← Daftar isi Roma (2) · bab 17/19

ALLAH YANG MELALUI PROSES ADALAH HUKUM ROH HAYAT

Pembacaan Alkitab: Rm. 8:1-11

Dalam Roma 8:1, Paulus berkata, “Demikianlah seka-rang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di da-lam Kristus Yesus.” Dalam ayat 2, Paulus selanjutnya menjelaskan mengapa tidak ada penghukuman: “Sebab hukum Roh yang memberi Roh hayat telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan maut (Tl.).” Di sini Paulus membicarakan tentang hukum Roh hayat. Kita sangat perlu mempelajari bagaimana hukum ini bekerja, bagaimana ia membebaskan kita dari hukum dosa.

Semua yang dibahas Paulus dalam bagian selanjutnya dari pasal 8 ini berhubungan dengan pekerjaan hukum Roh hayat. Jika kita dengan teliti membaca pasal ini, kita akan melihat bahwa subyeknya sebenarnya bukanlah Roh itu, melainkan hukum Roh hayat.

Banyak guru Kristen mengatakan bahwa Roh itu adalah subyek dari Roma 8. Pemahaman ini terlalu dangkal. Sebenarnya, Roma 8 membicarakan tentang hukum Roh hayat. Hal ini akan menjadi jelas bagi kita jika kita dengan teliti membaca Roma 8 dalam terang dari apa yang dikata-kan Paulus dalam pasal 5, 6, dan 7. Hal ini juga sangat membantu bila kita melihat pemikiran Paulus mengenai latar belakang dari perkara ini dalam pasal 5—8. Wahyu dalam pasal-pasal ini ajaib. Adalah penting bila kita melihat bahwa subyek, topik, dari Roma 8 itu bukan hanya Roh itu, lebih-lebih adalah hukum Roh hayat.

ALLAH TRITUNGGAL TELAH MELALUI

PROSES UNTUK MENJADI HUKUM ROH

HAYAT DI DALAM KITA

Sampai butir ini kita perlu bertanya, apakah hukum Roh hayat itu. Kita bahkan harus mengajukan pertanyaan yang penting ini: Siapakah hukum ini? Jika kita dengan te-liti membaca pasal 8 dan membandingkannya dengan pasal 5, 6, dan 7, kita akan melihat bahwa hukum Roh hayat adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi-hayat untuk berhuni di dalam kita. Ini berarti Allah Tritunggal yang telah melalui proses itu sendiri ada-lah hukum Roh hayat itu. Sama seperti dosa adalah satu persona — Iblis, demikian juga hukum ini adalah satu per-sona — Allah Tritunggal.

Roma 8 membicarakan tentang proses, bahkan proses-proses, yang telah dilalui oleh Allah Tritunggal, hingga men-jadi Roh pemberi-hayat yang berhuni di dalam kita. Dalam ayat 3, Paulus menunjukkan inkarnasi dan penyaliban: “Allah . . . mengutus Anak-Nya sendiri sebagai manusia yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa dan untuk menghapuskan dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging.” Frasa “Allah mengutus Anak-Nya sendiri sebagai manusia yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa dan untuk menghapuskan dosa” itu berhu-bungan dengan inkarnasi. Allah mengutus Putra-Nya berke-naan dengan dosa dan menghukum dosa dalam daging, ini menunjukkan penyaliban Kristus. Selain itu, ayat 11 juga menunjukkan penyaliban, karena ayat ini membicarakan tentang Tuhan Yesus dibangkitkan dari antara orang mati. Namun, apa yang diwahyukan dengan jelas oleh ayat ini adalah proses kebangkitan: “Jika Roh Dia, yang telah mem-bangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.” Dalam ayat 34, Paulus menunjukkan kenaikan ketika ia memberi tahu kita bahwa Kristus ada di sebelah kanan Allah menjadi Pengantara Doa (Pembela, LAI-1997) bagi kita. Ka-rena itu, dalam pasal ini kita memiliki empat proses yang telah dilalui Allah Tritunggal: Inkarnasi, penyaliban, ke-bangkitan, dan kenaikan.

Roma 8 juga mewahyukan tentang Allah Tritunggal. Dalam ayat 2 kita memiliki Roh hayat. Dalam ayat 3 kita memiliki Allah, Bapa, yang mengutus Putra. Jadi, dalam ayat 2 dan 3 kita memiliki Roh, Bapa, dan Putra. Ayat 9 dan 10 membicarakan tentang Roh Allah, Roh Kristus, dan Kristus. Ayat 11 menyinggung ketiga dari Allah Tritunggal: Roh itu; Dia (Bapa) yang membangkitkan Kristus Yesus; dan Kristus, Putra. Karena itu, Roma 8 adalah satu pasal mengenai Allah Tritunggal yang telah melalui proses.

MENYALURKAN HAYAT KEPADA SETIAP BAGIAN DARI DIRI KITA

Dalam Roma 8:1-11 kita melihat, setelah melalui berbagai macam proses ini, Allah Tritunggal menjadi Roh pemberi-hayat, yaitu Roh yang memberi hayat kepada manusia. Dalam ayat 11, Paulus dengan jelas mengatakan bahwa Dia yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati akan memberikan hayat kepada tubuh fana kita “melalui Roh-Nya yang diam di dalam kamu.” Roh ini sekarang berhuni di dalam roh kita.

Sebagai Roh pemberi-hayat, Allah Tritunggal yang te-lah melalui proses ini berhuni di dalam kita untuk membe-rikan hayat kepada kita dengan cara tiga ganda. Aspek yang pertama dari pemberi hayat ini terdapat dalam ayat 10: “Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh me-mang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan (ha-yat) oleh karena pembenaran.” Ayat ini mengatakan bahwa jika Kristus ada di dalam kita, roh kita adalah hayat. Kristus di sini adalah Allah Tritunggal yang telah menjadi Roh pemberi-hayat. Karena Kristus ini ada di dalam kita, roh kita adalah hayat. Sebagai Roh pemberi-hayat, Kristus berhuni di dalam kita, dan penghunian-Nya membuat roh kita menjadi hayat. Ini adalah aspek dari Roh pemberi-hayat yang disingkapkan dalam Roma 8.

Aspek yang kedua terdapat dalam ayat 6: “Karena me-letakkan pikiran di atas daging adalah maut, tetapi mele-takkan pikiran di atas roh adalah hayat dan damai sejah-tera” (Tl.). Pikiran adalah bagian utama dari jiwa kita. Pikiran ini mewakili jiwa kita. Ini berarti bila pikiran kita menjadi hayat, maka jiwa kita juga menjadi hayat. Mula-mula Roh kita adalah hayat, kemudian jiwa kita juga menjadi hayat.

Akhirnya, hayat ini disalurkan kepada tubuh fana kita. Menurut ayat 11, Dia yang membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati akan memberikan hayat kepada tubuh fana kita melalui Roh yang berhuni itu. Karena itu, hayat ini disalurkan kepada kita secara tiga ganda: Roh kita menjadi hayat, pikiran kita menjadi hayat, dan hayat ini disalurkan kepada tubuh fana kita. Karena itu, kita dapat mengatakan, menurut Roma 8, Allah Tritunggal itu disalurkan ke dalam manusia tripartit dan memberikan hayat kepada roh, jiwa, dan tubuh manusia.

KONSEPSI ILMU PENGETAHUAN

TENTANG HAYAT

Allah Tritunggal, yang telah melalui proses dan yang telah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai manusia tripartit, adalah hukum Roh hayat. Ketika Paulus membicarakan tentang hukum dalam Roma 8, ia memakai istilah ini secara ilmiah, sekalipun, pada waktu Kitab Roma ini ditulis, ilmu pengetahuan belum begitu berkembang. Dengan memakai istilah hukum dalam Roma 8:2, Paulus menekankan prinsip pekerjaan Roh itu yang bekerja secara spontan.

Konsepsi hukum ini juga terdapat di seluruh pasal 7. Misalnya dalam Roma 7:21, Paulus berkata, “Demikianlah aku dapati hukum ini: Jika aku ingin melakukan apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.” Hukum di sini menekan-kan prinsip yang bekerja secara otomatis dan alami. Hu-kum ini juga dipahami secara ilmiah.

Dalam Roma 7 dan 8 ada dua hukum ilmiah: yang pertama, hukum kejahatan, yang disebut hukum dosa dan maut; yang kedua, hukum kebaikan, yaitu hukum yang aja-ib, yang disebut hukum Roh hayat. Dua hukum ini dising-gung dalam satu ayat ini, yaitu dalam Roma 8:2, di mana Paulus berkata, “Hukum Roh hayat telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan maut” (Tl.). Dua hukum ini sebenarnya adalah dua persona. Hukum dosa dan maut adalah persona Iblis (Satan), sedangkan hukum Roh hayat adalah persona Allah Tritunggal.

Untuk menjadi hukum Roh hayat yang bekerja di dalam kita, Allah Tritunggal harus melalui proses dan disalurkan ke dalam kita, dan kemudian Dia harus berhuni, tinggal di dalam kita. Kata Yunani yang diterjemahkan “tinggal” dalam Roma 8:9 dan 11 berasal dari akar kata yang berarti “rumah”. Allah Tritunggal telah melalui proses dan disalurkan ke dalam kita, dan sekarang Dia membuat rumah bagi diri-Nya sendiri di dalam tiga bagian diri kita. Sekarang Dia ini adalah hukum Roh hayat yang ajaib, dan yang positif. Hukum yang negatif yaitu hukum dosa dan maut, juga adalah satu persona — Satan, Iblis, yaitu dia yang berkuasa atas maut. Ia adalah hukum kejahatan. Karena itu, dua hukum ini adalah dua persona.

Agar Iblis atau Allah Tritunggal dapat menjadi hukum yang negatif atau positif yang bekerja di dalam kita, kedua-nya perlu masuk ke dalam diri kita. Jika Iblis tidak masuk ke dalam manusia, maka ia tidak dapat menjadi hukum dosa dan maut di dalam manusia. Sama prinsipnya, jika Allah Tritunggal tetap tinggal di luar kita, Dia tidak dapat menjadi hukum Roh hayat bagi kita. Puji Dia, karena Dia telah melalui proses dan disalurkan ke dalam kita, maka Dia dapat membuat rumah-Nya di dalam kita. Dia telah men-jadi hukum Roh hayat bagi kita! Haleluya, kita memiliki hukum yang demikian ajaib di dalam kita!

Sebagai makhluk hidup, kita semua hidup menurut hukum-hukum tertentu. Misalnya, bernafas adalah satu hukum. Anda bernafas oleh satu aktivitas yang disengaja atau oleh hukum pernafasan? Apakah Anda berkata kepada diri Anda sendiri: “Aku sadar aku perlu udara; karena itu, aku harus melatih diriku sendiri untuk bernafas?” Ini ada-lah bernafas oleh aktivitas. Namun, kita bernafas oleh hu-kum pernafasan, bukan oleh aktivitas. Ini berarti kita ber-nafas tanpa menyadari apa yang sedang kita lakukan. Kita bernafas secara terus-menerus, siang dan malam, tidak peduli di mana kita berada. Kita tidak memutuskan untuk bernafas atau menaruh perhatian pada fakta bahwa kita sedang bernafas. Lagi pula, orang tua tidak memerintahkan anak-anak mereka untuk bernafas. Sebaliknya, bernafas ada-lah satu prinsip yang otomatis yang bekerja dengan spontan di dalam tubuh fisik kita. Selama kita hidup, kita akan terus-menerus bernafas. Bernafas adalah satu hukum.

Demikian juga, pencernaan adalah satu hukum. Setelah Anda makan, apakah Anda memutuskan untuk mencerna makanan yang telah Anda makan itu? Apakah Anda beru-saha mencerna makanan itu? Tidak, pencernaan bukanlah satu aktivitas, melainkan satu hukum. Seperti bernafas, ini merupakan satu prinsip yang alamiah, spontan, dan otoma-tis, yang bekerja di dalam tubuh fisik kita. Contoh perna-fasan dan pencernaan ini seharusnya dapat membantu kita memahami apakah yang kita maksud dengan hukum.

Berdosa juga adalah satu hukum. Ini berarti kita me-lakukan dosa karena pekerjaan yang otomatis dari hukum dosa. Tidak ada seorang pun yang pernah mengikuti satu sekolah yang disebut “Sekolah untuk Berdosa”. Demikian juga, tidak ada seorang pun yang perlu diajar untuk men-curi atau berdusta. Orang tua tahu bahwa ketika anak-anak bertumbuh, mereka bisa berdusta tanpa diajar lebih dulu. Berdusta itu berasal dari fungsi otomatis dari hukum dosa dan maut. Dosa-dosa seperti membenci dan iri hati ju-ga berasal dari pekerjaan hukum ini.

Puji Tuhan, ada hukum lainnya, yaitu Allah Tritunggal sebagai hukum hayat, telah “diinstalasikan” ke dalam kita! Betapa ajaib bahwa setelah melalui proses, Allah Tritunggal “diinstalasikan” ke dalam kita dan bekerja di dalam kita bu-kan melalui aktivitas, melainkan melalui hukum! Sekarang Dia adalah satu hukum yang bekerja di dalam kita. Dia sedang bekerja di dalam kita bukan hanya sebagai Allah yang Mahakuasa, tetapi juga sebagai satu hukum yang be-kerja secara otomatis.

HUKUM ROH HAYAT YANG BEKERJA

DI DALAM KITA

Pekerjaan Allah Tritunggal ini sebagai satu hukum di dalam kita dapat digambarkan dengan listrik yang telah di-instalasikan di dalam rumah kita. Karena listrik ini telah diinstalasikan di rumah kita, maka kita tidak perlu memin-ta kepada pembangkit listrik bila kita perlu energi listrik untuk menjalankan peralatan tertentu. Bukankah bodoh sekali bila kita menelepon pembangkit listrik dan meminta seseorang untuk menyalakan lampu atau menjalankan peralatan-peralatan kita? Jika kita berbuat demikian, orang-orang di pembangkit listrik itu akan mengatakan bahwa ki-ta tidak perlu memanggil mereka. Sebaliknya kita hanya perlu menyalakan saklarnya yang telah diinstalasikan. Bah-kan seorang yang hanya lulusan Sekolah Dasar pun tidak akan memanggil pembangkit listrik dan meminta energi listrik. Orang-orang yang memiliki pengetahuan bahwa lis-trik itu telah diinstalasikan hanya perlu menyalakan saklarnya dan memakai energi listrik itu.

Orang-orang Kristen sering kali seperti orang-orang yang memanggil pembangkit listrik untuk keperluan akan listrik. Padahal yang perlu dilakukan hanyalah menyalakan saklarnya. Allah Tritunggal telah “diinstalasikan” ke dalam kita. Meskipun demikian, kita terganggu oleh amarah kita, kita mungkin berseru, “Ya Allah, Bapa yang penuh dengan belas kasihan, belas kasihanilah aku dan tolonglah aku agar tidak marah-marah. Aku tidak ingin marah lagi. Be-baskanlah aku dari hal ini.” Doa semacam ini tidak akan pernah dijawab. Pada kenyataannya, semakin Anda berdoa dengan cara ini, Anda semakin sulit menghadapi amarah Anda. Jika kita terus-menerus mengucapkan doa-doa yang demikian, Tuhan mungkin akan berkata, “Anak yang bo-doh, tidak tahukah kamu bahwa Aku telah diinstalasikan ke dalam kamu dan bahwa Aku sedang bekerja di dalam ka-mu sebagai satu hukum? Kamu tidak perlu berseru kepada-Ku atau berdoa tentang hal ini.”

Hari ini Allah kita bukan hanya Allah yang Mahakuasa, Sang Penebus, dan Penyelamat. Dia bahkan lebih dari sekadar hayat atau suplai hayat kita — Dia adalah satu hukum yang bekerja di dalam kita. Sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus, karena hukum Roh hayat telah memerdekakan kita dari hukum dosa dan maut. Betapa ajaib bahwa hukum yang demikian ini sedang bekerja di dalam kita! Karena itu, bukannya berseru kepada Tuhan tentang hal-hal itu, kita malah hanya perlu “menyalakan” dan beristirahat saja.

Marilah kita sekali lagi memakai listrik dan peralatan listrik sebagai satu ilustrasi. Misalnya, ketika Anda hendak tidur di malam hari, Anda merasa kepanasan, dan Anda memerlukan mesin pendingin (AC) untuk mendinginkan ruangan. Anda tidak perlu berdoa untuk udara yang dingin itu. Anda hanya perlu menyalakan “AC” dan tidur, sambil menikmati udara dingin dari AC itu. Demikian juga, kita dapat menikmati hukum Roh hayat yang ajaib, yaitu hu-kum yang adalah Allah Tritunggal yang telah melalui pro-ses dan telah disalurkan ke dalam kita dan yang sekarang berhuni di dalam kita. Sebagai hukum yang demikian ini, Dia sekarang sedang mencari kesempatan untuk bekerja bagi kita. Masalahnya adalah kita tidak memiliki pengeta-huan mengenai hukum ini. Kita tidak tahu bahwa kita memiliki hukum ini di dalam kita, dan kita tidak tahu bagaimana bekerja sama dan berkoordinasi dengannya. Se-perti yang akan kita lihat, cara untuk bekerja sama dengan hukum ini adalah berjalan (hidup) di dalam roh dan hanya berada di dalam roh saja.

Dalam berita selanjutnya kita akan menunjukkan bahwa karena kita telah berada di dalam roh, kita tidak perlu masuk ke dalam roh lagi. Sebaliknya, kita hanya per-lu tetap tinggal di dalam roh. Jadi, tidak perlu berpaling ke roh, sebaliknya kita harus tinggal di dalam roh. Sering kali kita bernyanyi, “Balik ke rohmu.” Adalah lebih baik mengubah kata-kata kidung ini dan bernyanyi, “Tinggal di rohmu.” Haleluya, kita memiliki Allah Tritunggal yang telah melalui proses sebagai satu hukum di dalam kita, dan kita memiliki satu roh yang telah dilahirkan kembali! Selama kita tinggal di dalam roh, hukum ini akan bekerja di dalam kita secara otomatis.

Berada di dalam roh adalah memiliki listrik ilahi. De-ngan tinggal di dalam roh, kita terus menyalakan saklar-nya; kita tidak pernah mematikannya. Inilah cara untuk bekerja sama dengan Allah Tritunggal yang telah melalui proses yang adalah hukum yang sedang bekerja di dalam kita. Sebagai Roh pemberi-hayat, Dia telah disalurkan ke dalam kita dan berhuni di dalam kita. Melalui penghunian-Nya ini, Dia telah membuat roh kita menjadi hayat, Dia se-dang membuat jiwa kita menjadi hayat, dan Dia akan me-nyalurkan hayat kepada tubuh fana kita. Sekarang kita sedang menikmati hayat secara tiga ganda oleh pekerjaan dari hukum yang ajaib ini, yaitu hukum Roh hayat.