← Daftar isi Apakah Hayat? · bab 12/14

APAKAH PERTUMBUHAN HAYAT ITU?

Sekarang kita akan melihat butir kedua belas mengenai pengenalan hayat, yaitu pertumbuhan hayat. Kalau kita ingin memiliki pengenalan hayat lebih lanjut, kita juga harus mengetahui apakah pertumbuhan hayat itu. Banyak saudara saudari yang kasihnya kepada Allah tidak dapat dikatakan tidak bergairah, dan harga yang telah mereka bayar juga tidak dapat dianggap tidak cukup, namun karena mereka tidak mengetahui apakah pertumbuhan hayat yang sesungguhnya, maka mereka mempunyai banyak pandangan dan pencarian yang keliru, akibatnya pertumbuhan hayat yang sesungguhnya dalam diri mereka sangatlah terbatas. Betapa tidak menguntungkannya hal ini! Karena itu, agar kita. dapat memiliki pengenalan dan pencarian yang tepat dalam jalan hayat, kita akan menggunakan sedikit waktu untuk membahas apakah pertumbuhan hayat itu.

Namun sebelum membahas apakah pertumbuhan hayat, kita akan melihat sisi sebaliknya dulu, yaitu apakah yang bukan pertumbuhan hayat. Ini akan memberi kita pengenalan yang lebih dalam dan lebih tepat.

I. PERTUMBUHAN HAYAT

BUKAN PERBAIKAN KELAKUAN

Perbaikan kelakuan berarti perubahan kelakuan orang dari buruk menjadi bijak, dari jahat menjadi baik, itulah yang biasanya disebut orang "meninggalkan cara-cara yang jahat dan kembali kepada yang benar" atau "keluar dari yang jahat dan mengikuti yang baik". Misalnya, orang yang semula sangat sombong, kini menjadi rendah hati. Seseorang sering kali membenci orang, kini dia mengasihi orang; tadinya berwatak pemberang dan cepat sekali marah, kini menjadi lembut dan tidak lagi berwatak pemberang. Semua itu dapat dianggap sebagai perbaikan kelakuan. Kalau kelakuan seseorang mengalami perbaikan, apakah ini berarti pertumbuhan hayat? Tidak!

Mengapa pertumbuhan hayat bukan perbaikan kelakuan? Karena kelakuan dan hayat merupakan dua hal yang jelas-jelas berasal dari dua dunia yang berbeda. Sebagaimana yang jahat berbeda dengan hayat, begitu juga yang baik berbeda dengan hayat. Sebagaimana seperti yang jahat bukanlah hayat, begitu juga yang baik bukanlah hayat. Yang jahat dan yang baik berasal dari dunia yang sama, meskipun berbeda sifatnya; keduanya berbeda dengan hayat, dan keduanya bukanlah hayat. Karena itu dalam Alkitab, yang baik dan yang jahat bukan dua pohon, tetapi satu pohon; hayat (kehidupan) merupakan pohon yang lain, sesuatu dari dunia lain, kerajaan lain (Kej. 2:9). Kita dapat mengatakan bahwa yang baik dan yang jahat di satu pihak, dan hayat di pihak lain; jelas berasal dari dua golongan yang berbeda. Jadi, berdasarkan tekad dan usaha diri sendiri, seseorang dapat memperbaiki kelakuannya, namun masih tetap sangat kecil (muda) dan lemah dalam hayat Allah. Karena seluruh perbaikannya terlepas dari hayat. Perbaikan itu berasal dari pekerjaannya sendiri, bukan berasal dari hayat; apa yang dia perbaiki bukanlah hasil pertumbuhan hayat. Karena itu, pertumbuhan hayat bukanlah perbaikan kelakuan.

II. PERTUMBUHAN HAYAT

BUKAN EKSPRESI IBADAH

Apa itu ekspresi ibadah? Ekspresi ibadah berbeda dengan perbaikan kelakuan. Perbaikan kelakuan ditujukan terhadap orang lain, berarti kelakuan dan karakter seseorang di hadapan orang lain telah diperbaiki dan menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Ekspresi ibadah ditujukan kepada Allah, berarti sikap seseorang di hadapan Allah penuh dengan rasa hormat dan rasa takwa, di samping beribadah dan tulus hati. Namun baik perbaikan kelakuan maupun ekspresi ibadah, keduanya bukanlah pertumbuhan hayat. Beberapa orang beriman mungkin sangat hormat dan khidmat kepada Allah; mereka tidak berani bersikap tidak hormat atau bertindak sembrono. Kita tidak dapat mengatakan ekspresi-ekspresi ini tidak baik, tetapi semua itu juga bukan pertumbuhan hayat, karena orang-orang beriman itu hanya melihat Allah sebagai Yang lebih tinggi dari segala sesuatu, Yang layak dihormati dan ditakuti; karena itu mereka memiliki hati yang takwa dan ekspresi ibadah. Namun mereka mungkin tidak memiliki pengenalan atau pengalaman sedikit pun, mengenai bagaimana Allah dalam Kristus tinggal dalam manusia sebagai hayat manusia, dan bagaimana Dia dalam diri manusia menjadi Allah bagi manusia melalui pekerjaan hukum hayat. Meskipun mereka memiliki ekspresi ibadah, namun ekspresi seperti itu bukan disebabkan oleh pertumbuban hayat Allah dalam diri mereka; karenanya itu bukan petunjuk bahwa mereka memiliki pertumbuhan hayat dalam diri mereka. Karena itu pertumbuhan hayat juga bukan ekspresi ibadah.

III. PERTUMBUHAN RAYAT

BUKAN PELAYANAN YANG GIAT

Apa itu pelayanan yang giat? Artinya, tadinya seseorang yang telah percaya hanya acuh tak acuh saja dan dingin terhadap hal-hal tentang Allah; kini dia dengan penuh semangat melayani Allah. Atau, tadinya jarang bersidang, kini hadir di setiap sidang; tadinya tidak peduli mengenai gereja, kini ikut dalam semua jenis pelayanan gereja. Meskipun pelayanan yang giat menyatakan kegairahan orang beriman kepada Tuhan dan ketekunannya dalam melayani Tuhan, dan meskipun sering kali dipuji oleh orang lain, namun sikap giat seperti itu mungkin sekali tercampur dengan kesenangan, kesibukan, dan minat manusia. Sangat mungkin juga pelayanan seperti itu dilakukan menurut kekuatan jiwa manusia dan bergantung pada kekuatan manusia, bukan dari pimpinan Roh Kudus, bukan bergantung pada hayat Kristus, dan juga bukan untuk membantu manusia agar memiliki kesatuan yang lebih dalam dengan Allah. Karena itu, pelayanan giat seperti itu tidak berasal dari hayat dan bukan dari hayat; itu bukan pertumbuhan hayat.

Kita melihat dalam Alkitab bahwa sebelum rasul Paulus diselamatkan, dia melayani Allah dengan giat (Kis. 22:3). Pada waktu itu, meskipun dalam dirinya dia belum menerima hayat Allah, dia dapat melayani Allah secara luaran dengan kesenangan dan kekuatannya sendiri dengan cara yang sangat giat. Ini menunjukkan kepada kita bahwa melayani Allah dengan giat, mungkin saja sama sekali tidak berhubungan dengan hayat, sedikit pun tidak menunjukkan keadaan hayat seseorang. Karena itu pertumbuhan hayat juga bukan pelayanan yang giat.

IV. PERTUMBURAN HAYAT

BUKAN PENINGKATAN PENGENALAN

Meskipun peningkatan pengenalan rohani orang beriman melalui lebih banyak mendengarkan berita-berita, lebih banyak mengenal kebenaran, lebih mengerti Alkitab, dan lebih memahami istilah-istilah rohani, merupakan semacam pertumbuhan, namun itu pun bukan pertumbuhan hayat. Peningkatan pengenalan seperti itu hanya menyebabkan pikirannya menjadi maju dan makin terbuka, otaknya makin memiliki pengertian atau kemampuan untuk mengerti. Peningkatan pengenalan itu bukanlah karena Roh Kudus memberl wahyu yang lebih besar dalam dirinya, bukan pula karena hayat makin meluas dalam dirinya sehingga dia memiliki pertumbuhan dalam pengenalan yang sesungguhnya dan mengalami Kristus sebagai hayat. Peningkatan pengenalan seperti itu hanya membuat manusia menjadi sombong (1 Kor. 8:1). Semua itu tidak ada artinya di hadapan Allah (I Kor. 13:2) dan tidak ada nilai hayatnya. Jadi, perturnbuhan havat bukan peningkatan pengenalan.

V. PERTUMBUHAN HAYAT

BUKAN BERLIMPAHNYA KARUNIA

Meskipun berlimpahnya karunia rohani seperti kemampuan untuk melayani, menyembuhkan, berbahasa lidah, dan sebagainya, merupakan hal yang sangat berharga bagi orang beriman, namun itu juga bukan pertumbuhan hayat. Kuasa Roh Kudus yang luar biasa dan ajaib yang turun kepada orang beriman itulah yang menyebabkan dia mempunyai karunia-karunia itu, bukan karena hayat Allah bertumbuh dan menjadi dewasa dalam dirinya. Di satu pihak, memang mungkin bahwa manusia yang dipakai oleh Roh Kudus dapat menyatakan banyak karunia, namun di pihak lain, dia mungkin tidak mengizinkan Roh Kudus menggarapkan lebih banyak hayat Allah ke dalam dirinya. Jadi, berlimpahnya karunia belum tentu berarti pertumbuhan dalam hayat.

Orang-orang beriman di Korintus diperkaya dengan segala ungkapan dan segala macam pengenalan serta tidak kekurangan suatu karunia pun (1 Kor 1:5, 7), namun mereka masih sangat tidak dewasa dalam hayat; bahkan mereka manusia daging dan bayi-bayi dalam Kristus (I Kor. 3:1). Hal itu menunjukkan kepada kita bahwa pertumbuhan hayat juga bukan berlimpahnya karunia.

VI. PERTUMBUHAN HAYAT

BUKAN PENINGKATAN KEKUATAN

Mungkin saja seorang beriman lebih berkekuatan daripada sebelumnya dalam melayani Allah; atau mungkin juga dalam berkhotbah atau memberikan kesaksian, dia lebih mampu menggerakkan orang-orang daripada sebelumnya; mungkin juga dalam mengurus gereja atau menangani berbagai urusan, dia lebih bijaksana daripada sebelumnya. Itu semua memang peningkatan kekuatan, tetapi juga bukan pertumbuhan dalam hayat. Peningkatan kekuatan seperti itu hanyalah kekuatan luaran yang diberikan Roh Kudus kepadanya. Itu bukan karena Roh Kudus menyusunkan hayat ke dalam dirinya, menembus dan menjenuhi dia, dan kemudian terekspresikan dari dalam dirinya. Jadi, peningkatan kekuatan itu bukan dari hayat, juga bukan milik hayat. Jadi peningkatan kekuatan seperti itu bukan pertumbuhan hayat.

Lukas 9 memberi tahu kita bahwa pada mulanya, kedua belas murid yang mengikuti Tuhan menerima kekuatan dan kuasa dari Tuhan, sehingga mereka dapat menaklukkan semua setan dan menyembuhkan segala macam penyakit; namun pada waktu itu keadaan hayat rohani mereka sangat mentah. Ini cukup menunjukkan kepada kita bahwa peningkatan kekuatan bukan pertumbuhan hayat.

Dari keenam butir "bukan" di depan, kita nampak bahwa dengan mengalami perbaikan kelakuan, dengan ekspresi ibadah di hadapan Allah, atau giat melayani Allah, atau dengan meningkatkan pengenalan rohani, atau dengan berlimpahanya karunia luaran, atau pun dengan bertambahnya kekuatan kita dalam bekerja, tidaklah berarti kita bertumbuh dalam hayat. Tidak satu pun butir-butir itu yang adalah pertumbuhan hayat. Sayangnya, hampir semua orang Kristen hari ini menganggap hal-hal itu sebagai standar pertumbuhan hayat. Mereka menjelaskan bahwa ada tidaknya pertumbuhan hayat dalam diri seorang Kristen terlihat lewat kelakuannya, ibadahnya, kegiatannya, pengetahuannya, karunianya, dan kekuatannya. Penilaian seperti ini tidaklah tepat. Tembaga mirip dengan emas, namun tetap bukan emas. Demikian juga, meskipun keenam butir tadi agak mirip dengan pertumbuhan hayat, namun tetap bukan pertumbuhan hayat. Tentu saja, pertumbuhan hayat yang sesungguhnya akan memperlihatkan keenam butir tadi; namun mengukur pertumbuhan hayat hanya dengan keenam butir tadi tidaklah benar.

Lalu, apa sebenarnya pertumbuhan hayat itu? Kita perlu mempertimbangkan hal ini lagi, kali ini dari aspek positifnya.

1. PERTUMBUHAN HAYAT

ADALAH PENINGKATAN UNSUR ALLAH

Meningkatnya unsur Allah berarti diri Allah lebih banyak dibaurkan ke dalam diri kita, didapatkan oleh kita, dan menjadi unsur diri kita sendiri. Kita sudah membahas bahwa hayat adalah diri Allah, dan mengalami hayat berarti mengalami Allah; karena itu, pertumbuhan hayat adalah peningkatan unsur Allah dalam diri kita, hingga semua yang berasal dari ke-Allahan sepenuhnya terbentuk dalam diri kita, agar kita pun dapat dapat dipenuhi dengan seluruh kepenuhan Allah (Ef 3:19).

2. PERTUMBUHAN HAYAT

ADALAH PENINGKATAN PERAWAKAN KRISTUS

Karena hayat adalah diri Allah, dan Allah yang menjadi hayat kita adalah Kristus, maka Alkitab mengatakan Kristus adalah hayat kita. Kita dapat mengatakan bahwa ketika kita dilahirkan kembali, Kristus dilahirkan lagi dalam diri kita untuk menjadi hayat kita. Tetapi ketika kita pertama kali menerimanya, hayat ini masih sangat muda dan belum dewasa, yang berarti perawakan Kristus dalam diri kita sangat kecil. Ketika kita mengasihi Kristus, mencari Kristus, dan semakin mengizinkan Kristus hidup dalam diri kita dan mendapatkan diri kita, perawakan Kristus berangsur-angsur meningkat dalam diri kita. Inilah pertumbuhan hayat. Karena hayat ini adalah Kristus yang hidup dalam diri kita, maka pertumbuhan hayat adalah peningkatan perawakan Kristus dalam diri kita.

3. PERTUMBUHAN HAYAT ADALAH

PERLUASAN KEDUDUKAN ROH KUDUS

Kita juga telah membahas bahwa hayat bukan saja Allah, tetapi juga Kristus, dan juga Roh Kudus. Kita dapat mengatakan bahwa mengalami hayat berarti mengalami Roh Kudus; karena itu bertumbuh dalam hayat juga berarti mengizinkan Roh Kudus mendapatkan lebih banyak kedudukan dalam diri kita. Kalau kita lebih banyak menuruti pergerakan Roh Kudus dalam diri kita, lebih banyak menaati pengajaran Roh Kudus dalam diri kita sebagai pengurapan, maka Roh Kudus dapat meluaskan kedudukannya; demikian, hayat dalam diri kita akan bertumbuh pesat. Karena itu, pertumbuhan hayat juga berarti kedudukan Roh Kudus telah meluas dalam diri kita.

4. PERTUMBUHAN HAYAT

ADALAH PENGURANGAN UNSUR INSANI

Tiga butir sebelumnya mengungkapkan bahwa kalau dalam diri orang beriman unsur Allah meningkat, perawakan Kristus bertambah, dan kedudukan Roh Kudus diperluas, maka hayatnya telah bertumbuh. Semua butir ini adalah pembahasan dari pihak Allah. Kini kita akan membahas dari pihak kita. Pertama-tama, pertumbuhan hayat adalah pengurangan unsur insani. Pengurangan unsur insani adalah pengurangan unsur Adam, ciptaan lama dalam diri manusia, yang juga berarti pengurangan aroma manusia dan peningkatan aroma Allah. Ada saudara sangat giat, ada saudari sangat lembut; pada penampilan luar kelihatannya mereka sudah bertumbuh dalam hayat, namun mereka penuh unsur insani, aroma insani; unsurunsur itu tidak dapat menyebabkan Anda menyentuh unsur Allah atau merasakan aroma Allah. Karena itu, kalau kita mau melihat apakah seorang saudara atau saudari telah bertumbuh dalam hayat, kita tidak dapat hanya melihat bagaimana tingkah laku luar mereka, seberapa besar ukuran ibadah dan semangat mereka, atau seberapa banyak pengetahuan, karunia atau kekuatan yang mereka miliki. Kita harus melihat apakah ada peningkatan unsur Allah dalam hal-hal itu atau masih penuh unsur insani. Pengurangan unsur insani merupakan peningkatan unsur ilahi. Kalau orang beriman sungguh-sungguh bertumbuh dalam hayat, maka perkataannya, perbuatannya, kehidupannya atau pekerjaannya harus memberi kesan bahwa semua itu bukan menurut dirinya sendiri, tetapi menurut Allah, bukan karena kepintarannya, tetapi karena kasih karunia Allah; karena itu semua hal itu tidak membawa aroma manusia, tetapi lebih membawa aroma Allah, yang juga berarti unsur insaninya telah berkurang dan unsur Allah telah bertambah. Jadi, pertumbuhan hayat bukan hanya merupakan peningkatan unsur Allah, tetapi juga pengurangan unsur manusia.

Butir ini sangat penting; namun juga sangat sulit untuk dimengerti saudara saudari. Meskipun selama lebih dari sepuluh tahun kami yang melayani Tuhan dalam ministri firman telah berbicara terus sedemikian, namun kami masih tidak mampu membicarakan hal ini ke dalam saudara saudari. Kami telah berbicara berkali-kali hingga semuanya mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai persetujuan; namun sampai pada pelaksanaannya, saudara saudari masih berpikir-pikir apakah ada perbaikan dalam kelakuan, atau giat dalam pelayanan, dan seterusnya, sebagai standar untuk menentukan adanya pertumbuhan dalam hayat. Bila kita mau menentukan keadaan orang beriman dalam hayat, kita tidak dapat melakukannya dengan melihat penampilan luarnya saja; tetapi kita harus merasakan aroma dan unsur yang dia tampilkan. Aroma Allahkah, atau aroma manusia? Unsur Allahkah, ataukah unsur manusia? Sering kali pandangan kita tidak tepat, tetapi penciuman kita tepat. Mungkin saja sehelai pakaian tertentu kelihatan sangat bersih bagi Anda, tetapi kalau Anda mengambil dan menciumnya, Anda akan tahu bahwa pakaian itu bau busuk. Jadi kalau kita mau memeriksa keadaan hayat dalam diri seseorang, maka harus dilakukan seperti menguji teh; dengan mengecapnya sedikit saja, Anda dapat mengatakan rasanya.

5. PERTUMBUHAN HAYAT

ADALAH PEREMUKAN HAYAT ALAMIAH

Peremukan hayat alamiah orang beriman juga adalah bukti pertumbuhan hayatnya. Peremukan hayat alamiah berarti seluruh kekuatan, kemampuan, pandangan, dan cara diri manusia ditanggulangi Roh Kudus dan salib hingga remuk. Misalnya, ada seorang saudara yang tadinya dalam perilakunya, dalam pekerjaannya bagi Tuhan, dan dalam mengurus gereja, bersandar pada kekuatan, kemampuan, pandangan, dan cara alamiahnya saja. Dalam segala hal, dia bersandar pada kekuatan dan kemampuan alamiahnya saja; dia menggunakan konsep dan caranya sendiri. Kemudian, dia ditanggulangi oleh salib dan didisiplinkan oleh Roh Kudus melalui lingkungan, sehingga hayat alamiahnya remuk. Kini, ketika dia pergi bekerja dan menangani berbagai urusan, dia tidak percaya kepada kekuatannya, kemampuan, pandangan, dan caranya sendiri. Orang yang hayat alamiahnya telah diremukkan seperti itu belajar untuk tidak lagi bersandar kepada kekuatan hayat alamiahnya atau hidup dengan hayat alamiahnya, tetapi terus bersandar kepada kekuatan hayat Allah dan hidup dengan hayat Allah. Dengan cara ini hayat dalam dirinya dapat bertumbuh. Jadi pertumbuhan hayat adalah peremukan hayat alamiah.

6. PERTUMBUHAN HAYAT

ADALAH PENUNDUKKAN SETIAP BAGIAN JIWA

Ketika kita membicarakan apakah pelepasan dari dosa itu, kita harus memperhatikan daging yang disalibkan; ketika kita membicarakan apakah pertumbuhan hayat itu, kita harus memperhatikan jiwa yang ditundukkan. Di pihak positif, pertumbuhan hayat adalah perluasan kedudukan Roh Kudus; di pihak negatif, pertumbuhan hayat adalah setiap bagian jiwa ditundukkan. Setiap orang yang hidup dalam hayat alamiah, adalah orang yang hidup dengan jiwa. Kita tahu bahwa jiwa memiliki tiga bagian, yaitu pikiran, emosi, dan tekad. Karena itu, hidup dengan jiwa berarti hidup dengan pikiran, emosi, dan tekad. Bagian jiwa seseorang yang paling kuat dan menonjol merupakan bagian yang paling berperan dalam hidupnya; ketika orang itu menghadapi berbagai hal, dia pasti menggunakan bagian itu untuk menghadapinya. Saudara Watchman Nee berkata bahwa hal ini sama seperti orang yang secara tidak hati-hati berjalan menabrak dinding, tentu hidungnya akan terbentur lebih dulu. Bagian tubuh mana yang tampil menonjol, bagian itulah yang akan membentur dinding lebih dulu. Keadaan jiwa kita sama seperti itu juga. Kalau pikiran seseorang merupakan bagian dirinya yang paling kuat, begitu dia berhadapan dengan sesuatu, pikirannya pasti akan lebih dulu berperan. Kalau emosinya yang paling menonjol, begitu dia berhadapan dengan sesuatu, emosinya akan bergerak lebih dulu. Kalau tekadnya yang paling kuat, begitu dia. berhadapan dengan sesuatu, pastilah tekadnya yang memimpin.

Setelah seseorang menerima cukup banyak pengendalian salib, setiap bagian jiwanya menjadi tunduk. Pikiran, emosi, dan tekadnya semua diremukkan dan ditundukkan; tidak lagi menonjol seperti sebelumnya. Kini, begitu dia menghadapi sesuatu, dia takut menggunakan pikiran, dia takut menggunakan emosi, dia takut menggunakan tekad. Pikiran tidak lagi paling dulu tampil; rohlah yang tampil lebih dulu. Emosi tidak lagi paling dulu bergerak, rohlah yang bergerak lebih dulu. Tekad tidak memimpin; rohlah yang memimpin. Ini berarti tidak membiarkan jiwa memimpin, tetapi mempersilakan roh sebagai pemimpin; tidak hidup berdasarkan jiwa, tetapi berdasarkan roh. Orang-orang seperti ini bertumbuh dalam hayat. Jadi, pertumbuhan dalam hayat berarti setiap bagian jiwa telah tunduk.

Sesudah melihat kedua belas butir mengenai pertumbuhan hayat ini, kita tahu pertumbuhan hayat yang sesungguhnya; dari sudut pandang kita, merupakan masalah pengurangan, peremukan, dan penundukkan; sedangkan dari sudut pandang Allah merupakan masalah peningkatan, pertumbuhan, dan perluasan. Kita bisa mengatakan bahwa semua ini adalah pengenalan mendasar yang harus kita miliki untuk mencapai pertumbuhan hayat, ini juga sangat berkaitan dengan pengalaman rohani, yang kita bicarakan dalam buku yang berjudul "Pengalaman Hayat". Karena itu, kita harus memahami dengan tuntas dan mengenal dengan tepat semua butir ini.