← Daftar isi Kelompok Vital · bab 10/16

MENGHIBUR ORANG DI DALAM KEINSANIAN KRISTUS GARIS BESAR

XXXI. Keinsanian Kristus adalah hayat insan-Nya di dalam kebangkitan.

XXXII. Keinsanian manusia baru kaum beriman di dalam ciptaan baru Allah juga adalah di dalam kebangkitan—Ef. 4:23-24.

XXXIII. Jalan yang pertama bagi anggota kelompok vital untuk berkontak dengan orang ialah dengan menghibur mereka.

XXXIV. Menghibur orang adalah membuat mereka gembira/bahagia, membuat mereka merasakan bahwa anda menyenangkan bagi mereka, mudah untuk dikontaki/hubungi dalam segala hal dan dalam segala cara.

XXXV. Bukan dengan manusia alamiah, tetapi dengan manusia anda yang telah dilahirkan kembali yang telah diserupakan oleh kematian Kristus.

XXXVI. Teladan Yesus dalam menghibur orang di dalam keinsanian-Nya:

A. Dalam kitab injil Matius:

1. Sebagai Raja kerajaan sorga di dalam keinsanian-Nya, Kristus datang untuk menghibur orang dengan menyinari mereka bagaikan terang yang besar dan dengan mewartakan kerajaan sorga sebagai injil yang menyuruh mereka bertobat—4:12-17.

2. Sebagai Raja manusia kerajaan sorga, Kristus menghibur orang-orang yang mencari kerajaan dengan memberkati mereka berkat sembilan kali lebih besar—5:1-12.

3. Ketika murid-murid-Nya meminta Dia untuk menyuruh orang orang pergi untuk membeli makanan bagi mereka, Dia tergerak oleh belas kasihan, dan mengatakan kepada murid-murid-Nya untuk memberikan apa yang mereka harus beri bagi orang-orang banyak untuk makan agar Dia dapat memberi makan lima ribu orang dengan hanya lima roti dan dua ikan dan sisanya dua belas bakul—14:14-21.

4. Dia melakukan hal yang sama dalam pasal 15:32-38.

5. Ketika murid-Nya menolak orang yang membawa anak-anak kepada-Nya, Dia menegor mereka dan menyuruh mereka membawa anak-anak itu kepada-Nya, dan Dia menghibur orang tua mereka dengan memeluk anak-anak mereka—19:13-15.

B. Dalam injil Lukas:

1. Kristus sebagai Juruselamat manusia datang ke rumah ibadat di Nazaret dan membaca kitab nabi Yesaya dimana ada tertulis,” Roh Tuhan ada padaKu oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakn pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta dan membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmah Tuhan telah datang.” Untuk menghibur orang dengan kata-kata karunia yang keluar dari mulut-Nya—4:16-22.

2. Kristus sebagai Anak Manusia datang untuk makan dan minum dengan pemungut cukai dan pendosa, bahkan sebagai teman mereka, untuk menghibur mereka agar mereka dapat diasuh oleh Dia dengan penebusan dan keselamatan-Nya—7:34.

3. Kristus sebagai Anak Manusia pergi ke Yerikho, melewati pohon yang dipanjat Zakheus yang mengharapkan untuk dapat melihat Dia, Dia melihat keatas, dan berkata kepada-Nya,”Zakheus, segeralah turun sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu,” untuk menghibur dia agar Dia dapat mengasuhnya dengan keselamatan-Nya—19:1-10.

C. Dalam injil Yohanes:

1. Ketika Kristus sebagai Juruselamat Allah yang dikenal/diketahui oleh Natanael sebagai Anak Allah, Dia menjawabnya bahwa ia akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat turun naik kepada Anak Manusia, seperti tangga yang dilihat Yakub dalam mimpinya sebagai satu penghiburan untuk menyakinkan Natanael agar mengikuti Dia supaya ia berbagian dalam pengasuhan-Nya dengan semua kebaikan ilahi, yang telah diberitahu dalam seluruh kitab injil Yohanes—1:45-51.

2. Ketika Kristus sebagai Juruselamat Allah ingin menyelamatkan perempuan Samaria yang tidak benar, Dia harus berjalan dari Yudea ke Galilea melalui Samaria dan memutar jalan dari jalan utama Samaria ke kota Sikhar, dan menunggu dekat sumur Yakub, dekat Sikhar, agar sasaran-Nya datang supaya Dia bisa menghiburnya dengan meminta dia agar memberi-Nya minum sehingga Dia dapat mengasuhnya dengan air hayat, yang adalah aliran Allah Tritunggal itu sendiri.

3. Ketika tidak ada satu pun orang Farisi yang bisa menghukum perempuan yang berzinah, Kristus sebagai Juruselamat Allah, dalam keinsaniaan-Nya, berkata kepada perempuan itu,”Akupun tidak menhukum engkau,” untuk menghibur dia dengan membebaskan dia dari dosa dan membuat dia untuk “jangan berdosa lagi”—8:3-11, 24, 34-36.

Dalam berita ini kita tidak menekankan tentang penghiburan Allah bagi kita tetapi tentang penghiburan kita bagi orang lain. Teladan Yesus sebagai Anak Manusia yang menghibur orang perlu direproduksi/dikembang biakkan di dalam diri kita sehingga kita juga akan dapat menghibur orang lain dalam keinsanian-Nya.

I. KEINSANIAN YESUS ADALAH HAYAT INSAN DALAM KEBANGKITAN

Ketika kita pergi keluar untuk berkontak dengan orang, kita harus menjadi orang yang memperhidupkan hayat insani dalam kebangkitan. Dalam Yohanes 11:25 Tuhan berkata kepada Marta,”Akulah kebangkitan.” Marta mengeluh kepada Tuhan bahwa jika Dia datang lebih awal, adiknya tidak akan mati. Tetapi Tuhan memberitahu bahwa kebangkitan bukan perihal waktu tetapi adalah perihal diri-Nya, sebab Dia adalah kebangkitan itu.

Visi/pandangan utama tentang Yesus dalam empat injil, terutama injil sinoptik, Matius, Markus, Lukas, adalah bahwa Dia memperhidupkan suatu hayat yang adalah manusia tetapi dalam kebangkitan. Yesus bukan seorang manusia yang memperhidupkan hayat alamiah. Dia selalu mengesampingkan keinsanian-Nya. Dia ada di dalam keinsanian, tetapi Dia tidak memperhidupkan suatu hayat keinsanian-Nya. Setiap hari ketika Ia masih hidup di bumi, Yesus ada di dalam daging, tetapi daging adalah dalam kebangkitan. Sesungguhnya Dia adalah seorang Nazaret, seorang asli Galilea. Dia ada di dalam daging. Tetapi penghidupan-Nya ada dalam keinsanian dalam kebangkitan.

Ketika Natanael datang kepada Yesus, Yesus mengatakan sesuatu kepadanya dalam kebangkitan:”Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara” (Yoh. 1:48). Dia melihat Natanael dibawah pohon ara dari jarak jauh disebabkan keilahian-Nya dengan kemampuan ilahi-Nya, tetapi kemampuan ilahi ini ada didalam keinsanian-Nya. Keilahian adalah kebangkitan. Kebangkitan adalah seorang yang ilahi, Allah. Hanya Allah yang adalah kebangkitan yang mampu mengatasi maut/kematian, menang atas maut, masuk ke dalam maut, membuat suatu perjalanan ke dalam maut, dan keluar dari maut.

Dia yang menciptakan Adam datang untuk menjadi manusia dan menempuh penghidupan hayat manusia dalam kebangkitan. Dia menyangkal keinsanian alamiah-Nya. Dia tidak pernah melakukan sesuatu berdasarkan diri-Nya sendiri (Yoh. 5:19, 30). Dia melakukan segala sesuatu di dalam diri-Nya sendiri tetapi tidak berdasarkan diri-Nya. Kita juga seharusnya tidak melakukan sesuatu di dalam hayat alamiah kita tetapi dalam kebangkitan Kristus. Yesus hidup, berjalan di atas bumi di dalam daging-Nya, tetapi Dia menolak daging ini. Dia menolak hayat alamiah-Nya. Ketika Yesus berumur 12 tahun, orang tua-Nya membawa-Nya ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Ketika mereka berjalan pulang dari Yerusalem, mereka tidak menemukan Dia, sehingga mereka kembali untuk mencari-Nya. Ketika mereka menemukan Dia di dalam bait, ibu-Nya berkata,”Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Jawab-Nya kepada mereka:”Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk. 2:48-49). Di dalam keinsanian-Nya Dia adalah putera orang tua-Nya, tetapi di dalam keilahian-Nya Ia adalah Putera Allah Bapa. Ini menunjukkan bahwa Dia menolak hayat alamiah-Nya. Dia menempuh penghidupan sebagai seorang anak laki yang muda dalam keilahian-Nya. Dengan perkataan lain Dia tidak hidup oleh manusia alamiah-Nya, yang dilahirkan Maria; Dia hidup oleh hayat-Nya dalam kebangkitan. Penghiburan-Nya kepada orang lain untuk memikat dan menarik mereka bukan di dalam keinsanian alamiah-Nya, tetapi di dalam keinsanian-Nya dalam kebangkitan.

Beberapa orang memikat, menarik, dan menghibur di dalam keinsanian alamiah mereka oleh kelahiran. Ketika orang seperti ini masuk ke dalam suatu ruangan, atmosfir/keadaannya berubah. Seorang yang memikat harus sangat hangat bukan dingin. Mereka yang memikat dengan keinsanian alamiah mereka, sudah tentu tidak nyata. Sebenarnya, mereka adalah pemain sandiwara seperti aktor di dalam teater. Ketika anda mengenal dekat dengan seorang yang memikat, anda akan mengetahui bahwa dia sebenarnya tidak memikat. Dia terlahir membawa sebuah topeng/selubung. Ketika topeng/selubung itu dibuka, dia menjadi berbeda. Menghibur orang di dalam keinsanian alamiah kita adalah tidak tulus/murni. Ini sebabnya mengapa kita harus menghibur orang di dalam keinsanian Yesus. Daya pikat dan penghiburan Tuhan bukan alamiah tetapi oleh hayat kebangkitan-Nya di dalam keinsanian.

II. KEINSANIAN MANUSIA BARU KAUM BERIMAN DI DALAM CIPTAAN BARU ALLAH ADALAH JUGA DI DALAM KEBANGKITAN

Keinsanian manusia baru kaum beriman di dalam ciptaan baru Allah adalah juga di dalam kebangkitan (Ef. 4:23-24). Di dalam ciptaan baru, kita sungguh-sungguh mirip Kristus. Kita dilahirulang, dilahirkan kembali, bukan dengan hayat Adam tetapi dengan hayat Kristus. Efesus 2 mengatakan bahwa kita dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita, tetapi Allah telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga (ay. 1, 5-6). Kristus yang tersalib dihidupkan dengan cepat dan kita dihidupkan dengan Dia. Setelah itu kebangkitan adalah kelanjutannya. Kita dihidupkan dengan Dia dan kemudian kita dibangkitkan dengan Dia. Kelahiran kembali pertama-tama membuat kita hidup dan kemudian membangkitkan kita dari kematian. Sebenarnya, kelahiran kembali adalah kebangkitan itu sendiri. Kelahiran kembali membuat kita menjadi ciptaan baru Allah (2 Kor. 5:17). Ini adalah titik berat utama dalam perjanjian baru.

Beberapa orang menyangkal bahwa Kristus bangkit dengan keinsanian-Nya, tetapi pengajaran ini salah. Dia menjadi Kristus yang bangkit dengan keinsanian yang bangkit. Bahkan ketika Dia sedang berjalan di bumi sebelum Dia bangkit, Dia hidup di dalam kebangkitan. Apa pun yang Dia lakukan adalah di dalam keinsanian-Nya yang bangkit bukan di dalam keinsanian alamiah-Nya. Kita bisa nampak mengenai jenis penghidupan ini oleh rasul Paulus. Dia berkata,”Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman” (Gal. 2:20). Paulus mengatakan bahwa bukan lagi dia sendiri yang hidup, tetapi kemudian dia berkata “aku hidup.” “Aku” yang sekarang hidup adalah “aku” yang baru di dalam kebangkitan. Dengan perkataan lain, bukan lagi aku yang hidup, Kristus yang hidup dalam aku, memang aku masih hidup. Sekarang Aku memperhidupkan suatu hayat yang bukan hayat alamiah. Hayat alamiahku telah disalibkan dan dibangkitkan. Sekarang hayat yang aku hidupi ada di dalam kebangkitan.

Kelahiran kembali adalah kebangkitan, tetapi apakah kita hidup seperti orang yang telah dilahirkan kembali dan dibangkitkan? Kita harus mengakui bahwa sebagian besar dari penghidupan kita sehari-hari masih ada di dalam hayat alamiah, bukan di dalam kebangkitan. Berada di dalam kebangkitan berarti berada di dalam Kristus, sebagai bagian dari Allah Tritunggal yang telah ternyatakan sebagai Roh yang dirampungkan. Allah yang adalah Trinitas ilahi, Bapa, Putra, dan Roh, ialah kebangkitan.

Allah tidak menciptakan Adam di dalam kebangkitan tetapi di dalam wilayah/alam alamiah. Penempatan Adam oleh Allah di depan pohon hayat menunjukkan bahwa Adam memerlukan hayat yang lain. Hayat ini adalah Kristus. Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Kristus adalah pohon hayat yang sejati (Yoh. 15:1; 14:6; Why. 2:7). Akhirnya, pada zaman perjanjian baru, banyak keturunan Adam berbagian dalam pohon hayat tersebut. Inilah hayat Allah, hayat Kristus, hayat kebangkitan. Hari ini kita harus memperhidupkan suatu hayat di dalam kebangkitan ini.

Filipi 3:10 Paulus mengatakan bahwa dia ingin mengenal Kristus, kuasa kebangkitan-Nya, dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, dimana dia bisa menjadi serupa dalam kematian-Nya. Untuk mengalami Kristus sebagai kebangkitan, kita harus selalu menyangkal diri kita sendiri. Diri kita sendiri adalah diri yang berdosa, tetapi diri Kristus tidak berdosa. Meskipun diri-Nya tidak berdosa, Dia masih menolak diri-Nya sendiri. Dia berkata,”firman yang kamu dengar itu bukanlah dari padaKu, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.” (Yoh. 14:10, 24). Ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus hidup oleh sumber lain di dalam kebangkitan. Ini adalah sangat dalam dan sangat menjamah. Terutama dalam beberapa tahun belakangan ini, hampir setiap hari saya berada di bawah terang yang kuat. Di bawah terang ini, saya diperiksa oleh Tuhan:”Apakah ini dari dirimu sendiri atau dari orang lain? Apakah ini dari hayat alamiahmu atau dari hayat Kristus?” Hayat ini adalah Allah Tritunggal itu sendiri yang juga adalah kebangkitan.

Ketika kita mengontaki orang, kita tidak seharusnya mengenakan topeng/selubung. Ini adalah kepura-puraan. Melainkan kita harus menjadi orang yang disalibkan dalam diri kita sendiri dan di dalam kebangkitan Kristus. Kemudian kita akan menempuh penghidupan sama seperti penghidupan yang Tuhan Yesus tempuh. Kita akan dengan tulus/murni menarik/memikat tanpa suatu topeng/selubung. Segala macam kerendahan hati yang datang/berasal dari hayat alamiah adalah salah dan jelek/buruk. Hal ini ditampilkan dengan menggunakan sebuah topeng/selubung. Baik kesombongan dan kerendahan hati kita harus disalibkan. Kemudian kita tidak memperhidupkan diri kita sendiri, melainkan kita hidup di dalam keinsanian kita oleh hayat lain, oleh Kristus yang berdiam di dalam kita. Dia adalah hidup dan sejati/nyata sebab Dia adalah kebangkitan. Kita memiliki Dia yang hidup di dalam kita.

Kita tidak seharusnya mengajar orang untuk menjadi orang yang rendah hati, sebab ini tidak akan berjalan. Mengajar orang untuk menjadi rendah hati adalah mengajar mereka untuk memakai topeng/selubung. Pengajaran Paulus adalah benar. Pengajarannya menghancurkan topeng kita. Dalam pengajaran kita mengenai Karakter, kita telah bersekutu bahwa kita perlu menjadi orang yang tulus, tepat, ketat. Tetapi ini mungkin bisa terjadi hanya bagi orang yang ada di dalam kebangkitan. Di dalam sejarah manusia, hanya ada satu orang, yaitu Yesus orang Nazaret, yang tulus/murni, tepat dan ketat. Dia tidak menunjukkan diri, tetapi Dia memperhidupkan suatu jalan yang spontan/langsung dan tulus. Sebagai anggota dari kelompok vital, kita harus menjadi orang-orang yang seperti itu. Kemudian kita akan dapat merawat orang. Ketika kita berkontak dengan orang, mereka akan terjamah oleh kita sebab kita tinggal di dalam kebangkitan. Lalu keinsanian kita bukan keinsanian yang asli lagi tetapi menjadi keinsanian yang telah disalibkan dan dibangkitkan.

Sebelum Yesus disalibkan dan dibangkitkan, Dia memperhidupkan suatu hayat di dalam kebangkitan. Yesus ada di dalam kebangkitan sebelum Dia dibangkitkan. Dia adalah orang yang memperhidupkan hayat insan di dalam kebangkitan, bukan oleh diri-Nya sendiri, tetapi oleh sumber lain yaitu Bapa-Nya. Oleh sebab itu, Dia dapat mengatakan bahwa apa yang Dia katakan, tidak Dia katakan dari diri-Nya sendiri, tetapi Bapa yang diam di dalam-Nya, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya (Yoh. 14:10). Dia adalah satu dengan Bapa. Jika kita memperhidupkan hayat yang semacam ini hari ini, suatu hayat di dalam keinsanian oleh kebangkitan, setiap orang akan menyadari bahwa ada sesuatu yang tentang diri kita. Kita akan manis, memikat, dan menarik, tanpa penipuan atau kepura-puraan.

Untuk menjadi vital sebagai anggota kelompok vital, kita harus menjadi orang yang seperti itu. Ketika kita mengunjungi orang, kita harus menyajikan/menghadirkan Kristus. Kehadiran-Nya adalah faktor yang memikat, dan kehadiran tersebut datang dari salib ditambah dengan kebangkitan. Kita harus menjadi seorang yang ada di salib dan di dalam kebangkitan. Kemudian kita akan memiliki kehadiran Allah Tritunggal yang sejati dengan kita dan kehadiran tersebut adalah kebangkitan.

Bagaimana kita bisa menjadi vital? Kita mungkin mengatakan bahwa kita harus banyak berdoa. Ini tepat, tetapi kita perlu nampak bahwa doa yang benar ialah oleh orang yang telah disalibkan di dalam kebangkitan. Jika kita bukan orang yang disalibkan di dalam kebangkitan, kita tidak bisa banyak berdoa. Doa yang tulus berarti penyaliban ditambah dengan kebangkitan. Penyaliban ditambah dengan kebangkitan sangatlah berarti bagi kita orang kristen. Jika kita adalah orang-orang yang seperti itu, maka dengan segera Allah Tritunggal beserta dengan kita, dan kehadiran-Nya bersama dengan kita ke mana pun kita pergi. Ketika kehadiran ilahi ini bersama kita, orang tidak akan bisa menerangkan atau menentukan hal ini. Tetapi mereka akan merasakan bahwa kita berbeda, dan mereka akan tertarik kepada Tuhan.

Kita dapat mengalami hal ini hanya dengan disalibkan dan dibangkitkan. Ini ditegaskan oleh Paulus dalam Filipi 3:10. Untuk mengenal Kristus, kita harus mengenal kuasa kebangkitan-Nya untuk diserupakan dalam kematian-Nya. Kematian-Nya harus menjadi sifat khusus yang olehnya kita diserupakan. Dengan mengalami Kristus dalam jalan ini, kebangkitan akan menjadi bagian kita, dan kita akan memiliki kehadiran-Nya. Kehadiran ini adalah Allah Tritunggal sebagai kebangkitan yang dialami oleh kita di dalam diri kita yang telah disalibkan dan diserupakan dalam kematian Kristus.

III. JALAN YANG PERTAMA UNTUK MENGONTAKI ORANG

Jalan yang pertama bagi anggota-anggota kelompok vital untuk mengontaki orang adalah dengan menghibur/merawat mereka. Karena kita menempuh penghidupan dengan hayat alamiah kita maka pengunjungan kita tidak berbuah.

IV. MENGHIBUR/MERAWAT ORANG

Menghibur/merawat orang adalah membuat mereka sukacita, menghibur mereka, membuat mereka merasakan bahwa anda menyenangkan bagi mereka, mudah untuk dikontati dalam segala haldan dalam segala cara. Kontak kita dengan orang harus benar-benar tulus. Ketulusan bisa dihasilkan hanya dengan penyaliban ditambah dengan kebangkitan. Hanya dengan penyaliban, orang yang bangkit bisa tulus dalam segala hal.

V. BUKAN DENGAN MANUSIA ALAMIAH TETAPI

DENGAN MANUSIA KITA YANG TELAH DILAHIRKAN KEMBALI

Kita harus merawat orang, bukan dengan manusia alamiah kita, melainkan dengan manusia kita yang telah dilahirkan kembali yang telah diserupakan dengan kematian Kristus. Kita memiliki dua manusia di dalam kita. Efesus 4:22-24 mengungkapkan bahwa kita harus melepaskan manusia lama dan mengenakan manusia baru dengan dibarui dalam roh dan pikiran kita. Roh yang berbaur harus membanjiri, mengambil alih, menempati/menduduki, menjenuhi pikiran kita dengan keilahian; kemudian pikiran kita menjadi suatu pikiran yang telah dibarui. Roma 12:2 mengatakan bahwa kita diubah denga pembaruan pikiran kita. Pembaruan ini ialah untuk melepaskan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Kita harus menjadi manusia baru yang hidup bukan oleh manusia alamiah kita tetapi oleh manusia kita yang telah dilahirkan kembali dengan Allah sendiri.

VI. TELADAN YESUS DALAM MERAWAT/MENGHIBUR ORANG DI DALAM KEINSANIAN-NYA

A. Dalam Injil Matius

1. Menghibur/merawat orang dengan menerangi mereka

Sebagai Raja kerajaan sorga di dalam keinsanian-Nya, Kristus datang untuk menghibur orang dengan menyinari mereka bagaikan terang yang besar dan dengan mewartakan kerajaan sorga sebagai injil yang menyuruh mereka bertobat—4:12-17. Kita harus menjadi suatu terang yang bercahaya dengan merawat/menghibur orang di dalam keinsanian-Nya Yesus.

2. Merawat/menghibur orang yang mencari kerajaan dengan memberkati mereka

Sebagai Raja manusia kerajaan sorga, Kristus menghibur orang-orang yang mencari kerajaan dengan memberkati mereka berkat sembilan kali lebih besar (5:1-12). Mulut Kristus penuh dengan berkat bukan kutuk. Ketika kita mengunjungi orang, mulut kita harus diisi dengan berkat ilahi. Pemberkatan kita kepada orang lain dalam cara ini adalah merawat/menghibur mereka.

3. Tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak

Ketika murid-murid-Nya meminta Dia untuk menyuruh orang orang pergi untuk membeli makanan bagi mereka, Dia tergerak oleh belas kasihan, dan mengatakan kepada murid-murid-Nya untuk memberikan apa yang mereka harus beri bagi orang-orang banyak untuk makan agar Dia dapat memberi makan lima ribu orang dengan hanya lima roti dan dua ikan dan sisanya dua belas bakul—14:14-21. Murid-murid-Nya sama seperti kita. Ketika hari mulai larut pada hari itu, mereka menginginkan orang banyak membeli makanan untuk mereka sendiri, tetapi Tuhan tergerak oleh belas kasihan kepada mereka untuk merawat/menghibur mereka sehingga hasilnya adalah mereka dikenyangkan/terasuh.

4. Merawat/menghibur para orang tua dengan meletakkan tangan-Nya diatas kepala anak-anak mereka