hayat Kristus telah melalui proses inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Sekarang hayat-Nya telah mencakup semua unsur ini. Kita dapat memakai antibiotik sebagai satu ilustrasi dari hal ini. Sebagaimana antibiotik membunuh kuman-kuman penyakit, demikian juga unsur yang membu-nuh dari hayat Kristus ini mengakhiri hal-hal negatif di dalam kita.

Kita mungkin lebih suka menyerahkan hayat insani kita dan menggantinya dengan hayat Kristus. Kita mung-kin merasa hayat kita itu penuh dengan “kuman-kuman” dan karena itu ingin menggantikannya dengan hayat ilahi. Mungkin inilah cara kita, tetapi ini bukanlah cara Allah dalam ekonomi-Nya. Cara-Nya adalah hayat Kristus mene-lan semua kelemahan, kekurangan, dan “kuman-kuman” di dalam kita. Semakin kita memberi tahu Tuhan Yesus bah-wa kita mengasihi-Nya dan bahwa kita ingin menjadi satu dengan-Nya, kita akan semakin mengalami kuasa pembu-nuhan di dalam antibiotik rohani ini.

Semua unsur yang kita perlukan itu tersedia di dalam hayat Kristus. Di dalam hayat-Nya ada unsur yang mem-bunuh dan unsur yang merawat. Anda mungkin putus asa terhadap sifat Anda. Tetapi hayat Kristus akan membunuh unsur negatif di dalam sifat Anda dan kemudian, bukannya melenyapkan sifat Anda, Dia malah mempertinggi dan memakainya.

PRINSIP INKARNASI

Dalam apa yang disebut “bernubuat”, banyak orang di dalam denominasi Pantekosta atau di dalam pergerakan karismatik gemar meniru para nabi Perjanjian Lama dengan berkata, “Demikianlah firman Tuhan.” Meskipun ekspresi ini dipakai oleh para nabi Perjanjian Lama, tetapi tidak dipakai oleh para penulis Perjanjian Baru. Paulus me-nulis banyak Surat Kiriman, tetapi pada akhir surat itu ia tidak mengatakan, “Demikianlah firman Tuhan.” Melainkan ia berkata, “Anugerah menyertai kamu.” “Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus menyertai rohmu.” atau hanya, “Tuhan Yesus Kristus menyertai rohmu.” Perbedaan ini sangat ber-makna. Dalam zaman Perjanjian Lama, inkarnasi Kristus itu belum terjadi. Inkarnasi adalah perkara Allah datang ke dalam manusia dan menjadi satu dengan manusia. Di da-lam kelahiran Yesus, Allah menggenapkan inkarnasi diri-Nya di dalam manusia. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, kita yang percaya kepada Kristus dapat mengambil bagian dalam prinsip inkarnasi ini. Ini berarti melalui ke-lahiran kembali, Kristus lahir ke dalam diri kita dan men-jadi satu dengan kita. Seperti yang dikatakan Paulus dalam 1 Korintus 6:17, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Ini berarti, asal kita telah dilahirkan kembali, kita adalah satu de-ngan Tuhan. Sekarang kita semua memiliki dasar untuk mengumumkan bahwa kita menjadi satu dengan Kristus. Pada hari kita percaya, kita bukan hanya telah disela-matkan, tetapi juga telah menikah dengan Kristus di dalam roh, dan terjadi kesatuan antara kita dengan Dia. Begitu kita terus-menerus mengontaki Dia, maka unsur hayat ilahi yang unggul ini akan menelan unsur yang lemah dari hayat insani kita. Demikian, apa yang kita katakan dan la-kukan secara spontan juga adalah perkataan dan perbuatan Kristus. Karena itu, kita tidak perlu memakai pernyataan, “Demikianlah firman Tuhan.” Karena kita telah diokulasi-kan ke dalam Kristus dan hidup dalam keesaan dengan Dia, maka secara spontan pembicaraan kita adalah pembicara-an-Nya.

1Korintus 7 menggambarkan hal ini. Ayat 25 me-ngatakan, “Sekarang tentang orang-orang yang belum ka-win. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat Allah.” Paulus tidak memiliki perintah Tuhan mengenai perkara ini, tetapi ia berbicara sebagai seorang yang mengasihi Tuhan dan mem-perhidupkan Tuhan secara riil. Kemudian ia memberikan pendapatnya. Setelah melakukannya, ia berkata, “Lagi pula aku berpendapat bahwa aku juga mempunyai Roh Allah” (ayat 40). Hari ini, ketika kita membaca 1 Korintus 7, kita akan menerima semua pasal sebagai sabda Allah, sebagai ba-gian dari firman kudus Allah. Jadi, pembicaraan Paulus men-jadi sabda Allah karena Paulus menjadi satu dengan Tuhan. Menurut prinsip inkarnasi, Kristus telah berinkarnasi ke da-lam Paulus, dan Paulus bukan memperhidupkan hayat yang menggantikan, melainkan hayat yang diokulasikan. Hal ini membuatnya dapat berbicara dalam keesaan dengan Tuhan.

WAHYU ALLAH DAN PENGALAMAN KITA

Kiranya kita semua terkesan dengan fakta bahwa hayat orang kristen bukanlah perkara penggantian, melainkan perkara okulasi. Hayat yang lebih rendah, yaitu hayat insani kita, diokulasikan ke dalam hayat yang lebih tinggi, yaitu hayat ilahi. Hayat yang lebih tinggi ini akan menelan semua kelemahan dan kekurangan dari hayat yang lebih rendah. Bila hal ini terjadi, maka hayat yang lebih tinggi ini dengan spontan akan memperkaya, mempertinggi, dan mengubah hayat yang lebih rendah itu. Sungguh ajaib! Ini bukanlah doktrin atau pendapat kita; ini adalah wahyu ilahi dalam firman Allah. Selain itu, wahyu ini dapat ditopang oleh pengalaman kristiani kita. Karena itu, menurut wahyu Allah dan menurut pengalaman kita, kita dapat melihat bahwa hari ini sebagai orang-orang Kristen kita memiliki hayat ajaib yang telah diokulasikan.