← Daftar isi Kelompok Vital · bab 4/16

CIPTAAN BARU ALLAH MENJADI NABI ALLAH UNTUK DISPENSI DAN PENYALURANNYA GARIS BESAR

XII. Sebagai unsur pokok dari kelompok vital, kita perlu ingat dan menyadari bahwa kita adalah ciptaan baru Allah, bersatu dengan Allah dalam hayat ilahi--Nya, bersatu padu dengan Kristus menjadi satu roh.

XIII. Dilatih dari manusia alamiah kita menjadi manusia Allah, menempuh penghidupan hayat ilahi dengan menyangkal hayat alamiah kita dengan mencontoh Kristus sebagai manusia Allah yang pertama.

XIV. Menjadi saksi-saksi Kristus untuk mempeluas diri--Nya dengan memperhidupkan Dia.

XV. Menjadi anggota-anggota Kristus yang menkonstitusi suatu organisme untuk pertambahan--Nya melalui pelipat gandaan--Nya.

XVI. Menjadi saudara-saudara--Nya yang mengambil bagian dengan diri--Nya dalam keputeraan ilahi untuk mengekspresikan Allah terutama melalui berbicara untuk dispensi Allah dengan wahyu--Nya.

XVII. Dalam wahyu--Nya menjadi nabi Allah yang membicarakan tentang Allah, berbicara untuk Allah, dan berbicara bagi Allah.

XVIII. Menghasilkan buah untuk Allah sebagai pelipat gandaan dan peyebarluasan--Nya.

XIX. Untuk berkontak dengan orang dengan menggembalakan mereka:

A. Berdasar kasih Allah terhadap orang yang jatuh

B. Mengikuti langkah-langkah proses Allah Tritunggal dalam mencari dan mendapatkan orang yang jatuh:

1. Putera sebagai gembala mencari satu domba yang sesat.

2. Roh sebagai perempuan yang mencari dirham yang hilang.

3. Bapa sebagai ayah dari seorang anak yang hilang menunggu dan melihat terus untuk menyambut anaknya kembali kerumah ayahnya.

Dalam berita ini kita ingin nampak bahwa ciptaan baru Allah menjadi nabi/rasul-Nya untuk dispensi dan penyebarluasan-Nya. Kata wahyu mengacu kepada firman Allah, orang yang melaksanakan pembicaraan/bernubuat Allah, atau kepada tempat Allah berfirman. Orang-orang yang dipakai Allah untuk menulis Alkitab ialah nabi/rasul Allah. Diantara mereka, Musa adalah yang sangat besar dan Paulus bahkan lebih besar lagi. Mereka adalah orang-orang yang berbicara/bernubuat bagi Allah. Apa yang mereka tulis dan bicarakan ialah wahyu Allah, firman Allah. Pada zaman dulu tutup pendamai tabut perjanjian merupakan tempat dimana Allah berbicara pada umat-Nya. Tutup ini disebut tutup pendamaian, pengampunan, untuk menutupi semua kekurangan/cacat umat Allah ( Kel. 25:16-22). Allah mengambil tempat itu, tempat utama itu, untuk berbicara kepada umat-Nya. Dalam perjanjian baru rasul Paulus merupakan seorang yang selalu di dalam realitas ruang maha kudus dengan tabut yang melambangkan Kristus. Kristus dengan penebusan yuridis-Nya telah menjadi tempat utama dimana Allah berfirman/berbicara kepada umat-Nya, dan tempat ini ialah suatu tempat bagi Allah untuk berfirman/berbicara (Rm. 3:24-25). Hari ini di dalam pemulihan Tuhan bukan hanya ada firman/pembicaraan Allah dan orang yang berbicara/bernubuat bagi Allah tetapi juga ada Kristus dengan penebusan yuridis-Nya sebagai tempat Allah. Sejak tahun 1922 firman/pembicaraan Allah, tempat Allah telah ada di dalam pemulihan-Nya.

CIPTAAN BARU ALLAH YANG TELAH DILAHIRKAN KEMBALI

Sebagai unsur utama kelompok vital, kita perlu mengingat dan menyadari bahwa kita adalah ciptaan baru Allah yang telah dilahirkan kembali, bersatu dengan Kristus didalam hayat ilahi-Nya, bersatu padu dengan Kristus menjadi satu roh (2 Kor. 5:17; 1 Kor. 6:17). Kita bukan hanya orang-orang yang dilahirkan di dalam ciptaan lama. Kita telah dilahirkan dua kali. Pertama, kita dilahirkan oleh orang tua menjadi ciptaan lama. Kita dilahirkan menjadi manusia alamiah, tetapi suatu hari kita dilahirkan kembali. Akte kelahiran kita merupakan suatu dokumen yang resmi dan penting yang mencatat tanggal dari kelahiran fisik kita. Akte kelahiran kita yang kedua kali dari kelahiran rohani kita terlihat di surat Roma 8:16, yang mengatakan bahwa Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Akte kelahiran kita adalah dua roh, Roh itu dengan roh kita.

DILATIH DARI MANUSIA ALAMIAH MENJADI MANUSIA ALLAH

Kita sedang dilatih dari manusia alamiah menjadi manusia Allah, menempuh penghidupan hayat ilahi dengan menyangkal hayat alamiah kita dengan mencontoh Kristus sebagai manusia Allah yang pertama (Mat. 28:19). Orang-orang muda yang telah datang untuk latihan sepenuh waktu, bukan dilatih di dalam pengertian manusia, tetapi dilatih di dalam pengertian yang ilahi. Saat saya membantu mereka agar menjadi terlatih, saya juga sedang dilatih sehari demi sehari dalam banyak hal untuk memperhidupkan hayat ilahi dengan menyangkal hayat alamiah saya.

Kita seharusnya menempuh penghidupan semacam itu menurut contoh Kristus sebagai manusia Allah. Ketika Kristus hidup di bumi, Dia mengnyangkal hayat alamiah-Nya. Dia berkata bahwa apa yang Dia firmankan bukanlah perkataan-Nya melainkan perkataan Bapa yang mengutus Dia. Dia tidak pernah melakukan sesuatu dari diri-Nya sendiri (5:19, 30). Dia melakukan segala sesuatu berdasarkan kehendak Bapa yang mengutus Dia. Dia bukan pengutus melainkan yang diutus. Dia tidak memperhidupkan diri-Nya sendiri melainkan memperhidupan sang Pengutus yaitu Bapa (6:57a). Inilah contoh/model dari manusia Allah yang pertama.

Belum pernah ada manusia semacam ini di dalam seluruh sejarah penghidupan manusia. Abraham dan Musa memang baik, tetapi mereka bukan manusia-manusia Allah. Setelah inkarnasi Allah ada seorang yang sangat khusus di bumi yang adalah seorang manusia Allah. Manusia Allah ini tidak menperhidupkan hayat insani-Nya. Tetapi Dia memperhidupkan hayat ilahi, Allah sendiri, dengan menyangkal hayat insani-Nya. Tuhan memanggil beberapa orang untuk mengikuti Dia yaitu untuk melihat bagaimana Dia menjalani penghidupan-Nya sehingga Dia dapat menunjukkan kepada mereka suatu contoh/pola seorang manusia Allah. Selama tiga setengah tahun mereka melihat dan dilatih dengan pola/contoh penghidupan-Nya ini. Di dalam penghidupan gereja kita juga sedang dilatih oleh Tuhan. Penghidupan gereja merupakan suatu latihan hayat untuk melatih kita dari manusia alamiah menjadi manusia Allah. Allah tidak peduli apakah anda seorang yang baik atau seorang yang buruk, sebab segala sesuatu dari manusia alamiah, baik atau buruk harus disalibkan. Semua manusia-manusia alamiah kita harus dilatih untuk disalib karena kita memiliki Manusia lain di dalam kita. Kita memiliki hayat dan sifat yang lain, kedua-duanya adalah ilahi menurut penghidupan yang harus kita tempuh sebagaimana semestinya.

III. MENJADI SAKSI-SAKSI KRISTUS

Dengan latihan dari Tuhan kita menjadi saksi-saksi Kristus untuk mempersaksikan Dia dengan memperhidupkan Dia (Kis. 1:8; Flp. 1:19-21a). Apakah kita adalah saksi yang sejati dari Kristus dalam penghidupan kita sehari-hari? Banyak saudari yang sangat khawatir/memusingkan tentang gaya rambut mereka dan bagaimana model rambut mereka terlihat. Mereka menghabiskan banyak waktu di depan kaca untuk mengurus rambut mereka. Apakah ini suatu prilaku dari seorang saksi Kristus? Kita harus menjadi saksi-saksi-Nya di dalam seluruh kehidupan kita.

Paulus adalah seorang saksi yang demikian. Setelah ia beroleh selamat dalam perjalanannya ke Damsyik, Tuhan mengutus Ananias kepadanya. Ananias mengatakan kepada Paulus,”sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar. Ketika orang melihat Paulus, mereka melihat Kristus. Dia benar-benar patut mengatakan,”aku telah disalibkan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20a). Oleh suplaian yang penuh anugerah dari dari Roh Yesus Kristus, Paulus memperhidupkan Kristus untuk mempersaksikan Dia. Dia berkeinginan untuk mempersaksikan/mengabarkan Kristus melalui hidup dan melalui mati (Flp. 1:19-21). Setiap hari Paulus adalah suatu peragaan, suatu pameran daripada Kristus untuk mempertunjukkan dan menghadirkan Kristus yang mulia kepada orang lain. Didalam penghidupannya, Paulus adalah Kristus karena baginya hidup adalah Kristus. Kita harus dilatih sampai pada tahap seperti itu agar kita menjadi seorang saksi hidup yang seperti itu.

IV. MENJADI ANGGOTA KRISTUS

Kita adalah anggota-anggota Kristus, menyusun suatu oraganisme untuk pertambahan-Nya melalui pelipatgandaan-Nya (Rm. 12:5; Yoh. 15:5). Karena kita adalah anggota Kristus, maka kita adalah suatu bagian dari diri-Nya. Kita adalah anggota-anggota Kristus, bukan secara individu, tetapi secara korporat. Saya sudah ada di Amerika selama lebih dari 33 tahun, dan saya telah mencoba melatih ministri(pelayanan) Kristus, bukan secara individu, tetapi degan sekerja-sekerja saya. Ini untuk pertambahan Kristus. Kristus harus dilipatgandakan sehingga Dia memiliki suatu pertambahan-Nya. Dalam Yohanes 3 mempelai perempuan ialah pertambahan/perluasan mempelai laki-laki (ay. 29-30), seperti Hawa yang adalah pertambahan/perluasan dari Adam.

V. MENJADI SAUDARA-SAUDARANYA

Kita adalah saudara-saudara-Nya yang berbagian dengan Dia di dalam keputeraan ilahi dengan hak ilahi untuk mengekspresikan Allah terutama melalui berbicara/bernubuat untuk dispensi Allah melalui wahyu-Nya. (Rm. 8:29; Ibr. 1:2). Tuhan Yesus bersama dengan murid-murid-Nya selama tiga setengah tahun, tetapi Dia tidak pernah memanggil mereka saudara-saudara-Nya sampai sesudah kebangkitan-Nya. Ketika Dia bangkit, Dia berkata kepada Maria,”...tetapi pergilah kepada saudara-saudaraKu dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang akau akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada AllahKu dan Allahmu” (Yoh. 20:17). Melalui kelahiran kembali di dalam kebangkitan, kita semua menjadi saudara-saudara-Nya (1 Ptr. 1:3). Kebangkitan-Nya adalah suatu penyaluran yang besar-besaran dari diri-Nya sebagai Anak sulung Allah dan kita adalah saudara-saudara-Nya, banyak putera Allah. Kita adalah saudara-saudara-Nya, berbagi nikmat didalam keputeraan Ilahi.

VI. MENJADI NABI-NABI ALLAH

Dalam wahyu Allah kita menjadi nabi-nabi Allah, berbicara/bernubuat mengenai Allah, berbicara/bernubuat bagi Allah dan berbicara/bernubuat demi Allah ( 1 Kor. 14:1, 31).

VII. UNTUK MENGHASILKAN BUAH

Kita bernubuat/berbicara bagi Allah adalah untuk menghasilkan buah bagi pelipatgandaan Allah dan penyebarluasan-Nya (Yoh. 15:5). Sebuah pohon berlipat ganda dan menyebarluas dengan menghasilkan buah.

VIII. BERKONTAK DENGAN ORANG MELALUI PENGGEMBALAAN TERHADAP MEREKA

Kita menghasilkan buah melalui mengontaki orang dengan menggembalakan mereka. Kita harus menjadi orang-orang yang selalu menggembalakan dan mengajar dengan jalan berbicara/bernubuat bagi Kristus kepada orang lain. Semua rasul adalah pembicara-pembicara firman Allah yang tinggi/top. Saat mereka sedang bernubuat/berbicara firman Allah, mereka juga menggembalakan kaum saleh, gereja-gereja, dan sekerja-sekerja mereka. Terutama Paulus yang adalah suatu contoh dari salah satu yang mengajar dan menggembalakan orang. Dalam 1 Timotius 3:2 Paulus berkata bahwa penatua-penatua harus “cakap mengajar”. Kemudian dalam 1 Timotius 5:17 dia berkata bahwa penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat. Setiap dari kita harus mengikuti contoh ini yakni bernubuat/berbicara dan menggembalakan orang lain.

Berdasarkan kasih Allah

Penggembalaan kita harus berdasarkan kasih Allah terhadap manusia yang jatuh. Manusia yang jatuh tersebut telah bersatu dengan satan menjadi dunia dan sistemnya, tapi Allah memiliki hati yang penuh kasih terhadap orang-orang ini.

Mengikuti langkah-langkah proses Allah tritunggal dalam mencari dan mendapatkan orang yang jatuh

Beban saya dalam berita ini ialah bahwa kita harus belajar dari rasul-ratus, para penatuan dan bahkan dari Allah tritunggal. Kita harus mengikuti langkah-langkah dari proses Allah tritunggal dalam mencari dan mendapatkan orang jatuh. Lukas 15 mencatat bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat mengkritik Tuhan dengan berkata,”...Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka” (ay. 2). Kemudian Tuhan memberikan tiga perumpamaan yang begitu memukau, yang menjelaskan kasih keselamatan dari Allah tritunggal terhadap orang-orang berdosa.

Putera sebagai gembala yang mencari satu domba yang sesat

Putera sebagai gembala yang baik akan meninggalkan 99 domba dan pergi mencari satu domba yang tersesat (Luk. 15:3-7).

Roh itu sebagai perempuan yang mencari dirham yang hilang

Perumpamaan yang kedua yakni seorang perempuan yang mencari dirham yang hilang (ay. 8-10). Ini melambangkan Roh itu mencari seorang dosa yang tersesat. Pencarian sang Putera mengambil tempat diluar diri orang dosa itu dan di genapkan diatas salib melalui kematian penebusan-Nya. Pencarian Roh ialah di dalam dan dilakukan oleh pekerjaan-Nya di dalam orang dosa yang bertobat.

Bapa sebagai seorang ayah dari seorang anak yang hilang

Karena langkah sang Putera dalam mencari orang dosa dengan cara mati di kayu salib dan langkah Roh itu yang melakukan pengudusan dengan mencari dan membasuh orang dosa tersebut dari bagian dalam dirinya, maka orang dosa tersebut masuk ke dalam perasaannya. Ini menunjukkan anak yang hilang kembali pada dirinya sendiri dan sangat berkeinginan kembali kepada ayahnya (ay. 17-18). 1 Petrus 1:2 mengungkapkan bahwa sebelum kita menerima percikan darah Kristus, Roh kudus menguduskan kita. Ini adalah pencarian pengudusan-Nya. Orang dosa tersebut di bangunkan oleh pencarian Roh itu untuk membuat dirinya kembali kepada Bapa. Ketika anak hilang itu kembali, ayahnya melihat dia saat anak tersebut masih terlihat jauh oleh ayahnya. Ini mengindikasikan bahwa ayahnya begitu mengharapkan