← Daftar isi Roma (2) · bab 1/19

MELAYANI DALAM INJIL PUTRA-NYA

Dalam Roma 1:9, Paulus berkata, “Karena Allah, yang kulayani dengan segenap hatiku dalam pemberitaan Injil Anak-Nya, adalah saksiku.” Banyak orang Kristen mengira bahwa Injil hanyalah kabar baik tentang bagaimana Kristus adalah Juruselamat, mati bagi orang dosa, agar dosa-dosa mereka dapat diampuni, dan suatu hari bisa naik ke surga. Tetapi Injil jauh lebih kaya dan lebih dalam daripada ini. Injil dalam Roma 1:9 mencakup seluruh Kitab Roma.

INJIL DALAM KITAB ROMA

Dalam ayat pertama dari Kitab Roma, Paulus mengata-kan bahwa sebagai hamba Kristus dan rasul yang terpang-gil, ia “dikhususkan untuk memberitakan Injil Allah.” Ini menunjukkan bahwa tujuan Paulus dalam menulis kitab ini adalah untuk menyinggung tentang Injil; Injil adalah subyek dari Surat Kiriman ini. Seluruh kitab ini mewahyukan Injil, kabar gembira Allah, dengan cara yang sangat menyeluruh.

Paulus jauh lebih banyak menyinggung Injil dalam Kitab Roma daripada Surat Kiriman lainnya. Dalam 2:16, ia berkata, “Allah, melalui Kristus Yesus, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, se-suai dengan Injil yang kuberitakan.” Menurut konsepsi alamiah, agamawi, Allah akan menghakimi orang sesuai dengan hukum Taurat. Tetapi di sini Paulus mengatakan bahwa Allah akan menghakimi mereka sesuai dengan Injil-Nya.

Injil bukan hanya untuk dipercayai, lebih-lebih untuk ditaati. Hal ini dibuktikan dalam 10:16, di mana Paulus mengatakan bahwa “tidak semua orang telah menerima ka-bar baik itu (menaati Injil. Tl.).” Orang-orang yang tidak menaati Injil itu mungkin menjadi musuh-musuh Injil (11:28). Sikap kita terhadap Injil menentukan apakah kita taat atau tidak, dan apakah kita musuh atau bukan.

Injil yang Paulus proklamirkan dalam Kitab Roma ini bukan hanya untuk orang-orang yang tidak percaya, lebih-lebih untuk kaum beriman di dalam Tuhan. Dalam 1:15, Paulus berkata, “Itulah sebabnya aku ingin untuk membe-ritakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.” Selain itu, Paulus percaya bahwa Allah akan menguatkan orang-orang beriman-Nya menurut Injil-Nya, “Bagi Dia, yang ber-kuasa menguatkan kamu, — menurut Injil yang kumasyhur-kan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan penyingkapan rahasia, yang tersembunyi berabad-abad lamanya” (16:25).

Roma 15:16 mengatakan, “Yaitu bahwa aku menjadi pe-layan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa lain dalam pelayan-an (sebagai imam dalam) pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa lain dapat diterima oleh Allah sebagai persem-bahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus.” Bagi Paulus, pemberitaan Injil adalah satu ministri imamat, satu pelayanan imamat. Sebagai imam, kita semua harus melayani Allah dalam Injil Putra-Nya.

DIJANJIKAN DALAM PERJANJIAN LAMA

Sekarang kita harus mengajukan satu pertanyaan yang mendasar, yang fundamental: Apakah Injil itu? Apa yang Paulus katakan mengenai Injil dalam Kitab Roma ini da-lam dan luas. Kata “Injil” berarti “kabar baik” atau “berita sukacita”. Injil adalah berita yang menyukakan orang-orang yang mendengarnya. Ini adalah kabar baik dari Allah, dari surga. Dalam Roma 1:2, Paulus mengatakan bahwa Injil Allah “telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci.” Ini menunjukkan bahwa jika kita ingin memahami isi Injil sebagai kabar baik, kita harus mengenal Perjanjian Lama. Perjanjian Lama bukan hanya satu catatan tentang penciptaan dan sejarah saja. Dalam Perjanjian Lama juga diwahyukan beberapa unsur penting yang berhubungan dengan Injil.

Yang pertama dari unsur ini ditemukan dalam Kejadian 1:26, di mana kita diberi tahu bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah. Gambar Allah adalah bagian dari isi Injil ini. Betapa ajaib bahwa kita, manusia dari debu tanah ini, dapat mengemban gambar Allah! Betapa baiknya kabar ini! Hati siapa yang tidak akan gembira oleh kabar yang demikian? Jika kita benar-benar melihat apa arti berada di dalam gambar Allah ini, kita akan memuji Tuhan.

Unsur kedua yang berhubungan dengan Injil ini ditemukan dalam Kejadian 2. Di sini kita melihat bahwa manusia yang diciptakan oleh Allah ditempatkan di depan pohon hayat. Ini menunjukkan bahwa kita bukan hanya memiliki gambar Allah secara lahiriah, melainkan juga dapat memiliki hayat ilahi secara batiniah.

Dalam Kejadian 3, si ular datang untuk memperdayai manusia supaya makan pohon pengetahuan baik dan jahat. Tetapi pasal ini juga memberi tahu kita unsur ketiga dari kabar baik. Ayat 15 mengatakan bahwa keturunan perem-puan itu akan meremukkan kepala ular. Meskipun ular te-lah masuk, tetapi ayat ini menubuatkan bahwa keturunan perempuan itu akan datang untuk menanggulangi ular itu.

Unsur keempat ditemukan dalam pasal selanjutnya. Kejadian 4:4 mengatakan bahwa Habel “mempersembahkan kurban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan kurban persembahannya itu.” Ini menunjukkan bahwa dengan persembahan yang tepat, kita, orang-orang dosa yang telah jatuh ini, dapat diterima oleh Allah.

Dalam Kejadian 1, ada banyak aspek tentang isi dari In-jil. Ayat 9 mengatakan bahwa air dikumpulkan di satu tempat sehingga kelihatan tanah yang kering. Ayat 11 me-lanjutkan, “Berfirmanlah Allah: ‘Hendaklah tanah menum-buhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Ada banyak macam hayat — tumbuh-tumbuhan, hewan, dan bahkan hayat manusia — yang berhubungan dengan tanah ini, yang melambangkan Kristus yang almuhit. Ini adalah bagian dari kabar baik Allah.

Dalam Kejadian 2:18, Tuhan berkata, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan pe-nolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Manusia dalam Kejadian 2:18 adalah lambang Kristus. Mengatakan bahwa tidak baik manusia itu seorang diri saja, itu berarti tidak baik bagi Kristus seorang diri saja. Sebagai Mempelai Laki-laki, Kristus merindukan satu mempelai perempuan, seorang yang sepadan dengan-Nya. Perkara Allah menghasilkan satu mempelai perempuan bagi Kristus juga adalah satu unsur dari Injil yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama.

MENGENAI SATU PERSONA YANG AJAIB

Dalam Roma 1:3, Paulus mengatakan bahwa Injil ini adalah mengenai Putra Allah, Yesus Kristus Tuhan kita. Perhatian utama Injil ini bukanlah pengampunan dosa, atau mendapatkan jiwa, maupun menyelamatkan orang dosa ke surga, melainkan Persona Kristus, Putra Allah. Injil ini bu-kanlah satu doktrin maupun pengajaran atau agama. Ini adalah satu Persona yang ajaib.

Persona yang ajaib ini memiliki dua sifat, sifat ilahi dan sifat insani. Dalam ayat 3, Paulus membicarakan tentang Kristus sebagai Putra. Ini menunjukkan sifat ilahi-Nya. Te-tapi Paulus juga mengatakan dalam ayat ini bahwa Kristus “menurut daging adalah keturunan Daud” (Tl.). Ini menun-jukkan sifat insani-Nya. Melalui inkarnasi, Putra Allah men-jadi seorang manusia, seorang keturunan Daud menurut daging.

Ayat 4 mengatakan bahwa Dia “menurut Roh kekudus-an dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati bahwa Dialah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.” Roh kekudusan di sini berbeda dengan daging dalam ayat 3. Sebagaimana daging dalam ayat 3 mengacu kepada esens insani Kristus, demikian juga Roh itu dalam ayat ini bukan mengacu kepada Persona Roh Kudus Allah, melainkan mengacu kepada esens ilahi Kristus, yang adalah “kepenuhan ke-Allahan” (Kol. 2:9 Tl.). Esens ilahi Kristus ini, adalah Allah Roh itu sendiri (Yoh. 4:24), yang kudus, yang penuh dengan sifat dan mutu yang kudus. Menurut Roh yang demikian, Kristus dinyatakan, ditunjuk, sebagai Putra Allah yang berkuasa yang bangkit dari antara orang mati. Melalui inkarnasi, Kristus, Putra Allah, menjadi se-orang manusia di dalam daging; tetapi melalui kebangkitan, Dia dinyatakan sebagai Putra Allah menurut Roh kekudusan.

Injil ini berkenaan dengan satu Persona yang ajaib yang menjadi daging dan dinyatakan sebagai Putra Allah menu-rut Roh kekudusan. Bagi Kristus, dinyatakan sebagai Putra Allah menurut Roh kekudusan itu berbeda dengan fakta bahwa Dia adalah Putra Allah dalam kekekalan. Sebagai Putra Allah yang kekal, Dia tidak memiliki sifat insani. Te-tapi Dia dinyatakan sebagai Putra Allah dalam kebang-kitan sangat erat kaitannya dengan sifat insani-Nya. Yesus Kristus, manusia dalam daging ini, telah dinyatakan seba-gai Putra Allah.

Inti berita Kitab Roma ini adalah orang-orang yang penuh dosa dan bersifat daging dijadikan putra-putra Allah dan diserupakan dengan gambar Putra Allah. Dengan cara inilah Kristus menjadi Putra sulung di antara banyak sau-dara. Jadi, butir inti Injil ini bukanlah pengampunan dosa. Intinya adalah menghasilkan putra-putra Allah, yaitu ba-nyak saudara dari Putra Allah ini.

BANYAK PUTRA DISERUPAKAN

DENGAN GAMBAR KRISTUS

Kristus adalah model, pola, dari Injil ini. Dia lahir da-lam daging; namun Dia dijadikan Putra Allah melalui ke-bangkitan di dalam Roh kekudusan. Tiga pasal pertama dari Kitab Roma menyingkapkan dosa-dosa kita, pasal 4 mewah-yukan pembenaran kita, pasal 6 mewahyukan kematian dan penguburan kita; dan pasal 7 mewahyukan masalah daging kita dan hayat alamiah. Tetapi pasal 8 mewahyukan bahwa kita akan diserupakan dengan gambar Kristus, yang sulung di antara banyak saudara. Kristus dinyatakan seba-gai Putra Allah, dan kita juga dinyatakan menjadi banyak putra Allah. Inilah butir utama dari Injil ini.

Dalam pasal 1, kita memiliki model, polanya; sedang-kan dalam pasal 8, kita memiliki reproduksi massalnya. Dalam pasal 1, kita memiliki satu Persona di dalam daging yang dinyatakan menjadi Putra Allah; namun, dalam pasal 8, kita memiliki banyak orang di dalam daging yang dinya-takan menjadi putra-putra Allah. Jadi, pada akhirnya Putra Allah ini akan menjadi yang sulung, Saudara tertua, di an-tara banyak saudara.

Orang-orang Kristen hari ini sering membicarakan ten-tang naik ke surga. Tetapi kita tidak menemukan hal ini di mana pun juga dalam Kitab Roma. Orang-orang Kristen yang lebih maju membicarakan tentang apa yang disebut kehidupan yang lebih dalam dan tentang kerohanian. Na-mun, baik kehidupan yang lebih dalam maupun kerohanian itu bukanlah hasil akhir dari Injil ini. Menurut Kitab Roma, ada begitu banyak orang yang dulu bersifat daging akan men-jadi putra-putra Allah. Dalam satu hal, saya tidak tertarik dengan kerohanian. Banyak orang yang menyatakan dirinya rohani, tetapi tidak mengekspresikan gambar Putra Allah. Kitab Roma mewahyukan bahwa kita akan diserupakan bu-kan dengan kerohanian, melainkan dengan gambar Putra Allah.

Seseorang mungkin ramah dan rendah hati, namun tidak diserupakan dengan gambar Kristus. Orang lain dapat melihat keramahannya, tetapi bukan gambar Putra Allah. Sekali lagi saya katakan, butir inti Injil ini tidak lain ada-lah penyerupaan dengan gambar Putra Allah. Haleluya, pa-da satu hari, kita, orang-orang di dalam daging ini, akan menjadi putra-putra Allah yang mulia!

KEKUATAN ALLAH

Dalam Roma 1:16, Paulus mengatakan bahwa Injil ada-lah kekuatan Allah. Alasan mengapa Injil ini begitu penuh dengan kekuatan adalah karena kebenaran Allah diwahyu-kan di dalamnya. Banyak tulisan tentang Kitab Roma yang tidak memberikan satu definisi yang memadai tentang kebe-naran Allah. Memang benar kebenaran Allah adalah Kristus. Namun, definisi yang demikian itu terlalu doktrinal.

Injil Allah penuh dengan kekuatan untuk menyelamatkan orang-orang dikarenakan Injil ini mewahyukan kebenaran Allah. Banyak orang Kristen mengira bahwa kekuatan Injil adalah Roh Kudus atau kasih Allah. Yang lainnya mengatakan bahwa kekuatan Injil adalah anugerah Allah. Tetapi dalam Kitab Roma, Paulus tidak mengatakan bahwa kekuatan Injil adalah Roh Kudus, atau kasih Allah, atau anugerah Allah. Ia mengatakan bahwa kekuatan Injil adalah kebenaran Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih berbobot dan lebih dapat diandalkan selain kebenaran. Sebaliknya, kasih dapat berubah dan dapat naik turun. Begitu pula anu-gerah. Misalnya, jika saya menyukai Anda, saya mungkin memberikan sejumlah uang sebagai hadiah kepada Anda. Tetapi jika saya tidak menyukai Anda, saya mungkin tidak memberikan apa pun kepada Anda. Demikian juga, pembe-rian Roh Kudus itu sedikitnya berhubungan dengan ketaat-an kita, karena itu pemberian Roh Kudus ada syaratnya. Tetapi pada kebenaran, tidak ada kesempatan dan keduduk-an untuk perubahan. Ketika kita bertindak menurut kebe-naran, kita harus melakukan hal-hal tertentu; ini bukan berasal dari kasih, melainkan karena kita terikat oleh kebenaran itu. Misalnya, dalam hal menyewa rumah. Sese-orang yang menyewa sebuah rumah harus membayar uang sewa pada waktunya bukan karena ia mengasihi pemilik rumah, melainkan karena ia harus memenuhi tuntutan per-setujuan sewa-menyewa itu. Tidak peduli bagaimana perasa-an pribadinya terhadap pemilik rumah itu, ia harus mem-bayar uang sewa itu. Dalam hal ini, membayar uang sewa adalah perkara kebenaran.

Pada suatu hari, saya melihat bahwa saya diselamatkan bukan hanya oleh kasih Allah dan oleh anugerah Allah, te-tapi juga oleh kebenaran Allah. Saya dapat dengan yakin berkata kepada Tuhan, “Tuhan, entah Engkau senang ter-hadapku atau tidak, Engkau terikat oleh kebenaran-Mu untuk menyelamatkan aku. Sekalipun Engkau tidak menga-sihiku, Engkau tetap harus menyelamatkan aku karena Engkau adalah benar. Kasih-Mu itu kekal, tetapi dasar keselamatanku bukanlah kasih-Mu, melainkan kebenaran-Mu.” Haleluya, inilah kekuatan Injil!

Kadang-kadang dalam memberitakan Injil, kita mengha-dapi bantahan atau debat dari orang-orang yang dikuasai pi-kirannya. Setelah mendengarkan Injil mengenai kasih Allah, beberapa orang berkata kepada kita, “Memang, Allah itu ka-sih, tetapi aku tidak patut dikasihi. Anda mengatakan bahwa kasih Allah itu tidak bersyarat, tetapi bagaimana aku tahu bahwa kasih-Nya bagiku itu tidak akan berubah, khususnya jika aku melakukan sesuatu yang berdosa?” Se-belum kita diterangi mengenai kebenaran Allah, kita sulit menjawab pertanyaan seperti ini. Tetapi sekarang kita dapat dengan berani memproklamirkan kebenaran Allah sebagai kekuatan Allah dalam Injil. Karena Allah itu benar, maka Dia terikat untuk mengampuni kita jika kita datang kepada-Nya melalui Kristus, tidak peduli bagaimana perasa-an-Nya tentang hal itu.

MELAYANKAN KRISTUS DALAM INJIL

Jika kita ingin melayani Allah dengan cara yang tepat, kita perlu melayani Dia dalam Injil. Untuk melakukan hal ini, pertama-tama kita perlu mengenal apakah Injil itu, dan kemudian kita perlu mengalami semua yang tercakup dalam Injil. Kita juga perlu belajar bagaimana melayankan Injil ini kepada orang lain, yaitu, bagaimana berfungsi seba-gai seorang imam dalam melayankan Injil Allah. Melayani Allah itu bukan hanya perkara berkumpul bersama-sama untuk menyanyi, memuji, dan bersukacita. Demikian juga, bukan hanya memenangkan jiwa atau membantu orang-orang kudus dalam hal tertentu. Melayani Allah adalah ber-fungsi sebagai imam dalam Injil. Ini berarti kapan saja kita berkontak dengan seseorang, entah ia seorang yang percaya atau orang yang belum percaya, kita perlu mengenal keper-luannya dalam Injil. Misalnya, jika seseorang tidak jelas ten-tang keselamatan, kita harus membantunya untuk menjadi jelas dan bahkan penuh dengan sukacita dalam keselamat-an Allah. Kita perlu melayaninya dengan Injil. Yang lain-nya mungkin jelas tentang keselamatan, tetapi tidak jelas atas aspek lainnya dari Injil. Maka, kita harus melayankan sesuatu untuk memenuhi keperluan mereka. Butir penting da-ri pelayanan dalam hidup gereja adalah melayankan Kristus kepada orang lain dalam Injil. Untuk hal ini, kita semua harus mempelajari unsur dan rincian tentang Injil ini, dan kita perlu mengalami isi Injil ini sepenuhnya. Tidak hanya demikian, kita masih harus mengembangkan teknik yang tepat dan keahlian yang tepat untuk melayankan Kristus dalam Injil menurut apa yang telah kita alami.

Kitab Roma adalah satu wahyu yang penuh tentang In-jil. Beban saya dalam berita ini adalah menunjukkan bah-wa butir inti dari Injil ini adalah Allah sedang mengubah (mentransformasi) orang-orang dosa dalam daging menjadi putra-putra Allah yang dinyatakan di dalam roh. Jika kita ingin melayani Allah dalam Injil, kita perlu mempersilakan hal ini menjadi sasaran kita. Mengapa kita memberitakan Injil? Kita memberitakan Injil bukan hanya agar orang-orang dapat diselamatkan, atau mendapatkan pengampun-an dosa, atau menjadi rohani saja, lebih-lebih agar mereka menjadi putra-putra Allah. Inilah sasaran kita.

Tentunya, Kitab Roma ini tidak berhenti sampai pasal 8 saja, yaitu, dengan perihal banyak putra Allah akan dise-rupakan dengan gambar Kristus. Dalam pasal 12, Paulus membicarakan tentang Tubuh. Tubuh Kristus ini tidak dapat dibangun dengan orang-orang dalam daging; Tubuh Kristus ini hanya dapat dibangun dengan putra-putra Allah yang mulia. Inilah alasannya pembangunan Tubuh Kristus tidak disinggung sebelum pasal 12. Agar Tubuh dapat dihasilkan, orang-orang dalam daging ini harus diserupakan dengan gam-bar Putra Allah. Oleh kebenaran Allah yang diwahyukan dalam Injil ini, Allah akan mentransformasi orang-orang dosa dalam daging menjadi putra-putra Allah dalam Roh bagi pembangunan Tubuh Kristus. Inilah sasaran dari Injil ini.