← Daftar isi Roma (2) · bab 16/19

ALLAH MENGHUKUM DOSA DALAM DAGING

Pembacaan Alkitab: Rm. 8:1-11

DUA JENIS PENGHUKUMAN

Dalam berita ini kita akan melihat Roma 8:1-11. Da-lam Roma 8:1, Paulus berkata, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Kita mudah menganggap ayat ini semestinya demi-kian, menganggap kita memahaminya, dan mungkin meng-anggap penghukuman di sini sama seperti yang dibicarakan dalam pasal 3. Tetapi penghukuman dalam pasal 2 dan 3 itu telah berakhir sebelum Roma 8:1. Jadi, penghukuman dalam ayat ini adalah penghukuman lainnya, penghukuman yang ada di dalam kita. Penghukuman dalam pasal 2 dan 3 itu adalah sesuatu yang ada di hadapan Allah, bukan se-suatu menurut perasaan atau kesadaran batiniah kita. Itu adalah penghukuman yang obyektif, yaitu penghukuman menurut hukum Taurat Allah. Sebelum kita diselamatkan, kita mungkin tidak sadar bahwa dalam pandangan Allah, ki-ta dihukum menurut hukum keadil-benaran Allah. Ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, penghukuman itu telah disingkirkan oleh darah penebusan Kristus. Haleluya, peng-hukuman ini telah dihapus oleh darah Yesus! Karena itu, kita tidak lagi memiliki penghukuman ini.

Kita tidak seharusnya bingung terhadap penghukuman dalam pasal 2 dan 3 dengan penghukuman dalam Roma 8:1. Penghukuman dalam Roma 8 ini subyektif; ini adalah se-suatu yang batiniah, yang menurut perasaan batiniah kita, dan juga menurut hati nurani kita sebagai orang Kristen. Hal ini jelas bila kita paham bahwa Roma 8:1 itu segera mengikuti pasal 7. Jika kita dengan teliti membaca pasal 7, kita akan melihat bahwa pasal ini menggambarkan satu pe-perangan dalam bagian diri kita. Kita tahu bahwa sebagai manusia kita memiliki lebih dari satu bagian dasar. Seba-gai akibat dari kejatuhan, bagian diri kita yang bermacam-macam ini tidak harmonis lagi satu dengan yang lainnya.

Dalam pasal 7, Paulus, penulis Kitab Roma ini, mem-beri tahu kita bahwa peperangan sedang berkecamuk di dalam batinnya. Ada satu bagian yang mau memelihara hu-kum Allah dengan sempurna dan sampai pada puncaknya. Bagian ini ingin menyukakan Allah, menyenangkan Allah, dan memuaskan Allah. Karena itu dalam Roma 7:22, Paulus berkata, “Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah.” Namun, ketika bagian diri kita ini berlatih untuk berbuat baik dan memenuhi hukum Taurat, ada bagian lain yang bangkit dan memeranginya. Bagian ini selalu me-ngalahkan bagian yang suka akan hukum Allah. Karena itu Roma 7:23 mengatakan, “Tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” Setiap kali, bagian yang baik ini selalu kalah. Kita mung-kin berdiri di pihak bagian yang baik ini dan menentang bagian lainnya, tetapi kita selalu menderita kegagalan dan kalah dalam peperangan itu.

Kita telah menunjukkan bahwa dalam Roma 7:23, Paulus membicarakan tentang dibuat menjadi tawanan hu-kum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhnya. Bu-kankah satu keadaan yang kasihan menjadi tawanan yang demikian? Namun kita harus tahu bahwa sebagai orang Kristen, kita mungkin setiap hari tertawan oleh hukum do-sa ini. Kita bukan tertawan oleh musuh-musuh raksasa yang ada di luar kita, melainkan oleh musuh-musuh yang kecil di dalam kita; misalnya, amarah kita. Sebenarnya, lebih akurat bila kita mengatakan bahwa kita tertawan oleh hu-kum dosa. Ini bukanlah perkara kita marah-marah; mela-inkan adalah perkara menjadi tawanan hukum dosa di da-lam anggota-anggota tubuh kita.

Roma 7:24 mengatakan, “Aku, manusia celaka! Siapa yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Seruan ini berhubungan dengan penghukuman dalam Roma 8:1. Ini bukan penghukuman yang obyektif dan berada di hadap-an Allah; ini adalah penghukuman yang subyektif, penghu-kuman yang ada di dalam kita. Selain itu, penghukuman ini bukan masalah bagi Allah, namun menjadi masalah bagi kita.

Orang yang tidak percaya Tuhan jarang mengalami penghukuman semacam ini. Namun, hampir semua orang Kristen yang menuntut memiliki kesulitan ini. Ketika Anda tidak mencari (menuntut) Tuhan dan pergi mengasihi dunia, Anda tidak memiliki masalah ini. Tetapi ketika Anda mulai mengasihi Tuhan dan mencari Dia, dengan spontan Anda memutuskan untuk memperbaiki diri sendiri, bahkan ingin menjadi sempurna, ingin mengasihi Tuhan sampai pada puncaknya. Ketetapan ini akan membangkitkan peperang-an yang digambarkan dalam Roma 7. Menetapkan untuk berbuat baik atau memperbaiki diri sendiri itu akan meng-gugah hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuh kita. Hal ini akan menyebabkan semua musuh kecil yang ada di dalam kita bangkit dan berperang melawan kita. Ada banyak musuh di dalam kita. Namun, jika seorang Kristen sama sekali tidak mengasihi Tuhan, musuh-musuh ini tidak akan mengganggunya. Tetapi begitu ia memutus-kan untuk berbuat baik, musuh-musuh ini akan bangkit.

TIDAK ADA PENGHUKUMAN

Paulus memulai pasal 8 dengan satu perkataan menge-nai penghukuman: “Demikianlah sekarang tidak ada peng-hukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Sekali lagi saya ingin mengatakan bahwa penghukuman di sini bersifat batiniah. Di sini penulis dapat memuji dan me-ngumumkan bahwa tidak ada lagi penghukuman bagi me-reka yang ada di dalam Kristus Yesus. Ada orang begitu membaca ayat ini, mereka mungkin berkata, “Aku telah ada di dalam Kristus Yesus. Tetapi mengapa aku tidak me-miliki seruan kemenangan ini? Aku tetap mengeluh dan merintih.” Penyebabnya adalah: Secara fakta dan secara realitas kita mungkin masih berada dalam Roma 7:24, bukan dalam Roma 8:1. Ketika kita menikmati Tuhan dalam sidang gereja, kita dapat memiliki perasaan akan kemenangan. Kemudian kita akan berada dalam Roma 8:1. Tetapi setelah sidang itu, kita mungkin gagal lagi dan menemukan diri kita lagi dalam Roma 7:24.

Kita perlu menaruh perhatian kepada keterangan wak-tu dari Roma 8:1 ini. Ayat ini adalah untuk masa sekarang, bukan masa yang akan datang. Paulus tidak berkata bah-wa kelak tidak akan ada penghukuman; melainkan ia ber-kata bahwa “sekarang” tidak ada penghukuman. Ketika su-atu masalah muncul, kita harus ingat hal ini dan mengu-mumkan, “Sekarang tidak ada penghukuman.” Misalnya, ketika Anda pulang ke rumah setelah sidang dan suami atau istri Anda menimbulkan suatu kesulitan, Anda perlu ingat bahwa pada saat itu tidak ada penghukuman. Jika Anda mengumumkan Roma 8:1 di tengah-tengah situasi sehari-hari Anda, Anda akan melihat betapa berkhasiatnya firman Allah ini.

Kita perlu memproklamirkan firman Allah kepada musuh, kepada setan-setan. Ke mana saja kita pergi, kita harus mengumumkan firman Allah ini. Khususnya, kita harus mengumumkan bahwa tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus. Iblis akan mendustai ki-ta dan mengatakan bahwa meskipun kita berada di dalam Kristus, kita masih gagal. Jangan menerima dusta ini, dan jangan percaya kepadanya. Sebaliknya, umumkanlah firman Allah ini. Umumkanlah bahwa sekarang tidak ada penghu-kuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.

BAGAIMANA ALLAH

MENANGGULANGI DOSA

Seruan kemenangan Paulus dalam Roma 8:1 itu tidak sia-sia. Ia memiliki dasar, tumpuan yang tepat untuk mem-buat pernyataan yang demikian. Dalam ayat 2, ia berkata, “Karena hukum Roh hayat telah memerdekakan kamu da-lam Kristus dari hukum dosa dan maut” (Tl.). Dalam ayat selanjutnya ia berkata, “Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tidak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan mengutus Anak-Nya sen-diri sebagai manusia yang dalam rupa daging dosa dan un-tuk menghapuskan dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging” (Tl.). Menurut ayat ini, Allah mengutus Putra-Nya sendiri bukan hanya di dalam rupa da-ging dosa, tetapi juga mengutus-Nya berkenaan dengan dosa.

Dosa dalam Roma 8:3 bukan mengacu kepada perbuat-an-perbuatan dosa seperti mencuri. Memang, mencuri adalah dosa. Tetapi dosa tersebut bukanlah dosa yang dimaksud oleh ayat ini. Untuk memahami kata “dosa” dalam ayat ini, kita harus kembali ke pasal 7. Menurut pasal 7, dosa ini pasti adalah satu persona, karena ia dapat berperang melawan kita, menipu kita, membunuh kita, dan menawan kita. Ayat 11 mengatakan, “Sebab dengan perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan dengan perin-tah itu ia membunuh aku.” Fakta bahwa dosa dapat menipu dan membunuh kita, menunjukkan bahwa dosa itu bukan hanya sesuatu yang dipersonifikasikan, melainkan adalah satu persona. Menurut pasal 5—8, dosa itu bukan hanya suatu barang atau suatu perkara, tetapi juga adalah suatu persona yang memiliki kekuatan, yang hidup, yang dapat menawan kita, dan bahkan membunuh kita. Dosa ini benar-benar jauh lebih kuat daripada kita. Lalu, siapakah persona yang disebut dosa ini? Siapakah sebenarnya dosa yang hidup yang dapat menipu kita, menawan kita, dan membunuh kita ini?

Berkenaan dengan dosa ini, Allah telah mengutus Putra-Nya dalam rupa, dalam bentuk, daging dosa. Ini menunjuk-kan bahwa dosa itu berhuni di dalam satu unsur tertentu, dan unsur ini adalah daging manusia. Jadi daging kita adalah tempat kediaman dosa. Dosa berhuni di dalam da-ging kita. Selain itu, dosa sebenarnya telah menjadi satu dengan daging kita, membuat daging kita benar-benar men-jadi jelmaan dosa.

Kebanyakan orang Kristen tahu arti kata inkarnasi. Inkarnasi mengacu kepada satu hal yang sebelumnya ber-ada di luar hal lainnya, lalu masuk ke dalam hal itu dan menjadi satu dengannya. Tuhan Yesus adalah Allah. Tetapi pada satu hari Dia berinkarnasi; Dia datang sebagai seorang manusia. Dengan cara ini, manusia menjadi inkarnasi Kristus. Sama prinsipnya, dosa telah menjadi satu dengan daging kita, dan membuatnya benar-benar menjadi inkar-nasi dosa. Kita tidak dapat mengatakan kapan sesung-guhnya inkarnasi ini terjadi, tetapi kita tahu bahwa ini adalah satu fakta. Jadi, daging kita disebut “daging dosa”, karena dosa telah menjadi satu dengan daging ini.

Sekarang kita harus melihat bahwa ketika Allah Bapa mengutus Putra Allah berkenaan dengan dosa dan untuk menanggulangi dosa, dan bahkan menghapusnya, Dia meng-utus Putra-Nya itu bukan dalam realitas dari daging dosa, melainkan dalam rupa, penampilan, dari daging dosa. Ini berarti Allah mengutus Dia dalam rupa daging, yang telah menjadi inkarnasi dosa. Dalam rupa daging dosa inilah, Allah mengutus Putra-Nya berkenaan dengan dosa dan untuk me-nanggulangi dosa, serta menghukumnya.

Untuk memahami ayat 3 ini, kita perlu mengenal sub-yek dan predikatnya. Subyeknya adalah Allah, dan predi-katnya adalah menghukum. Ayat ini memberi tahu kita bahwa Allah menghukum dosa. Dia menghukum musuh yang menipu kita, berperang melawan kita, mengalahkan kita, menawan kita, dan membunuh kita. Di manakah Allah menghukum dosa ini? Dia menghukumnya dalam daging. Sekarang kita harus mengajukan pertanyaan lainnya: Di dalam daging siapakah Allah menghukum dosa? Jawaban-nya adalah Allah menghukum dosa di dalam daging Yesus Kristus, yaitu Dia yang telah diutus di dalam rupa daging dosa. Di dalam daging inilah Allah menghukum dosa. Me-nurut Yohanes 1:1 dan 14, Firman yang adalah Allah, telah menjadi daging. Di dalam daging ini, yaitu inkarnasi dari Firman yang kekal ini, Allah menghukum dosa melalui penyaliban. Ketika manusia-Yesus disalibkan dalam daging, itu adalah waktu Allah menghukum dosa dalam daging. Ka-rena itu, dalam daging Yesus Kristus dan melalui kemati-an-Nya yang almuhit, Allah menghukum dosa.

Ayat 3 tidak diakhiri dengan titik, melainkan dengan koma (Tl.). Ini menunjukkan bahwa ayat 4 adalah kelanjut-an dari ayat 3. Menurut ayat-ayat ini, Allah menghukum dosa dalam daging supaya “tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi me-nurut Roh.”

Kitab Roma adalah sebuah kitab tentang kehidupan kristiani dan hidup gereja. Dalam hubungannya dengan ke-hidupan kristiani dan hidup gereja ini, Roma 8 itu penting. Jika kita tidak memiliki pengalaman yang diwahyukan dalam pasal ini, kita tidak mungkin memiliki kehidupan kristiani yang tepat dan hidup gereja yang tepat. Di antara berjuta-juta orang Kristen hari ini, sangat sedikit yang me-miliki kehidupan kristiani yang tepat dan hidup gereja yang tepat, karena sangat sedikit orang yang mengenal ra-hasia yang penting yang ditemukan dalam pasal 8.

DUA DUNIA, DUA RUANG LINGKUP

Di alam semesta ini ada dua dunia, dua ruang lingkup. Yang satu adalah dunia rohani dan yang lainnya adalah dunia fisik. Di dalam dunia rohani ini ada setan-setan, roh-roh jahat, dan banyak hal negatif lainnya yang mengganggu kita. Paulus memiliki wahyu tentang dunia rohani ini. Dalam Kolose 2:14-15, ia menunjukkan bahwa ketika Tuhan Yesus disalibkan, Dia melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, dan menjadikan mereka tontonan seca-ra terbuka; Dia menang atas mereka. Orang-orang yang te-lah menyalibkan Tuhan Yesus tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam dunia rohani sewaktu Tuhan berada di kayu salib. Tetapi setan-setan dan malaikat-malaikat yang jahat sadar bahwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib itu adalah menyatakan kekalahan mereka. Menurut Kolose 2:15, Allah Bapa datang untuk membersihkan jalan itu su-paya penyaliban Kristus tidak terhalang. Karena itu, mela-lui kematian Kristus di kayu salib, pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa telah dikalahkan. Ini menunjukkan bahwa selama penyaliban-Nya, Kristus sedang berperang melawan kuasa-kuasa jahat. Kuasa-kuasa jahat ini tidak dapat menang terhadap Kristus di kayu salib.

Setelah Tuhan Yesus mati, Dia dikubur. Dalam satu arti, malaikat-malaikat jahat itu sangat senang bahwa Kristus telah dikubur. Ketika Dia akan bangkit dari kema-tian, musuh-musuh Allah sekali lagi berusaha menghalangi-Nya. Kuasa-kuasa jahat berusaha sedapat mungkin untuk menahan-Nya, menguasai-Nya dalam kematian. Tetapi me-nurut Kisah Para Rasul 2:24, Kristus tidak mungkin dita-han oleh kematian. Dia bangkit dari antara orang mati dan naik ke surga. Ketika Dia naik, Dia melucuti kuasa-kuasa jahat dan menawan mereka. Tujuan saya dalam menying-gung hal ini adalah untuk menunjukkan bahwa kehidupan orang Kristen itu bukan hanya berhubungan dengan dunia fisik, melainkan juga terlibat dengan dunia rohani.

Kesulitan kita dalam kehidupan kristiani terutama bu-kan dengan dunia fisik, melainkan dengan dunia rohani. Bahkan dosa itu sebenarnya bukan perkara fisik. Sebalik-nya adalah sesuatu yang rohani dan berada di dalam ruang lingkup rohani. Karena itu, jika kita ingin mengatasi dosa, kita perlu kuasa rohani, kekuatan rohani. Kekuatan men-tal, yang sebenarnya berhubungan dengan dunia fisik, ti-dak dapat melepaskan kita dari kuasa dosa. Dosa itu roha-ni, dan hanya dapat diatasi oleh sarana kekuatan rohani. Berkenaan dengan kuasa rohani ini, Roma 8 itu sangat penting.

BERJALAN MENURUT ROH

Dalam 8:4, Paulus menunjukkan dunia fisik dan dunia rohani. Ia mengatakan bahwa kita “tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.” Pernyataan “menurut daging” itu mengacu kepada ruang lingkup fisik, sedangkan pernya-taan “menurut Roh” itu mengacu kepada dunia rohani. Kehidupan kristiani itu rumit. Di satu pihak, kita memiliki bagian fisik yang berhubungan dengan dunia fisik; di pihak lain, kita memiliki bagian rohani — roh kita — yang ber-hubungan dengan dunia rohani. Kita perlu melihat bahwa kehidupan kristiani itu melibatkan dunia-dunia ini dan du-nia-dunia ini ada di dalam kita. Kita memiliki daging, kita juga memiliki roh. Kita perlu melihat apakah kita hidup di dalam daging, dunia fisik, atau di dalam roh, dunia rohani. Apakah kita sedang berjalan menurut daging atau menurut roh?

Dalam Roma 8:3, kita melihat bahwa dalam hubungan-nya dengan dosa, Allah telah melakukan satu hal yang be-sar: Melalui inkarnasi Putra Allah, Allah menanggulangi masalah dosa, menghukum dosa dalam daging. Ayat 3 men-cakup tentang inkarnasi dan penyaliban. Allah mengutus Putra-Nya dalam rupa daging dosa: ini mengacu kepada inkarnasi Kristus. Kemudian Allah menghukum dosa dalam daging; ini berhubungan dengan penyaliban Kristus.

Allah menghukum dosa dalam daging supaya tuntutan kebenaran hukum Taurat dapat digenapi di dalam kita. Per-hatikanlah bahwa dalam ayat 4, Paulus mengatakan dige-napi, bukan dipelihara. Jika ia mengatakan dipelihara bukannya digenapi, maka ayat ini akan berarti kita harus memelihara hukum Taurat. Namun, di sini Paulus tidak me-ngatakan memelihara hukum Taurat, melainkan mengge-napi tuntutan-tuntutan kebenaran hukum Taurat di dalam orang-orang yang berjalan (hidup) menurut roh. Ini berarti tuntutan-tuntutan hukum Taurat digenapi bukan di dalam orang-orang yang memelihara hukum Taurat, melainkan di dalam orang-orang yang berjalan (hidup) menurut roh.

Roma 8 itu dalam, misteri, dan sangat berkaitan dengan pengalaman. Tanpa pengalaman rohani yang memadai, kita tidak akan dapat memahami pasal ini. Menurut ayat 3 dan 4, Allah mengutus Putra-Nya yang berinkarnasi berkenaan dengan dosa. Melalui kematian Putra-Nya di kayu salib, Allah menghukum dosa di dalam daging. Tujuan-Nya da-lam menghukum dosa adalah agar tuntutan-tuntutan kebe-naran hukum Taurat dapat digenapi di dalam kita, bukan oleh usaha kita memelihara hukum Taurat, melainkan me-lalui kita hidup menurut roh. Jadi, kita bukanlah peme-lihara hukum Taurat, melainkan orang-orang yang hidup menurut roh.