PERSEKUTUAN HAYAT
Dalam buku ini, kita memperhatikan perihal hayat dengan harapan bisa menggenapkan dua hal. Pertama, membantu setiap saudara saudari mengetahui apakah diri sendiri sudah mempunyai pengalaman hayat yang kita bahas di sini, atau belum. Kedua, memimpin saudara saudari dengan jelas memahami berita tentang hayat, sehingga di kemudian hari dapat pergi ke tempat-tempat lain dan memberitakannya sesuai inspirasi roh. Buku ini bukanlah semacam pengajaran umum, melainkan suatu penyelidikan khusus untuk membentangkan perihal hayat dan untuk melihat apakah Anda telah memilikinya. Jika Anda telah memilikinya, dapatkah Anda memberitakannya? Dapatkah Anda memberitakannya sampai menjamah perasaan orang lain? Dapatkah Anda memberitakannya bukan hanya sebagai doktrin, tetapi juga sebagai pengalaman? Itulah sebabnya kita tidak hanya ingin memeriksa apakah kita mempunyai hal-hal yang dimaksud oleh setiap istilah hayat, tetapi juga ingin mengungkapkan definisi dan penggunaan setiap istilah hayat itu.
Dalam diri saya ada satu beban yang sangat berat, perasaan yang sangat dalam, yaitu hari ini hal yang paling diperlukan oleh gereja-gereja adalah perkara hayat. Semua pekerjaan dan aktivitas kita harus berasal dari hayat. Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh giat melakukan banyak pekerjaan dan aktivitas. Mungkin saia di kemudian hari pekerjaan dan aktivitas kita akan meningkat dan bahkan menjadi lebih intensif daripada hari ini. Namun, kalau itu bukan berasal dari hayat, maka pekerjaan kita, pelayanan kita, tidak akan berlangsung lama dan tidak akan berbobot. Jika kita ingin pekerjaan kita menghasilkan buah yang berlimpah dan tahan lama, kita harus mempunyai dasar dalam hayat. Kita sendiri harus menyentuh Tuhan dalam hayat dan memimpin orang lain untuk menyentuh Tuhan dalam hayat. Hanya dengan demikian barulah kita layak dalam pekerjaan yang Allah inginkan dalam zaman ini.
Semua hasil pekerjaan kita harus diukur dengan hayat. Hanya yang berasal dari hayatlah yang dikenal oleh Allah. Dalam Matius 7, Tuhan berkata bahwa ada orang memberitakan Injil dan mengusir setan, tetapi mereka tidak dikenal oleh Tuhan (ayat 22-23). Dalam Filipi 1, rasul juga mengatakan bahwa ada orang yang memberitakan Injil karena dengki (ayat 15). Pekerjaan yang seperti itu dapat dipastikan tidak berasal dari hayat, tetapi dari usaha manusia. Kita tidak dapat dan tidak boleh melakukan pekerjaan semacam itu. Kita harus belajar untuk hidup dalam hayat Tuhan dan mengizinkan hayat-Nya membimbing kita melakukan pekerjaan-Nya. Kita tidak seharusnya mendambakan pekerjaan besar atau kesuksesan. Kita seharusnya hanya mempunyal satu keinginan - lebih mengenal dan mengalami hayat Allah, dan dapat membagikan apa yang kita ketahui dan alami kepada orang lain sehingga mereka juga bisa mendapatkannya. Ketika kita bekerja, tidak seharusnya mendirikan satu pekerjaan atau mendirikan satu organisasi. Pekerjaan kita seharusnya hanyalah membebaskan hayat Tuhan, menyalurkan dan menyuplaikan hayat Tuhan kepada orang lain. Semoga Tuhan membelaskasihani kita dan membuka mata kita untuk melihat bahwa pekerjaan utama Allah di zaman ini adalah supaya manusia bisa mendapatkan hayat-Nya dan bertumbuh dewasa dalam hayat-Nya. Hanya pekeriaan yang berasal dari hayat-Nya inilah yang dapat mencapai standar kekal-Nya dan diterima oleh-Nya.
Dalam bab sebelumnya, kita sudah melihat perasaan hayat. Perasaan hayat berhubungan erat dengan persekutuan hayat. Jadi, sekarang marilah kita melihat persekutuan hayat.
I. SUMBER PERSEKUTUAN HAYAT
Dari mana datangnya persekutuan hayat? Apa yang menyebabkannya? Dari mana itu berasal? Satu Yohanes 1:2-3 mengatakan, ". . . kami (para Rasul) bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup yang kekal.... supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus." Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa para rasul memberitakan tentang "hidup yang kekal" kepada kita supaya kita beroleh "persekutuan". Hidup yang kekal adalah hayat Allah, dan hayat Allah ini masuk ke dalam kita sehingga memungkinkan kita beroleh persekutuan. Karena persekutuan ini berasal dari hayat Allah, maka persekutuan ini adalah persekutuan hayat. Jadi, persekutuan hayat datang dari hayat Allah; ada karena hayat Allah; berasal dari hayat Allah; dan dibawa kepada kita oleh hayat Allah. Begitu di dalam kita mendapatkan hayat Allah, hayat Allah ini membuat kita memperoleh persekutuan hayat. Karena itu, hayat Allah merupakan sumber persekutuan hayat.
II. SARANA PERSEKUTUAN HAYAT
Hayat Allah ada dalam Roh Kudus Allah, dan masuk ke dalam kita melalui Roh Kudus Allah, dan hidup di dalam kita. Jadi, persekutuan yang dibawa kepada kita oleh hayat Allah, meskipun berasal dari hayat Allah, namun datang melalui Roh Kudus Allah. Karena itu, Alkitab juga menyebut persekutuan itu sebagai "persekutuan Roh Kudus" (2 Kor. 13:13).
Roh Kuduslah yang membuat kita mengalami hayat Allah; karena itu, Roh Kuduslah yang memungkinkan kita memiliki persekutuan dalam hayat Allah. Semua persekutuan hayat kita berada dalam Roh Kudus dan disebabkan oleh Roh Kudus. Itulah sebabnya Filipi 2:1 mengatakan, ". . . ada persekutuan Roh ".
Roh Kudus Allah bergerak, menuntut, dan mendorong kita sehingga kita beroleh persekutuan yang berasal dari hayat Allah. Karena itu, kalau kita ingin mendapatkan persekutuan hayat, kita bukan hanya perlu hayat Allah, tetapi juga harus hidup dalam Roh Kudus Allah. Hayat Allah adalah sumber persekutuan hayat, dan Roh Kudus Allah adalah sarana persekutuan hayat. Meskipun hayat Allah yang memberi kita persekutuan hayat, namun Roh Kudus Allah yang membuat kita menikmati persekutuan hayat ini secara riil. Hanya ketika kita hidup dalam Roh. Kudus dan berjalan dengan menaruh pikiran dalam Roh Kudus, barulah kita dapat menikmati persekutuan hayat Allah secara riil.
III. MAKNA PERSEKUTUAN HAYAT
Sebelum menjelaskan makna persekutuan hayat, terlebih dulu kita harus jelas mengenal satu hal. Hayat Allah pada mulanya ada di dalam Allah, kemudian masuk ke dalam kita, orang-orang milik Allah. Hayat Allah yang masuk ke dalam kita itu sebagian saja atau utuh? Jawaban kita adalah hayat yang masuk ke dalam kita itu bukan sebagian atau pun utuh, melainkan mengalir.
Contohnya, listrik dalam bola lampu. Listrik dari pusat pembangkit tenaga listrik itu hanya sebagian atau utuh? Bukan kedua-duanya, karena listrik yang ada pada pusat pembangkit tenaga listrik juga ada dalam bola lampu itu. Jadi yang ada adalah arus listrik yang terus-menerus mengalir. Begitu arus listrik berhenti, bola lampu tidak bercahaya lagi.
Contoh yang lain adalah darah dalam tangan saya. Darah ini hanya darah setempat atau darah seluruh tubuh? Kalau darah ini hanya darah setempat, berarti tidak ada persekutuan; kalau darah itu darah seluruh tubuh, juga berarti tidak ada persekutuan. Darah ini merupakan darah yang bersirkulasi, darah yang mengalir. Darah ini adalah darah dari seluruh tubuh yang terus-menerus bersirkulasi dan mengalir tanpa henti. Utuh juga sebagian; sebagian juga utuh.
Demiklan pula dengan hayat Allah di dalam kita. Hayat ini mengalir keluar dari Allah, mengalir masuk ke dalam diri jutaan orang kudus, termasuk kita. Hayat yang mengalir ini berasal dari Allah, melalui Allah, juga melalui jutaan orang kudus, termasuk kita. Dengan demikian hayat ini membuat kita mempunyai persekutuan dengan Allah dan dengan jutaan orang kudus.
Hal ini sama seperti bola lampu listrik yang bersinar. Listrik di dalamnya terus-menerus mengalir sehingga membuatnya berhubungan dengan pusat pembangkit tenaga listrik dan dengan banyak bola lampu listrik bersinar lainnya. Hubungan ini terjadi karena mengalirnya listrik dalam bola lampu tersebut. Demikian juga, persekutuan hayat di dalam kita terjadi karena mengalirnya hayat di dalam kita. Hayat Allah di dalam diri kita membawa aliran hayat, sehingga kita mempunyai persekutuan hayat. Persekutuan hayat memungkinkan kita bersentuhan dengan Allah dan juga dengan jutaan orang kudus. Jadi, makna persekutuan hayat adalah mengalirnya hayat. Mengalirnya hayat tidak terpisah dari hayat, tetapi justru merupakan persekutuan aliran hayat itu sendiri. Persekutuan aliran hayat ini menuntut kita terus berjalan dan hidup dengan mengikutinya dan berserah kepadanya. Kapan saja kita tidak mengikutinya atau berserah kepadanya, persekutuan ini akan berhentl mengalir. Dengan demikian, persekutuan antara kita dengan Allah terputus, dan persekutuan antara kita dengan orang-orang kudus juga terputus.
IV. FUNGSI PERSEKUTUAN HAYAT
Apakah fungsi atau kegunaan persekutuan hayat itu? Fungsi atau kegunaan persekutuan hayat adalah untuk menyuplaikan semua yang ada dalam hayat Allah, yakni semua yang ada dalam Allah, ke dalam kita. Semua kepenuhan di dalam Allah disuplaikan kepada kita melalui persekutuan hayat. Semakin kita mengizinkan aliran hayat mengalir di dalam diri kita, kita semakin disuplai dengan kepenuhan Allah. Suplai dari persekutuan hayat yang demikian seperti peredaran darah yang menyuplai tubuh, dan sepert aliran listrik yang menyuplai lampu.
Perasaan hayat membuktikan apakah kita hidup di dalam Allah atau tidak. Persekutuan hayat terus-menerus menyuplai kita dengan perkara-perkara hayat. Begitu persekutuan hayat Anda terputus, berarti persekutuan hayat Anda terganggu. Kalau kita terus-menerus hidup dalam persekutuan hayat, suplai hayat kita akan terus-menerus mengalir tanpa henti.
Persekutuan hayat dan perasaan hayat saling berhubungan. Begitu persekutuan hayat terganggu, perasaan hayat membuat kita merasa kehilangan suplai hayat. Kalau persekutuan hayat tidak terganggu, perasaan hayat membuat kita merasa memiliki suplai hayat. Karena itu, apakah kita berada dalam persekutuan hayat dan apakah kita mempunyai suplai hayat, semuanya tergantung pada apakah yang ditunjukkan oleh perasaan hayat tersebut. Semakin kita hidup dalam persekutuan hayat, maka perasaan hayat kita semakin tajam dan kita semakin disuplai dengan hayat.
Mengenai persekutuan hayat, cukuplah kita membahasnya sekian banyak. Namun, kita harus ingat bahwa perasaan hayat selalu menguji dan membuktikan kita, sedangkan persekutuan hayat selalu menyuplai kita. Keadaan kita di hadapan Tuhan ditentukan oleh perasaan hayat; sedangkan suplai hayat rohani kita, kita dapatkan melalui persekutuan hayat.