Berita Keenam Puluh Lima
TRANSFORMASI DAN PENYERUPAAN OLEH HAYAT YANG DIOKULASIKAN (2)
Sebagai kaum beriman dalam Kristus, hubungan kita dengan Tuhan sepenuhnya adalah perkara hayat. Dimulai dengan Roma 5:10, Paulus banyak membicarakan tentang hayat. Dalam ayat ini, ia mengatakan bahwa “kita akan diselamatkan di dalam hayat-Nya (Tl.)” dan dalam Roma 5:17, bahwa kita “akan berkuasa dalam hayat (Tl.).” Dalam Roma 6:4 ia berkata, “Demikian juga kita akan hidup dalam kebaruan hayat (Tl.).” Dalam Roma 8:2, Paulus membicarakan tentang Roh hayat, dan dalam Roma 8:10, ia mengatakan bahwa roh “kita adalah hayat oleh karena kebenaran (Tl.).” Selain itu, meletakkan pikiran di atas roh adalah hayat (Rm. 8:6 Tl.), dan hayat ilahi ini akan diberikan ke dalam tubuh fana kita melalui Roh Dia yang membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati (Rm. 8:11).
SASARAN ALLAH
Melalui pertumbuhan dan fungsi hayat ilahi di dalam kita, Allah akan mencapai sasaran-Nya, yaitu menghasilkan banyak putra yang membentuk Tubuh Kristus untuk mengekspresikan Kristus. Hari ini Kristus, Putra Allah, bukan lagi hanya Putra tunggal, melainkan juga adalah yang sulung di antara banyak saudara (8:29). Sebagai Putra sulung, Dia adalah prototipe dan pola teladan dari keputraan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Akhirnya, semua putra Allah akan membentuk satu organisme yang hidup, yaitu Tubuh Kristus, untuk mengekspresikan Kristus.
Melalui ekspresi Kristus di dalam Tubuh ini, Bapa akan dimuliakan. Ini berhubungan dengan kebenaran dan pengudusan. Kebenaran adalah permulaan, dan pondasinya; pengudusan adalah prosesnya; dan kemuliaan adalah perampungannya. Proses yang olehnya kita dibawa masuk sepenuhnya ke dalam kemuliaan ini benar-benar adalah perkara transformasi (pengubahan) dalam hayat.
HAYAT MANUSIA DAN HAYAT ALLAH
Hayat yang olehnya kita diubah adalah hayat yang diokulasikan, perbauran dari hayat manusia dengan hayat Allah. Menurut kedaulatan Allah dalam penciptaan, hayat manusia ini serupa dengan hayat Allah, sama seperti sarung tangan yang serupa dengan tangan. Jika tidak ada tangan, sarung tangan itu tidak memiliki tujuan dan tidak berguna. Sama prinsipnya, jika tidak diisi oleh Allah, maka hayat manusia itu tidak memiliki tujuan dan tidak berguna. Hayat manusia diciptakan di dalam gambar hayat Allah dan menurut rupa hayat Allah dengan tujuan untuk menampung hayat Allah. Jika hayat manusia tidak diisi dengan hayat Allah, maka hayat manusia itu akan seperti sarung tangan yang kosong yang tidak memiliki tujuan. Tujuan hidup manusia adalah untuk menampung hayat Allah.
Hayat manusia itu sangat rumit. Bukan hanya diciptakan oleh Allah, tetapi juga telah jatuh, bobrok, bercampur dengan Iblis, dan hal-hal setani. Meskipun demikian, unsur yang baik yang diciptakan oleh Allah itu tetap ada. Karena itu, Allah masih mengasihi hayat manusia yang rumit ini.
Agar dapat diterima oleh hayat manusia, hayat Allah ini harus melalui proses yang mencakup inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Melalui inkarnasi, Kristus mengenakan tubuh jasmani supaya Dia dapat mencucurkan darah-Nya bagi dosa-dosa kita di kayu salib. Di atas salib, Dia bukan hanya menggenapkan penebusan, melainkan juga mengakhiri semua hal negatif di alam semesta ini. Setelah penyaliban dan penguburan, Dia masuk ke dalam kebangkitan dengan unsur ilahi-Nya dan kemudian dapat menunaskan, melahirkan kembali, dan mengubah kita. Selain itu, dalam kenaikan-Nya, Kristus telah ditinggikan, dimuliakan, dimahkotai, dan telah diberikan jabatan Kepala, Tuhan, dan kerajaan. Sekarang hayat Allah ini sepenuhnya bersyarat dan siap untuk diterima oleh hayat manusia.
Pada hari kita menerima hayat Allah ke dalam kita, terjadilah “pernikahan” yang ajaib di dalam diri kita. Ini adalah pernikahan antara hayat manusia dengan hayat Allah. Melalui sarana pernikahan ini, kita telah menjadi orang-orang yang sangat istimewa. Inilah sebabnya dalam 1 Korintus 3, Paulus memberi tahu kita bahwa segala sesuatu adalah milik kita. Langit adalah untuk bumi, dan bumi adalah untuk manusia. Kita yang memiliki hayat, yang dinikahkan dengan hayat Allah ini adalah pusatnya; titik penting dari alam semesta ini. Di dalam diri kita ini kita telah mengalami okulasi hayat manusia dengan hayat Allah. Perbauran dari dua hayat ini akan menghasilkan putra-putra yang tepat bagi penggenapan kehendak Allah. Melalui perbauran dan hayat yang diokulasikan ini, kita akan sepenuhnya ditransformasi dan diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah.
PROSES DAN SASARANNYA
Transformasi dan penyerupaan adalah dua kata yang bermakna. Keduanya adalah jendela yang melaluinya kita dapat melihat kedalaman-kedalaman wahyu yang ditunjukkan dalam Kitab Roma. Transformasi berhubungan dengan proses hayat, dan penyerupaan berhubungan dengan sasaran hayat. Adalah penting bahwa kita semua memiliki pemahaman yang penuh tentang proses dan sasaran ini. Apa yang ingin saya bagikan mengenai hal ini adalah melihat hasil dari pengalaman kristiani saya selama lebih dari lima puluh tahun di dalam terang firman kudus Allah.
ROH MAJEMUK
Perjanjian Baru mengatakan dengan jelas bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus dan dibangkitkan bersama-Nya (Rm. 6:6; Gal. 2:20; Ef. 2:5-6; Kol. 3:1). Ketika muda, saya berusaha menggambarkan bagaimana saya dapat disalibkan bersama Kristus dan dikubur bersama-Nya pada waktu penyaliban dan penguburan-Nya terjadi lebih dari 1900 tahun yang lalu. Akhirnya saya membaca sebuah buku yang menunjukkan bahwa bagi Allah tidak ada unsur waktu. Kita terbatas oleh waktu, sedangkan Allah adalah kekal, tidak ada batasan dalam hal ini. Meskipun memahami hal ini sangat membantu saya, tetapi hal ini tidak berpengaruh riil pada hayat saya. Saya percaya bahwa saya telah disalibkan dan dibangkitkan bersama Kristus, tetapi saya merasa terganggu dan tidak puas dengan fakta bahwa tidak ada pengaruh yang riil di dalam hayat saya. Saya tidak dapat dipuaskan hanya dengan doktrin atau teori saja.
Kemudian, saya mulai melihat bahwa di dalam Roh pemberi-hayat ini ada banyak unsur. Dalam Keluaran 30, kita memiliki minyak urapan majemuk yang terdiri atas minyak zaitun, yang melambangkan Roh Kudus, yang dibaurkan dengan empat rempah-rempah. Rempah-rempah ini terutama melambangkan keisanian, kematian, dan kebangkitan Kristus. Dalam zaman Perjanjian Lama, Roh itu belum melalui pembauran; Roh itu hanyalah Roh Allah saja, yang dilambangkan oleh minyak. Roh itu belum menjadi Roh urapan majemuk yang dihasilkan melalui penambahan rempah-rempah. Tetapi melalui proses inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan Kristus, keinsanian, kematian, dan kebangkitan Kristus semuanya telah dibaurkan dengan Roh Allah. Karena itu, hari ini Roh Kudus adalah Roh majemuk, minyak urapan majemuk dengan unsur keinsanian, kematian dan kebangkitan.
SATU DOSIS OBAT YANG ALMUHIT
Misalnya, Anda memiliki sebuah gelas dengan air yang jernih. Kemudian Anda menambahkan unsur-unsur yang bergizi kepada air itu hingga terbentuk menjadi satu minuman yang nikmat. Tidak mungkin kita meminum air itu tanpa meminum unsur-unsur itu. Kadang-kadang, seorang ibu mungkin menambahkan obat kepada minuman itu untuk anaknya yang sakit. Meskipun anak itu mungkin menolak meminum obatnya, tetapi anak itu akan meminumnya karena obat itu adalah bagian dari minuman campuran itu. Dengan cara ini, obat yang ditambahkan ke dalam minuman yang manis rasanya itu, dapat masuk ke dalamnya dan dengan spontan akan bekerja di dalam dia.
Hari ini Roh pemberi-hayat adalah dosis “obat” ilahi yang almuhit yang mengandung berbagai unsur. Dosis ini sebenarnya adalah Allah Tritunggal itu sendiri yang telah melalui proses sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit. Di dalam Roh ini ada keilahian, keinsanian, inkarnasi Kristus, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Karena itu, bila kita berseru kepada nama Tuhan Yesus, Roh yang almuhit ini dengan semua unsurnya yang ajaib itu akan masuk ke dalam kita.
BERTUMBUH BERSAMA KRISTUS
Sekarang kita sampai kepada butir yang penting. Dalam Roma 6:5 Paulus berkata, “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan (bertumbuh bersama dalam) apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan (bertumbuh bersama dalam) apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita telah bertumbuh bersama Dia dalam apa yang sama dengan kematian-Nya. Apa yang sama dengan kematian Kristus itu mengacu kepada baptisan. Selain itu, kita juga akan bertumbuh bersama dalam apa yang sama dengan kebangkitan Kristus. Karena itu, Paulus mengatakan bahwa jika kita bertumbuh bersama Kristus dalam apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan bertumbuh bersama dalam apa yang sama dengan kebangkitan-Nya, yaitu, di dalam kebaruan hayat yang disinggung dalam ayat sebelumnya.
Roma 6:5 mencakup dua tahap dari pertumbuhan kita dalam Kristus. Tahap pertama telah terjadi, sedangkan tahap kedua masih dalam proses. Di satu pihak, kita telah bertumbuh bersama Kristus, tetapi, di pihak lain, kita akan bertumbuh dalam apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Kita telah bertumbuh dalam baptisan, dan kita akan bertumbuh dalam kebaruan hayat.
Menurut Roma 6:5, Paulus menganggap baptisan itu sebagai satu tahap dari pertumbuhan kita dalam hayat. Namun, tidak banyak orang Kristen yang memandang baptisan itu berhubungan dengan pertumbuhan. Meskipun demikian, dibaptis adalah bertumbuh bersama Kristus. Menurut kata Yunani yang dipakai di sini, kita telah “bertumbuh bersama” Dia. Ini berarti sewaktu kita dibaptis, kita bertumbuh bersama Kristus. Untuk memahami transformasi oleh hayat yang diokulasikan ini, adalah penting bila kita memegang butir ini. Setelah baptisan kita terpenuhi, kita bertumbuh bersama Kristus dalam apa yang sama dengan kematian-Nya.
Ketika kita bertobat, berseru kepada nama Tuhan Yesus, dan percaya kepada-Nya, maka hayat ilahi yang rumit dalam hal positif itu masuk ke dalam kita, dan ada suatu pernikahan, okulasi, antara hayat manusia dengan hayat Allah. Hayat yang diokulasikan ini segera mulai bertumbuh. Ini berarti, kita mulai bertumbuh bersama dalam hayat Kristiani kita dengan Kristus. Tidak hanya demikian, sewaktu kita dibaptis dalam air, kita selanjutnya bertumbuh bersama Dia. Baptisan adalah tanah yang paling baik untuk pertumbuhan rohani. Ketika kita ditempatkan ke dalam air, maka kita seperti benih yang ditanamkan ke dalam tanah. Kemudian kita keluar dalam kebangkitan, bertumbuh bersama Kristus dalam baptisan. Baptisan yang demikian ini sesungguhnya bukan hanya liturgi atau formalitas belaka.
Jika seorang beriman mengalami baptisan yang tepat, maka di dalamnya Roh ilahi akan mematikan manusia lama dengan unsur-unsur duniawi, dan unsur-unsur yang penuh dengan dosa. Kemudian ia akan bangkit keluar dari air sebagai seorang yang baru. Dengan cara ini ia menempuh tahap utama dari pertumbuhan dalam hayat. Sejak saat itu dan selanjutnya, orang beriman ini bertumbuh dalam Kristus dalam apa yang sama dengan kebangkitan-Nya, yaitu, hari demi hari ia akan berjalan dalam kebaruan hayat. Inilah pertumbuhan yang sesungguhnya, bukan hanya aktivitas yang di luar. Semakin seorang beriman bertumbuh, hayat ilahi akan semakin bekerja di dalam dia untuk menyalibkan dan membangkitkan dia. Melalui pertumbuhan yang demikianlah kita akan mengalami penerapan penyaliban kita bersama Kristus, yang telah digenapkan lebih dari 1900 tahun yang lalu. Penyaliban kita bersama Kristus itu bukan lagi hanya merupakan teori, doktrin, atau kepercayaan yang tidak memiliki khasiat yang riil terhadap kehidupan kita saja. Sebaliknya, penyaliban ini diterapkan kepada kita dengan sepenuhnya. Karena itu, hari demi hari kita akan bertumbuh dalam apa yang sama dengan kebangkitan Kristus dan kita akan berjalan dalam kebaruan hayat.
KEHIDUPAN BAPTISAN
Kehidupan orang Kristen adalah suatu kehidupan baptisan. Di satu pihak, baptisan itu telah genap. Tetapi di pihak lain, baptisan itu terus berlanjut sampai kita ditransformasi (diubah) dan diserupakan sepenuhnya dengan gambar Kristus. Jadi, kita terus-menerus menempuh suatu kehidupan baptisan sampai sasaran ini tercapai. Ini berarti, setiap hari kita berada di bawah penerapan kematian Kristus, yang sekarang ini merupakan salah satu unsur di dalam Roh yang almuhit. Jika suami atau istri kita menyulitkan kita, pada saat itu juga kita dapat menerapkan kematian Kristus. Bukannya perang mulut, kita sebaliknya dapat mengalami bahwa unsur yang negatif di dalam kita itu dimatikan. Hal ini terjadi bukan oleh doktrin atau oleh praktik tertentu, melainkan oleh unsur yang membunuh di dalam kematian Kristus yang tercakup di dalam hayat ilahi yang almuhit.
ANTIBIOTIK SURGAWI
Hayat ilahi adalah antibiotik surgawi. Berdebat dengan suami atau istri kita berarti kita terserang “batuk”. Kapan saja kita perang mulut dengan suami atau istri kita, berarti kita sedang “batuk”. Kematian Kristus adalah satu-satunya antibiotik yang dapat memusnahkan kuman-kuman yang menyebabkan “batuk” ini.
Antibiotik surgawi ini bukan hanya menyalibkan kita, tetapi juga membangkitkan kita dan memperbarui fungsi-fungsi dalam pikiran, emosi, dan tekad kita. Kebangkitan dan pembaruan ini adalah pertumbuhan dan transformasi (pengubahan) yang sejati.
PROSES TRANSFORMASI
Proses transformasi ini organik dan metabolik. Transformasi ini organik karena berhubungan dengan hayat, dan metabolik karena berhubungan dengan proses yang di dalam-nya unsur-unsur yang lama disingkirkan dan unsur-unsur yang baru ditambahkan. Mengubah dengan merias wajah seseorang itu bukanlah organik ataupun metabolik. Tetapi mengubah warna wajah dengan makan makanan yang bergizi itu baru organik dan metabolik. Perubahan yang demikian dapat dianggap sebagai transformasi jasmani.
Jika kita ingin ditransformasi, kita perlu terus-menerus memandang kepada Tuhan, berdoa, membaca firman, dan berseru kepada nama Tuhan. Dengan cara ini, kita akan makan, minum, dan menghirup suplai Kristus yang kaya ke dalam kita. Suplai ini akan menghasilkan satu perubahan metabolik yang di dalamnya, unsur yang lama, yaitu unsur-unsur yang negatif disingkirkan dan digantikan dengan yang baru, yaitu unsur-unsur yang positif. Perubahan metabolik ini adalah transformasi.
Dalam 2 Korintus 3:18, Paulus membicarakan tentang memandang dan memantulkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung dan ditransformasi ke dalam gambar-Nya oleh Tuhan Roh. Bila kita memandang kepada Kristus dan memantulkan Dia, maka kita akan ditransformasi ke dalam gambar-Nya dari kemuliaan kepada kemuliaan, yaitu, dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat kemuliaan lainnya. Ini adalah dari Tuhan Roh, Roh pemberi-hayat yang disinggung dalam ayat 6. Ayat 17 dengan jelas mengatakan bahwa Tuhan adalah Roh itu. Untuk menghasilkan hubungan di antara ayat 6 dan 17, maka Darby menempatkan ayat 7 sampai 16 dalam tanda kurung, sehingga menunjukkan bahwa ayat 17 adalah kelanjutan dari ayat 6. Jadi, Tuhan adalah Roh itu yang memberi hayat. Bila kita memandang dan memantulkan kemuliaan Tuhan, maka kita akan ditransformasi oleh Roh ini. Semakin kita memandang-Nya, kita akan semakin menerima suplai-Nya dan akan ditransformasi secara metabolik.
PERTUMBUHAN DAN PENGUDUSAN
Transformasi ini meliputi pertumbuhan dan pengudusan. Sewaktu kita ditransformasi, kita bertumbuh dan dikuduskan. Akhirnya, transformasi ini akan menghasilkan penyerupaan. Semakin kita ditransformasi, semakin kita akan diserupakan dengan gambar Kristus. Melalui proses transformasi dan penyerupaan ini, kita akan sepenuhnya dibawa masuk ke dalam keputraan ilahi untuk menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus. Seperti yang telah kita tunjukkan, memperoleh Tubuh yang demikian untuk mengekspresikan Kristus adalah sasaran dari tujuan kekal Allah.
Saya sungguh berbeban agar semua orang beriman dapat memiliki kenikmatan yang penuh terhadap hayat ilahi yang almuhit ini dan mengalami transformasi dan penyerupaan. Kita tidak perlu mengajarkan atau berusaha sendiri — kita perlu visi. Saya berdoa semoga Roh itu menerangi orang-orang beriman dan menyingkapkan perkara-perkara ini kepada mereka, supaya mereka dapat mengalaminya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Ketika kita melihat visi tentang transformasi dan penyerupaan oleh hayat yang diokulasikan ini, maka Roma 6:8 akan menjadi riil di dalam pengalaman praktis kita. Kematian kita bersama Kristus tidak akan menjadi fakta yang kita percayai saja, tetapi juga akan menjadi pengalaman kita sehari-hari melalui pekerjaan hayat ilahi yang di dalam kita. Hayat ini akan mematikan kita dan membangkitkan kita. Dengan cara ini kita akan bertumbuh, dikuduskan, dan ditransformasi.
EMPAT KARAKTERISTIK HAYAT
Setiap jenis hayat memiliki empat ciri-ciri dasar: esens hayat, kuasa hayat, hukum hayat, dan bentuk hayat. Setiap hayat memiliki esensnya sendiri. Meskipun esens dari satu hayat itu abstrak dan misterius, tetapi hayat itu sendiri memiliki kekuatan secara substansial. Lihatlah benih anyelir. Setelah benih anyelir ditaburkan ke dalam tanah dan bertumbuh, anyelir ini akhirnya akan menembus permukaan tanah itu dan mulai bertumbuh secara kasat mata. Setiap hayat juga memiliki hukumnya, yaitu prinsip yang mengendalikan fungsi dan perkembangannya.
Karena ada hukum hayat yang mengendalikannya, maka tanaman anyelir ini tidak akan menghasilkan bunga mawar, melainkan bunga anyelir. Kita tidak perlu berdoa tentang hal itu; hukum hayat di dalam tanaman anyelir ini akan berfungsi secara otomatis mengatur tanaman itu untuk berkembang. Selain itu, setiap hayat memiliki bentuk tertentu. Misalnya, apel Washington memiliki bentuk yang khas. Para petani tidak perlu mengajar pohon apel untuk menghasilkan buah dengan bentuk tertentu. Hayat yang ada di dalam apel itu akan dengan otomatis membentuknya. Hal ini berlaku bagi setiap jenis hayat.
DIBENTUK KE DALAM POLA PUTRA SULUNG
Penyerupaan menekankan pembentukan hayat. Sewaktu hayat ilahi bertumbuh di dalam kita dan mentransformasi kita, hayat itu dengan spontan akan membentuk kita ke dalam pola, gambar, Putra sulung Allah. Banyak orang Kristen tidak melihat realitas ini, dan berusaha membentuk diri mereka sendiri ke dalam rupa Kristus. Usaha itu tidak akan pernah berhasil. Mengenai hal ini, hanya ada satu yang berhasil — hayat ilahi yang bertumbuh di dalam kita, menguduskan kita, mentransformasi kita, dan membentuk kita. Kita tidak perlu membentuk diri kita sendiri, melakukan atau bergumul untuk memperbaiki tingkah laku kita. Hayat ilahi ini memiliki esens, kekuatan, hukum, dan bentuknya. Sebagai orang-orang yang sedang menjalani proses transformasi ini, kita perlahan-lahan akan dibentuk ke dalam gambar Putra Allah oleh fungsi hayat ilahi yang almuhit yang telah berbaur dengan hayat manusia kita. Karena itu, kita boleh tenang.
MEMBONGKAR UNSUR YANG NEGATIF
Sewaktu hayat ilahi ini bekerja di dalam kita untuk mentransformasi kita dan menyerupakan kita, hayat ini menyingkirkan unsur yang negatif di dalam kita. Karena alasan ini, kita tidak memerlukan orang lain untuk membetulkan kita. Hayat ilahi ini akan bekerja di dalam kita untuk membersihkan secara perlahan-lahan apa pun yang negatif atau alamiah.
MEMBANGKITKAN CIPTAAN ALLAH
Kedua, hayat ilahi ini membangkitkan kita. Tidak peduli betapa jatuhnya kita, kita tetap adalah ciptaan Allah. Apa pun yang diciptakan Allah adalah baik. Allah tidak akan melepaskan atau membuang ciptaan-Nya, melainkan akan memperolehnya kembali dan memulihkannya dengan kuat kuasa kebangkitan hayat ilahi. Sewaktu hayat ilahi ini menyingkirkan hal-hal yang negatif, hayat ini juga akan bekerja untuk membangkitkan ciptaan Allah yang semula. Allah menciptakan kita dengan pikiran, emosi, tekad, jiwa, hati, dan roh, dan Dia ingin membawa semua aspek dari diri kita ini ke dalam kebangkitan. Sebelum kita diselamatkan, kita mungkin telah tumpul dalam pikiran kita, tidak seimbang dalam emosi kita, dan tidak normal dalam tekad kita. Tetapi semakin kita mengontaki Tuhan dan mengalami Dia, pikiran kita akan semakin jelas dan jernih; emosi kita akan semakin seimbang; dan tekad kita akan semakin terkendali. Ini bukanlah karakter alamiah kita, melainkan karakter yang dibangkitkan. Puji Tuhan bahwa hayat ilahi di dalam kita akan membangkitkan setiap bagian diri kita yang diciptakan oleh Allah.
MENINGGIKAN KEGUNAAN KITA
Sewaktu hayat ilahi ini membangkitkan kegunaan kita, hayat ini juga meninggikannya ke tingkat yang paling tinggi. Ini akan menghasilkan satu karakter yang tinggi di dalam kita. Orang-orang Kristen tidak seharusnya memiliki karakter yang rendah. Di mana saja kita berada, kita harus memamerkan karakter yang tertinggi, karena kegunaan alamiah kita telah ditinggikan oleh hayat ilahi ini. Untuk mengalami hal ini dengan penuh, kita perlu setia mengontaki hayat ilahi di dalam kita. Jika kita mau setia melakukan hal ini, karakter kita akan ditinggikan.
MENYUPLAIKAN KEKAYAAN KRISTUS
Selain itu, sewaktu hayat ilahi ini menyingkirkan, membangkitkan, dan meninggikan, hayat ini juga menyuplaikan kekayaan Kristus ke dalam bagian batiniah kita. Karena alasan ini, banyak orang yang mengasihi Tuhan menjadi peka mentalitasnya. Meskipun ada saudara-saudara atau saudari-saudari yang selalu menghadiri sidang-sidang gereja, tetapi mereka tetap adalah murid-murid yang menonjol di sekolah mereka; ini dikarenakan kegunaan-kegunaan mereka yang telah dibangkitkan dan ditinggikan itu disuplai dengan kekayaan Kristus.
MENJENUHI SELURUH DIRI KITA
Terakhir, hayat ilahi ini masih akan menjenuhi seluruh diri kita. Penjenuhan ini jauh lebih baik daripada inspirasi Roh Kudus. Akhirnya, seluruh diri kita akan direndam dengan hayat ilahi. Hal ini akan membawa masuk transformasi. Kekayaan Kristus menjenuhi diri kita dan membuat satu perubahan metabolik yang sejati. Dengan penjenuhan hayat ilahi ini, kita akan diserupakan dengan gambar Kristus.
Hayat ilahi ini telah siap dan dapat melakukan pekerjaan yang demikian di dalam kita. Tetapi kita perlu melatih diri kita sendiri mengenai apa yang telah diperlihatkan Tuhan kepada kita ini. Kita perlu setia mengontaki Dia, berdoa kepada-Nya, membaca firman, dan menghirup Dia. Melakukan hal-hal ini berarti meletakkan pikiran kita di atas roh (8:6). Ketika pikiran kita diletakkan di atas roh, maka tidak ada bagian dari diri kita yang akan terpisah dari roh itu. Ini akan memberikan jalan bebas kepada hayat ilahi untuk menyingkirkan unsur yang negatif, agar membangkitkan, meninggikan, dan menyuplai kegunaan-kegunaan kita, dan untuk menjenuhi setiap bagian diri kita. Mengenai hal ini, kita perlu berdoa bagi diri kita sendiri, bagi orang lain, juga bagi semua gereja lokal. Kiranya kita setia untuk menempuh hidup dan bertindak menurut apa yang telah kita lihat dalam berita-berita ini.