DINYATAKAN MELALUI ROH KEKUDUSAN
Dalam berita sebelumnya kita melihat tujuh kata yang bermakna: penyataan, kebangkitan, pengudusan, transfor-masi, penyerupaan, pemuliaan, dan manifestasi. Kita dinya-takan sebagai putra-putra Allah melalui kebangkitan. Proses kebangkitan ini meliputi pengudusan, transformasi, penye-rupaan, dan pemuliaan. Pemuliaan ini akan menjadi mani-festasi kita.
Ketujuh butir ini terlaksana melalui Roh itu dan ber-dasarkan hayat. Allah menyatakan kita dan membuat kita mengalami proses kebangkitan ini melalui Roh-Nya, berda-sarkan hayat. Allah juga menguduskan kita, mentransfor-masi kita, menyerupakan kita, memuliakan kita, dan memba-wa kita masuk ke dalam manifestasi keputraan yang penuh melalui Roh itu berdasarkan hayat. Roh itu dan hayat ilahi dibahas dalam Kitab Roma.
KEKUDUSAN, ESENS ILAHI
Mengapa dalam Roma 1:4 Paulus mengatakan Roh kekudusan bukan Roh Kudus? Ada satu perbedaan antara Roh Kudus dengan Roh kekudusan. Kekudusan adalah esens ilahi Allah, substansi (hakiki) Allah. Jadi, Roh kekudusan adalah Roh substansi ilahi, sedangkan Roh Kudus adalah Persona Roh itu. Sebagai orang-orang yang telah jatuh, kita tersusun dari dosa. Tetapi sebagai Putra Allah, Kristus ter-susun dari kekudusan. Kekudusan adalah unsur-Nya. Keku-dusan di sini bukan mengacu kepada kesempurnaan tanpa dosa atau pemisahan secara posisi, melainkan mengacu ke-pada esens ilahi, yaitu substansi diri Allah. Menurut Roh kekudusan inilah Kristus dinyatakan sebagai Putra Allah.
Sekali lagi kita dapat memakai hayat tanaman sebagai ilustrasi. Ketika anyelir dan bakung hanya merupakan tu-nas saja, keduanya mungkin kelihatan sangat serupa. Te-tapi sewaktu tanaman-tanaman ini bertumbuh, keduanya lambat laun dinyatakan menurut esens hayat yang ada di dalamnya. Sama prinsipnya, Roh kekudusan adalah esens hayat ilahi di dalam Tuhan Yesus. Ketika Dia hidup di bu-mi dalam daging, Dia memiliki esens hayat ilahi. Karena esens hayat ilahi ini adalah menurut diri Allah, maka esens hayat ilahi ini juga adalah esens kekudusan. Menurut pe-mahaman kita, kata kekudusan itu mengacu kepada dipi-sahkan, berbeda dari segala hal yang umum. Karena esens Allah itu unik, maka Allah terpisah dari segala hal lain selain diri-Nya. Kekudusan yang dibicarakan dalam ayat 4 adalah esens hayat ilahi yang ada di dalam Tuhan Yesus ke-tika Dia hidup di bumi. Sama seperti bunga anyelir dinya-takan menurut esens hayat di dalamnya, demikian juga Tuhan Yesus dinyatakan oleh kebangkitan melalui esens hayat ilahi di dalam-Nya.
Kita telah menunjukkan bahwa kita semua perlu melayani Allah di dalam Injil Putra-Nya. Melayani Allah di dalam Injil adalah melayani Dia bukan hanya dalam perka-ra penebusan, pembenaran, dan pengampunan saja, melain-kan khususnya dalam perkara keputraan. Semua pelayanan dalam gereja-gereja lokal harus menjadi pelayanan dalam Injil keputraan. Menurut Injil ini, orang-orang dosa dalam daging dapat ditransformasi menjadi putra-putra Allah di dalam Roh. Kabar yang benar-benar menggembirakan!
PENERAPAN ALLAH TRITUNGGAL
Dalam berita ini kita perlu melihat bahwa penyataan, kebangkitan, pengudusan, transformasi, penyerupaan, pe-muliaan, dan manifestasi, semuanya direalisasikan melalui Roh kekudusan. Untuk memahami hal ini, kita perlu me-ngenal bahwa ekonomi Allah adalah Allah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia. Fakta bahwa Allah ada-lah tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh — itu berhubungan dengan ekonomi-Nya, berhubungan dengan penyaluran-Nya ke dalam kita. Allah Bapa terwujud di dalam Allah Putra, dan Allah Putra direalisasikan, ditransmisikan, dialami, dan didapatkan oleh kita di dalam Allah Roh. Roh itu seba-gai yang ketiga dalam ke-Allahan adalah Allah yang dire-alisasikan dan dialami oleh kita. Ini berarti kita bisa menerapkan Allah Tritunggal melalui Roh Allah. Karena hal ini, dalam pengalaman kita, Allah Tritunggal adalah Roh itu.
Arus listrik adalah ilustrasi dari Roh itu sebagai penerapan Allah Tritunggal. Tanpa arus listrik, listrik tidak dapat diterapkan. Dalam penerapannya, listrik perlu menjadi arus listrik. Namun, arus ini bukanlah sesuatu yang berbeda dengan listrik itu sendiri. Arus listrik adalah listrik yang bergerak. Sama prinsipnya, kita bisa mengalami Allah Tritunggal melalui Roh itu. Roh itu adalah arus Allah Tritunggal untuk kita terapkan. Dia adalah Allah Tritunggal dalam pergerakan.
KRISTUS ADALAH ROH PEMBERI-HAYAT
Perjanjian Baru dengan jelas mewahyukan bahwa hari ini Kristus adalah Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45 Tl. life-giving spirit). Ini berarti Kristus adalah Roh itu yang ada-lah arus Allah Tritunggal untuk kita terapkan dalam peng-alaman. Pemahaman ini berbeda dengan teologi tradisional, tetapi berhubungan dengan firman Allah yang murni. Per-janjian Baru mewahyukan bahwa Kristus adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, mati di kayu salib bagi dosa-dosa kita, bangkit dari antara orang mati, naik ke sur-ga, dimuliakan dan dimahkotai sebagai Raja, Kepala, dan Tuhan atas segala sesuatu. Kristus ini juga adalah Roh pemberi-hayat.
Semua butir obyektif tentang siapakah Kristus dan apakah Kristus hari ini telah dikenal dan diajarkan oleh orang-orang Kristen yang fundamental. Namun, perkara Kristus sebagai Roh pemberi-hayat justru sangat diabaikan. Ini adalah karena tipu muslihat Iblis. Ini sama dengan seseorang membicarakan tentang apa itu listrik dan apa fungsinya, tetapi ia mengabaikan arus listrik. Apakah gu-nanya mendiskusikan tentang listrik tanpa menerapkan-nya? Saya tidak tahu banyak tentang listrik, tetapi dengan menerapkannya, saya menikmati faedahnya. Sama prinsip-nya, hari ini keperluan kita terutama bukanlah pengetahuan yang obyektif tentang doktrin, melainkan pengalaman yang subyektif terhadap arus dari Allah Tritunggal.
Iblis, musuh Allah yang licik itu, mungkin membiarkan orang-orang mengenal bahwa Kristus adalah Putra Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, yang mati di kayu sa-lib bagi penebusan kita, yang telah bangkit, dan yang telah naik di sebelah kanan Allah. Tetapi musuh ini membutakan kaum beriman terhadap kebenaran yang penting mengenai Kristus sebagai Roh pemberi-hayat. 2Korintus 3:6 mengatakan bahwa hukum yang tertulis itu mematikan, tetapi Roh itu menghidupkan (memberi hayat). Menurut 2 Korintus 3:17, Tuhan adalah Roh, dan di mana ada Roh Tuhan, di si-tu ada kemerdekaan. Ayat 18 melanjutkan, “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan (yang adalah) Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Dalam ayat ini kita melihat satu gelar majemuk — Tuhan Roh (Tl.). Hanya sedikit orang Kristen yang memperhatikan gelar Tuhan ini. Pemahaman dan pengalaman terhadap Kristus sebagai Tuhan Roh perlu dipulihkan. Saya suka berseru kepada nama Tuhan Yesus, tetapi saya secara khu-sus menikmati menjamah Dia sebagai Tuhan Roh. Hari ini Tuhan Yesus adalah Roh pemberi-hayat yang ajaib.
Butir ini juga dibahas dalam Roma 8. Dalam ayat 9 dari pasal ini, Paulus membicarakan tentang Roh Allah yang ada di dalam kita. Kemudian ia berkata, “Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Ini dengan jelas menunjukkan bahwa hari ini Roh Allah adalah Roh Kristus. Lagi pula, ayat selanjutnya membicarakan tentang Kristus ada di dalam kita. Fakta bahwa istilah-istilah ini dipakai secara bergantian menunjukkan bahwa Roh Allah adalah Roh Kristus, dan bahwa Roh Kristus ada-lah Kristus itu sendiri. Roh yang dibicarakan dalam Roma 8 adalah Kristus itu sendiri.
Kristus yang adalah Roh pemberi-hayat ini ada di da-lam roh kita. Roma 8:16 mengatakan, “Roh itu bersaksi ber-sama-sama dengan roh kita.” Hal ini mewahyukan dengan jelas bahwa Roh Kudus menjadi satu dengan roh insani kita yang telah dilahirkan kembali. Sebagai Roh pemberi-hayat, hari ini Kristus adalah penerapan dan realisasi dari Allah Tritunggal. Lagi pula, penerapan dan realisasi ini ada di dalam roh kita.
MENERAPKAN LISTRIK SURGAWI
Diri kita sepertilah sebuah bangunan. Di dalam ba-ngunan ini Kristus sebagai “listrik surgawi” telah dipasang (diinstalasikan). Kita memuji Tuhan bahwa di dalam ba-ngunan ini Sang ahli listrik ilahi telah menempatkan satu “tombol” — roh insani. Roh kita dapat dibandingkan dengan sebuah tombol yang olehnya kita dapat menerapkan listrik surgawi ini. Betapa mengecewakannya, bila listrik telah di-pasang ke dalam bangunan ini, tetapi tidak ada tombolnya. Puji Tuhan untuk tombol roh insani kita! Memakai tombol ini adalah kunci untuk mengalami Roh itu sebagai penerap-an dari Allah Tritunggal. Kita perlu berkali-kali mengingat-kan diri sendiri bahwa Kristus sebagai realisasi dari Allah Tritunggal adalah Roh pemberi-hayat di dalam roh kita.
Banyak dari antara kita diajarkan untuk merenungkan Tuhan dan hal-hal rohani. Dalam perenungan yang demikian kita mungkin teringat kembali bagaimana Putra Allah berinkarnasi, bagaimana Dia lahir dalam sebuah pa-lungan, bagaimana Dia bekerja sebagai tukang kayu, bagai-mana Dia disalibkan, bangkit dan naik ke surga. Saya ti-dak menentang perenungan yang demikian. Namun, saya ingin menunjukkan bahwa ini terlalu obyektif. Jika kita hanya merenungkan tentang Tuhan, kita tidak akan me-nikmati penerapan yang riil dan seketika dari Dia sebagai Roh pemberi-hayat. Seorang beriman dapat menikmati satu penerapan yang berkesinambungan dari Kristus, meskipun ia mungkin tidak tahu banyak tentang Dia secara doktrin. Pertimbangkanlah ilustrasi listrik kembali. Apakah Anda akan menunggu sampai memahami listrik sebelum Anda menerapkannya? Tentu saja tidak. Meskipun mungkin ber-guna untuk memahami listrik, tetapi hal yang terpenting adalah menerapkannya. Banyak orang Kristen khusus mem-perhatikan tentang memperoleh pengetahuan yang doktrinal tentang Kristus, tetapi mereka mengabaikan pengalaman yang riil terhadap-Nya. Banyak orang beriman tidak tahu bagaimana menerapkan Dia. Jika kita ingin menerapkan Dia, kita perlu melihat bahwa hari ini, sebagai Roh pem-beri-hayat, Dia adalah listrik ilahi di dalam roh kita.
BERSERU KEPADA NAMA TUHAN
Cara untuk memakai tombol ini diberikan dalam Roma 10:12. Di sana dikatakan, Tuhan “murah hati kepada (kaya bagi) semua orang yang berseru kepada-Nya”. Listrik ilahi ini kaya bagi semua orang yang “menyambungkannya”, dan cara untuk “menyambungkannya” adalah dengan “berseru kepada Tuhan”. Dengan berseru kepada nama Tuhan kita melatih roh kita. Jika kita hanya memikirkan apa adanya Tuhan bagi kita, kita tidak akan memiliki hubungan yang riil dengan-Nya. Ingatlah, Roma 10:12 mengatakan bahwa Tuhan itu kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Betapa sederhananya hal ini! Dengan berseru kepada nama Tuhan Yesus, kita dibebaskan dari kesia-siaan pikiran alamiah kita, dan kita akan terpelihara di dalam roh.
MENGALAMI APA YANG BERHUBUNGAN
DENGAN ROH ITU
Penyataan adalah melalui kebangkitan, yang meliputi pengudusan, transformasi, penyerupaan, dan pemuliaan. Se-mua hal yang ajaib ini ada di dalam Roh itu. Dengan men-jamah Roh itu, kita akan menikmati kebangkitan dan segala sesuatu yang tercakup di dalamnya. Kebangkitan bu-kanlah perkara doktrin; ini mutlak merupakan perkara menjamah Roh itu. Cara yang paling sederhana untuk me-ngontak Roh itu adalah dengan berseru kepada nama Tuhan Yesus. Semakin kita menjamah Roh itu, kita akan semakin menikmati kebangkitan dan semakin dikuduskan, ditrans-formasi, dan dimuliakan.
Menurut Kitab Roma, Roh itu sebagai realisasi dari Allah Tritunggal sedikitnya berhubungan dengan sepuluh butir. Kesepuluh butir ini berhubungan dengan pengalaman kita terhadap realitas kebangkitan.
Kekudusan
Pertama-tama, Roh itu berhubungan dengan kekudusan (1:4). Kita telah menunjukkan bahwa Paulus bahkan memakai istilah Roh kekudusan di dalam Roma 1:4. Jika kita mau berbagian dalam kekudusan Allah, dalam esensi diri Allah, maka kita perlu mengontaki Roh itu.
Hayat
Dalam Roma 8:2, Roh itu disebut Roh hayat (Tl.). Hari ini banyak orang Kristen membicarakan tentang hayat tanpa menyadari bahwa hayat berhubungan dengan Roh itu. Hayat ini sangat sulit untuk didefinisikan. Dalam membi-carakan tentang hayat, yang paling baik adalah membica-rakannya dari sudut pandang pengalaman. Roma 8:6 me-ngatakan bahwa pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat (Tl.). Berada di dalam hayat berarti manusia batiniah kita itu hidup. Dengan meletakkan pikiran di atas roh, ma-ka kita akan hidup. Namun, jika Anda meletakkan pikiran Anda di atas situasi Anda atau lingkungan Anda, Anda akan mati. Anda akan merasa bahwa batin Anda tertekan. Tetapi jika Anda memalingkan pikiran Anda kepada roh dan meletakkan pikiran kita di atas roh, Anda akan hidup lagi. Ini menunjukkan bahwa hidup adalah ekspresi hayat.
Hayat juga memberikan tenaga kepada kita. Hayat ilahi di dalam kita ini tidak akan pernah habis. Saya dapat bersaksi bahwa sewaktu saya berbicara di dalam ministri Tuhan, hayat yang di dalam ini memberikan tenaga kepada saya.
Lagi pula, hayat yang sama ini menguatkan dan me-muaskan kita. Bila kita mengalami hayat, kita tidak akan memiliki perasaan hampa dan sia-sia di dalam kita. Sebalik-nya, kita akan dipuaskan sepenuhnya. Jadi, hayat ini membu-at kita menjadi hidup, bertenaga, dikuatkan, dan dipuaskan. Semakin kita mengontaki Roh itu dengan berseru kepada nama Tuhan Yesus, semakin kita akan menjadi hidup, bertenaga, dikuatkan, dan dipuaskan.
Hukum
Menurut Roma 8:2, Roh itu juga berhubungan dengan hukum. Ayat ini membicarakan tentang hukum Roh hayat. Di sini Paulus memberi tahu kita bahwa hukum ini mem-bebaskan kita dari hukum dosa dan maut. Hukum Roh hayat adalah lawan hukum dosa dan maut. Karena hukum Roh hayat lebih tinggi daripada hukum dosa dan maut, maka dapat membebaskan kita dari hukum itu.
Kita telah membicarakan tentang Roh kekudusan dan Roh hayat. Sebenarnya, Roh itu adalah kekudusan dan ha-yat. Sama prinsipnya, Roh itu adalah hukum yang membe-baskan kita dari hukum dosa dan maut. Hukum ini adalah satu kekuatan yang spontan, yang otomatis. Kapan saja kita menjamah Roh itu, kita akan menjamah hukum ini, kekuatan yang spontan dan otomatis. Jika kita melihat hal ini, kita akan menyadari kesia-siaan usaha kita dalam mem-perbaiki diri sendiri. Bukannya bergumul, kita sebaliknya hanya perlu mengontaki Roh itu dan memberikan tempat bagi pekerjaan yang spontan dari hukum Roh hayat di da-lam kita.
Damai Sejahtera
Roh itu juga berhubungan dengan damai sejahtera. Meletakkan pikiran di atas roh, bukan hanya hidup, tetapi juga damai sejahtera. Damai sejahtera bukan hanya perkara perhentian, lebih-lebih perkara kenikmatan. Tanpa kenikmatan ini kita tidak akan dapat memiliki damai sejahtera yang sejati. Sunyi tenang tetapi tanpa kenikmatan, itu bukanlah damai sejahtera. Roh itu adalah damai sejahtera bagi kita. Bila kita mengontaki Roh itu, maka kita akan memiliki damai sejahtera yang hidup dan sejati.
Sukacita
Roma 14:17 berkata, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus.” Ayat ini menun-jukkan bahwa Roh itu berhubungan dengan sukacita. Bila kita berada di dalam Roh itu, kita akan penuh dengan su-kacita, begitu sukacitanya hingga kita dapat menyerukan puji-pujian kepada Tuhan. Seringkali kita mungkin tengge-lam dengan sukacita, dan pujian-pujian dengan spontan mengalir keluar dari dalam kita.
Pengharapan
Roma 15:13 berkata, “Semoga Allah, sumber pengha-rapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Ku-dus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.” Kita ti-dak akan tanpa pengharapan lagi, karena kapan saja kita menjamah Roh itu, kita akan memiliki pengharapan. Mazmur 3:4 berkata, “Tetapi Engkau, TUHAN, . . . yang mengang-kat kepalaku.” Tuhan adalah Dia yang mengangkat kepala kita. Ini berarti bahwa Dia memberikan pengharapan kepada kita. Bila kita berada di dalam Roh itu, maka ke-pala kita akan ditegakkan, dan kita akan penuh dengan pengharapan.
Kasih
Roma 5:5 menunjukkan bahwa Roh itu juga berhu-bungan dengan kasih: “Dan pengharapan tidak mengecewa-kan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Lebih jauh lagi, dalam Roma 15:30, Paulus membicarakan tentang “kasih Roh itu”. Sewaktu kita mengontaki Roh itu, kita akan mengalami kasih.
Kekuatan
Dalam Roma 15:13 dan 19, Paulus menyinggung ten-tang kekuatan Roh itu. Kekuatan ini seperti mesin pem-bangkit listrik yang memberikan tenaga kepada kita dari da-lam. Bila kita berada di dalam Roh itu, maka dengan spon-tan kita akan diberi tenaga oleh kekuatan dari Roh itu.
Pelayanan
Roma 7:6 mengatakan bahwa “kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keada-an lama menurut huruf hukum Taurat.” Ayat ini menun-jukkan hubungan antara Roh itu dan pelayanan. Jika kita tidak berada di dalam Roh itu, maka kita tidak akan dapat melayani Tuhan. Dalam Roma 1:19, Paulus mengatakan ia melayani Allah dalam Injil di dalam rohnya. Semakin kita berada di dalam roh, kita akan semakin rela menjadi ham-ba untuk melayani Tuhan. Kita akan berkata, “Tuhan Yesus, sebagai hamba-Mu, aku rela melayani Engkau.”
Memberitakan Injil
Terakhir, pemberitaan Injil yang sejati ada di dalam Roh itu. Injil ini mencakup seluruh isi Kitab Roma.
Mungkin Anda dulu belum pernah melihat bahwa ke-kudusan, hayat, hukum, damai sejahtera, sukacita, pengha-rapan, kasih, kekuatan, pelayanan, dan pemberitaan Injil, se-muanya berhubungan dengan Roh itu. Pada faktanya, Roh itu adalah realitas dari semua butir ini bagi kita dalam pengalaman kita. Jika kita memiliki Roh itu, kita juga akan memiliki semua butir yang ajaib ini. Bila butir-butir ini ditambahkan bersama-sama, akan sama dengan pengudus-an, transformasi, penyerupaan, dan pemuliaan. Semua hal ini adalah realitas dari kebangkitan. Semakin sepuluh butir ini menjadi pengalaman kita, semakin kita akan menikmati kebangkitan melalui Roh itu dan berdasarkan hayat. Hari ini yang kita perlukan bukanlah pengajaran yang obyektif, melainkan kontak yang riil dengan Tuhan melalui “membu-ka (menekan) tombol” ini. Bila kita berseru kepada nama Tuhan, maka kita akan menjamah Roh itu, yang adalah rea-lisasi dan penerapan dari Allah Tritunggal. Dengan cara ini kita akan mengalami dinyatakan sebagai putra-putra Allah melalui Roh itu dan berdasarkan hayat.