← Daftar isi Roma (2) · bab 3/19

KEPUTRAAN DALAM KITAB ROMA

Dalam Roma 1:9, Paulus mengatakan bahwa ia melayani Allah dalam Injil Putra Allah. Ini menunjukkan bahwa kita semua harus melayani Allah dalam Injil Kristus. Namun, untuk melakukan hal ini, kita perlu mengenal apakah Injil itu.

Injil bukan hanya mencakup hal-hal seperti penebusan, pengampunan, pembenaran, pendamaian, pembasuhan, dan kelahiran kembali saja. Semua aspek ini adalah aspek kese-lamatan Allah. Tetapi keselamatan Allah memiliki sasaran, dan sasarannya adalah keputraan. Ini berarti penebusan, pengampunan, pembenaran, pendamaian, pembasuhan, dan kelahiran kembali semuanya adalah bagi penggenapan kedambaan Allah untuk memiliki banyak putra menjadi ekspresi-Nya.

Maksud kekal Allah adalah Dia ingin diekspresikan melalui satu Tubuh yang tersusun dari putra-putra yang telah dimuliakan. Asalnya, Allah hanya memiliki seorang Putra, Putra tunggal-Nya. Tetapi sekarang Kristus telah bangkit, maka Allah memiliki banyak putra. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, berjuta-juta orang dosa telah dibuat menjadi putra-putra Allah. Inilah tujuan kekal Allah. Jadi, Kitab Roma mewahyukan bahwa sasaran dari Injil ini adalah keputraan, yaitu menghasilkan banyak putra Allah.

Empat ayat pertama dalam Kitab Roma sangatlah pen-ting. Dalam ayat yang pertama Paulus berkata, “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikhususkan untuk memberitakan Injil Allah.” Fakta bahwa Kitab Roma dibuka dengan satu perkataan tentang Injil Allah menunjukkan bahwa Injil adalah subyek dari ki-tab ini. Injil Allah bukan berkenaan dengan agama, doktrin, atau ajaran; selain itu, Injil Allah juga bukan hanya berke-naan dengan penebusan, pengampunan, atau pembenaran saja. Seperti yang dijelaskan dalam ayat 3, Injil Allah ber-kenaan dengan Putra Allah, Yesus Kristus, Tuhan kita. Ini menunjukkan bahwa Injil berkenaan dengan keputraan. Kesukaan, kedambaan, dan perkenan Allah semuanya ber-hubungan dengan Putra-Nya. Allah bermaksud menghasil-kan banyak Putra yang diserupakan dengan pola, model dari Yang sulung. Melalui Dia, di dalam Dia, dan berdasarkan Dia, banyak putra Allah akan dihasilkan. Jadi, Injil Allah berkenaan dengan menghasilkan banyak putra yang diseru-pakan dengan gambar Kristus.

KRISTUS DINYATAKAN

SEBAGAI PUTRA ALLAH

Dalam inkarnasi-Nya, Kristus datang sebagai keturunan Daud menurut daging (1:3). Dalam Alkitab, kata “daging” bukanlah kata yang positif. Meskipun demikian, Injil Yohanes mengatakan bahwa Firman itu telah menjadi “daging” (Yoh. 1:14 Tl.). Injil Allah berkenaan dengan Putra Allah yang menjadi daging, yang menjadi keturunan dari seorang manusia menurut daging. Dalam Kitab Roma, kita melihat bahwa “daging” ini telah dinyatakan sebagai Putra Allah!

Melalui penyataan ini, Kristus yang adalah Putra Allah sebelum inkarnasi-Nya telah menjadi Putra Allah dengan cara yang baru. Sebelum inkarnasi-Nya, Dia adalah Putra Allah hanya dalam keilahian. Tetapi sekarang, melalui ke-bangkitan-Nya, Dia telah dinyatakan sebagai Putra Allah, baik dalam keilahian maupun dalam keinsanian. Jika Kristus tidak mengenakan sifat manusia, Dia tidak perlu dinyata-kan sebagai Putra Allah, karena dalam keilahian-Nya Dia adalah Putra Allah, bahkan sebelum kekekalan.

Roma 8:3 mengatakan bahwa Allah mengutus Putra-Nya dalam rupa daging dosa (LAI: sama seperti manusia yang berdosa). Ini menunjukkan bahwa Kristus tidak me-miliki kedosaan dalam daging; Dia hanya memiliki rupa daging dosa. Dalam hal ini, Dia seperti ular tembaga yang ditinggikan di atas tiang di padang gurun (Bil. 21:8-9). Ular tembaga memiliki bentuk seekor ular, tetapi ia tidak memiliki sifat ular yang beracun. Sama prinsipnya, Kristus memiliki bentuk, penampilan, rupa, dari daging dosa, tetapi Dia tidak memiliki sifat daging dosa yang penuh dengan dosa.

Karena Kristus, Putra Allah, telah mengenakan daging pada diri-Nya sendiri, maka sifat insani-Nya perlu dinyatakan sebagai Putra Allah yang berkuasa dalam kebangkitan. Ke-matian di dalam Adam itu menakutkan, namun, kematian Kristus itu ajaib. Ini dikarenakan kematian-Nya mengakhiri semua hal negatif dan membuka jalan bagi kebangkitan. Melalui kebangkitan, Kristus ditransfigurasi dan dinyatakan sebagai Putra Allah.

Mazmur 2:7 mengatakan, “Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.” Karena Kristus adalah Putra Allah, mengapa Dia perlu diperanakkan sebagai Putra Allah? Kisah Para Rasul 13:33, yang mengutip Mazmur 2:7, menunjukkan bahwa Kristus diperanakkan (dilahirkan) sebagai Putra Allah pada hari kebangkitan. Tetapi apakah Dia bukan Putra Allah sebelum hari itu? Tentunya Dia adalah Putra Allah. Meskipun demikian, Dia masih perlu diperanakkan (dilahirkan) sebagai Anak Allah melalui kebangkitan, karena Dia telah mengenakan kein-sanian. Bagi keilahian-Nya, Dia tidak perlu diperanakkan (dilahirkan). Tetapi bagi keinsanian-Nya, perlu ada hal ini. Pada hari kebangkitan-Nya, daging Kristus ditinggi-kan dan ditransfigurasi menjadi satu hakiki yang mulia. Inilah yang dimaksud dengan dilahirkan dalam kuasa ke-bangkitan. Dilahirkan di sini juga berarti dinyatakan. De-ngan cara ini, Yesus, Manusia dalam daging ini, dilahir-kan dan dinyatakan sebagai Putra Allah.

MENURUT ROH KEKUDUSAN

Ayat 4 mengatakan bahwa penyataan ini adalah menu-rut Roh kekudusan. Ilustrasi benih anyelir akan membantu kita memahami hal ini. Ketika benih anyelir ditanam ke dalam tanah, ia pun mati. Tetapi kematian ini mempersiap-kan jalan bagi kebangkitan. Akhirnya, benih ini bertunas dan bertumbuh menjadi satu tanaman yang matang yang menghasilkan bunga anyelir. Ketika tanaman anyelir ini berbunga, saat itulah ia dinyatakan. Bunga anyelir adalah penyataan dari benih anyelir. Benih anyelir ini dinyatakan, bukan dengan diberi label, melainkan dengan dikuburkan ke dalam tanah dan dengan bertumbuh menjadi satu ta-naman anyelir yang berbunga. Ini menunjukkan bahwa be-nih anyelir dinyatakan menurut hayat yang ada di dalam-nya; yaitu, dinyatakan menurut hayat. Jika saya menanam batu ke dalam tanah, tidak ada sesuatu yang akan terjadi, karena tidak ada hayat di dalam batu itu. Tetapi setelah be-nih anyelir ditaruh ke dalam tanah, ia akan dinyatakan menurut hayat yang ada di dalamnya.

Sama prinsipnya, ketika Kristus bangkit dari antara orang mati, Dia dinyatakan dalam kuasa oleh kebangkitan menurut Roh kekudusan yang ada di dalam-Nya. Sekarang Dia adalah Putra Allah dengan cara yang lebih ajaib dari-pada sebelumnya, karena sekarang Dia memiliki sifat ilahi dan sifat insani yang telah dibangkitkan, ditransformasi, di-tinggikan, dimuliakan, dan dinyatakan.

Sebagai Putra Allah dengan keilahian dan keinsanian, sekarang Kristus adalah pola dan model untuk merepro-duksi banyak putra Allah. Kita telah melihat bahwa Allah tidak ingin hanya memiliki seorang Putra, yaitu Putra tung-gal; Dia mendambakan banyak putra, yaitu semua orang yang adalah reproduksi massal dari Putra Sulung. Dalam pasal 1, kita memiliki pola, tetapi dalam pasal 8, kita me-miliki reproduksi massalnya. Pasal 8 dengan jelas mewah-yukan bahwa Putra tunggal telah menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

BAGAIMANA BANYAK PUTRA INI

DIHASILKAN

Sekarang kita perlu melihat bagaimana banyak putra ini dihasilkan. Kunci untuk memahami hal ini ada dalam Roma 1:3 dan 4. Dalam ayat-ayat ini ada sejumlah istilah yang penting: menurut daging, menurut Roh, Roh kekudus-an, kuasa, kebangkitan, dan Putra Allah. Di satu aspek, seluruh Kitab Roma tersusun dari frasa-frasa ini. Roma 1:3-4 sebenarnya adalah intisari dari seluruh kitab ini. Kitab Roma adalah satu catatan tentang orang-orang dosa dalam daging yang menjadi putra-putra Allah yang berkuasa oleh kebangkitan. Dalam 3:20 dikatakan, “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena mela-kukan hukum Taurat.” Ini menunjukkan bahwa daging, manusia yang telah jatuh, tidak ada harapan. Pasal 7 me-wahyukan betapa buruk dan menyulitkannya daging ini. Kemudian pasal 8 menggambarkan ketidakmampuan da-ging untuk memelihara hukum Allah. Sebelum kita disela-matkan, kita hanyalah daging saja; kita tidak ada harapan, menyulitkan, dan lemah. Tetapi Kristus telah dijadikan se-rupa dengan daging dosa, dan dalam penyaliban-Nya, Dia membawa daging ini ke atas salib dan mengakhirinya.

Menurut daging, kita tidak dapat dinyatakan menjadi putra-putra Allah. Kita hanya dapat menjadi putra-putra Allah menurut Roh kekudusan. Sebagai kaum beriman da-lam Kristus, kita memiliki daging, yang kita terima dari orang tua alamiah kita dan memiliki Roh kekudusan, yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Seperti Tuhan Yesus, kita juga memiliki dua sifat, sifat insani dan sifat ilahi.

Sekarang kita dapat dengan berani berkata, “Tuhan Yesus, Engkau memiliki dua sifat; kami juga memiliki dua sifat. Engkau dibuat menjadi daging, dan kami juga adalah da-ging. Di dalam Engkau ada Roh kekudusan, dan di dalam kami pun ada Roh kekudusan.” Oh, di dalam kita ada Roh kekudusan, yang sebenarnya adalah Persona Kristus yang ajaib itu sendiri! Kekudusan adalah substansi (hakiki), esens, unsur, sifat, dari Allah. Sifat kudus Allah ini mutlak berbeda dengan semua hal lain, dan dipisahkan dari segala hal lainnya. Roh kekudusan mengacu kepada esens Allah. Jadi, dengan memiliki Roh kekudusan ini, kita memiliki substansi (hakiki) Allah di dalam kita. Menurut Roh ini, kita dinyatakan sebagai putra-putra Allah.

DIOKULASIKAN KE DALAM KRISTUS

Sebagai kaum beriman, kita telah diokulasikan ke da-lam Kristus. Misalnya, sebuah ranting dari pohon yang bu-ruk diokulasikan ke dalam sebuah pohon yang lebih baik. Melalui proses okulasi ini, ranting yang buruk itu menjadi sebuah ranting yang baik, sebagai bagian dari pohon yang baik. Setelah diokulasikan ke dalam Kristus dan ke dalam keserupaan dalam kematian-Nya, sekarang kita sedang men-jalani proses kebangkitan. Menurut 1 Petrus 1:3, kita telah dilahirkan kembali oleh kebangkitan Kristus. Ini berarti ki-ta dilahirkan kembali ketika Kristus bangkit. Sesungguh-nya, kita dilahirkan kembali sebelum kita lahir. Sekarang kita sedang mengalami kebangkitan dari apa yang telah bangkit dan mengalami kemerdekaan dari apa yang telah dimerdekakan. Karena alasan ini, kita dapat mengatakan bahwa kita berada dalam proses dibangkitkan.

Konsepsi ini ditemukan dalam Roma 8. Dia yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati memberikan hayat melalui Roh-Nya yang tinggal di dalam kita kepada kita (ayat 11). Ini menunjukkan bahwa kita sekarang sedang menjalani proses kebangkitan ini.

BUKAN KOREKSI MELAINKAN

KEBANGKITAN

Di satu pihak, kebangkitan itu berarti mematikan segala hal yang negatif; di pihak lain, berarti membebaskan semua hal positif, mempertinggi apa yang telah dimatikan dan yang bangkit itu. Tegasnya, dalam ekonomi Allah tidak ada pengoreksian, pembetulan, atau perbaikan yang di luar, hanya ada kebangkitan, yang adalah pengakhiran yang negatif dan membebaskan yang positif.

Misalnya, ada seorang saudara yang sangat sombong. Cara agama adalah mengajarinya untuk menjadi rendah hati. Tetapi ini bukanlah cara Allah. Cara ekonomi ilahi adalah mengokulasikan manusia yang sombong itu ke da-lam Kristus dan membiarkan kematian Kristus bekerja di dalamnya, dan pada akhirnya, mengakhiri orang itu. Ke-mudian kematian Kristus akan membuka jalan bagi kuasa kebangkitan-Nya untuk membebaskan sesuatu dari Kristus dari dalam saudara ini. Dengan cara ini hayat Kristus akan menelan sifat sombongnya. Ini bukan koreksi, melainkan kebangkitan.

Pada tahun-tahun pertama dari ministri saya, saya biasa mengoreksi dan membetulkan orang lain. Tetapi lambat laun saya menyadari bahwa ini bukanlah cara Allah dalam ekonomi-Nya. Karena kita memiliki Roh kekudusan, tidak perlu ada pembetulan yang di luar. Jika kita berpaling kepada Tuhan dan mengontak Dia, kita akan mengalami kematian dan kebangkitan-Nya. Kebangkitan ini adalah menurut Roh kekudusan. Haleluya, hayat kebangkitan dan kuasa kebangkitan ada di dalam kita!

Betapa mustahilnya kita berusaha membantu sekun-tum bunga bertumbuh dengan mengoreksinya secara luar-an! Cara yang tepat adalah menyirami tanaman itu. Sama prinsipnya, kita harus saling menyiram. Seperti dikatakan dalam 1 Korintus 3:6, Paulus menanam dan Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberikan pertumbuhan. Kita perlu me-nyirami saudara saudari dan merawat mereka. Demikian, hayat batiniah akan bertumbuh, dan akhirnya sekuntum “bunga” yang indah akan muncul. Inilah kebangkitan.

Dalam hal tertentu, anak-anak Allah tidak perlu me-ngenal begitu banyak doktrin. Yang kita perlukan adalah firman dan kuasa kebangkitan di dalam kita. Tidak ada pengajaran atau doktrin yang dapat menggantikan kebang-kitan. Menurut kuasa kebangkitan ini, kita dinyatakan sebagai putra-putra Allah.

PENGUDUSAN DAN TRANSFORMASI

Dinyatakan itu berarti dikuduskan. Kekudusan adalah substansi, sedangkan pengudusan adalah proses menjadi kudus. Beberapa orang Kristen menganggap kekudusan itu hanyalah keadaan tanpa dosa. Yang lainnya menunjukkan bahwa kekudusan itu menekankan pemisahan, perubahan posisi. Keduanya bukanlah definisi yang tepat atau memadai. Kekudusan mencakup keadaan tanpa dosa dan dipisahkan, tetapi juga mencakup perubahan watak (sifat).

Mari kita melihat lagi ilustrasi menyeduh teh. Bila teh ditambahkan ke dalam air, maka air itu “ditehkan”. Ini adalah satu gambaran dari pengudusan. Kristus adalah “teh” surgawi, dan kita adalah “air”. Semakin banyak “teh” ilahi ini ditambahkan ke dalam kita, semakin banyak kita akan “ditehkan”. Semakin banyak Kristus ditambahkan ke dalam kita, kita akan makin dikuduskan. Pengudusan bukan hanya satu perubahan posisi, melainkan juga perubahan sifat. Dalam ilustrasi membuat teh, sifat air, bahkan dengan esensnya, akan berubah sewaktu air itu “ditehkan”.

Pengudusan ini mencakup transformasi. Ketika air “ditehkan”, air itu ditransformasi. Jadi, kebangkitan, pengudusan, dan transformasi, semuanya saling berkaitan.

PROSES KEPUTRAAN

Transformasi adalah bagi penyerupaan. Menurut Roma 8:29, kita semua akan diserupakan dengan gambar Kristus. Melalui penyerupaan ini, kita akan dibawa masuk ke dalam realitas keputraan. Ketika kita dilahirkan kembali, kita hanya memiliki sebagian kecil keputraan. Sekarang keputra-an ini perlu menyebar di dalam kita sampai menjenuhi seluruh diri kita. Akhirnya, pada waktu Tuhan datang kem-bali, tubuh fisik kita bahkan akan dijenuhi dengan ke-putraan ini. Jadi, penjenuhan tubuh kita dengan keputraan ini adalah penebusan tubuh kita.

Hari ini roh kita ada dalam keputraan, tetapi tubuh kita belum. Menurut roh, kita adalah putra-putra Allah; te-tapi menurut tubuh fisik kita, kita belum berada di dalam keputraan ini. Transfigurasi, penebusan tubuh kita pada wak-tu Tuhan datang kembali akan menjadi tahap keputraan yang terakhir. Pada waktu itu, kita akan dibawa seluruhnya dan sepenuhnya ke dalam keputraan. Di dalam setiap bagian diri kita — roh, jiwa, dan tubuh — kita akan menjadi putra-putra Allah yang riil. Kemudian kita akan dimuliakan. Puji Tuhan bahwa hari ini kita sedang mengalami proses keputraan, proses menjadi putra-putra Allah.

Dalam diri kita, ada roh keputraan sebagai satu penci-cipan. Ketika kita berseru, “Abba Bapa,” kita akan memi-liki satu kenikmatan yang manis dari Roh Kudus sebagai satu pencicipan. Roh keputraan ini sekarang sedang mem-bangkitkan kita, menguduskan kita, mentransformasi kita, dan menyerupakan kita dengan gambar Kristus.

TUBUH YANG DIBANGUN

DENGAN PUTRA-PUTRA

Saudara yang banyak ini, putra Allah yang banyak ini, adalah anggota-anggota Tubuh Kristus. Karena Tubuh ini hanya dapat dibangun dengan putra-putra Allah, bukan de-ngan orang-orang dosa dalam daging, maka keputraan di-singgung lebih dulu baru kemudian Tubuh. Roma 12 ada-lah kelanjutan langsung dari Roma 8. Hanya setelah kita diserupakan dengan gambar Kristus barulah kita dapat memi-liki realitas Tubuh, dengan kita semua sebagai anggotanya.

Sasaran dari Injil, seperti yang diwahyukan dalam Ki-tab Roma, adalah mentransformasi orang-orang dosa dalam daging menjadi putra-putra Allah dalam roh bagi pemben-tukan Tubuh Kristus. Rasul Paulus melayani Allah dalam Injil ini. Hari ini kita juga harus belajar melayani Allah dalam Injil yang demikian. Allah menguatkan kita menurut Injil yang disingkapkan dalam Kitab Roma (16:25). Injil ini bukan hanya bagi orang-orang yang tidak percaya, melain-kan juga bagi kaum beriman. Allah menguatkan kaum ber-iman menurut Injil-Nya, mengenai Putra Allah yang men-jadi seorang manusia dalam daging dan yang dalam kein-sanian-Nya dinyatakan sebagai Putra Allah menurut Roh kekudusan dalam kuasa oleh kebangkitan. Roma 1:3 dan 4 adalah ringkasan dari Injil ini, dan bagian lainnya dari Kitab Roma adalah kelengkapan dari isi Injil ini. Dalam Injil ini Allah sedang mentransformasi orang-orang dosa da-lam daging menjadi putra-putra Allah, dengan kuasa, oleh kebangkitan, dan menurut Roh kekudusan.