← Daftar isi Roma (2) · bab 15/19

TRANSFORMASI DAN PENYERUPAAN OLEH HAYAT YANG DIOKULASIKAN (2)

Sebagai kaum beriman dalam Kristus, hubungan kita dengan Tuhan sepenuhnya adalah perkara hayat. Dimulai dengan Roma 5:10, Paulus banyak membicarakan tentang hayat. Dalam ayat ini, ia mengatakan bahwa “kita akan di-selamatkan di dalam hayat-Nya (Tl.)” dan dalam Roma 5:17, bahwa kita “akan berkuasa dalam hayat (Tl.).” Dalam Roma 6:4 ia berkata, “Demikian juga kita akan hidup dalam ke-baruan hayat (Tl.).” Dalam Roma 8:2, Paulus membicarakan tentang Roh hayat, dan dalam Roma 8:10, ia mengatakan bahwa roh “kita adalah hayat oleh karena kebenaran (Tl.).” Selain itu, meletakkan pikiran di atas roh adalah hayat (Rm. 8:6 Tl.), dan hayat ilahi ini akan diberikan ke dalam tubuh fana kita melalui Roh Dia yang membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati (Rm. 8:11).

SASARAN ALLAH

Melalui pertumbuhan dan fungsi hayat ilahi di dalam kita, Allah akan mencapai sasaran-Nya, yaitu menghasilkan banyak putra yang membentuk Tubuh Kristus untuk meng-ekspresikan Kristus. Hari ini Kristus, Putra Allah, bukan lagi hanya Putra tunggal, melainkan juga adalah yang su-lung di antara banyak saudara (8:29). Sebagai Putra su-lung, Dia adalah prototipe dan pola teladan dari keputraan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Akhirnya, se-mua putra Allah akan membentuk satu organisme yang hi-dup, yaitu Tubuh Kristus, untuk mengekspresikan Kristus.

Melalui ekspresi Kristus di dalam Tubuh ini, Bapa akan dimuliakan. Ini berhubungan dengan kebenaran dan pengu-dusan. Kebenaran adalah permulaan, dan pondasinya; pe-ngudusan adalah prosesnya; dan kemuliaan adalah pe-rampungannya. Proses yang olehnya kita dibawa masuk sepenuhnya ke dalam kemuliaan ini benar-benar adalah perkara transformasi (pengubahan) dalam hayat.

HAYAT MANUSIA DAN HAYAT ALLAH

Hayat yang olehnya kita diubah adalah hayat yang diokulasikan, perbauran dari hayat manusia dengan hayat Allah. Menurut kedaulatan Allah dalam penciptaan, hayat manusia ini serupa dengan hayat Allah, sama seperti sa-rung tangan yang serupa dengan tangan. Jika tidak ada tangan, sarung tangan itu tidak memiliki tujuan dan ti-dak berguna. Sama prinsipnya, jika tidak diisi oleh Allah, maka hayat manusia itu tidak memiliki tujuan dan tidak berguna. Hayat manusia diciptakan di dalam gambar hayat Allah dan menurut rupa hayat Allah dengan tujuan untuk menampung hayat Allah. Jika hayat manusia tidak diisi dengan hayat Allah, maka hayat manusia itu akan seperti sarung tangan yang kosong yang tidak memiliki tujuan. Tujuan hidup manusia adalah untuk menampung hayat Allah.

Hayat manusia itu sangat rumit. Bukan hanya diciptakan oleh Allah, tetapi juga telah jatuh, bobrok, bercampur dengan Iblis, dan hal-hal setani. Meskipun demikian, unsur yang baik yang diciptakan oleh Allah itu tetap ada. Karena itu, Allah masih mengasihi hayat manusia yang rumit ini.

Agar dapat diterima oleh hayat manusia, hayat Allah ini harus melalui proses yang mencakup inkarnasi, penyalib-an, kebangkitan, dan kenaikan. Melalui inkarnasi, Kristus mengenakan tubuh jasmani supaya Dia dapat mencucurkan darah-Nya bagi dosa-dosa kita di kayu salib. Di atas salib, Dia bukan hanya menggenapkan penebusan, melainkan juga mengakhiri semua hal negatif di alam semesta ini. Se-telah penyaliban dan penguburan, Dia masuk ke dalam ke-bangkitan dengan unsur ilahi-Nya dan kemudian dapat me-nunaskan, melahirkan kembali, dan mengubah kita. Selain itu, dalam kenaikan-Nya, Kristus telah ditinggikan, dimu-liakan, dimahkotai, dan telah diberikan jabatan Kepala, Tuhan, dan kerajaan. Sekarang hayat Allah ini sepenuhnya bersyarat dan siap untuk diterima oleh hayat manusia.

Pada hari kita menerima hayat Allah ke dalam kita, terjadilah “pernikahan” yang ajaib di dalam diri kita. Ini ada-lah pernikahan antara hayat manusia dengan hayat Allah. Melalui sarana pernikahan ini, kita telah menjadi orang-orang yang sangat istimewa. Inilah sebabnya dalam 1 Korintus 3, Paulus memberi tahu kita bahwa segala sesu-atu adalah milik kita. Langit adalah untuk bumi, dan bu-mi adalah untuk manusia. Kita yang memiliki hayat, yang dinikahkan dengan hayat Allah ini adalah pusatnya; titik penting dari alam semesta ini. Di dalam diri kita ini kita te-lah mengalami okulasi hayat manusia dengan hayat Allah. Perbauran dari dua hayat ini akan menghasilkan putra-putra yang tepat bagi penggenapan kehendak Allah. Melalui perbauran dan hayat yang diokulasikan ini, kita akan sepe-nuhnya ditransformasi dan diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah.

PROSES DAN SASARANNYA

Transformasi dan penyerupaan adalah dua kata yang bermakna. Keduanya adalah jendela yang melaluinya kita dapat melihat kedalaman-kedalaman wahyu yang ditunjuk-kan dalam Kitab Roma. Transformasi berhubungan dengan proses hayat, dan penyerupaan berhubungan dengan sasar-an hayat. Adalah penting bahwa kita semua memiliki pe-mahaman yang penuh tentang proses dan sasaran ini. Apa yang ingin saya bagikan mengenai hal ini adalah melihat hasil dari pengalaman kristiani saya selama lebih dari lima puluh tahun di dalam terang firman kudus Allah.

ROH MAJEMUK

Perjanjian Baru mengatakan dengan jelas bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus dan dibangkitkan bersa-ma-Nya (Rm. 6:6; Gal. 2:20; Ef. 2:5-6; Kol. 3:1). Ketika mu-da, saya berusaha menggambarkan bagaimana saya dapat disalibkan bersama Kristus dan dikubur bersama-Nya pada waktu penyaliban dan penguburan-Nya terjadi lebih dari 1900 tahun yang lalu. Akhirnya saya membaca sebuah buku yang menunjukkan bahwa bagi Allah tidak ada unsur waktu. Kita terbatas oleh waktu, sedangkan Allah adalah kekal, tidak ada batasan dalam hal ini. Meskipun mema-hami hal ini sangat membantu saya, tetapi hal ini tidak berpengaruh riil pada hayat saya. Saya percaya bahwa saya telah disalibkan dan dibangkitkan bersama Kristus, tetapi saya merasa terganggu dan tidak puas dengan fakta bahwa tidak ada pengaruh yang riil di dalam hayat saya. Saya tidak dapat dipuaskan hanya dengan doktrin atau teori saja.

Kemudian, saya mulai melihat bahwa di dalam Roh pemberi-hayat ini ada banyak unsur. Dalam Keluaran 30, kita memiliki minyak urapan majemuk yang terdiri atas minyak zaitun, yang melambangkan Roh Kudus, yang diba-urkan dengan empat rempah-rempah. Rempah-rempah ini terutama melambangkan keisanian, kematian, dan kebang-kitan Kristus. Dalam zaman Perjanjian Lama, Roh itu be-lum melalui pembauran; Roh itu hanyalah Roh Allah saja, yang dilambangkan oleh minyak. Roh itu belum menjadi Roh urapan majemuk yang dihasilkan melalui penambahan rempah-rempah. Tetapi melalui proses inkarnasi, penyalib-an, dan kebangkitan Kristus, keinsanian, kematian, dan kebangkitan Kristus semuanya telah dibaurkan dengan Roh Allah. Karena itu, hari ini Roh Kudus adalah Roh maje-muk, minyak urapan majemuk dengan unsur keinsanian, kematian dan kebangkitan.

SATU DOSIS OBAT YANG ALMUHIT

Misalnya, Anda memiliki sebuah gelas dengan air yang jernih. Kemudian Anda menambahkan unsur-unsur yang bergizi kepada air itu hingga terbentuk menjadi satu minuman yang nikmat. Tidak mungkin kita meminum air itu tanpa meminum unsur-unsur itu. Kadang-kadang, seorang ibu mungkin menambahkan obat kepada minuman itu un-tuk anaknya yang sakit. Meskipun anak itu mungkin me-nolak meminum obatnya, tetapi anak itu akan meminum-nya karena obat itu adalah bagian dari minuman campuran itu. Dengan cara ini, obat yang ditambahkan ke dalam mi-numan yang manis rasanya itu, dapat masuk ke dalamnya dan dengan spontan akan bekerja di dalam dia.

Hari ini Roh pemberi-hayat adalah dosis “obat” ilahi yang almuhit yang mengandung berbagai unsur. Dosis ini sebenarnya adalah Allah Tritunggal itu sendiri yang telah melalui proses sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit. Di dalam Roh ini ada keilahian, keinsanian, inkarnasi Kristus, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Karena itu, bila kita berseru kepada nama Tuhan Yesus, Roh yang almuhit ini dengan semua unsurnya yang ajaib itu akan masuk ke dalam kita.

BERTUMBUH BERSAMA KRISTUS

Sekarang kita sampai kepada butir yang penting. Da-lam Roma 6:5 Paulus berkata, “Sebab jika kita telah men-jadi satu dengan (bertumbuh bersama dalam) apa yang sa-ma dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu de-ngan (bertumbuh bersama dalam) apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita telah bertumbuh bersama Dia dalam apa yang sama dengan kematian-Nya. Apa yang sama dengan kematian Kristus itu mengacu kepada baptisan. Selain itu, kita juga akan ber-tumbuh bersama dalam apa yang sama dengan kebang-kitan Kristus. Karena itu, Paulus mengatakan bahwa jika kita bertumbuh bersama Kristus dalam apa yang sama de-ngan kematian-Nya, kita juga akan bertumbuh bersama da-lam apa yang sama dengan kebangkitan-Nya, yaitu, di dalam kebaruan hayat yang disinggung dalam ayat sebelumnya.

Roma 6:5 mencakup dua tahap dari pertumbuhan kita dalam Kristus. Tahap pertama telah terjadi, sedangkan ta-hap kedua masih dalam proses. Di satu pihak, kita telah ber-tumbuh bersama Kristus, tetapi, di pihak lain, kita akan bertumbuh dalam apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Kita telah bertumbuh dalam baptisan, dan kita akan ber-tumbuh dalam kebaruan hayat.

Menurut Roma 6:5, Paulus menganggap baptisan itu sebagai satu tahap dari pertumbuhan kita dalam hayat. Namun, tidak banyak orang Kristen yang memandang baptisan itu berhubungan dengan pertumbuhan. Meskipun de-mikian, dibaptis adalah bertumbuh bersama Kristus. Menurut kata Yunani yang dipakai di sini, kita telah “bertumbuh bersama” Dia. Ini berarti sewaktu kita dibaptis, kita ber-tumbuh bersama Kristus. Untuk memahami transformasi oleh hayat yang diokulasikan ini, adalah penting bila kita memegang butir ini. Setelah baptisan kita terpenuhi, kita bertumbuh bersama Kristus dalam apa yang sama dengan kematian-Nya.

Ketika kita bertobat, berseru kepada nama Tuhan Yesus, dan percaya kepada-Nya, maka hayat ilahi yang rumit dalam hal positif itu masuk ke dalam kita, dan ada suatu pernikahan, okulasi, antara hayat manusia dengan hayat Allah. Hayat yang diokulasikan ini segera mulai ber-tumbuh. Ini berarti, kita mulai bertumbuh bersama dalam hayat Kristiani kita dengan Kristus. Tidak hanya demikian, sewaktu kita dibaptis dalam air, kita selanjutnya bertum-buh bersama Dia. Baptisan adalah tanah yang paling baik untuk pertumbuhan rohani. Ketika kita ditempatkan ke dalam air, maka kita seperti benih yang ditanamkan ke da-lam tanah. Kemudian kita keluar dalam kebangkitan, bertumbuh bersama Kristus dalam baptisan. Baptisan yang demikian ini sesungguhnya bukan hanya liturgi atau for-malitas belaka.

Jika seorang beriman mengalami baptisan yang tepat, maka di dalamnya Roh ilahi akan mematikan manusia la-ma dengan unsur-unsur duniawi, dan unsur-unsur yang pe-nuh dengan dosa. Kemudian ia akan bangkit keluar dari air sebagai seorang yang baru. Dengan cara ini ia menem-puh tahap utama dari pertumbuhan dalam hayat. Sejak sa-at itu dan selanjutnya, orang beriman ini bertumbuh dalam Kristus dalam apa yang sama dengan kebangkitan-Nya, yaitu, hari demi hari ia akan berjalan dalam kebaruan ha-yat. Inilah pertumbuhan yang sesungguhnya, bukan hanya aktivitas yang di luar. Semakin seorang beriman bertum-buh, hayat ilahi akan semakin bekerja di dalam dia untuk menyalibkan dan membangkitkan dia. Melalui pertumbuh-an yang demikianlah kita akan mengalami penerapan pe-nyaliban kita bersama Kristus, yang telah digenapkan lebih dari 1900 tahun yang lalu. Penyaliban kita bersama Kristus itu bukan lagi hanya merupakan teori, doktrin, atau keper-cayaan yang tidak memiliki khasiat yang riil terhadap kehi-dupan kita saja. Sebaliknya, penyaliban ini diterapkan kepa-da kita dengan sepenuhnya. Karena itu, hari demi hari kita akan bertumbuh dalam apa yang sama dengan kebangkitan Kristus dan kita akan berjalan dalam kebaruan hayat.

KEHIDUPAN BAPTISAN

Kehidupan orang Kristen adalah suatu kehidupan bap-tisan. Di satu pihak, baptisan itu telah genap. Tetapi di pihak lain, baptisan itu terus berlanjut sampai kita ditrans-formasi (diubah) dan diserupakan sepenuhnya dengan gam-bar Kristus. Jadi, kita terus-menerus menempuh suatu ke-hidupan baptisan sampai sasaran ini tercapai. Ini berarti, setiap hari kita berada di bawah penerapan kematian Kristus, yang sekarang ini merupakan salah satu unsur di dalam Roh yang almuhit. Jika suami atau istri kita menyulitkan kita, pada saat itu juga kita dapat menerapkan kematian Kristus. Bukannya perang mulut, kita sebaliknya dapat mengalami bahwa unsur yang negatif di dalam kita itu dimatikan. Hal ini terjadi bukan oleh doktrin atau oleh praktek tertentu, melainkan oleh unsur yang membunuh di dalam kematian Kristus yang tercakup di dalam hayat ilahi yang almuhit.

ANTIBIOTIK SURGAWI

Hayat ilahi adalah antibiotik surgawi. Berdebat dengan suami atau istri kita berarti kita terserang “batuk”. Kapan saja kita perang mulut dengan suami atau istri kita, berar-ti kita sedang “batuk”. Kematian Kristus adalah satu-satu-nya antibiotik yang dapat memusnahkan kuman-kuman yang menyebabkan “batuk” ini.

Antibiotik surgawi ini bukan hanya menyalibkan kita, tetapi juga membangkitkan kita dan memperbarui fungsi-fungsi dalam pikiran, emosi, dan tekad kita. Kebangkitan dan pembaruan ini adalah pertumbuhan dan transformasi (pengubahan) yang sejati.

PROSES TRANSFORMASI

Proses transformasi ini organik dan metabolik. Trans-formasi ini organik karena berhubungan dengan hayat, dan metabolik karena berhubungan dengan proses yang di dalam-nya unsur-unsur yang lama disingkirkan dan unsur-unsur yang baru ditambahkan. Mengubah dengan merias wajah seseorang itu bukanlah organik ataupun metabolik. Tetapi mengubah warna wajah dengan makan makanan yang ber-gizi itu baru organik dan metabolik. Perubahan yang demi-kian dapat dianggap sebagai transformasi jasmani.

Jika kita ingin ditransformasi, kita perlu terus-mene-rus memandang kepada Tuhan, berdoa, membaca firman, dan berseru kepada nama Tuhan. Dengan cara ini, kita akan makan, minum, dan menghirup suplai Kristus yang kaya ke dalam kita. Suplai ini akan menghasilkan satu perubah-an metabolik yang di dalamnya, unsur yang lama, yaitu unsur-unsur yang negatif disingkirkan dan digantikan de-ngan yang baru, yaitu unsur-unsur yang positif. Perubahan metabolik ini adalah transformasi.

Dalam 2 Korintus 3:18, Paulus membicarakan tentang memandang dan memantulkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung dan ditransformasi ke dalam gambar-Nya oleh Tuhan Roh. Bila kita memandang kepada Kristus dan memantulkan Dia, maka kita akan ditransfor-masi ke dalam gambar-Nya dari kemuliaan kepada kemulia-an, yaitu, dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat kemulia-an lainnya. Ini adalah dari Tuhan Roh, Roh pemberi-hayat yang disinggung dalam ayat 6. Ayat 17 dengan jelas mengatakan bahwa Tuhan adalah Roh itu. Untuk menghasilkan hu-bungan di antara ayat 6 dan 17, maka Darby menempatkan ayat 7 sampai 16 dalam tanda kurung, sehingga menunjuk-kan bahwa ayat 17 adalah kelanjutan dari ayat 6. Jadi, Tuhan adalah Roh itu yang memberi hayat. Bila kita me-mandang dan memantulkan kemuliaan Tuhan, maka kita akan ditransformasi oleh Roh ini. Semakin kita meman-dang-Nya, kita akan semakin menerima suplai-Nya dan akan ditransformasi secara metabolik.

PERTUMBUHAN DAN PENGUDUSAN

Transformasi ini meliputi pertumbuhan dan pengudusan. Sewaktu kita ditransformasi, kita bertumbuh dan dikuduskan. Akhirnya, transformasi ini akan menghasilkan penyerupaan. Semakin kita ditransformasi, semakin kita akan diserupakan dengan gambar Kristus. Melalui proses transformasi dan penyerupaan ini, kita akan sepenuhnya dibawa masuk ke dalam keputraan ilahi untuk menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus. Seperti yang telah kita tunjukkan, memperoleh Tubuh yang demikian untuk mengekspresikan Kristus adalah sasaran dari tujuan kekal Allah.

Saya sungguh berbeban agar semua orang beriman dapat memiliki kenikmatan yang penuh terhadap hayat ilahi yang almuhit ini dan mengalami transformasi dan penyerupaan. Kita tidak perlu mengajarkan atau berusaha sendiri — kita perlu visi. Saya berdoa semoga Roh itu menerangi orang-orang beriman dan menyingkapkan perkara-perkara ini kepada mereka, supaya mereka dapat mengalaminya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Ketika kita melihat visi tentang transformasi dan penyerupaan oleh hayat yang diokulasikan ini, maka Roma 6:8 akan menjadi riil di dalam pengalaman praktis kita. Kematian kita bersama Kristus tidak akan menjadi fakta yang kita percayai saja, tetapi juga akan menjadi peng-alaman kita sehari-hari melalui pekerjaan hayat ilahi yang di dalam kita. Hayat ini akan mematikan kita dan mem-bangkitkan kita. Dengan cara ini kita akan bertumbuh, dikuduskan, dan ditransformasi.

EMPAT KARAKTERISTIK HAYAT

Setiap jenis hayat memiliki empat ciri-ciri dasar: esens hayat, kuasa hayat, hukum hayat, dan bentuk hayat. Se-tiap hayat memiliki esensnya sendiri. Meskipun esens dari satu hayat itu abstrak dan misterius, tetapi hayat itu sen-diri memiliki kekuatan secara substansial. Lihatlah benih anyelir. Setelah benih anyelir ditaburkan ke dalam tanah dan bertumbuh, anyelir ini akhirnya akan menembus per-mukaan tanah itu dan mulai bertumbuh secara kasat ma-ta. Setiap hayat juga memiliki hukumnya, yaitu prinsip yang mengendalikan fungsi dan perkembangannya.

Karena ada hukum hayat yang mengendalikannya, maka tanaman anyelir ini tidak akan menghasilkan bunga mawar, melainkan bunga anyelir. Kita tidak perlu berdoa tentang hal itu; hukum hayat di dalam tanaman anyelir ini akan berfungsi secara otomatis mengatur tanaman itu un-tuk berkembang. Selain itu, setiap hayat memiliki bentuk tertentu. Misalnya, apel Washington memiliki bentuk yang khas. Para petani tidak perlu mengajar pohon apel untuk menghasilkan buah dengan bentuk tertentu. Hayat yang ada di dalam apel itu akan dengan otomatis membentuk-nya. Hal ini berlaku bagi setiap jenis hayat.

DIBENTUK KE DALAM POLA PUTRA SULUNG

Penyerupaan menekankan pembentukan hayat. Sewak-tu hayat ilahi bertumbuh di dalam kita dan mentransfor-masi kita, hayat itu dengan spontan akan membentuk kita ke dalam pola, gambar, Putra sulung Allah. Banyak orang Kristen tidak melihat realitas ini, dan berusaha membentuk diri mereka sendiri ke dalam rupa Kristus. Usaha itu tidak akan pernah berhasil. Mengenai hal ini, hanya ada satu yang berhasil — hayat ilahi yang bertumbuh di dalam kita, menguduskan kita, mentransformasi kita, dan membentuk kita. Kita tidak perlu membentuk diri kita sendiri, melaku-kan atau bergumul untuk memperbaiki tingkah laku kita. Hayat ilahi ini memiliki esens, kekuatan, hukum, dan ben-tuknya. Sebagai orang-orang yang sedang menjalani proses transformasi ini, kita perlahan-lahan akan dibentuk ke dalam gambar Putra Allah oleh fungsi hayat ilahi yang al-muhit yang telah berbaur dengan hayat manusia kita. Karena itu, kita boleh tenang.

MEMBONGKAR UNSUR YANG NEGATIF

Sewaktu hayat ilahi ini bekerja di dalam kita untuk mentransformasi kita dan menyerupakan kita, hayat ini menyingkirkan unsur yang negatif di dalam kita. Karena alasan ini, kita tidak memerlukan orang lain untuk mem-betulkan kita. Hayat ilahi ini akan bekerja di dalam kita untuk membersihkan secara perlahan-lahan apa pun yang negatif atau alamiah.

MEMBANGKITKAN CIPTAAN ALLAH

Kedua, hayat ilahi ini membangkitkan kita. Tidak pe-duli betapa jatuhnya kita, kita tetap adalah ciptaan Allah. Apa pun yang diciptakan Allah adalah baik. Allah tidak akan melepaskan atau membuang ciptaan-Nya, melainkan akan memperolehnya kembali dan memulihkannya dengan kuat kuasa kebangkitan hayat ilahi. Sewaktu hayat ilahi ini menyingkirkan hal-hal yang negatif, hayat ini juga akan bekerja untuk membangkitkan ciptaan Allah yang semula. Allah menciptakan kita dengan pikiran, emosi, tekad, jiwa, hati, dan roh, dan Dia ingin membawa semua aspek dari diri kita ini ke dalam kebangkitan. Sebelum kita diselamat-kan, kita mungkin telah tumpul dalam pikiran kita, tidak seimbang dalam emosi kita, dan tidak normal dalam tekad kita. Tetapi semakin kita mengontaki Tuhan dan meng-alami Dia, pikiran kita akan semakin jelas dan jernih; emosi kita akan semakin seimbang; dan tekad kita akan semakin terkendali. Ini bukanlah karakter alamiah kita, melainkan karakter yang dibangkitkan. Puji Tuhan bahwa hayat ilahi di dalam kita akan membangkitkan setiap bagian diri kita yang diciptakan oleh Allah.

MENINGGIKAN KEGUNAAN KITA

Sewaktu hayat ilahi ini membangkitkan kegunaan kita, hayat ini juga meninggikannya ke tingkat yang paling tinggi. Ini akan menghasilkan satu karakter yang tinggi di dalam kita. Orang-orang Kristen tidak seharusnya memiliki karakter yang rendah. Di mana saja kita berada, kita harus memamerkan karakter yang tertinggi, karena kegunaan alamiah kita telah ditinggikan oleh hayat ilahi ini. Untuk mengalami hal ini dengan penuh, kita perlu setia mengontaki hayat ilahi di dalam kita. Jika kita mau setia melakukan hal ini, karakter kita akan ditinggikan.

MENYUPLAIKAN KEKAYAAN KRISTUS

Selain itu, sewaktu hayat ilahi ini menyingkirkan, mem-bangkitkan, dan meninggikan, hayat ini juga menyuplaikan kekayaan Kristus ke dalam bagian batiniah kita. Karena alasan ini, banyak orang yang mengasihi Tuhan menjadi peka mentalitasnya. Meskipun ada saudara-saudara atau saudari-saudari yang selalu menghadiri sidang-sidang gere-ja, tetapi mereka tetap adalah murid-murid yang menonjol di sekolah mereka; ini dikarenakan kegunaan-kegunaan me-reka yang telah dibangkitkan dan ditinggikan itu disuplai dengan kekayaan Kristus.

MENJENUHI SELURUH DIRI KITA

Terakhir, hayat ilahi ini masih akan menjenuhi seluruh diri kita. Penjenuhan ini jauh lebih baik daripada inspirasi Roh Kudus. Akhirnya, seluruh diri kita akan direndam dengan hayat ilahi. Hal ini akan membawa masuk transformasi. Kekayaan Kristus menjenuhi diri kita dan membuat satu perubahan metabolik yang sejati. Dengan penjenuhan hayat ilahi ini, kita akan diserupakan dengan gambar Kristus.

Hayat ilahi ini telah siap dan dapat melakukan pekerjaan yang demikian di dalam kita. Tetapi kita perlu melatih diri kita sendiri mengenai apa yang telah diperlihatkan Tuhan kepada kita ini. Kita perlu setia mengontaki Dia, berdoa kepada-Nya, membaca firman, dan menghirup Dia. Melakukan hal-hal ini berarti meletakkan pikiran kita di atas roh (8:6). Ketika pikiran kita diletakkan di atas roh, maka tidak ada bagian dari diri kita yang akan terpisah dari roh itu. Ini akan memberikan jalan bebas kepada ha-yat ilahi untuk menyingkirkan unsur yang negatif, agar mem bangkitkan, meninggikan, dan menyuplai kegunaan-kegunaan kita, dan untuk menjenuhi setiap bagian diri kita. Mengenai hal ini, kita perlu berdoa bagi diri kita sen-diri, bagi orang lain, juga bagi semua gereja lokal. Kiranya kita setia untuk menempuh hidup dan bertindak menurut apa yang telah kita lihat dalam berita-berita ini.