APAKAH HAYAT?
Pertama-tama, kita akan membahas apakah hayat. Untuk mengenal hayat, kita harus tahu apakah hayat itu. Perkara ini agak sulit dijelaskan. Karena itu, kita benar-benar perlu belas kasihan Tuhan. Menurut ajaran Alkitab, paling sedikit ada enam butir yang perlu dibahas agar perihal hayat ini menjadi jelas.
I. HANYA HAYAT ALLAH
YANG TERHITUNG SEBAGAI HAYAT
Ketika menjelaskan perihal hayat, terlebih dulu kita harus jelas terhadap satu hal, yakni dalam alam semesta ini, hayat apa yang dapat diperhitungkan sebagai hayat? Satu Yohanes 5:12 mengatakan, "Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup (hayat); siapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup (hayat)." Yohanes 3:36 juga mengatakan, "Siapa saja yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi siapa saja yang tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap tinggal di atasnya." Kedua ayat ini memberi tahu kita, jika seseorang tidak memiliki hayat Allah, ia tidak memiliki hayat. Ini menunjukkan kepada kita bahwa dalam pandangan Allah, hanya hayat Allah yang adalah hayat; selain itu, tidak ada hayat lain yang dapat diperhitungkan sebagai hayat. Itulah sebabnya ketika Alkitab menyinggung tentang hayat Allah, hayat tersebut diperlakukan sebagai satu-satunya hayat (Yoh. 1:14; 10:10; 11:25; 14:6; dan lain-lain).
Mengapa hanya hayat Allah yang terhitung sebagai hayat, sedang hayat yang lain tidak terhitung sebagai hayat? Karena hanya hayat Allah yang ilahi dan yang kekal.
Apakah arti ilahi? Ilahi berarti milik Allah, memiliki sifat-sifat Allah, juga berarti luar biasa, berbeda dari yang lain. Hanya Allah yang adalah Allah, hanya Allah yang memiliki sifat Allah, dan hanya Allah yang luar biasa dan berbeda; karena itu hanya Allah yang ilahi. Hayat Allah adalah diri Allah (kita akan membahas butir ini kemudian), karena hayat ini adalah diri Allah, dengan sendirinya hayat ini memiliki sifat Allah. Sebagai contoh, sebuah cangkir emas adalah emas, dan karena cangkir tersebut adalah emas, ia memiliki sifat emas; dengan kata lain, emas adalah sifat hakikinya. Demikian juga, hayat Allah adalah diri Allah dan memiliki sifat Allah; Allah adalah sifat hakikiNya. Karena hayat Allah adalah diri Allah dan memiliki sifat Allah, maka hayat Allah bersifat ilahi.
Apakah arti kekal? Kekal berarti bukan ciptaan, tanpa awal atau akhir, ada dengan sendirinya dan ada untuk selamanya, keberadaannya tidak dapat berubah. Hanya Allah yang bukan ciptaan; hanya Dia yang ada "dari selama-lamanya sampai selama-lamanya" (Mzm. 90:2), berarti tanpa awal atau akhir. Dia adalah "Aku adalah Aku" (Kel. 3:14), dan tetap "sama" (Mzm. 102:28). Karena Allah itu demikian, begitu pula hayat Allah yang adalah diri Allah. Sama seperti diri Allah, hayat Allah juga bukan ciptaan, tanpa awal atau akhir, ada dengan sendirinya dan ada sampai selamanya, tidak pernah berubah; karena itu, hayat Allah bersifat kekal. Itulah sebabnya Alkitab menyebut hayat Allah sebagai hayat yang kekal.
Karena ilahi maupun kekal adalah sifat Allah dan menyatakan ciri diri Allah, keduanya juga adalah sifat hakiki hayat-Nya dan menggambarkan ciri hayat-Nya. Tetapi, ilahi bukan hanya ciri hayat Allah, lebih-lebih adalah esens hayat-Nya, sedangkan kekal hanya merupakan ciri hayat Allah. Mari kita melihat lagi ilustrasi cangkir emas. Sifat hakikinya adalah emas sekaligus tahan karat. Emas bukan hanya ciri cangkir itu, tetapi juga esensnya, sedangkan sifatnya yang tahan karat dikarenakan sifat emas adalah tahan karat. Demikian juga, hayat Allah adalah kekal karena hayat ini ilahi. (Ilahi berarti milik Allah, juga adalah diri Allah sendiri). Hayat Allah adalah kekal karena hayat ini ilahi. Dalam alam semesta, tidak ada hayat ciptaan yang mempunyai sifat ilahi, karena itu tidak ada hayat ciptaan yang kekal. Hanya sifat hakiki dari hayat Allah yang bukan ciptaan adalah kekal dan ilahi. Karena sifat hakiki hayat Allah adalah demikian, maka dengan sendirinya hayat Allah pun demikian. Dalam alam semesta, hanya hayat, Allah yang ilahi dan kekal, karena itu, hanya hayat Allah yang dapat diperhitungkan sebagai hayat.
Mengapa hanya hayat yang ilahi dan yang kekal yang dapat diperhitungkan sebagai hayat? Karena hayat mengacu kepada sesuatu yang hidup, dan segala sesuatu yang diperhitungkan sebagai hayat haruslah sesuatu yang tidak bisa mati. Sesuatu yang tidak bisa mati berarti tidak bisa berubah; tetap sama dan terus hidup walaupun melewati berbagai pukulan atau perusakan. Hayat yang tidak tahan pukulan atau perusakan, yang bisa mati, yang bisa berubah; yang tidak bisa selamanya tidak mati dan berubah; tidak terhitung sebagai hayat. yang terhitung sebagai hayat haruslah sesuatu yang hidup selamanya dan tidak pernah berubah. Hanya sesuatu yang kekal yang dapat demikian. Lalu, apakah yang kekal? Hanya yang ilahi! Sesuatu yang ilahi adalah milik Allah dan adalah diri Allah sendiri. Diri Allah sendiri adalah yang tanpa awal atau akhir, ada dengan sendirinya dan ada sampai selamanya. Karena itu, Dia adalah kekal. Hanya sesuatu yang ilahi adalah kekal dan hanya sesuatu yang kekal itu dapat hidup selamanya tanpa perubahan. Jadi, hanya sesuatu yang ilahi dan yang kekal yang dapat diperhitungkan sebagai hayat.
Semua jenis hayat dalam alam semesta, baik hayat malaikat, hayat manusia, hayat binatang, atau hayat tanaman, semuanya bisa mati dan bisa berubah; karena itu, tidak kekal. Semua itu tidak memiliki sifat Allah, juga tidak ilahi. Hanya hayat Allah yang memiliki sifat Allah; karena itu, hayat Allah bersifat ilahi dan kekal, tidak bisa mati, tidak bisa berubah, tidak mungkin tetap berada dalam kuasa maut, dan tidak dapat binasa (Kis. 2:24; lbr. 7:16). Apa pun jenis pukulan atau perusakan yang dialaminya, ia tidak berubah dan tetap sama selamanya. Dalam alam semesta, selain hayat Allah tidak ada hayat lain yang demikian. Karena itu, dari sudut pandang kekekalan, hanya hayat Allah yang benar-benar hayat. Bukan hanya namanya hayat, tetapi juga mempunyal realitas hayat, sehingga sepenuhnya menggenapkan makna hayat. Hayat yang lain hanya namanya saja hayat, tetapi tidak mempunyai realitas, sehingga tidak dapat memenuhi kriteria hayat yang tidak bisa mati dan tidak bisa berubah; semua itu tidak dapat diperhitungkan sebagai hayat. Jadi, berdasarkan sifat hakiki hayat Allah yang ilahi dan yang kekal, hayat Allah adalah satu-satunya hayat dalam alam semesta.
Catatan : Karena hayat Allah adalah satu-satunya hayat, maka setiap kali Alkitab Perjanjian Baru bahasa Yunani menyebut hayat ini selalu memakai istilah "zoe", ini adalah istilah yang mengacu kepada hayat yang paling tinggi (misalnya, Yoh. 1:4; 1 Yoh. 1:2; 5:12; dan lain-lain). Selain itu, Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa aslinya juga memakai istilah (1) "bios" untuk menyatakan hayat daging (misalnya, Luk. 8:43; 21:4, dan lain-lain), dan (2) "psuche" untuk menyatakan hayat jiwa, yakni hayat alamiah manusia (misalnya, Mat. 16:25-26; Luk. 9:24; dan lain-lain).
II. HAYAT ADALAH MENGALIRNYA ALLAH
Mengenal definisi hayat, mula-mula kita harus nampak bahwa hanya hayat Allah yang benar-benar hayat. Lalu kita harus melihat bahwa hayat adalah mengalirnya Allah. Wahyu 22:1-2 membicarakan sungai air kehidupan (hayat) yang mengalir keluar dari takhta Allah, dan dalam sungai air hayat itu ada pohon kehidupan (hayat). Baik air hayat maupun pohon hayat, semuanya menandakan hayat. Karena itu, dengan jelas terlihat di sini bahwa hayat adalah sesuatu yang mengalir dari Allah. Jadi, kita dapat mengatakan bahwa hayat adalah mengalirnya Allah.
Kita sudah melihat bahwa hayat haruslah ilahi dan kekal. Karena Allah adalah Allah, maka dengan sendirinya Dia itu ilahi. Alkitab juga mengatakan bahwa Allah itu kekal. Karena Allah itu ilahi dan kekal, maka Dia adalah hayat. Jadi, Allah yang mengalir adalah hayat.
Berdasarkan sifat diri Allah yang ilahi dan yang kekal, Allah adalah hayat. Tetapi jika Allah tidak mengalir, meskipun dalam diri-Nya sendiri Dia adalah hayat, namun bagi kita, Dia bukan hayat. Untuk dapat menjadi hayat bagi kita, Dia harus mengalir. Pengaliran-Nya melewati dua tahap. Tahap pertama, Dia menjadi daging. Hal ini memungkinkan Dia mengalir dari surga ke tengah-tengah manusia dan menyatakan diri-Nya sebagai hayat (Yoh. 1:1, 4, 14). Sebab itu, di satu pihak Alkitab menyinggung hal ini
sebagai Dia "menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia" (I Tim. 3:16), dan di pihak lain, "hidup (hayat) itu telah dinyatakan" (1 Yoh. 1:2). Karena itu, sewaktu berada dalam daging, Dia berkata bahwa diri-Nya adalah hidup (hayat) (Yoh. 14:6). Meskipun pada pengaliran-Nya tahap pertama, Dia dapat menyatakan diri-Nya sebagai hayat kepada kita, Dia belum dapat kita terima sebagai hayat; itulah sebabnya, Dia harus menempuh pengaliran tahap kedua. Pengaliran-Nya tahap kedua adalah terpaku di atas salib. Melalui kematian, tubuh daging yang dikenakan-Nya terbelah, sehingga memungkinkan Dia mengalir dari daging dan menjadi air hayat untuk kita terima (Yoh. 19:34; 4:10, 14). Batu karang dalam Perjanjian Lama melambangkan Dia; batu itu dipukul, dan dari batu itu keluar air hayat bagi bangsa Israel (Kel. 17:6,- 1 Kor. 10:4). Ia menjadi daging supaya Ia dapat menjadi sebutir biji gandum yang berisi hayat. Dia disalibkan supaya Dia dapat mengalir keluar dari kulit luar tubuh daging, mengalir ke dalam kita (banyak butir) dan menjadi hayat kita (Yoh. 12:24).
Jadi, hayat yang kita terima dari Allah adalah mengalirnya diri Allah sendiri. Dari pihak kita, hayat yang mengalir ke dalam kita adalah aliran masuk dari Allah; dan pihak Allah, merupakan aliran keluar dari Allah. Kemudian, saat hayat ini mengalir dari diri kita, itu juga mengalirnya Allah. Mengalirnya Allah ini dimulai dari takhta-Nya : mula-mula mengalir ke dalam Yesus orang Nazaret, melewati salib, mengalir ke dalam para Rasul, kemudian mengalir dari para Rasul bagaikan aliran-aliran air hayat (Yoh. 7:38), mengalir melewati orang-orang kudus dari segala zaman, dan akhirnya mengalir ke dalam kita. Dari diri kita, air ini akan mengalir ke dalam berjuta-juta orang dan akan terus demikian sampai kekekalan, mengalir selamanya tanpa henti, sama seperti yang dikatakan dalam Wnhyu 22:1-2 dan Yohanes 4:14.
Aliran air yang disebutkan dalam Yehezkiel 47 menandakan mengalirnya Allah. Ke mana saja air itu mengalir, segala makhluk akan mendapatkan hayat. Demikian pula, ke mana saja Allah mengalir, di sana akan ada hayat; karena aliran ini adalah hayat itu sendiri. Ketika aliran ini mengalir menuju kekekalan, maka kekekalan akan dipenuhi dengan keadaan hayat dan menjadi alam kekal hayat.
Ketika membicarakan hayat, sejak awal Alkitab sudah menunjukkan kepada kita adanya sebuah sungai yang mengalir (Kej. 2:9-14). Pada akhir Kitab Wahyu, kita melihat bahwa semua hal yang berhubungan dengan hayat, baik air hayat atau pohon hayat, mengalir keluar dari Allah. Hal ini dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa hayat adalah mengalirnya diri Allah sendiri. Allah mengalir dari surga, dan melalui daging, Ia mengalir ke tengah-tengah kita sebagai hayat yang sudah dinyatakan kepada kita. Kemudian Dia mengalir dari daging ke dalam kita sebagai hayat yang kita terima.
III. HAYAT ADALAH ISI ALLAH
Butir ketiga yang harus kita ketahul mengenai apakah hayat adalah : hayat adalah isi Allah. Karena hayat adalah mengalirnya Allah, maka hayat adalah isi Allah. Mengalirnya Allah adalah mengalirnya diri Allah sendiri, dan diri Allah sendiri adalah isi Allah.
Karena isi Allah adalah diri Allah sendiri, maka isi ini adalah segala apa adanya Allah, juga adalah seluruh kepenuhan ke-Allahan. Alkitab memberi tahu kita bahwa seluruh kepenuhan ke-Allahan ada dalam Kristus (Kol. 2:9). Ini dikarenakan Kristus sebagai perwujudan Allah telah ternyata untuk menjadi hayat manusia. Hayat ini berisi seluruh kepenuhan ke-Allahan, yaitu segala apa adanya Allah. Segala apa adanya Allah ada dalam hayat ini. Hakiki Allah sebagai Allah tergantung pada hayat ini. Karena itu, hayat ini adalah isi Allah, yaitu kepenuhan ke-Allahan. Ketika kita menerima hayat ini, kita menerima isi Allah dan kita menerima segala sesuatu yang ada dalam Allah. Hayat yang ada dalam kita ini adalah apa adanya Allah. Hari ini, dalam hayat inilah Allah menjadi segala sesuatu kita dan adalah segala sesuatu kita. Dalam hayat inilah Allah menjadi Allah kita dan adalah Allah kita. Karena hayat yang di dalam Kristus ini adalah kepenuhan ke-Allahan dan isi diri Allah sendiri, maka di dalam kita pun hayat itu adalah kepenuhan ke-Allahan dan isi diri Allah sendiri.
IV. HAYAT ADALAH DIRI ALLAH SENDIRI
Kita sudah melihat bahwa hayat adalah mengalirnya Allah, dan hayat adalah isi Allah. Mengalirnya Allah adalah inengalirnya diri Allah sendirl, dan isi Allah juga adalah diri Allah sendiri. Jadi, karena hayat adalah mengalirnya Allah dan juga adalah isi Allah, maka dengan sendirinya hayat itu adalah diri Allah sendiri. Inilah butir keempat yang harus kita ketahui mengenal definisi hayat.
Dalam Yohanes 14:6, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia adalah hayat. Sesudah berkata demikian, dari ayat 7-11, Dia memberi tahu murid-murid bahwa Dia dan Allah adalah satu; ketika Dia mengucapkan perkataan ini, Allahlah yang berbicara di dalam Dia. Dia adalah Allah yang menjadi daging; Dia adalah Allah di dalam daging (Yoh. 1:1, 14; 1 Tim. 3:16). Ketika Dia berkata bahwa Dia adalah hayat, Allahlah yang berkata bahwa Allah adalah hayat. Karena itu, perkataan-perkataan-Nya memperlihatkan kepada kita bahwa hayat adalah diri Allah sendiri.
Kita harus memperhatikan satu fakta bahwa Alkitab jarang memakai istilah "hayat Allah". Ajaran Alkitab sering menampakkan kepada kita bahwa "Allah adalah hayat", "Allah menjadi hayat", jarang sekali yang memakai "hayat Allah"; kebanyakan memberi tahu kita bahwa Allah adalah hayat kita, Allah menjadi hayat kita, hampir tidak pernah menyebutkan bahwa Allah menghendaki kita mendapatkan "hayat-Nya". Hayat Allah berbeda dengan Allah adalah hayat atau Allah menjadi hayat. Hayat Allah belum tentu menyiratkan keseluruhan diri Allah, sedangkan Allah adalah hayat atau Allah menjadi hayat mengacu kepada diri Allah yang lengkap. Tegasnya, ketika kita menerima hayat, kita bukan menerima "hanya" hayat Allah, melainkan menerima Allah menjadi hayat kita. Allah tidak "hanya" memberikan hayat-Nya kepada kita, melainkan diri-Nya sendiri datang menjadi hayat kita. Karena Allah itu hayat, maka hayat-Nya adalah diri-Nya sendiri.
Jadi, apakah hayat? Hayat adalah Allah sendiri. Apakah artinya mempunyai hayat? Mempunyai hayat berarti mempunyai Allah sendiri. Apakah artinya memperhidupkan hayat? Memperhidupkan hayat berarti memperhidupkan Allah. Hayat sama sekali tidak berbeda dengan Allah. Kalau berbeda, itu bukan hayat. Kita harus memahami hal ini dengan jelas. Tidaklah cukup bila kita hanya tahu bahwa kita mempunyai hayat, kita pun harus tahu bahwa hayat yang kita miliki adalah Allah sendiri. Tidaklah cukup bila kita hanya tahu bahwa kita harus memperhidupkan hayat, kita pun harus tahu bahwa hayat yang harus kita perhidupkan itu adalah diri Allah sendiri.
Saudara saudari, sesungguhnya hayat apakah yang harus kita perhidupkan? Kita memperhidupkan apa baru terhitung memperhidupkan hayat? Apakah memperhidupkan kasih, kerendahan hati, kelembutan, dan kesabaran berarti memperhidupkan hayat? Tidak! Karena baik kasih, kerendahan hati, kelemah-lembutan, maupun kesabaran bukanlah hayat, begitu pula setiap kebaikan atau kebajikan. Hanya Allah itulah hayat. Jadi, memperhidupkan kebajikan seperti itu bukanlah memperhidupkan hayat. Memperhidupkan Allah sendiri baru berarti memperhidupkan hayat. Bila bukan merupakan mengalirnya Allah atau penyataan Allah, maka kasih, kerendahan hati, kelembutan, dan kesabaran yang kita perhidupkan bukanlah hayat. Setiap kebaikan atau kebajikan yang kita perhidupkan bukanlah hayat, kalau hal itu bukan merupakan ekspresi Allah melalui kita. Kebajikan yang kita perhidupkan haruslah merupakan mengalirnya Allah, penyataan Allah, dan ekspresi Allah; dengan demikian kita memperhidupkan hayat, karena hayat adalah Allah sendiri.
Kolose 2:9 dan Efesus 3:19 memperlihatkan kepada kita kepenuhan Allah. Hayat yang kita terima adalah Allah yang utuh. Karena itu, hayat ini juga utuh. Di dalamnya ada kasih dan terang, kerendahan hati dan kelembutan, kesabaran dan ketabahan, simpati dan pengertian. Semua kebaikan dan kebajikan yang ada dalam Allah, juga ada dalam hayat ini. Itulah sebabnya, hayat ini dapat memperhidupkan segala kebajikan itu melalui kita. Memperhidupkan kebajikan-kebajikan itu adalah memperhidupkan Allah, karena hayat ini adalah Allah. Meskipun ketika diperhidupkan, hayat ini mempunyai banyak penyataan, seperti kasih, kerendahan hati, kelembutan, dan kesabaran, namun semuanya itu merupakan ekspresi Allah, karena semuanya itu diperhidupkan dari Allah. Segala sesuatu yang diperhidupkan dari Allah adalah ekspresi Allah, atau ekspresi hayat, karena Allah adalah hayat dan hayat adalah Allah.
V. HAYAT ADALAH KRISTUS
Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa hayat adalah Allah sendiri. Alkitab lebih-lebih menampakkan kepada kita bahwa hayat adalah Kristus. Hayat adalah Allah; dan Allah menjadi daging, yaitu Kristus. Karena itu, Kristus adalah Allah, juga adalah hayat (I Yoh. 5:12), pun yang dulunya adalah hayat Allah, apa adanya hayat Allah ada di dalam Dia (Yoh. 1:4). Karena itu, Kristus berkali-kali berkata bahwa Dia adalah hayat (Yoh. 11:25; 14:6), dan Dia datang ke bumi agar manusia bisa memiliki hayat (Yoh. 10:10). Karena itu Alkitab mengatakan, siapa saja memiliki Dia, memiliki hayat (1 Yoh. 5:12), dan Dia yang ada di dalam kita adalah hayat kita (Kol. 3:4).
Sama seperti hayat adalah Allah itu sendiri, maka hayat juga adalah Kristus. Sebagaimana memiliki hayat berarti memiliki Allah, demikian pula, memiliki hayat berarti memiliki Kristus. Sebagaimana memperhidupkan hayat berarti memperhidupkan Allah, maka memperhidupkan hayat juga berarti memperhidupkan Kristus. Sebagaimana hayat sama sekali tidak berbeda dari Allah, demikian juga, hayat sama sekali tidak berbeda dari Kristus. Sebagaimana menyimpang sedikit saja dari Allah bukanlah hayat, demikian juga, menyimpang sedikit saja dari Kristus bukanlah hayat, karena Kristus adalah Allah yang menjadi hayat. Melalui Kristus dan adalah Kristus, Allah dinyatakan sebagai hayat. Karena itu, Kristus adalah hayat dan hayat adalah Kristus.
VI. HAYAT ADALAH ROH KUDUS
Dalam Yohanes 14:6, sesudah Tuhan Yesus berkata bahwa Dia adalah hayat, dalam ayat 7-11 Dia memberitahu murid-murid bahwa Dia dan Allah yang adalah satu, bahkan selanjutnya dalam ayat 16-20 Dia memberi tahu hahwa Dia dan Roh Kudus juga adalah satu. (Dalam ayat 16 dan 17, Tuhan menyebut Roh Kudus sebagai "Dia", sampai ayat 18, sebutan ini berubah menjadi "Aku". Ini berarti "Dia" adalah "Aku". Jadi, hal ini memberi tahu kita bahwa Roh Kudus yang Ia katakan dalam ayat 16 dan 17, adalah diri-Nya sendiri). Dalam ayat 7-11, Dia memperlihatkan kepada kita bahwa Dia adalah perwujudan Allah, Dia ada di dalam Allah dan Allah ada di dalam Dia; Dia adalah hayat berarti Allah adalah hayat. Dalam ayat 16-20, Dia selanjutnya menyingkapkan bahwa Roh Kudus adalah perwujudan-Nya, bentuk-Nya yang lain. Saat Dia meninggalkan kita secara fisik, Roh realitas yang adalah diri-Nya sendiri sebagai Penghibur yang lain akan masuk ke dalam kita dan tinggal bersama kita. Roh yang hidup di dalam kita dan tinggal bersama kita justru adalah Dia sendiri yang hidup di dalam kita sebagai hayat kita, sehingga kita dapat hidup. Karena itu, kedua perkataan-Nya ini juga memperlihatkan kepada kita bahwa Allah adalah hayat, Allah ada di dalam Dia, juga adalah Dia di dalam Roh Kudus. Allah menjadi hayat di dalam Dia, Dia juga menjadi hayat di dalam Roh Kudus. Karena itu, Dia adalah hayat, sebagaimana Allah adalah hayat, begitu juga Roh Kudus adalah hayat. Demikianlah Yohanes 4:10, 14 memberi tahu kita bahwa air hidup yang Dia berikan adalah hayat yang kekal. Yohanes 7:38-39 selanjutnya memberi tahu kita bahwa air hidup yang mengalir keluar dari diri kita adalah Roh Kudus yang kita terima. Ini menyatakan bahwa Roh Kudus adalah hayat yang kekal. Roh Kudus yang kita terima adalah hayat yang kekal yang kita alami, atau Kristus yang kita alami sebagai hayat. Hayat yang kekal, atau Kristus sebagai hayat, adalah untuk kita alami sebagai Roh Kudus. Karena itulah Roh Kudus disebut "Roh hayat " (Rm. 8:2 Tl.).
Roh Kudus adalah "Roh hayat", karena Allah dan Kristus sebagai hayat semua tergantung pada-Nya. Dia dan hayat merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan. Dia berasal dari hayat dan hayat berasal dari Dia. Hayat adalah isi-Nya, dan Dia adalah realitas hayat. Tepatnya, Dia bukan hanya realitas hayat, bahkan adalah hayat itu sendiri.
Kita semua tahu bahwa Allah adalah Allah Tritunggal : Bapa, Putra, dan Roh. Bapa berada di dalam Putra, Putra berada di dalam Roh. Bapa di dalam Putra adalah untuk dinyatakan di antara manusia; karena itu, Putra adalah penyataan Bapa. Putra di dalam Roh adalah untuk masuk ke dalam manusia; karena itu, Roh adalah masuknya Putra ke dalam kita. Bapa adalah sumber hayat, yaitu hayat itu sendiri. Karena Putra adalah penyataan Bapa (1 Tim. 3:16), maka Dia adalah penyataan hayat (1 Yoh. 1:2). Dan karena Roh adalah masuknya Putra ke dalam kita, maka Dia juga adalah hayat yang masuk ke dalam kita. Pada mulanya, hayat adalah Bapa, di dalam Putra dinyatakan di antara manusia, dan di dalam Roh masuk ke dalam manusia agar manusia mengalaminya. Demikianlah Roh itu menjadi Roh hayat. Karena Roh ini adalah Roh hayat, maka manusia dapat menerima hayat melalui Roh ini, dan sewaktu manusia menaruh pikirannya di atas Roh, adalah hayat (Rm. 8:6). Karena Roh ini adalah Roh hayat, maka ketika kita memakai roh kita untuk menyentuh Roh ini, kita menyentuh hayat; ketika kita berkontak dengan Roh ini, kita berkontak dengan hayat; ketika kita menaati Roh ini, kita mengalami hayat.
Jadi, singkatnya, hayat adalah Allah Tritunggal. Namun bagi kita, hayat bukanlah Allah Tritunggal yang berada di surga, tetapi Allah Tritunggal yang mengalir. Mengalirnya Allah Tritunggal berarti isi-Nya, yaitu diriNya sendiri, pertama-tama mengalir melalui Kristus, kemudian mengalir di dalam Roh Kudus, untuk kita terima sebagai hayat. Jadi, ketika kita menjamah Allah di dalam Kristus, juga di dalam Roh Kudus, kita menjamah hayat, karena hayat adalah Allah di dalam Kristus, juga di dalam Roh Kudus.