← Daftar isi Apakah Hayat? · bab 2/14

APAKAH PENGALAMAN HAYAT ITU?

Sekarang kita membahas masalah kedua, yaitu apakah pengalaman hayat? Setelah kita nampak apakah hayat, dengan mudah kita akan tahu apakah pengalaman hayat.

I. MENGALAMI ALLAH

Pengalaman hayat ialah mengalami hayat. Kita telah nampak bahwa hayat adalah Allah sendiri. Allah yang mengalir ke dalam diri kita, Allah yang kita terima dan yang kita alami, adalah hayat. Karena itu, mengalami Allah berarti mengalami hayat. Semua pengalaman hayat adalah pengalaman terhadap Allah dan menyentuh Allah. Setiap pengalaman yang tidak menyentuh Allah, bukan pengalaman hayat.

Misalnya, ada pertobatan yang bukan hasil dari sorotan terang Allah, melainkan karena introspeksi manusia sendiri. Karena tidak menyebabkan manusia menyentuh Allah, maka pertobatan semacam itu bukan pengalaman hayat. Pertobatan karena sorotan terang Allah pasti menyebabkan manusia menyentuh Allah, dan itu baru pengalaman hayat.

Semua yang berasal dari tingkah laku manusia sendiri bukanlah pengalaman hayat. Itu hanya dibuat-buat dan berasal dari pekerjaan manusia, bukan hasil dari Allah melalui manusia atau manusia melalui Allah. Karena itu, tidak terhitung sebagai pengalaman hayat.

Lalu, apa yang baru terhitung sebagai pengalaman hayat? Pengalaman yang berasal dari Allah melalui manusia dan manusia melalui Allah, itulah yang disebut pengalaman hayat. Misalnya dalam doa, kita bertemu dengan Allah, mendapatkan terang, nampak kesalahan diri sendiri, lalu menanggulanginya di hadapan Allah. Bukan kita yang menyelidiki dosa kita sendiri, tetapi ketika kita mendekati Allah, kita bertemu dengan Allah dalam batin, dan olehnya kita nampak kesalahan kita. Allah adalah terang, ketika kita bertemu dengan-Nya, dalam terang-Nya kita nampak kesalahan kita. Dengan sendirinya kita mengaku dosa kepada Allah dan mohon pembasuhan darah Tuhan. Akibatnya, Allah melalui kita dan kita juga melalui Allah. Pengalaman seperti itu menyebabkan kita mengalami Allah; inilah baru pengalaman hayat.

Semua pengalaman hayat berasal dari Allah dan merupakan pekerjaan Allah di dalam diri kita, karena itu, semua pengalaman hayat dapat membuat kita menyentuh Allah dan mengalami Allah. Semua pengalaman yang tidak demikian bukanlah pengalaman hayat, karena hayat adalah Allah, dan mengalami hayat berarti mengalami Allah. Jadi, setiap pengalaman terhadap Allah yang sedemikian akan menampilkan hayat (Flp. 2:13-16).

II. MENGALAMI KRISTUS

Tidak diragukan lagi, mengalami hayat berarti mengalami Allah, tetapi Allah berada di dalam Kristus untuk kita alami. Kristus adalah penyataan, adalah perwujudan Allah, juga adalah Allah menjadi pengalaman kita. Karena itu, semua pengalaman kita terhadap Allah merupakan pengalaman terhadap Kristus dan di dalam Kristus. Jadi, mengalami hayat adalah mengalami Allah, juga adalah mengalami Kristus.

Meskipun Allah itu hayat, Dia tidak dapat menjadi hayat kita kalau Dia tidak berada di dalam Kristus dan menjadi Kristus. Kalau demikian, Dia tidak dapat kita alami. Supaya dapat kita alami, Dia harus menjadi hayat kita. Namun, Dia tidak dapat menjadi hayat kita dengan tinggal di surga, di dalam terang yang tidak terhampiri (1 Tim. 6:16). Selain itu, agar dapat menjadi hayat kita, Dia harus mempunyai sifat insani. Hayat ilahi-Nya harus berbaur dengan sifat insani supaya dapat bersatu dengan kita yang memiliki sifat insani, dan dengan demikian menjadi hayat kita. Karena itu, Dia datang dari surga, menjadi daging, dan berbaur dengan sifat insani. Jadi, Allah menjadi Kristus dan menjadi hayat kita dalam sifat insani agar kita dapat mengalami-Nya. Ketika kita mengalami Allah sebagai hayat kita, kita mengalami Kristus.

Singkatnya, sewaktu kita mengalami Kristus, kita akan mengalami aspek-aspek berikut ini :

1. Kristus Dinyatakan di Dalam Kita (Gal. 1:16)

Inilah pengalaman awal kita terhadap Kristus ketika kita diselamatkan. Kita mengalami Allah yang menyatakan (mewahyukan) Kristus di dalam diri kita melalui Roh Kudus. Pengalaman itu membuat kita mampu mengenal dan menerima-Nya sebagai hayat dan segala sesuatu kita.

2. Kristus Hidup di Dalam Kita (Gal. 2:20)

Inilah pengalaman kita yang berkesinambungan terhadap Kristus hidup di dalam kita sebagai hayat kita, sesudah kita beroleh selamat. Dengan kata lain, kita mengalami Kristus tinggal di dalam kita dan hidup bagi kita. Pengalaman ini, yaitu pengalaman yang berkesinambungan terhadap Kristus dalam hidup kita sehari-hari sebagai orangorang kudus, merupakan bagian terbesar dari pengalaman kita terhadap Kristus.

3. Kristus Terbentuk di Dalam Kita (Gal. 4:19 TI.)

Karena kita mempersilakan segala sesuatu yang berasal dari Kristus menjadi unsur hayat batin kita, maka Kristus bisa bertumbuh dan terbentuk di dalam kita. Kristus ada di dalam kita bukan hanya agar kita boleh mengalami-Nya sebagai hayat kita, sebagai Persona yang hidup bagi kita, lebih-lebih agar kita boleh mengalami Dia sebagai segala sesuatu kita, dengan demikian memungkinkan Dia bertumbuh dan terbentuk di dalam hayat kita, sehingga hayat-Nya bisa mencapai kematangan di dalam kita.

4. Kristus Diperbesar di Dalam Tubuh Kita

(Flp. 1:20-21)

Karena kita mempersilakan segala sesuatu yang berasal dari Kristus menjadi penampilan kehidupan lahiriah kita, maka Kristus dapat terekspresi dari lahiriah kita, bahkan entah hidup atau mati, entah berada dalam lingkungan apa pun, kita mempersilakan Kristus diperbesar di dalam tubuh kita. Dengan kata lain, bagi kita hidup adalah Kristus. Tentu saja, hal ini merupakan pengalaman terhadap Kristus yang sedikit lebih dalam, tidak hanya mengalami Dia terbentuk di dalam kita, tetapi juga mengalami Dia diperbesar melalui kita. "Terbentuk" adalah kematangan hayat batiniah, kita mempunyai segala milikNya sebagai unsur batiniah kita. "Diperbesar" adalah penampilan kehidupan lahiriah kita, membiarkan segala milik-Nya menjadi ekspresi lahiriah kita. Jadi, dalam pengalaman ini, kita mengalami Kristus bukan hanya sebagai unsur-unsur hayat batin kita, tetapi juga sebagai ekspresi hidup lahir kita.

5. Penuh dengan Ukuran Perawakan

Kepenuhan Kristus (Ef 4:13)

Ini berarti, kita semua sebagai Tubuh mengalami Kristus sampai kita penuh dengan unsur dan susunan Kristus, sehingga kita bertumbuh dan penuh dengan ukuran perawakan kepenuhan Kristus. Tentu saja, ini merupakan pengalaman yang penuh terhadap Kristus.

6. Diubah Menjadi Segambar dengan Kristus

(2 Kor. 3:18)

Pengalaman kita terhadap Kristus dapat mengubah kita hingga serupa dengan Dia. Ini dimulai dengan pengalaman kita atas Kristus diwahyukan di dalam kita dan berlangsung terus hingga tubuh kita ditebus (Rm. 8:23). Semakin mengalami Dia, kita semakin diubah hingga tubuh kita diubah menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia (Flp. 3:21). Pada saat itu, kita akan sepenuhnya diserupakan dengan gambar-Nya (Rm. 8:29) dan kita akan menjadi "sama seperti Dia" (1 Yoh. 3:2). Demikian, kita sepenuhnya mengalami Dia.

Semua yang berkaitan dengan hayat dalam batin kita dan kehidupan kudus yang tertampil dari lahir kita, haruslah merupakan pengalaman kita terhadap Kristus. Karena Kristus adalah hayat kita, maka Dia juga adalah pengudusan kita (Kol. 3:4; 1 Kor. 1:30). Setiap pengalaman yang berkaitan dengan hayat batin kita haruslah merupakan Kristus yang hidup di dalam kita; bahkan kehidupan kita yang kudus seharusnya merupakan Kristus yang tertampil melalui tubuh kita. Semua pengalaman kita terhadap hayat, seharusnya merupakan pengalaman terhadap Kristus. Bukan hanya pengalaman-pengalaman hayat yang besar seperti mati bersama Kristus, bangkit bersama Dia, dan naik dengan Dia saja yang seharusnya menjadi pengalaman kita, tetapi juga pengalaman-pengalaman hayat yang kecil dalam kehidupan sehari-hari kita, semuanya harus merupakan pengalaman kita terhadap Kristus. Baik kelepasan dari dosa atau menang atas dunia, baik menampilkan kehidupan yang kudus, rohani, atau memperhidupkan kasih, rendah hati, semuanya seharusnya merupakan pengalaman terhadap Kristus. Bahkan toleransi dan kesabaran kita (yang sedikit) terhadap orang lain, juga seharusnya merupakan pengalaman terhadap Kristus.

Mengalami Kristus berarti membiarkan Kristus hidup, baik di dalam kita maupun tertampil melalui kita. Mengalami Kristus berarti menerima Kristus sebagai hayat dan dengan demikian hidup oleh Kristus. Mengalami Kristus berarti seluruh hidup dan tindakan kita merupakan Kristus yang hidup dan bertindak melalui kita. Mengalami Kristus berarti mengalami kuat kuasa kebangkitan-Nya (Flp. 3:10), yakni mengalami Dia sebagai hayat; karena itu, pengalaman seperti ini juga adalah pengalaman hayat.

III. MENGALAMI ROH KUDUS

Dalam Yohanes 14, sesudah Tuhan Yesus memberitahu kita bahwa Dia adalah hayat (ayat 6), Dia memperlihatkan kepada kita bahwa Dia dan Allah bukan hanya satu, Dia bahkan ada di dalam Allah, Allah ada di dalam Dia, Dia menjadi hayat berarti Allah adalah hayat (ayat 7-11); juga memperlihatkan kepada kita bahwa Roh Kudus dan Dia adalah satu, sehingga Roh Kudus yang masuk ke dalam diri kita dan tinggal bersama kita adalah Kristus yang hidup di dalam kita menjadi hayat kita (ayat 16-19); bahkan memperlihatkan kepada kita Dia sebagai Roh Kudus masuk ke dalam kita dan hidup di dalam kita, ini berarti bahwa Dia dan Allah di dalam Roh Kudus masuk ke dalam kita dan tinggal bersama kita sebagai hayat kita (ayat 20-23). Singkatnya, sesudah Tuhan berkata bahwa Dia adalah hayat, Dia memperlihatkan kepada kita tiga hal : (1) Allah ada di dalam Dia sebagai hayat; (2) Dia ada di dalam Roh Kudus sebagai hayat, dan (3) Allah Tritunggal masuk ke dalam kita sebagai hayat. Jadi, ketika kita mengalami hayat, kita tidak hanya mengalami Allah, tidak hanya mengalami Kristus, tetapi juga mengalami Roh Kudus. Sesungguhnya, Roh Kudus adalah Allah sekaligus Kristus yang kita alami sebagai hayat, juga adalah Allah di dalam Kristus yang kita alami sebagai hayat.

Sebagaimana Kristus adalah perwujudan Allah, begitu juga Roh Kudus adalah perwujudan Kristus. Allah sebagai hayat ada di dalam Kristus, dan Kristus sebagai hayat ada di dilam Roh Kudus. Kita mengalami Allah dalam Kristus, dan kita mengalami Kristus sebagai Roh Kudus. Jadi, sebagaimana pengalaman hayat adalah pengalaman terhadap Allah dan Kristus, maka pengalaman hayat juga adalah pengalaman terhadap Roh Kudus.

Allah adalah hayat. Kristus adalah Allah yang datang sebagai hayat, dan Roh Kudus adalah Allah di dalam Kristus sebagai hayat, atau Roh hayat (Rm. 8:2). Roh hayat inilah, yaitu Roh Kudus, yang membuat kita mengalami semua isi Allah dalam Kristus sebagai hayat. Roh (Kudus) hayat inilah yang menyebabkan kita mengalami Kristus yang berhuni. Roh (Kudus) hayat inilah yang membuat kita mengalami kuat kuasa kebangkitan Allah dalam Kristus (Rm. 8:9-11). Roh (Kudus) hayat inilah yang membawa kita untuk mematikan perbuatan-perbuatan jahat tubuh kita. Dan Roh (Kudus) hayat inilah yang berdoa di dalam kita (Rm. 8:13, 26). Semua pengalaman hayat kita, baik yang dalam maupun yang dangkal, adalah dikarenakan Roh Kudus ini. Jadi, semuanya merupakan pengalaman terhadap Roh (Kudus) hayat ini.

Roma 8:9-11 tidak hanya memperlihatkan kepada kita bahwa Roh Kuduslah yang membuat kita mengalami Kristus yang berhuni, membuat kita mengalami kuat kuasa kebangkitan Allah, tetapi juga memperlihatkan kepada kita bahwa Roh Kudus tinggal di dalam kita membuat kita mengalami hayat, yaitu Kristus dan Allah tinggal di dalam kita membuat kita mengalami hayat. Jadi, hayat Allah di dalam Kristus kita alami melalui Roh Kudus. Karena itu, untuk mengalarni hayat ini, kita harus mengalami Roh Kudus; dan ketika kita mengalami hayat ini, kita mengalami Roh Kudus.

Jadi, pengalaman hayat adalah pengalaman terhadap, Allah Tritunggal, atau pengalaman terhadap Allah di dalam Kristus dan pengalaman terhadap Kristus sebagai Roh Kudus yang menjadi hayat kita. Roh Kudus bekerja di dalam kita, memimpin kita untuk mengalami Kristus dan mengalami Allah di dalam Kristus, inilah pengalaman hayat. Di dalam Roh Kudus, kita melalui Allah dan Kristus, juga membiarkan Allah dan Kristus melalui kita, inilah pengalaman hayat. Hanya pengalaman terhadap Roh Kudus, Kristus, dan Allah yang sedemikian inilah yang merupakan pengalaman hayat. Selain itu, tidak ada yang dapat terhitung sebagai pengalaman hayat; Anda dapat mengatakan bahwa hal itu adalah gairah, kehidupan agamawi, atau pun perbaikan diri, tetapi Anda tidak dapat mengatakan bahwa itu adalah pengalaman hayat. Mengalami hayat adalah mengalami Allah, mengalami Kristus, dan mengalami Roh Kudus. Ini bukan sesuatu yang berasal dari perbuatan atau usaha kita sendiri untuk memperbaiki diri, melainkan merupakan hasil dari Allah yang bergerak (beroperasi) di dalam kita, Kristus tertampil melalui kita, dan pengurapan Roh Kudus di dalam kita. Semoga kita menuntut hal ini.