← Daftar isi Apakah Hayat? · bab 4/14

YANG DIPEROLEH MELALUI KELAHIRAN KEMBALI

Jika kita damba bertumbuh dalam hayat, kita harus mengetahui apakah kelahiran kembali, juga harus mengetahui apa yang kita peroleh melalui kelahiran kembali. Kelahiran kembali membuat kita memiliki permulaan dalam hayat, dan apa yang kita peroleh melalui kelahiran kembali membuat kita bertumbuh dalam hayat. Karena itu, jika kita damba bertumbuh dalam hayat, kita harus mengenal kelahiran kembali, kita juga harus tahu apa yang kita peroleh melalui kelahiran kembali.

Apa yang diperoleh melalui kelahiran kembali sangat erat hubungannya dengan hasil kelahiran kembali. Hasil kelahiran kembali berasal dari hal-hal yang diperoleh melalui kelahiran kembali; yang pertama tergenapkan karena yang terakhir. Hasil kelahiran kembali adalah hal-hal yang digenapkan oleh kelahiran kembali atas diri kita, sedangkan yang diperoleh melalui kelahiran kembali adalah halhal yang kita peroleh melalui kelahiran kembali. Karena kelahiran kembali membuat kita memperoleh hal-hal tertentu, maka ada penggenapan-penggenapan tertentu atas diri kita. Kelahiran kembali dapat menjadikan kita anak-anak Allah, karena kelahiran kembali membuat kita memperoleh hayat Allah. Kelahiran kembali dapat menjadikan kita ciptaan baru, karena kelahiran kembali membuat kita memperoleh unsur-unsur Allah. Kelahiran kembali dapat menyatukan kita dengan Allah, karena kelahiran kembali membuat kita memperoleh Roh Allah. Semua penggenapan kelahiran kembali atas diri kita dapat tercapai karena hal-hal yang telah kita peroleh melalui kelahiran kembali. Perkara-perkara itu tidak hanya membuat kita mempunyai berbagai pengalaman dalam hayat rohani pada waktu dilahirkan kembali, tetapi juga membuat kita bertumbuh dalam hayat setelah dilahirkan kembali. Karena itu, jika kita ingin bertumbuh dalam hayat, kita harus mengenal hal-hal yang kita peroleh melalui kelahiran kembali.

Menurut ajaran Alkitab, kelahiran kembali membuat kita memperoleh paling sedikit tujuh hal. Ketujuh hal ini ilahi dan agung, atau sangat penting dan dekat dengan kita. Marilah kita secara sederhana melihat ketujuh hal ini satu per satu.

I. HAYAT ALLAH

Hal pertama yang kita peroleh melalui kelahiran kembali adalah hayat Allah. Pada bab sebelumnya, kita telah melihat bahwa kelahiran kembali terjadi pada saat Roh Allah menaruh hayat Allah ke dalam roh kita. Dalam kelahiran kembali, yang terutama dilakukan oleh Roh Allah adalah menaruh hayat Allah ke dalam kita. Karena itu, yang terutama diberikan kelahiran kembali kepada kita adalah hayat Allah.

Tetapi, apakah hayat Allah itu? Hayat Allah adalah isi Allah dan adalah diri Allah sendiri. Semua yang terkandungg dalam Allah dan segala apa adanya Allah, ada dalam hayat Allah. Seluruh kepenuhan ke-Allahan tersembunyi dalam hayat Allah. Sifat Allah juga terkandung dalam hayat Allah. Setiap aspek dari apa adanya Allah juga tercakup dalam hayat Allah.

Hakiki setiap makhluk hidup terletak dalam hayatnya. Semua kemampuan dan fungsinya berasal dari hayatnya, semua perbuatan dan ekspresi lahiriahnya juga berasal dari hayatnya. Ia menjadi makhluk hidup semacam itu karena ia mempunyai jenis hayat yang semacam itu juga. Hakikinya ada dalam hayatnya. Ini adalah prinsip yang jelas.

Allah adalah Makhluk hidup yang teragung, dan segala adanya Dia lebih-lebih pasti ada dalam hayat-Nya. Semua apa adanya Dia, baik kebenaran, kekudusan, terang, maupun kasih, berasal dari hayat-Nya. Semua ekspresiNya, baik keindahan, keadilan, kebaikan, maupun pengampunan, berasal dari hayat-Nya. Hayat-Nya membuat Allah mempunyai kemampuan dan fungsi ilahi yang di dalam, juga tindakan dan pernyataan ilahi yang di luar. Dia adalah Allah yang demikian karena Dia mempunyai hayat yang demikian. Jadi, hakiki-Nya sebagai Allah terletak pada hayat-Nya.

Karena hayat Allah merupakan isi Allah, maka di dalamnya tersembunyi kepenuhan Allah dan terkandung sifat Allah sendiri. Karena itu, ketika kita memperoleh hayat Allah, kita memperoleh kepenuhan Allah (Kol. 2:9-10), dan kita mempunyai sifat Allah (2 Ptr. 1:3-4). Karena segala yang dimiliki Allah dan segala apa adanya Allah terletak pada hayat-Nya, maka ketika kita memperoleh hayat ini, kita memperoleh segala yang dimiliki Allah di dalam diriNya dan segala apa adanya Allah. Karena hayat Allah membuat Allah di dalam diri-Nya mempunyai kemampuan dan fungsi ilahi, maka hayat Allah di dalam diri kita juga dapat membuat kita mempunyai kemampuan dan fungsi yang sama seperti yang terdapat dalam diri Allah. Karena segala apa adanya Allah dan segala yang dilakukan-Nya berasal dari hayat-Nya, maka hayat yang ada di dalam kita ini juga dapat membuat kita menjadi seperti Allah dan melakukan apa yang Allah lakukan. Ini berarti hayat ini dapat membuat kita menjadi seperti Allah dan memperhidupkan Allah.

Saudara saudari, pernahkah Anda memikirkan bahwa karena hayat Allah ada di dalam kita, maka kita mempunyai semua kemampuan dan fungsi yang juga ada di dalam Allah? Pernahkah Anda memikirkan bahwa karena kita mempunyai hayat Allah di dalam kita, maka kita dapat menjadi seperti Allah dan melakukan apa yang Allah lakukan? Dalam Allah ada kemampuan kudus dan fungsi terang. Karena hayat Allah ada di dalam kita, maka kemampuan kudus dan fungsi terang yang sama juga ada dalam kita sama seperti dalam Allah. Sama seperti Allah yang dapat memperhidupkan kekudusan-Nya dan memancarkan terang-Nya dari dalam diri-Nya, begitu juga kita. Karena hayat Allah ada dalam kita, maka kita dapat memperhidupkan kekudusan-Nya dan memancarkan terang-Nya dari dalam kita. Hal ini berarti kita dapat menjadi kudus seperti Allah yang kudus, dan bersinar seperti Allah yang bersinar. Apa adanya Allah adalah kasih dan apa yang dilakukan Allah adalah benar. Karena kita mempunyai hayat Allah, maka kita dapat menjadi seperti Allah dan melakukan apa yang Allah lakukan. Bahkan sama seperti Allah yang dapat menjadi kasih dan melakukan kebenaran, demikian pula kita, karena hayat Allah ada dalam kita, kita dapat menjadi kasih, yaitu apa adanya Allah, juga dapat melakukan kebenaran seperti yang Allah lakukan. Ini berarti kita dapat mengasihi seperti Allah mengasihi, dan menjadi benar seperti Allah yang adalah benar. Jadi, kita dapat menjadi seperti Allah dan memperhidupkan Allah.

Selanjutnya, kita perlu tahu bahwa hayat Allah adalah kuat kuasa yang membangkitkan Tuhan Yesus. Ketika Tuhan Yesus dibangkitkan, Dia mencampakkan maut dan mengalahkan maut. Maut sangat kuat (Kid. 8:6). Dalam alam semesta, selain Allah dan hayat-Nya, tidak ada yang lebih kuat daripada maut. Ketika Tuhan Yesus masuk ke dalam maut, maut menggunakan semua kekuatannya untuk "menahan" Tuhan, tetapi Tuhan menerobos kekuatan maut dan bangkit! Jadi, Tuhan bangkit dan tidak dapat ditahan oleh maut (Kis. 2:24), karena dalam diri-Nya ada hayat Allah yang penuh kuasa. Hayat Allah yang penuh kuat kuasa inilah yang mampu membuat Dia menerobos kekuatan maut yang kuat itu. Hayat Allah yang penuh kuat kuasa inilah yang diberikan oleh kelahiran kembali kepada kita! Hayat Allah yang penuh kuat kuasa ini, yakni kuat kuasa kebangkitan, kini ada di dalam kita. Kuat kuasa inilah yang membuat kita mampu mematahkan maut dan mengatasi semua perkara milik maut, sama seperti Allah telah mengatasinya.

Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa Allah mempunyai dua macam kuat kuasa. Pertama, kuat kuasa untuk menciptakan. Kedua, kuat kuasa kebangkitan. Kuat kuasa penciptaan membuat apa yang tidak ada menjadi ada. Kuat kuasa kebangkitan memberikan hidup kepada yang mati. Inilah yang dipercayai Abraham (Rm. 4:17). Kuat kuasa penciptaan yang dimiliki Allah, ada dalam tangan-Nya, mampu menciptakan segala sesuatu bagi numusia. Kuat kuasa kebangkitan Allah, ada dalam hayatNya, mampu membuat manusia terlepas dari semua perkara maut yang berada di luar Allah, sehingga manusia memperhidupkan Allah. 0, saudara saudari, hayat Allah yang kita peroleh melalui kelahiran kembali adalah kuat kuasa kebangkitan yang hebat dari Allah! Melalui kelahiran kembali, Allah telah menggarapkan hayat-Nya ke dalam kita. Hal ini berarti Dia telah menggarapkan kuat kuasa kebangkitan-Nya ke dalam kita. 0, semoga kita nampak bahwa hayat Allah yang kita peroleh ketika kita dilahirkan kembali adalah kuat kuasa kebangkitan Allah! Hayat yang ada di dalam kita hari ini dapat membuat kita sekuat Allah. Sebagaimana Allah dapat menang atas maut, kita pun dapat menang atas maut, karena kuat kuasa hayat yang ada di dalam kita. Alangkah luar biasanya hayat Allah yang kita peroleh melalui kelahiran kembali! Hayat ini dapat membuat kita seperti Allah sampai taraf yang demikian! Betapa kita harus menyembah dan bersyukur kepada Allah untuk hayat ini!

II. HUKUM HAYAT

Karena kelahiran kembali membuat kita memperoleh hayat Allah, maka kelahiran kembali juga membuat kita memperoleh hukum hayat. Karena hayat Allah masuk ke dalam kita, maka hukum hayat yang terkandung dalam hayat tersebut juga masuk ke dalam kita.

Setiap jenis hayat mempunyai kemampuan bawaannya sendiri, yaitu fungsi alaminya. Fungsi alami setiap jenis hayat merupakan hukum alamnya atau hukum hayatnya. Ketika hayat tertentu masuk ke dalam suatu ciptaan, maka hayat itu membuat ciptaan tersebut mendapatkan hukum alamnya atau hukum hayatnya. Demikian juga, hayat Allah mempunyal kemampuan ilahinya, yang merupakan fungsi alaminya yang ilahi. Fungsi alami hayat Allah merupakan hukum alam atau hukum hayatnya. Ketika hayat Allah masuk ke dalam kita, ia membawa serta hukum hayat yang terkandung dalam hayat-Nya ke dalam kita, dan hukum ini menjadi hukum hayat di dalam kita. Jadi, ketika hayat Allah masuk ke dalam kita, hukum hayat yang terkandung di dalamnya juga masuk ke dalam kita. Karena hayat Allah adalah sesuatu yang kita peroleh melalui kelahiran kembali, maka hukum hayat yang dibawanya juga kita peroleh melalui kelahiran kembali.

Pada bab satu, kita telah melihat bahwa dalam hayat Allah terkandung sifat Allah, dan dalam hayat Allah tersembunyi kepenuhan Allah; karena itu, hukum yang ada dalam hayat Allah sesuai dengan diri Allah sendiri, dengan apa adanya Allah, dan dengan sifat-Nya. Jadi, hukum ini merupakan hukum Allah sendiri. Ketika hayat Allah membawa hukum-Nya ke dalam kita, ini juga berarti hayat itu membawa hukum Allah ke dalam kita.

Hukum hayat yang dibawa hayat Allah masuk ke dalam kita merupakan hukum yang disebutkan dalam Ibrani 8:10, yaitu hukum yang diletakkan Allah dalam pikiran kita dan yang ditulis dalam hati kita. Hukum ini berbeda dengan hukum dalam Perjanjian Lama. Hukum Perjanjian Lama adalah hukum Allah yang ditulis Allah pada loh batu di luar manusia (Kel. 34:1, 28). Hukum hayat adalah hukum Allah yang ditulis dengan hayat-Nya pada loh hati di dalam kita. Hukum yang ditulis pada loh batu adalah hukum lahiriah, hukum tertulis, hukum-hukum yang mati, dan hukum-hukum yang tidak memiliki kekuatan; hukum-hukum itu tidak mampu berbuat apa pun terhadap diri manusia (Rm. 8:3; Ibr. 7:18-19). Hukum yang tertulis pada loh hati kita adalah hukum batiniah, hukum hayat, hukum-hukum kehidupan, dan hukum-hukum yang memiliki kuat kuasa; hukum ini membuat kita bukan hanya mampu mengenal hasrat hati Allah dan mengikuti kehendak-Nya, tetapi juga membuat kita mampu mengenal Allah dan memperhidupkan-Nya.

Hukum alam yang terkandung dalam setiap jenis hayat ciptaan selalu membuat makhluk ciptaan itu tahu dengan sendirinya bagaimana cara hidup dan bagaimana harus berperilaku; karena itu, hukum tersebut menjadi hukum kehidupan dalam makhluk ciptaan itu. Misalnya, seekor ayam betina. Bagaimana seharusnya ayam ini hidup dan bagaimana caranya bertelur, semua itu merupakan hukum alam yang ada dalam hayat ayam; hukum itu membuat ayam ini dengan sendirinya tahu bagaimana melakukan dan memperhidupkannya. Manusia tidak perlu memberinya hukum apa pun dari luar. Hukum alam yang terkandung dalam hayat yang ada di dalamnya merupakan hukum kehidupan dalam ayam ini. Hukum itu dengan sendirinya membuat ayam ini tahu bahwa dia harus hidup dengan cara tertentu, dan membuatnya mampu hidup detigan cara seperti itu pula.

Demikian juga, hukum alam yang terkandung dalam hayat Allah yang ada di dalam kita, yakni kemampuan alaminya, akan membuat kita tahu dengan sendirinya bagaimana harus bertindak dan bertingkah laku sesuai dengan kemauan Allah, bagaimana agar diperkenan olehNya, dan bagaimana memperhidupkan-Nya. Apakah sesuatu hal sesuai dengan sifat Allah atau tidak, apakah Allah ingin kita melakukan hal itu atau tidak, kemampuan alami atau hukum alam yang dimiliki hayat Allah inilah yang akan membuat kita tahu, juga memberi kita perasaan mengenai hal ini. Jadi, kemampuan alami atau hukum alam yang dimiliki hayat Allah menjadi hukum batiniah kita.

Karena hukum yang tertulis di dalam diri kita ini merupakan kemampuan alami dan juga hukum alam yang dimiliki oleh hayat Allah, maka Alkitab menyebutnya "hukum". "Hukum Roh hayat" yang disebutkan dalam Roma 8:2 (Tl.) adalah hukum hayat yang ada di dalam kita. Karena hukum ini berasal dari hayat Allah, dan hayat Allah ada dalam Roh Allah serta tidak dapat dipisahkan dari Roh Allah, maka Roma 8 menyebut hukum ini sebagai "hukum Roh hayat". Hayat Allah ada dalam Roh Allah dan bersatu dengan Roh Allah; Roh Allah berisi hayat Allah; itulah Roh hayat Allah. Karena hukum ini berasal dari hayat Allah, maka hukum ini juga berasal dari Roh hayat Allah. Karena hukum ini merupakan hukum hayat Allah, berarti hukum itu juga merupakan hukum Roh hayat Allah.

Hayat Allah memiliki kuat kuasa, begitu pula dengan Roh Allah. Hukum Roh hayat yang berasal dari hayat Allah dan Roh Allah yang penuh kuat kuasa juga sangat berkuasa. Kita bisa berkata bahwa hayat Allah yang ada di dalam diri kita merupakan sumber hukum ini, dan Roh Allah yang ada di dalam diri kita merupakan pelaksana hukumnya. Jadi, hukum dalam diri kita ini benar-benar sangat kuat dan berkuasa; tidak hanya membuat kita mampu mempunyai pengetahuan ilahi, tetapi juga membuat kita mampu mempunyai kuasa ilahi. Begitu kita dilahirkan kembali dan mempunyai hayat Allah, Allah menghendaki agar kita menjadi umat-Nya yang hidup di dalam-Nya bersandarkan hukum yang sangat kuat dan perkasa ini, yakni hukum yang penuh kuat kuasa. Setelah kita diselamatkan, Allah mau kita hidup dalam hayat-Nya dan juga memperhidupkan hayat-Nya sesuai dengan hukum yang telah ada di dalam kita, yaitu hukum hayat ini.

III. HATI YANG BARU

Yehezkiel 36:26 memberi tahu kita bahwa sewaktu Allah membersihkan kita, menyelamatkan kita, atau melahirkan kita kembali, Dia memberi kita hati yang baru. Jadi, menurut ajaran Alkitab, kelahiran kembali juga memberi kita hati yang baru.

Apakah hati yang baru ini? Hati yang baru berarti hati yang lama telah menjadi baru; hati yang baru ini berasal dari pembaruan hati kita yang lama. Jika Allah memberi kita hati yang baru, hal ini berarti Allah memperbarui hati kita yang lama. Setelah mengatakan bahwa Allah memberi kita hati yang baru, Yehezkiel 36:26 juga mengatakan bahwa Dia menjauhkan hati kita yang keras (batu) dan memberi kita hati yang taat (daging). Berdasarkan ayat ini, kita menjadi jelas bahwa Allah memberi kita hati yang baru dengan cara memperbarui hati lama kita.

Asalnya, hati kita melawan Allah, tidak mau Allah, dan keras seperti batu terhadap Allah, sehingga menjadi "hati batu". Ketika Roh Kudus melahirkan kembali kita, Dia membuat hati kita menyesali dosa dan menjadi lembut terhadap Allah. Karena itu, setelah dilahirkan kembali, "hati batu" kita diubah menjadi "hati daging". Hati yang keras seperti batu itu adalah hati kita yang lama, sedangkan hati daging yang lembut ini merupakan hati baru yang Allah berikan kepada kita. Ini berarti sewaktu kita dilahirkan kembali, Allah memperbarui hati kita yang lama dan menjadikannya lembut.

Hati kita merupakan organ untuk menyatakan kecenderungan dan rasa sayang kita terhadap sesuatu; hati kita mewakill manusia kita dalam hal menyatakan kecenderungan, rasa sayang, kesenangan, dan keinginan kita terhadap sesuatu. Semua kecenderungan, rasa sayang, kesenangan, dan keinginan kita ini merupakan fungsi hati kita. Sebelum kita dilahirkan kembali, hati kita condong kepada dosa, mengasihi dunia, dan mendambakan hal-hal yang berhubungan dengan hawa nafsu, sebaliknya, dingin dan keras terhadap Allah, tidak ada kedambaan dan rasa kasih terhadap Allah; terhadap Allah dan hal-hal rohani, tidak ada minat dan tidak ada rasa damba sedikit pun. Karena itu, ketika Allah melahirkan kita kembali, Dia memperbarui hati kita dan menjadikannya hati yang baru, yang memiliki kecenderungan baru, kasih sayang baru, kesewingan baru, dan hasrat baru. Jadi, begitu kita dilahirkan kembali dan diselamatkan, hati kita condong kepada Allah, mengasihi Allah, dan menginginkan Allah. Terhadap perkara-perkara Allah, perkara-perkara rohani, dan perkaraperkara surgawi, hati kita juga mempunyai kesenangan dan kedambaan. Setiap kali hal-hal ini disebutkan, hati kita penuh suka cita, tanggap, dan penuh semangat.

Saudara saudari, sudahkah Anda melihat hal ini? Allah memperbarui hati kita dan memberi kita hati yang baru pada saat kita dilahirkan kembali kita, dikarenakan Ia ingin kita condong kepada-Nya, memuja Dia, damba kepada-Nya, dan mengasihi Dia. Sebelumnya, kita tidak mengasihi Dia dan tidak dapat mengasihi Dia, karena hati kita usang dan keras. Kini Dia telah memperbarui, melembutkan, memalingkan hati kita sehingga kita mampu dan mau mengasihi Dia. Karena hati kita telah diperbarui telah menjadi hati yang baru, maka sekarang hati kita mempunyai fungsi yang baru. Fungsi yang baru ini adalah condong kepada Allah, mengasihi Allah dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya.

Karena kelahiran kembali memberi kita hati yang baru, maka kita punya kecenderungan dan kasih yang baru, hasrat dan kerinduan yang baru. Kecenderungan, kasih, hasrat, dan kerinduan yang baru ini semuanya mengarah kepada Allah dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya. Inilah fungsi hati yang baru, ini juga adalah tujuan Allah memberi hati yang baru kepada kita.

IV. ROH BARU

Sesudah Yehezkiel 36:26 mengatakan bahwa Allah memberi kita hati yang baru, selanjutnya mengatakan bahwa Allah juga menaruh roh yang baru di dalam diri kita. Jadi, kelahiran kembali bukan hanya membuat kita mempunyai hati yang baru, tetapi juga membuat kita mempunyai roh yang baru.

Apakah roh baru itu? Roh baru berarti roh lama kita yang mati telah diperbarui dan dihidupkan. Sama seperti hati baru adalah hati lama yang dijadikan baru, maka roh baru juga adalah roh lama yang dijadikan baru. Hanya saja, di sini membuat hati lama kita menjadi lembut, sedangkan roh lama kita dihidupkan. Ini dikarenakan masalah hati lama kita adalah kedegilannya, dan masalah roh lama kita adalah kematian. Karena itu, sewaktu Allah melahirkan kita kembali, sama seperti Dia memperbarui hati kita yang lama dan keras dengan cara melembutkannya sehingga menjadi hati baru; Dia juga memperbarui roh kita yang lama dan mati dengan cara menghidupkannya sehingga menjadi roh baru.

Pada mulanya, roh manusia yang diciptakan merupakan organ manusia untuk berkontak dengan Allah. Manusia berhubungan dan bersekutu dengan Allah melalui dan oleh rohnya. Namun, karena kejatuhan manusia, rohnya rusak akibat tercemar oleh Iblis (Satan) dan dosa. Jadi, roh manusia kehilangan fungsinya terhadap Allah dan menjadi roh yang mati. Dikarenakan roh telah mati, maka roh menjadi usang. Demi darah Tuhan kita Yesus Kristus membasuh bersih roh kita dari kecemarannya, maka sewaktu kita dilahirkan kembali, Roh Allah menaruh hayat Allah yang merupakan unsur Allah ke dalam roh kita dan menghidupkannya (lihat Kol. 2:13). Dengan demikian, roh lama kita yang telah mati diperbarui dan menjadi roh baru yang hidup.

Pada mulanya, roh kita adalah ciptaan lama; tidak mengandung unsur Allah di dalamnya. Kemudian, roh kita bukan hanya tidak mengandung unsur Allah, bahkan roh kita tercemar oleh dosa, dan menjadi usang. Ada dua alasan yang membuat segala sesuatu menjadi bagian dari ciptaan lama : pertama, ia tidak mempunyai unsur Allah ketika diciptakan; kedua, ia dicemari dan dirusak oleh Iblis dan dosa. Kedua alasan inilah yang menyebabkan roh kita menjadi roh yang usang. Karena itu, sewaktu Allah melahirkan kembali kita dengan memperbarui roh kita yang lama untuk menjadikannya roh baru, Dia bekerja dari dua aspek. Di satu aspek, Dia memakai darah Tuhan Yesus untuk membasuh bersih semua pencemaran dalam roh kita, sehingga roh kita menjadi bersih. Di aspek lain, Dia memakai Roh-Nya untuk menaruh hayat-Nya dalam roh kita, sehingga roh kita mempunyai unsur-Nya. Jadi, Dia memperbarui roh lama kita dan membuatnya menjadi roh baru. Dia memperbarui roh kita dan menjadikannya baru, berarti Dia menaruh roh baru ke dalam diri kita.

Jika Allah sudah memberi kita hati yang baru pada waktu kita dilahirkan kembali, mengapa Dia masih perlu menaruh roh yang baru dalam diri kita? Karena hati kita hanya dapat mendambakan Allah dan mengasihi Allah, tetapi masih belum dapat berkontak dengan Allah atau menyentuh Allah. Karena itu, Allah merasa tidak cukup jika hanya memberi kita hati baru; Dia masih harus menaruh roh baru dalam diri kita. Kalau Allah hanya memberi kita hati baru, Dia hanya dapat membuat kita damba dan mengasihi Dia; Dia tidak bisa membuat kita berkontak dengan-Nya. Karena itu, Dia harus menaruh roh baru di dalam diri kita, supaya kita dapat berkontak dan bersekutu dengan-Nya.

Kita sudah mengatakan bahwa hati merupakan organ untuk menyatakan kecenderungan dan kasih kita. Karena itu, terhadap Allah, fungsi hati kita adalah condong kepada-Nya dan mengasihi Dia. Alkitab mengatakan bahwa hati merindukan Allah, hati haus akan Allah (Mzm. 42:2-3; LAI, jiwa). Hati dapat merindukan Allah dan haus akan Allah, tetapi tidak dapat mengontak Allah atau menyentuh Allah. Hati hanya memiliki fungsi untuk mengasihi Allah dan haus akan Allah; hati tidak dapat mengontak Allah dan menyentuh Allah yang dapat mengontak Allah bukanlah hati, tetapi roh. Hati hanya berguna untuk mengasihi Allah, tetapi roh berguna untuk mengontak Allah dan bersekutu dengan-Nya.

Misalnya, di sini ada pena yang bagus. Hati saya sangat menyukainya; tetapi hati saya tidak dapat menyentuh atau memilikinya, karena hati saya tidak punya kemampuan untuk itu. Kemampuan itu ada pada tangan saya. Tangan mengumpamakan roh. Meskipun hati kita mengasihi Allah dan sangat haus akan Dia, tetapi tidak dapat mengontak Allah atau bersekutu dengan-Nya. Hanya roh kita yang dapat melakukannya. Karena itu, ketika kita dilahirkan kembali, Allah tidak hanya memberi kita hati baru, Dia juga menaruh roh baru ke dalam diri kita.

Dengan hati baru, kita dapat mendambakan Allah dan mengasihi Allah; dengan roh baru, kita dapat mengontak Allah dan menyentuh Allah. Hati baru kita membuat kita mampu mempunyai kesenangan dan kecenderungan baru, perasaan dan rasa tertarik yang baru terhadap Allah serta hal-hal yang berkaitan dengan-Nya. Roh baru kita membuat kita mampu mempunyal kontak dan pandangan baru, kemampuan dan fungsi rohani yang baru terhadap, Allah serta hal-hal yang berkaitan dengan-Nya. Sebelumnya, kita tidak mengasihi Allah atau menyukal hal-hal rohani dari Allah; bahkan kita tidak mampu mengontak Allah atau mengerti hal-hal rohani dari Allah. Namun sekarang kita mempunyai hati baru dan roh baru; karena itu kita tidak hanya dapat mengasihi Allah serta hal-hal yang berkaitan dengan-Nya, tetapi kita juga dapat berkontak dengan Allah dan mengenal Allah serta hal-hal yang berkaitan denganNya. Semula, kita tidak mempunyai perasaan terhadap Allah dan tidak tertarik kepada Allah; kita lemah dan tidak punya kemampuan apa pun terhadap Allah serta hal-hal yang berkaitan dengan-Nya. Namun sekarang, dengan hati baru dan roh baru, kita tidak hanya mempunyai perasaan dan rasa tertarik kepada Allah serta hal-hal yang berkaitan dengan-Nya, tetapi juga benar-benar mampu mengontak Allah dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan-Nya. Karena itu, begitu hati kita mengasihi Allah, roh kita menyentuhNya; begitu hati kita menyenangi hal-hal yang berkaitan dengan Allah, roh kita memahaminya. lnilah maksud Allah memberi kita roh baru di samping hati baru.

V. ROH KUDUS

Sesudah Yehezkiel 36:26 mengatakan bahwa Allah memberi kita hati baru dan menaruh roh baru dalam diri kita, ayat 27 melanjutkan dengan mengatakan bahwa Allah menaruh Roh-Nya sendiri dalam diri kita. Karena itu, di antara hal-hal yang kita peroleh melalui kelahiran kembali juga ada Roh Allah.

Sebelumnya, kita tidak mempunyai Roh Allah. Kita bukan hanya tidak mempunyai Roh Allah, bahkan roh kita sendiri mati terhadap Allah. Ketika Allah melahirkan kita kembali, di satu pihak Dia membuat Roh-Nya menaruh hayat-Nya dalam roh kita sehingga menghidupkan roh kita yang mati; di pihak lain, Allah juga menaruh Roh-Nya dalam roh kita. Hal ini berarti Dia membuat Roh-Nya tinggal dalam roh baru kita yang dihidupkan itu. Jadi, dalam diri kita yang dilahirkan kembali, tidak hanya ada roh baru yang dihidupkan, yang mempunyai unsur hayat Allah, tetapi juga Roh Allah yang tinggal di dalam roh baru kita. (Roma 8:9 mengatakan. "Roh Allah tinggal di dalam kamu." Ayat 16 mengatakan, "Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita..." Jelaslah, babwa Roh Allah tinggal di dalam kita adalah tinggal di dalam roh kita, bersama dengan roh kita).

Mengapa Allah menaruh Roh-Nya dalam diri kita? Untuk apa Roh Allah berhuni di dalam roh kita? Menurut Alkitab, paling sedikit ada tujuh aspek fungsi utama mengapa Roh Allah berhuni dalam kita :

1. Menjadi Roh yang Menghuni

Allah menaruh Roh-Nya dalam kita, supaya Roh-Nya bisa menjadi Roh yang menghuni di dalam kita, supaya kita bisa mengenal Allah dan mengalami semua yang telah dirampungkan-Nya dalam Kristus bagi kita (Rm. 8:9-11). Inilah berkat khusus yang diberikan Allah dalam zaman Perjanjian Baru; hal ini tidak ada dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, Roh Allah hanya datang dari luar untuk bekerja di atas diri manusia; Roh-Nya tidak tinggal di dalam manusia. (Kejadian 6:3 mengatakan, "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia", menurut bahasa aslinya seharusnya diterjemahkan "Roh-Ku tidak lagi berebut dengan manusia"). Sesudah kematian dan kebangkitan Tuhan, barulah Allah memberikan Roh-Nya kepada kita dan membuat Roh-Nya tinggal di dalam kita sebagai Roh yang menghuni (Yoh. 14:16-17). Dengan demikian, Roh itu dapat di dalam kita mewahyukan Allah dan Kristus kepada kita, sehingga kita boleh menerima dan menikmati kepenuhan Allah dalam Kristus (Kol. 2:9-10).

2. Menjadi Penolong yang Lain

Tuhan memberi tahu kita tentang Penolong yang lain dalam Yohanes 14:16-17. Tuhan berkata bahwa Dia akan berdoa kepada Bapa agar memberl kita Roh Kudus untuk tinggal dalam diri kita sebagai Penolong yang lain. Istilah "Penolong yang lain" dalam bahasa aslinya adalah kata yang sama dengan "Pengantara" dalam I Yohanes 2:1, yakni "Paraclete" yang berarti "pengacara yang berdiri di samping". Pada mulanya, Allah mengutus Putra-Nya untuk menjadi Penolong kita, untuk menjadi Paraclete kita. Setelah Putra-Nya kembali kepada-Nya, Dia mengutus Roh-Nya kepada kita untuk menjadi Penolong yang lain, Paraclete yang lain. Ini juga berarti Dia mengutus Roh-Nya yang adalah perwujudan Putra-Nya untuk menjadi Penolong kita. Karena itu, Roh Allah yang berhuni di dalam kita adalah perwujudan Kristus di dalam kita. Dia memelihara kita darl dalam, penuh tanggung jawab terhadap kita, sama seperti Kristus terhadap kita di hadapan Allah.

3. Menjadi Roh Kebenaran

Dalam Yohanes 14:16-17, Tuhan memberi tahu kita bahwa Roh Kudus yang datang untuk berhuni di dalam kita sebagai Penolong adalah "Roh Kebenaran". Karena itu, Roh Allah yang berhuni di dalam kita juga adalah Roh Kebenaran. Kata "kebenaran" di sini dalam bahasa aslinya berarti "realitas". Karena itu, Roh Allah yang berhuni di dalam kita sebagai "Roh kebenaran" atau "Roh realitas", membuat segala adanya Allah dan Kristus menjadi realitas di dalam kita. Segala adanya Allah dan semua yang telah dipersiapkan-Nya dalain Kristus bagi kita, serta semua adanya Kristus dan semua yang telah dirampungkan-Nya bagi kita melalui kematian dan kebangkitan-Nya, dijadikan realitas bagi kita oleh Roh Allah yang berhuni di dalam kita. Dengan demikian, kita boleh menyentuh dan mengalamiNya hingga menjadi bagian kita.

4. Sebagai Roh Hayat

Roma 8 menyebut Roh Kudus yang tinggal di dalam kita sebagai "Roh hayat" (ayat 9, 2; Tl.). Ini menunjukkan kepada kita bahwa Roh Allah yang tinggal di dalam kita juga adalah Roh hayat Allah. Meskipun hayat Allah ada dalam Kristus (Yoh. 1:4), namun kita mengalami dan mengenal-Nya melalui Roh Kudus yang tinggal di dalam kita. Semua hal yang berkaitan dengan hayat diberitahukan kepada kita oleh Roh Kudus yang tinggal dalam kita. Semua pengalaman hayat menjadi milik kita juga oleh Roh Kudus yang tinggal di dalam kita.

5. Menjadi Meterai

Efesus 1:13 dan 4:30 menunjukkan kepada kita bahwa Roh Kudus yang kita peroleh pada waktu dilahirkan kembali ada di dalam kita sebagai meterai. Sewaktu Allah menaruh Roh-Nya dalam diri kita, hal itu berarti Dia mencapkan Roh-Nya pada kita sebagai meterai. Sewaktu meterai dicapkan pada suatu barang, fungsinya bukan hanya menjadi tanda kepemilikan, tetapi juga meninggalkan bekas pada barang itu, seperti meterai yang dipakai untuk menyegel. Inilah fungsi Roh Allah di dalam kita sebagai meterai. Roh Allah yang tinggal dalam diri kita bukan hanya menjadi tanda yang menunjukkan bahwa kita adalah milik Allah dan membedakan kita dari antara orang-orang dunia, lebih-lebih sebagai perwujudan Allah dan Kristus, Roh itu memeterai kita menurut gambar Allah dan Kristus, sehingga kita menjadi serupa Allah, serupa Kristus.

6. Menjadi Jaminan

Efesus 1:14 dan 2 Korintus 1:22 memberi tahu kita bahwa Roh Kudus Allah tinggal dalam diri kita sebagai jaminan. Jaminan adalah suatu agunan atau garansi. Roh Allah yang tinggal dalam kita bukan hanya sebagai meterai yang menandai kita menjadi milik Allah dan mencap kita menurut gambar Allah; Dia juga menjadi jaminan, menjamin bahwa Allah dan semua hal yang berasal dari-Nya akan menjadi bagian dan warisan untuk kita nikmati.

7. Menjadi Pengurapan

Satu Yohanes 2:27 mengatakan bahwa dalam diri kita ada "pengurapan", yang telah kita terima dari Tuhan. Pengurapan dalam Alkitab ditujukan kepada Roh Allah (Luk. 4:18). Karena itu, ayat ini memberi tahu kita bahwa Roh Allah yang tinggal di dalam kita adalah pengurapan. Pengurapan di dalam kita ini sering kali mengurapi kita. Pengurapan adalah pergerakan Roh Allah di dalam kita. Roh Allah bergerak di dalam kita atau mengurapi kita berarti Roh itu mengurapkan Allah sendiri ke dalam kita, sehingga unsur Allah bisa menjadi unsur batiniah kita, dan kita bisa mengenal Allah beserta semua hasrat dan kehendak-Nya dalam segala hal. (Mengenai hal ini, nanti akan kita bahas lebih rinci dalam Pengajaran Pengurapan Minyak sebagai salah satu bagian pembahasan dalam buku "Pengalaman Hayat").

Alangkah tinggi dan mulianya ketujuh fungsi ini! Ketujuh fungsi ini tidak hanya memperlihatkan kepada kita fungsi Roh Allah yang tinggal di dalam kita, tetapi juga menjelaskan kepada kita betapa luar biasanya Roh Allah yang kita peroleh melalui kelahiran kembali ini.

VI. KRISTUS

Roma 8:9-10 menampakkan kepada kita bahwa Roh Allah tinggal di dalam kita berarti Roh Kristus tinggal di dalam kita; dan Roh Kristus tinggal di dalam kita juga berarti Kristus tinggal di dalam kita. Ini memberi tahu kita bahwa Roh Allah di dalam kita adalah perwujudan Kristus. Karena kelahiran kembali membuat kita memiliki Roh Allah di da]am diri kita, maka kelahiran kembali juga membuat kita memiliki Kristus di dalam diri kita.

Ketika kita percaya, Allah mewahyukan Kristus di dalam kita melalui Roh-Nya (Gal. 1:16). Karena itu, begitu kita menerima Kristus sebagai Juruselamat, Dia sebagai Roh itu segera tinggal di dalam kita (2 Kor. 13:5).

Apakah tujuan Kristus tinggal di dalam kita? TujuanNya adalah agar Dia dapat menjadi hayat kita. Memang Kristus tinggal di dalam kita untuk menjadi segala sesuatu kita, namun alasan utama Dia tinggal di dalam kita adalah supaya Dia dapat menjadi hayat kita.

Dalam keselamatan-Nya, Allah telah melahirkan kita kembali sehingga kita bisa menerima hayat-Nya, mempunyai sifat-Nya, dan dengan demikian sepenuhnya menjadi seperti Dia. Dia menaruh hayat-Nya di dalam Kristus supaya bisa kita terima (Yoh. 1:4; 1 Yoh. 5:11-12). Dia juga membuat Kristus menjadi hayat kita (Yoh. 14:6; Kol. 3:4). Meskipun Roh-Nya yang menaruh hayat-Nya ke dalam kita, meskipun Roh-Nya juga yang membuat kita mengenal, mengalami, dan memperhidupkan hayat-Nya, tetapi hayat-Nya adalah Kristus. Meskipun melalui Roh-Nya kita memperoleh, mengenal, dan mengalami hayat-Nya, namun Dia justru membuat Kristus menjadi hayat kita. Melalui Roh-Nya Allah mewahyukan Kristus di dalam kita; ini berarti Dia menghendaki Kristus menjadi hayat kita. Kristus tinggal dalam diri kita berarti Dia tinggal di dalam kita sebagai hayat kita (Gal. 2:20) dan ingin memperhidupkan hayat-Nya melalui diri kita (2 Kor. 4:10-11). Jadi, Dia ingin kita bertumbuh ke dalam gambar-Nya dan menjadi serupa dengan Dia di dalam hayat-Nya (2 Kor. 3:18). Ketika kita bertumbuh ke dalam gambar-Nya dan menjadi serupa dengan Dia di dalam hayat-Nya, kita bertumbuh ke dalam gambar Allah dan menjadi serupa dengan Allah, karena Dia adalah gambar Allah (Kol. 1:15).

Di depan kita sudah melihat bahwa hayat Allah adalah apa adanya Allah; karena itu, ketika Allah menaruh hayatNya di dalam Kristus, Dia menaruh segala apa adanya Dia di dalam Kristus. Kristus merupakan inkarnasi Allah, perwujudan Allah. Segala apa adanya Allah dan seluruh kepenuhan ke-Allahan-Nya berada dalam Kristus secara Jasmaniah (Kol. 2:9). Karena itu, Kristus yang tinggal di dalam diri kita membuat kita dipenuhi dengan seluruh kepenuhan Allah (Ef. 3:17-19).

Kristus yang tinggal di dalam kita sebagai hayat kita tidak hanya membuat kita mampu menikmati seluruh kepenuhan Allah pada hari ini, tetapi juga akan membawa kita masuk ke dalam kemuliaan Allah pada masa yang akan datang (Rm. 8:17; Ibr. 2:10). Karena itu, dengan tinggal di dalam kita hari ini, di satu pihak Dia adalah hayat kita; di pihak lain Dia adalah pengharapan kita akan kemuliaan (Kol. 3:4; 1:27). Tinggalnya Dia di dalam kita sebagai hayat kita hari ini berarti melalui hayat Allah dalam diri-Nya, Dia akan membuat kita bertumbuh dan menjadi serupa dengan Allah, bertumbuh dan memiliki gambar Allah, dan akhirnya bertumbuh ke dalam kemuliaan Allah.

VII. ALLAH

Kristus adalah perwujudan Allah. Karena kelahiran kembali membuat kita memperoleh Kristus, maka kelahiran kembali juga membuat kita memperoleh Allah. Selain itu, Kristus adalah perwujudan Allah, dan Roh Kudus adalah perwujudan Kristus; Allah ada di dalam Kristus, dan Kristus ada di dalam Roh Kudus. Karena itu, ketika kelahiran kembali membuat kita memperoleh Roh Kudus, ini tidak hanya membuat kita memperoleh Kristus, tetapi juga memperoleh Allah.

Sejak Allah melahirkan kita kembali, Ia di dalam Kristus dan melalui Roh telah tinggal di dalam kita. Rasul Yohanes berkata bahwa kita mengenal Allah yang tinggal di dalam kita melalui Roh Kudus yang Dia berikan kepada kita (1 Yoh. 3:24; 4:13). Tuhan Yesus juga berkata bahwa Dia dan Allah bersama-sama tinggal di dalam kita (Yoh. 14:23). Karena itu, baik Roh Kudus tinggal di dalam kita, maupun Kristus tinggal di dalam kita, ini sebenarnya adalah Allah tinggal di dalam kita. Allah ada di dalam Kristus, dan Kristus ada di dalam Roh Kudus. Karena itu, Roh Kudus tinggal di dalam kita berarti Kristus tinggal di dalam kita; dan Kristus tinggal di dalam kita berarti Allah tinggal di dalam kita. Allah di dalam Kristus tinggal di dalam kita, dan Kristus di dalam Roh Kudus tinggal di dalam kita. Karena itu, asal ada Roh Kudus tinggal di dalam kita, kita mempunyai Kristus dan Allah tinggal di dalam kita. Roh Kudus, Kristus, dan Allah, ketiga-Nya, tinggal di dalam kita sebagai satu kesatuan, hal ini berarti Allah Tritunggal tinggal di dalam kita.

Namun, ketika Alkitab menyinggung bahwa Roh Kudus tinggal di dalam kita, penekanannya adalah Dia menjadi urapan minyak yang mengurapi kita (1 Yoh. 2:27); ketika menyinggung Kristus tinggal di dalam kita, penekanannya adalah Dia hidup di dalam kita sebagai hayat kita (Gal. 2:20); dan ketika menyinggung Allah tinggal di dalam kita, penekanannya adalah Dia beroperasi di dalam kita untuk melakukan pekerjaan-Nya (Flp. 2:13; Ibr. 13:21; 1 Kor. 12:6). Alkitab memberikan uraian yang sangat jelas mengenai ketiga perkara ini. Mengenai Roh Kudus yang tinggal di dalam kita, Alkitab berbicara tentang "pengurapan"; mengenai Kristus yang tinggal di dalam kita, Alkitab berbicara tentang "kehidupan"; sedangkan mengenai Allah yang tinggal di dalam kita, Alkitab berbicara tentang "pekerjaan". Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa Kristus atau Allah sedang mengurapi kita, Roh Kudus atau Allah hidup di dalam kita, Roh Kudus atau Kristus bekerja di dalam kita. Alkitab hanya mengatakan bahwa Roh Kudus mengurapi kita, Kristus hidup di dalam kita, dan Allah bekerja di dalam diri kita. Ketiga cara penyampaian ini tidak dapat dipertukarkan- "Pengurapan" berkaitan dengan Roh Kudus sebagai minyak urapan di dalam kita; "kehidupan" berkaitan dengan Kristus yang hidup di dalam kita, dan "pekerjaan" berkaitan dengan Allah yang bekerja di dalam kita.

Roh Kudus tinggal di dalam kita sebagai minyak urapan; karena itu apa yang dilakukan-Nya di dalam kita adalah mengurapi. Kristus tinggal di dalam kita sebagai hayat; karena itu apa yang dilakukannya di dalam diri kita adalah hidup. Allah tinggal di dalam kita berkaitan dengan pekerjaan, karena itu apa yang dilakukannya di dalam kita adalah bekerja. Melalui mengurapi kita, Roh Kudus mengurapkan unsur Allah ke dalam kita. Melalui hidup di dalam kita. Kristus memperhidupkan hayat Allah di dalam kita, tertampil dari diri kita. Melalui bekerja di dalam kita, Allah melaksanakan kehendak-Nya di dalam kita sehingga dapat dirampungkan di atas diri kita.

Karena itu, kita harus nampak bahwa yang kita peroleh melalui kelahiran kembali ini sangatlah agung, tinggi, kaya, dan mulia. Melalui kelahiran kembali, kita memperoleh hayat Allah dan hukum hayat. Melalui kelahiran kembali kita memperoleh hati baru dan roh baru. Selain itu, melalui kelahiran kembali kita memperoleh Roh Kudus, Kristus, dan Allah sendiri. Ini benar-benar cukup bagi kita - cukup untuk menjadikan kita kudus dan rohani, cukup untuk menjadikan kita menang dan unggul, dan cukup untuk menjadikan kita bertumbuh dan matang dalam hayat.