HUKUM HAYAT
Pada bab sembilan, kita sudah membahas tigahayat dan empat hukum. Sekarang, secarakhusus kita akan membahas hukum hayat yang juga merupakan hukum Roh hayat yang disebutkan dalam bab sebelumnya. Mengenai keempat hukum itu, hanya hukum hayat yang merupakan kemampuan alamihayat Allah, membuat kitamampu memperhidupkan hayat Allah dengan sangat alami. Karena itu, kalau kita ingin menjamah jalan hayat, kitaharus mempunyai pengetahuan yang jelas mengenai hukum hayat.
I. DASARALKITAB
Dalam seluruh Alkitab,hanya lima bagian berikut inilah yang dapat dikatakan menyebutkan mengenalhukum hayat, baiksecara langsungmaupun tidak langsung.
1. Roma 8:2, "Hukum Roh hayat" (Tl.). Hukum Roh hayatyang disebutkan di sini adalah hukum hayat. Roh, yang merupakan asal hukum ini, mengandung hayat, atau dapat dikatakanadalah hayat. Karena itu, hukum iniadalah hukum Roh, juga adalah hukum hayat.
2. Ibrani 8: 10, "'Inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaumIsrael sesudah waktuitu, demikianlah firman Tuhan. Akuakan menaruh hukum-Ku dalarn akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku."
3. Ibrani10: 16, "'Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudahhari-hari itu, firman Tuhan lagi,' Aku akan menaruh hukum-Kudi dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka."
Kedua ayat darilbrani 8 dan 10 diatas sama-sama terlebihdahulu menyebutkan "menaruh,"baru "menuliskan"; dan keduanya membicarakan akal budi (pikiran) dan hati. Jadi pokok pembicaraankeduanya sama. Keduanya dikutipdari Yeremia 31:33.
4. Yeremia 31:33, "Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudahwaktu itu, demikianlah firman Tuhan : Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batinmereka danmenuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku."
5. Yehezkiel36:25-28, "Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmudan darisemua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu.Kamu akanKuberikan hati yangbaru, dan roh yangbaru di dalam batinmu dan Akuakan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikandiam di dalam batinmu danAku akan membuatkamu hidup menurutsegala ketetapan-Ku dantetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya ... dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu. "
Beberapa ayat tadi setidaknya membicarakan lima hal : (1) Mentahirkan dengan air jernih, (2) Memberi kita hati baru, (3) Memberi kita roh baru, (4) Menyingkirkan hati yang keras dan memberi kita hati daging (taat), dan (5) Menaruh Roh Allah ke dalam diri kita. Gabungan kelima hal ini mengakibatkan kita hidup menurut undang-undang Allah dan tetap berpegang pada ketetapan Allah serta melakukannya. Kita akan menjadi umat-Nya dan Dia akan menjadi Allah kita. Ini berarti bahwa Roh Kudus di dalam diri kita memberikan kekuatan baru kepada kita, untuk melakukan kehendak Allah dan menyenangkan Allah sehingga Allah dapat menjadi Allah kita dan kita dapat menjadi umat-Nya. Jadi akibat yang disebutkan di sini sama dengan akibat yang disebutkan dalam Yeremia 31:33.
II. ASAL MULA HUKUM HAYAT –
KELAHIRAN KEMBALI
Kalau kita ingin membicarakan asal mula hukum hayat, kita harus mulai dari kelahiran kembali, karena kelahiran kembali adalah menerima hayat Allah masuk ke dalam roh kita. Begitu kita dilahirkan kembali, kita mempunyai hayat Allah dalain roh kita; dan begitu kita mempunyai hayat Allah, dengan sendirinya kita mempunyai hukum hayat yang berasal dari hayat Allah.
1. Penciptaan Manusia
Membicarakan kelahiran kembali, kita harus mulai dengan penciptaan manusia. Ketika Allah menciptakan manusia, manusia hanya memiliki hayat manusia yang baik dan lurus; manusia tidak mempunyai hayat Allah yang ilahi dan kekal. Namun ketika Allah menciptakan manusia, tujuan utama-Nya adalah membaurkan hayat-Nya ke dalam manusia untuk bersatu dengan manusia, dan mencapai sasaran keesaan antara Allah dengan manusia. Karena itu, ketika Allah menciptakan manusia, selain tubuh dan jiwa manusia, secara khusus Dia menciptakan roh bagi manusia. Roh ini merupakan organ bagi manusia untuk menerima hayat Allah. Ketika kita menggunakan roh untuk mengontak Allah yang adalah Roh, maka kita pun dapat menerima hayat-Nya dan bersatu dengan-Nya sehingga memenuhi tujuan utama-Nya.
2. Kejatuhan Manusia
Tetapi, sebelum menerima hayat Allah, manusia jatuh. Butir yang paling serius dari kejatuhan manusia bukan hanya karena menyebabkan manusia berbuat dosa dan menyalahi Allah, tetapi karena menyebabkan rohnya menjadi mati, atau karena membawa kematian pada bagian yang merupakan organ bagi manusia untuk menerima hayat Allah. Mengatakan bahwa roh itu mati bukanlah berarti bahwa roh itu menjadi tidak ada, tetapi roh itu kehilangan fungsinya untuk bersekutu dengan Allah dan menjadi terpisah dari Allah, sehingga manusia tidak lagi dapat bersekutu dengan Allah. Mulai saat itu, manusia tidak dapat menggunakan rohnya untuk mengontak Allah guna menerima hayatNya.
Pada saat ini, manusia mempunyai dua macam kebutuhan. Di satu pihak, karena kejatuhannya, manusia membutuhkan Allah untuk membereskan dosa yang dilakukannya. Di pihak lain, manusia lebih-lebih memerlukan Allah untuk melahirkan dirinya kembali melalui memberikan hayat pada rohnya yang mati, sehingga manusia dapat menerima hayat Allah dan memenuhi tujuan utama Allah dalam menciptakan manusia.
3. Cara Penyelamatan Allah
Karena kebutuhan-kebutuhan inilah maka cara Allah menyelamatkan manusia terdiri atas dua aspek, yaitu negatif dan positif. Pada aspek negatif, melalui Tuhan Yesus mencurahkan darah-Nya di atas salib, penebusan dirampungkan dan masalah dosa manusia terselesaikan. Pada aspek yang positif, melalui kematian Tuhan Yesus, hayat Allah dibebaskan; kemudian melalui kebangkitan Tuhan Yesus, hayat Allah telah ditaruh dalam Roh Kudus; akhirnya Roh Kudus masuk ke dalam diri kita, membuat kita memperoleh hayat Allah yang ilahi dan kekal.
Demikianlah Roh Kudus membuat kita memperoleh hayat Allah, yaitu melahirkan kita kembali. Tetapi, bagaimana caranya Roh Kudus melahirkan kita kembali? Caranya adalah dengan firman Allah. Pertama-tama, dalam lingkungan kita, Roh Kudus menyiapkan kesempatan bagi kita untuk mendengar firman Allah. Kemudian melalui firman itu, Dia menerangi kita dan menggerakkan kita; Dia menyebabkan kita mengakui dosa-dosa kita, mencela diri sendiri, bertobat dan percaya, dengan demikian menerima firman Allah dan menerima hayat Allah. Dalam firman Allah tersembunyi hayat Allah, dan firman Allah adalah "hidup" (hayat) (Yoh. 6:63). Pada saat kita menerima firman Allah, hayat Allah masuk ke dalam kita dan melahirkan kita kembali.
Karena itu, kelahiran kembali tidak lain adalah selain hayatnya sendiri, manusia menerima hayat Allah. Jadi, ketika kita menerima hayat Allah, kita menerima kuasa yang membuat kita menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12). Kuasa itu sendiri adalah hayat Allah; karena itu, ketika kita mempunyai hayat ini, kita mempunyai kuasa untuk menjadi anak-anak Allah.
Ketika kita mempunyai hayat Allah dan menjadi anakanak Allah, dengan sendirinya kita mempunyai sifat Allah (2 Ptr. 1:3-4). Kalau kita hidup berdasarkan hayat ini dan sifat hayat ini, kita dapat menjadi seperti Allah dan memperhidupkan gambar Allah.
Bagaimana caranya hayat Allah dalam diri kita bekerja untuk membuat kita menjadi seperti Dia? Hayat itu bekerja dari pusat menuju lingkaran luar, atau dari roh menuju jiwa, lalu tubuh, merampungkan perluasan luarannya. Ketika hayat Allah masuk ke dalam kita, pertama-tama dia masuk ke dalam roh kita, menghidupkan roh kita yang mati, dan membuatnya menjadi hidup, segar, kuat, bersemangat, dan mampu menyentuh Allah, merasakan Allah, dan memiliki persekutuan yang manis dengan Allah. Lalu secara berangsur-angsur hayat itu menyebar dari roh kita ke dalam setiap bagian jiwa kita dan membuat pikiran, perasaan, dan keputusan kita berangsur-angsur menjadi seperti milik Allah, mempunyai aroma Allah; bahkan dalam kemarahan kita, ada sesuatu yang seperti rupa Allah, sesuatu yang beraromakan Allah. Betapa luar biasanya perubahan ini!
Tidak hanya demikian, hayat ini akan terus bekerja sampai meluas ke tubuh kita, sehingga tubuh kita juga mempunyai unsur hayat-Nya. Inilah yang dikatakan Roma 8:11 bahwa Roh Allah yang tinggal dalam diri kita akan menghidupkan tubuh kita yang fana.
Hayat Allah dalam diri kita akan bekerja dan makin meluas hingga membuat roh, jiwa, dan tubuh kita, atau seluruh diri kita, sepenuhnya terisi dengan sifat Allah, unsur Allah, dan aroma Allah; hingga kita terangkat dan berubah rupa; hingga kita masuk ke dalam kemuhaan dan sepenuhnya menjadi seperti Dia.
Hayat Allah yang terus-menerus bekerja dan meluas dalam diri kita tidaklah memaksakan kehendak tanpa mempedulikan kita, sebaliknya hayat itu justru meminta kecondongan emosi kita, kerja sama pikiran kita, dan kepatuhan tekad kita. Kalau kita menolak pekerjaannya, tidak mau sungguh-sungguh mengikutinya, dan tidak mau bekerja sama dengannya, hayat itu tidak dapat menyatakan kuasanya atau menampilkan fungsinya. Karena manusia adalah makhluk hidup yang memiliki perasaan, pikiran, dan kehendak, maka apakah manusia mau bekerja sama, apakah dapat bekerja sama, masih merupakan satu masalah. Karena itu, sewaktu Allah melahirkan kita kembali, di samping memberi kita hayat-Nya, Dia juga memberi kita hati yang baru dan menaruh roh yang baru dalam diri kita (Yeh. 36:26); supaya kita mau dan dapat bekerja sama.
Hati adalah perkara kemauan, sedangkan roh adalah perkara kemampuan. Karena memberontak melawan Allah, hati kita yang semula menjadi keras atau usang, karena itu disebut "hati yang keras" atau "hati yang usang". Hati yang usang ini melawan Allah, tidak menginginkan Allah, dan tidak mau bekerja sama dengan Allah. Kini Allah memberi kita hati yang baru. Ini bukan berarti Dia memberi kita hati yang lain di samping hati kita yang usang, tetapi melalui kelahiran kembali oleh Roh Kudus, Dia melembutkan hati kita yang mengeras menjadi "hati yang lunak", jadi, memperbarui hati yang usang itu untuk menjadi hati yang baru. Hati baru ini condong kepada Allah dan mempunyai rasa kasih kepada Allah dan perkara-perkara yang berasal dari-Nya. Hati baru ini adalah organ baru untuk condong kepada Allah dan mengasihi Allah, hati baru ini membuat kita mau bekerja sama dengan Allah dan mengizinkan hayat Allah untuk meluas dan bekerja dengan bebas dari dalam kita ke luar.
Karena terpisah dari Allah, roh yang telah kita miliki sejak semula mati dan menjadi usang, karena itu disebut "roh yang usang". Karena roh yang usang ini telah kehilangan kemampuannya untuk bersekutu dengan Allah dan mengontak Allah, maka dengan sendirinya roh usang itu tidak dapat bekerja sama dengan Allah. Kini Allah memberi kita "roh yang baru". Hal ini tidak berarti bahwa Dia memberi kita roh yang lain di samping roh kita yang usang, tetapi melalui kelahiran kembali oleh Roh Kudus, Dia menghidupkan roh kita yang mati menjadi roh yang hidup, memperbaruinya menjadi roh yang baru. Roh baru ini dapat bersekutu dengan Allah dan dapat memahami Allah beserta perkara-perkara rohani. Roh ini merupakan organ baru untuk mengontak Allah, membuat kita mampu bekerja sama dengan Allah, dan melalui bersekutu dengan Allah, mempersilakan hayat Allah dalam diri kita bekerja dan meluas ke luar.
Dengan memiliki hati yang baru, kita mau bekerja sama dengan Allah; dengan roh yang baru, kita dapat bekerja sama dengan Allah. Hati yang baru dan roh yang baru paling banyak hanya membuat kita mau damba akan Allah, dapat mengontak Allah, sehingga mengizinkan hayat .Allah dalam diri kita meluas dengan bebas dan bekerla ke luar. Namun hati baru dan roh baru itu tidak dapat memenuhi tuntutan Allah yang tidak terbatas terhadap diri kita agar kita mencapai standar ilahi dari Allah sendiri. Karena itu, ketika Allah melahirkan kita kembali, Dia melakukan perkara yang paling mulia dan luar biasa sebagai tambahan, yaitu menaruh Roh-Nya sendiri, Roh Kudus, ke dalam roh kita yang baru. Roh Kudus ini adalah perwujudan Kristus, dan Kristus adalah perwujudan Allah. Karena itu, Roh Kudus masuk ke dalam kita berarti Allah Tritunggal masuk ke dalam kita. Dengan demikian Sang Pencipta dan ciptaan-Nya bersatu. 0, ini benar-benar patut kita puji! Lagi pula, Roh Allah, Roh kekal, atau Roh yang tidak terbatas, mempunyai fungsi yang tidak terbatas dan mempunyai kekuatan yang luar biasa. Karena itu, ketika tinggal dalam roh kita yang baru, Roh Allah dapat menggunakan kekuatan-Nya yang tidak terbatas untuk mengurapi dan menyuplai kita, untuk bekerja dan bergerak di dalam kita. Jadi, Dia membuat kita dapat memenuhi tuntutan Allah yang tidak terbatas terhadap kita, dan dengan demikian mengizinkan hayat Allah terus meluas dari roh kita, melalui jiwa kita, dan masuk ke dalam tubuh kita. Akhirnya, Roh Allah membuat kita mencapai keadaan yang muha yang sepenuhnya seperti Allah. Haleluya!
Satu hal yang jelas diwahyukan kepada kita di sini : cara penyelamatan Allah dan perbaikan diri manusia pada dasarnya mutlak berbeda. Perbaikan diri manusia tidak lain adalah pekerjaan menggali apa yang sudah ada pada diri manusia, yaitu pada jiwa dan tubuhnya beserta kemampuannya masing-masing. Bahkan seandainya perbaikan diri itu berhasil, masih sangat terbatas, karena kekuatan manusia itu terbatas. Tetapi, penyelamatan Allah walaupun juga melewati setiap bagian jiwa kita dan berangsur-angsur memperbarui setiap bagiannya dan juga mencapai tubuh, butir pentingnya adalah Roh Allah yang mengandung hayat Allah ditambahkan ke dalam roh kita. Karena memiliki kuasa ilahi dan tidak terbatas, maka roh kita sepenuhnya dapat memenuhi tuntutan Allah yang tidak terbatas. Ini merupakan penambahan, bukan perbaikan. Usaha untuk memperbaiki diri tidak lain adalah memperbaiki hal-hal yang sudah kita miliki, dan ini terbatas. Namun menambahkan sesuatu yang berasal dari Allah sendiri itu tidak terbatas.
Apa yang baru saja kita bahas seharusnya membuat kita melihat dengan jelas bahwa kelahiran kembali membuat kita menerima hayat Allah. Dalam hayat ini ada fungsi alami, dan fungsi alami hayat ini adalah "hukum hayat". Jadi, hayat Allah adalah sumber hukum hayat ini, dan kelahiran kembali adalah asal hukum hayat ini. Meskipun hukum hayat berasal dari hayat Allah, namun melalui kelahiran kembali hukum itu masuk ke dalam diri kita.
Kalau kita mau tahu makna hukum hayat, kita harus tahu apakah hukum itu. Hukum adalah peraturan alami, peraturan yang bersifat tetap dan tidak berubah. Hukum tidak selalu berasal dari hayat, tetapi hayat pasti bergandengan dengan hukum. Hukum yang bergandengan dengan hayat disebut hukum hayat. Hukum hayat tertentu juga merupakan ciri khas alami hayat tertentu itu, yaitu fungsi bawaan lahir. Misalnya, kucing dapat menangkap tikus, dan anjing dapat berjaga-jaga pada malam hari; telinga kita dapat mendengar, hiclung kita dapat mencium bau, lidah kita dapat mengecap rasa, dan lambung kita dapat mencerna. Semua kemampuan ini merupakan ciri khas alami dan fungsi hayat yang dibawa sejak lahir. Suatu hayat tertentu, selama ia ada dan bebas, maka dengan sendirinya masing-masing dapat mengembangkan ciri khasnya dan menyatakan kemampuannya. Hayat tidak memerlukan ajaran atau dorongan manusia; hayat berkembang dengan sangat alami tanpa usaha sedikitpun. Ciri khas dan kemampuan bawaan seperti ini yang ada dalam hayat membentuk hukum hayat tersebut.
Hayat Allah merupakan hayat tertinggi, hayat yang tidak ada bandingnya. Karena itu, ciri khas dan kemampuan hayat ini pastilah yang paling tinggi dan luar biasa. Karena ciri khas dan kemampuan yang tertinggi dan yang luar biasa ini membentuk hukum hayat Allah, maka dengan sendirinya hukum ini merupakan hukum yang tertinggi dan tidak ada bandingnya. Karena dengan kelahiran kembali kita menerima hayat Allah, maka dengan sendirinya dari hayat ini kita telah menerima hukum hayat yang paling tinggi dan luar biasa.
Dalam bab pertama "Apakah Hayat", kita telah mengatakan bahwa hanya hayat Allah adalah hayat. Karena itu, hukum hayat yang sekarang kita bahas khusus mengacu kepada hukum hayat Allah.
Hukum hayat adalah hukum yang secara khusus Allah berikan kepada kita dalam perjanjian yang baru. Hukum ini sangat berbeda dengan hukum yang Allah berikan di Gunung Sinai. Dalam zaman Perjanjian Lama, Allah memberikan hukum yang tertulis pada loh batu di luar tubuh manusia. Hukum itu adalah hukum yang di luar, hukum yang terdiri atas huruf-huruf tertulis. Hukum itu menuntut manusia dari luar, peraturan demi peraturan menetapkan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh manusia. Tetapi hasilnya nol, tidak ada orang yang dapat melakukannya. Meskipun hukum itu baik, namun manusia yang menjadi jahat dan mati tidak memiliki kuasa hayat untuk memenuhi tuntutan hukum itu. Sebahknya, manusia malah jatuh ke bawah penghukuman hukum itu. Roma 8:3 mengacu kepada hal ini ketika mengatakan, "Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tidak berdaya oleh daging,..."
Dalam zaman Perjanjian Baru, ketika Allah melahirkan kita kembali melalui Roh Kudus, Dia menaruh hayatNya sendiri beserta dengan hukum hayat ke dalam diri kita. Hukum hayat ini merupakan hukum yang ada di dalam diri kita, yang merupakan pemberian khusus Allah bagi kita dalam zaman Perjanjian Baru. Hal ini menggenapkan janji Allah yang tertulis dalam Perjanjian Lama, "Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka" (Yer. 31:33).
Hukum hayat ini ditaruh dalam diri kita, jadi berdasarkan tempatnya, hukum ini adalah hukum batin. Hukum ini tidak seperti hukum Perjanjian Lama yang berada di luar diri manusia sehingga merupakan hukum lahiriah. Selanjutnya, hukum hayat ini berasal dari hayat Allah dan menjadi milik hayat Allah, karena itu sesuai dengan sifatnya, hukum ini adalah hukum hayat, jadi dapat menyuplai. Hukum ini tidak seperti hukum Perjanjian Lama yang merupakan hukum. yang terdiri atas tuhsan-tulisan, dan hanya dapat menuntut tetapi tidak dapat menyuplai. Hukum hayat dalam diri kita, yaitu hukum. yang merupakan ciri khas dan kemampuan alami hayat Allah, dengan sangat alami dapat mengatur butir demi butir semua isi dalam hayat Allah. Hasil pengaturan ini memenuhi tuntutan hukum Allah yang di luar itu dengan sempurna.
Mari kita menggunakan dua contoh untuk menggambarkan bagaimana hukum hayat itu berfungsi. Misalnya sebatang pohon persik yang layu. Seandainya kita membuat beberapa hukum. untuk pohon itu yang menuntut: "Kamu harus mengeluarkan daun yang hijau, memekarkan bunga merah, dan mengeluarkan buah persik." Kita tahu bahwa tuntutan-tuntutan seperti itu, meskipun dibuat sejak awal tahun hingga akhir tahun, pastilah sia-sia dan gagal, karena pohon itu layu tanpa kekuatan hayat untuk memenuhi tuntutan hukum di luar dirinya. Namun jika kita dapat mengalirkan hayat ke dalamnya dan memulihkannya hingga hidup, meskipun kita tidak menuntut apa pun darinya secara luaran, hayat itu akan mempunyai kemampuan alami yang akan membuat pohon itu dapat menumbuhkan daun, bunga, dan mengeluarkan buah pada musimnya, bahkan melampaui tuntutan hukum luaran itu. Inilah fungsi hukum hayat.
Seandainya sekarang kita membuat tuntutan untuk orang mati dengan mengatakan, "Kamu harus bernafas, kamu harus makan, kamu harus tidur, kamu harus bergerak." Kita tahu bahwa tuntutan hukum seperti itu terhadap orang mati tidak akan berpengaruh sama sekali; tidak akan dapat dipenuhi. Namun, kalau kita bisa menaruh hayat kebangkitan ke dalam dirinya dan menghidupkannya kembali, ia akan dengan sangat alami bernafas, makan, tidur, dan bergerak. Hal ini berkenaan dengan fungsi hukum hayat.
Dari kedua contoh ini, kita dapat nampak dengan jelas bahwa seluruh kehidupan rohani kita di hadapan Allah tidak dapat kita capal dengan usaha kita sendiri, juga tidak dapat terampungkan melalui usaha perbaikan diri meski dengan usaha sepenuhnya; hal ini merupakan tanggung jawab hayat Allah yang sudah kita terima ke dalam diri kita. Hayat Allah beserta hukum hayatnya tinggal dalam roh kita. Jika kita hidup dan berperilaku menurut hukum hayat dalam roh kita, hukum hayat ini dengan sangat alami dapat "mengatur" dari dalam kita butir demi butir semua isi dalam hayat Allah. Hal ini dengan sangat baik akan memenuhi tuntutan hukum Allah yang ada di luar diri kita, dan bahkan melampauinya tanpa kurang satu pun. Roma 8:4 mengatakan, "supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh."
Hukum hayat yang ditulis pada loh hati kita ini disebut "hukum Roh hayat" (Rm. 8:2 T1.). Ini berarti bahwa hukum ini tidak hanya dari hayat Allah dan menjadi milik hayat Allah, tetapi juga bergantung pada Roh Allah serta menjadi milik Roh Allah. Hal ini karena hayat Allah tergantung pada Roh Allah, dan Roh Allah juga dapat dikatakan adalah hayat Allah. Ketika kita berbicara tentang hayat Allah, kita menekankan tentang hayat Allah itu sendiri; dan ketika kita berbicara tentang Roh Allah, kita menekankan tentang Pelaksana hayat Allah. Dengan kata lain, hayat Allah tidak memiliki pribadi, tetapi Roh Allah merupakan suatu pribadi. Hayat yang bukan pribadi ini adalah milik Roh yang merupakan pribadi, dan tidak dapat dipisahkan dari Roh ini. Roh yang merupakan pribadi ini, membawakan hayat Allah ke dalam diri kita; dan hayat ini disertai dengan hukum, yang merupakan hukum hayat, atau hukum Roh hayat. Hukum ini bersumber pada hayat Allah yang kekal, dan hukum ini mempunyai Roh Allah yang merupakan pribadi dengan kuasa besar, sebagai Pelaksananya. Karena itu, hukum Roh hayat ini mempunyai kuasa yang kekal dan tidak terbatas untuk menanggapi tuntutan Allah yang tidak terbatas.
Jadi kita sudah melihat bahwa hukum Perjanjian Lama merupakan hukum yang tertulis pada loh batu. Meskipun hukum itu banyak menuntut dari manusia, namun tidak ada yang terpenuhi. Hukum Perjanjian Baru merupakan hukum hayat yang tertulis pada loh hati kita. Meskipun hukum ini tidak akan membuat banyak tuntutan terhadap kita, namun pada akhirnya dapat memperlihatkan semua kekayaan Allah dari dalam diri kita, sehingga membuat kita lebih dari mampu untuk menjawab semua tuntutan Allah. Betapa mengagumkan dan betapa mulianya hal ini! Inilah karunia utama yang Allah berikan kepada kita dalam perjanjian yang baru! Kita harus memuji dan bersyukur kepada-Nya!
IV. KEBERADAAN HUKUM HAYAT
1. Tempat Pekerjaan Hukum Hayat
Hayat yang menghasilkan hukum hayat adalah hayat Allah. Ketika kita dilahirkan kembali dan menerima hayat ini, meskipun hayat ini sudah sempurna secara organik di dalam diri kita, namun hayat ini belum bertumbuh dewasa di setiap bagian diri kita. Hayat ini seperti buah yang dihasilkan dari suatu pohon. Hayat buah ini, pada waktu baru muncul, meskipun memang sempurna, namun hanya sempurna secara organik. Untuk menjadi sempurna di setiap bagiannya, hayat itu harus menunggu sampai bertumbuh dan matang. Demikian juga, hayat Allah yang kita terima pada waktu kelahiran kembali hanyalah sempurna secara organik. Kalau kita ingin agar hayat ini memiliki kedewasaan yang sempurna, hayat ini perlu terus bertumbuh dan menjadi dewasa di setiap bagiannya. Pertumbuhan dan pendewasaan hayat ini terjadi karena pekerjaan hukum hayat di setiap bagian keberadaan kita. Kenyataan ini mengungkapkan bahwa tempat hukum hayat ini bekerja adalah dalam setiap bagian keberadaan kita. Inilah yang dimaksudkan Yeremia 31:33 sebagai "batin" atau "bagian dalam".
2. Bagian-bagian Batin dan Hukum-hukumnya
Apakah batin atau bagian dalam diri kita? Ini adalah bagian- bagian dari roh, jiwa, dan hati kita. Hati ini bukanlah hati biologis, tetapi hati psikologis. Dalam diri umat manusia, roh dan jiwa masing-masing merupakan bagian yang berdiri sendiri, tetapi hati terdiri dari sifat gabungan. Menurut catatan Alkitab, hati berisi paling tidak :
1. Pikiran. Misalnya : "kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu" (Mat. 9:4), dan "pikiran dan niat hati" (Ibr. 4:12).
2. Tekad. Misalnya : "dengan kesungguhan hati" (Kis. 11:23), dan "pikiran dan niat hati" (Ibr. 4:12).
3. Emosi. Misalnya : "Janganlah gelisah hatimu" (Yoh. 14:1), dan "hatimu akan bergembira"(Yoh. 16:22).
4. Hati Nurani. Misalnya : "hati nurani yang jahat" (Ibr. 10:22); dan "Bilamana hati kita menuduh kita" (1 Yoh. 3:20).
Petunjuk-petunjuk ini memperlihatkan kepada kita bahwa hati berisi pikiran, tekad, dan emosi, yang merupakan tiga bagian dari jiwa, dan hati nurani yang merupakan bagian dari roh. Hati mempunyai bagian-bagian ini. Jadi, hati tidak hanya terdiri atas unsur dari roh dan semua unsur jiwa, tetapi juga sungguh-sungguh berkaitan dengan roh dan jiwa sekaligus.
Dari berbagai bagian dalam diri kita ini, bagian intuisi dan persekutuan yang ada pada roh lebih berkaitan dengan Allah dan bagi Allah; sedangkan bagian hati nurani dalam roh, yakni "hati yang membenarkan atau menyalahkan", lebih berkaitan dengan manusia dan bagi manusia. Sebagai tempat kepribadian manusia, pikiran, tekad, dan emosi dalam jiwa juga lebih berkaitan dengan segi manusianya dan bagi manusia. Karena hati mengandung pikiran, emosi, tekad, dan hati nurani, maka hati merupakan bagian gabungan yang mengandung berbagai bagian batin manusia ini. Bagian ini bisa dianggap sebagai wakil utama manusia.
Hukum hayat dalam diri kita ini terus bekerja dalam setiap bagian batin tersebut. Begitu hukum itu bekerja pada suatu bagian, hukum itulah menjadi hukum bagian itu. Ketika pekerjaan hukum itu mencapai pikiran, hukum itu menjadi hukum pikiran. Ketika pekerjaannya mencapai tekad, hukum itu menjadi hukum tekad. Ketika pekerjaannya mencapai emosi, hukum itu menjadi hukum emosi. Ketika pekerjaannya mencapai hati nurani, hukum itu menjadi hukum hati nurani. Dengan demikian, hukum itu menjadi hukum setlap bagian dalam diri kita. Karena itu, Ibrani 8:10 dan 10:16 menamai hukum ini sebagai "hukum". Sesungguhnya "hukum" ini hanyalah satu hukum batin, yaitu hukum hayat, atau yang disebut Allah sebagai "hukum" dalam Yeremia 31:33; tetapi hukum ini ditaruh dalam setiap bagian dalam batin kita.
Dalam Yeremia hukum hayat ini disebut "hukum" (tunggal), sedangkan dalam Ibrani disebut "hukum" (jamak). Ini karena hukum ini sendiri hanya ada satu; jadi tunggal. Namun akibat pekerjaan hukum ini, karena mewujudkan kemampuan dan fungsinya dalam berbagai bagian batin kita, maka hukum ini menjadi berbagai hukum; jadi jamak. Baik hukum ini disebut tunggal oleh Yeremia atau disebut jamak oleh Ibrani, keduanya sebenarnya mengacu kepada hukum yang satu.
3. Hubungan antara Hati dan Hukum Hayat
Kita telah melihat bahwa tempat hukum hayat bekerja adalah di berbagai bagian dalam batin kita. Dari berbagai bagian ini, hatilah pusatnya. Ini karena hati merupakan kumpulan bagian batin manusia, dan merupakan wakil utama manusia. Karena itu, hati sangat erat kaitannya dengan hukum hayat, yang bekerja dalam berbagai bagian dalam batin kita, sehingga meniadi hukum yang beragam. Karena inilah, kita akan membicarakan secara terperinci keadaan hati.
a. Hati Merupakan Jalan Keluar Masuk Hayat
Kita sudah membahas bahwa hati berhubungan dengan roh dan jiwa, karena itu hati ada di antara roh dan jiwa. Kalau hayat mau masuk ke dalam roh, harus melalui hati; kalau hayat mau keluar dari roh, juga harus melewati hati. Jadi, hati merupakan jalan yang harus dilewati hayat, juga dapat dikatakan jalan keluar masuknya hayat. Misalnya, waktu seseorang mendengar Injil Tuhan dan merasakan kepedihan akibat dosa, atau merasakan manisnya kasih Allah, emosi hatilah yang tersentuh, hati nuraninya bersedih, pikirannya menyesal, dan tekadnya berkeputusan untuk percaya. Lalu hatinya terbuka untuk Tuhan, dia menerima keselamatan, dan hayat Allah masuk ke dalam rohnya. Sebaliknya, kalau hatinya tidak setuju dan tidak terbuka, bagaimanapun kita menasihatinya, tetap tidak ada jalan bagi hayat Allah masuk ke dalam rohnya. Karena alasan inilah maka penginjil besar dari Inggris, Tuan Spurgeon, suatu saat berkata bahwa untuk menggerakkan roh manusia, orang harus menggerakkan hatinya. Pernyataan ini benar sekali; hanya ketika hati terbuka, barulah roh dapat menerima hayat Allah.
Demikian juga, setelah seseorang diselamatkan, kalau hayat Allah hendak keluar dari dalam diri orang itu, maka hayat itu harus melewati hati dan mendapatkan kerja sama dari hati. Kalau hati setuju, hayat dapat lewat keluar. Kalau hati tidak setuju, hayat tidak dapat lewat keluar. Kadang-kadang hati hanya setuju setengahsetengah. Mungkin hanya hati nurani yang setuju, dan bagian lainnya tidak setuju. Atau, mungkin pikiran yang setuju, sedangkan emosi tidak. Karena itu, hayat masih tidak dapat lewat. Jadi hati sungguh-sungguh merupakan jalan keluar masuk hayat. Sama seperti penerimaan hayat dimulai darl hati, begitu juga untuk memperhidupkan hayat.
b. Hati Merupakan Sakelar Hayat
Hati merupakan jalan keluar masuk hayat : kedatangan dan kepergian hayat bergantung pada hati. Selain itu, hati juga merupakan sakelar hayat. Kalau hati ditutup, maka hayat tidak dapat masuk maupun tersalur keluar. Namun ketika hati terbuka; hayat dapat masuk ke dalam dan juga dengan bebas tersalur keluar. Bagian mana pun dalam hati kalau ditutup, maka hayat Allah tidak dapat mengatur bagian itu; dan bagian mana pun dalam hati kalau dibuka, maka hayat Allah dapat mengatur bagian itu. Jadi hati benar-benar merupakan sakelar hayat. Meskipun hayat memiliki kekuatan, namun kekuatannya itu dikendalikan oleh hati kita yang kecil. Apakah hayat dapat bekerja dengan baik, seluruhnya tergantung pada apakah hati kita terbuka. Seperti kekuatan listrik dari mesin generator yang dikendalikan oleh sakelar keeil untuk lampu di kamar kita, meskipun penuh daya, kalau sakelar itu tidak dinyalakan, aliran listrik tidak dapat masuk.
Tentu saja, ini tidaklah berarti bahwa selama kita memiliki hati yang benar itu sudah cukup. Hati hanya dapat membuat kita. mengasihi Allah dan cenderung kepada Allah,tetapi tidak dapat membuat kita menyentuh Allah dan bersekutu dengan-Nya. Rohlah yang menyebabkan kita menyentuh Allah dan bersekutu dengan-Nya. Inilah sebabnya banyak saudara dan saudari tidak dapat menyentuh Allah dalam doa, meskipun mereka sangat mengasihi Tuhan. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak menggunakan roh. Banyak kebangunan rohani yang gagal dalam pekerjaannya karena alasan ini. Mereka hanya menggerakkan emosi orang, membangkitkan tekad orang, dan membuat orang mengasihi Allah dan cenderung pada Allah; tetapi mereka tidak membimbing orang melatih rohnya untuk bersekutu dengan Allah.
Memang benar bahwa untuk memahami hal-hal rohani, kita perlu menggunakan pikiran hati kita, namun lebih dulu kita harus menggunakan roh untuk mengontak hal-hal itu, karena roh merupakan alat untuk mengontak dunia rohani. Pertama-tama kita harus mengontak semua hal rohani dengan roh, lalu berusaha memahami dan mengerti semua itu dengan pikiran hati. Seperti mendengar suara, pertama-tama suara berhubungan dengan telinga, lalu dimengerti oleh pikiran. Juga seperti melihat warna : Pertama-tama warna harus berhubungan dengan mata, lalu diteliti dan diartikan oleh pikiran. Karena itu, ketika kita menyampaikan Injil kepada kepada orang, kalau roh kita lemah, kita hanya menggunakan kata-kata untuk membuat orang mengerti dan paham dengan pikiran mereka; baru kemudian membimbing mereka menyentuh Roh. Namun kalau roh kita kuat, kita menyampaikan berita keselamatan langsung ke dalam roh orang itu dengan berita dari Injil. Ketika orang itu mendengar Injil, mereka menyentuh roh dan diselamatkan. Sesudah itu kita berangsur-angsur membimbing pikiran mereka untuk mengerti.
Meskipun dalam hal mengontak Allah dan perkara-perkara rohani yang terutama adalah memakai roh, namun kalau hati manusia acuh tak acuh, maka roh terpenjara di dalam dan tidak mampu menyatakan kemampuannya. Bahkan meskipun Allah mau berhubungan dan bersekutu dengannya, tetap tidak mungkin. Karena itu, untuk mengontak Allah dan perkara-perkara rohani, kita perlu menggunakan roh, dan juga perlu mempunyai hati yang berminat. Roh merupakan alat untuk mengontak hayat Allah, dan hati merupakan kunci, sakelar, atau pokok penting yang mempersilakan hayat Allah lewat.
c. Hati dapat Menghalangi Pekerjaan Hayat
Karena hati merupakan jalan keluar masuk hayat, juga merupakan sakelar hayat, maka hati memiliki pengaruh besar terhadap hayat. Begitu ada masalah, walaupun kecil, segera dapat menghalangi pekerjaan hayat. Bagian mana pun dari hati ada masalah, segera hayat terhalangi dan berhenti di sana; hukum hayat tidak dapat mengaturnya lagi.
Hayat Allah dalam diri kita harus mampu bekerja dan bertumbuh dengan bebas, sehingga setiap hari kita dapat menerima wahyu, sering memiliki terang. Ini baru normal dan juga yang seharusnya. Tetapi faktanya sering tidak demikian. Banyak saudara saudari yang hayat rohaninya tidak bertumbuh dan yang kehidupan rohaninya tidak normal. Hal ini bukan karena hayat Allah dalam diri mereka tidak riil, juga bukan karena ada masalah dengan hayat Allah dalam diri mereka; hati merekalah yang ada masalah. Hati mereka kurang terarah pada Allah, hati mereka kurang mengasihi Tuhan, kurang mencari Tuhan, kurang bersih, dan kurang terbuka. Semua dikarenakan ada penyakit atau ada masalah dalam hati. Kalau bukan karena ada masalah dalam hati nurani, yang tidak menanggulangi perasaan bersalah, tentu ada masalah dengan pikiran, ada kekhawatiran, kegelisahan, pikiran jahat, perbantahan, atau keraguan, dan sebagainya. Kalau bukan karena ada masalah dalam tekad, keras kepala, tegar tengkuk, tentu ada masalah dengan emosi yang mempunyai hasrat kedagingan dan kecenderungan alamiah. Semua cerita dalam hati itu menjadi rintangan bagi pekerjaan hayat dalam diri kita, sehingga tidak memungkinkan hukum hayat untuk mengaturnya. Karena itu, kalau kita ingin bertumbuh dalam hayat, pertama-tama kita harus menanggulangi hati, kemuthan baru memakai roh. Kalau hati tidak ditanggulangi dengan baik, tidak mungkin menggunakan roh. Banyak kesulitan saudara saudari bukan pada roh mereka, melainkan pada hati mereka. Begitu hati tidak benar, maka hayat dalam roh terhalangi, dan hukum hayat tidak dapat bekerja dengan bebas. Kalau kita mau menuntut hayat dan menempuh jalan hayat, kita tidak boleh memiliki masalah dalam hati; demikian hukum hayat dapat bekeria dengan bebas dan bergerak tanpa gangguan, dan mencapai setiap bagian diri kita.
d. Cara Menanggulangi Hati
Karena hati benar-benar sangat berkaitan dengan hayat, maka Allah tidak bisa tidak harus menanggulangi hati kita, supaya hayat-Nya dapat disalurkan keluar dari diri kita. Terhadap Allah, hati kita mempunyai empat masalah, yaitu : tidak lembut, tidak murni, tidak mengasihi, tidak damai. Tidak lembut adalah masalah tekad; tidak murni bukan hanya masalah pikiran, tetapi juga emosi; tidak mengasihi adalah masalah emosi; dan tidak damai adalah masalah hati nurani. Ketika Allah menanggulangi hati kita, Dia menanggulangi keempat aspek ini, supaya hati kita bisa lembut, murni, kasih, dan damai.
Pertama-tama, Allah ingin hati kita menjadi lembut. Menjadi lembut berarti kehendak hati tunduk dan pasrah kepada Allah, bukannya tegar tengkuk dan memberontak. Ketika Allah menanggulangi hati kita hingga hati kita menjadi lembut, Dia menyingkirkan hati yang keras kita dan memberi kita hati yang taat (Yeh. 36:26). Ini berarti bahwa Dia melembutkan hati kita yang keras dan membatu, sehingga menjadi hati yang lembut dan lunak.
Ketika kita baru beroleh selamat, hati selalu lembut. Tetapi, ada orang sejangka waktu kemudian, hati mereka kembali menjadi keras, tidak taat kepada Tuhan, bahkan tidak takut kepada Tuhan, kembali jatuh dari hadirat Tuhan. Kapan saja hati kita mengeras, berarti kita ada masalah di hadapan Allah. Kalau kita ingin agar keadaan kehidupan rohani kita senantiasa benar di hadapan Allah, hati kita tidak boleh mengeras, sebaliknya harus selalu lembut. Tidaklah sepatutnya kita takut akan ini dan itu, tetapi sepatutnyalah kita takut akan Allah. Jangan takut terhadap surga, jangan takut terhadap bumi, takutlah kalau-kalau bersalah kepada Allah. Hati kita harus ditanggulangi sedemikian rupa sehingga benar-benar lembut; demikian baru boleh. Sayang, banyak saudara saudari yang lembut dalam banyak hal, tetapi begitu menyinggung tentang Allah dan kehendak-Nya, mereka segera menjadi sangat keras. Mereka bahkan mengatakan, "Beginilah keadaanku, apa yang akan Allah perbuat?" Ini sangat mengerikan! Tetapi ada juga saudara saudari yang keras terhadap segala sesuatu, namun ketika Allah dan kehendak-Nya disebutkan, mereka menjadi lembut. Orang-orang seperti ini mempunyal hati yang lembut. Kita harus minta kepada Allah untuk membuat hati kita lembut seperti ini.
Bagaimana cara Allah melembutkan hati kita? Kadang-kadang Dia menggunakan kasih-Nya untuk mengharukan kita, kadang-kadang Dia menggunakan hukuman untuk memukul kita. Sering kali Allah menggunakan kasih-Nya lebih dulu untuk mengharukan kita. Kalau kasih tidak dapat mengharukan kita, Dia akan menggunakan tanganNya, melalui lingkungan memukul kita sampai hati kita menjadi lembut. Ketika hati kita dilembutkan, hayat Allah dapat bekerja dalam diri kita.
Kedua, Allah ingin hati kita menjadi murni. Hati yang murni berarti hati yang memperuntukkan pikirannya khusus pada Allah, emosi tulus murni dan tidak rumit di hadapan Allah (Lihat 2 Kor. 11:3). Hati yang murni hanya mengasihi dan menginginkan Allah; selain Allah, hati yang murni tidak punya kasih, kecenderungan, atau hasrat yang lain. Matius 5:8 mengatakan : "yang suci (murni) hatinya, . . . akan melihat Allah." Jadi, kalau hati tidak murni, tidak dapat melihat Allah. Kalau pikiran kita masih memikirkan hal-hal di luar Allah, atau kalau emosi kita masih mengasihi hal-hal di luar Allah, maka hati kita tidak lagi murni. Hayat dalam roh kita juga terhalang karenanya. Karena itu, kita harus berusaha "bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni" (2 Tim. 2:22), dan menjadi orang-orang yang mengasihi Tuhan serta mengingini Allah dengan hati yang murni. Demikian, kita dapat membiarkan hayat Allah bekerja dengan bebas dalam diri kita.
Ketiga, Allah mau hati kita memiliki kasih. Hati yang memiliki kasih berarti emosi mengasihi Allah, mengingini Allah, damba akan Allah, rindu akan Allah, dan memiliki kasih terhadap Allah. Dalam Alkitab, ada kitab yang khusus berbicara tentang kasih umat saleh kepada Tuhan – yaitu kitab Kidung Agung dalam Perjanjian Lama. Kitab ini mengatakan bahwa sebagai umat Allah, kita harus mengasihi Tuhan seperti seorang perempuan yang mengasihi kekasihnya. Kasih ini begitu dalam, tidak berubah, dan lebih kuat daripada kematian (8:6-7). Karena kitab ini berbicara khusus tentang kasih kita kepada Tuhan, maka kitab ini juga khusus memperlihatkan pertumbuhan kita dalam hayat Tuhan. Lalu dalam Perjanjian Baru, khususnya Yohanes 21, Tuhan sampai tiga kali bertanya kepada Petrus : "Apakah engkau mengasihi Aku?" Ini berarti bahwa Tuhan ingin membimbing emosi Petrus supaya sungguhsungguh mengasihi Tuhan, supaya dia dapat menjadi orang yang memiliki hati yang mengasihi Tuhan. Tuhan berbuat demikian, karena Dia ingin Petrus memberi kesempatan kepada hayat-Nya untuk bekerja dan bertumbuh dalam dirinya. Peristiwa imi dicatat dalam Injil Yohanes. Kitab ini berbicara tentang bagaimana kita dapat menerima Tuhan sebagai hayat dan bagaimana hidup dalam hayat ini. Kalau hati kita memiliki kasih seperti ini terhadap Tuhan, barulah hayat Tuhan dalam diri kita dapat bergerak dengan lancar dan berbuat sesuai keinginannya.
Keempat, Allah ingin hati kita menjadi damai. Hati yang damai berarti hati nurani tanpa cela, tanpa tuduhan dosa, tanpa penghukuman atau celaan; seballknya, aman dan nyaman. Hati nurani dalam diri kita mewakili Allah untuk memerintah kita. Kalau hati nurani kita menyalahkan kita, sesungguhnya Allah lebih besar daripada hati nurani kita dan tahu segala sesuatu (1 Yoh. 3:20), maka Dia akan lebih lagi menyalahkan kita. Jadi, kita harus menanggulangi dengan jelas semua rasa bersalah, tuduhan dan celaan, sehingga kita "boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah" (1 Yoh. 3:19). Jadi, kalau hati kita damai, Allah dapat lewat dalamnya, dan hukum hayat Allah dapat terus bekerja dalam diri kita.
Kalau hati kita lembut, murni, kasih, dan damai, berarti hati kita tepat lurus. Hanya hati yang tepat lurus seperti inilah yang merupakan mitra seimbang dan cocok untuk hukum hayat. Hati seperti ini dapat mempersilakan hayat Allah dengan bebas tersalur keluar dari diri kita. Sering kali, hati kita terhadap Allah seperti membawa tanda yang berbunyi : "Jalan buntu" sehingga Allah tidak bisa lewat, hayat Allah terhalangi dan terhenti, tidak mampu bekerja dan menyebar dengan bebas dalam diri kita maupun keluar dari diri kita.
Meskipun pembicaraan ini tidak disampaikan dengan petah lidah dan hikmat yang tinggi, ini seharusnya membuat kita meneliti semua kondisi hati kita dengan cermat, seperti memeriksa kesehatan tubuh kita. Kita harus bertanya kepada diri kita : Apakah kehendak hati kita benar-benar memilih Allah? Apakah kehendak hati kita tunduk dan berserah kepada Allah? Atau malah tegar tengkuk dan memberontak? Kita harus bertanya : Apakah pikiran kita murni bersih di hadapan Allah? Berliku-likukah? Pikiran-pikiran kita, perhatian-perhatian kita, murnikah di hadapan Allah? Atau, adakah orang, perkara, atau sesuatu yang sangat kita perhatikan sehingga menduduki hati kita? Kita harus bertanya : Apakah emosi hati kita hanya tertuju kepada Allah? Apakah emosi hati kita sepenuhnya mengasihi dan menginginkan Allah saja? Ataukah, ada kasih lain, kecenderungan lain, tambatan hati lain di luar Allah? Kita harus bertanya : Bagaimanakah hati nurani kita di hadapan Allah? Apakah hati nurani kita tanpa cela? Apakah hati nurani kita tenteram? Atau hati nurani kita mempersalahkan dan menegur kita? Kita harus memeriksa dan menanggulangi semua hal ini dengan cermat, supaya hati kita dapat menjadi hati yang lembut, murni, kasih, dan damai; dengan kata lain, hati kita menjadi hati yang tepat lurus. Jika demikian, hayat dalam roh kita pasti memiliki jalan keluar, dan hukum hayat pasti dapat disalurkan keluar dari diri kita.
Jadi, pada bagian mana dari hati kita ditanggulangi, di sanalah hayat Allah dapat bekerja, dan di sanalah hukum hayat Allah dapat mengaturnya. Jika semua bagian hati kita telah diperiksa dan ditanggulangi, hukum hayat Allah akan dapat memerintah dari dalam roh kita melalui hati kita ke setiap bagian diri kita. Dengan demikian, setiap bagian diri kita dapat menyatakan kemampuan hukum hayat ini, terisi dengan unsur hayat Allah, dan mencapai kemuliaan akhir kesatuan Allah dengan manusia.
V. SYARAT-SYARAT HUKUM HAYAT
Kita telah membahas mengenai keberadaan hukum hayat, kita tahu bahwa hukum hayat ini bekerja pada setiap bagian dalam batin kita. Namun dalam pelaksanaannya, kalau menghendaki hukum hayat bekerja dengan bebas dalam setiap bagian batin kita, kita masih perlu memenuhi dua syarat :
1. Mengasihi Allah
Syarat pertama, mengasihi Allah. Injil Yohanes khusus berbicara tentang hayat; juga menekankan tentang percaya dan kasih. Percaya berarti menerima hayat masuk, sedangkan mengasihi berarti mengalirkan hayat keluar. Kalau kita ingin menerima hayat, kita harus percaya. Kalau kita mau memperhidupkan hayat, kita harus mengasihi. Hanya percaya yang dapat membuat hayat masuk, dan hanya kasih yang dapat membuat hayat mengahr keluar. Jadi, kasih adalah syarat yang harus ada yang memampukan hukum hayat bekerja.
Pada bagian lain dari Alkitab juga dikatakan bahwa kita harus mengasihi Allah dengan segenap, hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan kita (Mrk. 12:30). Ketika kita mengasihi Allah sampai sedemikian rupa, kita mempersilakan kasih kita kepada Allah mencapai setiap bagian dalam diri kita, maka hayat Allah dapat berfungsi dan memerintah dalam setiap bagian dalam diri kita. Demikian, bagian-bagian ini berangsur-angsur berubah menjadi serupa dengan Allah.
Jadi, terlebih dulu Allah menanamkan hayat-Nya dalam diri kita, kemudian Dia menggunakan kasih untuk menggugah emosi kita, supaya kita mengasihi Dia, berbalik kepada-Nya, dan tertambat pada-Nya. Demikian selubung pada diri kita akan disingkirkan (lihat 2 Kor. 3:16), dan kita dapat mehhat terang, menerima wahyu, dan mengenal Allah serta hayat Allah. Selanjutnya, ketika kita mengasihi Allah dengan sepenuh hati kita, dengan sendirinya kita pun rela taat kepada Allah dan bekerja sama dengan-Nya. Demikianlah hukum hayat Allah akan bekerja dengan bebas dalam diri kita, dan akan menyuplai setiap bagian diri kita dengan semua kekayaan hayat Allah. Jadi, pada bagian mana "terisi" dengan kasih terhadap, Allah, pada bagian itu hukum hayat Allah akan tersalur dan berperan. Jika seluruh din kita mengasihi Allah, maka hukum hayat Allah akan bekerja ke seluruh diri kita. Demikian, seluruh diri kita, dalam maupun luar, akan menjadi seperti Allah dan diisi dengan kekayaan hayat Allah.
2. Menaati Perasaan Pertama Hayat
Syarat kedua, menaati perasaan pertama hayat. Dalam bab ketujuh, "Perasaan Roh dan Mengenal Roh", kita membahas bahwa hukum hayat adalah milik perasaan, dapat membuat kita memiliki perasaan. Pada saat kita dilahiran kembali dan memiliki hayat Allah, hukum hayat dalam diri kita ini pasti membuat kita mempunyai perasaan. Tanggung jawab kita adalah menaati perasaan hukum hayat, agar hukum hayat ini bekerja dengan leluasa dalam diri kita.
Hanya saja, pada awalnya, perasaan hukum hayat ini mungkin lemah dan jarang. Namun asal kita mau menaati perasaan yang pertama, meskipun lemah dan kecil, perasaan selanjutnya akan makin lama makin kuat. Kita justru harus mulai taat kepada perasaan awal yang lemah ini dan terus taat. Dengan demikian, hukum hayat dapat bekerja dalam diri kita tanpa henti, hingga mencapai seluruh bagian dalam diri kita, dan hayat dalam diri kita akan meluas ke luar dengan sendirinya, bahkan makin dalam dan makin tinggi.
Ada orang mungkin bertanya, "Sesudah menaati perasaan yang pertama, bagaimana selanjutnya?" Jawabannya ialah : sebelum kita menaati perasaan yang pertama, janganlah kita. mempedulikan tentang apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Allah hanya memberi kita satu perasaan pada satu waktu, sama seperti Allah hanya memberi kita satu hari pada satu waktu. Seperti kita hidup satu hari demi satu hari, demikian juga menaati perasaan, satu demi satu. Ketika Allah memberi kita satu perasaan, kita menaati satu perasaan ini. Setelah kita menaati perasaan yang pertama, dengan sendirinya Allah akan memberi kita perasaan yang kedua. Seperti ketika Allah memanggil Abraham, Dia hanya memberi tahu Abraham langkah pertama : "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu." Setelah Abraham meninggalkan semua itu, apa yang harus dilakukannya dan ke mana dia harus pergi, akan diberitahukan kepadanya. Allah berkata, "akan Kutunjukkan kepadamu" (Kej. 12:1). Ketika Tuhan Yesus lahir dan Raja Herodes mencari-Nya untuk membunuh-Nya, Allah hanya memberi tahu Yusuf langkah pertama, yaitu agar melarikan diri ke Mesir. Dia harus berada di sana sampai Allah memberitahukan langkah selanjutnya (Mat. 2:13).
Ini menampakkan kepada kita bahwa Allah hanya memberi kita satu perasaan pada satu waktu, karena Dia ingin kita menengadah kepada-Nya langkah demi langkah, bersandar dan taat kepada-Nya waktu demi waktu. Jadi, perasaan hukum hayat mempunyai prinsip bersandar, sama seperti pohon hayat, yakni supaya kita bersandar kepada Allah, supaya kita taat kepada Allah satu perasaan demi satu perasaan. Bersandar kepada Allah bukan hanya satu kah, melainkan terus bersandar. Tidak seperti prinsip pohon pengetahuan baik dan jahat, yang merdeka terhadap Allah. Karena itu, setiap orang yang ingin hidup berdasarkan hukum hayat harus memperhatikan dan menaati perasaan hayat yang pertama dan selanjutnya terus menaatinya.
Hukum hayat kadang-kadang juga memberi kita perasaan negatif. Misalnya, ketika kita melakukan tindakan yang melawan Allah, yaitu tindakan yang tidak sesuai dengan hayat Allah, maka hukum hayat akan membuat kita merasa tidak tenang dan tidak aman, merasakan aroma maut. Inilah Allah "mencegah" atau "tidak mengizinkan" (Kis. 16:6-7). Tidak peduli kita hendak melakukan atau sedang kita lakukan sesuatu, begitu ada perasaan yang melarang seperti itu, kita harus berhenti. Kalau kita bisa bergerak atau berhenti sesuai dengan perasaan hukum hayat dalam diri kita, hukum hayat ini dapat bekerja dalam diri kita tanpa rintangan, dan hayat dalam diri kita juga dapat terus bertumbuh dan meluas. Karena itu, menaati perasaan hukum hayat, khususnya perasaan yang pertama, juga merupakan syarat yang sangat penting bagi hukum hayat untuk bekerja dalam diri kita. Dalam Filipi 2, rasul menghendaki kita taat dengan takut dan gentar, ini bertujuan supaya Allah bekerja dalam diri kita (ayat 12-13). Pergerakan atau operasi Allah dalam diri kita memerlukan keria sama ketaatan kita. Karena itu, ketaatan kita adalah syarat agar bisa menerima operasi Allah.
VI. FUNGSI HUKUM HAYAT
Kita sudah melihat bahwa kasih dan taat merupakan dua syarat untuk menerima operasi hukum hayat. Ini juga merupakan dua tanggung jawab kita terhadap hukum hayat. Kalau kita bisa mengasihi dan mau taat, dengan sendirinya hukum hayat secara langsung dapat bekerja dalam setiap bagian dalam batin kita dan menyatukan fungsi alaminya.
Ada dua jenis fungsi hukum hayat. yang satu, untuk menyingkirkan, atau membunuh; yang lain, untuk menambahkan, atau menyuplai. Pada satu pihak, hukum hayat itu menyingkirkan apa yang seharusnya tidak ada dalam diri kita: di lain pihak, hukum hayat itu menambahkan apa yang seharusnya ada dalam diri kita. yang disingkirkan adalah unsur Adam yang ada dalam diri kita; yang ditambahkan adalah unsur Kristus sebagai Roh pemberi hayat. yang disingkirkan adalah yang lama; yang ditambahkan adalah yang baru yang disingkirkan adalah yang mati; yang ditambahkan adalah hidup. Ketika hukum hayat bekerja dalam diri kita, hukum itu mempunyai dua jenis fungsi yang ternyata dalam diri kita yang satu berangsur-angsur menyingkirkan semua ciptaan lama yang ada dalam diri kita, dan yang lain berangsur-angsur menambahkan semua ciptaan baru dari Allah. Dengan cara ini, hayat dalam diri kita berangsur-angsur bertumbuh besar.
Hukum hayat dalam diri kita bisa mempunyai dua macam fungsi ini, karena hayat yang merupakan asal dari hukum ini mempunyai dua unsur khusus, yaitu unsur maut dan unsur hayat. Unsur maut itu adalah kematian Tuhan Yesus yang luar biasa di atas salib, yaitu kematian yang meliputi semuanya dan mengakhiri semuanya. Unsur hayat adalah kebangkitan Tuhan Yesus, atau hayat kuasa kebangkitan Tuhan Yesus; karena itu unsur ini juga disebut unsur kebangkitan.
Karena fungsi menyingkirkan dalam hukum hayat berasal dari unsur kematian Tuhan yang almuhit yang terkandung dalam hayat, maka sebagaimana dulu kematian Tuhan di atas salib menyingkirkan semua kesulitan yang Allah dapati atas diri manusia, demikian juga pada masa kini, melalui operasi hukum hayat, kematian-Nya diterapkan dalam diri kita, membunuh dan menyingkirkan satu demi satu semua hal yang tidak sesuai dengan Allah, yang berada di luar Allah, misalnya unsur dosa, unsur dunia, unsur daging, unsur hawa nafsu, unsur ciptaan lama, dan unsur alamiah jasmani. Fungsi penambah yang ada dalam hukum hayat berasal dari unsur kebangkitan Allah yang ada dalam hayat. Karena itu, sebagaimana dulu kebangkitan Tuhan membawa manusia kepada Allah, membuat manusia mengambil bagian dalam segala sesuatu dari Allah, demikian juga pada zaman sekarang, melalui operasi hukum hayat, kebangkitan-Nya ditambahkan ke dalam diri kita. Ini berarti bahwa kebangkitan-Nya menambahkan ke dalam diri kita dan menyuplai kita dengan kuasa Allah, kekudusan Allah, kasih Allah, kesabaran Allah, dan semua unsur Allah, atau unsur ciptaan baru, sehingga kita dapat diisi dengan semua kepenuhan ke-Allahan.
Ini sama seperti obat yang kita minum, beberapa di antaranya mengandung dua unsur; yaitu unsur untuk membunuh kuman, dan unsur untuk merawat (menguatkan). Fungsi unsur membunuh, menyingkirkan penyakit yang tidak seharusnya ada pada kita; sedangkan fungsi unsur merawat (menguatkan), menambahkan unsur hayat yang kita perlukan. Ini juga sama seperti darah dalam diri kita, yang mengandung dua macam unsur, yaitu sel darah putih dan sel darah merah. Sel darah putih memiliki satu fungsi, yaitu membunuh kuman. Sel darah merah juga memiliki satu fungsi, yaitu menyuplaikan gizi makanan. Ketika darah bereclar dan mengalir dalam diri kita, sel darah putih membunuh dan menyingkirkan kuman yang memasuki tubuh kita, sedangkan sel darah merah menyuplai setiap bagian tubuh dengan gizi yang dibutuhkan. Demikian juga, ketika hukum hayat Allah bekerja dalam diri kita, atau ketika hayat Allah bekerja dalam diri kita, maka dua unsur, yaitu hayat dan kematian, yang ada dalam hayat Allah berfungsi membunuh dan menyuplai dalam diri kita. Fungsinya membunuh kuman rohani kita, seperti dunia dan daging, dan menyuplai kita dengan gizi rohani, yang terdiri atas semua kekayaan Allah.
Jadi, kita harus melihat bahwa di sini ada jalan yang tepat untuk mengejar pertumbuhan dalam hayat. Pada saat kita diselamatkan dan memiliki hayat Allah, hukum hayat Allah dalam diri kita membuat kita mempunyai perasaan. Kalau kita mau menuntut pertumbuhan hayat, kita harus mengasihi Allah, menaati perasaan-perasaan ini, clan menanggulangi hati nurani, juga menanggulangi emosi, pikiran, dan tekad. Demikian kita menanggulangi, hayat Allah dalam roh kita akan terus-menerus memberi kita perasaanperasaan. Setelah kita menaati perasaan-perasaan ini, hukum hayat akan memerintah dalam diri kita dan menyatukan dua fungsinya : yaitu menyingkirkan hal-hal yang di luar Allah dan menambahkan hal-hal yang dari Allah. Demikian kita akan berangsur-angsur bertumbuh dan menjadi dewasa dalam hayat Allah. Ini semua merupakan pengalaman yang sangat nyata dan riil. Inilah jalan hayat yang sedang kita bicarakan.
VII. KUAT KUASA HUKUM HAYAT
Di samping dua fungsi yang disAutkan di atas, hukum hayat juga mempunyai kuat kuasa. Kita sudah membahas bahwa hukum Perjanjian Lama merupakan hukum tertulis di luar diri manusia, hukum yang mati. Hukum itu hanya menuntut manusia; tidak mempunyai kekuatan untuk menyuplai manusia agar dapat memenuhi tuntutannya. Karena itu, hukum tersebut "tidak mungkin dilakukan" (Rm. 8:3), dan juga "sama sekali tidak membawa kesempurnaan" (Ibr. 7:19). Tetapi hukum Perjanjian Baru merupakan hukum yang tertulis dalam diri kita, hukum yang hidup. Hayat ini merupakan "hidup yang tidak dapat binasa" dari Allah, yang mempunyai "kuasa" (Ibr. 7:16). Jadi hukum yang berasal dari hayat juga mempunyai kuat kuasa, dan dapat memampukan kita dalam segala hal.
Kita harus melihat di sini bahwa kuat kuasa hukum hayat merupakan kuat kuasa hayat Allah yang merupakan asal dari hukum. Kuat kuasa inilah yang memampukan Tuhan Yesus bangkit dari kematian dan naik ke surga, jauh melampaui segala sesuatu. Kuat kuasa ini jugalah yang akan memerintah dalam diri kita setiap hari dan mampu menggenapkan dengan berlimpah-limpah melampaui segala yang kita minta atau pikirkan (Ef 1:21; 3:20). Kuat kuasa ini dapat menggenapkan hal-hal berikut atas diri kita :
1. Dapat Membuat Hati Kita Condong kepada Allah
Pertama-tama, kuat kuasa ini dapat membuat hati kita condong kepada Allah. Ketika berbicara tentang hubungan antara hukum hayat dan hati, kita pernah menyimpulkan bahwa hukum hayat dapat terhalang oleh hati kita. Kalau hati kita tidak condong kepada Allah, maka hayat Allah tidak dapat lewat. Tetapi, syukur kepada Allah, hayat-Nya dalam diri kita tidak hanya berhenti sampai di situ. Hayat ini akan terus bekerja dalam diri kita sampai ke suatu tingkat, membuat hati kita yang tadinya tidak condong kepada Allah menjadi condong kepada-Nya. Amsal 21:1 mengatakan : "Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini." Jadi kita dapat memohon kepada Allah, "Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan jangan kepada laba" (Mzm. 119:36). Kalau kita mau demikian meminta, maka kuat kuasa hukum hayat Allah dengan sangat alami dapat mencondongkan hati kita, sepenuhnya tertuju kepada Allah.
2. Dapat Membuat Kita Taat kepada Allah
Kedua, kuat kuasa ini dapat membuat kita taat kepada Allah. Ketika berbicara tentang syarat-syarat hukum hayat, kita juga pernah mengatakan bahwa operasi hukum hayat dalam diri kita memerlukan kerja sama ketaatan kita. Namun sering kali kita bukan hanya tidak dapat taat, tetapi juga tidak mau taat. Pada saat demikian, kuat kuasa hukum hayat cukup mampu menanggulangi keadaan kita agar kita dapat taat.
Meskipun kita yang telah diselamatkan dan mempunyai hayat Allah, adakalanya kita bisa mundur, adakalanya hati kita menjadi keras dan tidak bisa menaati Allah, tetapi Allah penuh belas kasihan terhadap kita, sehingga hayat-Nya dalam diri kita tidak akan menghentikan pekerjaan pengaturannya. Dengan kuat kuasa-Nya, Dia mengatur emosi dan tekad kita, mengatur sedemikian rupa sehingga kita kembali dapat taat kepada-Nya.
Filipi 2:13 mengatakan bahwa masalah kemauan kita di hadapan Allah juga berkaitan dengan operasi Allah dalam kita. Jadi ketaatan kehendak kita juga merupakan hasil operasi kuat kuasa hukum hayat Allah dalam diri kita. Kuat kuasa ini dapat membuat tekad kita yang tadinya tidak taat menjadi taat lagi kepada Allah.
Suatu saat, ada seorang saudari yang merasa benar-benar tidak dapat taat. Tidak hanya pikirannya yang terganggu, hati nuraninya juga tertuduh. Kemudian dia minta penyelamatan kepada Allah. Ketika saudari ini demikian berseru memohon kepada Allah, Allah menunjukkan kepadanya terang dalam Filipi 2:13. Kemudian dia tahu bahwa Allah dapat beroperasi sampai membuat dirinya taat. Maka, dia pun gembira dan merasa tenang.
3. Dapat Membuat Kita Melakukan Pekerjaan Baik
yang Dipersiapkan Allah Sebelumnya
Ketiga, kuat kuasa ini juga dapat membuat kita melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya, supaya kita hidup di dalamnya (Ef 2:10). Pekerjaan baik ini berasal dari Allah dan mengalir keluar dari hayat Allah; karena itu, melakukan pekerjaan baik ini berarti memperhidupkan Allah. Pekerjaan baik ini, yang jauh melampaui kebaikan manusia, tidak pernah dapat diperhidupkan oleh hayat manusia. Tetapi hayat Allah dalam diri kita, yang mengatur kita dengan kuat kuasanya, dapat membuat kita melakukan pekerjaan baik yang luar biasa ini.
4. Dapat Membuat Kita Bekerja Keras
dengan Segenap Hati dan Tenaga
Keempat, kuat kuasa ini dapat membuat kita bekerja keras bagi Tuhan dengan segenap hati dan tenaga kita. Rasul Paulus mengatakan bahwa dia dapat bekerja lebih keras daripada rasul-rasul lainnya bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena anugerah Allah yang dilimpahkan kepadanya, yang juga adalah anugerah hayat Allah yang ada padanya (1 Kor. 15:10). Dia juga mengatakan bahwa dia bekeri'a keras, berjuang sesuai dengan operasi Allah yang bekerja dalam dirinya "dengan kuasa-Nya" (Kol. 1:29). Kata Yunani untuk "kuasa" di ayat ini dapat juga diterjemahkan sebagai "dinamit, daya ledak". Ini berarti bahwa pekerjaannya tidak bersandar pada kemampuannya sendiri, tetapi pada kuat kuasa hayat Allah yang dinamis yang ada dalam dirinya. Pada diri semua orang yang dipakai Tuhan pada generasi-generasi yang lalu, mereka bekerja keras dan selalu menderita dalam pekerjaan Tuhan. Mereka bekerja keras bukan karena perjuangan mereka sendiri, tetapi karena mereka mengasihi Allah dan condong kepada Allah, mereka mempersilakan hayat Allah beroperasi dalam diri mereka, memerintah dalam diri mereka, dan menampilkan satu aktivitas dari diri mereka, "meledakkan" satu pekerjaan. Aktivitas yang ditampilkan ini, atau pekerjaan yang "diledakkan" ini barulah berasal dari pekerjaan kuat kuasa hayat Allah. Ketika kuat kuasa hayat Allah yang dinamis ini memerintah manusia dari dalam diri manusia itu, tidak ada orang yang dapat tetap bersikap pasif, duduk diam saia. Setiap orang yang mempersilakan kuat kuasa hukum hayat Allah yang dinamis bekeria dalam dirinya, pasti akan bekerja keras, sekalipun harus berjerih lelah, bahkan harus mempertaruhkan nyawanya, tidak dipedulikannya.
Sesudah perang Sino-Jepang, kami pergi bekerja di beberapa gereja lokal. Kami sangat diberkati dan berbuah banyak. Ketika kami kembali ke Shanghai, Saudara Watchman Nee berkata kepada saya, "Saudara, kita adalah 'pembuat masalah'. Kita baru saja membuat masalah di gereja-gereja lain, dan sekarang kita akan membuat masalah di gereja Shanghai." Meskipun ini sepertinya merupakan ucapan humor, namun merupakan pembicaraan yang serius; karena semua yang hidup dalam hayat Allah dan mempersilakan hukum hayat Allah beroperasi, pastilah "pembuat masalah". Ini karena hayat Allah dalam diri mereka merupakan hayat yang penuh kuat kuasa tanpa akhir, hayat yang mendorong dengan positif, hayat yang penuh dengan kuat kuasa yang dinamis. Kapan saja hayat ini bekerja dan memerintah dalam diri mereka, di dalam mereka akan meledak, di luar mereka juga akan meledakkan pekerjaan yang memiliki daya ledak. Akibatnya, secara spontan mereka menjadi "pembuat masalah". Sebaliknya, kapan saja orang yang bekerja bagi Tuhan tidak menyebabkan daya ledak dan membuat pekerjaan Tuhan tidak mengeluarkan suara atau aroma, maka tidak perlu ditanyakan, pastilah hayat dalam dirinya telah terhambat, dan hukum hayat tidak dapat beroperasi melaluinya.
Kalau saudara saudari tidak salah memahami saya, saya bisa bersaksi bahwa sering kall saya tidak berani menggunakan waktu untuk berdoa. Kalau saya berdoa hanya setengah jam setiap hari, roda hayat mulai berputar, hukum hayat mulai memerintah, dan kekuatan yang memotivasi mulai mendorong saya, sampai saya tidak dapat bertahan lebih lama untuk tidak pergi bekerja. Bahkan kalau saya harus mati di sana, saya tetap akan bekerja. Kalau saya tidak bekerja, saya menderita; kalau saya bekerja, saya lega. Di sinilah terletak kuat kuasa yang memotivasi untuk bekerja!
5. Dapat Membuat Kita Merniliki Pelayanan
yang Hidup dan Segar
Kelima, kuat kuasa ini dapat membuat kita memiliki pelayanan yang hidup dan segar. Pelayanan dalam Perjanjian Lama adalah berdasarkan hukuni yang tertulis, usang; karena itu, hukum itu mati, juga mematikan manusia. Pelayanan dalam Perjanjian Baru adalah berdasarkan Roh, segar; karena itu, hukum inI hidup, juga menghidupkan manusia. Pelayanan Perjanjian Lama merupakan aktivitas yang didasarkan pada peraturan demi peraturan yang mati yang ada di luar diri manusia; karena itu tidak dapat memberikan suplai hayat kepada manusia. Pelayan Perjanjian Baru merupakan hasil pengaturan hukum hayat dalam roh. Pelayanan ini berasal dari hayat, karena itu dapat memberikan hayat kepada manusia. dan membuat manusia mendapatkan suplai yang hidup. Seperti aktivitas-aktivitas kita dalain berbagai sidang gereja. Kalau hukum hayat dalam diri kita bergerak, meskipun kita hanya berbicara beberapa patah kata, memberikan sedikit kesaksian, atau membuat pengumuman, itu akan hidup, membuat orang lain mendapatkan suplal hayat.
Kita menjadi bisa mengemban tugas sebagai pelayan (minister) dalam Perjanjian Baru dengan pelayanan yang hidup, ini bukanlah berdasarkan kemampuan, fasih lidah atau pendidikan kita sendiri, melainkan berdasarkan Roh Allah (2 Kor. 3:5-6) dan menurut "pemberian anugerah Allah" (Ef 3:7). Pemberian seperti ini bukan mengacu kepada pemberian seperti berbahasa lidah, mendapat penglihatan, menyembuhkan, mengusir setan, dan sebagainya. Pemberian ini adalah anugerah, yang diberikan kepada kita sesuai dengan operasi kuat kuasa Allah, dan yang kita dapat karena operasi kuat kuasa yang terus-menerus, yang terkandung dalam hayat yang diberikan kepada kita dengan cuma-cuma oleh Allah. Karena itu, rasul Paulus mengatakan bahwa pemberian anugerah ini memampukan dia memberitakan kekayaan Kristus yang tidak terduga, dan membuat semua orang mengerti apakah rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah yang menciptakan segala sesuatu (Ef 3:8-9). Betapa besarnya pemberian ini! Namun pemberian besar seperti ini diberikan kepadanya sesuai dengan operasi kuat kuasa hukum hayat Allah. Karena itu, pemberian anugerah yang kita terima melalui operasi kuat kuasa hukum hayat Allah sepenuhnya mampu membuat kita melayani Allah dengan cara yang hidup dan segar.
VIII. HASIL HUKUM HAYAT
Ketika kita mempersilakan hukum hayat Allah beroperasi dalam diri kita tanpa dihalangi di setiap bidang yang ada, maka hayat Allah dalam diri kita dapat menyebar sedemikian rupa sehingga "Kristus menjadi nyata" (terbentuk) dalam diri kita (Gal. 4:19). Jadi, ketika Kristus berangsur-angsur terbentuk dalam diri kita, kita berangsur-angsur berubah rupa menjadi gambar Tuhan (2 Kor. 3:18) dan mempunyai gambaran Anak Allah (Rm. 8:29) sampai akhirnya kita sungguh-sungguh "menjadi sama seperti Dia" (1 Yoh. 3:2). Inilah hasil yang mulia dari operasi hukum hayat dalam diri kita.
Apa artinya, "Kristus terbentuk" dalam diri kita? Kita akan mengambil contoh sederhana. Dalam sebutir telur, terkandung hayat ayam. Namun dalam beberapa hari pertama, telur itu dierami dan anak ayam mulai terbentuk, kalau kita menggunakan cahaya listrik untuk meneropong ke dalam telur itu, kita tidak dapat membedakan bagian mana yang merupakan kepala dan bagian mana yang merupakan kaki. Sampai akhir masa pengeraman tiba, dan anak ayam dalam telur itu sudah hampir memecahkan kulit telurnya untuk keluar, kalau kita memakai cahaya listrik lagi untuk meneropong ke dalamnya, kita akan melihat bentuk utuh seekor anak ayam di dalam kulit telur itu. Ini berarti bahwa anak ayam itu telah terbentuk dalam telur itu. Demikian juga, ketika Kristus terbentuk dalam diri kita, itu berarti bentuk Kristus menjadi utuh dalam diri kita. Ketika kita menerima hayat Kristus melalul kelahiran kembali, Kristus hanya dilahirkan dalam diri kita. dengan pengertian bahwa Dia utuh secara organik, tetapi tidak utuh dalam bentuk. Kemudian, seperti hukum hayat ini beroperasi berulang kali dalam bagian batin kita, unsur hayat ini juga berangsur-angsur makin meningkat dalam berbagai bagian diri kita; jadi Kristus bertumbuh dalam diri kita sampal hayat-Nya terbentuk utuh dalam diri kita.
Ketika Kristus berangsur-angsur terbentuk dalam diri kita, manusia kita pun berangsur-angsur berubah. Seberapa banyak Kristus terbentuk dalam diri kita, sebanyak itu pulalah kita diubah. Terbentuknya Kristus dan berubahnya kita terjadi secara serentak di dalam dan di luar diri kita. Sebagaimana terbentuknya Kristus merupakan peningkatan unsur Kristus yang terjadi dalam berbagai bagian diri kita, dari arah dalam menuju ke luar; begitu juga perubahan kita dalam berbagai bagian diri kita bergerak dari dalam ke arah luar, hingga kita berangsur-angsur menjadi seperti Kristus. Jadi proses perubahan terjadi dari roh menuju ke pengertian (atau, ke dalam jiwa), lalu menuju ke perilaku (atau, ke dalam tubuh). Ketika roh kita dihidupkan oleh kelahiran kemball, roh itu pun diperbarui dan diubah (hal ini telah kita bahas dalam bab 4 mengenai roh yang baru). Kemudian melalui operasi hukum, hayat, pengertian dalam jiwa juga diperbarui dan diubah. Setelah itu, melalui cahaya terang hayat Allah, kita mengenah diri sendiri, menolak diri sendiri, berdasarkan Roh Kudus membunuh dan mematikan diri sendiri, dan hanya mempersilakan hayat Allah diperhidupkan dari dalam diri kita. Demikian, dalam pengalaman rohani kita makin lama makin terlepas dari manusia lama dan mengenakan manusia baru dalam perilaku kita. Karena itu, perilaku kita yang di luar juga berangsur-angsur diperbarui dan diubah. Jadi, Kristus terbentuk dalam diri kita, berarti sifat kita diubah supaya menjadi serupa dengan sifat Tuhan. Ketika kita diubah dari roh melalui pengertian menuju perilaku di luar, boleh dikatakan bahwa kita diubah supaya menjadi serupa dengan Tuhan. Hasil pengubahan ini selalu menjadikan kita serupa dengan Tuhan Yesus, yang juga berarti serupa dengan insani Tuhan Yesus yang mendapatkan kemuhaan. Hal ini seperti serupa dengan gambaran Anak-Nya yang disebut dalam Roma 8:29. Ini sepertilah dicetak dalam cetakan Anak Allah. Jadi, pengubahan adalah proses; sedangkan menjadi serupa Tuhan, atau mempunyai gambaran dan sifat seperti Tuhan adalah hasil akhir pengubahan. Inilah pekerjaan "dari kemuliaan ke kemuliaan" yang dikerjakan Allah dalam diri kita. Kita benar-benar harus memuji Tuhan!
Kita juga harus tahu bahwa tujuan pengubahan, bukan hanya untuk membuat kita menjadi serupa Tuhan atau membuat kita mempunyai gambaran dan sifat yang sama dengan Tuhan, lebih-lebih untuk membuat kita mutlak "serupa Dia". Inilah "penebusan tubuh kita" (Tl.) yang dibicarakan dalam Roma 8:23. Ketika Tuhan datang kembali dan menampakkan diri kepada kita, Dia akan "mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya" (Flp. 3:21). Jadi, Dia membuat kita menjadi serupa Dia, bukan hanya dalam hal hakiki roh kita, bukan hanya dalam bentuk jiwa dan perilaku kita, bahkan tubuh kita pun sepenuhnya menjadi serupa Dia, yang mulia, yang selamanya tidak dapat rusak dan pudar. Inilah hasil akhir operasi hukum hayat Allah dalam diri kita. Betapa ajaib! Betapa mulia! Karena itu, kita semua yang mempunyai pengharapan ini haruslah menyucikan diri sendiri sama seperti Dia adalah suci (1Yoh. 3:3). Melalui terang hayat Allah, kita akan mengenal diri sendiri dan semua hal yang berada di luar Allah, dan setiap hari menanggulangi dosa, dunia, daging, dan semua ciptaan lama, sehingga kita dapat menjadi suci tanpa campuran. Kemudian, Allah dapat segera mencapai tujuan-Nya yang mulia, dan kita dapat segera menikmati kemuliaan bersama Tuhan.
IX. ALLAH INGIN MENJADI ALLAH
DALAM HUKUM HAYAT
Dalam Ibrani 8:10, sesudah Allah berkata, "Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka," Dia berkata, "maka Aku akan menjadt Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku." Ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah menaruh hukum hayat-Nya dalam diri kita, karena Dia ingin menjadi Allah kita dalam hukum hayat ini, juga ingin agar kita menjadi umat-Nya dalam hukum hayat ini. Demikianlah maksud Allah atau tujuan Allah dinyatakan. Ini adalah perkara yang sangat penting, kita harus melihatnya.
1. Allah Ingin Menjadi Allah bagi Manusia
Mengapa Allah menciptakan manusia? Mengapa pula si jahat menyerobot manusia? Hal-hal ini tidak diungkapkan dengan jelas di bagian awal Alkitab. Baru pada waktu Allah mengumumkan Sepuluh Perintah di Gunung Sinai, maksud Allah terhadap manusia diungkapkan dengan jelas. Dalam ketiga perintah yang pertama, kita melihat bahwa Dia ingin menjadi Allah bagi manusia. Dan ketika si jahat mencobai Tuhan di padang gurun dan menginginkan Tuhan menyembah dia, maksud si jahat menyerobot manusia pun terungkap; yaitu si jahat ingin merampas kedudukan Allah dan ingin manusia menyembahnya sebagai pengganti Allah. Hal ini menunjukkan kepada kita dengan jelas bahwa pertentangan antara si jahat dengan Allah, terletak pada soal siapakah yang menjadi Allah bagi manusia dan yang menerima penyembahan manusia. Namun hanya Allahlah Allah; hanya Dia yang pantas menjadi Allah bagi manusia dan menerima penyembahan dari manusia. Dalam zaman Perjanjian Lama, Dia tinggal di tengah-tengah bangsa Israel sebagai Allah mereka. Dalam Perjanjian Baru, melalui inkarnasi, Dia tinggal di tengah-tengah manusia dan mengumumkan bahwa Dia adalah Allah. Lalu, melalui Roh Kudus, Dia tinggal dalam gereja dan menjadi Allah bagi manusia dalam gereja. Kelak, pada masa kerajaan, Dia akan menjadi Allah bagi seluruh keluarga. Israel; dan selanjutnya di langit baru dan bumi baru, Dia akan tinggal di tengahtengah manusia selama-lamanya, menjadi Allah yang kekal bagi manusia.
2. Allah akan Menjadi Bapa, Lalu Menjadi Allah
Allah tidak hanya ingin menjadi Allah bagi manusia, terlebih lagi menjadi Bapa bagi manusia. Dia. tidak hanya ingin manusia menerima-Nya sebagai Allah, terlebih lagi Dia ingin manusia mempunyai hayat-Nya. Dia ingin menjadi Bapa bagi manusia, dan dengan demikian menjadi Allah bagi manusia dalam hayat-Nya. Hanya ketika manusia mempunyai hayat-Nya dan menjadi anak-Nya, barulah manusia dapat sungguh-sungguh mengenal bahwa Dialah Allah dan sungguh-sungguh mempersilakan Dia menjadi Allah.
Pada pagi hari kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus memberi tahu Maria Magdalena, "Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu" (Yoh. 20:17). Di ayat ini, mula-mula Tuhan menyebut Bapa, lalu Allah. Ini berarti bahwa Allah harus menjadi Bapa kita, kemudian Dia dapat menjadi Allah kita. Dalam doa-Nya pada malam yang terakhir, Tuhan Yesus juga mengatakan dengan jelas bahwa hanya kalau kita mempunyai hayat Allah yang kekal, barulah kita dapat mengenal Dia, satu-satunya Allah yang benar (Yoh. 17:3). Karena itu kita harus mengalami Allah sebagai Bapa dalam hayat, baru kemudian kita dapat mengenal Allah sebagai Allah. Semakin kita mempersilakan hayat Bapa bekerja dalam diri kita, semakin kita menyembah dan melayani Allah yang mulia ini! Allah adalah Bapa bagi kita, karena Dia ingin menjadi Allah kita dalam hayat Bapa ini. Ini juga berarti bahwa Dia ingin menjadi Allah kita dalam operasi hayatNya.
3. Allah Ingin Menjadi Allah dalam Hukum Hayat
Allah adalah Bapa kita, karena kita telah mempunyai hayat- Nya. Karena hayat-Nya telah masuk ke dalam diri kita, hayat-Nya juga membawa hukum hayat ke dalam diri kita. Ketika hukum ini beroperasi, Allahlah yang dinyatakan dari dalam kita. Jadi, Allah menghendaki menjadi Allah kita dalam hukum hayat ini.
Dalam agama tertentu, mereka menyembah Allah yang di surga, juga seperti dalam agama Yahudi, Allah yang di surgalah yang disembah. Namun mereka hanya menyembah Allah yang obyektif, Allah yang jauh tinggi di atas; tidak membiarkan Allah menjadi Allah dalam diri mereka. Bahkan pada kekristenan harl ini, banyak orang Kristen yang menyembah Allah sekadar sebagai Allah yang obyektif, sebagai Allah yang jauh tinggi di atas. Mereka hanya menyembah Allah di luar diri mereka, sesuai dengan ajaran-ajaran atau peraturan-peraturan tertentu yang bersifat jasmaniah; mereka tidak mempersilakan Allah menjadi Allah yang hidup bagi mereka dalam hayat yang ada di dalam diri mereka. Akan tetapi, saudara saudari, kita harus jelas bahwa kita menyembah Allah dan mempersilakan Dia menjadi Allah kita bukanlah menuruti doktrin atau peraturan huruf-huruf, melainkan di dalam hayat Allah atau di dalam hukum hayat Allah. Hukum ini merupakan fungsi yang dinyatakan oleh hayat Allah. Ketika hukum hayat Allah memerintah kita dalam diri kita, yaitu ketika Allah beroperasi di dalam diri kita, maka Allah di dalam operasi-Nya menjadi Allah kita dalam hukum ini.
Hari ini kita melayani Allah, kita harus melayani Allah dalam hukum hayat ini, dalam operasi-Nya. Kapan saja kita mempersilakan hayat-Nya beroperasi dalam diri kita dan hukum hayat-Nya memerintah dalam diri kita, pelayanan kita adalah pelayanan hayat, pelayanan rohani, atau pelayanan yang hidup. Ketika kita mempersilakan Allah menjadi Allah kita dalam hukum hayat-Nya, maka Allah yang kita sembah bukanlah Allah yang sekadar ada dalam doktrin atau pikiran, tetapi Allah yang hidup, Allah yang riil, Allah yang dapat disentuh. Dalam pengalaman hayat kita, dalam kehidupan sehari-hari, dan dalam aktivitas pekerjaan kita, Allah kita sungguh-sungguh Allah yang hidup, Allah yang dapat kita sentuh, dan yang dapat kita temui. Dia bukanlah Allah kita yang ada dalam kepercayaan kita; bukan pula Allah dalam peraturan; tetapi Allah kita dalam hukum hayat yang hidup, dalam fungsi hayat yang hidup.
Namun adakalanya, karena ada masalah dalam hati kita, kita tidak lagi mengasihi Dia, tidak lagi mempersilakan hukum hayat-Nya memerintah kita, saat ini, meskipun kita mempunyai Allah, namun Allah telah menjadi Allah dalam doktrin atau dalam kepercayaan. Ketika kita memulihkan kembali kasih kita yang semula kepada-Nya, dan mempersilakan Dia memerintah lagi dalam diri kita dengan putaran roda hayat-Nya, maka fungsi roda hayat-Nya kembali ternyata, dan hukum hayat-Nya kembali bekerja menggerakkan dan memerintah dalam diri kita. Pada saat ini, Dia kembali dengan riil menjadi Allah kita; Dia tidak lagi sekadar nama atau doktrin, tetapi Allah yang hidup.
Karena itu, kita harus meletakkan diri kita dalam tangan Allah, membiarkan hukum hayat Allah memerintah kita; baru kemudian dengan riil Allah dapat menjadi Allah kita. Kapan saja kita tidak mempersilakan hukum hayat ini memerintah kita, Allah tidak dapat menjadi Allah kita, dan kita tidak dapat menjadi umat-Nya. Supaya Dia menjadi Allah kita dan kita menjadi umat-Nya secara riil, kita harus mempersilakan hukum hayat-Nya memerintah kita dan mempersilakan Dia menjadi Allah kita dalam hukum hayat-Nya.
Allah harus menjadi Allah kita dalam hukum hayat-Nya, dan kita harus menjadi umat-Nya dalam hukum hayat-Nya, karena hubungan kita dengan Allah haruslah hidup. Ketika hayat-Nya beroperasi dan memerintah dalam diri kita, hukum hayat-Nya membawa Dia kepada kita dan membawa kita kepada-Nya. Justru dalam operasi hukum hayat-Nya inilah kita bisa mendapatkan Dia dan Dia bisa mendapatkan kita. Kapan saja hukum hayat-Nya dalam diri kita berhenti memerintah, hubungan yang hidup dengan Dia sebagai Allah kita dan kita sebagai umat-Nya juga berhenti. Karena itu, kita harus mempersilakan hukum hayat Allah memerintah kita, baru kemudian Allah dapat menjadi Allah kita dan kita menjadi umat-Nya secara nyata dan hidup.
Demikianlah kita dapat melihat bahwa Allah sebagai Allah bagi manusia dalam Perjanjian Lama sangatlah berbeda dengan pengertian yang ada dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, Allah yang merupakan Allah bagi bangsa Israel, jauh tinggi di atas takhta-Nya; menjadi Allah orang Israel menurut peraturan hukum Taurat. Dia juga ingin bangsa Israel menjadi umat-Nya menurut peraturan ini. Karena itu, asal orang Israel memelihara peraturan itu, mereka tidak bermasalah di hadapan Allah. Tetapi dalam Perjanjian Baru, Allah masuk ke dalam kita, menjadi hayat kita, dan dalam hukum hayat inflah Dia menjach Allah kita dan kita menjadi umat-Nya. Karena itu, adalah keharusan bagi kita untuk hidup berdasarkan hukum hayat ini.
X. KESIMPULAN
Dengan melihat berbagai aspek dari butir-butir penting hukum hayat, kita tahu betapa pentingnya hukum hayat ini bagi pengalaman hayat rohani kita! Karena itu, kita harus mengenal dengan jelas dan mengerti sepenuhnya setiap butir penting mengenai masalah ini, baru kita dapat mempunyai pengalaman yang sejati dalam hayat. Karena itu, tanpa takut bertele-tele, kita akan menyimpulkan lagi beberapa butir penting tadi, supaya kita mempunyai kesan yang mendalam terhadap butir-butir tersebut.
Ketika kita dilahirkan kembali, kita menerima hayat Allah. Saat ini, meskipun kita telah mempunyai hayat Allah dalam diri kita, hayat ini hanya sempurna secara organik; tetapi bukan sempurna dalam pertumbuhan dan kedewasaan. Karena itu, kita harus mempersilakan kuat kuasa hayat ini untuk beroperasi dalam diri kita terus-menerus dan tanpa henti, supaya mencapai tujuan-Nya yang sempurna mengenai pertumbuhan dan kedewasaan. Operasi hayat ini berasal darl fungsi alami dan sifat khas hayat ini, yang Juga berarti berasal dari hukum hayat ini.
Kalau hukum hayat ini mau menampilkan isinya dari dalam diri kita, hukum ini harus melewati hati kita. Karena itu, pekerjaan hukum hayat dalam diri kita memerlukan kerja sama hati kita. Begitu hati kita bekerja sama, hukum hayat ini mempunyai kesempatan untuk mengatur dalam diri kita dengan bebas. Hasilnya, kita mempunyai perasaan dalam diri kita. Setelah kita mempunyai perasaan, kita harus menaatinya bersandarkan kuat kuasa hayat ini. Setiap kali kita taat, kita membiarkan hukum ini kembali mempunyai kesempatan untuk mengatur kita, dan sekali lagi memberi kita perasaan lain untuk kita taati lagi. Semakin banyak taat, kita semakin memberi Dia kesempatan untuk bekerja. Hubungan sebab-akibat yang terus bergulir seperti ini dalam diri kita mendatangkan perwujudan tanpa henti dari fungsi dua unsur, yaitu kematian dan kebangkitan, yang terkandung dalam hayat. Fungsi kematian menyingkirkan semua yang tidak seharusnya kita miliki dalam diri kita. Sedangkan fungsi kebangkitan menambahkan semua yang dari hayat Allah. Selain itu, operasi hukum ini beserta fungsi kematian dan kebangkitannya penuh dengan kuat kuasa yang memampukan kita menjawab tuntutan Allah yang tidak terbatas dan memperhidupkan semua yang ada dalam hayat Allah. Dengan demikian, kita mempersilakan hayat Allah berangsur-angsur bertumbuh dan menjadi dewasa dalam diri kita.
Bersamaan dengan ini, ketika hayat ini beroperasi dalam diri kita dan terus mengatur dalam diri kita, maka kecondongan kita kepada Allah, kepatuhan kepada Allah, dan pelayanan kepada Allah, menjadi alami dan mudah, hidup dan segar. Dalam hukum yang hidup inilah Allah menjadi Allah yang hidup bagi kita dan kita menjadi umatNya yang hidup. Kita dapat mengatakan bahwa hubungan kita dengan Allah semuanya berada dalam hukum hayat ini. Ini sungguh-sungguh pantas mendapatkan perhatian kita yang mendalam!