Berita Kelima Puluh Tiga
KEPUTRAAN DALAM KITAB ROMA
Dalam Roma 1:9, Paulus mengatakan bahwa ia melayani Allah dalam Injil Putra Allah. Ini menunjukkan bahwa kita semua harus melayani Allah dalam Injil Kristus. Namun, untuk melakukan hal ini, kita perlu mengenal apakah Injil itu.
Injil bukan hanya mencakup hal-hal seperti penebusan, pengampunan, pembenaran, pendamaian, pembasuhan, dan kelahiran kembali saja. Semua aspek ini adalah aspek keselamatan Allah. Tetapi keselamatan Allah memiliki sasaran, dan sasarannya adalah keputraan. Ini berarti penebusan, pengampunan, pembenaran, pendamaian, pembasuhan, dan kelahiran kembali semuanya adalah bagi penggenapan kedambaan Allah untuk memiliki banyak putra menjadi ekspresi-Nya.
Maksud kekal Allah adalah Dia ingin diekspresikan melalui satu Tubuh yang tersusun dari putra-putra yang telah dimuliakan. Asalnya, Allah hanya memiliki seorang Putra, Putra tunggal-Nya. Tetapi sekarang Kristus telah bangkit, maka Allah memiliki banyak putra. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, berjuta-juta orang dosa telah dibuat menjadi putra-putra Allah. Inilah tujuan kekal Allah. Jadi, Kitab Roma mewahyukan bahwa sasaran dari Injil ini adalah keputraan, yaitu menghasilkan banyak putra Allah.
Empat ayat pertama dalam Kitab Roma sangatlah penting. Dalam ayat yang pertama Paulus berkata, “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikhususkan untuk memberitakan Injil Allah.” Fakta bahwa Kitab Roma dibuka dengan satu perkataan tentang Injil Allah menunjukkan bahwa Injil adalah subjek dari kitab ini. Injil Allah bukan berkenaan dengan agama, doktrin, atau ajaran; selain itu, Injil Allah juga bukan hanya berkenaan dengan penebusan, pengampunan, atau pembenaran saja. Seperti yang dijelaskan dalam ayat 3, Injil Allah berkenaan dengan Putra Allah, Yesus Kristus, Tuhan kita. Ini menunjukkan bahwa Injil berkenaan dengan keputraan. Kesukaan, kedambaan, dan perkenan Allah semuanya berhubungan dengan Putra-Nya. Allah bermaksud menghasilkan banyak Putra yang diserupakan dengan pola, model dari Yang sulung. Melalui Dia, di dalam Dia, dan berdasarkan Dia, banyak putra Allah akan dihasilkan. Jadi, Injil Allah berkenaan dengan menghasilkan banyak putra yang diserupakan dengan gambar Kristus.
KRISTUS DINYATAKAN
SEBAGAI PUTRA ALLAH
Dalam inkarnasi-Nya, Kristus datang sebagai keturunan Daud menurut daging (1:3). Dalam Alkitab, kata “daging” bukanlah kata yang positif. Meskipun demikian, Injil Yohanes mengatakan bahwa Firman itu telah menjadi “daging” (Yoh. 1:14 Tl.). Injil Allah berkenaan dengan Putra Allah yang menjadi daging, yang menjadi keturunan dari seorang manusia menurut daging. Dalam Kitab Roma, kita melihat bahwa “daging” ini telah dinyatakan sebagai Putra Allah!
Melalui penyataan ini, Kristus yang adalah Putra Allah sebelum inkarnasi-Nya telah menjadi Putra Allah dengan cara yang baru. Sebelum inkarnasi-Nya, Dia adalah Putra Allah hanya dalam keilahian. Tetapi sekarang, melalui kebangkitan-Nya, Dia telah dinyatakan sebagai Putra Allah, baik dalam keilahian maupun dalam keinsanian. Jika Kristus tidak mengenakan sifat manusia, Dia tidak perlu dinyatakan sebagai Putra Allah, karena dalam keilahian-Nya Dia adalah Putra Allah, bahkan sebelum kekekalan.
Roma 8:3 mengatakan bahwa Allah mengutus Putra-Nya dalam rupa daging dosa (LAI: sama seperti manusia yang berdosa). Ini menunjukkan bahwa Kristus tidak memiliki kedosaan dalam daging; Dia hanya memiliki rupa daging dosa. Dalam hal ini, Dia seperti ular tembaga yang ditinggikan di atas tiang di padang gurun (Bil. 21:8-9). Ular tembaga memiliki bentuk seekor ular, tetapi ia tidak memiliki sifat ular yang beracun. Sama prinsipnya, Kristus memiliki bentuk, penampilan, rupa, dari daging dosa, tetapi Dia tidak memiliki sifat daging dosa yang penuh dengan dosa.
Karena Kristus, Putra Allah, telah mengenakan daging pada diri-Nya sendiri, maka sifat insani-Nya perlu dinyatakan sebagai Putra Allah yang berkuasa dalam kebangkitan. Kematian di dalam Adam itu menakutkan, namun, kematian Kristus itu ajaib. Ini dikarenakan kematian-Nya mengakhiri semua hal negatif dan membuka jalan bagi kebangkitan. Melalui kebangkitan, Kristus ditransfigurasi dan dinyatakan sebagai Putra Allah.
Mazmur 2:7 mengatakan, “Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.” Karena Kristus adalah Putra Allah, mengapa Dia perlu diperanakkan sebagai Putra Allah? Kisah Para Rasul 13:33, yang mengutip Mazmur 2:7, menunjukkan bahwa Kristus diperanakkan (dilahirkan) sebagai Putra Allah pada hari kebangkitan. Tetapi apakah Dia bukan Putra Allah sebelum hari itu? Tentunya Dia adalah Putra Allah. Meskipun demikian, Dia masih perlu diperanakkan (dilahirkan) sebagai Anak Allah melalui kebangkitan, karena Dia telah mengenakan keinsanian. Bagi keilahian-Nya, Dia tidak perlu diperanakkan (dilahirkan). Tetapi bagi keinsanian-Nya, perlu ada hal ini. Pada hari kebangkitan-Nya, daging Kristus ditinggikan dan ditransfigurasi menjadi satu hakiki yang mulia. Inilah yang dimaksud dengan dilahirkan dalam kuasa kebangkitan. Dilahirkan di sini juga berarti dinyatakan. Dengan cara ini, Yesus, Manusia dalam daging ini, dilahirkan dan dinyatakan sebagai Putra Allah.
MENURUT ROH KEKUDUSAN
Ayat 4 mengatakan bahwa penyataan ini adalah menurut Roh kekudusan. Ilustrasi benih anyelir akan membantu kita memahami hal ini. Ketika benih anyelir ditanam ke dalam tanah, ia pun mati. Tetapi kematian ini mempersiapkan jalan bagi kebangkitan. Akhirnya, benih ini bertunas dan bertumbuh menjadi satu tanaman yang matang yang menghasilkan bunga anyelir. Ketika tanaman anyelir ini berbunga, saat itulah ia dinyatakan. Bunga anyelir adalah penyataan dari benih anyelir. Benih anyelir ini dinyatakan, bukan dengan diberi label, melainkan dengan dikuburkan ke dalam tanah dan dengan bertumbuh menjadi satu tanaman anyelir yang berbunga. Ini menunjukkan bahwa benih anyelir dinyatakan menurut hayat yang ada di dalam-nya; yaitu, dinyatakan menurut hayat. Jika saya menanam batu ke dalam tanah, tidak ada sesuatu yang akan terjadi, karena tidak ada hayat di dalam batu itu. Tetapi setelah benih anyelir ditaruh ke dalam tanah, ia akan dinyatakan menurut hayat yang ada di dalamnya.
Sama prinsipnya, ketika Kristus bangkit dari antara orang mati, Dia dinyatakan dalam kuasa oleh kebangkitan menurut Roh kekudusan yang ada di dalam-Nya. Sekarang Dia adalah Putra Allah dengan cara yang lebih ajaib daripada sebelumnya, karena sekarang Dia memiliki sifat ilahi dan sifat insani yang telah dibangkitkan, ditransformasi, ditinggikan, dimuliakan, dan dinyatakan.
Sebagai Putra Allah dengan keilahian dan keinsanian, sekarang Kristus adalah pola dan model untuk mereproduksi banyak putra Allah. Kita telah melihat bahwa Allah tidak ingin hanya memiliki seorang Putra, yaitu Putra tunggal; Dia mendambakan banyak putra, yaitu semua orang yang adalah reproduksi massal dari Putra Sulung. Dalam pasal 1, kita memiliki pola, tetapi dalam pasal 8, kita memiliki reproduksi massalnya. Pasal 8 dengan jelas mewahyukan bahwa Putra tunggal telah menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
BAGAIMANA BANYAK PUTRA INI
DIHASILKAN
Sekarang kita perlu melihat bagaimana banyak putra ini dihasilkan. Kunci untuk memahami hal ini ada dalam Roma 1:3 dan 4. Dalam ayat-ayat ini ada sejumlah istilah yang penting: menurut daging, menurut Roh, Roh kekudusan, kuasa, kebangkitan, dan Putra Allah. Di satu aspek, seluruh Kitab Roma tersusun dari frasa-frasa ini. Roma 1:3-4 sebenarnya adalah intisari dari seluruh kitab ini. Kitab Roma adalah satu catatan tentang orang-orang dosa dalam daging yang menjadi putra-putra Allah yang berkuasa oleh kebangkitan. Dalam 3:20 dikatakan, “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat.” Ini menunjukkan bahwa daging, manusia yang telah jatuh, tidak ada harapan. Pasal 7 mewahyukan betapa buruk dan menyulitkannya daging ini. Kemudian pasal 8 menggambarkan ketidakmampuan daging untuk memelihara hukum Allah. Sebelum kita diselamatkan, kita hanyalah daging saja; kita tidak ada harapan, menyulitkan, dan lemah. Tetapi Kristus telah dijadikan serupa dengan daging dosa, dan dalam penyaliban-Nya, Dia membawa daging ini ke atas salib dan mengakhirinya.
Menurut daging, kita tidak dapat dinyatakan menjadi putra-putra Allah. Kita hanya dapat menjadi putra-putra Allah menurut Roh kekudusan. Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita memiliki daging, yang kita terima dari orang tua alamiah kita dan memiliki Roh kekudusan, yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Seperti Tuhan Yesus, kita juga memiliki dua sifat, sifat insani dan sifat ilahi.
Sekarang kita dapat dengan berani berkata, “Tuhan Yesus, Engkau memiliki dua sifat; kami juga memiliki dua sifat. Engkau dibuat menjadi daging, dan kami juga adalah daging. Di dalam Engkau ada Roh kekudusan, dan di dalam kami pun ada Roh kekudusan.” Oh, di dalam kita ada Roh kekudusan, yang sebenarnya adalah Persona Kristus yang ajaib itu sendiri! Kekudusan adalah substansi (hakiki), esens, unsur, sifat, dari Allah. Sifat kudus Allah ini mutlak berbeda dengan semua hal lain, dan dipisahkan dari segala hal lainnya. Roh kekudusan mengacu kepada esens Allah. Jadi, dengan memiliki Roh kekudusan ini, kita memiliki substansi (hakiki) Allah di dalam kita. Menurut Roh ini, kita dinyatakan sebagai putra-putra Allah.
DIOKULASIKAN KE DALAM KRISTUS
Sebagai kaum beriman, kita telah diokulasikan ke dalam Kristus. Misalnya, sebuah ranting dari pohon yang buruk diokulasikan ke dalam sebuah pohon yang lebih baik. Melalui proses okulasi ini, ranting yang buruk itu menjadi sebuah ranting yang baik, sebagai bagian dari pohon yang baik. Setelah diokulasikan ke dalam Kristus dan ke dalam keserupaan dalam kematian-Nya, sekarang kita sedang menjalani proses kebangkitan. Menurut 1 Petrus 1:3, kita telah dilahirkan kembali oleh kebangkitan Kristus. Ini berarti kita dilahirkan kembali ketika Kristus bangkit. Sesungguhnya, kita dilahirkan kembali sebelum kita lahir. Sekarang kita sedang mengalami kebangkitan dari apa yang telah bangkit dan mengalami kemerdekaan dari apa yang telah dimerdekakan. Karena alasan ini, kita dapat mengatakan bahwa kita berada dalam proses dibangkitkan.
Konsepsi ini ditemukan dalam Roma 8. Dia yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati memberikan hayat melalui Roh-Nya yang tinggal di dalam kita kepada kita (ayat 11). Ini menunjukkan bahwa kita sekarang sedang menjalani proses kebangkitan ini.
BUKAN KOREKSI MELAINKAN
KEBANGKITAN
Di satu pihak, kebangkitan itu berarti mematikan segala hal yang negatif; di pihak lain, berarti membebaskan semua hal positif, mempertinggi apa yang telah dimatikan dan yang bangkit itu. Tegasnya, dalam ekonomi Allah tidak ada pengoreksian, pembetulan, atau perbaikan yang di luar, hanya ada kebangkitan, yang adalah pengakhiran yang negatif dan membebaskan yang positif.
Misalnya, ada seorang saudara yang sangat sombong. Cara agama adalah mengajarinya untuk menjadi rendah hati. Tetapi ini bukanlah cara Allah. Cara ekonomi ilahi adalah mengokulasikan manusia yang sombong itu ke dalam Kristus dan membiarkan kematian Kristus bekerja di dalamnya, dan pada akhirnya, mengakhiri orang itu. Kemudian kematian Kristus akan membuka jalan bagi kuasa kebangkitan-Nya untuk membebaskan sesuatu dari Kristus dari dalam saudara ini. Dengan cara ini hayat Kristus akan menelan sifat sombongnya. Ini bukan koreksi, melainkan kebangkitan.
Pada tahun-tahun pertama dari ministri saya, saya biasa mengoreksi dan membetulkan orang lain. Tetapi lambat laun saya menyadari bahwa ini bukanlah cara Allah dalam ekonomi-Nya. Karena kita memiliki Roh kekudusan, tidak perlu ada pembetulan yang di luar. Jika kita berpaling kepada Tuhan dan mengontak Dia, kita akan mengalami kematian dan kebangkitan-Nya. Kebangkitan ini adalah menurut Roh kekudusan. Haleluya, hayat kebangkitan dan kuasa kebangkitan ada di dalam kita!
Betapa mustahilnya kita berusaha membantu sekuntum bunga bertumbuh dengan mengoreksinya secara luaran! Cara yang tepat adalah menyirami tanaman itu. Sama prinsipnya, kita harus saling menyiram. Seperti dikatakan dalam 1 Korintus 3:6, Paulus menanam dan Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberikan pertumbuhan. Kita perlu menyirami saudara saudari dan merawat mereka. Demikian, hayat batiniah akan bertumbuh, dan akhirnya sekuntum “bunga” yang indah akan muncul. Inilah kebangkitan.
Dalam hal tertentu, anak-anak Allah tidak perlu mengenal begitu banyak doktrin. Yang kita perlukan adalah firman dan kuasa kebangkitan di dalam kita. Tidak ada pengajaran atau doktrin yang dapat menggantikan kebangkitan. Menurut kuasa kebangkitan ini, kita dinyatakan sebagai putra-putra Allah.
PENGUDUSAN DAN TRANSFORMASI
Dinyatakan itu berarti dikuduskan. Kekudusan adalah substansi, sedangkan pengudusan adalah proses menjadi kudus. Beberapa orang Kristen menganggap kekudusan itu hanyalah keadaan tanpa dosa. Yang lainnya menunjukkan bahwa kekudusan itu menekankan pemisahan, perubahan posisi. Keduanya bukanlah definisi yang tepat atau memadai. Kekudusan mencakup keadaan tanpa dosa dan dipisahkan, tetapi juga mencakup perubahan watak (sifat).
Mari kita melihat lagi ilustrasi menyeduh teh. Bila teh ditambahkan ke dalam air, maka air itu “ditehkan”. Ini adalah satu gambaran dari pengudusan. Kristus adalah “teh” surgawi, dan kita adalah “air”. Semakin banyak “teh” ilahi ini ditambahkan ke dalam kita, semakin banyak kita akan “ditehkan”. Semakin banyak Kristus ditambahkan ke dalam kita, kita akan makin dikuduskan. Pengudusan bukan hanya satu perubahan posisi, melainkan juga perubahan sifat. Dalam ilustrasi membuat teh, sifat air, bahkan dengan esensnya, akan berubah sewaktu air itu “ditehkan”.
Pengudusan ini mencakup transformasi. Ketika air “ditehkan”, air itu ditransformasi. Jadi, kebangkitan, pengudusan, dan transformasi, semuanya saling berkaitan.
PROSES KEPUTRAAN
Transformasi adalah bagi penyerupaan. Menurut Roma 8:29, kita semua akan diserupakan dengan gambar Kristus. Melalui penyerupaan ini, kita akan dibawa masuk ke dalam realitas keputraan. Ketika kita dilahirkan kembali, kita hanya memiliki sebagian kecil keputraan. Sekarang keputraan ini perlu menyebar di dalam kita sampai menjenuhi seluruh diri kita. Akhirnya, pada waktu Tuhan datang kembali, tubuh fisik kita bahkan akan dijenuhi dengan keputraan ini. Jadi, penjenuhan tubuh kita dengan keputraan ini adalah penebusan tubuh kita.
Hari ini roh kita ada dalam keputraan, tetapi tubuh kita belum. Menurut roh, kita adalah putra-putra Allah; tetapi menurut tubuh fisik kita, kita belum berada di dalam keputraan ini. Transfigurasi, penebusan tubuh kita pada waktu Tuhan datang kembali akan menjadi tahap keputraan yang terakhir. Pada waktu itu, kita akan dibawa seluruhnya dan sepenuhnya ke dalam keputraan. Di dalam setiap bagian diri kita — roh, jiwa, dan tubuh — kita akan menjadi putra-putra Allah yang riil. Kemudian kita akan dimuliakan. Puji Tuhan bahwa hari ini kita sedang mengalami proses keputraan, proses menjadi putra-putra Allah.
Dalam diri kita, ada roh keputraan sebagai satu pencicipan. Ketika kita berseru, “Abba Bapa,” kita akan memiliki satu kenikmatan yang manis dari Roh Kudus sebagai satu pencicipan. Roh keputraan ini sekarang sedang membangkitkan kita, menguduskan kita, mentransformasi kita, dan menyerupakan kita dengan gambar Kristus.
TUBUH YANG DIBANGUN
DENGAN PUTRA-PUTRA
Saudara yang banyak ini, putra Allah yang banyak ini, adalah anggota-anggota Tubuh Kristus. Karena Tubuh ini hanya dapat dibangun dengan putra-putra Allah, bukan dengan orang-orang dosa dalam daging, maka keputraan disinggung lebih dulu baru kemudian Tubuh. Roma 12 adalah kelanjutan langsung dari Roma 8. Hanya setelah kita diserupakan dengan gambar Kristus barulah kita dapat memiliki realitas Tubuh, dengan kita semua sebagai anggotanya.
Sasaran dari Injil, seperti yang diwahyukan dalam Kitab Roma, adalah mentransformasi orang-orang dosa dalam daging menjadi putra-putra Allah dalam roh bagi pembentukan Tubuh Kristus. Rasul Paulus melayani Allah dalam Injil ini. Hari ini kita juga harus belajar melayani Allah dalam Injil yang demikian. Allah menguatkan kita menurut Injil yang disingkapkan dalam Kitab Roma (16:25). Injil ini bukan hanya bagi orang-orang yang tidak percaya, melainkan juga bagi kaum beriman. Allah menguatkan kaum beriman menurut Injil-Nya, mengenai Putra Allah yang menjadi seorang manusia dalam daging dan yang dalam keinsanian-Nya dinyatakan sebagai Putra Allah menurut Roh kekudusan dalam kuasa oleh kebangkitan. Roma 1:3 dan 4 adalah ringkasan dari Injil ini, dan bagian lainnya dari Kitab Roma adalah kelengkapan dari isi Injil ini. Dalam Injil ini Allah sedang mentransformasi orang-orang dosa dalam daging menjadi putra-putra Allah, dengan kuasa, oleh kebangkitan, dan menurut Roh kekudusan.