← Daftar isi Roma (2) · bab 2/19

PENYATAAN

Dalam pembacaan kita terhadap Kitab Roma, kita mung-kin menaruh perhatian pada penghukuman, pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan, tetapi mengabaikan perkara keputraan, transformasi (pengubahan), penyerupaan, dan kehidupan Tubuh. Pemikiran inti Kitab Roma bukanlah penghukuman atau pembenaran; juga bukan pengudusan atau pemuliaan. Dalam 1:1 dan 3, Paulus mengatakan bah-wa ia dikuduskan kepada Injil Allah mengenai Putra Allah. Ini menunjukkan bahwa konsepsi inti dari Injil Allah ber-hubungan dengan Putra Allah. Maksud hati Allah adalah ingin membawa banyak putra ke dalam kemuliaan.

ALLAH DAMBA MENDAPATKAN

BANYAK PUTRA

Menurut Alkitab, makna rohani keputraan mengacu kepada putra sebagai ekspresi Bapa. Allah damba menda-patkan banyak putra, karena maksud hati-Nya adalah ingin mengekspresikan diri-Nya sendiri secara korporat. Dia tidak menghendaki hanya satu ekspresi yang individual di dalam Putra tunggal saja, melainkan satu ekspresi Tubuh, satu ekspresi yang korporat, di dalam banyak putra. Yohanes 1:18 mengatakan, “Tidak seorang pun yang pernah me-lihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangku-an Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Meskipun ekspresi Allah di dalam Putra tunggal itu menakjubkan, tetapi Allah masih mendambakan satu ekspresi di dalam banyak putra. Maksud hati-Nya adalah untuk membuat Putra tunggal menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Sebelum kebangkitan Kristus, Allah hanya memiliki seorang Putra; yaitu, satu ekspresi yang individual. Tetapi melalui kebang-kitan Kristus, sekarang Allah memiliki sekumpulan putra; yaitu, Dia memiliki satu ekspresi yang korporat.

Banyak orang yang telah diajar bahwa kita adalah orang berdosa, Allah mengasihi kita, dan Allah mengutus Putra-Nya mati di kayu salib untuk menebus kita. Selain itu, ki-ta juga diberi tahu bahwa sebagai orang-orang Kristen, kita harus hidup bagi kemuliaan Allah dan menuntut perseku-tuan dengan-Nya. Kemudian kita diajar bahwa pada akhir-nya kita akan diangkat ke surga. Sangat sedikit dari antara kita yang telah mendengar tentang sasaran Allah untuk menghasilkan banyak putra bagi ekspresi korporat-Nya. Sampai selama-lamanya, Allah akan diekspresikan melalui satu Tubuh yang korporat, yang tersusun dari putra-putra yang telah dimuliakan. Inilah maksud hati-Nya.

KRISTUS SEBAGAI MODEL DAN POLA

Menurut Kitab Roma, Injil Allah adalah satu Injil ten-tang keputraan. Sasaran inti Injil Allah adalah untuk meng-hasilkan banyak putra yang diserupakan dengan gambar Putra-Nya (8:29). Putra tunggal-Nya adalah satu pola, satu model, untuk menghasilkan banyak putra. Roma 1:3-4 menggambarkan model ini, sedangkan Roma 8 mewahyukan ten-tang reproduksi massalnya. Akhirnya, Putra Tunggal — model ini — akan menjadi yang sulung di antara banyak saudara, reproduksi massal-Nya.

Sebagai model, Kristus memiliki dua sifat: Sifat menu-rut daging dan sifat menurut Roh kekudusan. “Kekudusan” dalam ayat 4 mengacu kepada esens, hakiki dari Allah. Sebelum inkarnasi-Nya, Kristus tidak memiliki keinsanian, yaitu sifat menurut daging. Melalui inkarnasi, Dia menge-nakan sifat insani. Namun, ketika Dia mengenakan sifat insani, Dia tidak kehilangan sifat ilahi. Jadi, ketika Dia berada di bumi, Dia adalah satu misteri. Menurut pe-nampilan lahiriah-Nya, Dia benar-benar seorang manusia. Tetapi banyak hal yang dikatakan-Nya dan dilakukan-Nya itu luar biasa, hal-hal yang tidak mungkin dikatakan atau dilakukan manusia biasa. Misalnya, dalam Injil Yohanes, Tuhan mengatakan bahwa Dia adalah hayat dan Dia adalah kebenaran (Yoh. 14:6 Tl.). Dia juga berkata, “Akulah terang” (Yoh. 8:12), dan, “Akulah roti kehidupan (hayat)” (Yoh. 6:35). Selanjutnya, Dia mengatakan bahwa siapa saja yang tidak percaya kepada-Nya tidak dapat memiliki hidup (hayat) yang kekal (Yoh. 3:36). Tidak ada filsuf yang berani membuat pernyataan yang demikian. Karena Kristus adalah ilahi dan insani, maka orang-orang memikirkan tentang identitas-Nya ketika Dia berada di bumi. Mereka mengenal keluarga-Nya, tetapi mereka tidak dapat menjelaskan bagaimana Dia dapat melakukan hal-hal tertentu (Mat. 13:54-56). Alasan kebingungan mereka adalah karena Putra Allah telah me-ngenakan keinsanian pada diri-Nya sendiri.

Orang-orang yang bertanggung jawab atas penyaliban Kristus tidak menyadari bahwa penyaliban adalah jalan yang terbaik bagi-Nya untuk dinyatakan, untuk dimuliakan. Ki-ta dapat memakai benih anyelir untuk mengambarkan hal ini. Jika benih ini diakhiri dengan menguburkannya di da-lam tanah, ia akan bertunas, bertumbuh, dan berbunga. Sa-ma prinsipnya, melalui kematian dan kebangkitan, Kristus “berbunga” sebagai Putra Allah. Iblis mengira penyaliban Kristus adalah pengakhiran-Nya, tetapi Tuhan Yesus tahu bahwa ini sebenarnya adalah permulaannya, yang akan me-mimpin kepada penyataan-Nya menurut Roh kekudusan me-lalui kebangkitan dari antara orang mati. Tanpa kematian, tidak mungkin ada kebangkitan. Haleluya, dalam kebangkit-an Kristus dinyatakan sebagai Putra Allah yang berkuasa!

Sebagai Putra Allah yang telah dinyatakan, Kristus tetap memiliki dua sifat, keilahian dan keinsanian. Namun, keinsanian yang dimiliki-Nya sekarang bukanlah keinsani-an yang alamiah, melainkan keinsanian yang telah diper-tinggi dalam kebangkitan. Bahkan daging-Nya pun telah dinyatakan sebagai Putra Allah. Jadi, Dia telah dinyatakan sebagai Putra Allah dengan keilahian dan keinsanian. Seba-gai Persona yang demikian ajaib ini, Dia telah menjadi mo-del, pola, dari semua orang yang akan dinyatakan sebagai putra-putra Allah. Seorang putra Allah harus memiliki sifat ilahi dan sifat insani yang bangkit, dimuliakan, dan diper-tinggi.

DUA SIFAT DARI BANYAK PUTRA

Allah tidak menghendaki kita kehilangan keinsanian kita. Sebaliknya, kita akan membawa keinsanian kita hingga selama-lamanya. Tetapi keinsanian kita dalam kekekalan tidak akan berupa keinsanian yang alamiah; melainkan telah dibangkitkan, dimuliakan, dan dipertinggi. Ini dibuk-tikan oleh perbedaan antara tubuh alamiah dengan tubuh rohaniah, yaitu tubuh kebangkitan, dalam 1 Korintus 15. Hari ini tubuh fisik kita seperti satu benih. Tetapi pada sa-tu hari “benih” ini akan bangkit dan dimuliakan.

Bagaimana kita dapat memiliki keilahian? Kita memi-likinya melalui dilahirkan kembali di dalam roh kita oleh Roh Kristus. Melalui inkarnasi, Kristus mengenakan kein-sanian dan memiliki dua sifat, sifat ilahi dan sifat insani. Melalui kebangkitan-Nya dan melalui masuk ke dalam kita sebagai Roh itu, Kristus membawa keilahian masuk ke dalam kita. Karena itu, kita juga memiliki dua sifat, sifat insani dan sifat ilahi. Dengan dilahirkan dari Roh itu kita telah berbagian dalam sifat ilahi (2 Ptr. 1:4). Kita dapat berkata, “Tuhan, sebagaimana Engkau memiliki dua sifat, kami pun memiliki dua sifat. Engkau itu ilahi dan insani, dan kami juga insani dan ilahi. Haleluya, kami serupa de-ngan-Mu! Tuhan, Engkau memiliki sifat kami dan kami me-miliki sifat-Mu. Engkau adalah ilahi dan insani dan kami adalah insani dan ilahi. Engkau adalah Kepala Tubuh, dan kami adalah anggota-anggota Tubuh. Tuhan, Engkau adalah Putra Allah, dan kami adalah putra-putra Allah.” Tuhan akan mengapresiasi kita bila kita berbicara kepada-Nya de-ngan cara demikian. Dia akan merasa nikmat bila kita me-ngumumkan fakta bahwa Allah tidak lagi hanya memiliki seorang Putra, Putra tunggal, melainkan memiliki banyak putra. Kristus telah dinyatakan sebagai Putra Allah, se-dangkan kita masih berada dalam proses penyataan ini.

Suatu hari nanti proses ini akan sempurna, dan kita akan menjadi sama dengan Kristus, Putra sulung Allah, untuk selama-lamanya. Roma 1:3 dan 4 mengandung banyak kata kunci. Ayat 3 memiliki frasa “menurut daging (Tl.)”, dan ayat 4 memiliki frasa “menurut Roh”. Dalam 8:4, Paulus membicarakan tentang berjalan “menurut roh” dan bukan “menurut daging”. Inilah satu contoh bagaimana kata kunci dalam 1:3 dan 4 kemudian dipakai lagi oleh Paulus dalam kitab ini.

DINYATAKAN OLEH KEBANGKITAN

Satu kata khusus yang menakjubkan yang ada dalam 1:4 adalah “kebangkitan”. Kristus dinyatakan sebagai Putra Allah “oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati”. Dalam 6:5, Paulus mengatakan bahwa “kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Kristus dinyatakan oleh kebangkitan, dan kita akan menjadi serupa dengan kebangkitan ini. Bila kita berbagian dengan kebangkitan Kristus, kita akan berada dalam proses dinyatakan menjadi putra-putra Allah. Pada faktanya, kita dinyatakan oleh kebangkitan ini.

Menyatakan sesuatu adalah menunjukkannya, bukan hanya sekadar membuat penyataan atasnya. Sebagai putra-putra Allah, kita dinyatakan oleh kebangkitan, yaitu oleh perubahan dalam hayat. Marilah kita sekali lagi memakai benih anyelir sebagai satu ilustrasi. Banyak orang tidak da-pat menyebutkan perbedaan antara benih anyelir dengan be-nih lainnya. Beberapa orang mengira cara untuk menyebut-kan benih anyelir di antara banyak benih adalah dengan memberikan tanda kepada benih anyelir itu. Namun, ini bukanlah cara hayat. Menurut cara hayat, benih anyelir ini dinyatakan dengan ditanam ke dalam tanah, supaya ia dapat bertumbuh menjadi sebuah tanaman anyelir yang ber-bunga. Ketika satu tanaman anyelir masih merupakan satu tunas yang kecil, sulit sekali untuk mengenal apakah itu anyelir, karena kelihatannya sama dengan tunas lainnya. Tetapi semakin tanaman anyelir itu bertumbuh, ia akan makin terlihat sebagai tanaman anyelir. Akhirnya, dari bu-nganya, kita semua dapat mengenal bahwa itu adalah anye-lir. Melalui berbunga, tanaman itu sepenuhnya dinyatakan sebagai anyelir.

Sama prinsipnya, kita dinyatakan sebagai putra-putra Allah dengan perubahan dalam hayat melalui proses kebang-kitan. Harinya akan tiba saat kita mencapai tahap “ber-bunga seutuhnya”. Hal itu akan menjadi waktu penebusan, pemuliaan tubuh kita, waktu keputraan yang sempurna (8:23). Hayat Putra Allah telah ditanamkan ke dalam roh kita. Sekarang kita seperti benih anyelir yang ditaburkan ke dalam tanah, harus melalui proses kematian dan kebangkit-an. Hal ini membuat manusia lahiriah kita merosot, tetapi membuat hayat batiniah menjadi bertumbuh, berkembang, dan akhirnya, berbunga. Inilah kebangkitan. Puji Tuhan, se-tiap hari kita diletakkan pada kematian supaya kita dapat mengambil bagian dalam kebangkitan Kristus secara riil. Haleluya, kita akan dinyatakan sebagai putra-putra Allah oleh kebangkitan!

DIPROSES MELALUI

KEGAGALAN-KEGAGALAN KITA

Hari ini banyak orang mungkin tidak memiliki keyakinan untuk mengatakan bahwa kita adalah putra-putra Allah. Kita tidak memiliki penampilan, ekspresi, dari putra-putra Allah. Kita sama seperti tanaman anyelir yang belum ber-bunga. Meskipun demikian, kita sedang berada di bawah proses penyataan oleh kebangkitan, dan akhirnya, setelah kita sepenuhnya diproses, kita semua akan tahu bahwa kita adalah putra-putra Allah. Seluruh ciptaan sedang menung-gu dan mengeluh akan hal ini. Kita juga mengeluh karena kita tidak memiliki penampilan yang seharusnya kita miliki. Kita tahu bahwa kita masih kurang dalam banyak aspek dan bersalah dalam banyak hal, dan kita masih memiliki kegagalan. Tetapi di bawah kedaulatan Tuhan, kegagalan-kegagalan kita bahkan dipakai sebagai bagian dari proses ini. Tuhan membiarkan kita gagal waktu demi waktu supaya kita dapat diproses. Dengan kegagalan-kegagalan kita, ego kita yang buruk ini diruntuhkan, dan Tuhan me-miliki kesempatan yang lebih besar untuk bekerja di dalam kita.

Puji Tuhan untuk proses ilahi ini! Kita berada dalam perjalanan menuju kebangkitan. Kita bukan hanya dicang-kokkan ke dalam Kristus, agar kita dapat memiliki satu kesatuan yang vital dengan-Nya dalam kematian-Nya, teta-pi juga menikmati kebangkitan-Nya. Sekarang kita semua sedang berada dalam proses dinyatakan sebagai putra-putra Allah melalui sarana kebangkitan.

EMPAT ASPEK KEBANGKITAN

Dalam proses kebangkitan ini ada empat aspek: Pengu-dusan, pengubahan (transformasi), penyerupaan, dan pemu-liaan. Dalam Roma 6:22, Paulus berkata, “Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Pengudusan, yaitu proses menjadi kudus ini, membawa kita masuk ke dalam kenikmatan terhadap hayat yang kekal.

Dalam Roma 12:2, Paulus membicarakan tentang trans-formasi, yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menjadi serupa dengan zaman ini, tetapi bahwa kita harus ditrans-formasi melalui pembaruan pikiran. Dalam Roma 8:29, Paulus membicarakan tentang penyerupaan, dan dalam ayat 30 membicarakan tentang pemuliaan. Pemuliaan kita pada masa yang akan datang akan menjadi tahap yang terakhir dari kebangkitan ini; ini adalah kebangkitan yang diterap-kan pada tubuh. Karena tubuh kita masih tetap takluk ke-pada maut, maka adakalanya kita bisa lemah dan bahkan sakit secara fisik. Jadi, tubuh kita perlu ditebus; kita perlu menerapkan kebangkitan pada tubuh kita. Sebagai orang-orang yang berada dalam proses kebangkitan ini, kita me-miliki transfigurasi, pemuliaan tubuh kita, sebagai tahap yang terakhir dari kebangkitan ini.

PENGUDUSAN

Kita telah melihat bahwa pengudusan adalah satu bagian dari kebangkitan. Semakin kita dikuduskan, kita semakin dibangkitkan. Bila kita membicarakan tentang pengudusan, kita tidak mengartikan pengudusan itu sebagai kesempurnaan yang tanpa dosa, atau hanya perubahan posisi saja. Berdebat tentang konsepsi pengudusan sebagai kesempurnaan yang tanpa dosa, beberapa orang menunjukkan dari Matius 23 bahwa emas dikuduskan dengan ditempat-kan di dalam bait, dan bahwa satu kurban dikuduskan de-ngan diletakkan di atas mezbah. Karena itu, mereka meng-ajarkan bahwa pengudusan ini tidak berhubungan dengan dosa, melainkan berhubungan dengan perubahan posisi. Mi-salnya, bila emas ada di pasar, emas itu biasa, umum; teta-pi bila dibawa ke dalam bait, emas itu dikuduskan. Namun, pengudusan ini memiliki arti yang jauh lebih banyak dari-pada itu. Pengudusan ini bukan hanya meliputi perubahan posisi saja, tetapi juga perubahan watak (sifat). Pengudusan yang dibicarakan dalam Kitab Roma adalah pengudusan watak. Kita perlu dikuduskan dalam posisi dan watak kita.

Menyeduh teh adalah satu ilustrasi yang baik dari pe-ngudusan watak. Bila sebungkus teh dimasukkan ke dalam secangkir air, teh itu “mentehkan” air itu, membuat air itu berubah warna, penampilan, dan rasa. Kita dapat mengata-kan bahwa air itu menjalani perubahan watak. Semakin banyak teh dimasukkan ke dalam air itu, air itu akan se-makin “ditehkan”. “Pentehan” ini adalah gambaran dari pengalaman kita yang subyektif terhadap pengudusan ini. Kristus adalah “teh” surgawi, dan kita adalah “air”. Sema-kin banyak Kristus ditambahkan ke dalam kita, kita akan semakin dikuduskan secara watak.

TRANSFORMASI (PENGUBAHAN)

Kita bukan hanya dikuduskan, melainkan juga ditransformasi. Pengudusan berhubungan dengan hakiki, sedangkan transformasi berhubungan dengan bentuk, suatu perubahan dari bentuk yang satu ke dalam bentuk lainnya. Dikuduskan adalah memiliki lebih banyak Kristus ditambahkan kepada kita. Ditransformasi adalah dibentuk menjadi satu bentuk tertentu melalui penambahan hakiki ilahi. Transfor-masi adalah aspek kedua dari kebangkitan. Semakin kita di-transformasi, kita akan semakin dibangkitkan.

PENYERUPAAN

Aspek yang ketiga dari proses kebangkitan ini adalah penyerupaan, yang sangat berhubungan dengan transforma-si. Dalam proses ini kita diserupakan dengan gambar Kristus, seperti dikatakan dalam Roma 8:29, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentu-kan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”

PEMULIAAN

Kita telah menunjukkan bahwa tahap akhir dari pro-ses kebangkitan ini adalah pemuliaan, transfigurasi tubuh kita. Hayat ilahi di dalam kita pada akhirnya akan dieks-presikan melalui tubuh fisik kita secara penuh, yang men-transfigurasi tubuh ini menjadi tubuh yang mulia. Dengan cara ini, yang fana itu akan ditelan oleh hayat ilahi di dalam kita. Pada waktu itu, kita akan sepenuhnya dikuduskan, ditransformasi, diserupakan, dan dimuliakan. Ini berarti ki-ta akan benar-benar berada di dalam kebangkitan, dengan hayat dan sifat ilahi yang meresapi seluruh diri kita. Hal itu akan menjadi keputraan yang sempurna (8:23).

Kita semua memiliki perasaan bahwa hari ini keputraan kita belumlah sempurna. Namun, keputraan ini akan menjadi semakin sempurna sampai puncaknya pada waktu pemuliaan kita, ketika kita sepenuhnya dibangkitkan dan dinyatakan sebagai putra-putra Allah dalam sifat dan pe-nampilan. Kita akan menjadi putra-putra Allah dalam roh, dalam jiwa, dan dalam tubuh, bukan hanya secara nama di-sebut putra Allah, tetapi secara riil memang putra Allah. Sama seperti benih anyelir bertumbuh dari satu benih men-jadi satu tanaman yang berbunga sampai tumbuh besar; ki-ta juga akan diproses melalui kebangkitan sampai kita se-penuhnya dimuliakan dan dinyatakan sebagai banyak putra Allah. Sekarang kita berada dalam proses kebangkitan su-paya kita dapat dikuduskan, ditransformasi, diserupakan, dan dimuliakan. Proses ini akan berlangsung sampai kita sepenuhnya menjadi putra-putra Allah. Inilah sasaran inti dari Injil.