← Daftar isi Roma (2) · bab 18/19

ALLAH MENGHUKUM DOSA DI DALAM DAGING AGAR KITA DAPAT BERADA DI DALAM ROH

Pembacaan Alkitab: Rm. 8:3-9

Roma 8:3 mengatakan, “Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tidak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan mengutus Anak-Nya sendiri sebagai manusia yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa dan untuk menghapuskan dosa, Ia telah men-jatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging.” Pernyataan “Allah mengutus Anak-Nya sendiri sebagai manusia yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa” mengacu kepada inkarnasi, tahap pertama dari proses yang telah dilalui Allah Tritunggal. Di sini dalam ayat 3, subyeknya bukanlah Putra Allah; subyeknya adalah Allah. Dalam ayat ini Paulus ti-dak mengatakan bahwa Putra Allah datang dalam rupa da-ging dosa. Ia mengatakan bahwa Allah mengutus Putra-Nya dalam rupa daging dosa. Ini berarti, menurut ayat ini, Allah-lah yang mengambil tindakan ini. Dia mengutus Putra-Nya melalui inkarnasi dalam rupa daging dosa.

Mengikuti tahap pertama dari proses ini, yaitu tahap inkarnasi, Allah selanjutnya menghukum dosa melalui pe-nyaliban. Ketika Putra disalibkan dalam bentuk, rupa da-ging dosa, Allah menghukum dosa di dalam daging. Karena itu, kematian Putra di kayu salib adalah penghukuman Allah atas dosa.

TUNTUTAN-TUNTUTAN KEBENARAN HUKUM TAURAT DIGENAPI DI DALAM KITA

Dua tahap ini yaitu inkarnasi dan penyaliban, memi-liki satu sasaran, seperti yang diwahyukan dalam ayat 4: “Supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.” Kata “supaya” pada permulaan ayat ini memperlihatkan tujuan dari tindakan yang diambil dalam ayat sebelumnya. Allah mengutus Putra-Nya dan menghukum dosa di dalam daging adalah untuk satu tujuan tertentu. Ini berarti bah-wa sesuatu telah dihasilkan dari inkarnasi dan penyaliban. Hasil, akibat, dari dua tahap ini adalah tuntutan kebenaran hukum Taurat dengan spontan digenapi di dalam kita. Kita tidak perlu berusaha memenuhi tuntutan-tuntutan hukum Taurat. Penggenapan tuntutan-tuntutan kebenaran hukum Taurat ini adalah hasil dari inkarnasi dan penyaliban Kristus. Karena Kristus yang berinkarnasi itu telah disalibkan di kayu salib, maka tuntutan-tuntutan kebenaran hukum Taurat dapat digenapi di dalam kita secara otomatis.

Dalam ayat 4, Paulus mengatakan bahwa tuntutan-tuntutan kebenaran hukum Taurat digenapi “di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.” Ini berarti Allah mengutus Putra-Nya dan menghukum dosa di dalam daging supaya tuntutan-tuntutan kebenaran hukum Taurat dapat digenapi di dalam seseorang yang tidak hidup menurut daging, melainkan hidup menurut Roh.

Dalam kekekalan, Allah bermaksud menggenapkan tu-juan-Nya. Kita dapat mengatakan bahwa Allah memiliki jalan raya yang terbuka di hadapan-Nya dan bahwa Dia akan bergerak di atas jalan raya ini untuk menggenapkan maksud-Nya. Namun, ada satu musuh yang disebut dosa masuk untuk memblokir jalan itu. Karena itu, Allah meng-utus Putra-Nya dan menghukum dosa di dalam daging un-tuk menyingkirkan penghalang dari jalan raya ini. Melalui inkarnasi dan penyaliban Kristus, Allah menghukum dosa dan menyingkirkannya. Hasilnya, jalan raya ini dibuka kem-bali. Hasil dari penyingkiran dosa dan pembukaan kembali jalan raya ini adalah tuntutan-tuntutan kebenaran hukum Taurat dapat digenapi di dalam kita.

Perhatikanlah, di sini Paulus tidak mengatakan tun-tutan-tuntutan kebenaran hukum Taurat digenapi di dalam Putra Allah. Sebaliknya, ia mengatakan bahwa tuntutan-tuntutan kebenaran hukum Taurat digenapi di dalam kita, orang-orang yang telah dipilih, ditebus, dikunjungi, dicapai, dan dijamah oleh Allah. Orang-orang yang dinyatakan de-ngan kata ganti “kita” dalam ayat 4 adalah orang-orang yang sangat penting karena tuntutan-tuntutan kebenaran hukum Taurat digenapi di dalam mereka. Siapakah orang-orang ini? Mereka adalah orang-orang pilihan Allah, kaum pilihan-Nya.

Tahukah Anda bahwa Allah telah memilih Anda? Dari jutaan orang yang hidup di bumi sejak zaman Adam, Allah telah memilih Anda. Kita dapat memakai ilustrasi yang sederhana untuk membantu memahami pemilihan Allah ini. Anda mungkin pergi ke pasar swalayan untuk membeli apel. Di sana Anda menemukan tumpukan apel. Dari banyak apel di dalam tumpukan itu, Anda memilih selusin untuk dibeli, dengan memilih apel-apel yang Anda sukai. Dengan cara yang mirip ini, Allah memilih kita. Bukannya memberikan nilai yang tinggi kepada kita dan menganggap kita sebagai mustika, kita mungkin malah meremehkan diri kita sendiri dan membenci diri kita sendiri. Namun, Allah tidak membenci kita. Dalam kekekalan, Dia telah menyukai Anda dan memilih Anda. Jika Anda bertanya ke-pada-Nya mengapa Dia menyukai Anda, Dia mungkin akan menjawab, “Aku memang menyukaimu.” Kita adalah umat pilihan Allah. Tidak hanya demikian, kita adalah orang-orang yang telah ditebus, dikunjungi, dan dijamah oleh-Nya. Me-nurut empat Injil, adalah satu perkara yang besar bahwa kita dijamah Allah. Dijamah oleh-Nya itu membuat kita menjadi berbeda. Saya dapat bersaksi bahwa Dia menjamah saya pada tahun 1930-an, dan setelah itu saya segera men-jadi orang yang berbeda. Kita ada di antara “kita” dalam ayat 4. Kita telah dijamah oleh Allah.

HIDUP MENURUT ROH

Kita harus mempercayai firman Allah dan tidak memi-kirkan situasi kita atau memandang kepada diri kita sen-diri. Roma 8:4 mengatakan, “. . . digenapi di dalam kita yang tidak hidup (berjalan) menurut daging, tetapi menurut roh.” Ketika kita membaca kata-kata ini, kita mungkin berkata, “Kebanyakan aku hidup menurut daging, bukan menurut roh.” Jika seseorang bertanya kepada Anda apakah Anda hidup menurut roh atau menurut daging, Anda mung-kin tidak akan berani mengatakan bahwa Anda hidup me-nurut roh. Menurut pemahaman Anda, Anda tidak memili-ki cukup tumpuan untuk mengatakan dengan yakin, “Aku hidup menurut roh.” Sebaliknya, sambil ragu-ragu Anda mungkin akan menjawab, “Kadang-kadang aku hidup me-nurut roh, tetapi sering kali aku hidup menurut daging.”

Dalam hubungannya dengan hidup menurut roh, kita perlu ingat bahwa ada dua dunia, dua ruang lingkup, yaitu ruang lingkup fisik dan ruang lingkup rohani. Di dalam ruang lingkup rohani ini, Allah melakukan segala sesuatu melalui berbicara. Begitu Allah mengatakan satu hal ter-tentu, hal itu akan terjadi. Dalam Roma 4:17, kita diberi tahu bahwa Allah menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. Ini berarti melalui berbicara, Dia membuat hal-hal itu menjadi ada. Misalnya, menurut Keja-dian 1:3, Allah berkata, “Jadilah terang,” dan terang itu pun ada.

BERBICARA DI DALAM IMAN

Sebagai anak-anak Allah, kita perlu paham bahwa bila kita mengatakan sesuatu yang berasal dari hati yang tulus, situasi itu akan terjadi menurut perkataan kita. Misalnya, seseorang bertanya kepada Anda, apakah Anda telah disela-matkan? Anda harus menjawab dengan tegas, “Ya, aku su-dah diselamatkan.” Anda tidak boleh ragu-ragu dan ber-kata, “Aku pikir-pikir dulu. Menurut bukti-bukti tertentu aku mungkin sudah diselamatkan.” Jika Anda mengatakan bahwa Anda mungkin sudah diselamatkan, maka memang mungkin Anda diselamatkan. Tetapi jika Anda mengatakan bahwa ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Anda mungkin belum diselamatkan, maka akan timbul masalah. Sekarang kita adalah anak-anak Allah, kita harus hati-hati terhadap pembicaraan kita, karena kita adalah apa yang kita katakan. Dalam berita terdahulu, saya telah menun-jukkan bahwa kita adalah apa yang kita makan. Sekarang saya ingin menunjukkan bahwa kita adalah apa yang kita katakan.

Alkitab menyebut kaum beriman sebagai orang-orang kudus. Apakah Anda orang kudus? Jika Anda mempertim-bangkan pertanyaan ini dan berkata, “Aku bukan orang ku-dus seperti Theresa atau Francis. Aku kira aku tidak begitu kudus. Bagaimana aku dapat berkata bahwa aku adalah orang kudus?” Jika Anda berkata demikian, maka keadaan Anda tetap akan menjadi orang dosa yang kasihan. Tetapi jika Anda menjawab dengan mengumumkan, “Ya, aku orang kudus!” maka Anda benar-benar adalah orang kudus.

Kita harus belajar berbicara bukan dalam ketulusan alamiah kita, melainkan dalam iman. Paulus memberi tahu kita bahwa kita berbicara karena kita memiliki roh iman: “Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seper-ti ada tertulis: ‘Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata’” (2 Kor. 4:13).

Kita orang-orang Kristen, ketika menghadapi perkara sering ragu-ragu, sangsi, menimbang-nimbang, dan memi-kirkannya. Misalnya, seseorang bertanya kepada Anda apa-kah Anda mengasihi Tuhan. Anda mungkin menjawab de-ngan lambat sekali. Anda mungkin mempertimbangkan pertanyaan itu, tidak mau mengatakan sesuatu apa adanya, yang sebenarnya. Anda mungkin mengira bahwa Anda itu hati-hati dan rendah hati. Sebenarnya Anda sedang tertipu oleh si musuh dan diperdaya olehnya. Dalam iman, kita perlu mengumumkan dengan berani bahwa kita mengasihi Tuhan.

Mengenai berada di dalam roh dan menerima Roh itu, banyak dari antara kita yang salah didik. Beberapa orang mengajarkan bahwa agar seseorang dapat menerima Roh itu, ia harus bertobat, mengaku dosa-dosanya, dan berdoa dengan berpuasa. Kemudian, setelah sejangka waktu, ia tiba-tiba akan menerima Roh itu. Karena pengaruh dari la-tar belakang agama, kita mungkin ragu-ragu untuk menja-wab bila seseorang bertanya kepada kita apakah kita telah menerima Roh Kudus. Jika kita dengan tepat dibimbing da-lam hal-hal rohani, kita akan dapat menjawab dengan segera, “Ya, aku telah menerima Roh Kudus!”

TIGA PERTANYAAN

Sampai butir ini saya ingin mengajukan tiga pertanya-an. Pertama, apakah Anda hidup menurut roh? Kedua, apa-kah Anda menurut roh? Ketiga, apakah Anda berada di da-lam roh? Hidup menurut roh berarti berperilaku menurut roh. Sedangkan menurut roh berarti seluruh diri kita me-nurut roh. Bukan hanya kita hidup menurut roh dan kita menurut roh, kita juga perlu berada di dalam roh. Apakah Anda memiliki keyakinan untuk mengatakan bahwa Anda hidup menurut roh, bahwa Anda menurut roh, dan bahwa Anda berada di dalam roh? Tidakkah kadang-kadang Anda marah-marah? Lalu, bagaimana Anda dapat mengatakan bahwa Anda berada di dalam roh? Bagaimana Anda dapat menuntut untuk hidup menurut roh dan Anda menurut roh bila Anda masih terganggu oleh amarah Anda? Cara untuk menjawab pertanyaan ini adalah dengan berkata, “Ya, aku berada di dalam roh! Namun, bila aku marah-marah, itu berarti aku membuat kesalahan sementara. Tetapi aku se-gera bertobat dan menerima pengampunan Allah. Karena itu, aku tetap memiliki keberanian untuk mengumumkan bahwa aku berada di dalam roh.”

Dalam Roma 8:4, Paulus membicarakan tentang hidup (berjalan) menurut roh, dan dalam ayat 5, tentang menurut roh. Untuk hidup menurut roh, terlebih dulu kita harus menurut roh. Ini berarti hidup menurut roh berasal dari kita menurut roh, karena apa yang kita lakukan itu berasal dari apa adanya kita.

Dalam ayat 9, Paulus membicarakan tentang berada di dalam roh. Orang yang menurut roh adalah orang yang berada di dalam roh. Menurut roh adalah hasil dari berada di dalam roh. Jadi, hidup menurut roh itu berasal dari kita menurut roh, dan kita menurut roh itu berasal dari kita berada di dalam roh. Ini menunjukkan bahwa keperluan kita yang mendasar adalah berada di dalam roh. Jika kita tidak berada di dalam roh, kita tidak dapat menurut roh. Lagi pula, jika kita tidak menurut roh, kita tidak dapat hi-dup menurut roh. Begitu kita berada di dalam roh, kita akan menurut roh, dan begitu kita menurut roh, kita akan hidup menurut roh.

Beban saya dalam berita ini bukanlah tentang hidup menurut roh atau hanya menurut roh saja, melainkan berada di dalam roh. Kata “di dalam” yang sederhana ini sangat berarti. Saya ulangi lagi, kita hidup menurut roh adalah karena kita menurut roh, dan kita menurut roh adalah karena kita berada di dalam roh. Kita semua harus dapat bersaksi, “Aku hidup menurut roh karena aku menurut roh, dan aku menurut roh karena aku berada di dalam roh.” Di mana saja kita berada dan apa saja yang kita lakukan, kita harus berada di dalam roh. Jika kita tetap tinggal di dalam roh, kita tidak akan marah-marah, dan sesungguh-nya kita tidak akan berdusta. Oh, berada di dalam roh itu adalah satu perkara yang betapa besar!

DUA FAKTA YANG PENTING

Apakah Anda tahu bahwa Anda berada di dalam roh? Roma 8:9 memberikan keberanian kepada kita untuk me-ngatakan bahwa kita berada di dalam roh: “Tetapi kamu ti-dak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika me-mang Roh Allah tinggal di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Kata “jika memang” itu adalah satu terjemahan yang tepat. Na-mun, kata “jika” itu mengacu kepada satu keadaan, kepada sesuatu yang bersyarat. Kata “karena” itu juga mengacu kepada keadaan, tetapi keadaan yang telah digenapi dan telah menjadi satu fakta yang telah rampung. Misalnya, sa-ya mungkin berkata kepada seorang saudara, “Jika Anda datang, aku akan memberi Anda sebuah Alkitab.” Kata “ji-ka” seperti yang dipakai di sini itu menunjukkan satu ke-adaan yang akan digenapi. Tetapi saya mungkin berkata, “Karena Anda telah datang, maka saya akan memberi An-da sebuah Alkitab.” Dalam kalimat ini, kata “karena” me-nunjukkan satu keadaan yang telah digenapi dan sekarang menjadi satu fakta yang telah genap. Mengatakan, “Jika Anda datang,” itu menunjukkan keadaan yang akan digenapi.

Tetapi mengatakan, “Karena Anda telah datang,” itu me-nunjukkan satu keadaan yang telah genap. Kalimat dalam ayat 9 itu menjelaskan kasus yang kedua, yaitu satu kea-daan yang telah genap. Jadi, di sini Paulus mengatakan bahwa kita berada di dalam roh, karena Roh Allah berhuni di dalam kita. Ini adalah satu fakta bahwa Roh berhuni di dalam kita. Ini bukanlah satu keadaan yang akan digenapi, melainkan satu keadaan yang telah digenapi dan telah men-jadi satu fakta. Jadi, karena Roh Allah berhuni di dalam kita, maka kita berada di dalam roh.

Saya memiliki jaminan penuh bahwa sebagai kaum beriman, Roh Allah berhuni di dalam kita. Ini adalah satu fakta yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun. Menurut Roma 8:9, kita memiliki keyakinan bukan bahwa Roh Allah akan berhuni di dalam kita, juga bukan sekadar bahwa Dia telah berhuni di dalam kita, melainkan bahwa Dia sekarang sedang berhuni di dalam kita. Oh, ini adalah satu fakta yang ajaib, Roh Allah berhuni di dalam kita! Karena fakta ini, kita dapat dengan berani mengatakan bahwa kita berada di dalam roh.

Sekalipun kita gagal dan membuat kesalahan, Roh Allah tetap senantiasa berhuni di dalam kita. Misalnya, kadang-kadang kita mungkin marah-marah, tetapi hal itu tidak akan mengubah fakta bahwa Roh Allah berhuni di dalam kita. Penghunian-Nya ini terus-menerus, tidak akan terputus. Sekarang, karena Roh Allah berhuni di dalam kita, kita berada di dalam roh. Ini juga adalah satu fakta. Jadi, dalam ayat 9 ada dua fakta yang penting. Pertama, fakta bahwa Roh Allah berhuni di dalam kita dan bahwa kita memiliki Roh itu. Kedua, fakta bahwa kita berada di dalam roh.

KEDUDUKAN DAN KEADAAN

Di satu pihak, dalam ayat 9, Paulus mengatakan bahwa kita berada di dalam roh karena Roh Allah berhuni di dalam kita. Di pihak lain, ia mengatakan bahwa jika seseorang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Andai-kata kita berkata, “Karena Roh Allah berhuni di dalamku, maka aku adalah milik Roh itu.” Selanjutnya kita berkata, “Jika seseorang tidak memiliki Roh Kristus, maka ia tidak berada di dalam Kristus.” Mengubah kata-kata “milik. . .” dan “di dalam. . .” ini akan menimbulkan satu perbedaan yang besar.

Adalah salah bila kita mengatakan bahwa karena Roh Allah berhuni di dalam kita, maka kita adalah milik Roh itu. Juga merupakan satu kesalahan bila kita mengatakan bahwa jika seseorang tidak memiliki Roh Kristus, maka ia tidak berada di dalam Dia. Di sini kata ganti “milik” meng-acu kepada kedudukan, sedangkan kata ganti “di dalam” itu mengacu kepada keadaan. Jika kita tidak memiliki Roh Kristus, maka kita bukan milik Kristus. Ini adalah perkara kedudukan. Siapa pun yang tidak memiliki Roh Kristus, bu-kan berasal dari Kristus, dan ia bukan milik Kristus. Seba-gai kaum beriman, kita tidak memiliki masalah mengenai kedudukan. Kita memiliki Roh Kristus dan kita adalah mi-lik-Nya. Namun, kita mungkin memiliki masalah yang berhubungan dengan keadaan, seperti yang ditunjukkan oleh kata ganti “di dalam”. Kita semua dapat mengatakan de-ngan yakin bahwa kita berasal dari Kristus dan milik Dia. Tetapi, seperti yang telah kita tunjukkan, kita mungkin ragu-ragu sebelum kita mengatakan bahwa kita berada di dalam roh.

Kedudukan kita menjadi milik Kristus itu tidak akan pernah berubah. Karena alasan ini, maka bila seseorang mengatakan bahwa kadang-kadang kita milik Kristus dan pada waktu lainnya kita bukan milik Kristus, itu adalah salah. Tidak, kita selalu milik Kristus, sama seperti kita selalu adalah keluarga di mana kita dilahirkan. Tidak peduli di mana Anda berada, Anda adalah milik keluarga Anda. Ini adalah perkara kedudukan, dan ini tidak akan berubah. Tetapi meskipun kita selalu milik satu keluarga tertentu, kita mungkin tidak selalu berada di dalam kelu-arga itu. Berada di dalam satu keluarga, itu seperti berada di dalam roh, adalah menurut keadaannya. Kita harus mengakui bahwa kadang-kadang kita memiliki masalah mengenai berada di dalam roh. Saya ulangi lagi, kita tidak akan pernah memiliki masalah dengan kedudukan menjadi milik Kristus. Namun, kita kadang-kadang memiliki masa-lah dengan keadaan berada di dalam roh. Dalam berita ini, kita sedang membahas mengenai masalah keadaan, bukan masalah kedudukan. Perkara kedudukan ini telah ditetap-kan satu kali untuk selamanya. Haleluya, kita semua adalah milik Kristus! Kita semua berasal dari Dia. Tetapi keadaan kita dalam hubungannya dengan berada di dalam roh mungkin tidak tetap atau tidak stabil. Karena itu, da-lam berita selanjutnya kita akan melihat bagaimana men-stabilkan keadaan kita tetap di dalam roh.