← Daftar isi Roma (2) · bab 14/19

TRANSFORMASI DAN PENYERUPAAN OLEH HAYAT YANG DIOKULASIKAN (1)

Dalam beberapa berita di depan, kita telah melihat pe-nyaluran Allah Tritunggal dan perkara hayat yang diokula-sikan. Dalam berita ini, kita akan melihat fungsi dari hayat yang diokulasikan. Untuk melihat hal ini, kita perlu me-mohon Tuhan menyingkirkan semua selubung yang menu-tupi kita dari menerima pemahaman yang benar tentang kitab ini. Kita mungkin berkali-kali membaca Kitab Roma, tetapi kita mungkin tidak tahu bahwa kita ditutupi oleh se-lubung ini lapis demi lapis. Karena banyak pembaca kitab ini yang terselubung, maka mereka tidak dapat melihat penyaluran Allah Tritunggal, hayat yang diokulasi, bahkan tentang manusia tripartit dalam Roma 8. Karena itu, kita perlu disingkapkan dan kemudian datang kepada kitab ini seolah-olah kita belum pernah membacanya.

NASIB KITA

Hayat yang diokulasikan ini berhubungan dengan transformasi (pengubahan) dan penyerupaan kepada Kristus. Dalam Roma 12:2, Paulus membicarakan tentang pengubah-an: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, teta-pi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna.” Dunia, sistem setani ini, terdiri atas berbagai zaman, masing-masing dengan po-la dan modelnya tersendiri. Rancangan Iblis adalah ingin menyerupakan dunia ini dengan zaman ini. Meskipun di as-pek negatif Paulus menyinggung sasaran penyerupaan Iblis, tetapi di sini ia tidak membicarakan sasaran pengubahan ini. Paulus hanya menasihatkan kita untuk diubah melalui pembaruan pikiran.

Sasaran penyerupaan ini ada dalam Roma 8. Ayat 29 mengatakan, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari se-mula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk men-jadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Sebagai orang-orang yang telah dipanggil dan yang telah dibenarkan, nasib kita telah ditentukan oleh Allah sejak di-ni. Sebelum dasar dunia diletakkan, Allah telah menentu-kan kita untuk diserupakan dengan gambar Putra-Nya. Ini berarti diserupakan dengan Kristus adalah nasib kita dan ju-ga adalah tujuan kita. Tahukah Anda ke manakah kita akan pergi? Tujuan kita adalah gambar Putra Allah. Nasib kita bukanlah surga, melainkan diserupakan dengan gambar Putra Allah.

HAYAT YANG DIOKULASIKAN

Jika kita ingin memahami makna transformasi (pengubahan) dan penyerupaan ini, kita perlu menyadari bahwa Kitab Roma membicarakan tentang satu macam hayat — hayat yang diokulasikan. Hayat yang diokulasikan ini ada-lah hayat perbauran, satu hayat yang merupakan hasil dari perbauran dua hayat. Dalam Roma 11:24, Paulus membica-rakan tentang pengokulasian dua pohon zaitun, bukan dua pohon yang berbeda. Jadi, okulasi dalam Kitab Roma adalah di antara dua pohon dari rumpun yang sama. Perbedaannya adalah bahwa yang satu adalah pohon zaitun garapan dan yang lainnya adalah pohon zaitun liar.

Dalam Roma 5, Paulus mulai membicarakan tentang hayat. Dalam ayat 10, ia mengatakan bahwa kita akan di-selamatkan di dalam hayat Kristus. Selain itu, menurut Roma 5:17, kita akan berkuasa dalam hayat. Dalam Roma 6:4, Paulus membicarakan tentang berjalan dalam kebaruan ha-yat. Dalam pasal 8, ia menyinggung tentang Roh hayat di dalam Kristus Yesus (ayat 2). Ia melanjutkan mengatakan bahwa roh kita adalah hayat (ayat 10), meletakkan pikiran di atas roh adalah hayat (ayat 6), dan Roh Dia yang mem-bangkitkan Yesus dari antara orang mati ingin memberi-kan hayat ke dalam tubuh fana kita (ayat 11). Hayat yang dibicarakan dalam ayat-ayat ini adalah hayat yang dioku-lasikan.

OKULASI DARI HAYAT YANG SERUPA

Kita telah menunjukkan bahwa hayat yang diokulasikan ini adalah hayat perbauran. Okulasi ini dapat menjadi efektif hanya bila hayat yang akan diokulasikan ini serupa. Ada suatu keserupaan antara hayat manusia dengan hayat ilahi yang dibuktikan oleh fakta bahwa manusia diciptakan di dalam gambar Allah dan menurut rupa-Nya (Kej. 1:26). Allah sengaja melakukan ini supaya hayat manusia menjadi serupa dengan hayat ilahi. Sekali lagi kita akan memakai sarung tangan sebagai satu ilustrasi. Dalam bentuk, rupa, dan fungsinya, sarung tangan itu sama dengan tangan. Ji-ka tidak, tangan tidak dapat masuk ke dalam sarung tangan itu. Kita semua adalah “sarung tangan” yang dijadikan menurut rupa ilahi. Betapa kita perlu menyembah Allah karena menciptakan kita dalam gambar-Nya dan menurut rupa-Nya. Puji Dia, karena membuat kita menjadi bejana untuk menampung Dia! Allah menciptakan kita dengan maksud supaya Dia dapat menaruh Putra-Nya ke dalam kita.

Karena hayat manusia dan hayat ilahi itu serupa, ma-ka kedua hayat itu bisa ditaruh bersama-sama. Ini berarti hayat ilahi dan hayat manusia itu dapat “dijodohkan”. Pada hari kita diselamatkan, kita menikah dengan Kristus (Rm. 7:4). Jadi, menjadi seorang Kristen bukanlah perkara kese-lamatan atau kelahiran kembali saja, melainkan juga per-kara menikah dengan Kristus. Hayat dalam Roma 8 adalah hayat yang diokulasikan, perbauran dari dua hayat yang berbeda namun serupa. Pengubahan dan penyerupaan ini adalah oleh hayat yang diokulasikan. Melalui lebih dari li-ma puluh tahun saya menjadi orang Kristen, saya telah bel-ajar bahwa hayat yang akan mengubah dan menyerupakan saya kepada gambar Putra Allah ini adalah hayat yang diokulasikan.

BERSYARAT UNTUK MASUK KE DALAM KITA

Sejak Allah menciptakan kita dalam gambar-Nya dan menurut rupa-Nya, kita pun siap untuk menerima Dia ke dalam kita sebagai hayat. Kita memiliki roh untuk menerima Dia dan jiwa untuk mengekspresikan Dia. Meskipun kita siap, Allah belum siap. Dia belum bersyarat untuk masuk ke dalam manusia. Agar bersyarat untuk hal ini, Dia harus mengenakan keinsanian; yaitu, Dia harus berinkarnasi. Dalam zaman Perjanjian Lama, Allah dapat datang kepada para nabi, tetapi Dia tidak dapat masuk ke dalam mereka. Hari ini banyak orang Kristen hanya mengenal bagaimana Allah datang kepada orang-orang, tetapi tidak tahu bagaimana Dia akan masuk ke dalam mereka. Dalam satu aspek, mereka sama dengan kaum beriman Perjanjian Lama.

Perjanjian Baru mewahyukan bahwa melalui inkarnasi Kristus, Allah masuk ke dalam keinsanian. Dia masuk ke dalam manusia melalui pintu yang sempit, lahir dari se-orang dara di palungan di Betlehem. Selama tiga puluh ta-hun Dia hidup di rumah seorang tukang kayu. Pada satu hari, Dia keluar untuk memulai ministri-Nya. Tidak ada seorang pun yang mengenal bahwa orang ini adalah Allah itu sendiri. Kelihatannya Dia tidak memiliki apa-apa, tetapi ketika Dia mengontaki beberapa nelayan muda di Galilea, Dia berkata, “Ikutlah Aku,” dan mereka mengikut Dia. Dia memiliki daya tarik yang begitu kuat, sehingga para peng-ikut-Nya bisa mengesampingkan diri mereka sendiri karena mengasihi Dia. Mereka tertarik kepada-Nya, karena ada su-atu daya tarik magnet pada-Nya. Mereka memiliki waktu yang ajaib selama tiga setengah tahun dengan-Nya. Namun, pada satu hari, Dia tiba-tiba memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan pergi untuk meninggalkan mereka melalui disalibkan. Perkataan ini sangat menggelisahkan murid-murid, khususnya Petrus. Kemudian Tuhan memberi tahu mereka bahwa adalah lebih baik bagi mereka jika Dia pergi. Jika tidak, Roh realitas tidak dapat datang untuk tinggal di dalam mereka (Yoh. 16:7). Sampai waktu itu, Tuhan hanya berada di antara mereka; Dia belum masuk ke dalam mereka. Setelah kebangkitan-Nya, Dia dapat ting-gal di dalam mereka, dan mereka dapat tinggal di dalam Dia (Yoh. 14:20). Meskipun demikian, Petrus dan murid-murid lainnya mungkin lebih suka memiliki Tuhan tetap bersama di antara mereka daripada Dia pergi supaya dalam kebangkitan Dia dapat masuk ke dalam mereka.

Ketika saya masih muda, saya sering berharap bahwa saya dapat hidup ketika Tuhan Yesus ada di bumi. Saya berharap agar saya dalam daging dapat melihat-Nya, men-dengar-Nya, dan menjamah-Nya. Saya bahkan menggerutu kepada Tuhan tentang hal ini dan bertanya kepada-Nya mengapa Dia tidak membuat saya hidup selama waktu-Nya di bumi supaya saya dapat secara fisik ada di hadirat-Nya. Saya tidak sadar bahwa adalah jauh lebih baik untuk me-miliki Kristus di dalam saya daripada hanya memiliki Dia menyertai saya. Anda lebih suka Tuhan secara fisik ada di antara Anda atau di dalam Anda sebagai Roh itu? Dengan mulut Anda, Anda mungkin menyatakan bahwa Anda lebih suka memiliki Tuhan di dalam Anda, tetapi di dalam hati Anda, Anda mungkin lebih suka memiliki Dia menyertai Anda seperti Dia menyertai murid-murid. Jika Tuhan Yesus tiba-tiba muncul secara fisik, kita akan terkejut. Ini mem-buktikan bahwa kita lebih suka Kristus ada di antara kita daripada Kristus ada di dalam kita. Namun, jika Kristus masih ada di antara kita, maka hayat-Nya tidak akan da-pat diokulasikan bersama hayat kita, karena Dia tidak akan tinggal di dalam kita. Dia dapat memamerkan keajaiban-keajaiban di antara kita, tetapi kita tetap sama, tanpa ada perubahan. Kita dapat merangkul-Nya, tetapi kita tidak da-pat diokulasikan ke dalam Dia. Karena itu, agar kita dapat berbaur dengan Dia, Kristus lebih suka berada di dalam kita. Dia ingin agar kita tinggal di dalam Dia, supaya Dia dapat tinggal di dalam kita (Yoh. 15:4). Inilah perbauran yang menghasilkan hayat yang diokulasikan. Hayat inilah yang mengubah kita dan menyerupakan kita dengan gam-bar Kristus.

Agar bersyarat untuk masuk ke dalam kita, Kristus harus melalui inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, ke-bangkitan, dan kenaikan. Selain itu, sebagai Roh itu, Dia harus turun kepada kita. Kemudian kita hanya perlu ber-seru kepada-Nya dalam iman. Ketika kita berkata, “Oh Tuhan Yesus, aku percaya kepada-Mu,” maka hayat-Nya bersyarat untuk masuk ke dalam hayat kita yang telah dipersiapkan, dan dua hayat ini disatukan. Dengan cara ini hayat kita diokulasikan ke dalam hayat-Nya.

DUA HAYAT YANG RUMIT

Mungkin Anda telah menjadi seorang Kristen selama bertahun-tahun tanpa menyadari bahwa hayat orang Kris-ten adalah hayat yang diokulasikan, satu perbauran antara hayat ilahi dengan hayat insani. Hayat ilahi dan hayat insani itu rumit. Hayat ilahi ini sebenarnya adalah Kristus sendiri. Sebagai Allah, Kristus adalah Sang pencipta segala sesuatu. Pada satu hari, Dia berinkarnasi dan mengenakan sifat insani. Sungguh suatu misteri bahwa keilahian dan keinsanian dapat berbaur bersama sebagai satu unit! Setelah inkarnasi, Kristus melalui kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Semua unsur ini sekarang ter-cakup di dalam hayat ilahi ini. Hayat ini memiliki kuasa untuk membunuh semua hal negatif, juga memiliki kuasa kebangkitan untuk melahirkan kembali, menunaskan, men-transformasi, dan menyerupakan. Hayat yang rumit dan ajaib ini adalah hayat yang kita terima ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus.

Tetapi bagaimana dengan hayat insani yang dengannya hayat ilahi yang ajaib ini dibaurkan? Hayat kita yang ter-cipta ini telah jatuh, bobrok, gelap, duniawi, dan bahkan se-tani. Jadi, hayat ini penuh dengan unsur kejahatan, unsur yang negatif, dan unsur yang setani.

Yohanes 3:16 memberi tahu kita bahwa Allah menga-sihi dunia ini. Selama bertahun-tahun saya tidak dapat me-mahami mengapa Alkitab tidak mengatakan bahwa Allah mengasihi ras manusia. Di mata Allah, manusia yang telah jatuh ini telah menjadi dunia. Ini berarti manusia yang te-lah jatuh, bobrok, duniawi, dan setani ini adalah sistem Iblis. Sebelum kita diselamatkan, kita adalah bagian dari sistem ini. Sistem ini begitu jahat, namun Alkitab masih mengumumkan bahwa Allah mengasihi dunia ini. Alasan Allah mengasihi dunia ini adalah karena di dalamnya ada hayat yang diciptakan-Nya dalam gambar-Nya dan menurut rupa-Nya, untuk menampung diri-Nya sebagai hayat.

Baik hayat ilahi maupun hayat insani itu rumit. Hayat ilahi rumit dalam aspek positif, sedangkan hayat insani rumit dalam aspek negatif. Menurut ekonomi-Nya, Allah ingin mengokulasi hayat insani yang rumit di aspek negatif ini ke dalam hayat-Nya yang rumit di aspek positif. Ketika kita percaya ke dalam Putra Allah dan berseru kepada nama Tuhan, maka hayat yang rumit di aspek positif ini masuk ke dalam kita, dan hayat kita yang rumit di aspek negatif ini diokulasikan ke dalamnya.

DIAKHIRI, DIBANGKITKAN, DAN DITINGGIKAN

Dalam berita sebelumnya kita telah menunjukkan bah-wa menurut prinsip yang telah ditentukan oleh Allah, ha-yat yang lebih rendah tidak dapat menaklukkan hayat yang lebih tinggi, tetapi hayat yang lebih tinggi ini dapat mene-lan hal-hal negatif dari hayat yang lebih rendah. Hayat ilahi ini ibarat dosis obat yang almuhit. Yang tercakup di dalam dosis ini adalah kuasa pembunuhan penyaliban Kristus yang mematikan unsur-unsur negatif dari hayat insani kita. Selain itu, kuasa kebangkitan Kristus membangkitkan dan meninggikan semua unsur yang tepat di dalam hayat insa-ni kita, yaitu unsur yang diciptakan Allah dalam gambar-Nya dan menurut rupa-Nya. Allah menciptakan manusia dengan pikiran, emosi, dan tekad. Namun semua bagian dari diri kita ini telah menjadi bobrok karena kejatuhan. Ketika hayat ilahi masuk ke dalam kita, dan kita diokulasikan ke dalam hayat ini, maka kuasa pembunuhan yang terkan-dung di dalamnya mengakhiri kebobrokan dalam pikiran, emosi, dan tekad kita. Kemudian hayat ini membang-kitkan unsur-unsur yang semula diciptakan oleh Allah da-lam gambar-Nya dan menurut rupa-Nya bagi penggenapan tujuan-Nya. Hayat ilahi ini bukan menghapus apa yang telah diciptakan oleh Allah. Sebaliknya, membangkitkan hayat kita yang tercipta ini dan meninggikannya.

Para guru Alkitab mungkin mengatakan bahwa se-bagai orang-orang yang telah disalibkan bersama Kristus, kita harus menolak jiwa kita. Namun, semakin kita ber-usaha menolak jiwa, jiwa itu semakin ada bersama kita. Misalnya, setelah kita diselamatkan, emosi kita mungkin menjadi sangat lembut. Menurut pengalaman saya, semakin saya menyangkal jiwa saya beserta dengan pikiran, emosi, dan tekadnya, saya semakin menemukan bahwa pikiran sa-ya menjadi lebih tajam, emosi saya menjadi semakin aktif, dan tekad saya semakin kuat. Sebelum saya diselamatkan, saya itu seperti ubur-ubur, tetapi sekarang tekad saya sa-ngat kuat. Bagaimana kita dapat menjelaskan fenomena ini? Sudahkah pikiran, emosi, dan tekad kita disalibkan dan di-sangkal? Ya, memang sudah. Ingatlah, Alkitab bukan ha-nya mengatakan bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus, melainkan juga mengatakan bahwa kita telah di-bangkitkan bersama Kristus. Penyaliban dan penguburan itu bukanlah akhirnya. Begitu jiwa kita disalibkan dan dikubur, ia pun dibangkitkan, karena telah diokulasikan ke dalam hayat ilahi ini. Karena hayat ilahi dan hayat insani ini telah diokulasikan bersama-sama, maka kuasa pem-bunuhan di dalam hayat ilahi ini menyalibkan kita, dan kuasa kebangkitan di dalamnya meninggikan kita.

Tersalibnya kita bersama Kristus, telah digenapkan le-bih dari 1900 tahun, tetapi direalisasikan dan dialami hari ini melalui hayat ilahi di dalam kita. Sama halnya dengan kebangkitan. Khasiat penyaliban dan kuat kuasa kebang-kitan tercakup di dalam Roh pemberi-hayat yang almuhit ini. Setelah kita percaya kepada Tuhan Yesus dan dioku-lasikan ke dalam hayat-Nya yang almuhit, berbagai macam unsur dari hayat ini telah digarapkan ke dalam kita. Se-makin kita memberi tahu Tuhan Yesus bahwa kita me-ngasihi Dia, kita akan semakin mempersembahkan diri kita untuk diisi oleh-Nya, kita juga akan semakin meluangkan waktu dengan-Nya di dalam firman dan persekutuan, dan unsur hayat ilahi yang bekerja untuk mengakhiri kita dan membangkitkan kita juga akan semakin bertambah. Hal ini membuat pikiran kita menjadi sehat, emosi kita menjadi hangat, dan tekad kita menjadi kuat. Unsur yang bobrok dari hayat insani kita disalibkan dan dikubur, sedangkan unsur positif ditinggikan di dalam kebangkitan. Jadi, bukan lagi kita yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di da-lam kita (Gal. 2:20). Di sini kita melihat fungsi hayat yang diokulasikan. Fungsi hayat ini adalah membawa transfor-masi yang menghasilkan penyerupaan kepada Kristus. Bila kita mengalami penyaliban, penguburan, dan kebangkitan ini secara batiniah, kita akan ditransformasi dan diserupa-kan dengan gambar Kristus. Transformasi dan penyerupaan ini adalah hasil dari pekerjaan batiniah dari hayat yang diokulasikan.