PERASAAN HAYAT
Kita sudah melihat apakah hayat dan apakah pengalaman hayat. Kita juga sudah melihat pengalaman hayat yang pertama, yaitu kelahiran kembali dengan berbagai hal yang kita peroleh melalui kelahiran kembali. Setelah kita melihat semua ini, sekarang kita dapat melihat satu hal, yakni perasaan hayat.
Sejauh yang kami ketahui, perasaan hayat sangatlah subyektif, pribadi, dan riil. Karena itu, kalau ingin mengejar (menuntut) sesuatu dalam hal hayat, kita tidak bisa tidak memperhatikan, tidak bisa tidak mengenal perasaan hayat. Semua orang yang mempunyai pengalaman hayat pasti tahu bahwa ada hubungan yang sangat dalam antara perasaan hayat dengan pengalaman hayat. Karena itu, kalau kita mau melihat masalah pengenalan hayat, kita harus juga melihat perasaan hayat.
I. DASAR ALKITAB
Meskipun Alkitab tidak secara langsung menyebutkan perasaan hayat, namun Alkitab membicarakannya. Roma 8:6 mengatakan, "Kareaa keinginan (pikiran) daging adalah maut (kematian), tetapi keinginan (pikiran) Roh adalah hidup (hayat) dan damai sejahtera." Ayat ini secara jelas menyiratkan perasaan hayat kepada kita, karena "damai sejahtera" yang disebut di sini jelas merupakan perkara perasaan. "Damai sejahtera" di sini tidak ditujukan kepada lingkungan yang di luar, melainkan keadaan di batin; jadi, ini mutlak merupakan perkara perasaan. Karena "damai sejahtera" yang disebutkan di sini merupakan perkara perasaan, maka "maut" dan "hayat" yang disebutkan di sini juga merupakan perkara perasaan.
Perasaan maut menyebabkan kita merasakan unsur kematian. Unsur-unsur kematian adalah : lemah, hampa, tertekan, gelap, dan derita. Paling sedikit, kematian meliputi kelima unsur ini, dan jumlah total unsur-unsur ini sama dengan kematian. Kematian menyebabkan manusia menjadi lemah; dan ketika manusia benar-benar menjadi lemah, ia pun mati. Kematian menyebabkan manusia menjadi hampa, karena kematian mengakhiri segala sesuatu. Kematian menyebabkan manusia menjadi tertekan dan putus asa; dan orang yang paling tertekan dan diam adalah orang yang mati. Kematian juga menggelapkan manusia, orang yang berada dalam kegelapan yang paling gelap adalah orang yang masuk ke dalam kematian. Selain itu, kematian menyebabkan manusia mengalami penderitaan, dan orang yang paling menderita adalah orang yang telah jatuh ke dalam kematian. Semua ini merupakan unsur kematian, karena itu, ketika kita merasakan semua ini, kita merasakan kematian.
Unsur-unsur kematian ini merupakan akibat dari menaruh pikiran di atas daging. Setiap kali kita memperhatikan daging, dengan segera kita akan mendapatkan perasaan-perasaan kematian ini. Misalnya, hari ini adalah hari Tuhan, Anda sedikit memperhatikan daging di siang hari, maka sewaktu Anda menghadiri pemecahan roti di malam hari, dalam batin Anda akan terasa lemah, tidak mampu bangkit. Bersamaan dengan itu, dalam batin Anda juga akan terasa hampa, tertekan, dan bahkan gelap dan derita. Semua perasaan ini adalah perasaan-perasaan kematian. Kadang-kadang Anda merasakan perasaan yang satu lebih kuat daripada yang lain; kadang-kadang Anda juga merasakan semuanya sama saja. Bagaimanapun, kita akan merasakan kematian karena kita memperhatikan daging.
Perasaan hayat justru berlawanan dengan perasaan kematian. Perasaan kematian membuat kita merasa lemah dan hampa, sedangkan perasaan hayat membuat kita merasa kuat dan puas. Perasaan kematian membuat kita merasa tertekan, gelap, dan menderita. Sedangkan perasaan hayat justru membuat kita merasa lincah, terang, dan nyaman. Karena perasaan hayat membuat kita merasa kuat, puas, lincah, terang, dan nyaman, maka ini juga membuat kita mempunyai rasa damai sejahtera, yaitu merasa nyaman dan tenteram.
Kita harus tahu bahwa hal-hal yang disebutkan dalam Roma 8:6 adalah saling dibandingkan. Daging dibandingkan dengan roh; maut dibandingkan dengan hayat dan damai sejahtera. Lawan maut bukan hanya hayat, tetapi juga damai sejahtera. Karena itu, maut bukan hanya meliputi kelemahan, kehampaan, penekanan, dan kegelapan, juga ada penderitaan. Kelemahan, kehampaan, penekanan, dan kegelapan bertentangan dengan hayat, sedangkan penderitaan bertentangan dengan damai sejahtera.
Perasaan maut adalah hasil dari kita memperhatikan daging, sedangkan perasaan hayat dan damai sejahtera adalah hasil dari kita memperhatikan roh. Ketika kita hidup dalam roh, mengikuti roh, dan memperhatikan roh, kita merasa kuat dan puas dalam batin, bersamaan dengan mi, kita juga merasa lincah, terang, nyaman, dan tenteram. Misalnya, ketika Roh Kudus memberi Anda perasaan dan Anda memperhatikan serta mematuhinya, Anda akan merasa kuat dan puas dalam batin, bersamaan dengan ini, Anda juga merasa lincah, terang, nyaman, dan tenteram. Demikianlah Anda memiliki perasaan hayat dan damai sejahtera karena Anda memperhatikan roh.
Alasan Roma 8:6 menyinggung perasaan hayat adalah karena pada ayat-ayat sebelumnya sudah disebutkan tiga hal : Roh, hayat, dan hukum hayat. Roh ada dalam diri kita dan menjadi satu roh dengan roh kita; hayat tercakup dalam Roh sebagai isi Roh; hukum merupakan kemampuan dan fungsi alami dari hayat. Ketiganya bergabung menjadi bukum Roh hayat yang bertanggung jawab dalam diri kita terhadap semua perkara hayat, memberi kita perasaan setiap saat dan di setiap tempat. Jika kita memperhatikan roh dan hidup menurut roh, hukum ini memberi kita perasaan hayat dan damai sejahtera. Merasakan hayat berarti merasakan kuat, puas, lincah, terang, dan segar. Merasakan damai sejahtera berarti merasakan nyaman, tenteram, mantap, wajar. Kalau kita memperhatikan daging dan hidup menurut daging, hukum ini akan memberi kita perasaan kematian, yaitu merasa lemah, hampa, tertekan, gelap, dan derita.
Karena itu, apa yang dibicarakan dalam Roma 8:6 mutlak merupakan perkara perasaan, dan perasaan ini diberikan kepada kita oleh hukum Roh hayat. Karena hukum Roh hayat adalah milik hayat, maka perasaan yang diberikannya juga milik hayat. Karena perasaan yang disebutkan dalam Roma 8:6 diberikan kepada kita oleh hukum ini, maka perasaan ini adalah milik perasaan hayat.
Ayat kedua dalam Alkitab yang menyinggung tentang perasaan hayat adalah Efesus 4:19, yang menginggung tentang orang kafir bahwa "perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan dengan serakah mengerjakan segala macam perbuatan cemar." Ayat ini memberi tahu kita bahwa orang-orang dunia ini berbuat dosa dan senang berbuat jahat dikarenakan mereka mengabaikan perasaan mereka. Ya, ketika seseorang berbuat dosa dan kejahatan, berarti ia pasti mengabaikan perasaan-perasaan yang ada di dalam dirinya. Ketika seseorang berbuat dosa dan kejahatan, kita tidak dapat mengatakan bahwa dia tidak punya perasaan, paling tidak, kita dapat mengatakan bahwa dia mengesampingkan perasaan-perasaannya. Kalau seseorang tidak mengesampingkan perasaannya, kalau seseorang dikendalikan oleh perasaan batinnya, apakah la masih akan berbuat dosa dan berbuat kejahatan? Semua orang yang berdosa dan berbuat kejahatan adalah orang-orang yang mengesampingkan perasaan-perasaan mereka. Ketika seseorang menipu, mencuri, memukul orang lain, merampok, atau melakukan berbagai perbuatan buruk dan jahat lainnya, ia pasti mengesampingkan perasaannya. Semakin dalam seseorang berbuat dosa dan berbuat jahat, ia pasti semakin jauh menyingkirkan perasaan batinnya. Karena itu, orang yang jahat dan kejam biasanya tidak mempunyai perasaan, sedangkan orang yang baik dan lembut biasanya penuh perasaan.
Lalu, perasaan batin siapakah yang lebih kuat, orang Kristen atau orang kafir? Kalau kita bandingkan antara orang Kristen dengan orang yang tidak percaya, perasaan siapakah yang lebih kuat? Perasaan orang Kristen yang jauh lebih kuat. Karena di samping perasaan-perasaan yang kita miliki, kita juga mempunyai perasaan hayat yang tidak mereka miliki. Karena itu, kalau kita berbuat dosa dan kejahatan, kita pasti telah mengesampingkan perasaan-perasaan kita, bahkan lebih serius daripada orang kafir. Itulah sebabnya Alkitab memperingatkan kita supaya tidak mengesampingkan perasaan-perasaan seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak percaya. Karena alasan inilah Alkitab menasihati agar kita mau memperhatikan perasaan dalam batin kita. Tentu saja hal ini berarti menitikberatkan perhatian terhadap perasaan hayat yang di dalam. Setelah Efesus 4 memperingatkan kita supaya tidak berkelakuan seperti orang-orang kafir yang mengesampingkan semua perasaan, ayat selanjutnya mengatakan bahwa kita harus menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Manusia baru ini milik hayat dalam Roh. Supaya bisa hidup dalam manusia baru ini, kita harus hidup dalam hayat yang ada dalam Roh. Karena itu, Efesus 4 memperingatkan kita supaya tidak mengabaikan perasaan seperti yang dilakukan oleh orang-orang kafir, tetapi hidup dalam manusia baru ini. Ini berarti kita harus hidup dalam hayat yang ada dalam Roh, memperhatikan perasaan hayat dalam Roh, dan hidup menurut perasaan hayat ini.
Selanjutnya, hampir semua surat para Rasul mengandung kata-kata berkat dan salam yang menyebutkan kasih karunia dan damai sejahtera. Kasih karunia adalah Allah didapatkan oleh manusia. Damai sejahtera adalah perasaan karena mendapatkan Allah. Allah yang kita dapatkan untuk menjadi hayat kita dan untuk kita nikmati inilah kasih karunia. Kasih karunia di dalam kita ini menghasilkan damai sejahtera, menyebabkan kita merasa penuh damai sejahtera dalam batin. Seseorang yang setiap hari mengalami Allah, menikmati hayat Allah, dan merasakan kekuatan hayat Allah akan mendapatkan damai sejahtera dalam dirinya. Damai sejahtera ini adalah perasaan yang dimilikinya ketika ia menikmati kasih karunia. Karena itu, kalau kita tidak mempunyai damai selahtera dalam batin, atau tidak sungguh-sungguh merasa damai sejahtera, ini membuktikan bahwa kita kekurangan kasih karunia. Kalau kita kekurangan kasih karunia, berarti kita kekurangan Allah. Karena kita tidak cukup menerima Allah dalam diri kita, tidak cukup mendapatkan suplai hayat Allah, dan tidak cukup mengalami kuat kuasa hayat Allah, maka kita kekurangan damai sejahtera dalam batin. Damai sejatera ini bukanlah damai sejahtera dalam lingkungan, melainkan keadaan damai sejahtera dalam batin. Kita harus yakin bahwa damai sejahtera yang disebutkan dalam salam para rasul adalah damai sejahtera batiniah semacam ini. Damai sejahtera batiniah ini adalah perkara perasaan. Ketika para rasul berharap agar orang-orang bisa memiliki damai sejahtera, berarti mereka berharap agar orang-orang memiliki damai sejahtera batiniah. Perasaan damai sejahtera batiniah ini adalah perasaan hayat. Karena itu, ketika mengungkapkan harapan agar orang-orang mempunyai perasaan damai sejahtera, para rasul mengharapkan orang-orang itu memperhatikan perasaan hayat batin.
II. SUMBER PERASAAN HAYAT
Dari manakah datangnya perasaan hayat yang sedang kita bicarakan ini? Dari mana perasaan itu dihasilkan? Perasaan ini dihasilkan dari hal-hal yang kita peroleh melalui kelahiran kembali - hayat Allah, hukum hayat, Roh Kudus, Kristus, dan Allah. Hayat Allah, hukum hayat, Roh Kudus, Kristus, dan Allah menyebabkan kita mempunyai perasaan batiniah, dan perasaan inilah yang kita sebut perasaan hayat.
Setiap hayat mempunyai perasaannya. Selain itu, semakin kuat hayatnya, semakin peka perasaannya. Hayat Allah adalah hayat yang paling kuat; karena itu, ketika hayat ini berada dalam diri kita, hayat ini tidak hanya membuat kita mempunyai perasaan, bahkan perasaan yang kuat.
Karena hukum hayat berasal dari hayat, maka hukum itu juga mempunyai perasaan. Itulah sebabnya hukum yang ada dalam diri kita juga menyebabkan kita mempunyai perasaan, khususnya ketika kita tidak menaatinya. Misalnya, ketika tubuh kita normal, kita hampir tidak punya perasaan khusus. Tetapi ketika tubuh kita sakit, maka ada suatu perasaan yang kuat; perasaan yang kuat ini muncul karena kita tidak mematuhi hukum yang ada dalam tubuh. Demikian juga, ketika kita mematuhi hukum hayat, kita tidak terlalu merasakannya, tetapi ketika kita melanggarnya, muncullah perasaan yang sangat jelas.
Roh Kudus sebagai minyak urapan mengurapi dan bergerak di dalam kita; Kristus hidup dan beraktivitas di dalam kita; Allah sedang beroperasi dan bekerja di dalam kita. Ketiganya ada di dalam kita, bekerja dan bertindak. Ketiganya tidak diam tanpa aktivitas; karena itu ketiganya membuat kita mempunyai perasaan.
Jadi, entah itu hayat Allah, hukum hayat, atau Roh Kudus, Kristus, dan Allah di dalam kita, semuanya membuat kita mempunyai perasaan. Semuanya berbaur menjadi satu memberi kita perasaan. Karena itu, perasaan-perasaan yang muncul dari kelimanya bukanlah lima macam perasaan, tetapi merupakan satu perasaan, yaitu perasaan hayat yang sedang kita bicarakan.
Mengapa perasaan-perasaan yang berasal dari kelimanya - hayat Allah, hukum hayat, Roh Kudus, Kristus, dan Allah - hanya merupakan satu jenis perasaan? Mengapa pula perasaan ini merupakan perasaan hayat? Ini karena Roh Kudus, Kristus, dan Allah adalah Allah Tritunggal; hayat Allah adalah Allah itu sendiri; hukum hayat berasal dari hayat Allah ini. Singkatnya, kelimanya adalah satu. Karena itu, ketika kelimanya ada di dalam kita, perasaan yang diberikannya kepada kita adalah satu macam. Perasaan ini adalah perasaan hayat karena perasaan ini berasal dari Allah Tritunggal hayat, hayat Allah, dan hukum hayat. Tujuan utama Allah Tritunggal di dalam diri kita adalah menjadi hayat kita, dan hayat ini meliputi hukum hayat. Karena itu, perasaan-perasaan yang diberikannya bagi kita berasal dari hayat dan merupakan bagian dari hayat, karena itu juga merupakan perasaan hayat. Perasaan ini satu, tetapi punya lima aspek. Perasaan ini berasal dari hayat Allah, dan berasal dari hukum hayat Allah. Karena itu, perasaan ini mempunyai sifat hayat Allah dan juga fungsi hukum Allah. Selain itu, perasaan ini juga berasal dari Roh Kudus, Kristus, dan Allah, sehingga berisi unsur-unsur Roh Kudus yang dicurahkan dalam diri kita, unsur-unsur Kristus hidup dalam diri kita, dan unsur-unsur Allah yang bekerja dan merampungkan kehendak-Nya dalam kita. Karena segi-segi yang beragam inilah maka perasaan ini kaya, kuat, dan peka; bahkan lebih kaya, lebih kuat, dan lebih peka daripada perasaan yang paling baik yang ada di antara orang-orang kafir. Perasaan terbaik yang mungkin ada dalam diri orang kafir tidak lebih daripada perasaan kebaikan yang diciptakan dalam diri manusia. Namun di samping perasaan kebaikan yang diciptakan itu, perasaan hayat ini merupakan perasaan ilahi yang ditambahkan ke dalam kita melalui hal-hal yang kita peroleh melaui kelahiran kembali.
III. FUNGSI PERASAAN HAYAT
Lalu, apakah fungsi atau kegunaan perasaan hayat ini? Fungsi atau kegunaannya adalah untuk membuat kita terus-menerus mengetahui di mana kita hidup. Apakah kita hidup di dalam hayat alamiah atau di dalam hayat Roh? Apakah kita hidup di dalam daging atau di dalam roh? Inilah yang terus-menerus diberitahukan oleh perasaan hayat kepada kita, dan untuk inilah kita mempunyai perasaan hayat. Karena itu, perasaan hayat dalam diri kita membimbing dan mengkonfirmasi kita. Kalau kita mengikuti perasaan hayat, yaitu mengikuti bimbingan yang Allah berikan kepada kita, kita akan mendapatkan konfirmasi yang menegaskan di mana kita hidup.
Di sini kita perlu menerapkan apa yang telah kita bahas di depan. Perasaan apa yang memberi tahu kita bahwa kita tidak hidup dalam roh, tetapi hidup dalam daging? Yakni perasaan kematian. Begitu ada perasaan kematian, kita harus tahu bahwa kita tidak hidup dalam roh, tetapi dalam daging. Perasaan kematian meliputi kelemahan, kehampaan, tekanan, kegelapan, dan penderitaan. Begitu kita mempunyai perasaan-perasaan semacam ini, berarti perasaan hayat dalam diri kita sedang memberi tahu bahwa kita sudah tidak benar lagi, kita sudah tidak hidup dalam roh, tetapi dalam daging.
Jika demikian, perasaan hayat memberi kita perasaan apa sehingga kita tahu bahwa kita benar di hadapan Allah dan hidup dalam roh? Perasaan hayat memberi kita perasaan hidup dan damai sejahtera; atau dengan kata lain, perasaan itu membuat kita merasa kuat, puas, lincah, terang, dan nyaman. Kapan saja kita merasa kuat, puas, lincah, terang, dan nyaman dalam batin, kita memiliki konfirmasi dalam diri kita bahwa kita benar di hadapan Allah dan kita hidup dalam roh.
Karena itu, perasaan hayat dalam diri kita mempunyai satu fungsi yang besar. Perasaan itu terus-menerus memimpin kita, memberi tahu kita di mana kita seharusnya hidup; terus-menerus mengkonfirmasi kepada kita di mana kita saat ini hidup. Perasaan inilah yang memimpin kita berada dalam hayat; perasaan ini pula yang terus-menerus mengkonfirmasikan dan menyatakan kepada kita bagaimana keadaan kita yang sebenarnya dalam hayat. Jadi, perasaan ini merupakan pembimbing dan pengkonfirmasi dalam diri kita. Kapan saja perasaan ini membuat kita dalam batin merasakan hayat dan damai sejahtera, itu inembuktikan bahwa kita tidak ada masalah dalam hayat. Kapan saja perasaan ini membuat kita tidak merasakan hayat dan damai sejahtera, itu membuktikan bahwa kita sedang ada masalah dalam hayat.
Anda mungkin berkata bahwa Anda tidak merasakan hayat dan damai sejahtera dalam diri Anda, juga tidak merasakan bukan hayat dan bukan damai sejahtera; tidak merasakan kuat, puas, lincah, terang, atau tidak merasakan tidak kuat, tidak puas, tidak lincah, tidak terang, atau tidak nyaman. Kalau keadaan Anda demikian, ini membuktikan bahwa diri Anda bermasalah. Kita harus secara positif mempunyai perasaan hayat dan damai sejahtera. Kita harus merasa kuat, puas, lincah, terang, nyaman, dan tenteram; ini baru benar. Meskipun kadang-kadang Allah memimpin kita terlepas dari perasaan-perasaan kita dan seolah-olah membawa kita masuk ke dalam gua, namun bahkan dalam gua pun kita masih mempunyai perasaan hayat dan damai sejahtera dalam lubuk kita. Meskipun di luaran kita tidak merasakan apa-apa, tetapi masih ada perasaan hayat dan damai sejahtera dalam lubuk kita.
Hayat dan damai sejahtera merupakan perasaan positif di dalam kita yang diberikan oleh perasaan hayat kepada kita, untuk membuktikan bahwa keadaan kita dalam hayat sedang normal. Kelemahan dan ketidaktenteraman merupakan perasaan negatif di dalam kita yang diberikan oleh perasaan hayat kepada kita, untuk membuktikan bahwa kita sedang bermasalah dalam hayat. Perasaan lemah dan tidak tenteram merupakan perasaan maut. Perasaan maut jelas sekali datang karena kita lebih memperhatikan daging dan menjamah sesuatu di luar Allah. Setiap perasaan maut membuktikan bahwa kita sedikit banyak memperhatikan daging, dan sampai taraf tertentu kita telah menjamah hal-hal di luar Allah. Karena itu, entah kita memperhatikan daging, atau hidup dalam roh, atau menjamah Allah, semuanya dapat dilihat pada hayat dan damai sejahtera, atau kelemahan dan ketidaktenteraman dalam diri kita. Kalau ada hayat dan damai sejahtera dalam diri kita, itu membuktikan kita hidup dalam roh, kita menjamah Allah. Sebaliknya, kalau kita merasa lemah dan tidak tenteram dalam batin, itu membuktikan bahwa kita memperhatikan daging dan menjamah perkara-perkara di luar Allah.
Seorang Kristen memang belum tentu senantiasa tidak mempunyai perasaan lemah, tetapi sekalipun sedang merasa lemah, ia harus tetap merasa kuat. Orang Kristen merasa lemah, karena ia mulai mengenal dirinya sendiri; merasa kuat, karena ia menjamah Kristus dan mengenal Kristus sebagai hayatnya. Kalau kita hanya merasa lemah terus-menerus dan tidak pernah merasa kuat, itu berarti ada sesuatu yang salah. Paulus berkata, pada waktu dia lemah, maka dia kuat (2 Kor. 12:10). Sekalipun merasa lemah, orang yang kuat tidak mengkhawatirkan kelemahannya. Kalau kita selalu mengkhawatirkan kelemahan kita dan tidak dapat menjadi kuat, itu membuktikan bahwa kita ada masalah. Hal itu mungkin sedikit banyak karena kita berada dalam daging; karena kelemahan adalah perasaan maut, dan perasaan maut selalu datang karena memperhatikan daging.
Seorang Kristen bisa lemah namun merasa kuat, juga bisa menderita namun merasa damai sejahtera. Merasa menderita karena mengalami aniaya di luar; merasa damai karena bertemu Tuhan dan menjamah Tuhan datam batin. Kalau kita mengalami aniaya di luar, tetapi di dalam batin kita tidak ada damai sejahtera, berarti ada yang salah. Tuhan berkata bahwa di dunia kita menderita penganiayaan, tetapi di dalam Dia kita mendapatkan damai sejahtera (Yoh. 16:33). Orang yang hidup dalam Tuhan, atau hidup dalam roh, mungkin saja mengalami banyak aniaya dari luar, tetapi dalam dirinya masih tetap merasa damai sejahtera; kalau tidak, berarti dia tidak hidup dalam roh. Kalau kita tidak memiliki damai sejahtera dalam batin ketika menghadapi aniaya, itu membuktikan bahwa kita tidak hidup dalam roh. Kalau ketika kita tidak mengalami aniaya, kita juga tidak memiliki damai sejahtera dalam batin, ini lebih-lebih membuktikan bahwa kita memang tidak hidup dalam roh.
Jadi, mengenai bagaimana keadaan kita dalam hayat; entah kita memperhatikan daging atau mengutamakan hal-hal rohani, entah kita hidup dalam daging atau hidup dalam roh, hal itu terbukti dan dapat kita ketahui melalui perasaan hayat. Melalui konfirmasi semacam inilah perasaan hayat memberikan bimbingan kepada kita dalam batin. Jika kita mengikuti bimbingan ini, barulah kita dapat hidup dalam hayat. Karena itu, kalau kita mau maju dalam hayat, kita harus memperhatikan konfirmasi dan pimpinan yang diberikan oleh perasaan hayat kepada kita dalam batin kita.