JALAN KELUARNYA HAYAT
Sekarang kita akan melihat butir ketiga belas mengenai pengenalan hayat, yaltu jalan keluarnya hayat. Kalau kita mau mengenal jalan hayat dan menuntut pertumbuhan hayat, kita harus jelas tentang jalan keluarnya hayat, yaitu jalan yang dilalui hayat untuk keluar dari diri kita.
Hampir setiap butir dalam bab ini sudah kita singgung dalam bab sebelumnya. Sekarang kita akan membahas lagi setiap butir itu secara khusus.
I. TEMPAT HAYAT BERADA - ROH
Allah melahirkan kita kembali melalui Roh-Nya, dan dengan demikian hayat-Nya dibawa ke dalam diri kita; karena itu roh kita adalah tempat hayat berada.
Ketika hayat Allah, yang ada dalam Roh Allah, memasuki roh kita, ketiganya berpadu menjadi satu dan menjadi apa vang disebut Roma 8:2 sebagai "Roh hayat". Karena itu, roh hayat dalam diri kita adalah tempat hayat berada.
II. PINTU KELUAR HAYAT - HATI
Dalam bab yang berjudul Hukum Hayat, kita telah membahas bahwa hati adalah jalan masuk dan keluar hayat seperti sebuah sakelar hayat; karena itu hati sangat erat hubungannya dengan pertumbuhan hayat.
Matius 13 merupakan bagian Alkitab yang dengan jelas mengatakan bahwa hati berhubungan dengan pertumbuhan hayat. Di situ, Tuhan memberi tahu kita bahwa hayat adalah benih dan hati adalah tanahnya; karena itu hati adalah bempat hayat bertumbuh dari dalam diri kita. Dapat atau tidaknya hayat tumbuh dari dalam diri k1ta, seluruhnya tergantung pada keadaan hati kita. Kalau hati benar, lurus, hayat dapat tumbuh; tetapi kalau hati tidak benar, tidak lurus, hayat tidak dapat tumbuh. Jadi, kalau kita mau hayat bertumbuh dari dalarn diri kita, kita harus menanggulangi hati kita.
Matius 5:8 mengatakan, "Berbahagialah orang yang suci (murni) hatinya, karena mereka akan melihat Allah." Pernyataan ini memberi tahu kita bahwa hati kita perlu menjadi murni- Menanggulangi hati berarti menanggulangi kemurnian hati, yaitu membuat hati kita menginginkan Allah, mengasihi Allah, dan cenderung kepada Allah semata, tidak mengasihi yang lain atau menginginkan yang lain selain Allah. Ketika hati kita ditanggulangi dan menjadi murni, hati kita menjadi benar dan lurus. Dengan demikian hayat dapat bertumbuh.
III. PINTU KELUAR HAYAT
Hati adalah pintu keluar hayat, tempat hayat bertumbuh, namun kalau hayat bertumbuh dari hati, hayat itu harus melewati hati nurani, emosi, pikiran, dan tekad - yaitu keempat bagian hati. Jadi, keempat bagian ini menjadi tempat yang dilewati oleh hayat. Karena itu, kita harus melihat hubungan antara keempat bagian ini dengan pertumbuhan hayat.
1. Hati Nurani
Ketika hayat bertumbuh diri kita, maka hayat itu melewati (melalui) hati nurani kita. Hati nurani seharusnya tanpa rasa bersalah. Menanggulangi hati nurani berarti membuat hati nurani tanpa rasa bersalah.
Sebelum kita diselamatkan, ketika kita masih berdosa, perilaku kita sering menyakiti Allah dan bersalah kepada manusia; hati kita kotor dan licik; karenanya hati nurani menjadi gelap, penuh dengan pelanggaran dan kebocoran serta sama sekali tidak bersih. Karena itu, begitu kita diselamatkan, kita harus menanggulangi hati nurani. Ketika kita diselamatkan, sebagian besar dari pelajaran-pelajaran yang kita pelajari, seperti mengganti rugi atas hutang-hutang yang lampau, membereskan perkara-perkara yang lampau, dan sebagainya, membuat kita menanggulangi hati nurani hingga menjadi bersih dan tanpa pelanggaran, bahkan sejak permulaan mengikuti Tuhan. Sesudah itu, selama umur hidup kita mengikuti Tuhan, karena kita mungkin bisa gagal dan menjadi lemah sehingga jatuh ke dalam dosa dan daging, atau menjadi tercemar dan dijajah oleh dunia, pula hati nurani kita kembali tertuduh dan bocor, maka kita perlu terus-menerus menanggulangi hati nurani kita hingga bebas dari pelanggaran. Satu Timotius 1:19 mengatakan, "Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka." Ini menunjukkan kepada kita bahwa menanggulangi hati nurani sangatlah berkaitan dengan pertumbuhan hayat. Begitu kita mengesampingkan hati nurani dan mengabaikannya, hayat dengan segera terhalang dan terkurung. Karena itu, kalau kita mau bertumbuh dalam hayat, mau agar dalam diri kita hayat memiliki jalan keluar dan bertumbuh dari hati kita, kita harus menanggulangi hati nurani kita.
Menanggulangi hati nurani berarti menanggulangi semua pelanggaran kegelisahan, dan ketidakdamaian perasaan nurani. Di hadapan Allah, entah kita menjadi tidak benar karena dosa, menjadi tidak kudus karena sebagian dunia telah menduduki hati kita, atau menjadi tidak damai karena keadaan tidak harmonis lainnya, hati nurani kita akan menyalahkan (menegur) kita dari dalam sehingga kita memiliki perasaan bersalah dan tidak damai di hadapan Allah. Kalau kita mau. menanggulangi hati nurani, kita harus memperhatikan perasaan-perasaan dalam hati nurani. Karena itu, menanggulangi hati nurani berarti menanggulangi perasaan-perasaan dalam hati nurani. Setelah kita menanggulangi perasaan-perasaan itu, hati nurani kita bisa menjadi sangat bersih dan mantap, tidak ada rasa bersalah atau tuduhan. Dengan demikian hayat dapat secara wajar bertumbuh dari diri kita.
Dalam pengalaman kita menanggulangi hati nurani hingga bersih seluruhnya, sering kali ada suatu situasi saat kita menanggulangi hati nurani secara berlebihan. Ini berarti hati nurani ditanggulangi hingga menjadi terlalu sensitif bahkan hampir membuatnya menjadi lemah. Dalam kondisi ini, orang tidak berani bergerak atau pun bertindak : karena setiap gerakan akan mendatangkan rasa bersalah, dan setiap perbuatan mendatangkan rasa tidak tenang. Ini sepertinya sudah berlebihan; namun dalam tahap awal belajar, kita perlu menanggulangi hati nurani secara demikian.
Masa paling hebat saat saya menanggulangi hati nurani saya adalah tahun 1935. Pada waktu itu, saya sepertinya mengalami persoalan mental. Sebagai contoh, ketika saya pergi ke rumah orang lain, sesudah mencapai pintu masuk, kalau tidak ada orang yang membuka pintu rumah, saya tidak berani membukanya dan masuk. Ketika saya masuk ke ruang tamu, kalau tidak ada orang yang mempersilakan saya duduk, saya tidak berani duduk; dan kalau saya duduk juga, dalam diri saya, saya akan merasa bahwa saya telah melanggar hak orang lain. Kalau di depan saya ada koran, dan tidak ada orang yang menawari saya untuk membacanya, saya juga tidak berani membacanya; dan kalau saya akhirnya membacanya, saya juga akan merasa bahwa saya telah melanggar hak orang lain. Pada waktu itu, kalau saya menulis surat, saya harus menulis sampai tiga atau empat kali. Kali pertama saya menulis, saya merasa beberapa kata di dalamnya tidak tepat, lalu saya merobeknya dan menulis lagi. Sesudah menulis untuk kali kedua, saya kembali merasa beberapa kata tidak tepat, lalu saya merobeknya dan menulis lagi untuk kali ketiga. Saya juga tidak berani berbicara kepada orang lain. Kalau saya berbicara, saya merasa telah melakukan beberapa kesalahan; entah perkataan saya terasa tidak tepat, atau saya berbicara terlalu banyak; dan kalau saya tidak menanggulanginya, saya tidak bisa merasa tenang.
Suatu saat, di Shanghai saya tinggal dengan saudara lainnya dalam sebuah kamar yang kecil. Kalau kami mau membasuh muka, kami harus membawa air ke kamar. Kamar kami sangat sempit; sehingga walaupun kami sangat hati-hati, kami pasti tetap akan memercikkan beberapa tetes air ke tempat tidur orang lain. Pada waktu itu, saya sering kali memercikkan air ke tempat tidur saudara itu. Meskipun setelah beberapa saat tempat tidur itu sudah kering kembali, dan pendeknya tidak bisa dianggap sebagai dosa, namun hati nurani saya tetap tidak bisa tenang dan merasa bersalah. Saya hanya dapat mengaku kepadanya dan meminta maaf, sambil berkata, "Saudara, maafkan saya, saya telah memercikkan beberapa tetes air ke tempat tidurmu." Ketika saya mengaku kepadanya demikian, hati nurani saya kembali menjadi tidak tenang. Jelas sekali hanya tiga tetes air; bagaimana saya bisa berkata "beberapa tetes"? Saya hanya dapat mengaku lagi. Di siang hari, saya agak kurang hati-hati; saya menginjak sepatunya yang berada di bawah tempat tidurnya, dan kembali hati nurani saya tidak mau membiarkannya begitu saja. Saya harus mengaku lagi. Setiap hari dari pagi hingga malam, saya berurusan dengan jenis dosa ini. Akhirnya saudara itu menjadi tidak sabar lagi, dan saya juga malu untuk membuat pengakuan lagi; namun kalau saya tidak mengaku, maka hal itu tidak akan beres. Suatu hari, ada suatu kesalahan yang lain lagi; kalau saya mengaku kepadanya, saya takut dia akan kehilangan kesabaran; kalau saya tidak mengaku, saya tidak dapat tenang. Pada malam hari, sesudah makan, dia mau pergi jalan-jalan, dan saya menawarkan untuk pergi bersamanya. Maka saya pun mendapat kesempatan untuk memberi tahu dia, dan berkata, "Saya telah berbuat salah lagi, maafkan saya." Lalu saudara itu berkata, "Orang yang paling buruk adalah orang yang selalu berbuat salah, tetapi tidak mau mengaku. Orang yang paling baik adalah orang yang tidak berbuat salah dan tidak mengaku. Orang yang tidak baik tetapi juga tidak buruk adalah orang yang berbuat salah, dan dia juga mengakuinya." Sesudah saya mendengar perkataannya itu, saya berkata dalam hati, "Tuhan, kasihanilah saya! Saya tidak mau menjadi orang yang paling buruk, dan saya tidak bisa menjadi orang yang paling baik; saya hanya dapat menjadi orang yang tidak buruk dan juga tidak baik."
Selama waktu itu, saya sungguh-sungguh sering menanggulangi hati nurani saya. Namun sekarang, jika saya menoleh ke belakang, saya nampak hal itu memang perlu. Bahkan orang yang mau memiliki pertumbuhan hayat yang sesungguhnya, harus melewati periode menanggulangi hati nurani dengan cara yang berat seperti itu. Kalau nurani tidak ditanggulangi secara memadai, maka hayat tidak dapat bertumbuh dengan benar.
Setelah hati nurani kita melewati penanggulangan yang demikian hebat dan berat, maka perasaannya akan makin lama makin peka. Seperti kaca jendela, bila kaca itu tertutup debu dan kotor, cahaya tidak dapat menembus masuk, tetapi kalau kita lap sedikit, kaca itu akan menjadi agak jernih. Semakin kita mengelap debunya, kaca itu makin jernih, dan cahaya makin bisa menerobos masuk. Demikian juga dengan menanggulangi hati nurani. Makin ditanggulangi, hati nurani akan menjadi makin jernih dan terang, perasaannya akan makin peka.
Semakin peka hati nurani, hati pun semakin lembut, karena di dalam hati yang lembut, terdapat hati nurani yang peka. Begitu ada sedikit perasaan, segera merasakannya. Kita dapat mengatakan bahwa hati nurani yang peka pasti berada dalam hati yang lembut. Semua hati yang keras memiliki nurani yang tumpul. Makin tumpul hati nurani seseorang, makin keras hatinya. Karena itu bila Roh Kudus mau melembutkan hati kita, Dia selalu menggerakkan hati nurani kita lebih dulu. Ketika mengabarkan Injil, kita selalu menyinggung tentang dosa; karena kita bermaksud menggerakkan hati nurani orang sehingga orang bisa merasa bahwa dirinya melakukan banyak kesalahan dan pelanggaran. Hati nurani manusia digerakkan, hatinya juga dilembutkan; baru kemudian dia mau menerima keselamatan dari Tuhan.
Karena hati nurani yang peka dan tanpa kesalahan dapat melembutkan hati, maka hati nurani itu juga dapat mempersilakan hayat bertumbuh dari diri kita. Jadi hati nurani merupakan tempat pertama yang dilalui hayat waktu bertumbuh atau bagian pertama dari jalan keluar pertumbuhan hayat.
2. Emosi
Ketika hayat bertumbuh dari diri kita, tempat kedua yang dilaluinya adalah emosi kita. Berhubungan dengan emosi berarti berhubungan dengan masalah kasih. Menanggulangi emosi berarti membuat emosi kita dengan gairah mengasihi Tuhan.
Kita tahu, apa pun yang dilakukan manusia, letak permasalahannya ialah suka atau tidak suka. Kalau suka, orang akan melakukannya; kalau tidak, orang tidak mau melakukannya. Kalau kita mau mengizinkan hayat Tuhan dalam diri kita bertumbuh dengan bebas, kita juga perlu merasa senang bekerja sama dengan-Nya dan mau membiarkan Dia bekerja. Karena itu ketika Allah mau bekerja atas diri kita, sering kali Dia terlebih dulu menggerakkan emosi kita untuk membuat kita mau bekerja sama denganNya. Banyak bagian dalam Alkitab yang berbicara tentang mengasihi Allah. Semuanya disebutkan dengan maksud menggugah emosi kita. Misalnya, dalam Yohanes 21, Tuhan berkata kepada Petrus, "Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?" Ini berarti Tuhan ingin menggugah emosi Petrus; Dia ingin Petrus mengasihi-Nya secara mutlak, agar hayat-Nya dapat menemukan jalan keluar dari diri Petrus. Juga dalam Roma 12:1-2, rasul Paulus berkata, "... oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus ... sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah ..." Ketika dia berbicara tentang kemurahan Allah, tujuannya juga untuk menggugah emosi kita, untuk membuat kita mengasihi Tuhan, mengingini Tuhan, mencari Tuhan, dan mempersembahkan diri kepada-Nya; baru setelah itu kita dapat mengerti hal-hal tentang Allah. Contoh-contoh ini menunjukkan kepada kita bahwa kalau kita mau hayat Tuhan memiliki jalan keluar dari diri kita, di samping memiliki hati nurani tanpa rasa bersalah, kita juga perlu memiliki emosi yang mengasihi Tuhan.
Emosi yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan berkaitan erat dengan hati dan hati nurani kita. Satu Timotius 1:5 mengatakan, "Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni."
Ayat ini berbicara tentang emosi, hati, dan hati nurani askaligus. Di sini Paulus bermaksud memberi tahu Timotius bahwa banyak perkataan manusia yang tidak ada artinya, hanya kasih sajalah yang terhitung. Namun dari manakah kasih ini berasal? Kasih ini berasal dari hati yang suci dan hati nurani yang murni. Jadi kita perlu memiliki hati yang suci dan hati nurani yang murni, baru kemudian kasih bisa muncul. Dengan demikian, ketika kita menolong orang lain, mula-mula kita harus menolong mereka menanggulangi hati dan hati nurani mereka. Ketika hati dan hati nurani ditanggulangi, emosi dapat dengan mudah mengasihi dan damba kepada Tuhan. Bila ada kasih dalam emosi, maka kasih itu dapat memberikan jalan keluar bagi hayat Allah dari roh kita. Jadi emosi merupakan tempat kedua yang dilalui pertumbuhan hayat, atau bagian kedua dari jalan keluar bagi pertumbuhan hayat.
3. Pikiran
Bagian ketiga yang dilalui pertumbuhan hayat adalah pikiran. Pikiran perlu diperbarui. Menanggulangi pikiran berarti membiarkan pikiran kita diperbarui dan dibebaskan dari semua pikiran lama. Roma 12:2 mengatakan, "Janganlah kamu menjadi serupa deagan dunia ini, tetapt berubahlah oleh pembaruan budimu (pikiranmu), sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah : apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan yang sempurna." Ini menunjukkan bahwa bila kita memiliki pikiran yang diperbarui dan diubah, barulah kita dapat mengerti kehendak Allah dan mempersilakan hayat Tuhan lewat dan bertumbuh secara wajar. Jadi pikiran juga berkaitan erat dengan pertumbuhan hayat.
Semua pekerjaan pembaruan atas segenap diri kita dikerjakan oleh Roh Kudus (Tit. 3:5). Karena itu, berbicara tentang pembaruan pikiran, kita masih harus mulai dengan pekerjaan Roh Kudus. Kita tahu bahwa permulaan pekerjaan Roh Kudus dalam diri kita adalah melahirkan kembali kita. Sesudah itu, kebanyakan pekerjaan lanjutan Roh Kudus dalam diri kita bertujuan memperbarui kita. Roh Kudus yang melahirkan kembali kita membuat kita mendapatkan hayat Allah dan memiliki sifat Allah. Roh Kudus yang melahirkan kembali kita juga membuat kita mengenal Allah, mengerti kehendak Allah, dan memiliki pikiran Allah.
Bagian-bagian dalam diri kita yang diperbarui Roh Kudus dalam pekerjaan pembaruan-Nya adalah roh dan pikiran. Dalam bab Pengenalan Batiniah, kita sudah membahas bahwa kalau kita mau mengenal Allah, di pihak kita, adalah berdasarkan roh dan pikiran. Terlebih dulu ada pengenalan intuisi dalam roh, kemudian kita memperoleh pemahaman dalam pikiran; dengan demikian kita memahami kehendak Allah dan mengenal Allah. Jadi roh dan pikiran dapat dikatakan menjadi seperangkat organ bagi kita untuk mengenal Allah. Memiliki roh saja tidaklah cukup; memiliki pikiran saja juga tidak cukup. Kita harus memiliki keduanya, roh dan pikiran. Seperti bola lampu yang bersinar karena cahaya listrik. Hanya ada bola lampu saja tidak cukup; kawat pijar saja juga tidak cukup. Keduanya perlu bekerja sama. Karena pembaruan Roh Kudus bertujuan agar kita mengenal Allah, maka Dia tentunya memperbarui seperangkat organ kita untuk mengenal Allah, yaitu roh dan pikiran kita.
Efesus 4:22-23 mengatakan, "yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama,...supaya kamu dibarut di dalam roh pikiranmu" (Tl.). Membicarakan masalah pembaruan, ayat ini menggabungkan pikiran dan roh dan menyebut roh sebagai "roh pikiran". Meskipun mengerti kehendak Allah merupakan urusan pikiran, namun pikiran saja tidak dapat langsung menyentuh Allah dan mengenal Allah. Untuk memahami kehendak Allah, terlebih dulu kita harus menggunakan roh untuk menyentuh dan merasakan Allah; kemudian menggunakan pikiran untuk mengerti maksud intuisi dalam roh. Jadi, untuk memahami kehendak Allah, ditinjau dari aspek pikiran, harus ada kerjasama roh; ditinjau dari aspek roh, harus berkaltan dengan pikiran dan juga menjadi bagian dari pikiran. Seperti kawat pijar dalam bola lampu yang berkaitan dengan bola lampu dan juga merupakan bagian dari bola lampu itu. Karena itu, dalam ayat ini Alkitab menyebut roh kita sebagai "roh pikiranmu". Ketika Roh Kudus memperbarui "roh pikiran" kita, berarti Dia memperbarui roh dan pikiran kita. Roh Kudus memperbarui roh kita karena dalam hal mengenal Allah roh itu menjadi bagian dari pikiran; karena itu pembaruan pikiran yang sesungguhnya selalu dimulai dengan pembaruan roh. Roh Kudus terlebih dulu memperbarui roh kita, kemudian Dia memperbarui pikiran kita; dengan demikian "roh pikiran" kita diperbarui.
Ketika roh pikiran kita diperbarui oleh Roh Kudus, roh kita menjadi lincah dan peka. Setiap kali Roh Kudus bekerja dan mengurapi, roh ini dapat merasakan dan mengenali. Bersamaan dengan itu, pikiran kita juga jernih dan cekatan, dapat segera menerjemahkan maksud intuisi dalam roh. Demikianlah kita dapat memahami kehendak Allah. Saat ini, apa yang dipikirkan dan dipertimbangkan oleh pikiran kita berada pada pihak roh; semua dipakal untuk kepentingan roh, bukan dipakai untuk kepentingan daging. Pikiran kita tidak lagi bersimpati kepada daging, melainkan bersimpati kepada roh. Roma 8:6 menyebut pikiran seperti ini sebagai "keinginan Roh". Karena "keinginan Roh" ini selalu bersimpati kepada perkara-perkara roh, memikirkan roh, maka ia mempersilakan hayat Allah terus bertumbuh dari roh kita.
Sebagai kesimpulan, mengenai pembaruan pikiran, terdapat tiga butir utama. Pertama, Roma 12 mengatakan bahwa pikiran perlu diperbarui dan menanggalkan pikiranpikiran lama. Kedua, Efesus 4 mengatakan bahwa pikiran memerlukan kerja sama roh, supaya bergabung sebagai kesatuan dengannya sehingga roh dapat disebut sebagai "roh pikiran". Ketiga, Roma 8 mengatakan bahwa pikiran harus berdiri di pihak roh, untuk kepentingan roh, menjadi milik roh, memikirkan roh, bersimpati kepada roh, dan memperhatikan gerakan dan perasaan roh, sehingga menjadi "pikiran roh". Jadi, ketika pikiran diperbarui, bekeria sama dengan roh, dan berdiri di pihak roh, maka pikiran itu dapat mengizinkan hayat lewat dan bertumbuh dengan lancar tanpa rintangan. Jadi pikiran merupakan tempat ketiga yang dapat dilewati pertumbuhan hayat, atau begian ketiga dari jalan keluar pertumbuhan hayat.
4. Tekad
Keempat, pertumbuhan hayat melewati tekad kita. Kita telah melihat bahwa hati perlu menjadi suci, hati nurani perlu tanpa pelanggaran, emosi perlu mengasihi, dan pikiran perlu diperbarui. Jadi, apa yang diperlukan oleh tekad? Dari Alkitab kita melihat bahwa tekad perlu menjadi luwes. Jadi, persoalan tekad adalah menjadi luwes. Menanggulangi tekad berarti membuat tekad kita menjadi luwes.
Tekad adalah organ pengambil keputusan k1ta. Kita mau atau tidak, menentukan atau tidak, semuanya merupakan fungsi tekad. Bila kita mengatakan "Aku mau," atau "aku memutuskan," itu berarti tekad kita mau, tekad kita memutuskan. Jadi, tekad merupakan bagian paling penting dari seluruh diri kita yang menentukan tindakan dan gerakan kita. Kita boleh mengatakan bahwa tekad itu merupakan kemudi seluruh diri kita. Sama seperti perahu berputar sesuai dengan kemudi, begitu juga manusia bergerak ke depan atau ke belakang seturut dengan tekadnya.
Tekad manusia sepenuhnya independen, sepenuhnya bebas. Tekad ini tidak dapat dipaksa atau didorong untuk melakukan sesuatu yang dilawannya atau tidak disetujuinya. Sama seperti pada manusia, demikian juga tekad Allah. Jadi, apakah hayat Allah dapat bertumbuh dari diri kita, sangat berhubungan dengan apakah tekad kita luwes dan patuh. Kalau tekad kita keras, kaku, suka memberontak, dan dalam segala hal bertindak menurut rencana kita sendiri, maka tidak ada jalan bagi hayat Allah untuk bertumbuh. Kalau tekad kita lunak, luwes, dan mau bertindak menurut pekerjaan hayat, maka hayat Allah dapat bertumbuh. Karena itu tekad kita merupakan tempat keempat yang dilalui pertumbuhan hayat, atau bagian keempat dari jalan keluar bagi pertumbuhan hayat.
Kita harus memperhatikan bahwa setiap kali kita menyinggung hati, selalu mengacu kepada bagian ini, yaitu hati nurani, emosi, pikiran, dan tekad. Bila kita mengatakan bahwa hati orang tidak murni, ini mengacu kepada hati secara keseluruhan. Bila kita mengatakan bahwa hati seseorang tanpa rasa bersalah, tanpa tuduhan, ini mengacu kepada hati nurani. Bila kita mengatakan bahwa hati seseorang mengasihi Allah, ini mengacu kepada emosi. Bila kita mengatakan bahwa hati seseorang tidak paham, ini mengacu kepada pikiran. Bila kita mengatakan bahwa hati orang ini keras dan membatu, ini mengacu kepada tekad. Bila kita berbicara tentang menanggulangi hati kita, ini berarti menanggulangi kelima aspek hati kita.
Kalau kita dapat menanggulangi hati kita sampai hati kita suci, tanpa pelanggaran, mengasihi Allah, jernih dan cekatan, serta luwes, maka kita memiliki hati yang berguna bagi hayat Allah, dan kita dapat mengizinkan hayat Allah mempunyai jalan keluar yang lancar dari dalam diri kita.
AKHIR KATA
Setelah melihat tempat hayat berada, jalan keluar hayat, dan tempat lewat hayat, kita tahu bahwa kalau kita ingin hayat Allah mempunyai jalan untuk bertumbuh dari diri kita, kita harus menanggulangi roh, hati, hati nurani, emosi, pikiran, dan tekad kita, sampai tidak ada persoalan lagi di dalamnya. Ini karena hayat Allah mengambil roh kita sebagai tempat tinggalnya, dan mengambil hati, nurani, emosi, pikiran, dan tekad kita sebagai Jalan keluarnya. Kalau salah satu dari keenam organ ini bermasalah, maka hayat Allah menjadi terhalang dan tidak dapat keluar. Karena itu, kalau kita mau bertumbuh dalam hayat, sesungguhnya tidaklah sederhana. Kita tidak hanya harus menyentuh roh dan mengenal roh, kita juga harus menanggulangi setiap, bagian hati kita. Kalau kita gagal dalam satu hal saja, kita tidak akan berhasil. Itulah sebabnya pada masa kini sangat sedikit saudara saudari yang bertumbuh dalam hayat, dan pertumbuhan mereka sangat lambat!
Kadang-kadang Anda mehhat saudara yang tidak dapat Anda katakan tidak mengasihi Tuhan; karena sesungguhnya dia memang sangat baik dalam banyak hal. Tetapi karena pikirannya "antik", maka seluruh masa depan rohaninya menjadi lumpuh. Beberapa saudari telah menanggulangi hati nurani mereka, dan tidak ada masalah dengan pikiran mereka; namun karena mereka gagal dalam emosi mereka, karena mereka memiliki kasih lain di samping Tuhan, maka kerohanian mereka juga tidak begitu bertumbuh. Beberapa saudara memiliki tekad keras dalam banyak hal, setelah memaksakan pikiran mereka, tidak mau dikoreksi, dan tidak mampu tunduk kepada sorotan terang; akibatnya hayat juga tidak dapat keluar. Jadi, untuk menanggulangi semua bagian ini dalam kehidupan nyata sehari-hari kita sungguh tidak mudah. Kalau ada saudara atau saudari yang sama sekali tidak memiliki masalah dalam hal-hal ini, itu sungguh-sungguh ajaib. Semoga Allah membelaskasihani kita!