← Daftar isi Apakah Hayat? · bab 11/14

PENGENALAN BATINIAH

Sekarang kita akan melihat butir utama kesebelas mengenai hayat, yaitu pengenalan batiniah, yang juga berarti mengenal Allah berdasarkan hukum hayat batiniah dan ajaran pengurapan minyak. Seberapa banyak dalam batin kita mengenal Allah, sebanyak itu pula kita mendapatkan Allah dan mengalami Allah sebagai hayat. Karena itu, pengenalan batiniah sangat erat hubungannya dengan pertumbuhan hayat. Jika kita mau mengenal hayat, mau supaya hayat itu bertumbuh, kita harus mehhat dengan jelas masalah pengenalan batiniah ini.

I. PENTINGNYA MENGENAL ALLAH

Allah senang kalau manusia mengenal Dia, karena itu, Dia ingin manusia "berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN" (Hos. 6:3, 6). Semua yang Allah lakukan dalam Perjanjian Baru, bertujuan supaya kita dapat mengenal Dia (Ibr. 8:10-11). Ketika kita dilahirkan kembah, Roh-Nya yang mengandung hayat-Nya masuk ke dalam kita, membuat kita dalam batin memiliki kemampuan untuk mengenal Dia. Di satu pihak, pengenalan akan Dia ini berangsur-angsur bertambah seiring dengan pertumbuhan hayat batiniah kita, di pihak lain, pengenalan ini juga menyebabkan hayat dalam diri kita bertumbuh. Karena Allah telah memberi kita hayat, maka kita dapat mengenal Dia. Semakin bertumbuh hayat-Nya dalam kita, kita semakin mengenal Dia. Semakin kita mengenal Dia, kita akan semakin mengalami Dia sebagai hayat kita, menikmati Dia, dan memperhidupkan Dia. Jadi, boleh kita katakan bahwa semua pertumbuhan hayat rohani kita di hadapan Allah tergantung pada pengenalan kita akan Allah. Kita perlu berdoa memohon kepada Allah kiranya Allah memberi kita Roh hikmat dan wahyu, supaya kita dapat mengenal Dia dengan benar (Ef. 1:17) dan "bertumbuh melalui pengenalan akan Allah" (Kol. 1:10 T1.).

II. TIGA LANGKAH MENGENAL ALLAH

Mazmur 103:7 mengatakan, "Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel." Ayat ini memberi tahu kita bahwa orang Israel mengenal perbuatan Allah, dan Musa mengenal jalanNya. Ibrani 8:10-11 mengatakan, "Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka ... Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku." Ayat ini mengatakan bahwa orang-orang dalam Perjanjian Baru yang mendapatkan hukum batiniah bisa mengenal Allah. Jadi, kedua bagian Alkitab ini menampakkan kepada kita tiga langkah pengenalan manusia akan Allah. Pertama, mengenal perbuatan Allah; kedua, mengenal jalan Allah; dan ketiga, mengenal diri Allah sendiri.

1. Langkah Pertama - Mengenal Perbuatan Allah

Ini mengacu kepada manusia mengenal perbuatan Allah melalui apa yang Allah lakukan dan kerjakan. Misalnya, orang Israel di Mesir melihat sepuluh tulah yang Allah kirim untuk memukul orang Mesir. Di tepi Laut Merah, mereka melihat Allah membelah air laut itu sehingga mereka dapat menyeberanginya. Di padang gurun, mereka melihat Allah memerintahkan batu karang mengeluarkan air untuk meleraikan dahaga mereka. Selain itu, setiap hari Allah mengirim manna dari surga untuk memelihara mereka. Setelah mereka melihat keajaiban-keajaiban Allah itu, mereka mengenal perbuatan Allah. Misalnya lagi, ketika orang banyak melihat perbuatan ajaib yang dilakukan Tuhan Yesus, seperti memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, meneduhkan badai dan laut, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan membangkitkan orang mati, mereka pun mengenal perbuatan-Nya. Misalnya lagi, kita disembuhkan dari sakit oleh Allah, ketika kita menghadapi bahaya dilindungi oleh-Nya, ketika membutuhkan sesuatu kita menerima pemberian-Nya, dan sebagainya, semua ini membuat kita mengenal perbuatan Allah. Mengenal perbuatan Allah secara demikian adalah langkah pertama dalam pengenalan akan Dia. Pengenalan seperti ini dangkal dan hanya secara lahiriah saja, karena kita baru mengenal perbuatan Allah, setelah kita melihat apa yang Allah lakukan.

2. Langkah Kedua - Mengenal Jalan Allah

Ini mengacu kepada mengenal prinsip Allah bekerja atau melakukan sesuatu. Ketika Abraham memohon belas kasihan untuk Sodom, ia mengenal bahwa Allah itu adil, dan bahwa Allah tidak akan bertindak berlawanan dengan keadilan-Nya. Karena itu, Abraham memohon kepada Allah sesuai dengan keadilan Allah (Kej. 18:23-32). Ini berarti Abraham tahu prinsip Allah melakukan segala sesuatu. Lagi, ketika bangsa Israel terus menggerutu sesudah Korah dan kelompoknya yang memberontak dimusnahkan, Musa, yang melihat penampakan kemuliaan TUHAN, segera berkata kepada Harun, "Ambillah perbaraan, bubuhlah api ke dalamnya dari atas mezbah, dari taruhlah ukupan, dan pergilah dengan segera kepada umat itu dan adakanlah perdamaian bagi mereka, sebab murka TUHAN telah berkobar, dan tulah sedang mulai" (Bil. 16:46). Ini menunjukkan bahwa Musa mengenal jalan Allah; ia tahu kalau manusia melakukan sesuatu, Allah akan menanggapinya sesuai dengan cara itu.

Samuel berkata kepada Saul, "Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada (mengalahkan) kurban sembelihan, memperhatikan lebih baik daripada (mengalahkan) lemak domba-domba jantan" (I Sam. 15:22). Daud berkata, "Sebab aku tidak mau mempersembahkan kepada TUHAN, Allahku, kurban bakaran dengan tidak membayar apa-apa" (2 Sam. 24:24). Ini menunjukkan bahwa mereka mengenal jalan (cara) Allah. Misalnya lagi, setelah kita memberitakan firman Allah, kita sangat yakin bahwa firman itu tidak akan sia-sia, justru akan mengerjakan hal yang Allah kehendaki (Yes. 55:10-11). Juga jika kita menabur dalam Roh, kita tahu bahwa kita akan menuai hayat kekal dari Roh itu (Gal. 6:8). Ini juga karena kita tahu jalan Allah.

Demikian kita mengenal cara-cara Allah melakukan sesuatu, berarti kita memiliki langkah kedua pengenalan akan Allah. Pengenalan semacam ini merupakan langkah yang lebih maju daripada mengenal perbuatan Allah; ini berarti sebelum perbuatan Allah terwujud, kita sudah tahu apa yang akan Dia lakukan dan bagaimana cara Dia melakukannya. Pengenalan semacam ini bisa meningkatkan iman kita dalam doa, juga bisa membuat kita "tawar-menawar" dengan Allah. Meskipun pengenalan semacam ini sudah lumayan baik, namun masih belum cukup dalam, belum mencapai kedalaman batin.

3. Langkah Ketiga - Mengenal Diri Allah

Ini mengacu kepada mengenal sifat Allah. Begitu kita dilahirkan kembali dan mendapatkan hayat Allah, kita pun mempunyai sifat Allah. Berdasarkan hayat Allah dalam diri kita, kita dapat menjamah sifat Allah. Kita menjamah sifat Allah, berarti kita menjamah Allah, juga berarti kita mengenal Allah sendiri. Pengenalan semacam ini berbeda dengan dua langkah di depan yang mengenal perbuatan Allah dan jalan-Nya secara luaran; pengenalan ini adalah mengenal diri Allah dalam batin.

Misalnya, seorang saudara mengidap penyakit yang sangat sulit disembuhkan, namun ia mendapatkan kesembuhan dari Allah. Dengan sangat gembira ia berkata, "Puji syukur kepada Allah, Dia benar-benar memelihara dan meneguhkan aku." Demikian, ia memiliki sedikit pengenalan akan perbuatan Allah. Suatu hari, ia sakit lagi. Kali ini dia tahu bahwa penyakit itu timbul karena dirinya bersalah, Allah sedang menghukum dirinya, mendisiplinkan dirinya. Maka, dia pun menanggulangi kesalahannya. Setelah dia menanggulangi kesalahannya, dia tahu bahwa Allah pasti menyembuhkan dirinya (lihat I Kor. 11:30-32). Hasilnya, Allah memang menyembuhkan dia. Tetapi sebelum dia disembuhkan, dia sudah tahu Allah akan menyembuhkan dia. Ini karena dia tahu jalan (cara) Allah. Pada tahap ini, meskipun pengenalannya akan Allah telah meningkat dari mengenal perbuatan Allah ke mengenal jalan Allah – namun masih secara luaran memiliki sedikit pengenalan objektif terhadap Allah, masih belum secara batiniah memiliki pengenalan subjektif terhadap Allah. Kemudian, di dalam batinnya saudara ini merasa bahwa dia memiliki beberapa perkara yang tidak sesuai dengan sifat suci Allah; dia harus menanggulanginya, harus menyingkirkannya. Perasaan semacam ini, pengenalan semacam ini, bukan datang dari sesuatu yang di luar dirinya, tetapi dari perasaan yang diberikan kepadanya oleh hayat Allah yang ada di dalam dirinya. Jadi, kali ini, dia mengenal diri Allah dari dalam, memiliki pengenalan yang subjektif terhadap Allah.

Misalnya lagi, seorang saudara lain, pada awalnya, ketika dia menjumpai suatu kesulitan yang serius, ia berdoa kepada Allah, dan Allah membawa dia melewati kesulitan itu. Melalui ini dia mengenal perbuatan Allah. Kemudian ketika dia mengalami kesulitan lagi, dia tahu harus berbuat apa supaya dia bisa ditolong oleh Allah. Ini menunjukkan bahwa dia telah mengenal jalan Allah. Akhirnya, ketika dia mengalami kesulitan lagi, di dalam dirinya dengan ajaib sekali ada satu perasaan yang merasakan bahwa Allah pasti akan membawanya lewat. Perasaan ini, pengetahuan ini, bukan timbul karena dia telah melihat perbuatan Allah di luar, juga bukan karena mengenal prinsip Allah bekerja, melainkan karena di dalam batin dia telah menyentuh diri Allah sendiri. Pengenalan terhadap Allah seperti ini boleh dikatakan sebagai yang paling tinggi, paling dalam, dan paling batiniah.

Di sini kita nampak, pada zaman Perjanjian Lama, Allah hanya menyatakan perbuatan-Nya dan jalan-Nya kepada manusia. Karena itu, pada masa itu manusia paling jauh hanya dapat mengenal Allah dalam dua langkah pertama, yakni mengenal perbuatan Allah dan mengenal jalan Allah. Sampai zaman Perjanjian Baru, meskipun kita masih harus mengenal perbuatan dan jalan Allah, namun hal yang paling penting dan paling mulia ialah Allah dalam Roh-Nya justru tinggal di dalam kita untuk menjadi hayat kita, sehingga kita dalam batin secara langsung dapat menyentuh Allah dan mengenal Allah. Jadi, langkah ketiga dalam mengenal Allah ini adalah mengenal diri Allah sendiri, ini adalah berkat istimewa bagi kita yang diselamatkan di bawah perjanjian yang baru.

III. DUA MACAM PENGENALAN AKAN ALLAH

Meskipun pengenalan kita akan Allah bisa dibagi menjadi tiga langkah, namun jika dirangkum hanya ada dua macam, yaitu pengenalan yang di luar (lahir) dan pengenalan yang di dalam (batin). Mengenal perbuatan dan jalan Allah merupakan pengenalan yang di luar. Meskipun dua langkah pertama ini berbeda tingkat kedalamannya, namun keduanya masih merupakan pengenalan yang berdasarkan perbuatan dan cara-cara Allah di luar diri kita; karena itu, bersifat objektif dan lahiriah. Mengenal diri Allah adalah mengenal secara batiniah. Pengenalan ini adalah menyentuh Allah berdasarkan hayat-Nya dalam diri kita, sehingga olehnya kita mengenal Allah; karena itu bersifat subjektif dan batiniah.

Dalam naskah asli Alkitab, dipakai dua kata yang berbeda untuk menggambarkan pengenalan batiniah dan lahiriah. Ibrani 8:11 membicarakan tentang pengenalan kita akan Allah; di sana terdapat dua kali kata "mengenal" yang dalam naskah aslinya ditulis dengan dua kata yang berbeda, artinya juga berbeda. Pertama, "kenallah", mengacu kepada pengenalan kita yang di luar, yang umum, yang memerlukan ajaran dari manusia. Kedua, "mengenal", mengacu kepada pengenalan perasaan dalam batin kita, yang tidak memerlukan ajaran dari manusia. Ini menunjukkan kepada kita bahwa pengenalan lahiriah dan batiniah akan Allah sangatlah berbeda.

Misalnya, kita menaruh sedikit gula putih halus berdampingan dengan sedikit garam putih halus. Secara luaran, keduanya sama-sama putih dan halus; sulit untuk membedakan keduanya, perlu orang lain untuk memberi tahu kita yang mana gula dan yang mana garam. Ini adalah pengenalan yang berasal dari ajaran orang lain, yang luaran, yang objektif, yang umum, yang mungkin bisa salah. Namun kalau kita mencicipinya, kita segera dapat merasakan yang mana yang mards, itulah gula; yang terasa asin, itulah garam. Kita tidak memerlukan orang lain untuk memberi tahu kita. Pengenalan ini berasal dari perasaan yang ada dalam diri kita; perasaan ini subjektif, milik perasaan batin, juga tepat.

Demikian juga, kapan saja kita mengecap Allah dalam batin kita, kita mendapatkan aroma sukacita dan manis yang tidak dapat diperoleh melalui pengenalan akan Allah berdasarkan perbuatan atau jalan-Nya dari luar. Mazmur 34:9 mengatakan, "Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu!" Syukur kepada Allah, karena Dia bisa dikecap! Ibrani 6:4-5 juga mengatakan, "Mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia surgawi, dan pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan kuasa-kuasa dunia yang akan datang." Ini menunjukkan kepada kita bahwa bukan Allah saja yang bisa dikecap (dirasakan), tetapi hal-hal yang berasal dari Allah, hal-hal yang berasal dari Roh, juga dapat dikecap. Pengecapan ini membuat kita mengenal dari dalam. Begitu kita "mengecap" Allah dan hal-hal Allah dari dalam diri kita, kita pasti memiliki suatu pengenalan yang tepat yang berasal dari perasaan batiniah, dan tidak perlu orang lain mengajar kita. Ini benar-benar berkat yang mulia di bawah perjanjian yang baru!

IV. PENGENALAN BATINIAH

Dalam Alkitab Perjanjian Baru, ada empat ayat yang membicarakan pengenalan batiniah dengan sangat jelas. Dua yang pertama adalah Ibrani 8:11 dan 1 Yohanes 2:27. Keduanya mengatakan bahwa kita tidak memerlukan orang lain untuk mengajar kita, tetapi kita dapat mengenal Allah dari dalam diri kita. Meskipun demikian, keduanya berbicara dengan cara yang berlainan. Ibrani 8 mengatakan bahwa hukum hayat Allah, yang adalah fungsi alami hayat Allah, dapat membuat kita mengenal Allah. Dan 1 Yohanes 2 mengatakan bahwa pengajaran pengurapan, yang adalah pargerakan yang memberikan wahyu dari Roh Kudus, dapat membuat kita mengenal Allah. Mengenal Allah melalui hukum hayat adalah mengenal Dia melalui hayat Allah. Mengenal Allah melalui pengajaran pengurapan berarti mengenal Dia melalui Roh Allah.

Dua ayat lainnya yang membicarakan pengenalan batiniah, adalah Yohanes 17:3 dan Efesus 1:17. Yohanes 17:3 mengatakan bahwa orang yang memiliki hayat kekal Allah adalah orang yang mengenal Allah. Ini berarti bahwa hayat Allah dalam diri kita dapat membuat kita mengenal Dia. Efesus 1:17 mengatakan bahwa Allah memberi kita roh hikmat dan wahyu sehingga kita dapat mengenal Dia. Roh yang disebut di sini adalah roh manusia kita yang berkaitan dengan Roh Allah. Ini berarti roh kita dengan Roh Allah dapat membuat kita mengenal Allah dari dalain diri kita.

Keempat ayat Alkitab ini memperlihatkan kepada kita bahwa pengenalan batiniah kita terhadap Allah diperoleh melalui dua sarana : yang pertama melalui hukum hayat, yang berasal dari hayat Allah; yang lain melalui pengajaran pengurapan, yang berasal dari Roh Kudus Allah. Karena kita memiliki dua sarana mengenal Allah ini dalam diri kita, maka pengenalan kita akan Allah dapat berada dalam dua aspek. Hukum hayat terutama membuat kita mengenal sifat Allah, vang adalah ciri khas hayat-Nya. Setiap kali hayat-Nya bekerja dan berfungsi dalam diri kita untuk mengekspresikan ciri khas ini, hayat-Nya pasti menyatakan sifat Allah kepada kita dan membuat kita mengenalinya. Pengajaran pengurapan terutama membuat kita mengenal diri Allah sendiri. Ini karena pengajaran pengurapan berasal dari Roh Kudus, dan Roh Kudus adalah perwujudan diri Allah sendiri. Ketika Roh Kudus mengurapi dan bekerja dalam diri kita, Dia selalu mengurapkan diri Allah sendiri ke dalam diri kita, dengan demikian membuat kita mengenal diri Allah sendiri. Hukum hayat dan pengajaran pengurapan membuat kita mengenal sifat Allah dan diri Allah sendiri. Inilah yang kita sebut pengenalan batiniah.

V. HUKUM TAURAT DAN NABI-NABI

Kita dapat melihat sebuah bayangan kedua aspek pengenalan akan sifat Allah dan diri Allah sendiri dalam Perjanjian Lama. Allah memberikan hukum Taurat dan nabi-nabi supaya bangsa Israel dapat mengenal sifat-Nya dan diri-Nya melalui hukum Taurat dan nabi-nabi itu. Pengenalan ini berasal dari sisi luar.

Ciri khas Perjanjian Lama adalah hukum Taurat dan nabi-nabi. Alasan Allah memberikan hukum Taurat dan menetapkan nabi-nabi adalah supaya umat-Nya mengenal Dia. Jadi hukum Taurat dan nabi-nabi adalah dua sarana yang dipakai oleh Allah untuk membimbing bangsa Israel mengenal-Nya. Dengan dua sarana ini, bangsa itu dapat memiliki pengenalan akan Allah dalam dua aspek.

Allah memberikan hukum Taurat untuk membimbing bangsa Israel mengenal sifat-Nya. Hukum Taurat berasal dari sifat Allah, karena itu hukum Taurat membicarakan apa yang disenangi Allah dan yang tidak disenangi-Nya. Semua yang disenangi oleh sifat Allah adalah apa yang Dia inginkan agar dilakukan oleh bangsa Israel. Segala sesuatu yang tidak disukai sifat Allah adalah apa yang Dia larang. Misalnya, Allah adalah Allah yang cemburu; karena itu Dia melarang bangsa itu menyembah berhala. Allah itu penuh kasih; karena itu Dia melarang bangsa itu membunuh. Allah itu kudus; karena itu Dia ingin bangsa itu menjadi kudus. Allah itu jujur; karena itu Dia ingin bangsa itu menjadi jujur. Hukum yang diberikan kepada bangsa itu sesuai dengan sifat yang dimiliki Allah. Jadi seluruh hukum Taurat menyatakan sifat Allah kepada mereka. Beberapa butir hukum itu menyatakan kecermelangan Allah, yang lain menyatakan kekudusan dan kebaikan Allah, yang lain lagi menyatakan kasih Allah. Allah menggunakan tuntutan dan larangan setiap butir hukum itu untuk membimbing bangsa Israel mengenal setiap aspek sifat-Nya.

Allah juga menetapkan nabi-nabi untuk membimbing bangsa Israel mengenal diri-Nya; karena nabi-nabi Perjanjian Lama ditetapkan oleh Allah untuk mewakili diri-Nya, pribadi-Nya. Perkataan yang mereka sampaikan adalah wahyu dan bimbingan yang diberikan oleh Allah sesuai dengan kehendak-Nya. Misalnya, Musa adalah nabi yang ditetapkan oleh Allah (Ul. 18:15). Perkataan yang disampaikan Musa kepada bangsa Israel mengenai pembangunan Kemah Pertemuan adalah wahyu Allah kepada bangsa itu mengenai hal itu. Ketika Musa memimpin bangsa itu berjalan melewati padang gurun, Allahlah yang memimpin bangsa itu berjalan di padang gurun. Jadi Allah menggunakan segala jenis wahyu dan bimbingan melalui nabi-nabi untuk memimpin bangsa Israel mengenal Dia, pribadi-Nya.

Karena hukum Taurat berasal dari sifat Allah, maka karakternya tetap dan tidak dapat berubah. Hukum Taurat mengatakan bahwa orang harus menghormati orang tuanya, tidak boleh membunuh, tidak boleh berbuat zina, dan tidak boleh mencuri. Semua ini adalah hukum yang tetap dan tegas dan tidak dapat diubah. Hukum-hukum ini dapat dikenakan pada setiap orang, entah yang hidup di Yerusalem maupun di Samaria. Huk-um-hukum ini tidak terpengaruh oleh orang, peristiwa, waktu, atau tempat. Kalau bangsa Israel mau menerima standar hukum ini, mereka bukan hanya akan mengenal sifat Allah yang kekal dan tidak berubah, tetapi juga corak, karakter, dan selera hidup mereka akan sesuai dengan sifat Allah.

Sebaliknya, karena nabi-nabi mewakili diri Allah sendiri dan memberitakan kehendak Allah selama waktu tertentu, maka kegiatan mereka fleksibel dan dapat berubah. Kegiatan mereka tidak terbatas dan tidak tetap. Sebab Allah melakukan segala sesuatu menurut kehendak-Nya sendiri, dan diri-Nya sendiri fleksibel dan tidak dapat dibatasi. Nabi-nabi tersebut mungkin pada satu saat memberikan kepada bangsa itu satu macam wahyu, dan pada saat lain memberikan wahyu yang lain lagi. Di sini nabi-nabi itu mungkin memberikan bimbingan seperti ini, dan di sana mereka mungkin memberikan jenis bimbingan yang lain lagi. Jadi standar hukum yang diberikan kepada manusia itu tetap dan terbatas. Tetapi wahyu dan bimbingan yang diberikan nabi-nabi itu kepada bangsa tersebut fleksibel dan tidak terbatas. Kalau bangsa Israel bersedia mengikuti wahyu dan bimbingan nabi-nabi itu, bangsa itu dapat mengenal Allah yang berpribadi melalui nabi-nabi itu, dan mereka pun dapat mengenal kehendak-Nya untuk masa itu. Mereka juga dapat menyesuaikan diri mereka dengan diri Allah dan dengan kehendak-Nya, entah waktu melakukan kegiatan atau waktu beristirahat, dalam pekerjaan atau dalam peperangan.

VI. HUKUM HAYAT

DAN PENGAJARAN PENGURAPAN

Meskipun hukum Taurat dan nabi-nabi Perjanjian Lama dapat membuat bangsa Israel mengenal Allah, namun semuanya merupakan pengenalan lahiriah, bukan batiniah. Karena itu dalam zaman Perjanjian Baru, Allah menaruh Roh-Nya bersama hayat-Nya dalam diri kita, sehingga kita mampu memiliki pengenalan batiniah akan Dia. Hukum hayat, yang berasal dari hayat-Nya, mengambil alih kedudukan hukum Taurat Perjanjian Lama dan membuat kita mampu mengenal sifat-Nya dari dalam diri kita. Pengajaran pengurapan mengambil alih kedudukan nabi-nabi Perjanjian Lama dan membuat kita mampu mengenal diri Allah sendiri dan kehendak-Nya dari dalam diri kita. Sekarang, marilah kita dengan teliti melihat keduanya, satu per satu.

1. Hukum Hayat

Hukum hayat adalah ciri khas alami dan fungsi dari hayat, dan ciri khas hayat ini adalah sifat hayat itu sendiri. Karena itu, ketika hukum hayat Allah dalam diri kita menyatakan fungsinya dan mengatur kita. hukum hayat ini selalu mewahyukan sifat Allah kepada kita, membuat kita mengenal sifat Allah. Pengenalan seperti ini tidak memerlukan ajaran pengetahuan yang di luar, juga tidak memerlukan pengaturan luaran dari hukum harfiah dan liturgi-liturgi, tetapi melalui perasaan alami yang diberikan kepada kita oleh hukum hayat batiniah. Sebagai contoh, jika cuka diteteskan ke dalam mulut seorang bayi, dia akan memuntahkannya. Tetapi kalau gula yang ditaruh ke dalam mulutnya, dia akan menelannya. Kemampuan bayi untuk membedakan rasa asam dengan manis tidak berdasar pada pengajaran, tetapi berdasar pada fungsi alami dari hayat. Demikian juga, orang yang baru beroleh selamat, yang telah menerima hayat Allah, tidak suka berbuat dosa. Bukan karena dia takut hukuman dosa, tetapi karena sifat kudus hayat Allah dalam dirinya dengan sendirinya memberi dia perasaan yang membuatnya merasa benci, muak, dan tidak mentolerir dosa. Perasaan ini lebih dalam daripada teguran hati nurani. Dari perasaan yang membenci dosa inilah kita bisa mengenal sifat kudus Allah.

Paulus memberi tabu orang-orang kudus di Korintus bahwa "kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah" (I Kor. 4:12-13). Paulus dapat berperilaku demikian bukan hanya karena hayat Allah dalam dirinya membuatnya demikian, tetapi juga karena sifat hayat Allah dalam dirinya adalah demikian. Ketika dia hidup dalam hayat Allah secara demikian, dia menjamah sifat Allah; dengan kata lain, dia mengenal sifat Allah.

Sifat hayat Allah, seperti kudus, kasih, jujur, terang, dan sebagainya, selalu tidak berubah dari kekekalan sampai kekekalan, tidak terpengaruh oleh perbedaan waktu atau tempat. Karena itu, ciri khas hukum hayat-Nya juga tetap dan tidak berubah. Di mana pun atau kapan pun hukum hayat Allah bekerja, sifat Allah yang membuat kita mampu menjamah-Nya selalu tetap dan tidak berubah.

Ketika hukum hayat bekerja dalam diri kita, membuat kita mampu mengenal sifat Allah, akibatnya adalah hukum itu membuat perilaku, karakter, dan cita rasa seluruh hidup kita sesuai dengan sifat Allah; tidak seperti hukum harfiah Perjanjian Lama, yang hanya berupa peraturan tuaran yang menuntut agar hayat lahiriah manusia sesuai dengan sifat Allah. Inilah hukum hayat Perjanjian Baru; melalui operasi (pekerjaan) batiniah hayat ini, membaurkan sifat Allah ke dalam sifat kita, sehingga dalam sifat kita terkandung unsur sifat Allah dan secara berangsur-angsur menjadi seperti sifat Allah. Apa pun yang dikasihi atau dibenci oleh sifat Allah, sifat kita juga akan mengasihi atau membencinya. Sekarang, kapan saja kita melakukan atau bahkan ingin melakukan hal-hal masa lalu yang gelap dan cemar, hukum hayat di dalam kita akan membuat kita merasa tidak tenang, tidak wajar, dan tidak damai. Sebaliknya, semakin kita melakukan hal-hal yang terang dan kudus serta sesuai dengan sifat Allah, kita semakin merasakan hidup dan damai dari batin. Dengan demikian hidup kita dengan sendirinya dari dalam (batin) diubah sehingga sesuai dengan sifat Allah.

2. Pengajaran Pengurapan

Dalam Alkitab, hanya 1 Yohanes 2:27 yang membicarakan tentang "pengajaran pengurapan". Kita semua tahu bahwa pengurapan adalah kata benda verbal yang mengacu kepada kegiatan minyak urapan, gerakan dan pekerjaan minyak urapan. Menurut perlambangan Perjanjian Lama dan penggenapannya dalam Perjanjian Baru, minyak urapan atau minyak dalam Alkitab mengacu kepada Roh Kudus (Yes. 61:1; Luk. 4:18). Karena minyak urapan mengacu kepada Roh Kudus, maka "pengurapan" pasti mengacu kepada pekerjaan (operasi) Roh Kudus. Pekerjaan Roh Kudus dalam diri kita sama seperti pengurapan minyak urapan; karena itu, Alkitab menyebut pekerjaan Roh Kudus ini pengurapan .

Karena pengurapan adalah pekerjaan Roh Kudus dalam diri kita, pengurapan ini tentu membuat kita memiliki perasaan batiniah sehingga kita dapat mengenal Allah dan kehendak-Nya. Ketika pengurapan membuat kita mengenal Allah dan kehendak Allah secara demikian, pengurapan ini mengajar kita dari dalam. Jadi Alkitab menyebut ajaran ini, "pengajaran pengurapan " .

Pengurapan adalah pekerjaan Roh Kudus dalam diri kita, juga adalah diri Allah sendiri yang bekerja dalam diri kita, karena Roh Kudus adalah perwujudan Allah dalam diri kita. Allah itu tidak terbatas; karena itu karakter pengajaran yang Dia berikan kepada kita lewat pekerjaan dan pengurapan dalam diri kita tidak dapat dibatasi. Kadang-kadang memberi kita ajaran seperti ini; kadang-kadang memberi kita ajaran seperti itu. Ajaran-Nya tidak seperti hukum hayat-Nya, yang berkarakter pasti dan tidak berubah. Hukum hayat Allah berasal dari sifat hayat-Nya yang tetap dan membuat kita menjamah sifat hayat-Nya yang tetap; karena itu fungsi hukum ini dalam diri kita juga tetap. Tetapi pekerjaan Roh Kudus-Nya berasal dari diri-Nya yang tidak terbatas, dan pekerjaan ini membuat kita menjamah diri-Nya yang tidak terbatas; karena itu, pongajaran yang diberikan pekerjaan ini kepada kita dari batin juga tidak terbatas. Pekerjaan Roh ini dapat menyebabkan kita memperoleh wahyu-Nya dan menerima bimbingan-Nya, sehingga kita mengenal diri-Nya yang tidak berkesudahan dan kehendak-Nya yang tidak terbatas.

Karena pengajaran pengurapan memberi kita wahyu dan bimbingan berdasarkan Allah yang tidak terbatas, maka ia dapat menyebabkan semua kelakuan, perbuatan, gerakan, dan pilihan kita menjadi sesuai dengan kehendak Allah. Ini tidak sama dengan nabi-nabi zaman Perjanjian Lama yang mengajar orang dari luar dan menuntut agar perbuatan mereka sesuai dengan kehendak Allah. Ini adalah Roh Kudus sebagai minyak urapan dalam diri kita, mengurapkan elemen Allah sendiri ke dalam diri kita dan membuat kita mampu memahami kehendak Allah karena telah menjamah diri Allah sendiri. Akibatnya, tidak hanya perbuatan kita, tetapi juga seluruh diri kita dipenuhi elemen Allah dan selaras dengan kehendak-Nya.

Jadi, hukum hayat membuat kita menjamah sifat hayat Allah; mengatur dari dalam diri kita menurut sifat hayat Allah. Pengurapan membuat kita menjamah Allah, menjamah pribadi-Nya; mengurapkan esens-Nya ke dalam diri kita. Karena hukum hayat dan pengurapan terus bekerja dan mengajar dalam diri kita, maka kita dapat mengenal Allah dalam segala hal dan tidak memerlukan orang lain mengajar kita. Kapan saja kita menjamah perihal cara dan cita rasa hidup, hukum hayat segera membuat kita mengenal sifat Allah dalam hal ini. Dan kapan saja kita menjamah hal perbuatan atau pilihan, pengajaran pengurapan membuat kita mengerti bagaimana perasaan Allah terhadap hal-hal ini.

Sebagai contoh, kita ingin membeli pakaian. Kita membeli atau tidak, ini adalah soal dipimpin oleh Roh Kudus dalam perbuatan; karena itu, pengurapan akan mengajar dan membimbing kita. Setelah kita masuk ke toko, model dan warna yang kita pilih adalah hal yang berbubungan dengan cita rasa sifat Allah. Hukum hayat akan membuat kita merasakan model dan warna apa yang sesuai dengan sifat Allah. Bimbingan mengenai apakah kita harus pergi ke toko dan membeli pakaian atau tidak, bukanlah hal yang kaku. Mungkin saja pada saat ini kita harus pergi, dan pada saat yang lain tidak. Namun cita rasa tentang model dan warna apa yang harus kita pilih, tidak pernah berubah; setiap kali kita pergi, hal itu tetap, sama.

Misalnya, ada sepasang saudara saudari yang ingin menikah. Pada hari apa mereka harus menikah adalah soal dibimbing dalam perbuatan; tidak berkaitan dengan sifat Allah. Bukannya hari pertama atau hari kelima belas yang sesuai dengan sifat Allah, dan harl-hari yang lain tidak sesuai. Karena ini adalah soal bimbingan dalam perbuatan, maka ini akan ditentukan oleh pengurapan atau pekerjaan Roh Kudus. Namun pada waktu pernikahan, model pakaian, dekorasi tempat, bagaimana sidang diselenggarakan, dan apakah karakter, cita rasa, dan caranya sesuai dengan sifat Allah, apakah pantas bagi orang-orang kudus, semua ini adalah hal-hal yang berhubungan dengan sifat Allah. Karena itu, hal-hal tersebut tidak diajarkan oleh pengurapan, tetapi diatur oleh hukum hayat.

3. Hubungan antara Keduanya

Meskipun hukum hayat dan pengajaran pengurapan memiliki fungsi berbeda dan tidak sama, namun keduanya berkaitan erat sekali. Hubungan sebab dan akibat antara yang satu dengan yang lain tidak bisa dipisahkan.

Hukum hayat berasal dari hayat Allah, dan hayat Allah terletak pada dan terkandung dalam Roh Allah. Karena itu, hukum inl juga disebut "hukum Roh hayat" (Rm. 8:2 Tl.), dan juga hukum Roh Kudus. Meskipun hukum ini berasal dari hayat Allah dan ditentukan oleh hayat itu, namun hukum ini dilaksanakan oleh Roh Kudus Allah, dan pekerjaan Roh Kudus ini adalah pengurapan. Karena itu, fungsi hukum ini perlu diwujudkan dengan pengurapan. Kapan saja pengurapan berhenti, maka fungsi hukum ini pun lenyap. Ini memberi tahu kita bahwa pengurapan dan fungsi hukum hayat sesungguhnya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.

Selanjutnya, pengajaran pengurapan juga berkaitan dengan pemahaman kita terhadap hukum hayat. Karena hukum hayat adalah fungsi alami hayat, maka pekerjaan hukum ini di dalam kita adalah milik perasaan hayat. MeIalui hukum hayat ini, kita hanya dapat memiliki perasaan dalam bagian terdalam dari diri kita, perasaan yang membuat kita merasakan suatu dorongan atau larangan, suka atau benci. Namun kita. masih tidak dapat memahami arti perasaan itu. Untuk memahami arti perasaan batin itu, kita memerlukan pengajaran pengurapan. Bila pengurapan mengajar kita barulah kita dapat memahami arti perasaan yang diberikan kepada kita melalui hukum hayat. Misalnya, seorang anak yang merasakan gula dan garam untuk kali pertama dapat dengan kemampuan alami hayat dalam dirinya merasakan perbedaan dalam rasa; tetapi dia masih tidak tahu apa sebenarnya kedua benda itu. Namun, ketika ibunya memberi tahu dia bahwa yang manis itu disebut gula dan yang asin disebut garam, dia tidak hanya merasakan bahwa rasa kedua benda itu berbeda, tetapi juga tahu sebenarnya kedua benda itu apa.

Demikian juga, ketika seorang saudara diselamatkan, dia memiliki hayat Allah dalam dirinya. Karena itu, kalau dia pergi ke bioskop, minum minuman keras, atau merokok, (karena semua itu tidak sesuai dengan sifat hayat Allah dalam dirinya), maka sifat hayat ini menyebabkan dia merasa tidak tenang dan tidak memiliki damai, sampai dia meninggalkan hal-hal itu. Inilah yang diberi tahu oleh perasaan hayat Allah kepadanya. Tetapi, meskipun dia merasa tidak tenang dalam melakukan hal-hal itu, dia masih belum mengerti mengapa dia merasa tidak tenang. Ketika pengurapan, melalui pengajaran Alkitab, memberi tahu kepadanya bahwa semua itu tidak sesuai dengan sifat hayat kudus Allah dalam dirinya, barulah ia mengerti penyebab ketidaktenangan itu. Pada saat ini, dia tidak hanya memiliki kecakapan yang diberikan oleh perasaan hayat Allah dalam diriya, tetapi juga memiliki pengajaran pengurapan yang membuat dia mengerti. Jadi, bukan hanya fungsi hukum hayat yang diwujudkan lewat pengurapan, tetapi arti perasaan hukum hayat juga diwahyukan melalui pengajaran pengurapan.

Di pihak lain, pekerjaan hukum hayat juga berhubungan dengan pemahaman kita terhadap pengajaran pengurapan. Dari pengalaman kita tahu bahwa pemahaman akan pengajaran pengurapan tergantung pada pertumbuhan hayat. Tingkat pertumbuhan hayat kita menentukan seberapa jauh kita mengerti pengajaran pengurapan. Sebagai contoh, kalau anak yang mengecap gula dan garam itu masih berusia sangat muda, meskipun ibunya memberi tahu dia bahwa yang manis itu gula dan yang asin itu garam, dia tetap tidak dapat mengerti. Perlu menunggu sampai hayatnya bertumbuh mencapai tingkat tertentu, barulah dia dapat mengerti. Prinsip yang sama juga berlaku kalau kita ingin memahami pengajaran pengurapan. Pertumbuhan hayat harus cukup. Kalau kita ingin lebih memahami pengajaran pengurapan, hayat kita juga harus semakin bertumbuh. Dan pertambahan pertumbuhan hayat berasal dari pekerjaan hukum hayat. Semakin sering hukum hayat bekerja dalam diri kita, maka pertumbuhan hayat akan semakin meningkat, dan kita pun semakin dapat memahami pengajaran pengurapan. Jadi, pekerjaan hukum hayat dapat meningkatkan pemahaman kita akan pengurapan.

Karena itu, ingatlah, hukum hayat dan pengurapan bukan hanya saling berhubungan, tetapi juga saling mempengaruhi. Saling berhubungan dan mempengaruhi inilah yang membuat pengenalan batiniah kita akan Allah semakin bertumbuh sampai kita mengenal Allah secara sempurna dan kaya limpah.

4. Perbandingan antara Keduanya

Kita sudah melihat perbedaan antara hukum hayat dengan pengajaran pengurapan, dan bahwa keduanya saling berhubungan dan mempengaruhi. Kini kita akan melihat perbandingan sederhana dan jelas antara pengenalan tentang Allah yang diberikan lewat kedua hal ini, agar kita makin jelas.

Karena hukum hayat adalah fungsi alami hayat Allah, maka pengenalan tentang Allah yang diberikannya kepada kita hanya terdiri dari satu hal, yaitu, membuat kita mengenal sifat hayat Allah.

Tetapi, karena pengajaran pengurapan adalah pekerjaan Roh Allah sendiri, pengenalan akan Allah yang diberikannya kepada kita paling sedikit terdiri dari tiga macam : Pertama, pengajaran itu membuat kita mengenal diri Allah sendiri. Ini berarti kita menjamah diri Allah sendiri dan karenanya kita mengalami serta mendapatkan Dia.

Kedua, pengajaran itu membuat kita mengenal kehendak Allah. Ini berarti kita mengerti bimbingan yang Allah berikan kepada kita dalam perbuatan kita. Bimbingan ini dapat dibagi menjadi bimbingan biasa dan bimbingan khusus. Bimbingan biasa adalah untuk kehidupan kita sehari-hari. Bimbingan khusus adalah bagi rencana pekerjaan Tuhan. Seperti telah kita bahas sebelumnya, apakah kita harus membeli pakaian atau tidak, pada hari apa kita akan menikah, dan sebagainya, semua itu adalah contoh bimbingan biasa dalam hidup kita sehari-hari. Di pihak lain, ketika Saudara Hudson Taylor merasa bahwa dia harus menyebarkan Injil Tuhan ke pedalaman negeri China, ini adalah bimbingan khusus dalam pekerjaan Allah.

Ketiga, pengajaran itu membuat kita mengenal kebenaran. Ini berarti kita menerima wahyu mengenai kebenaran. Wahyu mengenai kebenaran juga dibagi menjadi ymig bersifat biasa dan Yang bersifat khusus. Yang bersifat biasa berkaitan dengan tingkah laku insani kita; misalnya, nampak bahwa orang percaya tidak boleh menjadi "pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya" (2 Kor. 6:14), atau apa pun yang kita lakukan, kita harus "melakukan ... semuanya itu untuk kemuliaan Allah" (I Kor. 10:31). Di pihak lain, wahyu khusus berkaitan dengan rencana Allah, seperti nampak rahasia Allah dalam Kristus (Kol. 2:2), dan fungsi gereja dalam hubungannya dengan Kristus (Ef 1:23).

Sesudah melihat pokok-pokok pembicaraan ini, kita tahu bahwa pengenalan batiniah yang diberikan kepada kita oleh hukum hayat dan pengajaran pengurapan memang kaya. Pengenalan ini meliputi hampir semua pekerjaan Allah dalam diri kita, dan karena itu membuat kita mampu memiliki pengenalan yang lengkap, kaya, dan menyeluruh tentang Allah.

VII. PEMBUKTIAN ALKITAB

Perasaan yang diberikan kepada kita oleh hukum hayat dan pengajaran pengurapan membuat kita mampu mengenal Allah. Tetapi, meskipun perasaan ini mungkin mutlak nyata dan benar, perasaan ini masih perlu dibuktikan dengan pengajaran dan prinsip-prinsip Alkitab. Kalau perasaan yang ada di dalam kita tidak sesuai dengan ajaran dan prinsip Alkitab, kita tidak boleh menerimanya. Dengan demikian kita dapat berjaga-jaga supaya tidak tertipu atau menjadi ekstrem, dan supaya kita dapat menjadi tepat dan stabil.

Tak peduli apakah perasaan itu berasal dari hukum hayat dalam roh kita atau berasal dari Roh Kudus sebagai pengurapan, ia harus sesuai dengan kebenaran Alkitab. Kalau perasaan yang kita rasakan dalam diri kita tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab, perasaan itu pasti bukan dari hukum hayat atau pengajaran pengurapan. Meskipun perasaan dalam diri kita mungkin hidup, namun kebenaran dalam Alkitab itu tepat dan terjamin. Walaupun kebenaran Alkitab itu sendiri hanya tepat dan terjamin namun tidak hidup, tetapi perasaan batiniah saja kadang-kadang hidup namun tidak tepat, atau hidup namun tidak terjamin. Ini sama seperti kereta api yang melaju ke depan : tidak hanya harus ada daya di dalam, tetapi juga harus ada rel di luar. Tentu saja, kalau hanya ada rel di luar dan tidak ada daya di dalam, kereta api itu tidak dapat bergerak. Tetapi kalau hanya ada daya di dalam kereta itu dan tidak ada rel di luarnya, meskipun keretanya bisa bergerak, pasti akan timbul malapetaka. Karena itu, kita tidak hanya memerlukan perasaan yang hidup dalam diri kita, tetapi juga kebenaran yang tepat di luar diri kita. Perasaan yang hidup dalam diri kita berasal dari hukum hayat dan pengajaran pengurapan; kebenaran yang tepat di luar diri kita terletak dalam ajaran firman yang tertulis di Alkitab dan terang prinsip-prinsipnya.

Ketika bangsa Israel berjalan di padang gurun, tiang awan menjadi pembimbing mereka pada waktu siang, dan tiang api menjadi pembimbing mereka pada malam hari. Demikian juga, sewaktu keadaan rohani kita terang dan jelas, sewaktu batin kita seterang siang hari serta perasaan batin kita jelas dan tepat, dengan bimbingan Roh Kudus seperti yang dilambangkan dengan tiang awan, barulah kita dapat berjalan di jalan Allah yang benar. Tetapi sering kali, keadaan rohani kita seperti keredupan malam; batin kita segelap tengah malam, dan perasaan batin kita kabur dan tidak jelas. Saat ini kita memerlukan Alkitab, yang dilambangkan dengan tiang api, untuk menjadi pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita guna membimbing kita berjalan di jalan Allah yang benar.

Karena itu, kalau kita ingin berjalan di jalan hayat yang aman dan benar, kita harus memeriksa dan membuktikan setiap perasaan, bimbingan, dan wahyu dengan ajaran dan prinsip Alkitab. Karena hayat ditambah dengan kebenaran barulah kekuatan yang sesungguhnya dan tenaga yang terjamin. Demikian akan membuat kita mampu maju tanpa menyimpang.

VIII. "PENGAJARAN" DARI LUAR

Meskipun di satu pihak Alkitab mengatakan bahwa kita memiliki hukum hayat dan pengajaran pengurapan di dalam kita, sehingga kita dapat mengenal Allah dan tidak perlu diajar oleh orang lain, namun di pihak lain ada banyak bagian Alkitab vang berbicara tentang pengajaran dari manusia. Misalnya, ayat-ayat seperti 1 Korintus 4:17; 14:19; 1 Timotius 2:7; 3:2; 2 Timotius 2:2, 24, dan seterusnya, mengatakan bahwa rasul Paulus mengajar orang-orang, dan dia menghendaki orang lain juga belajar bagaimana cara mengajar. Ada tiga alasan utama untuk hal ini.

Pertama, meskipun perasaan batiniah yang diberikan kepada kita oleh hukum hayat dan pengajaran pengurapan cukup untuk membuat kita mengenal Allah, dan karenanya kita tidak memerlukan pengajaran manusia, namun kita sering kali tidak mendengar dan tidak mempedulikan perasaan ini. Kita lemah, khususnya untuk mendengar firman Allah. Kadang-kadang kita tidak mendengar, dan kadang-kadang kita tidak mau mendengar. Orang-orang yang sakit pikirannya, orang-orang yang subjektif, orang-orang yang memaksakan pendapatnya sendiri, orang-orang yang dengan sengaja menutup diri, sering kali tidak dapat mendengar; orang-orang yang tidak mengasihi Tuhan, yang tidak mau membayar harga, dan yang tidak mau mengikuti Tuhan, adalah orang-orang yang tidak mau mendengar. Karena mereka tidak mau mendengar, maka mereka pun tidak mendengar. Karena mereka tidak mendengar, mereka semakin tidak mau mendengar. Karena itu, sering kali bukannya Allah tidak mau berbicara, bukan hayat-Nya tidak mengatur, juga bukan karena pengurapan minyak tidak mengurapi, tetapi karena kita tidak mendengar. Ayub 33:14 mengatakan, "Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya." Keadaan kita lebih buruk daripada ini. Bahkan ketika Allah berbicara lima, sepuluh, atau dua puluh kall, kita masih tidak mau mendengar. Tetapi syukur kepada Allah, Dia pemaaf dan panjang sabar. Kalau kita tidak mendengar apa yang dikatakan-Nya dalam diri kita, Dia menggunakan pengajaran manusia dari luar diri kita untuk mengulangi perkataan-Nya. Dia sudah berbicara dalam diri kita, tetapi karena kita tidak mau mendengar, maka Dia mengajar kita dari luar diri kita melalui orang lain untuk mengulangi apa yang sudah dikatakan-Nya dalam diri kita.

Di bawah Perjanjian Baru, banyak pengajaran mengikuti prinsip pengulangan ini. Dalam Surat-surat Kiriman, perkataan "Tidak tahukah kamu" sering kali muncul. Maksudnya adalah Anda telah mendengar dan tahu, tetapi Anda tidak mempedulikannya dan tidak mau mendengar, karena itu, Allah memakai manusia untuk mengajar Anda lagi. Jadi, sering kali, entah Allah memakai kata-kata dalam Alkitab atau pelayan-Nya untuk mengajar kita, Ia tidak melakukannya untuk menggantikan pengajaran-Nya di dalam kita, tetapi untuk mengulangi apa yang telah Ia ajarkan di dalam kita. Meskipun bimbingan dari luar dan pengajaran dari dalam saling melengkapi dan mendukung, namun yang dari luar tidak dapat menggantikan kedudukan yang dari dalam. Yang dari luar hanya pengulangan dari yang di dalam.

Jadi, hari ini jika kita membantu orang lain dalam hal rohani, kita tidak boleh memberikan Sepuluh Perintah kepadanya untuk mengajar dia bertindak begini atau begitu secara objektif. Kita hanya dapat menerangkan apa yang telah Allah tetapkan dalam prinsip, dengan demikian bersaksi terhadap firman yang Allah sampaikan dari dalam dan mengulangi apa yang telah Allah ajarkan kepada mereka dari dalam. Kita tidak boleh secara objektif mengajar orang-orang begini atau begitu dengan terperinci. Inilah yang telah dilakukan nabi-nabi Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru hanya ada nabi-nabi untuk gereja, yang menjelaskan apa yang ditentukan Allah dalam prinsip. Tidak ada nabi untuk perorangan, yang menetapkan masalah-masalah secara terperinci bagi orang lain. Penetapan secara terperinci adalah apa yang Allah beri tahukan kepada setiap orang dari dalam melalui hukum hayat dan pengajaran pengurapan. Inilah prinsip Perjanjian Baru. Jadi, meskipun kita harus merendah untuk menerima pengajaran orang lain, namun yang memerintah kita haruslah apa yang sudah diatur oleh hukum hayat dalam diri kita atau yang sudah diajarkan oleh pengurapan. Kalau tidak, masih belum sesuai dengan prinsip Perjanjian Baru. Alasan kedua mengenai perlunya pengajaran manusia dalam Perjanjian Baru adalah, meskipun hukum hayat dan pengurapan dapat membuat kita mengenal Allah, namun perasaan dan pengajaran yang diberikan kepada kita semuanya ada di dalam roh. Kalau kita tidak menerima pengajaran yang memadai bagi kita, maka pikiran kita sulit memahami perasaan dan pengajaran yang diberikan dalam roh kita oleh hukum hayat dan pengurapan. Agar pikiran kita memahami perasaan dan pengajaran yang diberikan kepada kita oleh hukum hayat dan pengurapan dari dalam, kita perlu orang lain mengajar kita dari luar dengan firman Allah. Semakin banyak kita menerima pengajaran dari luar tersebut, pikiran kita semakin memahami perasaan dan pengajaran dari hukum hayat dan pengurapan di dalam. Dan semakin banyak kita menerima pengajaran di luar sedemikian, pengajaran itu semakin membantu roh kita untuk bertumbuh, dengan demikian memberikan lebih banyak kedudukan dan kesempatan kepada hukum hayat dan pengurapan untuk menyatakan fungsi mereka dan memberi kita perasaan dan pengajaran yang lebih dalam. Karena itu, meskipun hukum hayat dan pengurapan memberi kita perasaan dan pengajaran dari dalam, kita masih memerlukan pengajaran manusia dari luar. Namun, pengajaran dari luar tidak dapat dan tidak boleh menggantikan kedudukan perasaan dan pengajaran hukum hayat serta pengurapan dari dalam. Pengajaran dari luar hanya membantu kita memahami perasaan dan pengajaran batiniah dan memberikan kesempatan kepada hukum hayat dan pengurapan untuk memberi kita perasaan dan pengajaran yang lebih dalam. Pengajaran manusia dari luar harus selalu mendapatkan "amin" atau "gema" dari perasaan dan pengajaran dari dalam yang diberikan oleh hukum hayat dan pengurapan. Setelah itu barulah pengajaran itu sesuai dengan prinsip Perjanjian Baru. Pengajaran dan bimbingan dari dalam dan luar bukan untuk saling menggantikan, tetapi untuk saling menanggapi.

Ketiga, meskipun hukum hayat dan pengajaran pengurapan dapat membuat kita mengenal Allah dalam segala sesuatu, namun mengenai kebenaran hal-hal yang mendalam dari Allah dan pengenalan dasar hayat rohani, sering kali kita masih memerlukan orang lain yang menjadi pelayan firman dalam wahyu Allah untuk mengajar kita supaya kita dapat mengerti. Kita memerlukan pengenalan subyektif yang berasal dari pengurapan dan hukum hayat di dalam, namun sering kali tanpa pengajaran objektif dari orang lain, kita tidak dapat memperoleh pengenalan subjektif dari dalam. Tentu saja, di bawah Perjanjian Baru, pengajaran luaran yang obyektif tidak dapat menggantikan kedudukan pengenalan batiniah yang subjektif, tetapi sering pengenalan batiniah yang subjektif didapat karena pengajaran objektif di luar.

Untuk ketiga alasan di atas, Allah sering membangkitkan orang-orang yang memiliki pengenalan dan pengalaman rohani di hadapan Allah dan mengatur mereka untuk mengajar dan membimbing kita. Mari kita berharap bahwa di satu pihak kita dapat menghormati apa yang Allah ajarkan kepada kita dari dalam melalui hukum hayat dan pengurapan, dan di pihak lain kita tidak mengabaikan pengajaran yang Allah berikan kepada kita melalui manusia dari luar. Kita tidak boleh menolak pengajaran manusia dari luar hanya karena kita memiliki hukum hayat dan pengajaran pengurapan dalam diri kita. Kita berterinia kasih kepada Allah karena memberi kita hukum hayat dan pengajaran pengurapan, tetapi kita tetap harus rendah hati dan mengosongkan diri kita untuk menerima pengajaran dan bimbingan yang Allah berikan kepada kita melalui orang lain. Ingatlah bahwa di bawah Perjanjian Baru, Allah tidak hanya memberi kita hukum hayat dan pengurapan untuk mengajar kita dari dalam, tetapi juga memberikan orang-orang yang dapat mengajar dan membimbing kita dari luar.

IX. MENGENAL DI DALAM ROH

DAN MENGERTI DI DALAM PIKIRAN

1. Mengenal di Dalam Roh

Karena pengenalan batiniah dihasilkan dari hukum hayat dan pengajaran Roh Allah sebagai pengurapan, dan keduanya ada dalain roh kita, maka pengenalan yang dari dalam ini pasti akan diberitahukan kepada kita dalam roh kita. Kecuali untuk pertanyaan tentang benar dan salah, yang ditentukan oleh bagian hati nurani roh kita, maka pengenalan dalam roh ini dapat dikatakan menjadi tanggung jawab bagian intuisi (perasaan langsung) roh kita. Karena itu, kalau kita mau memahami pengenalan batiniah, kita harus mengetahui apakah intuisi roh itu.

Kita tahu, baik tubuh maupun jiwa manusia sama-sama memiliki indra. Sebagaimana tubuh memiliki indra penglihat, pendengar, pencium, pengecap, dan peraba; sedangkan jiwa memiliki rasa bahagia, marah, sedih, sukacita, dan lain sebagainya; demikian juga roh manusia memiliki indra, yaitu perasaan hati nurani dan perasaan intuisi. Perasaan hati nurani muncul oleh karena benar dan salah; sedangkan perasaan intuisi muncul secara langsung tanpa sebab. Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa roh dapat "berniat"(Mat. 26:41), dapat "mengetahui" pertimbangan hati manusia (Mrk. 2:8), dapat "mendesahlah" (Mrk. 8:12), juga dapat "sangat sedih", "bersemangat", "memutuskan", "disegarkan" dan lain sebagainya (Kis. 17:16; 18:25; 19:21; 2 Kor. 7:13). Semua ini adalah perasaan intuisi roh. Kita dapat mengatakan bahwa intuisi roh memiliki perasaan yang sama banyaknya dengan jiwa.

Namun intuisi roh berbeda dengan perasaan jiwa. Perbedaan utamanya adalah perasaan jiwa bersumber dari suatu sebab, tetapi intuisi roh tidak memiliki sebab. Penyebab untuk perasaan jiwa berasal dari manusia, peristiwa, dan hal-hal luaran. Apakah penyebab itu berasal dari orang, peristiwa, atau sesuatu, yang jelas hal itu dapat menyebabkan kita memiliki perasaan. Kalau hal itu menyenangkan, maka kita gembira; kalau menyedihkan, maka kita merasa sedih. Perasaan-perasaan jiwa yang timbul karena pengaruh dari luar itu adalah perasaan yang memiliki sebab. Namun intuisi roh kita tidak memiliki sebab, yang berarti intuisi itu tanpa sarana, tetapi langsung ada di bagian dalam roh. Intuisi ini bukan hanya tidak dipengaruhi oleh manusia, peristiwa, atau benda dari luar; tetapi juga tidak dipengaruhi oleh perasaan jiwa. Bahkan sering kali intuisi ini berlawanan dengan perasaan jiwa.

Misalnya, kita ingin melakukan sesuatu. Alasan kita sangat cukup, hati kita sangat senang, dan kita telah memutuskan untuk melaksanakannya. Namun entah mengapa, di dalam roh kita terasa ada sesuatu yang tidak terucapkan, terasa sangat berat dan sumpek, seolah-olah menentang apa yang dipikirkan pikiran kita, yang disukai emosi kita, dan yang diputuskan tekad kita; juga seolah-olah berbicara kepada kita bahwa kita tidak boleh melaksanakan apa yang telah kita rencanakan. Perasaan semacam ini adalah larangan intuisi roh. Ada lagi misalnya, ada perkara tertentu yang bagi kita. tidak ada alasan untuk melakukannya; hal itu bertentangan dengan kesenangan kita, kita juga tidak mau melaksanakannya. Namun, entah mengapa, di dalam roh kita. terus-menerus terasa ada suatu dorongan, gerakan, yang menginginkan kita melakukannya. Begitu kita melakukannya, kita merasa nyaman di dalam. Perasaan semacam ini adalah dorongan intuisi dalam roh.

Larangan atau dorongan intuisi dalam roh terjadi tanpa sebab. Ini adalah perasaan yang setingkat lebih dalam, yang ada karena pekerjaan hukum hayat dan pengurapan. Melaluinya kita dapat menjamah Allah, mengenal Dia, dan mengetahui kehendak-Nya secara langsung. Pengenalan dalam intuisi roh ini adalah apa yang bicarakan sebagai "wahyu". Jadi, wahyu tidak lain ialah Roh Kudus dalam roh kita menunjukkan kepada kita realitas peristiwa tertentu, sehingga kita dapat memahaminya dengan jelas. Pengenalan semacam ini dapat dikatakan sebagai pengenalan terdalam akan Allah dalam diri kita, juga adalah pengenalan batiniah yang sedang kita bicarakan.

2. Mengerti di Dalam Pikiran

Meskipun pengenalan batiniah berada dalam intuisi roh kita, merupakan suatu pengenalan intuisi dalam roh, namun pengenalan itu masih harus dimengerti dengan pikiran jiwa kita. Karena organ untuk mengerti dan memahami adalah pikiran, maka pengenalan batiniah tidak hanya perlu diketahui dengan roh, tetapi juga dipahami dengan pikiran. Pengenalan oleh intuisi dalam roh harus ditambahkan dengan pengertian pikiran supaya memiliki pemahaman. Pengertian oleh pikiran adalah semacam penerjemahan oleh pikiran terhadap intuisi roh. Setiap kali kita memiliki perasaan yang berasal dari intuisi dalam roh kita, pikiran kita perlu mengerti dan menerjemahkannya. Ini berarti kita mengambil orang, peristiwa, atau benda yang berkaitan dan "mencocokkannya" dengan perasaan intuisi roh. Kita perlu mencocokkannya sampai roh menanggapinya. Baru kemudian kita tahu maksud Roh Kudus dan dapat berbuat sesuai dengan maksud-Nya.

Misalnya, ketika kita menghampiri Tuhan dan merasakan ada suatu beban dalam intuisi kita, kita tahu bahwa bimbingan dari Allah telah datang kepada kita. Inilah pengenalan dalam roh. Namun mungkin kita tidak jelas apakah bimbingan dari Allah ini menyuruh kita inengabarkan Injil, atau mengunjungi saudara. Kalau untuk mengunjungi saudara, saudara yang mana yang harus kita kunjungi? Semua ini memerlukan pikiran untuk memahaminya. Pada saat demikian, dalam pikiran kita, kita harus menempatkan semua perkara yang harus kita lakukan di hadapan Allah satu demi satu dan mencocokkannya dengan intuisi dalam diri kita. Kalau ketika kita mencocokkannya sampai kepada perkara mengunjungi saudara dan ada tanggapan dalam batin kita, maka kita pun mengerti bahwa Allah ingin kita mengunjungi saudara. Lalu, dalam persekutuan dengan Allah, selanjutnya kita tampilkan lagi satu demi satu saudara-saudara yang harus kita kunjungi dan mencocokkannya dengan intuisi roh. Ketika kita mencocokkannya terhadap saudara yang berada dalam kekurangan, mungkin tidak ada tanggapan dalam roh; ketika kita mencocokkannya terhadap saudara yang sakit, mungkin juga tidak ada tanggapan dalam roh; tetapi ketika kita mempertimbangkan tentang saudara lain yang menghadapi kesulitan, intuisi dalam roh menanggapi, sepertinya seluruh diri kita mengatakan "Amin!" Kalau kita takut salah, kita boleh mengajukan lebih banyak saudara yang perlu dikunjungi dan mencocokkan mereka juga. Kalau roh tidak menanggapi satu pun di antaranya, kita mengerti bahwa orang yang Allah inginkan untuk kita kunjungi adalah saudara yang sedang menghadapi kesulitan tadi. Inilah menggunakan pikiran untuk mengerti apakah yang diketahui roh, atau menggunakan pikiran untuk menerjemahkan perasaan dalam roh.

Contoh lainnya, dalam doa Anda beberapa hari ini Anda mungkin memiliki beban, merasa bahwa Allah menginginkan Anda mengatakan sesuatu kepada saudara saudari. Beban ini adalah pengenalan dalam intuisi. Tetapi apa yang Allah ingin Anda katakan, Anda tidak jelas. Ini menunjukkan bahwa Anda perlu di dalam pikiran Anda membawa satu berita demi satu berita dan mencocokkannya dengan beban dalam roh Anda. Ketika Anda mencocokkan masalah "membereskan daging", roh menanggapi. Maka Anda menjerti bahwa Allah menghendaki Anda berbicara tentang topik ini. Pengertian ini adalah pemahaman pikiran. Jadi, beban intuisi dalam roh memberi tahu Anda bahwa Allah menghendaki Anda melakukan sesuatu, dan pengertian pikiran dalam jiwa membuat Anda mampu memahami apa yang Allah kehendaki agar Anda perbuat.

Contoh lagi, mungkin pada hari Tuhan, seperti biasanya, Anda mempersembahkan sejumlah uang. Tetapi roh anda memiliki beban, merasa bahwa Allah ingin Anda memberikan persembahan khusus. Tetapi berapa banyak yang Allah kehendaki Anda persembahkan, untuk apa, atau untuk siapa, haruslah dimengerti dalam pikiran. Dengan demikian, tidak hanya memiliki beban dari Allah dalam intuisi, tetapi juga mengerti maksud Allah dengan pikiran. Inilah pengenalan batiniah.

Tindakan semacam ini kelihatannya seperti bodoh, tetapi bagi orang yang baru mulai belajar menerjemahkan perasaan roh dengan pikirannya, harus melaksanakannya demikian. Kemudian, ketika dia telah belajar menjadi biasa melakukannya dan menjadi mahir, maka begitu ada perasaan atau pengenalan dalam roh, pikirannya segera dapat memahami dan mengerti. Kiranya kita senantiasa memperhatikan hal ini, melatih hal ini.

X. CARA MEMPEROLEH PENGENALAN BATINIAH

Sekarang setelah kita melihat setiap aspek pengenalan batiniah, kita harus melihat cara mempraktekkan atau cara memperoleh pengenalan batiniah. Untuk memperoleh pengenalan batiniah, kita harus memakai roh, memperbarui pengertian, dan menanggulangi hat kita.

1. Memakai Roh

Karena pengenalan batiniah ada dalam intuisi roh kita, jika kita mau memperoleh pengenalan seperti itu, kita harus sering berlatih memakai roh kita agar roh kita lincah dan kuat. Begitu roh lincah dan kuat, barulah intuisi roh bisa peka dan siap setiap saat, sehingga kita mampu mengenal Allah dari dalam.

Untuk memakai roh, pertama-tama kita harus belajar untuk kembali ke dalam roh. Kalau kita selalu hidup dalam manusia Jasmaniah, kita tidak bisa mengenal Allah dalam intuisi roh. Kita harus belajar mengesampingkan pekerjaan-pekerjaan luaran yang menyibukkan dan meletakkan hambatan-hambatan. Kita tidak hanya perlu menahan diri dari kesibukan di luar, tetapi juga tidak membiarkan pikiran kita mengembara. Sebaliknya, kita harus memperhatikan gerakan dalam roh, memperhatikan perasaan yang di dalam. Ketika melayani Tuhan, Samuel yang masih kecil dapat mendengar suara Tuhan; Maria yang duduk tenang di kaki Tuhan dapat mengerti perkataan Tuhan. Jadi kalau kita dapat kembali ke dalam roh untuk mendekati Allah, kita dapat secara riil menjamah perasaan Allah di dalam roh dan dengan demikian mengenal Allah.

Kita juga perlu berlatih menggunakan roh dalam kehidupan kita sehari-hari. Entah ketika menghadapi orang lain, mengatakan berbagai hal, menangani berbagai persoalan, atau dalam sidang melayani Tuhan dan memberitakan firman Allah; entah dalam percakapan dengan orang lain atau bahkan ketika melakukan suatu pekerjaan; dalam semua hal kita harus menyangkal jiwa dan mempersilakan roh memimpin. Kita tidak boleh membiarkan pikiran, emosi, atau tekad kita memimpin, tetapi dalam segala hal, pertama-tama, kita harus mencoba menjamah perasaan dalam roh. Jadi, pertama-tama kita harus mencoba bertanya apa yang akan dikatakan oleh Tuhan yang tinggal dalam roh. Kalau kita terus berlatih demikian, perasaan dalam roh pasti akan peka dan pengenalan batiniah akan sudah meningkat dan mendalam.

Dalam memakai roh, latihan terbaik adalah berdoa, karena berdoa menuntut kita memakai roh lebih banyak daripada kegiatan lainnya. Kita suka mengobrol, tetapi kita dak mau berdoa atau memuji; karena itu roh kita sering menjadi kempis. Kalau kita dapat meluangkan waktu satu jam atau lebih untuk berdoa setiap hari, bukan untuk meminta tetapi menyembah, bersekutu, dan memuji, maka tidak lama kemudian, roh kita pasti akan bertumbuh dan menjadi kuat. Pemazmur berkata bahwa dia memuji Tuhan tujuh kali sehari (Mzm. 119:164). Jika mereka yang berlatih tinju berlatih satu jam setiap hari, setelah sejangka waktu, tinju mereka akan menjadi kuat. Demikian juga, jika setiap hari kita melatih roh kita untuk berdoa, kita pasti menjadi kuat. Begitu roh kuat, intuisi pasti peka. Dengan intuisi yang peka inilah kita dapat lebih banyak mengenal Allah.

2. Memperbarui Pikiran

Kita telah mengatakan bahwa pengenalan batiniah tidak hanya memerlukan pengenalan dalam roh, tetapi juga pemahaman pikiran. Karena itu, kalau kita ingin memperoleh pengenalan batiniah ini, kita perlu memakai roh kita dan memperbarui pengertian pikiran kita. Pikiran bisa memahami karena adanya pengertian dalam pikiran. Pikiran adalah organ untuk memahami suatu perkara, dan pengertian adalah kemampuan organ itu.

Roma 12:2 menunjukkan kepada kita bahwa bila pikiran (yang mengandung pengertian), diperbarui dan diubah, barulah kita dapat "membedakan mana kehendak Allah : Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna." Kolose 1:9 juga menunjukkan kepada kita bahwa dengan memiliki "pengertian rohani" kita dapat "mengetahui kehendak Tuhan." Karena itu, pembaruan pengertian pikiran diperlukan dalam perkara mengenal Allah.

Sebelum kita diselamatkan, manusia kita, termasuk pikiran kita, telah jatuh. Setiap angan-angan pikiran hati kita itu jahat (Kej. 6:5); pemikiran serta pandangan kita juga dipenuhi dengan aroma dunia. Karena pikiran kita berada dalam keadaan seperti itu, maka pengertian kita menjadi kabur. Karena itu, kita sama sekali tidak mampu memahami hal-hal rohani, terlebih lagi untuk mengerti kehendak Allah. Ketika kita diselamatkan, kita diperbarui oleh Roh Kudus (Tit. 3:5). Pekerjaan pembaruan Roh Kudus ini dimulai dari roh kita, lalu meluas ke jiwa kita untuk memperbarui pengertian pikiran kita, sehingga kita dapat mengetahui hal-hal tentang roh. Semakin pengertian pikiran kita diperbarui oleh Roh Kudus, kita semakin dapat memahami hal-hal rohani dan memahami kehendak Allah.

Meskipun pembaruan pengertian pikiran ini dilakukan oleh Roh Kudus, kita masih harus memikul dua tanggung jawab :

Pertama, kita harus mempersembahkan diri kita. Dalam Roma 12, sebelum pikiran diperbarui dan diubah, kita diminta untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup. Ini menunjukkan bahwa pembaruan pengertian pikiran berdasar pada persembahan diri kita. Kalau kita benar-benar bersedia mempersembahkan diri kita dan memberikan diri sendiri kepada Allah, maka Koh Kudus Allah dapat meluaskan pekerjaan pembaruannya ke dalam jiwa kita dan dengan demikian memperbarui pengertian pemikiran kita.

Kedua, kita harus menerima penanggulangan salib untuk membuang kehidupan masa lalu yang lama (usang). Efesus 4:22-23 menunjukkan kepada kita bahwa kalau kita menanggalkan manusia lama dari cara hidup, kita yang dulu, barulah pikiran kita, yang mengandung pengertian kita, diperbarui. Sebelum kita diselamatkan, cara hidup kita yang lama telah menggelapkan pengertian pikiran kita. Sesudah kita diselamatkan, melalui kematian Tuhan di atas salib, kita membuang kehidupan masa lalu yang usang. Ini memberi kesempatan kepada pembunuhan salib Tuhan untuk meniadakan semua cara hidup yang lama satu per satu. Setelah itu barulah pengertian pikiran dapat diperbarui. Jadi kita harus menerima penanggulangan salib supaya pengertian pikiran kita diperbarui. Seberapa jauh kita mempersilakan salib menyingkirkan kehidupan kita yang lama, sejauh itulah pengertian pikiran kita dapat diperbarui.

Efesus 4:23 mengatakan, "supaya kamu dibarui di dalam roh pikiranmu" (Tl.). Kita tahu bahwa pikiran adalah salah satu bagian dari jiwa. Semula, pikiran tidak berkaitan dengan roh, tetapi sekarang roh telah menjadi "roh pikiran"; karena itu roh berkaitan dengan pikiran. Karena roh telah meluas dan mencapai pikiran jiwa kita, maka kita dapat diperbarui di dalam roh ini, yaitu pikiran kita dapat diperbarui melalui dihubungkan dengan roh. Jadi, pembaruan ini diperluas dari roh ke pikiran.

Pekerjaan Roh Kudus di dalam kita adalah dari pusat menuju ke sekeliling, yang juga berarti dari roh yang berada di dalam menuju ke jiwa yang berada di luarnya. Roh Kudus terlebih dulu memperbarui roh kita, yang adalah pusat diri kita. Kemudian, kalau kita mempersembahkan diri kita kepada-Nya dan menerima penanggulangan salib, Dia akan meluas dari roh kita ke jiwa, yang berada di luarnya, memperbarui setiap bagian jiwa kita. Ini berarti ketika jiwa kita tunduk kepada pengaturan Roh Kudus dan menjadi satu dengan roh kita, jiwa kita diperbarui. Karena itu, pengertian pikiran juga diperbarui.

Sesudah kita menerima kelahiran kembali dari Roh Kudus di dalam roh kita, kalau kita mempersembahkan diri kepada Allah dan menerima penanggulangan Roh Kudus melalui salib untuk membuang kehidupan kita yang lama, maka Roh Kudus dapat terus melakukan pekerjaan perluasan-Nya di dalam kita, memperbarui pengertian pikiran dalam jiwa kita. Hanya pengertian yang diperbarui seperti inilah yang dapat sesuai dengan intuisi roh. Setiap kali Allah memberitahukan sesuatu kepada kita dalam intuisi roh kita, maka pengertian pikiran dapat segera memahami. Ketika kita memiliki roh yang kuat dan peka ditambah pengertian yang diperbarui dan jernih, maka kita dapat memiliki pengenalan batiniah yang penuh akan sifat Allah serta semua bimbingan dan wahyu-Nya.

3. Menanggulangi Hati

Hati adalah keseluruhan diri manusia; karena itu, kalau hati bermasalah, maka semua aktivitas roh dan hayat dalam diri kita akan mendapat rintangan dan pembatasan. Meskipun roh kita peka dan pengertian kita diperbarui, kalau ada masalah dengan hati kita, kita masih tidak dapat memperoleh pengenalan batiniah akan Allah. Karena itu, kita juga harus menanggulangi hati kita, sehingga bisa menjadi lembut dan bersih, mengasihi Allah, menginginkan Allah, dan menaati Allah.

Dalam Matius 11:25, Tuhan mengatakan bahwa Allah menyembunyikan hal-hal rohani bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi dinyatakan-Nya kepada orang kecil. "Orang bijak dan orang pandai" adalah orang-orang yang dalam hatinya merasa dirinya benar, puas diri, dan keras kepala; karena itu orang-orang ini tidak dapat melihat hal-hal rohani dari Allah. "Orang kecil" adalah orang-orang yang rendah hati dan lembut hati; karena itu mereka dapat menerima wahyu Allah. Jadi, hati kita harus ditanggulangi sampai menjadi rendah dan lembut. Kalau kita menyingkirkan kepuasan diri dan ketegaran kita, barulah kita dapat menerima wahyu dan pengenalan batiniah akan Allah.

Dalam Matius 5:8, Tuhan mengatakan bahwa "orang yang suci hatinya … akan melihat Allah." Kalau hati kita tidak suci, memiliki kecenderungan dan hasrat lain yang bukan Allah, maka dalam hati kita ada selubung yang menghalangi kita sehingga tidak dapat melihat Allah dengan jelas. Namun kapan saja hati kita berbalik kepada Allah, selubung itu diambil (2 Kor. 3:16). Jadi, kita harus menanggulangi hati kita. Hati kita harus suci dan tidak "mendua hati" (Yak. 4:8); baru kemudian kita dapat menerima terang dan wahyu dalam roh, mengerti dan memahami dalam pikiran kita, dan mengenal Allah.

Dalam Yohanes 14:21, Tuhan mengatakan bahwa "siapa saja yang mengasihi Aku, Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya." Maria Magdalena, pada pagi hari kebangkitan mencari Tuhan, karena kasihnya yang begitu dalam kepada Tuhan. Dia memperoleh penampakan Tuhan yang pertama kepada murid-murid-Nya sesudah kebangkitan, dan menjadi orang pertama yang mengenal Kristus yang bangkit (Yoh. 20). Saudara Lawrence berkata bahwa kalau orang mau mengenal Allah, maka kasih adalah satu-satunya cara. Hati kita harus mengasihi Allah dan meneari Allah; barulah kemudian kita bisa mendapatkan penyataan Allah dan mengenal-Nya.

Dalam Yohanes 7:17, Tuhan mengatakan : "Siapa saja yang mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu ..." Ini menyatakan bahwa hati kita haruslah menginginkan Allah dan kehendak-Nya; baru kemudian kita dapat mengenal Allah dan mengenal kehendak-Nya.

Dalam Filipi 2:13, rasul mengatakan bahwa Allahlah yang mengerjakan kemauan dan pekerjaan dalam diri kita. Kalau hati kita tidak tunduk atau tidak mau tunduk pada pekerjaan Allah dalam diri kita, maka Allah tidak dapat bekerja dalam diri kita, sehingga kita tidak dapat memperoleh perasaan yang akan diberikan oleh pekerjaan Allah kepada kita dalam pengenalan akan Dia. Karena itu, hati kita harus ditanggulangi sampai tidak hanya dapat tunduk kepada Allah, tetapi juga mau tunduk kepada Allah. Barulah kemudian kita dapat memperoleh perasaan dan penge,ulan yang datang melalui pekerjaan Allah dalam diri kita.

Karena itu, kita harus (1) melatih dan menggunakan roh sampai menjadi kuat dan peka, (2) memiliki pengertian yang diperbarui oleh Roh, dan (3) menanggulangi hati kita sampai menjadi lembut dan murni, mengasihi Allah, menginginkan Allah, dan tunduk kepada Allah; barulah kemudian kita dapat memiliki pengenalan batiniah akan Allah.

XI. KESIMPULAN

Karena Allah ingin manusia mengenal Dia, maka Dia memberi banyak cara dan sarana kepada manusia agar manusia dapat mengenal Dia. Dalam zaman Perjanjian Lama, Dia menyatakan perbuatan-Nya dan menyatakan jalan-Nya kepada manusia, sehingga manusia dapat mengenal Dia. Tetapi pengenalan manusia terhadap-Nya melalui perbuatan dan jalan-Nya hanyalah bersifat luaran, objektif, dangkal, dan tidak sempurna. Karena itu, pada zaman Perjanjian Baru, meskipun Dia masih menggunakan perbuatan-Nya dan jalan-Nya untuk memperkenalkan diri-Nya kepada manusia, tetapi hal yang paling penting dan mulia adalah bahwa Dia sebagai Roh telah masuk ke dalam diri manusia (yang percaya) menjadi hayat manusia. Hal ini membuat manusia mampu memiliki pengenalan batiniah, subjektif, mendalam, dan sempurna akan Dia.

Ketika Allah berada dalam diri kita sebagai hayat, Dia membuat kita memiliki hukum hayat ilahi dalam diri kita. Hukum ini terus-menerus mengatur kita dari dalam, membuat kita mengenal sifat hayat-Nya. Hukum hayat ini, karena adalah suatu hukum, bukan suatu pribadi, bersifat tetap dan tidak berubah. Hukum ini mengatur kita, tanpa perubahan, sesuai dengan sifat hayat Allah. Akibatnya hukum ini membuat cara hidup, sifat, dan cita rasa kehidupan kita menjadi sesuai dengan sifat Allah.

Roh Allah yang tinggal dalam diri kita sebagai pengurapan, mengurapi dan mengajar kita mengenal Dia. Karena pengurapan ini adalah diri Allah sendiri, maka memiliki pribadi, dan tidak terbatas serta fleksibel. Pengurapan ini dalam diri kita terus mengurapkan diri Allah yang tak terbatas itu ke dalam diri kita. Akibatnya membuat seluruh diri kita, kelakuan dan sikap kita, dipenuhi dengan unsur Allah dan sesuai dengan kehendak Allah.

Sebagai hukum hayat dan pengurapan, pertama-tama Allah memulainya dalam roh kita, kemudian meluas ke jiwa kita sehingga pikiran kita dapat memahami dan mengerti. Karena itu, kita perlu berlatih memakai roh supaya intuisi roh dapat menjadi peka. Kita juga perlu membiarkan pikiran kita diperbarui sehingga pengertian pikiran kita menjadi jernih. Lagi pula, kita perlu menanggulangi hati kita supaya menjadi lembut dan murni, mengasihi Allah, menginginkan Allah, dan tunduk kepada Allah. Dengan cara demikian, pada saat hukum hayat dan pengurapan bergerak dalam diri kita, intuisi dalam roh kita dapat segera tahu, pengertian pikiran kita juga dapat segera mengerti, dan setiap saat kita dapat memiliki pengenalan batiniah akan Allah.

Terhadap pengenalan batiniah seperti ini, Allah juga telah memberi kita pengajaran dan prinsip-prinsip Alkitab dari luar diri kita untuk mencocokkan dan membuktikan bahwa kita tidak salah atau tertipu. Lagi pula, melalui pelayan-pelayan-Nya, di luar diri kita, Allah mengajar atau mengulangi perasaan yang kita rasakan di dalam diri kita. Dia mungkin mengajar pikiran kita untuk memahami perasaan yang kita miliki dalam roh, atau Dia mungkin memperjelas bagi kita hal-hal yang dalam dan rohani tentang Allah dan pengenalan dasar tentang hayat rohani.

Karena di dalam dan di luar diri kita, kita memiliki banyak cara dan sarana untuk mengenal Allah, kita dapat "dipenuhi dengan segala hikmat dan pengertian rohani untuk mengetahui kehendak Tuhan, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan tentang Allah" (Kol. 1:9-10). Ketika kita mengenal Allah secara demikian, kita tidak hanya dapat mengenal kehendak Allah dengan sempurna, tetapi juga dapat bertumbuh dan menjadi dewasa dalam hayat Allah. Semakin kita meningkat dalam pengenalan akan Allah, kita akan semakin bertumbuh dalam hayat Allah sampai Dia menduduki seluruh diri kita. Dengan demikian barulah unsur Allah akan sepenuhnya tergarap ke dalam diri kita, sehingga mencapai tujuan kehendak Allah yang mulia untuk berbaur menjadi satu dengan kita.