PEMILIHAN BERDASARKAN ANUGERAH
Dalam Roma 1:9 Paulus mengatakan bahwa ia mela-yani Allah di dalam Injil Putra-Nya. Injil ini meliputi banyak butir yang ajaib: keputraan, penyataan, kebangkitan, pem-benaran, pengudusan, transformasi, penyerupaan, pemulia-an, dan manifestasi. Dalam berita ini kita akan melihat sa-tu butir lagi — pemilihan berdasarkan anugerah. Jika kita ingin mengenal Injil Putra Allah secara menyeluruh, kita perlu melihat bahwa pemilihan Allah juga tercakup di da-lamnya. Pemilihan ini adalah pemilihan berdasarkan anu-gerah. Seperti dikatakan dalam Roma 11:5, “Demikian juga pada waktu ini terdapat suatu sisa, menurut pilihan berda-sarkan anugerah.”
PEMILIHAN ALLAH
Dalam masyarakat, pemilihan ini berhubungan dengan kelahiran, pengasuhan, pendidikan, dan kesuksesan di da-lam dunia. Pemilihan ilahi mutlak berbeda. Pada faktanya, kita bahkan telah dipilih sebelum kita lahir, sebelum dasar dunia diletakkan. Pemilihan insani berdasar pada apa ada-nya orang itu sendiri. Orang-orang yang baik, atau sukses, kebanyakan akan terpilih. Sebaliknya, pemilihan Allah bukan berdasar pada apa adanya kita, melainkan sepenuhnya berdasar pada Allah dan kedambaan-Nya.
Dalam Roma 9, Paulus memakai peristiwa Yakub dan Esau sebagai satu ilustrasi dari pemilihan Allah. Sebelum mereka lahir, Allah memberi tahu Ribka, “Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda” (9:12). Pemilihan Allah dibuat sebelum anak-anak itu lahir, sebelum mereka berbuat sesuatu yang baik atau yang jahat. Ini adalah su-paya “rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bu-kan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya” (9:11). Meskipun demikian, ketika mereka ada di da-lam kandungan, Yakub bergumul supaya lahir lebih dulu. Oleh belas kasihan Allah, Yakub tidak berhasil. Jika ia berhasil, maka ia tidak akan menerima pemilihan Allah.
Dikatakan dari suatu aspek, sesungguhnya kita semua adalah Yakub-Yakub yang bergumul untuk menjadi yang pertama. Sejak lahir, kita telah memiliki konsepsi bahwa kita harus bergumul untuk memperoleh sesuatu untuk diri kita sendiri. Sekalipun kita mungkin berkali-kali gagal, te-tapi kita terus bergumul. Kita seperti Yakub, si perebut, yang ditentukan Allah untuk menjadi yang kedua, tetapi te-tap bergumul untuk menjadi yang pertama. Puji Allah un-tuk tangan belas kasihan-Nya yang mengendalikan, yang menjaga kita dari kesuksesan dalam usaha kita! Dia me-ngendalikan kita karena Dia telah memilih kita lama sebe-lum kita lahir.
PEMILIHAN, PENENTUAN, DAN PANGGILAN
Pemilihan Allah berhubungan dengan penentuan-Nya dan panggilan-Nya. Dari ketiga hal itu, pemilihan adalah yang pertama, diikuti dengan penentuan dan panggilan. Mu-la-mula, Allah memilih kita. Kemudian, Dia menandai kita, yaitu, menentukan kita. Pemilihan dan penentuan ini terjadi sebelum kita lahir. Setelah itu, pada waktu tertentu dalam hidup kita, Allah datang untuk memanggil kita.
Efesus 1:4 dan 5 membuktikan bahwa pemilihan Allah dan penentuan Allah terjadi di dalam kekekalan yang lam-pau: “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di ha-dapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari se-mula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.” Sebelum alam se-mesta ini ada, Allah telah memilih kita dan menentukan kita kepada keputraan. Kita perlu memakai roh kita dalam iman untuk mempercayai firman yang ditulis dalam Kitab Suci ini. Pada hari yang ditunjuk oleh Allah, kita lahir. Akhirnya, pada waktu yang telah ditunjuk oleh-Nya, kita beroleh selamat. Sekalipun kita tidak pernah bermaksud untuk percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi kita justru telah percaya kepada-Nya, karena kita telah dipilih dan ditentu-kan oleh Allah. Ini adalah pemilihan berdasarkan anugerah yang di dalamnya belas kasihan Allah dimanifestasikan. Seperti yang dikatakan Paulus di dalam Roma 9:16, “Jadi, hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada belas kasihan Allah.”
PENGATURAN ALLAH ATAS HIDUP KITA
Jika kita menengok kembali ke masa lampau kita, kita akan menyembah Tuhan. Kita akan sadar bahwa langkahlangkah kita bukan berasal dari diri kita sendiri, melainkan berasal dari Dia. Sebelum kita lahir, Dia sudah memilih kita dan menentukan kita, termasuk waktu dan tempat kelahiran kita. Selain itu, Dia telah menentukan semua hari-hari kita dan semua tempat di mana kita akan berada. Menurut pengaturan Allah ini, saya lahir pada abad dua puluh. Lagi pula, saya lahir di suatu daerah di mana saya mudah berkontak dengan orang-orang Kristen. Ini mutlak berasal dari Allah. Selanjutnya, kehidupan saya bersama Tuhan membuktikan bahwa jalan saya telah ditentukan oleh-Nya, dan pengalaman saya menunjukkan bahwa hal itu bukan berasal dari keinginan seseorang atau dari usaha seseorang, melainkan berasal dari Dia yang memperlihatkan belas kasihan. Segala sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah perkara belas kasihan ilahi.
BUKTI DARI PEMILIHAN ALLAH
Saya tidak ingin berdebat mengenai tanggung jawab manusia dalam hubungannya dengan kedaulatan Allah. Saya hanya ingin menekankan fakta tentang pemilihan Allah. Kita semua telah menjadi orang Kristen karena pemilihan ini. Banyak dari antara kita bahkan tidak tahu mengapa mereka menjadi orang Kristen. Beberapa dari antara kita mungkin bahkan berusaha berhenti percaya kepada Tuhan, tetapi mereka tidak berhasil melakukan hal itu. Di satu pi-hak, menjadi orang Kristen itu sungguh ajaib; di pihak lain, kita berusaha dan sangat sulit. Kita, orang-orang Kristen, bukan hanya sebagai Yakub, tetapi juga sebagai Ayub. Ka-rena pemilihan Allah, kita tidak punya pilihan lain kecuali menjadi orang Kristen. Sekarang kita telah percaya ke dalam Tuhan Yesus, kita tidak dapat melarikan diri dari Dia. Ini membuktikan bahwa kita telah dipilih oleh Allah.
Di dalam kita ada sesuatu yang membuat kita percaya kepada Tuhan, entah kita ingin percaya kepada Dia atau ti-dak. Hal ini berasal dari pemilihan anugerah. Kita mung-kin ingin “cerai” dari Tuhan, tetapi Dia menolak menanda-tangani surat cerai. Allah tidak takut terhadap usaha apa pun yang dapat kita lakukan untuk melarikan diri dari Dia. Namun Dia tahu bahwa sekalipun kita berusaha keras, kita tidak akan dapat lari jauh. Ini adalah bukti yang paling kuat bahwa kita telah dipilih oleh Allah. Betapa menakjub-kannya pemilihan anugerah ilahi ini!
PEMILIHAN ALLAH DAN PEMBERITAAN INJIL
Kita akan melihat pemilihan Allah secara riil dalam pemberitaan Injil. Mungkin ada sejumlah orang yang tidak percaya yang menghadiri sidang yang sama dan mendengar berita yang sama; namun hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki tanggapan. Ini sulit untuk dijelaskan. Kita hanya dapat menunjukkan pemilihan, penentuan, dan panggilan Allah kepada orang lain.
Saya ingat sebuah cerita mengenai D. L. Moody. Ada seorang pelajar yang menyatakan kekhawatirannya bahwa boleh jadi melalui pemberitaan Injilnya, seseorang yang ti-dak dipilih Allah bisa beroleh selamat. Moody memberi tahu pelajar itu agar tidak merasa terganggu, melainkan terus saja memberitakan Injil. Selain itu, Moody mengatakan bah-wa ia harus mempersilakan orang yang mau percaya untuk menerima Tuhan. Moody juga mengatakan bahwa sepanjang jalan masuk ke surga akan ada kata-kata yang tertulis, “Siapa saja boleh datang,” tetapi setelah seseorang melewati jalan masuk itu, ia akan melihat kata-kata ini yang terukir di dalamnya: “Yang telah dipilih sebelum pondasi dunia diletakkan.”
SEMUANYA ADALAH PERKARA BELAS KASIHAN ALLAH
Jika kita ingin melayani Allah dengan tepat di dalam Injil Putra-Nya, kita harus tahu bahwa Injil meliputi pe-milihan berdasarkan anugerah. Injil sepenuhnya adalah per-kara belas kasihan Allah yang berdaulat. Bertahun-tahun yang lalu, saya memiliki sedikit pemahaman tentang hal ini, tetapi hari ini pemahaman saya jauh lebih kuat. Mela-lui pengalaman selama bertahun-tahun, saya sangat yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita berasal da-ri Allah. Semuanya adalah perkara belas kasihan Allah. Semakin kita melihat hal ini, kita akan semakin memikul kewajiban kita dengan spontan di hadapan Tuhan.
Namun, memikul kewajiban ini pun berasal dari belas kasihan Allah. Mengapa beberapa orang beriman rela me-mikul kewajiban mereka sedangkan yang lainnya tidak? Jawabannya tergantung kepada belas kasihan Allah. Dalam Roma 9:15, Paulus mengutip perkataan Tuhan, “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan.” Karena belas kasihan-Nya dalam pemilihan-Nya yang berdasarkan anugerah, kita memiliki tanggapan terhadap Injil, sementara yang lainnya tidak memiliki tanggapan terhadapnya; kita menerima perkataan tentang Kristus sebagai hayat kita, sementara yang lainnya menolak dan kita menempuh jalan pemulihan Tuhan pada hari ini, sementara yang lainnya menyimpang dari jalan ini. Bebe-rapa orang dapat bersaksi bahwa meskipun hari ini mereka ada di dalam pemulihan Tuhan, tetapi orang-orang yang membawa mereka kepada jalan ini tidak lagi menempuh jalan ini.
Mengenai pemulihan-Nya, Allah menaruh belas kasih-an kepada orang-orang yang akan dibelaskasihani oleh-Nya. Kita berada di dalam pemulihan Tuhan bukan karena kita lebih pandai daripada orang lain, atau karena kita lebih mencari Tuhan daripada orang lain. Keberadaan kita di sini mutlak karena belas kasihan Allah. Jika Anda memikirkan bagaimana Tuhan membawa Anda masuk ke dalam hidup gereja di dalam pemulihan Tuhan, Anda akan menyembah Dia untuk belas kasihan-Nya. Saya percaya, kita berada di dalam pemulihan Tuhan adalah menurut pemilihan anuge-rah (11:5). Mengenai Injil, ministri hayat, dan hidup gereja di dalam pemulihan Tuhan, Allah telah menaruh belas ka-sihan itu kepada kita. Betapa kita harus memuji Dia untuk belas kasihan-Nya yang berdaulat ini!
Kita tidak boleh bersandar kepada diri kita sendiri, dan kita tidak boleh mengira bahwa kita ada di sini karena se-suatu yang berasal dari kita atau karena sesuatu yang telah kita lakukan. Keberadaan kita hari ini di dalam pemu-lihan Tuhan bukan berasal dari kerelaan kita atau usaha ki-ta, melainkan berasal dari Allah, yaitu Dia yang menunjuk-kan belas kasihan itu. Sungguh suatu belas kasihan bahwa kita diselamatkan dan bahwa kita rela menempuh jalan Tuhan! Selain itu, adalah suatu belas kasihan bahwa kita rela dipisahkan dari zaman jahat yang sekarang ini. Dunia ini memikat dan menarik. Meskipun demikian, saya dapat bersaksi bahwa saya tidak memiliki selera terhadap hal-hal dari dunia ini. Saya ditutupi oleh semacam penyekat ilahi, suatu penyekat yang menjaga saya dari sistem dunia ini. Inlah aspek lainnya dari belas kasihan Allah.
MENYEMBAH TUHAN UNTUK BELAS
KASIHAN-NYA
Jika kita ingin melayani Tuhan, kita harus mengenal Roh itu, hayat di dalam Roh itu, dan kebenaran Allah. Se-lain itu, kita harus mengenal belas kasihan Allah dalam pemilihan anugerah. Dulu saya bermimpi tentang adanya satu pekerjaan yang semarak di China utara, bahkan di pe-dalaman Mongolia dan Manchuria. Tetapi mimpi itu tidak pernah tergenapi dan sebaliknya oleh belas kasihan Tuhan saya hari ini ada di negara ini, Amerika Serikat. Saya me-mandang kepada Tuhan agar Dia mengesankan kita de-ngan perkara belas kasihan-Nya dalam memilih kita. Ja-ngan menaruh kepercayaan Anda kepada apa yang dapat Anda lakukan atau dalam rencana yang akan Anda lakukan. Sebaliknya, berlututlah di hadapan Tuhan dan sembahlah Dia untuk belas kasihan-Nya. Semakin Anda menyembah Tuhan untuk belas kasihan-Nya, Anda akan semakin di-tinggikan. Bukannya bergumul untuk memikul kewajiban, Anda malahan akan menemukan bahwa dalam belas ka-sihan-Nya, Tuhan sedang memikul Anda. Kita semua perlu mengenal Tuhan secara demikian. Betapa suatu belas ka-sihan bahwa Dia telah memilih kita, menentukan kita, me-manggil kita, dan menempatkan kita di dalam pemulihan-Nya! Untuk masa depan kita, kita tidak mau bersandar kepada diri kita sendiri, melainkan kepada Dia dan kepada belas kasihan-Nya yang ajaib. Segala sesuatu mengenai kita telah dimulai oleh Tuhan. Semuanya berasal dari Dia; tidak ada sesuatu pun yang berasal dari kita. Saya dapat bersaksi bahwa semakin kita menyembah Allah untuk belas kasihan-Nya, kita akan semakin berada di dalam hati-Nya dan semakin menjadi satu dengan-Nya.
BERSANDAR BELAS KASIHAN TUHAN
Jangan bergumul untuk memikul kewajiban. Sebalik-nya, sembahlah Allah untuk pemilihan-Nya. Jika Anda ber-buat demikian, Dia akan memikul Anda dalam memikul kewajiban. Semakin kita berusaha dalam diri kita sendiri untuk bertanggung jawab, kita akan semakin menderita se-cara batiniah, dan penuh dengan rasa pahit. Tetapi jika kita menyembah Tuhan atas belas kasihan-Nya dan meng-alami Dia dalam memikul kewajiban, dalam batin kita akan penuh dengan rasa manis seperti madu. Satu alasan meng-apa saya hari demi hari bergembira adalah karena saya telah belajar bersandar belas kasihan Tuhan dan menyem-bah Dia untuk hal itu. Bertahun-tahun yang lalu saya biasa meminta agar Tuhan melakukan banyak hal untuk saya. Te-tapi sekarang saya memuji dengan bersyukur kepada-Nya un-tuk belas kasihan-Nya. Tuhan mengatakan bahwa Dia akan menaruh belas kasihan kepada siapa Dia akan menaruh belas kasihan, dan rahmat kepada siapa Dia akan memberi rah-mat. Jika kita menikmati belas kasihan Tuhan dan menyem-bah Dia untuk pemilihan-Nya, kita akan berada di surga.
Perjalanan kita bersama Tuhan bukanlah perkara yang berasal dari kemauan kita atau usaha kita, melainkan berasal dari belas kasihan Allah. Kemauan kita itu tidak membantu, dan usaha kita itu sia-sia. Namun, belas kasih-an Allah bekerja secara ajaib. Kita dapat berubah, naik tu-run secara mendadak. Kondisi kerohanian kita itu seperti cuaca yang tidak stabil. Maka, kita perlu melihat bahwa pemilihan anugerah ini bukanlah tergantung pada kita, me-lainkan tergantung pada pemilihan Allah terhadap kita sebe-lum dunia dijadikan. Apa yang sedang kita alami pada hari ini berhubungan dengan pemilihan Allah di dalam kekekal-an yang lampau. Jika kita melihat hal ini, kita akan me-malingkan mata kita dari diri kita sendiri dan dari keada-an kita dan dengan tekun memandang kepada-Nya.
INJIL ANUGERAH
Injil yang di dalamnya kita melayani Allah ini adalah Injil anugerah, bukan Injil perbuatan. Roma 11:6 mengata-kan, “Jika hal itu terjadi berdasarkan anugerah, maka bu-kan lagi berdasarkan perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka anugerah bukan lagi anugerah.” Namun, fakta bah-wa pemilihan Allah sepenuhnya adalah perkara anugerah-Nya itu bukan berarti kita bebas melakukan apa saja yang ingin kita lakukan. Jika kita bersikap demikian, maka ka-lau bukan kita yang tidak dipilih oleh Allah, tentulah kita yang telah mundur dan meninggalkan pemilihan Allah. Oh, marilah kita melupakan diri kita sendiri dan situasi kita dan terus memandang kepada Tuhan. Marilah kita terus-menerus berkata, “ Oh Tuhan, aku memuji Engkau untuk pemilihan-Mu berdasarkan anugerah. Oh Tuhan, aku me-nyembah Engkau untuk belas kasihan-Mu.” Inilah Injil yang diwahyukan dalam Kitab Roma.