PERASAAN ROH DAN MENGENAL ROH
Sekarang kita akan melihat butir utama ketujuh, yaitu perasaan roh dan mengenal roh. Karena setiap pengalaman hayat terjadi dalam roh, maka mengenal roh merupakan perkara dasar dalam pengalaman hayat.
Sebenarnya apakah yang disebut roh? Bagaimana kita dapat mengenal roh? Bagaimana kita dapat menyentuh roh? Harus diakui bahwa pertanyaan seperti ini tidak mudah dijawab. Agak sulit untuk menjelaskan seperti apakah roh itu. Membicarakan tubuh, sangat mudah, karena kita dapat melihat dan menyentuhnya. Membicarakan jiwa, juga tidak begitu sulit, karena meski jiwa itu tidak dapat dilihat, kita dapat merasakan dan mengenalnya melalui fungsi dan kegiatannya, seperti berpikir, mempertimbangkan, memilih, membuat keputusan, merasa senang, marah, sedih, dan. gembira. Hanya membicarakan roh, ini memang agak sulit. Jangankan membicarakan roh, untuk mengerti saja tidak mudah. Meskipun demikian, kami akan tetap berusaha membahasnya.
Roma 8 membicarakan roh. Sulit menemukan bagian lain dalam Alkitab yang membicarakan keadaan kita dalam roh sejelas Roma 8. Karena itu, jika mau mengenal roh, mau tidak mau kita harus memperhatikan pasal ini.
I. EMPAT HAL
Dalam membicarakan roh, rasul menggunakan empat hal :
1. Hayat
Dalam ayat 2 dia mengatakan, "Roh yang memberi hidup" (Roh hayat; Tl.). Dengan demikian dia memberi tahu kita bahwa Roh yang dibicarakannya di sini adalah Roh hayat, Roh yang berkaitan dengan hayat, berisi hayat, dan milik hayat. Lalu dalam ayat 6 dia mengatakan, "… keinginan (pikiran) Roh adalah hidup." Ini berarti, hidup (hayat) adalah buah roh, dan roh adalah asal mula hayat, menyentuh roh berarti menyentuh hayat. Hayat dan roh saling berhubungan; karena itu, kita dapat mengenal roh melalui hayat. Meskipun mengenal roh itu mungkin sulit, namun memahami hayat tidak begitu sulit.
2. Hukum
Dalam ayat 2, Rasul tidak hanya membicarakan "Roh hayat" (T1.), bahkan "Hukuin Roh hayat" (Tl.). Hal ini menunjukkan bahwa Roh yang dia bicarakan di sini tidak hanya milik hayat, tetapi juga ada hukumnya. Karena itu, ketika dia membicarakan Roh, dia membicarakan hayat dan juga hukum. Dia menggabungkan ketiganya - hayat, Roh, dan hukum. Hayat dan Roh tidak bisa dipisahkan; begitu juga dengan hukum dan Roh. Hayat merupakan isi dan hasil dari Roh itu, sedangkan hukum adalah fungsi dan kegiatan Roh itu. Melalui berhubungan dengan hayat, kita menyentuh roh; melalui merasakan hukum, kita merasakan roh. Meskipun roh itu sukar ditemukan, hukum tidak sulit dicari. Karena itu, kita dapat menemukan roh melalui hukum.
3. Damai Sejahtera
Dalam ayat 6 Rasul berkata, "... keinginan Roh adalah hidup dan damat sejahtera." Ini berarti hasil dari menaruh pikiran di atas Roh bukan hanya hayat, tetapi juga damai sejahtera. Karena itu, hayat adalah buah Roh, damai sejahtera juga adalah buah Roh. Ketika kita menyentuh roh, kita menyentuh hayat, juga menyentuh damai sejahtera. Sama seperti hayat dapat membuat kita memahami roh, damai sejahtera juga dapat membuat kita menyadari (adanya) roh.
4. Maut
Dalam ayat 6, sebelum rasul Paulus mengatakan bahwa menaruh pikiran di atas Roh adalah hayat dan damai sejahtera, dia berkata, "keinginan daging adalah maut." Di sini, dia memakai perkara negatif untuk menonjolkan yang positif. Daging berlawanan dengan roh, dan maut berlawanan dengan hayat. Hayat adalah buah roh dan berasal dari Roh. Maut adalah buah daging dan berasal dari daging. Hayat membuat kita mengenal perkara-perkara yang berasal dari roh sehingga memungkinkan kita mengenal roh dari segi positif. Maut membuat kita mengenal perkara-perkara yang berasal dari daging sehingga mengungkapkan roh dari segi negatif Karena itu, sama seperti hayat yang dapat membuat kita mengenal roh dari segi positif, maut membuat kita memahami roh dari segi negatif. Untuk mengenal roh, kita perlu mengenal hayat, kita juga perlu memahami lawan hayat, yaitu maut.
Jadi, menurut perkataan rasul mengenai keempat hal ini : hayat, hukum, damai sejahtera, dan maut - keempatnya berhubungan erat dengan roh, baik secara positif maupun secara negatif. Kalau kita memahami keempat hal ini dengan tuntas, kita dapat mengenal roh dengan jelas, karena roh benar-benar berkaitan erat dengan keempatnya. Keempat hal ini berisi atau menyalurkan perasaan tertentu.
II. MEMPUNYAI PERASAAN
Kecuali hayat tumbuhan (pada umumnya) yang terendah, setiap hayat pasti mempunyai perasaan tertentu. Makin tinggi hayatnya, makin memiliki perasaan. Hayat dari Roh hayat yang dibicarakan di sini adalah hayat Allah sendiri. Hayat Allah adalah hayat tertinggi, karena itu, pasti paling penuh perasaan. Hayat ini ada di dalam kita dan membuat kita penuh dengan perasaan rohani, membuat kita dapat merasakan roh dan perkara-perkara roh.
Meskipun hukum benda yang tidak memiliki kesadaran tidak termasuk dalam alam perasaan, tetapi suatu hukum hayat yang memiliki kesadaran merupakan bagian dari alam perasaan. Misalnya, kalau saya memukul seorang saudara, dia segera merasa sakit; atau saya mengulurkan tangan ke arah matanya, dia pasti segera berkedip. Dia bereaksi demikian karena di dalam tubuhnya ada hukum hayat yang menyuruhnya berbuat begitu. Saat saya memukul dia, dia merasa sakit - ini adalah hukum. Saya mengulurkan tangan ke arah matanya, matanya berkedip - ini juga hukum. Meskipun semua ini adalah hukum, namun kalau Anda bertanya kepadanya mengenai hal-hal ini, dia akan mengatakan bahwa semua ini merupakan perkara perasaan. Ini membuktikan bahwa hukum hayat yang memiliki kesadaran adalah milik perasaan. Karena hayat dari Roh hayat adalah hayat Allah, limpah dalam perasaan, maka hukum Roh hayat dengan sendirinya juga limpah dengan perasaan.
Tentu saja, damai sejahtera yang dibicarakan di sini adalah damai sejahtera dalam diri kita. Damai sejahtera di dalam kita ini sepenuhnya merupakan perkara perasaan. Tidaklah mungkin kita memiliki damai sejahtera di batin tetapi tidak merasakannya. Karena itu, damai sejahtera yang dibicarakan di sini juga merupakan perkara perasaan.
Selain itu, maut (kematian) yang dibicarakan di sini juga merupakan perkara perasaan. Maut menyebabkan manusia kehilangan perasaan. Begitu seseorang mati, dia kehilangan perasaannya. Karena itu, kalau seseorang tidak mempunyai perasaan, itu membuktikan bahwa maut sedang bekerja dalam dirinya; meskipun dia mungkin belum benar-benar mati, dia sedang sekarat.
Selanjutnya, dalam perkara-perkara rohani, maut tidak hanya menyebabkan kita kehilangan perasaan hayat, tetapi juga menyebabkan kita mempunyai perasaan maut. Ketika kita menaruh pikiran di atas daging, maut menjadi aktif di dalam kita. Di satu pihak, maut menyebabkan kita kehilangan perasaan hayat; di pihak lain maut menyebabkan kita mempunyai perasaan tidak tenteram, gelisah, sumpek, tertekan, gelap, dan kosong. Perasaan tidak tenteram, gelisah, sumpek, tertekan, gelap, dan kosong ini merupakan perasaan maut dan menyebabkan kita merasakan maut.
Jadi, hayat, hukum, damai sejahtera, dan maut - keempat hal ini - semuanya mempunvai perasaan. Perasaan dari hal-hal ini membuat kita dapat menyentuh perasaan roh dan dengan demikian kita dapat mengenal roh. Karena itu, kita harus meluangkan beberapa waktu untuk melihat perasaan dari keempat perkara ini.
III. PERASAAN HAYAT
Hayat yang dibicarakan di sini mengacu kepada hayat dari Roh hayat. Karena itu, hayat ini milik Roh, dari Roh, dan berada bersama Roh. Roh tempat hayat ini berada bukan hanya Roh Allah, tetapi juga roh kita. Roh ini adalah Roh Allah yang berbaur dengan roh kita sebagai satu roh. Pada zaman Perjanjian Lama, Roh Allah hanya menghinggapi manusia, dan manusia menerima kuasa Allah dari luar. Roh Allah tidak masuk ke dalam manusia agar manusia menerima hayat Allah dalam batinnya. Jadi, pada zaman Perjanjian Lama, Roh Allah hanyalah Roh kuasa, belum merupakan Roh hayat. Baru pada zaman Perjanjian Baru, Roh Allah masuk ke dalam manusia sebagai Roh hayat sehingga manusia menerima hayat Allah. Kini, pada zaman Perjanjian Baru, Roh Allah bukan hanya Roh kuasa, tetapi juga Roh hayat. Dia tidak hanya turun ke atas manusia, membuat manusia mendapatkan kuasa Allah secara luaran, dan Dia tidak hanya menggerakkan manusia, membuat manusia mengenal dosanya, mengakuinya, menyesalinya, dan percaya kepada Tuhan : bahkan masuk ke dalam manusia sehingga manusia bisa memiliki hayat Allah dalam batinnya, dan juga tinggal di dalam manusia sebagai Roh hayat. Ketika kita digerakkan oleh-Nya, kita bertobat, percaya, dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita, lalu Dia masuk ke dalam kita dan menaruh hayat Allah dalam diri kita. Pada saat inilah, Dia masuk ke dalam kita sebagai Roh hayat, yaitu Roh hayat Allah. Hayat Allah ada di dalam Dia, Dia juga adalah hayat Allah. Karena itu, ketika Dia masuk ke dalam kita, berarti hayat Allah masuk ke dalam kita. Dia masuk ke dalam kita bersama hayat Allah sebagai Roh hayat. Ketika Dia masuk, Dia masuk ke dalam roh kita, bukan masuk ke dalam pikiran, emosi, atau tekad kita. Dia masuk ke dalam roh kita, menaruh hayat Allah dalam roh kita, dan tinggal dalam roh kita. Jadi, Roh hayat berbaur menjadi satu dengan roh kita. Kini, Roh Allah bersama hayat Allah (Dia adalah hayat Allah itu sendiri) tinggal dalam roh kita, sehingga Dia sendiri, hayat Allah, dan roh kita, ketiga-tiganya, berbaur menjadi satu dan tidak terpisah lagi.
Kita bisa menggunakan ilustrasi sebuah gelas yang asalnya berisi air jernih di dalamnya. Kemudian kita campurkan ke dalamnya sari buah dan gula, dengan demikian gelas itu menjadi gelas yang berisi air - sari buah - gula, minuman tiga rasa. Air itu mengumpamakan roh kita, sari buah itu mengumpamakan Roh Allah, dan gula itu mengumpamakan hayat Allah. Roh Allah yang mengandung hayat Allah berbaur dengan roh kita, sehingga membuat ketiganya - Roh Allah, hayat Allah, dan roh kita - menjadi roh hayat "tiga dalam satu". Inilah yang dibicarakan Roma 8:2.
Jadi roh yang kita bicarakan ini, tempat hayat dari Roh hayat berada, meliputi Roh Allah dan roh kita. Roh itu merupakan perbauran antara Roh Allah dengan roh kita. beberapa penerjemah Alkitab mengartikan Roh yang disebutkan dalam Roma 8 sebagai Roh Kudus; karena itu, mereka menulis Roh dengan R besar. Banyak pembaca Alkitab juga mengira bahwa Roh yang disebutkan di sini hanya mengacu kepada Roh Kudus. Namun fakta dan pengalaman rohani memberi tahu kita bahwa Roh yang disebutkan di sini adalah perbauran antara Roh Kudus dengan roh kita. Dalam Roma 8:16, rasul menyatakan fakta rohani ini (yang juga merupakan pengalaman rohani kita). Dia berkata, "Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita." Dengan berbicara demikian, dia memberitahu kita dengan jelas bahwa roh yang dia sebutkan sebelumnya itu adalah roh yang satu itu, yaitu perbauran antara "Roh Kudus dengan roh kita". Mengatakan bahwa roh itu adalah Roh Kudus memang benar, mengatakan bahwa roh itu adalah roh kita juga tidak salah. Ini seperti air dan sari buah dalam gelas. Anda boleh mengatakan bahwa itu adalah sari buah, dan Anda juga boleh mengatakan bahwa itu adalah air. Ini dikarenakan keduanya telah berbaur menjadi satu. Demikian juga, Roh Kudus dan roh kita telah berbaur menjadi satu roh. Dalam roh yang satu ini, yang merupakan perbauran keduanya, ada hayat yang Allah berikan kepada kita; jadi roh itu menjadi roh hayat. Singkatnya, hayat Allah berada dalam Roh Allah, dan Roh Allah masuk ke dalam roh klita; jadi ketiganya berbaur menjadi satu dan menjadi roh hayat.
Mulanya roh kita hanyalah roh manusia, dan roh itu sudah mati. Kini, sewaktu Roh Allah masuk, Dia tidak hanya menghidupkan roh kita, tetapi juga menambahkan hayat Allah ke dalam roh kita. Kini, roh kita bukan hanya hidup, tetapi juga mempunyai hayat Allah; roh kita bukan hanya roh, tetapi roh hayat. Semua perasaan hayat dalam roh ini membuat kita dapat mengenal roh ini. Ketika kita berjalan dengan menaruh pikiran di atas roh, dan ketika tindakan dan perbuatan kita sesuai dengan roh, hayat dalam roh ini akan membuat kita mempunyai perasaan hayat. Karena hayat ini berasal dari Allah, segar dan lincah, kuat dan perkasa, cerah dan kudus, riil dan tidak kosong, maka perasaan hayat ini pasti akan membuat kita merasakan kehadiran Allah; jadi kita akan merasa segar dan lincah, kuat dan perkasa, cerah dan kudus, riil dan tidak kosong. Ketika kita mempunyai perasaan seperti ini, kita tahu bahwa kita sedang menaruh pikiran di atas roh, berjalan menurut roh, dan hidup dalam roh. Perasaan-perasaan semacam ini merupakan perasaan hayat dalam roh kita, atau perasaan roh hayat kita, yang memimpin kita dari batin untuk berjalan menurut roh dan hidup oleh roh. Ketika kita menyentuh perasaan-perasaan ini, kita menyentuh roh. Ketika kita memperhatikan perasaan-perasaan ini, kita memperhatikan roh. Roh itu sendiri cukup, sulit untuk kita rasakan, tetapi kita dapat dengan mudah merasakan perasaan-perasaan hayat ini di dalam roh. Kalau kita dengan ketat mengikuti perasaan-perasaan ini, kita dapat mengenal roh dan hidup, dalam roh.
Hayat Allah yang ada dalam roh kita ini dapat dikatakan adalah Allah itu sendiri. Karena itu, perasaan hayat ini pasti akan membuat kita merasakan Allah. Kalau kita hidup dalam roh dan berjalan dengan menaruh pikiran di atas roh, maka perasaan hayat ini akan membuat kita merasa bahwa kita bersentuhan dengan Allah, membuat kita merasa bahwa Allah di dalam kita menjadi hayat kita, kekuatan kita, dan segala sesuatu kita, sehingga kita akan sukacita, tenteram, nyaman, dan puas. Jadi, ketika kita menyentuh Allah di dalam perasaan hayat batiniah ini, kita menyentuh hayat; dan dengan demikian kita tahu bahwa kita hidup, dalam roh dan menaruh pikiran di atas roh.
Karena roh, yang mengandung hayat dari roh hayat, merupakan perbauran antara Roh Allah dengan roh kita, maka apa pun yang kita rasakan yang ditimbulkan oleh perasaan hayat ini pastilah merupakan cerita Roh Allah di dalam roh kita. Roh Allah dalam roh kita mewahyukan Kristus kepada kita, mempersekutukan Allah dalam Kristus kepada kita, dan membuat kita mengalami Kristus dan berhubungan dengan Allah di dalam roh. Jadi, roh itu membuat kita mengalami Kristus - mengalami Allah sebagai hayat kita. Ini juga berarti bahwa roh itu membuat kita mengalami hayat - mengalami hayat Allah di dalam roh kita. Jadi, ketika kita mengalami hayat ini, roh itu membuat kita merasakan kepuasan hayat, kekuatan hayat, kecemerlangan hayat, kesegaran hayat, serta kelincahan dan keunggulan hayat. Ketika kita mempunyai perasaan hayat ini dalam diri kita, kita tahu bahwa kita hidup di dalam roh dan menyentuh roh.
IV. PERASAAN HUKUM ROH HAYAT
Dalam Roh hayat yang ada dalam diri kita, tidak hanya ada hayat Allah, tetapi juga ada hukum. Hukum ini adalah hukum hayat Allah. Setiap hayat mempunyai hukumnya. Hayat dalam tubuh kita mempunyai hukumnya sendiri. Segala sesuatu yang sesuai dengan sifat alaminya, akan disetujui dan diterima oleh hukumnya; segala sesuatu yang tidak sesuai dengan sifat alaminya akan ditentang dan ditolak oleh hukumnya. Demikian pula dengan hayat Allah yang ada dalam roh kita, ia mempunyai hukumnya. Hukum ini berasal dari roh dan ada dalam roh, karena itu sifat alaminya mutlak rohani. Kalau keadaan dan perbuatan kita sesuai dengan sifat rohaninya, hukum dalam roh kita ini akan menyetujui dan menerimanya; kalau tidak, hukum ini akan menentang dan menolaknya. Semua yang disetujui dan diterimanya pasti berasal dari roh, karena hanya yang dari roh yang dapat sesuai dengan sifat rohaninya. Karena itu, semua keadaan dan perbuatan kita harus dari roh dan dalam roh, barulah hukum hayat dalam roh kita akan menyetujui dan menerimanya.
Hukum hayat dalam roh kita ini adalah milik perasaan dan memiliki perasaan. Segala sesuatu yang disetujui dan diterimanya atau ditentang dan ditolaknya diketahui melalui apa yang dirasakannya dan apa yang dia kehendaki kita rasakan. Jika apa adanya kita dan apa yang kita lakukan ada di dalam roh dan selaras dengan sifat roh hayat di dalam kita, hukum ini akan membuat kita merasakan bahwa ia menyetujui dan menerimanya; jika tidak, hukum ini akan membuat kita merasa bahwa ia sedang menentang dan menolaknya. Jadi, melalui perasaan hukum ini, kita dapat mengetahui apakah kita hidup di dalam roh dan berjalan menurut roh atau tidak. Karena hukum ini adalah hukum roh hayat di dalam kita, maka perasaan hukum ini adalah perasaan roh hayat di dalam kita, karena itu, perasaan hukum ini dapat membuat kita mengenal roh yang di batin.
Hukum adalah hal yang alami (wajar), karena itu perasaan yang diberikannya kepada kita juga alami (wajar). Misalnya, kita minum segelas sari buah, dengan sendirinya kita merasakan manis. Ini dikarenakan ada hukum hayat jasmani dalam tubuh kita yang secara otomatis membuat kita merasakannya. Begitu bibir kita menyentuh sari buah itu, kita langsung merasakan manisnya. Perasaan alami mi adalah hukum hayat dalam tubuh kita. Hukum ini dengan sendirinya membuat kita mengecap rasa sari buah itu. Hukum hayat dalam roh kita juga demikian. Tidak perlu orang lain memberi tahu kita apakah keadaan dan tindakan kita sebagai orang Kristen ada dalam roh, apakah kita sepenuhnya memperhatikan roh dan menyenangkan Allah; hukum hayat dalam roh kita dengan sendirinya akan memberi tahu keadaan kita dengan cara memberi kita perasaan tertentu. Perasaan alami yang diberikan oleh hukum hayat bagi kita ini merupakan fungsi alami roh hayat dalam diri kita. Dengan ini, kita dapat dengan mudah melihat apakah kita hidup dalam roh atau tidak.
Perasaan yang diberikan hukum hayat bagi kita itu bukan saja alami, tetapi juga membuat kita menjadi alami. Semakin kita hidup dalam roh, dan semakin keadaan serta perbuatan kita sesuai dengan sifat roh hayat dalam diri kita, maka hukum hayat dalam roh kita ini akan semakin menyebabkan kita merasa alami. Kalau sebagai orang Kristen, kita tidak alami, itu membuktikan bahwa kita punya masalah dan tidak hidup dalam roh. Karena roh hayat dalam diri kita merupakan hukum alam roh, maka hidup dan pekerjaan kita harus sesuai dengan sifat rohaninya, demikian di dalam kita baru merasakan keadaan alami. Ketika kita merasa alami dalam batin, hal itu membuktikan bahwa kita hidup sesuai dengan hukum hayat dalam roh kita. Perasaan alami yang diberikan kepada kita oleh hukum hayat dalam diri kita ini membuat kita tahu bahwa kita hidup dalam roh dan berjalan sesual dengan roh. Jadi, kalau kita mengikuti hukum hayat dalam roh kita, atau kalau kita mengikuti perasaan alami yang diberikan kepada kita oleh hukum hayat ini, berarti kita mengikuti roh hayat dalam diri kita. Singkatnya, mengikuti perasaan hukum hayat dalam roh berarti mengikuti roh, karena perasaan hukum hayat dalam roh adalah perasaan roh itu sendiri.
V. PERASAAN DAMAI SEJAHTERA
Roh hayat di dalam diri kita bukan hanya merupakan tempat tinggal Roh Allah dan hayat Allah, tetapi juga tempat manusia baru berada. Selanjutnya, roh di dalam kita itu - roh yang berbaur dengan hayat Allah - juga adalah manusia baru di dalam diri kita. Kalau saat berperilaku dan melakukan sesuatu, kita memperhatikan roh hayat di dalam diri kita, maka kita hidup oleh manusia baru rohani di dalam kita. Dengan demikian, manusia batiniah kita selaras dengan tingkah laku kita; karena itu, kita merasa wajar dan damai sejahtera. Kita dapat mengatakan bahwa perasaan alami dan damai sejahtera ini merupakan hasil yang ditimbulkan oleh perasaan hukum roh hayat. Kalau kita memperhatikan roh hayat di dalam kita, dengan sendirinya kita berjalan dan hidup menurut hukum roh hayat di dalam kita. Ini membuat kita merasa alami di batin dan mempunyai perasaan damai sejahtera. Perasaan damai sejahtera dan perasaan hayat ini seiring sejalan. Perasaan hayat itu segar dan hidup : perasaan damai sejahtera itu alami dan tenteram. Perasaan hayat adalah kepunsan dan penuh semangat; perasaan damai sejahtera adalah tenang dan nyaman. Kalau kita memperhatikan roh, berjalan dan hidup oleh roh, kita tidak hanya akan mempunyai perasaan hayat, merasa segar, hidup, puas, dan bersemangat, tetapi juga mempunyai perasaan damai sejahtera, merasa alami, tenang, nyaman, dan tenteram. Perasaan ini juga merupakan perasaan roh. Saat kita mempunyai perasaan semacam ini, kita tahu bahwa kita hidup dalam roh. Jika kita mengikuti perasaan ini, kita mengikuti perasaan roh, hal ini berarti kita mengikuti roh. Perasaan semacam ini membuat kita mengetahui dan mengenal roh. Semakin kita berjalan menurut roh dan hidup di dalam roh, perasaan di dalam kita menjadi semakin kaya dan dalam.
VI. PERASAAN MAUT
Ada suatu perbandingan yang mencolok dalam Roma 8:6. Rasul mengatakan bahwa akibat keinginan daging adalah maut, sedangkan akibat keinginan roh adalah hidup (hayat) dan damai sejahtera. Ayat ini mengungkapkan bahwa sama seperti daging berlawanan dengan roh, begitu juga akibat keinginan daging, yaitu maut, berlawanan dengan akibat keinginan roh, yaitu hayat dan damai sejahtera. Jadi, di sini rasul memberi tahu kita bahwa maut bukan hanya berlawanan dengan hayat, tetapi juga berlawanan dengan damai sejahtera. Karena itu, perasaan maut bukan hanya berlawanan dengan perasaan hayat, tetapi juga berlawanan dengan perasaan damai sejahtera. Perasaan hayat membuat kita merasa segar, lemah, puas, dan bersemangat; tetapi perasaan maut membuat kita merasakan sebaliknya - usang, tertekan, kosong, dan tidak bertenaga. Perasaan damai sejahtera membuat kita merasa alami, tenang, nyaman, dan tenteram. Perasaan maut membuat kita merasakan sebaliknva - tidak alami, tidak tenang, tidak nyaman, dan tidak tenteram. Jadi, kapan pun kita merasa terasing, tertekan, kosong, kering, lemah, dan tidak bertenaga, gelap dan jenuh, atau tidak tenteram, tidak aman, tidak nyaman, tidak ada kerukunan (harmonis), penuh perselisihan, tidak alami, sedih, dan terikat, kita harus tahu bahwa kita tidak hidup di dalam roh; sebaliknya kita hidup di dalam lawan roh yaitu daging.
Daging yang dibicarakan oleh rasul di sini tidak hanya mengacu kepada hawa nafsu daging kita, seperti anggapan kebanyakan orang, tetapi juga mengacu kepada seluruh manusia lama kita. Semua yang menjadi milik manusia baru di batin kita merupakan milik roh; demikian juga semua yang menjadi milik manusia lama di lahir kita merupakan milik daging. Segala sesuatu yang tidak berasal darl roh dan bukan milik roh, berasal dari daging dan adalah milik daging. Meskipun jiwa berbeda dengan daging, namun karena jiwa sudah jatuh dan menjadi tawanan daging, maka semua yang berasal dari jiwa atau menjadi milik jiwa juga berasal dari daging dan merupakan milik daging. Jadi, kalau kita hidup oleh jiwa, kita hidup oleh daging. Entah kita penuh keinginan daging atau penuh kemgman jiwa, keduanya sama saja. Akibat keinginan daging adalah maut. Perasaan maut ini menyebabkan kita merasa kosong, tertekan, tidak tenteram, dan tidak aman. Begitu kita mempunyai perasaan seperti ini, kita harus tahu bahwa kita penuh keinginan daging, dan bahwa kita hidup dalam daging atau dalam jiwa. Perasaan seperti ini menyebabkan kita mengetahui lawan roh, yaitu daging dan mengenalinya. Jadi dengan mengenal lawan roh, kita juga bisa mengenal roh itu sendiri.
Apa pun yang kita lakukan, entah kita berpikir bahwa hal ini benar atau salah, rohani atau tidak rohani, kalau jauh di dalam lubuk kita merasa tidak tenang, tidak aman, kosong, dan tertekan, hal ini membuktikan bahwa kita hidup oleh daging dan tidak hidup dalam roh. Jangankan mengatakan yang lain atau melakukan hal-hal yang tidak baik, bahkan ketika berdoa dan memberitakan, jika kita merasa kosong dan tertekan dalam batin, tidak puas atau tidak ada sukacita, hal ini membuktikan bahwa kita sedang berdoa atau memberitakan dengan daging dan tidak dalam roh. Sering kali, dengan pikiran kita atau dengan daging (karena tidak di dalam roh), kita berdoa seperti menghafal dari buku. Semakin kita berdoa, kita semakin merasa kering dan tertekan, tidak ada aliran dan sukacita. Sesudah berdoa, kita hanya merasa kosong, tidak puas. Berdoa dengan pikiran semacam ini membuat roh kita tidak mampu memperoleh suplai hayat, sebaliknya malah hanya menyentuh perasaan maut. Meskipun apa yang kita doakan mungkin sudah sangat tepat, tetapi tidak di dalam roh; karena itu kita tidak dapat menyentuh dirisan dan sukacita dari hayat dan damai sejahtera, tetapi hanya merasakan kekeringan dan tekanan maut. Sering kali pemberitaan kita juga seperti ini. Jika kita memberitakan tidak menurut roh tetapi dengan pikiran kita, kita merasa kosong dan kering dalam batin, atau merasakan maut; kita tidak merasa puas atau segar, dan tidak mempunyai perasaan hayat. Kalau kita berada dalam roh, berbicara dengan roh, kita seharusnya merasa puas dan tenang dalam batin, hal ini berarti kita merasakan hayat dan damai sejahtera. Jadi, dengan perasaan seperti ini, kita dapat mengetahui apakah yang kita lakukan ini dalam daging atau dalam roh. Perasaan semacam ini dapat membuat kita mengenal daging, dan dengan mengenal daging, kita dapat mengenal roh.
Maut tidak hanya menyebabkan kita mempunyai perasaan tertekan, hampa, tidak tenang, dan tidak ada sukacita seperti itu, tetapi juga membuat kita kehilangan perasaan hayat. Perasaan maut seperti itu memberi peringatan kepada kita, mendorong kita agar terlepas dari daging dan hidup dalam roh. Jika kita mempunyai perasaan maut semacam itu, tetapi kita masih terus berbuat dan bertindak dengan hayat daging, maka setelah sejangka waktu, maut dapat menyebabkan roh dalam batin kita kehilangan perasaan dan menjadi mati rasa. Jika roh dalam batin kita mati rasa dan tidak mempunyai perasaan, hal itu dikarenakan kita hidup oleh daging untuk waktu yang cukup lama sehingga roh kita dicelakai oleh maut. Jadi, kita dapat dan harus tahu bagaimana cara memperlakukan roh kita dan tahu apakah kita hidup di dalam roh atau tidak.
VII. MENGENAL ROH
BERDASARKAN PERASAAN ROH
Semua perasaan yang telah kita bicarakan di atas merupakan perasaan yang diberikan roh hayat kepada kita, karena itu kita bisa mengatakan bahwa itu merupakan perasaan roh. Jika kita ingin mengenal roh secara langsung, agak sulit; tetapi mengenal roh melalui perasaan-perasaan roh seperti itu, agak lebih mudah. Kita tidak dapat benar-benar memahami secara langsung apakah sebenarnya roh itu, tetapi melalui perasaan roh itu, tidaklah sulit bagi kita untuk mengenalinya. Kalau kita berjalan dan hidup dengan mengikuti perasaan roh secara ketat, berarti kita mengikuti dan memperhatikan roh. Kalau kita mengikuti hukum alami Roh hayat, memelihara perasaan hayat dan damai sejahtera, memperhatikan peringatan yang diberikan oleh perasaan maut kepada kita, dan hidup dalam perasaan-perasaan ini, maka kita memang hidup dalam roh. Perasaan-perasaan ini berasal dari roh; karena itu dapat membuat kita menyentuh roh dan dengan demikian inengenal roh.