Daftar isi Roma (4) · Berita Kelima Puluh Empat · bab 4/19

Berita Kelima Puluh Empat

DINYATAKAN MELALUI KEBANGKITAN

Kita telah melihat bahwa dalam Roma 1:1, Paulus mengatakan bahwa ia “dikhususkan untuk memberitakan Injil Allah.” Kemudian ia mengatakan bahwa Injil Allah ini berkenaan dengan Putra Allah, Yesus Kristus Tuhan kita (1:3). Ini menunjukkan bahwa Injil Allah adalah Injil keputraan. Sasaran dari Injil ini adalah mentransformasi orang-orang dosa menjadi putra-putra Allah bagi pembentukan Tubuh Kristus.

PROSES KEBANGKITAN

Sewaktu kita melihat perkara keputraan ini, kita harus memperhatikan beberapa kata penting: penyataan, kebangkitan, pengudusan, pengubahan (transformasi), penyerupaan, pemuliaan, dan manifestasi. Kita sedang dinyatakan sebagai putra-putra Allah melalui proses kebangkitan. Dalam proses ini, sejumlah tahap dilibatkan. Tahap-tahap ini meliputi pengudusan, transformasi, penyerupaan, dan pemuliaan. Pemuliaan ini juga akan menjadi manifestasi. Hari ini orang-orang mungkin tidak menyadari bahwa kita adalah orang Kristen. Tetapi pada hari pemuliaan kita, tidak ada seorang pun yang perlu bertanya kepada kita apakah kita orang Kristen atau bukan, karena kita akan dimanifestasikan sebagai putra-putra Allah. Manifestasi itu akan menjadi perampungan proses penyataan oleh kebangkitan.

Pengudusan, transformasi, penyerupaan, dan pemuliaan ini bukanlah empat tahap yang terpisah. Sewaktu pengudusan berlangsung, kita juga sedang ditransformasi. Selain itu, sewaktu kita sedang ditransformasi, proses penyerupaan mulai terjadi. Akhirnya sebagai kelanjutan yang spontan dan perampungan dari proses ini, kita akan mencapai tahap pemuliaan atau manifestasi. Ketika pengudusan, transformasi, dan penyerupaan mencapai puncaknya, itu akan menjadi waktu pemuliaan kita. Pemuliaan ini akan menjadi manifestasi kita sebagai putra-putra Allah. Sekarang kita sedang menjalani proses penyataan oleh kebangkitan, proses yang akhirnya akan membawa kita kepada tahap manifestasi. Kunci untuk proses ini adalah kebangkitan. Karena itu, kita membicarakan penyataan melalui kebangkitan.

PENGALAMAN TERHADAP KEBANGKITAN

Dalam berita ini kita perlu melihat perkara kebangkitan dalam beberapa rincian. Kita tidak akan melihatnya secara objektif, dari sudut pandang doktrin, melainkan secara subjektif, dari sudut pandang pengalaman hayat. Roma 6:5 membicarakan tentang pengalaman terhadap kebangkitan. Ayat ini mengatakan bahwa kita akan mengambil bagian dalam apa yang sama dengan kebangkitan Kristus. Beberapa pelajar Alkitab mengatakan bahwa kebangkitan yang disinggung di sini adalah kebangkitan yang pertama yang dibicarakan dalam Wahyu 20:4 dan 5. Tetapi saya tidak percaya bahwa ini adalah pemahaman Paulus terhadap kebangkitan di sini. Paulus tidak mengatakan bahwa kita harus menunggu sampai masa seribu tahun untuk berbagian dalam kebangkitan Kristus. Dalam Roma 6:5, Paulus mengatakan bahwa kita telah bertumbuh bersama Kristus dalam apa yang sama dengan kematian-Nya dan bahwa kita juga akan berada dalam apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Ini bukan mengacu kepada masa yang akan datang, kebangkitan yang objektif, melainkan mengacu kepada pengalaman kita sekarang terhadap hayat kebangkitan Kristus. Kita tidak seharusnya menganggap kebangkitan itu hanya sebagai satu peristiwa di masa yang akan datang, seperti yang dipahami oleh Marta dalam Yohanes 11. Tuhan Yesus memberi tahu Marta bahwa diri-Nya adalah kebangkitan dan hayat (ayat 25). Firman-Nya ini menunjukkan bahwa kita tidak perlu menunggu sampai hari yang akan datang untuk memiliki Dia sebagai kebangkitan. Kebangkitan bukanlah perkara waktu atau ruang, melainkan perkara Kristus. Jika kita memiliki Kristus, kita memiliki kebangkitan. Tetapi jika kita tidak memiliki Kristus, kita tidak memiliki hayat kebangkitan, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Haleluya, kebangkitan adalah Yesus, Putra Allah! Asal kita memiliki Yesus Kristus, kita memiliki kebangkitan, tidak peduli di mana kita berada.

Sungguh ada suatu perbedaan antara pengajaran doktrinal dengan wahyu yang subjektif tentang Kristus sebagai kebangkitan! Hari ini yang kita perlukan bukanlah pengajaran yang objektif tentang kebangkitan, melainkan pengalaman yang subjektif, yang hidup, yang mutakhir terhadap Kristus sebagai kebangkitan.

KRISTUS SEBAGAI KUAT KUASA HAYAT

Mengatakan bahwa Kristus adalah kebangkitan berarti mengatakan bahwa Kristus adalah kuat kuasa hayat. Kebangkitan adalah kuat kuasa hayat. Mengenai hayat, ada esens hayat, kuat kuasa hayat dan bentuk hayat,. Pertama-tama kita memiliki esens hayat, kemudian kuat kuasa hayat, setelah itu baru bentuk hayat, rupa hayat. Kebangkitan adalah Kristus menjadi kuat kuasa hayat bagi kita. Ini adalah satu perkara yang sangat bermakna.

Pada tahun 1936, saya mengunjungi sebuah universitas ternama di China. Salah satu dari mahasiswa di universitas itu berbicara kepada saya tentang kesulitannya dalam mempercayai perihal kebangkitan. Ia mengatakan, karena ilmu pengetahuan modern, ia tidak dapat percaya. Baginya kebangkitan ini bertentangan dengan kebenaran ilmu pengetahuan. Di luar ruangan di mana kami bertemu ada sebuah ladang gandum. Dengan mengarahkan perhatiannya kepada gandum yang bertumbuh di ladang itu, saya menunjukkan bahwa gandum itu dihasilkan melalui beberapa butiran benih yang dikuburkan ke dalam tanah. Saya memberi tahu dia bahwa di satu pihak, benih-benih itu mati, tetapi sekarang benih-benih itu keluar dalam kebangkitan sebagai gandum. Melalui ilustrasi kematian dan kebangkitan itu, orang muda ini diselamatkan. Sekarang ia adalah salah seorang pemimpin para sekerja di Taiwan. Ilustrasi ini memperlihatkan bahwa kebangkitan adalah perkara kuat kuasa hayat.

FUNGSI-FUNGSI KEBANGKITAN

Menaklukkan Hal-hal Negatif

Kuat kuasa hayat ini memiliki sejumlah fungsi. Fungsi yang pertama adalah menaklukkan. Kebangkitan dapat menaklukkan setiap hal negatif, termasuk maut. Di luar Allah, hal yang paling berkuasa di alam semesta ini adalah maut. Kapan saja maut mendatangi seseorang, orang itu tidak dapat melawannya; ia tentu takluk pada kuasanya. Meskipun maut ini begitu penuh kuasa, kebangkitan lebih berkuasa lagi. Maut tidak dapat menahan kebangkitan (Kis. 2:24). Sebaliknya kebangkitan menaklukkan maut dan mengatasinya.

Dalam 1 Korintus 15:26, Paulus berkata, “Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut.” Ini menunjukkan bahwa maut adalah musuh yang paling kuat. Musuh yang demikian kuat ini hanya dapat dikalahkan oleh kebangkitan. Karena itu, fungsi yang pertama dari kebangkitan, kuat kuasa hayat ini, adalah menaklukkan hal-hal negatif, khususnya maut. Semakin banyak kebangkitan yang terjadi dalam satu situasi maut, semakin banyak kesempatan yang dimiliki kebangkitan untuk menaklukkan maut.

Menelan Maut

Fungsi yang kedua dari kuat kuasa hayat ini adalah menelan maut. Kebangkitan bukan hanya menaklukkan maut dan mengalahkannya, melainkan juga menelannya. Dalam Bilangan 14:9, Kaleb mengatakan bahwa musuh-musuh bangsa Israel akan menjadi makanan mereka. Maut, musuh yang terakhir dan yang terbesar ini, adalah makanan bagi kebangkitan. Kadang-kadang satu musuh telah ditaklukkan, tetapi ia masih tetap ada. Melalui fungsi kuat kuasa hayat ini, maut bukan hanya ditaklukkan, melainkan juga ditelan sampai musnah. Ketika kuat kuasa hayat menelan maut, maut itu musnah.

Menghasilkan Pertumbuhan, Transformasi, dan Pembentukan

Fungsi menaklukan dan menelan adalah fungsi-fungsi di aspek negatif. Namun, kebangkitan juga memiliki banyak fungsi di aspek positif. Yang pertama dari fungsi-fungsi ini adalah menghasilkan pertumbuhan dan transformasi. Semakin bertumbuh, suatu makhluk akan berubah, mengalami transformasi. Sekali lagi pertumbuhan bunga anyelir menggambarkan hal ini. Anyelir dimulai dari sebiji benih yang kecil. Tetapi setelah ditaburkan ke dalam tanah, benih itu mulai bertumbuh, pertama-tama menjadi sebuah tunas yang lembut dan akhirnya menjadi sebuah tanaman anyelir yang berbunga, dewasa. Ketika anyelir ini masih merupakan sebuah tunas, sulit untuk membedakannya dengan bentuk tanaman lainnya. Tetapi semakin bertumbuh, ia akan semakin berubah, semakin mengalami transformasi. Inilah transformasi melalui pertumbuhan.

Dalam prinsipnya, perubahan yang semacam ini juga terjadi pada anak-anak. Sewaktu seorang anak kecil bertumbuh, tubuhnya berubah kepada satu bentuk tertentu. Sewaktu kuat kuasa hayat ini mentransformasi, saat itu juga terjadi pembentukan. Semakin bertumbuh, kita akan makin terbentuk. Jadi, kebangkitan menyebabkan pertumbuhan, transformasi, dan pembentukan.

Membebaskan Hal-hal yang Positif

Kebangkitan juga membebaskan hal-hal yang positif. Menghasilkan buah adalah satu jenis pembebasan yang dihasilkan oleh fungsi kebangkitan. Dalam menghasilkan buah ada pembebasan esens hayat dari dalam sebuah pohon. Ini menunjukkan bahwa melalui menghasilkan buah, kekayaan hayat yang ada di dalam pohon itu dibebaskan. Dengan fungsi kuat kuasa hayat yang membebaskan ini, semua yang ada di dalam benih itu — akar, tangkai, ranting, daun, bunga, dan buah — dibebaskan. Ketika benih itu “bangkit”, maka semua yang positif di dalamnya dibebaskan.

Kita sering membicarakan tentang kekayaan Kristus. Kristus dengan segala kekayaan-Nya telah ditaburkan ke dalam kita sebagai satu benih. Kita melihat perkara ini dalam perumpamaan tentang penabur dalam Matius 13. Menurut perumpamaan ini, Kristus telah menaburkan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai satu benih hayat. Benih ini meliputi segala macam hal positif: kasih, kudus, benar, rendah hati, sabar, tekun. Di dalam benih ini ada atribut-atribut ilahi dan kebajikan-kebajikan insani. Satu-satunya hal yang diperlukan adalah pembebasan. Kebangkitan membebaskan esens kekayaan Kristus dari dalam benih itu.

Kuat Kuasa untuk Meninggikan

Pada kebangkitan juga ada kuat kuasa untuk meninggikan (mengangkat tinggi). Kebangkitan ini, seperti tebu (deringo, Tl.) yang dipakai untuk membuat minyak urapan dalam Keluaran 30, yang tumbuh di “tanah yang berlumpur”. Tebu ini adalah gambaran dari kuat kuasa dalam Kristus untuk meninggikan.

PENGALAMAN KITA TERHADAP

KEBANGKITAN

Sebagai kaum beriman, kita memiliki Kristus di dalam kita sebagai kebangkitan, dan kebangkitan ini adalah kuat kuasa hayat kita. Hari demi hari kuat kuasa ini berfungsi untuk menaklukkan maut. Maut memiliki banyak aspek: Kelemahan, kebencian, kegelapan, kesombongan, kritik, perselisihan. Bahkan jika Anda bersungut-sungut atau ikut dalam gosip yang kecil pun, Anda akan menjamah maut. Semua hal negatif tercakup dalam isi maut ini. Kebangkitan di dalam kita menaklukkan setiap bentuk maut dan menelannya. Kebangkitan ini akan menelan kesombongan kita, kritik kita, kerendahan hati kita yang palsu. Selain itu, kuat kuasa hayat ini akan menyebabkan pertumbuhan, transformasi, dan pembentukan. Kebangkitan ini juga membebaskan hal-hal positif, dan membuat kita bangkit di atas segala situasi yang “berlumpur”.

Sekalipun kita tidak memiliki kesadaran bahwa kuat kuasa hayat ini ada di dalam kita, tetapi kita benar-benar memiliki realitas kuat kuasa ini. Jika kita menengok ke belakang kepada pengalaman kita bersama Tuhan selama ber-tahun-tahun, kita akan melihat bahwa kebangkitan yang ada di dalam kita ini telah menaklukkan maut dan menelan hal-hal negatif. Pengalaman kita juga menunjukkan bahwa kuat kuasa hayat ini telah membuat kita bertumbuh, ditransformasi, dan bahkan menjadi agak terbentuk ke dalam gambar Kristus. Lagi pula, pengalaman kita menyingkapkan bahwa kuat kuasa hayat ini telah membebaskan begitu banyak hal positif dari dalam kita. Sewaktu kebangkitan ini terbebaskan, kebangkitan ini juga membubung di dalam kita.

Iblis (Satan) selalu berusaha menahan kita. Ia melakukan segala hal untuk menindas kita, menekan kita, dan menggencet kita. Tetapi puji Tuhan untuk tebu (deringo) yang bangkit di dalam kita! Kadang-kadang Tuhan membiarkan musuh melemparkan kita ke dalam situasi yang “berlumpur”, supaya kebangkitan itu memiliki kesempatan berfungsi dengan membangkitkan kita jauh di atas situasi itu. Kebangkitan yang subjektif ini adalah kebangkitan yang dibicarakan dalam Kitab Roma. Dalam kebangkitan inilah Kristus dalam keinsanian-Nya dinyatakan sebagai Putra Allah. Melalui sarana kebangkitan yang demikian kita juga berada dalam proses dinyatakan sebagai putra-putra Allah.

ROH ITU SEBAGAI REALITAS KEBANGKITAN

Roma 8:11 mengatakan, “Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.” Dalam ayat ini, kebangkitan berkaitan dengan Roh itu. Roh itu adalah realitas dari kebangkitan. Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, berhuni di dalam kita sebagai realitas kebangkitan. Jika seseorang tidak memiliki Roh Kudus, ia tidak dapat memiliki kebangkitan. Kebangkitan yang kita alami sebenarnya adalah Roh Kudus itu sendiri. Jika kita memiliki Roma 6 tanpa memiliki Roma 8, kita tidak akan dapat mengambil bagian dalam Kristus sebagai kebangkitan secara riil. Dalam Roma 8 kita memiliki realitas kebangkitan, yaitu, kita memiliki Roh Kudus yang berhuni. Kita tidak boleh memisahkan kebangkitan dari Roh itu.

PROSES PENYATAAN

Kita sedang dinyatakan sebagai putra-putra Allah oleh kebangkitan. Setiap hari kita sedang menjalani proses penyataan ini, dan penyataan ini terlaksana oleh kebangkitan. Kita semua perlu melihat bahwa yang sedang Tuhan lakukan pada hari ini adalah perkara penyataan.

Saya ingin melanjutkan dengan ilustrasi benih anyelir. Satu benih anyelir dinyatakan bukan dengan diberi label, melainkan dengan ditaburkan ke dalam tanah dan dengan bertumbuh secara perlahan-lahan menjadi satu tanaman anyelir yang matang, berbunga. Benih ini dinyatakan sewaktu ia bertumbuh. Semakin ia bertumbuh, ia makin dinyatakan. Ketika anyelir ini menghasilkan bunga yang utuh, ia akan dinyatakan sepenuhnya. Ini berarti bunga yang utuh dari satu bunga anyelir ini adalah penyataannya yang penuh. Seperti halnya benih anyelir ini, kita semua juga berada dalam proses penyataan ini. Semakin kita bertumbuh dan ditransformasi, kita makin dinyatakan sebagai putra-putra Allah.

MENURUT ROH

Menurut daging, kita semua merepotkan, baik bagi gereja maupun bagi orang-orang yang hidup bersama kita. Suami-suami merepotkan istri-istri, dan para istri juga merepotkan para suami. Tetapi kita tidak perlu hidup menurut daging lagi, karena kita boleh memilih untuk hidup menurut Roh. Jika saudara saudari hidup menurut Roh, mereka akan menjadi ajaib dan mulia. Entah Anda hidup menurut daging atau menurut Roh, itu tergantung pada pilihan Anda sendiri. Menurut keinginan Anda sendiri, Anda mungkin memutuskan untuk hidup menurut daging atau menurut Roh. Kiranya Tuhan membelaskasihani kita, supaya kita dapat memilih hidup menurut Roh. Kita sangat perlu belajar bagaimana hidup menurut Roh. Jika kita hidup menurut daging, hidup gereja akan menjadi sangat tidak menyenangkan.

Keputraan ini direalisasikan melalui kebangkitan dan di dalam Roh itu. Roh yang menghuni kita ini adalah Roh yang membangkitkan dan Roh yang menyatakan. Hari demi hari, Roh ini menyatakan kita sebagai putra-putra Allah.

Jika kita ingin seperti Paulus melayani Allah dalam Injil mengenai Putra-Nya ini, kita harus mengenal apakah keputraan itu dan bagaimana keputraan itu direalisasikan. Syukur kepada Tuhan bahwa Paulus menuliskan Surat Kiriman ini kepada orang-orang Roma! Kitab ini mewahyukan bahwa kita harus membantu orang lain bukan hanya untuk diselamatkan, tetapi juga untuk mengalami keputraan. Ini berarti kita perlu membantu mereka melihat perkara penyataan melalui kebangkitan, yang meliputi pengudusan, transformasi, penyerupaan, dan pemuliaan.

MANIFESTASI PUTRA-PUTRA ALLAH

Alam semesta ini sedang menantikan manifestasi putra-putra Allah (8:19). Manifestasi ini tidak akan terjadi secara tiba-tiba, melainkan akan terjadi sebagai perampungan dari proses penyataan, sama seperti bunga anyelir yang mekar sebagai satu perampungan dari proses pertumbuhan dan perubahan yang panjang. Semakin bertumbuh, kita akan semakin dinyatakan melalui kebangkitan. Suatu hari nanti,, pada waktu pemuliaan kita, kita akan sepenuhnya mekar dan termanifestasi sebagai putra-putra Allah.

Banyak orang Kristen mencurahkan perhatian mereka kepada pengajaran objektif tentang apa yang disebut “zaman” (dispensasi) dalam Kitab Suci. Namun, menurut Alkitab, kata “zaman” bukan menunjukkan suatu kurun waktu, melainkan menunjukkan suatu tindakan penyaluran. Wahyu Perjanjian Baru perlu menjadi sangat subjektif bagi kita. Saya tidak percaya bahwa seseorang yang hidup di luar hadirat Tuhan akan tiba-tiba terangkat ke dalam hadirat-Nya. Dibawa masuk ke dalam hadirat-Nya itu meliputi satu proses pengudusan, transformasi, penyerupaan, dan pemuliaan.

PENGUDUSAN YANG SUBJEKTIF

Tidak ada seorang beriman dalam Kristus yang dikuduskan secara tiba-tiba. Saya menyadari, dalam satu hal, kita semua telah dikuduskan ketika kita diselamatkan. Tetapi kita masih perlu melalui proses pengudusan untuk dikuduskan dalam watak. Dalam Alkitab, kata pengudusan, kudus, dan kekudusan mengacu kepada pemisahan. Maka, dikuduskan adalah dipisahkan, dibuat menjadi berbeda dengan apa yang biasa.

Ketika tanaman anyelir masih merupakan satu tunas yang lembut, anyelir itu kelihatannya tidak begitu berbeda dari tunas lainnya. Tetapi semakin bertumbuh, ia semakin terpisah, berbeda dengan tanaman lainnya. Ketika ia berbunga, ia dipisahkan sepenuhnya, benar-benar berbeda dengan semua bunga lainnya. Ini adalah satu ilustrasi dari pengudusan yang subjektif, pengudusan watak.

PERAMPUNGAN TRANSFORMASI

Pengudusan dalam Kitab Roma bukan hanya mengacu kepada satu perubahan posisi saja, tetapi juga kepada perubahan sifat. Ini meliputi perubahan bentuk yang adalah hasil dari satu perubahan yang batiniah dalam hayat. Ini menunjukkan bahwa penyerupaan, yaitu perubahan dalam bentuk, berhubungan dengan pertumbuhan dan transformasi. Tanaman anyelir juga menggambarkan hal ini. Sewaktu anyelir itu bertumbuh dan ditransformasi, ia dibentuk menjadi satu bentuk tertentu. Melalui pertumbuhan, anyelir itu diubah dari bentuk yang satu ke dalam bentuk lainnya. Perubahan ini berlanjut sampai tanaman itu berbunga. Berbunga adalah perampungan dari transformasi.

DIBENTUK KE DALAM BENTUK HAYAT

Ditransformasi adalah dibentuk ke dalam bentuk hayat melalui kuat kuasa hayat dengan esens hayat. Misalnya, di taman Anda ada dua jenis pohon yang sedang bertumbuh, anyelir dan bakung. Sewaktu bunga-bunga ini bertumbuh, anyelir akan berubah ke satu bentuk, dan bakung akan berubah ke dalam bentuk lainnya. Masing-masing dibentuk oleh kuat kuasa hayat dengan esens hayat di dalamnya.

Setiap hayat memiliki bentuknya sendiri. Misalnya, seekor anjing memiliki satu bentuk, dan seekor ayam juga memiliki bentuk lainnya. Pertumbuhan dari satu hayat membawa masuk pertumbuhan yang penuh dari hayat itu. Hari ini kita adalah putra-putra Allah, tetapi kita belum memiliki bentuk yang penuh, bentuk yang lengkap, dari putra-putra Allah. Karena itu, setelah pertumbuhan dan transformasi, kita perlu diserupakan kepada gambar Kristus. Akhirnya, kita akan diserupakan sepenuhnya dengan gambar-Nya. Kemudian kita akan memiliki bentuk hayat yang penuh yang berasal dari kuat kuasa hayat dengan esens hayat. Anyelir, ayam, dan anjing semuanya memiliki bentuk hayat yang berbeda menurut esens hayat mereka. Anyelir memiliki bentuk anyelir karena ia memiliki esens hayat anyelir. Esens anyelir berkembang menjadi bentuk anyelir melalui sarana kuat kuasa hayat di dalam anyelir itu. Puji Tuhan, kita memiliki esens hayat dan kuat kuasa hayat di dalam kita! Kuat kuasa hayat ini membentuk kita menjadi gambar Putra Allah. Melalui fungsi pembentukan dari kuat kuasa hayat ini, kita akan diserupakan sepenuhnya dengan gambar Kristus.

MENIKMATI ROH YANG MENYATAKAN

Puji Tuhan bahwa kita bukan hanya memiliki pengajaran yang objektif, lebih-lebih kita memiliki roh yang menyatakan di dalam kita! Kita memiliki Kristus yang dinyatakan sebagai kebangkitan di dalam kita. Jangan berusaha memperbaiki diri sendiri atau berusaha menjadi sempurna tanpa dosa. Sebaliknya, nikmatilah dan alami-lah Roh yang menyatakan ini. Jika oleh Roh itu kita mematikan perbuatan-perbuatan tubuh kita, kita akan hidup (8:13). Kita perlu berjalan menurut Roh, dan oleh Roh itu kita mematikan perbuatan-perbuatan tubuh. Jika kita setiap hari berjalan menurut Roh, kita akan sepenuhnya berada dalam proses penyataan oleh kebangkitan. Dengan kuasa kebangkitan ini, kita akan ditransformasi, diserupakan, dan akhirnya, dimuliakan.

Semakin sering kita mengontak Tuhan dengan memanggil (menyeru) nama-Nya, kita akan makin merasakan kehadiran-Nya dan semakin menyadari pengurapan-Nya di dalam kita. Dengan memanggil nama Tuhan, kita akan di-sirami, disegarkan, dikuduskan, dipuaskan, dan dikuatkan. Dengan cara ini kita akan dibawa masuk ke dalam hadirat-Nya dan kita akan siap bagi kedatangan-Nya. Pengajaran yang kita perlukan pada hari ini bukanlah pengajaran objektif tentang nubuat atau tentang zaman, melainkan yang berhubungan dengan bagaimana kita dinyatakan melalui menikmati dan mengalami Kristus sebagai kuat kuasa hayat. Jika kita memiliki pengajaran semacam ini, kita akan paham bahwa dalam diri kita sendiri kita tidak memiliki pengharapan dan tidak tertolong, dan kita tidak akan lagi berusaha memperbaiki diri sendiri. Sebaliknya, kita akan melatih roh kita untuk mengontak Tuhan supaya kita dapat menikmati pengurapan-Nya dan berbagian dalam proses penyataan melalui kebangkitan.