← Daftar isi Roma (2) · bab 7/19

KEBENARAN—KEKUATAN INJIL

Kita telah melihat bahwa Kitab Roma adalah Injil ke-putraan. Namun, dalam kitab ini ada perkara penting la-innya, yaitu perkara kebenaran. Dalam Roma 1:16 dan 17, Paulus mengatakan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, karena kebenar-an Allah diwahyukan di dalam Injil ini. Dalam berita ini kita akan melihat mengapa kebenaran itu adalah kekuatan Injil dan mengapa kebenaran diperlukan bagi Allah untuk menghasilkan banyak putra melalui Injil ini.

TUNTUTAN KEBENARAN ALLAH DIPENUHI

OLEH KEMATIAN KRISTUS DI KAYU SALIB

Dalam kekekalan yang lampau, Allah telah menentukan kita untuk menjadi putra-putra-Nya. Tetapi meskipun kita adalah orang-orang yang telah ditentukan, kita telah jatuh dan terjerumus dalam dosa. Hal ini membawa masuk perka-ra kebenaran Allah. Jika kita tidak jatuh, kita tidak akan memerlukan kebenaran. Tetapi karena kita telah jatuh, Allah harus memperlakukan kita menurut kebenaran-Nya. Apa-kah yang harus Allah lakukan terhadap orang-orang yang telah ditentukan untuk menjadi putra-putra-Nya ini? Ada orang mungkin mengatakan bahwa karena Allah mengasihi kita, maka Dia tidak akan melemparkan kita ke dalam lautan api. Memang, Allah mengasihi kita, tetapi Dia mem-benci dosa. Allah tidak mau menyerahkan kita atau melem-parkan kita ke dalam lautan api. Namun, Dia tidak akan dapat mengampuni kita kalau kebenaran-Nya belum dipu-askan. Jika Allah mau mengampuni kita dengan cara yang tidak sah, Dia akan menempatkan diri-Nya sendiri dalam kedudukan yang tidak benar. Sebagai Allah yang benar dan Allah yang adil, Dia tidak dapat mengampuni orang dosa tanpa memenuhi tuntutan kebenaran-Nya.

Supaya Allah dapat mengampuni kita, maka Kristus, Putra Allah, menjadi daging. Seperti dikatakan dalam Roma 8:3, Allah mengutus Putra-Nya sendiri dalam keserupaan daging dosa. Melalui inkarnasi, Tuhan mengenakan keseru-paan daging dosa pada diri-Nya sendiri dan menjadi sama dengan orang-orang dosa dalam daging. Demi kebenaran Allah, Tuhan Yesus diletakkan pada kematian di kayu salib. Di sana, di kayu salib, Tuhan dijadikan dosa bagi kita, dan Allah menghukum dosa di dalam daging. Dengan mati bagi kita, Tuhan menggenapkan penebusan dan memenuhi se-mua tuntutan kebenaran Allah. Sekarang Allah memiliki kedudukan yang benar untuk mengampuni kita. Pada fak-tanya, Dia bukan hanya dapat mengampuni kita, tetapi, de-mi kebenaran-Nya, Dia juga harus mengampuni kita. Allah mengampuni terutama bukan karena Dia mengasihi kita, tetapi karena Dia terikat oleh kebenaran-Nya.

Yohanes 3:16 mengatakan bahwa karena Allah mengasihi kita, sehingga Dia memberikan Putra tunggal-Nya, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya, tidak binasa, melainkan beroleh hayat yang kekal. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menyelamatkan kita karena Dia mengasihi kita. Selain itu, dalam Efesus 2:5 dan 8 dikatakan bahwa ki-ta diselamatkan oleh anugerah (kasih karunia). Namun, Kitab Roma mewahyukan bahwa kita bukan diselamatkan oleh anugerah atau oleh kasih, melainkan oleh kebenaran. Baik kasih maupun anugerah itu bukanlah perkara hu-kum. Anda tidak dapat berdasarkan hukum menuntut sese-orang agar mengasihi Anda atau memperlihatkan anugerah kepada Anda. Hanya terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kebenaran, barulah Anda bisa memiliki kedudukan untuk menuntut seseorang secara khusus.

Misalnya, Anda adalah seorang pemilik rumah dan sa-ya adalah salah satu penyewa rumah. Setiap bulan saya di-tuntut untuk membayar sejumlah uang sewa kepada Anda. Jika saya gagal membayar uang sewa selama dua bulan, Anda memiliki kedudukan yang benar untuk menuntut dari saya pembayaran uang sewa itu. Di pihak saya, saya harus membayar uang sewa itu, bukan berdasarkan kasih atau anugerah, melainkan berdasarkan kebenaran. Saya secara hukum wajib membayar uang sewa itu. Jika saya memba-yarnya, saya benar. Tetapi jika saya tidak membayarnya, saya tidak benar.

Di satu aspek, Tuhan Yesus diserahkan kepada kematian oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Roma. Tetapi di aspek lain, Dia diserahkan kepada kematian oleh Allah. Tuhan berada di kayu salib selama enam jam. Selama tiga jam yang pertama, Dia menderita penganiayaan dari manusia, yang melakukan banyak hal yang jahat kepada-Nya.

Selama tiga jam yang terakhir, Allah menimpakan semua dosa manusia kepada-Nya, dan kemudian Dia menghakimi-Nya, menghukum-Nya, dan meletakkan-Nya pada kemati-an. Inilah yang dibuktikan oleh Yesaya 53. Allah menaruh Kristus pada kematian karena, selama tiga jam yang ter-akhir di kayu salib, Kristus menggantikan kita. Melalui kematian Mat. 27:51 Kristus, tuntutan-tuntutan kebenaran Allah ter-penuhi. Karena itu, Tuhan dapat mengucapkan kata-kata, “Sudah selesai” (Yoh. 19:30). Dengan berkata demikian, Tuhan menunjukkan bahwa pekerjaan penebusan telah digenap-kan. Sebagai bukti dari hal ini, tirai di Bait Allah terbelah dari atas sampai ke bawah (). Selain itu, seluruh pemandangan yang mengelilingi tempat kematian Kristus menjadi cerah dan penuh dengan ketenangan. Ada satu orang kaya yang meminta tubuh Yesus dan menguburkan-Nya di dalam sebuah kubur (Yoh. 19:38-42). Jadi, setelah meng-akhiri penderitaan, Tuhan beristirahat di dalam kubur. Tun-tutan-tuntutan kebenaran Allah telah dipenuhi oleh kema-tian Kristus, dan Allah telah puas. Tiga hari kemudian, sebagai bukti dari kepuasan ini, Allah membangkitkan Kristus dari antara orang mati. Jadi, kebangkitan Kristus adalah bukti bahwa Allah telah puas dengan kematian Kristus bagi kita.

Sebelum Kristus mati di kayu salib, Allah mungkin saja berubah pikiran tentang mengampuni dosa-dosa kita. Dia dapat dengan benar mengesampingkan kita semua. Tetapi setelah kematian Kristus di kayu salib di bawah penghakiman Allah, Allah tidak dapat berbuat demikian.

ALLAH TIDAK MUNGKIN

MENGUBAH PIKIRAN-NYA

Sekarang, karena Kristus telah mati dan telah bangkit dari antara orang mati, Allah tidak mungkin mengubah pi-kiran-Nya tentang mengampuni kita. Sebaliknya, kita me-miliki dasar untuk berkata kepada-Nya, “Ya Allah, entah Engkau mengasihi aku atau tidak, Engkau harus mengam-puni aku. Sebelum Kristus mati di kayu salib, Engkau da-pat mengubah pikiran-Mu. Tetapi karena Dia telah mati dan karena Engkau telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka Engkau tidak memiliki kedudukan yang sah untuk menolak mengampuni aku. Ya Allah, Engkau ha-rus mengampuni aku sekarang, karena Engkau tidak berhak untuk berubah sikap dalam perkara ini. Engkau terikat oleh kebenaran-Mu.” Dalam hal inilah, kebenaran adalah keku-atan Injil.

PONDASI KESELAMATAN KITA

Baik kasih maupun anugerah itu dapat berubah, tetapi kebenaran itu solid dan teguh. Allah bebas untuk mengasihi kita atau tidak. Namun, Dia terikat oleh kebenaran-Nya. Sekarang, karena Kristus telah mati untuk memenuhi tun-tutan-tuntutan kebenaran Allah, Allah telah menempatkan diri-Nya sendiri ke dalam suatu kedudukan di mana Dia terikat oleh hukum. Entah Dia mengasihi kita atau tidak, Dia telah terikat oleh kebenaran-Nya sendiri untuk mengam-puni kita. Jadi, pondasi keselamatan kita adalah kebenar-an, bukan kasih atau anugerah. Mazmur 89:15 mengata-kan, “Kebenaran dan keadilan (keadilan dan hukum, LAI) adalah tumpuan takhta-Mu.” Pondasi takhta Allah juga adalah pondasi keselamatan kita. Dapatkah pondasi takhta Allah digoyahkan? Tentu tidak. Demikian juga, pondasi keselamatan kita tidak akan tergoyahkan, karena pondasi ini bukanlah kasih atau anugerah, melainkan kebenaran.

Alkitab tidak mengatakan bahwa kasih adalah kekuat-an Injil; atau anugerah adalah kekuatan Injil. Melainkan mewahyukan bahwa kebenaran Allah adalah kekuatan Injil. Jika kita melihat diri kita sendiri, kita akan sadar bahwa kita tidak patut dikasihi, juga tidak layak bagi anugerah Allah. Kita tidak pantas menerima sesuatu dari Allah. Te-tapi Allah itu benar. Dia meletakkan Kristus pada kemati-an bagi kita, dan Dia telah mengakui kematian Kristus sebagai pembayaran yang penuh atas hutang-hutang kita. Lagi pula, Kristus yang bangkit yang duduk di sebelah ka-nan Allah ini adalah “kuitansi pembayaran” itu. Karena Allah telah mengeluarkan kuitansi ini, bagaimana mungkin Dia dapat menuntut pembayaran lagi dari kita? Jika Dia melakukannya juga, kita dapat menunjukkan Kristus ke-pada-Nya dan mengingatkan Dia bahwa Dia harus menjaga kedudukan kebenaran-Nya, bahkan menjaga pondasi takh-ta-Nya.

Kita dapat dengan berani memberi tahu Allah, “Jika Engkau tidak memperlakukan aku menurut kebenaran-Mu, maka takhta-Mu akan goyah. Yang penting bukanlah apa-kah aku akan diselamatkan atau binasa, melainkan apakah Engkau akan membiarkan takhta-Mu goyah atau tidak. Ya Allah, aku binasa adalah perkara sekunder. Perkara utama-nya adalah pondasi takhta-Mu yang benar. Ya Allah, aku mengingatkan Engkau akan kebenaran-Mu. Kristus telah mati bagi dosa-dosaku, dan Dia sekarang ada di sebelah kanan-Mu sebagai bukti bahwa Engkau telah menerima pembayaran-Nya atas semua hutangku. Menurut kebenar-an-Mu, Engkau tidak mempunyai pilihan lain kecuali me-nyelamatkan aku. Kristus telah mati, dan Engkau telah menerima kematian-Nya dan telah membangkitkan Dia da-ri antara orang mati, dan Engkau sekarang secara hukum terikat untuk mengampuni aku. Dengan membangkitkan Kristus, Engkau menunjukkan bahwa Engkau puas dengan pembayaran-Nya dan Engkau telah mengeluarkan kuitansi pembayarannya. Ya Allah, jika Engkau tidak puas dengan Kristus, maka Engkau harus membiarkan Dia tetap tinggal di dalam kubur. Ya Allah Bapa, aku mengapresiasi kasih-Mu dan anugerah-Mu. Tetapi sekarang aku berdiri di hadap-an-Mu bukan dalam kasih atau anugerah, melainkan da-lam kebenaran-Mu. Sekarang, tidak peduli keadaanku ba-gaimana, Engkau harus mengampuni aku.”

Pernahkah Anda berdoa kepada Allah dengan cara demikian? Kapan saja seseorang berdoa seperti ini, Allah akan senang. Ini adalah berdoa kepada Allah menurut kebenaran-Nya. Injil Kristus adalah kekuatan Allah karena kebenaran Allah dinyatakan di dalamnya.

KEBENARAN ALLAH DIMANIFESTASIKAN

DAN DIPERLIHATKAN

Dalam Roma 3:21, Paulus membicarakan lebih lanjut tentang kebenaran, “Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat pembenaran oleh Allah telah dinyatakan, seperti yang disak-sikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi.” Menga-takan bahwa kebenaran Allah telah dinyatakan tanpa hukum Taurat itu berarti kebenaran Allah bukanlah berdasarkan perbuatan kita; yaitu, bukan berdasarkan kita memelihara hukum Taurat.

Kebenaran Allah diperlihatkan, karena Ia telah membi-arkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesa-baran-Nya (3:25). Ini berarti dalam pandangan penebusan Kristus yang akan datang itu, Allah telah melewatkan do-sa-dosa dari banyak orang beriman dalam Perjanjian Lama, seperti Habel, Nuh, Abraham, Yakub, dan Daud. Selama za-man Perjanjian Lama, Allah tidak menghukum orang-orang itu ke lautan api, atau mengampuni dosa-dosa mereka. Se-baliknya, Dia melewatkan dosa-dosa mereka. Dosa-dosa mereka masih tetap ada, tetapi dosa-dosa itu ditutupi oleh lambang, yaitu oleh darah kurban yang melambangkan pengorbanan Kristus. Lambang Perjanjian Lama dalam per-kara ini dapat disamakan dengan sebuah catatan perjanjian atau kesanggupan. Lambang itu bukanlah pembayaran hu-tang yang sesungguhnya, melainkan sebuah janji bahwa pembayaran yang penuh akan dibuat. Karena Kristus be-lum datang untuk mati di kayu salib, maka Allah membe-rikan satu catatan yang berisi janji kepada orang-orang dosa dalam Perjanjian Lama. Kurban pendamaian atau kurban penghapus dosa, yang adalah bayang-bayang Kristus, telah memuaskan semua tuntutan kebenaran Allah. Maka, Allah dapat melewatkan dosa umat itu yang terjadi dalam zaman Perjanjian Lama. Lagi pula, untuk memperlihatkan kebe-naran-Nya, Dia harus melakukan hal ini.

Inilah yang ditunjukkan dalam Roma 3:25. Ayat ini mewahyukan bahwa Tuhan Yesus adalah tempat pendamaian, tutup pendamaian, yang diutus Allah untuk memperlihatkan kebenaran-Nya dalam melewatkan dosa-dosa orangorang beriman dalam Perjanjian Lama; karena, sebagai kurban pendamaian, Dia telah membuat pendamaian yang penuh di kayu salib bagi dosa-dosa mereka dan telah sepe-nuhnya memuaskan tuntutan-tuntutan kebenaran Allah. Ketika Tuhan Yesus mati di kayu salib, Dia telah mengge-napkan semua lambang kematian pengorbanan dan pene-busan-Nya. Pada waktu itu, catatan yang berisi perjanjian ini telah digantikan oleh pembayaran yang sesungguhnya.

Dengan mengampuni kita, Allah menunjukkan kebe-naran-Nya. Ia mengumumkan ke alam semesta bahwa ka-rena Ia benar, maka Ia harus mengampuni dosa-dosa kita. Karena Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus telah mati di kayu salib demi kita, maka secara hukum, Ia harus mengampuni kita. Entah Ia senang kepada kita atau tidak, Ia harus mengampuni kita menurut kebenaran-Nya. Allah tahu, kapan saja seseorang menunjukkan bahwa Kristus yang su-dah bangkit dan naik ke surga adalah tanda terima pemba-yaran hutang dosanya, Allah harus mengampuni orang itu. Dalam hal ini, Allah tidak ada pilihan.

MEMANDANG KRISTUS

YANG NAIK KE SURGA

Kita tidak boleh memandang diri kita, tetapi pandang-lah Kristus yang naik ke surga. Ibrani 1:3 mengatakan bahwa setelah selesai mengadakan penyucian dosa, Kristus duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar di tempat yang tinggi. Kristus yang naik ke surga dan duduk di sebelah ka-nan Allah adalah “tanda terima pembayaran” pengampunan dosa kita. Ini adalah perkara yang sangat bermakna, sa-ngat penting, karena ini adalah pondasi keselamatan kita. Kapan saja hati nurani kita menyalahkan kita karena ke-gagalan kita, kita perlu ingat untuk berdiri pada pondasi kebenaran Allah. Hari ini Anda mungkin bergairah bagi Tuhan. Tetapi di masa yang akan datang, mungkin Anda ga-gal, dan karena itu menjadi sangat kecewa dengan diri An-da sendiri, tidak bisa percaya bahwa Allah selamanya bisa mengampuni Anda. Jika Anda tetap tinggal di bawah pera-saan bersalah dan kecewa, Anda tidak akan dapat bangkit. Sebaliknya, Anda bisa menjadi sasaran atau korban tipu muslihat musuh. Saat seperti ini, Anda perlu memuji Allah atas kebenaran-Nya. Katakan kepada-Nya, tidak peduli be-rapa parah kejatuhan Anda, Kristus masih duduk di sebe-lah kanan-Nya sebagai tanda terima pembayaran semua hutang dosa Anda. Pengalaman kita mungkin naik turun, tetapi Allah tetap benar. Kapan saja kita menyebutkan da-rah Yesus dan menuntut kebenaran Allah, Allah tidak ada pilihan selain mengampuni kita (1 Yoh. 1:9).

PONDASI PENGALAMAN KITA ATAS KRISTUS

Pengalaman kita atas Kristus bertumpu pada pondasi kebenaran Allah. Jangan sekali-kali percaya diri sendiri, mengira diri kita tidak mungkin meninggalkan Tuhan atau gagal. Jangan seperti Petrus yang mengatakan bahwa ia akan setia kepada Tuhan, meskipun yang lain menyangkal Dia. Pondasinya bukanlah kegairahan kita atau kemenang-an kita, melainkan kebenaran Allah, pondasi yang tidak tergoyahkan dari takhta Allah. Allah telah menunjukkan kebenaran-Nya dengan melewatkan dosa-dosa kaum ber-iman Perjanjian Lama dan dengan mengampuni dosa-dosa kita dalam zaman Perjanjian Baru. Dengan melakukan halhal ini, Allah sudah membuktikan bahwa Ia benar. Kini kebenaran Allah ini menjadi pondasi kita. Pekerjaan Allah yang menyatakan kita sebagai anak-anak-Nya dibangun di atas pondasi ini. Namun, kita harus jelas bahwa pondasi ini bukanlah proses penyataan, melainkan kebenaran Allah.

KRISTUS — TUJUAN AKHIR HUKUM TAURAT, AGAR ORANG MEMPEROLEH PEMBENARAN

Roma 10:3-4 mengatakan, “Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal pembenaran oleh Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran diri mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada pembenaran oleh Allah. Sebab Kristus adalah tujuan akhir hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.” Di sini kita lihat bahwa orang Israel melakukan kesalahan dengan berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri. Jika kita berbuat demikian pada hari ini, kita juga salah. Kristus adalah tujuan akhir hukum Taurat, agar orang memperoleh kebenaran. Dia adalah tujuan akhir hukum Taurat sehingga kita bisa memperoleh kebenaran Allah.

DISUSUN MENJADI KEBENARAN ALLAH

Dalam 2 Korintus 5:21, Paulus mengatakan, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita menjadi kebenaran Allah” (Tl.). Menurut ayat ini, kita bukan hanya benar dalam pandang-an Allah, tetapi kita juga disusun dengan kebenaran. Da-lam Kristus, kita menjadi kebenaran Allah. Pengalaman ini bersifat subyektif, juga cukup dalam. Dalam 1 Korintus terdapat kebenaran yang obyektif, tetapi dalam 2 Korintus, ada kebenaran yang subyektif. Ini berarti kita bukan hanya benar di hadapan Allah, lebih-lebih adalah kebenaran Allah itu sendiri.

Kita menjadi kebenaran Allah ini terjadi melalui peker-jaan transformasi. Allah sedang dengan Kristus mentrans-formasi kita. Semakin banyak kita ditransformasi oleh Allah secara demikian, kita akan semakin menjadi kebenaran Allah. Sebagai keturunan Adam, kita adalah dosa. Tetapi kini se-bagai anggota Kristus, Kristus sedang digarapkan ke dalam kita, berangsur-angsur mentransformasi kita dari dosa men-jadi kebenaran.

Kebenaran berarti benar terhadap Allah dalam segala hal. Maksudnya, di pandangan Allah, dalam segala hal An-da tidak ada salahnya, atau tidak ada yang tidak tepat. Setiap bagian dari diri Anda itu benar menurut Allah. Anda sama adilnya, sama benarnya dengan Allah. Kebenaran bu-kanlah perkara tingkah laku luaran, karakter, atau tindak-an, melainkan perkara manusia batiniah kita. Di mata orang lain, mungkin Anda cukup baik. Tetapi begitu Anda berdiri di hadapan Allah, Anda akan menyadari bahwa Anda sama sekali tidak baik. Mungkin Anda lebih baik daripada orang lain, tetapi yang pasti Anda tidak sebaik Allah. Dibenarkan oleh Allah berarti menjadi sama seperti Dia. Ketika kita ber-oleh selamat, kita ditudungi oleh Kristus sebagai pakaian atau jubah kebenaran kita. Ini adalah kebenaran yang obyek-tif. Tetapi sekarang Allah sedang bekerja untuk membuat persona kita, diri kita, menjadi kebenaran Allah. Ini bukan hanya satu jubah yang kita kenakan secara obyektif, mela-inkan unsur Kristus sendiri digarapkan ke dalam kita secara subyektif. Dengan demikianlah kita bukan hanya memiliki pondasi, tetapi juga bangunannya.

Menjadi kebenaran Allah secara batiniah dan subyektif juga berkaitan dengan penyataan. Semakin kita dinyatakan sebagai anak-anak Allah, kita semakin menjadi kebenaran Allah. Ini adalah perkara Kristus digarapkan ke dalam sifat kita, unsur kita, diri kita, substansi kita. Ini bukan perka-ra sesuatu ditambahkan kepada kita secara obyektif, mela-inkan perkara transformasi yang bersifat subyektif. Puji Tuhan, karena kita, kaum beriman di dalam Kristus, ber-ada pada pondasi kebenaran Allah. Kini, kebenaran ini di-garapkan ke dalam kita untuk menyusun kita menjadi kebenaran Allah.

Mengenai kebenaran, ada perbedaan antara Surat 1 Korintus dengan Surat 2 Korintus. 1Korintus 1:30 me-ngatakan bahwa Kristus adalah kebenaran kita secara obyektif, sedangkan 2 Korintus 5:21 mengatakan bahwa Kristus digarapkan ke dalam kita untuk membuat kita menjadi kebenaran Allah secara subyektif. Mengenai kebe-naran yang obyektif, sejak kita beroleh selamat, kita semua sudah benar. Tetapi mengenai kebenaran yang subyektif, kita masih dalam proses. Dengan kata lain, dari posisi, kita sudah benar di mata Allah, tetapi secara sifat, kita belum menjadi kebenaran Allah.

BERDIRI PADA KEBENARAN ALLAH

Namun, kita harus memuji Tuhan atas posisi kita yang benar. Tidak peduli betapa buruknya sifat kita, kita masih memiliki posisi benar. Karena kita memiliki posisi dan pondasi ini, kita memiliki keberanian untuk memberi tahu Allah bahwa Ia tidak berhak menolak kita. Kita dapat me-ngatakan, “Allah Bapa, bahkan sekalipun Engkau tidak me-nyukai aku, Engkau tetap harus menerimaku. Engkau mena-ruh Tuhan Yesus di kayu salib menggantikan aku menerima penghukuman. Selain itu, Engkau sudah membangkitkan Dia dari kematian dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Mu, sebagai bukti bahwa Engkau telah menerima kemati-an-Nya sebagai pembayaran untuk hutang dosa-dosaku. Aku percaya Engkau mengasihi aku, tetapi sekalipun Engkau ti-dak mengasihi aku, Engkau tetap harus menerimaku ber-dasarkan kebenaran-Mu.”

Kita sudah beroleh selamat karena kasih dan anugerah Allah, tetapi khususnya, kita beroleh selamat karena kebe-naran Allah. Kasih dan anugerah Allah mungkin bisa ber-ubah dalam kaitannya dengan kita, tetapi kebenaran Allah tidak mungkin berubah. Sebelum Kristus mati di kayu sa-lib, Allah masih bisa berubah pikiran terhadap kita. Pada menit-menit terakhir, Ia bisa saja memutuskan membiar-kan kita semua binasa dan menciptakan umat manusia yang baru lagi untuk menggenapkan kehendak-Nya. Tetapi seperti yang telah kita tunjukkan, kini karena Kristus su-dah mati karena dosa-dosa kita dan telah bangkit untuk membenarkan kita, Allah tidak bisa berubah pikiran. Allah sudah menandatangani surat wasiat, dan secara hukum Ia terikat oleh surat wasiat itu. Sebab itu, untuk keselamatan kita, kita tidak berdiri di atas kasih Allah juga bukan di atas anugerah Allah, melainkan di atas kebenaran Allah.

Kitab Roma membicarakan kasih Allah, juga membicarakan anugerah Allah. Namun, Kitab Roma tidak mengatakan bahwa kasih atau anugerah itu adalah kekuatan Injil. Sebaliknya, dalam kitab ini, Paulus dengan jelas meng-umumkan bahwa kekuatan Injil adalah kebenaran Allah. Sa-ya berterima kasih sedalam-dalamnya kepada Allah atas kasih dan anugerah-Nya. Tetapi tumpuan saya adalah keb-enaran-Nya, pondasi takhta-Nya. Kebenaran-Nya tidak da-pat digoyahkan. Jika kita mau dinyatakan sebagai anak-anak Allah untuk merampungkan kehendak kekal Allah, kita semua harus tahu pondasi yang tidak terguncangkan ini dan berdiri teguh di atasnya.

Banyak orang Kristen memuji Allah atas kasih-Nya dan anugerah-Nya, tetapi tidak banyak yang memuji Dia atas kebenaran-Nya. Puji Dia, karena pondasi keselamatan kita adalah kebenaran-Nya! Kita juga memuji Dia karena Ia mentransformasi kita dalam Kristus menjadi kebenaran-Nya. Akhirnya, Allah bisa berkata, “Iblis, lihatlah anak-anak-Ku. Mereka bukan hanya benar di hadapan-Ku, tetapi mereka sudah menjadi kebenaran-Ku.” Begitu kita beroleh selamat menurut kebenaran Allah, kita tidak bisa hilang la-gi. Jika kita jelas tentang kebenaran Allah dalam Injil, ki-ta akan tenang, karena tahu bahwa kebenaran Allah adalah jaminan kita yang kekal.