← Daftar isi Apakah Hayat? · bab 9/14

TIGA HAYAT DAN EMPAT HUKUM

Dalam berita ini kita akan melihat butir utama dalam pengenalan hayat yang kesembilan - tiga hayat dan empat hukum. Ini merupakan kebenaran yang sangat penting dalam Alkitab. Jika kita ingin tahu dengan jelas keadaan hayat rohani dalam diri kita, atau jika kita ingin menempuh kehidupan yang menang dari dosa, kita perlu memahami kebenaran dasar ini dengan tuntas.

I. TIGA HAYAT

1. Penjelasan Mengenai Tiga Hayat

Tiga hayat yang dibicarakan di sini adalah tiga hayat yang ada dalam diri setiap orang yang telah diselamatkan - hayat manusia, hayat Satan (Iblis), dan hayat Allah.

Pada umumnya, orang mengira bahwa di dalam diri manusia hanya ada satu hayat, yaitu hayat manusia yang diperoleh dari orang tuanya. Namun Alkitab menunjukkan bahwa akibat kejatuhan manusia, di samping hayat manusia, di dalam diri manusia juga ada hayat Satan (Iblis). Karena itu, Roma 7:18, 20 mengatakan bahwa "di dalam" manusia, yaitu "di dalam daging" manusia, juga berhuni "dosa". "Dosa" di sini ditujukan kepada hayat Iblis. Menurut Galatia 5:17, "daging" yang mengandung hayat Iblis ini masih terus ada dalam diri manusia bahkan sesudah dia diselamatkan, dan keinginan daging ini selalu bertentangan dengan Roh. Karena itu, sesudah seseorang diselamatkan, dia masih mempunyai hayat Iblis dalam dirinya.

Selanjutnya, Yohanes 3:36 mengatakan, "Siapa saja yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal." Satu Yohanes 5:12 juga mengatakan, "Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup," yaitu hayat Allah. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang yang telah percaya kepada Anak Allah dan diselamatkan tidak hanya mempunyai hayat manusia yang memang sudah dimilikinya sejak semula dan hayat Iblis yang diperolehnya karena kejatuhan, tetapi juga mempunyai hayat kekal dari Allah.

2. Asal Mula Tiga Hayat

Alkitab mengatakan bahwa sewaktu Allah menciptakan Adam, Dia menghembuskan nafas hidup ke dalam lubang hidungnya, dengan demikian Adam mendapatkan hayat manusia yang diciptakan. Kemudian Allah menaruh manusia itu di Taman Eden di depan dua pohon, pohon kehidupan (hayat) dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Berdasarkan wahyu yang kemudian diberikan dalam Alkitab, pohon hayat melambangkan Allah, pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat melambangkan Iblis, dan Adam mewakili umat manusia. Karena itu, pada saat itu di Taman Eden, yaitu dalam alam semesta, timbullah keadaan yang melibatkan tiga golongan – manusia, Allah, dan Iblis.

Iblis adalah musuh Allah dan sasaran pergumulannya dengan Allah adalah manusia. Baik Iblis maupun Allah menginginkan manusia. Allah menginginkan manusia untuk merampungkan kehendak-Nya, sedangkan Iblis menginginkan manusia untuk memenuhi hasrat jahatnya. Cara yang dipakai Iblis maupun Allah untuk mendapatkan manusia adalah melalui hayat. Allah menghendaki manusia makan buah pohon hayat agar bisa mendapatkan hayatNya yang bukan ciptaan dan dipersatukan dengan-Nya. Namun Iblis membujuk manusia untuk makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat agar manusia mendapatkan hayatnya, jatuh, dan bercampur baur dengannya.

Pada waktu itu, karena tertipu oleh Iblis, Adam makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Dengan demikian, hayat Iblis masuk ke dalam manusia, menyebabkan manusia menjadi rusak. Jadi, di samping hayat tercipta manusia yang memang sudah manusia miliki sejak semula, manusia juga mendapatkan hayat Iblis yang jatuh.

Dalam zaman Perjanjian Baru, Allah menaruh hayat-Nya dalam Putra-Nya agar melalui percaya kepada Anak-Nya dan menerima Dia, manusia boleh mendapatkan hayat-Nya. Jadi, di samping hayat tercipta manusia yang telah kita miliki sejak semula dan hayat Iblis yang diperoleh melalui kejatuhan, kita juga mendapatkan hayat Allah.

Karena itu, ketiga hayat dalam diri kita sebagai orang yang telah diselamatkan secara berturut-turut diperoleh melalui penciptaan, kejatuhan, dan penyelamatan. Dimulai dari penciptaan tangan Allah, kita memperoleh hayat tercipta manusia. Melalui Adam, kita mengalami kejatuhan dan mendapatkan hayat Iblis. Melalui masuk ke dalam Kristus, kita diselamatkan dan mendapatkan hayat Allah yang bukan ciptaan.

3. Tempat Tiga Hayat

Berdasarkan wahyu Alkitab, ketiga hayat yang berbeda itu, yaitu hayat manusia, hayat Iblis, dan hayat Allah, berturut-turut masuk ke dalam jiwa, tubuh, dan roh kita - tiga bagian diri kita. Sewaktu Allah membentuk manusia dari debu tanah, Dia menghembuskan nafas hidup ke dalam manusia itu sehingga "manusia itu menjadi jiwa yang hidup" (Kej. 2:7 Tl.). Ini berarti bahwa hayat manusia yang diperoleh melalui penciptaan berada dalam jiwa manusia. Sewaktu manusia terbujuk oleh Iblis sehingga jatuh, dia memasukkan ke dalam tubuhnya buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, yang melambangkan Iblis. Karena itu, hayat Iblis yang diperoleh manusia melalui kejatuhannya berada dalam tubuh manusia. Sewaktu manusia menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan diselamatkan, Roh Allah yang membawakan hayat Allah masuk ke dalam roh manusia. Karena itu, hayat Allah yang diperoleh manusia melalui penyelamatan berada dalam roh manusia. Jadi, orang yang diselamatkan mempunyai hayat Allah dalam rohnya, hayat manusia dalam jiwanya, dan hayat Iblis dalam tubuhnya.

Untuk memahami ketiga bagian yang merupakan tempat ketiga hayat ini dengan lebih jelas, kita akan meluangkan sedikit waktu untuk membahas perasaan dari ketiga bagian ini. Tubuh, bagian diri kita yang paling luar, bagian jasmani, dapat dilihat, dan dapat disentuh. Bagian ini meliputi semua anggota tubuh kita dan mempunyai lima panca indra, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan peraba untuk berhubungan dengan dunia jasmani. Karena itu, perasaan dari tubuh disebut perasaan duniawi atau perasaan jasmani.

Roh, bagian diri kita yang paling dalam, meliputi hati nurani, intuisi (perasaan langsung), dan persekutuan (komunikasi). Hati nurani merupakan organ untuk membedakan benar dan yang salah; dan berdasarkan prinsip benar dan salah, hati nurani itu membuat kita merasakan apa yang benar dan berkenan dalam pandangan Allah, serta apa yang salah dan ditolak dalam pandangan Allah. Intuisi membuat kita merasakan kehendak Allah secara langsung tanpa perantara apa pun. Persekutuan membuat kita mampu berkomunikasi dan bersekutu dengan Allah. Meskipun bagian persekutuan inilah yang membuat kita mampu mengontak Allah, namun baik bagian hati nurani maupun bagian intuisi itulah yang menyebabkan kita merasakan Allah dan perkara-perkara rohani, yaitu menghubungi dunia rohani. Perasaan kedua bagian ini merupakan perasaan roh; karena itu disebut perasaan rohani, atau perasaan Allah.

Jiwa, yang terletak di antara roh dan tubuh, merupakan bagian batin kita, yaitu bagian psikis yang meliputi pikiran, emosi, dan tekad. Pikiran merupakan organ untuk berpikir dan mempertimbangkan; emosi merupakan organ untuk kesenangan, kemarahan, kesedihan, dan kegembiraan; tekad merupakan organ untuk menyusun pendapat dan membuat keputusan. Meskipun jiwa terdiri dari tiga bagian, hanya dua yang mempunyai perasaan, yaitu pikiran dan emosi. Perasaan pikiran didasarkan pada rasionalisasi, sedangkan perasaan emosi didasarkan pada rasa suka dan tidak suka. Kedua perasaan dalam jiwa kita ini membuat kita mampu merasakan bagian psikis manusia, yaitu ego atau diri manusia, dan menghubungi alam psikologis. Karena itu, kedua perasaan ini disebut perasaan psikologis atau kesadaran diri. (Sering kita menyebut istilah "perasaan manusia", ini adalah mengacu kepada perasaan emosi dan kegemaran dalam jiwa manusia. Meskipun perasaan ini bisa terpengaruh oleh pikiran dalam jiwa, bisa terpengaruh oleh panca indra dalam tubuh, juga bisa terpengaruh oleh hati nurani dalam roh, bahkan atas diri orang rohani, adakalanya bisa secara lembut terpengaruh oleh intuisi dalam roh, namun perasaan emosi dan kegemaran jiwa yang tetap memegang peranan).

4. Sifat dan Keadaan Tiga Hayat

Karena masing-masing dari ketiga hayat yang berbeda yang kita peroleh dalam diri kita mempunyai asalnya masing-masing dan tinggal secara terpisah dalam salah satu bagian dari ketiga bagian yang berbeda dalam diri kita, maka sifat dan keadaan ketiga hayat dalam diri kita, ini pasti juga berbeda dan sangat rumit. Segera setelah manusia diciptakan oleh Allah, dalam pandangan Allah, manusia itu "sungguh amat baik" (Kej. 1:31) dan "jujur" (lurus) (Pkh. 7:29). Karena itu, hayat manusia yang diciptakan itu pada mulanya baik dan lurus; bukan hanya tanpa dosa, tetapi juga tidak mengenal dosa dan perasaan malu; tulus dan sederhana. (Perasaan malu adalah perasaan yang dimunculkan Allah pada diri manusia setelah kejatuhan manusia. Perasaan ini memiliki dua aspek kegunaan. Di satu aspek, membuktikan kita berbuat dosa; di aspek lain, mencegah kita berbuat dosa. Seseorang yang tidak memiliki rasa malu, ia akan sembarangan berbuat dosa. Semakin seseorang memiliki perasaan malu, ia akan semakin terlindungi agar tidak berbuat dosa. Karena itu ada pepatah mengatakan, "Jangan sampai perempuan tidak memiliki rasa malu". Orang yang tidak memiliki perasaan malu, pasti adalah orang yang hina).

Begitu Adam berdosa dan jatuh, manusia tidak hanya berdosa terhadap Allah dalam tingkah lakunya, bahkan lebih buruk lagi, hayatnya telah diracuni oleh Iblis, sehingga menjadi tercemar dan rusak. Misalnya, seandainya saya menyuruh anak-anak di rumah agar tidak bermain-main dengan penghapus papan tulis. Sewaktu saya meninggalkan rumah, karena rasa ingin tahu, mereka bermain-main dengan penghapus itu; lalu sewaktu pulang ke rumah, saya mendapati mereka telah berbuat salah. Kesalahan ini hanya merupakan pelanggaran terhadap peraturan keluarga, tidak ada sesuatu yang masuk ke dalam mereka. Tetapi seandainya, suatu saat saya menyimpan obat beracun di rumah dan memberi tahu anak-anak, "Jangan sekali-kali minum obat ini." Lalu sewaktu saya meninggalkan rumah, mereka merasa botol itu pasti menyenangkan untuk dipakai bermain-main, dan akhirnya malah minum obat beracun itu. Dalam hal ini, mereka bukan hanya tidak menaati perintah saya dan melanggar peraturan keluarga, tetapi lebih buruk lagi, karena sesuatu yang beracun telah masuk ke dalam mereka. Inilah yang terjadi sewaktu Adam makan buah pohon pengetahuan itu. Dia bukan hanya tidak mematuhi larangan Allah, tetapi juga telah menerima hayat Iblis ke dalam dirinya. Mulai saat itu, batin manusia menjadi rumit. Dia tidak hanya mempunyai hayat manusia yang sejak semula lurus dan baik, tetapi juga hayat Iblis yang jahat dan rusak.

Hayat Iblis, yang penuh dengan segala macam jenis dosa, mengandung benih semua kerusakan dan unsur-unsur jahat. Iblis hidup dalam diri manusia dan menyebabkan manusia itu mempunyai hawa nafsu (Yoh. 8:44 - "keinginan-keinginan") dan berbuat dosa (1 Yoh. 3:8). Karena itu, hayatnya merupakan akar dosa, yang menyebabkan manusia memperhidupkan dosa. Berbagai dosa yang dilakukan manusia berasal dari hayat Iblis (yang juga adalah hayat setan) dalam dirinya. Sejak hayat yang jahat ini masuk ke dalam manusia, meski kadang-kadang manusia masih dapat memperhidupkan sedikit kebaikan sesuai dengan hayat manusianya, namun manusia lebih banyak memperhidupkan kejahatan-kejahatan Iblis sesuai dengan hayat setannya. Kadang-kadang manusia dapat menjadi sangat lembut; dia benar-benar dapat berbuat seperti seorang manusia dan menebarkan aroma manusia sejati. Namun di saat lain, sewaktu dia marah-marah, dia benar-benar menjadi seperti

setan dan penuh aroma setan. Sewaktu manusia menuruti keinginannya untuk minum-minum dan mabuk-mabukan, pergi melacur, berjudi dan berbuat bermacam-macam dosa, dia menampilkan rupa setan dan penuh dengan aroma setan. Bukan karena kehendaknya sendiri sehingga manusia memperhidupkan hayat setan, sebaliknya hayat setan di dalam dirinya itulah yang menipunya, membuat dia menjadi manusia yang jahat dan menempuh hidup campuran antara manusia dengan setan.

Inilah keadaan batin sesungguhnya orang-orang dunia masa kini. Karena manusia mempunyai hayat manusia dan hayat Iblis, yang satu baik sifatnya dan yang lain jahat, maka di satu pihak manusia ingin menjadi baik dan lurus, namun di pihak lain dia juga condong terhadap perkara-perkara yang rusak dan jahat. Karena itu, sepanjang generasi, para filsuf yang mempelajari sifat manusia mengajukan dua pendapat yang berbeda. Yang satu mengatakan bahwa manusia itu pada dasarnya baik, dan yang lain mengatakan bahwa pada dasarnya sifat manusia itu jahat. Sesungguhnya, kita mempunyai kedua sifat ini dalam diri kita, karena kita mempunyai hayat yang baik sekaligus hayat yang jahat di dalam diri kita.

Namun, syukur kepada Allah, sekarang kita yang telah diselamatkan tidak hanya mempunyai hayat manusia dan hayat setan, tetapi juga hayat Allah. Sebagaimana Iblis, melalui kecurangannya menyuntikkan hayatnya ke dalam diri manusia dan menyebabkan manusia bersatu dengannya, dimiliki olehnya, dan memiliki semua sifat jahatnya; begitu juga Allah, melalui pembebasan-Nya, menaruh hayat-Nya ke dalam diri manusia dan menyebabkan manusia bersatu dengan-Nya, dimiliki oleh-Nya, dan memiliki semua kebaikan ilahi dari sifat-Nya. Karena itu, sama seperti masalah penting dalam kejatuhan adalah hayat, maka masalah penting dalam penyelamatan juga adalah hayat. Ketika kita menghadiri meja Tuhan, mula-mula kita memecah-mecahkan roti hayat, lalu kita minum cawan pengampunan. Ini berarti, ketika kita mengalami penyelamatan Tuhan, meski mula-mula kita menerima darah dan kemudian hayat, namun dalam penyelamatan-Nya, lambang utama adalah roti, yang menandakan hayat. Yang kedua adalah cawan yang menandakan darah. Karena itu, mula-mula kita mengambil roti, baru kemudian cawan.

Ketika hayat Allah masuk ke dalam kita, batin kita menjadi lebih rumit daripada orang-orang duniawi. Kita punya hayat manusia yang lurus, hayat Iblis yang jahat, dan hayat Allah yang baik dan ilahi. Ini berarti ada manusia, ada Iblis, dan ada Allah. Keadaan tiga pihak, yaitu manusia, Allah, dan Iblis, yang ada pada waktu itu di Taman Eden juga ada di dalam kita hari ini. Kita dapat mengatakan bahwa di dalam diri kita ada miniatur Taman Eden yang terdiri atas manusia, Allah, dan Iblis - ketiganya ada di sana. Karena itu, pertikaian antara Iblis dengan Allah di Taman Eden untuk memperebutkan manusia juga terjadi di dalam diri kita hari ini. Hari ini, Iblis bergerak di dalam kita, menghendaki kita bekerja sama dengannya supaya dia dapat memenuhi maksud jahatnya demi memiliki kita. Allah juga bergerak di dalam kita, menghendaki kita bekerja sama dengan-Nya untuk merampungkan perkenan-Nya. Kalau kita hidup menurut hayat Iblis di dalam kita, kita akan memperhidupkan kejahatan-kejahatan Iblis sehingga membantu dia memenuhi maksud jahatnya terhadap diri kita. Kalau kita hidup menurut hayat Allah dalam diri kita, kita akan memperhidupkan kebaikan ilahi Allah sehingga membantu Dia merampungkan perkenan-Nya di dalam kita. Meskipun kadang-kadang kelihatannya kita dapat mandiri dan hidup bukan menurut hayat Iblis maupun hayat Allah, dan hanya hidup menurut hayat manusia kita, namun sesungguhnya kita tetap tidak dapat mandiri; kita tetap akan hidup menurut hayat Allah atau menurut hayat Iblis.

Itulah sebabnya, seorang Kristen dapat menjadi seperti tiga macam orang yang berbeda-beda dan memperhidupkan tiga macam hayat yang berbeda-beda pula. Seorang saudara yang sangat ramah dan baik hati di pagi hari benar-benar kelihatan seperti seorang manusia; pada siang hari, sewaktu dia marah-marah kepada istrinya, dia mirip setan; dan pada malam hari, sewaktu berdoa dia merasa bahwa dia sudah memperlakukan istrinya dengan cara yang salah dan mengaku dosa, baik di hadapan Allah maupun di hadapan istrinya, dia seperti Allah. Jadi, dalam satu hari dia bertingkah seperti tiga pribadi yang berbeda, memperhidupkan tiga keadaan yang berbeda. Pada pagi hari dia ramah dan baik hati sebagai seorang manusia, pada siang hari dia marah-marah sebagai setan, dan pada malam hari, sesudah menanggulangi dosa, dia menyatakan rupa Allah. Dalam satu hari, manusia, setan, dan Allah, semuanya ternyata dalam kehidupannya. Dia dapat berbuat seperti itu dikarenakan dalam dirinya ada hayat dari ketiganya – manusia, setan, dan Allah. Sewaktu dia hidup menurut hayat manusia, dia seperti manusia; sewaktu dia berperilaku menurut hayat setan, dia seperti setan; dan sewaktu dia berperilaku menurut hayat Allah, dia menyatakan rupa Allah. Menurut hayat mana kita hidup, maka hayat itulah yang akan menentukan apakah yang akan kita perhidupkan.

Karena itu, kita harus melihat dengan jelas bahwa dalam diri orang yang telah diselamatkan ada tiga hayat yang berbeda - hayat manusia yang diciptakan, hayat Iblis yang jatuh, dan hayat Allah yang bukan ciptaan. Meski kita mempunyai ketiga hayat tersebut di dalam kita, tetapi kita mendapatkannya dalam waktu yang berlainan berdasarkan tiga peristiwa yang berbeda. Pertama, sewaktu penciptaan dan melalui penciptaan Allah, kita mendapatkan hayat manusia yang diciptakan. Kedua, sewaktu jatuh, karena hubungan kita dengan Iblis dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, kita mendapatkan hayat yang jatuh dari Iblis. Ketiga, sewaktu kita diselamatkan, karena kita percaya kepada Anak Allah dan menerima-Nya, kita mendapatkan hayat Allah yang bukan ciptaan. Karena ketiga peristiwa ini - penciptaian, kejatuhan, dan penyelamatan - terjadi dalam diri kita, maka kita mendapatkan tiga macam hayat yang masing-masing berbeda sifatnya, yaitu hayat manusia, Iblis, dan Allah. Dengan melihat dan mengenal hal ini, kita menjadi jelas terhadap jalan hayat. Karena ketiga hayat yang berbeda dari manusia, Iblis, dan Allah, ada dalam kita secara bersamaan, lalu, kita harus hidup berdasarkan hayat yang mana? Hayat manusia? Hayat Allah? Ataukah hayat Iblis? Berdasarkan hayat apa kita hidup, maka kehidupan dari hayat itulah yang kita perhidupkan. Inilah jalan hayat.

II. EMPAT HUKUM

Setiap hayat yang ada di dalam kita, orang-orang yang telah diselamatkan, mempunyai hukumnya. Karena itu, di dalam kita bukan hanya ada tiga hayat, tetapi juga tiga hukum yang menjadi milik ketiga hayat itu. Di samping itu, ada hukum Allah di luar kita. Karena itu, di dalam dan di luar kita, semuanya ada empat hukum. Hal ini diwahyukan kepada kita dalam Roma 7 dan 8.

I. Penjelasan Mengenai Empat Hukum

Pokok utama Roma 7 dan 8 adalah hukum. Sebelumnya, dalam pasal 6, rasul mengatakan, "Sebab dosa tidak akan berkuasa lagi atas kamu, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah anugerah" (ayat 14). Satu-satunya sebab dosa tidak dapat menguasai kita hanyalah karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat. Karena itu, untuk menjelaskan pernyataan bahwa kita tidak "di bawah hukum Taurat", Rasul melanjutkan membicarakan hukum Taurat dalam pasal 7 dan 8. Pasal 7 di mulai dengan perkataan, "Apakah kamu tidak tahu, Saudara-saudara, - sebab aku berbicara kepada mereka yang mengetahui hukum - bahwa hukum berkuasa atas seseorang selama orang itu hidup?" Dan lagi, "Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita" (ayat 6). Lalu dia mengatakan, "Sebaliknya, justru melalui hukum Taurat aku telah mengenal dosa" (ayat 7). Dan lagi, "Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah" (ayat 22). Semua ini mengacu kepada hukum Taurat Perjanjian Lama. Akhirnya dia mengatakan, "tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku." (ayat 23). Dan lagi, "Jadi, dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi sebagai manusia yang bersifat daging aku melayani hukum dosa" (ayat 26). Kemudian dalam pasal 8 dia mengatakan, "Hukum Roh hayat telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut" (ayat 2 Tl.). Dengan perkataan-perkataan ini, rasul membicarakan secara bersamaan keempat hukum yang berbeda, yang berkaitan dengan kita secara pribadi.

Pertama, "hukum Allah" (7:22, 25), yaitu hukum Perjanjian Lama, yang menyampaikan semua tuntutan Allah terhadap kita. Kedua, "hukum akal budi" (7:23), yang ada dalam pikiran kita, menyebabkan kita berhasrat untuk berbuat baik; karena itu hukum ini bisa juga disebut hukum kebaikan dalam pikiran kita. Ketiga, "hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuh" (7:23), menyebabkan kita berbuat dosa. Karena fungsi hukum yang ada dalam diri kita, yang menyebabkan kita berbuat dosa ini dinyatakan dalam anggota-anggota tubuh kita maka disebut "hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuh". Keempat, "Hukum Roh hayat" (8:2 Tl.), menyebabkan kita hidup dalam hayat Allah. Roh yang merupakan asal hukum ini adalah Roh hayat, roh perbauran yang terdiri atas Roh Allah, hayat Allah, dan roh manusia. Karena itulah disebut "hukum Roh hayat". Selain itu, karena Roh ini berisi hayat, menjadi milik hayat, dan adalah hayat, maka hukum Roh ini disebut sebagai "hukum hayat". Mengenai keempat hukum itu, yang satu berada di luar kita hukum Allah; sedangkan ketiga hukum lainnya berada dalam dirl kita - hukum kebaikan dalam pikiran, hukum dosa dalam tubuh, dan hukum Roh hayat dalam roh kita.

2. Asal Mula Empat Hukum

Asal mula dari masing-masing hukum ini berbeda. Hukum Allah, yang tertulis pada loh batu, diberikan oleh Allah kepada manusia melalui Musa pada zaman Perjanjian Lama. Ketiga hukum lainnya berasal dari ketiga hayat yang telah kita sebutkan sebelumnya. Kita tahu bahwa setiap hayat ada hukumnya. Meski hukum tidak selalu berasal dari hayat, namun hayat selalu mempunyai hukum. Karena kita mempunyai tiga hayat yang berbeda dalam diri kita, kita mempunyai tiga hukum yang berkaitan dengan ketiga hayat yang berbeda itu.

Hukum kebaikan dalam pikiran berasal dari hayat ciptaan yang baik, yang diperoleh bukan pada waktu kita diselamatkan, tetapi pada waktu kita dilahirkan. Hayat ini merupakan karunia bawaan pada saat penciptaan Allah, bukan karunia dalam keselamatan Allah. Sebelum kita diselamatkan, sering kali dalam akal dan pikiran kita ada kecenderungan atau hasrat alami untuk berbuat baik, menghormati orang tua, penuh kebaikan kepada orang lain, atau pun penuh penyesalan, berharap untuk memperbaiki diri dan memutuskan untuk lebih maju. Pikiran-pikiran untuk berbuat baik dan lebih maju ini berasal dari hukum kebaikan dalam pikiran kita. Semua itu membuktikan bahwa bahkan sebelum kita diselamatkan, hukum tentang yang baik ini sudah ada dalam diri kita.

Berdasarkan Roma 7:18, "Sebab aku tahu bahwa di dalam aku, ...tidak ada sesuatu yang baik," ada orang menyimpulkan bahwa baik sebelum maupun sesudah kita diselamatkan, tidak ada yang baik dalam diri kita. Karena itu, hukum kebaikan vang ada dalam pikiran kita tidak mungkin berasal dari hayat ciptaan yang sebermula, lebih-lebih tidak mungkin ada sebelum kita diselamatkan. Tetapi, jika kita membaca Roma 7:18 dengan teliti, kita dapat nampak bahwa kesimpulan itu tidak tepat, karena sewaktu Paulus mengatakan tidak ada sesuatu yang baik dalam diri kita, yang dimaksudkannya adalah keadaan dalam daging kita. Daging yang dibicarakan di sini, menurut konteks ayat 21, 23 dan 24, ditujukan pada tubuh daging kita yang telah jatuh dan berubah. Dalam tubuh daging kita yang telah jatuh dan berubah, yaitu dalam daging kita, tidak ada sesuatu yang baik. Ini tidaklah berarti bahwa dalam diri kita, umat yang jatuh, sama sekali tidak ada sesuatu yang baik. Sebahknya, selanjutnya dalam pasal itu kita diberi tahu dengan jelas bahwa dalam diri kita vang jatuh ada kehendak yang ingin berbuat baik dan hukum kebaikan dalam pikiran kita. Baik kehendak maupun pikiran merupakan bagian dari jiwa. Karena itu, meski tidak ada yang baik dalam tubuh kita yang telah jatuh dan berubah, namun ada unsur kebaikan dalam pikiran dan tekad dari jiwa kita, bahkan sesudah kejatuhan. Unsur kebaikan ini dengan sendirinya merupakan milik hayat baik yang diciptakan. Karena itu hukum kebaikan dalam pikiran kita merupakan hayat ciptaan yang sebermula dan ada sebelum kita diselamatkan, ada sejak kita dilahirkan.

Ada orang mungkin mengatakan bahwa hayat baik yang diciptakan itu telah dirusak oleh Iblis pada saat kejatuhan, karena itu telah kehilangan unsur kebaikannya. Anggapan ini juga tidak tepat. Sebagai contoh, menambahkan unsur asam ke dalam sebuah gelas yang berisi air madu akan merusak rasa manisnya, tetapi tidak menghilangkan unsur manisnya. Meski manusia telah dirusak oleh Iblis, unsur kebaikannya masih tetap ada. Memang unsur kebaikan yang diciptakan dalam diri manusia telah dirusak oleh Iblis hingga tidak tertolong lagi, tetapi kita tidak dapat mengatakan bahwa unsur kebaikan itu telah dirusak sedemikian rupa sehingga menjadi tidak ada sama sekali. Kalau Anda membanting gelas, gelas itu akan pecah berantakan, tetapi bagian-bagiannya masih tetap ada. Sekeping batangan emas mungkin dilemparkan ke dalam kolam yang kotor, tetapi unsur emasnya masih tetap ada. Meski rasa hormat kita kepada orang tua, kasih persaudaraan, kesetiaan, ketulusan hati, kesopanan, moralitas, kerendahan hati, dan rasa malu sudah tidak begitu murni dan sudah campur aduk, namun unsur-unsur itu masih ada. Karena itu kita dapat menyimpulkan bahwa meski unsur-unsur baik dalam diri kita telah tercemar, namun masih tetap ada setelah perusakan; meski sangat lemah, namun masih tetap ada. Itulah sebabnya, para guru dan filsuf China telah menemukan bahwa dalam diri manusia ada "kebajikan-kebajikan yang nampak" serta "kesadaran yang mendalam", dan lain-lain, dan menyimpulkan bahwa sifat manusia itu pada dasarnya baik. Penemuan para filsuf mengenai sifat manusia ini sangat tepat, karena dalam diri manusia yang jatuh, masih ada unsur-unsur kebaikan dan hukum yang dengan sendirinya membuat manusia ingin berbuat baik.

Hukum dosa dalam anggota-anggota tubuh berasal dari hayat Iblis yang jatuh dan jahat. Sebelumnya kita telah mengatakan bahwa karena kejatuhan Adam melalui berbuat dosa - makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan vang jahat - hayat Iblis masuk ke dalam manusia. Dalam hayat Iblis ini terkandung hukum yang jahat, yaitu hukum dosa dalam anggota-anggota tubuh. Karena hayat Iblis itu jahat, maka hukum yang berasal dari hayatnya dengan sendirinya membuat manusia berdosa dan berbuat jahat.

Hukum Roh hayat berasal dari Roh hayat yang ada dalam roh kita, dan berasal dari hayat Allah yang ilahi dan bukan ciptaan. Waktu kita menerima Tuhan dan di selamatkan, Roh Allah bersama hayat Allah masuk ke da lam roh kita dan berbaur dengan roh kita menjadi Roh hayat. Dalam hayat dari Roh hayat ini terkandung hukum, yaitu hukum Roll hayat, atau hukum hayat.

Sebab itu, kita harus nampak dengan jelas bahwa pada waktu kita diselamatkan, bukan hukum kebaikan yang ditaruh oleh Allah dalam diri kita; tetapi hukum hayat. Sasaran Allah atas diri kita adalah hayat, bukan kebaikan. Ketika Allah menyelamatkan kita, Dia menaruh hukum hayat dalam diri kita. Hukum kebaikan tidak diberikan melalui keselamatan Allah, tetapi melalui penciptaan-Nya. Unsur berbuat baik yang ada dalam diri kita itu tetap ada. Tetapi, ketika Allah menyelamatkan kita, Dia menaruh hayat-Nya dalam diri kita. Dalam hayat ini terkandung hukum hayat, hukum Roh hayat. Hukum ini diperoleh pada saat kita diselamatkan dan berasal dari keselamatan hayat Allah.

Karena itu, berkenaan dengan asal mula keempat hukum ini, kita dapat mengatakan bahwa hukum Allah berasal dari Allah dan adalah milik Allah; hukum kebaikan dalam pikiran berasal dari hayat manusia dan adalah milik manusia; hukum dosa dalam anggota-anggota tubuh berasal dari hayat Iblis dan adalah milik Iblis; dan hukum Roh hayat berasal dari Roh hayat dan adalah milik roh.

3. Tempat Empat Hukum

Untuk mendapatkan pengetahuan yang tepat mengenai empat hukum ini, kita harus jelas mengenai tempatnya masing-masing.

Hukum Allah tertulis di atas loh batu, karena itu berada di luar kita.

Hukum kebaikan ada dalam pikiran kita, yaitu dalam jiwa kita. Karena hayat untuk berbuat baik ada dalam jiwa kita, maka hukum yang berasal dari hayat ini tentu saja juga ada dalam jiwa kita. Fungsi hukum ini secara khusus dinyatakan dalam pikiran dari jiwa kita, karena itu hukum ini disebut "dari pikiran". Karena itu, dalam jiwa kita, kita mempunyai hayat manusia, hukum kebaikan yang berasal dari hayat itu, dan sifat manusia yang baik.

Hukum dosa ada dalam anggota-anggota tubuh kita, yaitu dalam tubuh kita. Pada waktu kejatuhannya, manusia menerima buah pohon pengetahuan masuk ke dalam tubuhnya; demikianlah hayat Iblis yang jahat masuk ke dalam tubuh kita. Jadi, hukum dosa yang berasal dari hayat Iblis juga ada dalam tubuh kita. Karena hukum ini ada didam tubuh kita dan tubuh kita terdiri atas banyak anggota tubuh, maka hukum ini juga ada dalam anggota-anggota tubuh kita. Jadi, dalam tubuh kita ada Iblis, hayat Iblis, hukum dosa yang berasal dari hayat Iblis, dan sifat jahat Iblis. Karena Iblis dan hal-hal jahatnya telah masuk ke dalam tubuh kita dan bercampur baur dengan diri kita, maka tubuh kita berubah dan menjadi daging yang telah rusak.

Hukum Roh hayat ada dalam roh kita. Karena Roh hayat bersama hayat Allah tinggal dalam roh kita, maka hukum vang berasal dari Roh hayat juga ada dalam roh kita. Hukum ini berasal dari Roh Allah dan ada dalam roh kita, karena itu bukan hanya asalnya adalah Roh, tetapi tempatnya juga adalah roh; seluruhnya berasal dari roh, bukan dari tubuh atau dari jiwa. Jadi, dalam roh kita, kita mempunyai Allah, hayat Allah, hukum yang berasal darl Roh hayat Allah, dan sifat hayat-Nya.

4. Sifat dan Fungsi Keempat Hukum Itu

Bagaimanakah sifat dan fungsi keempat hukum itu di luar dan di dalam diri kita? Hukum Allah adalah undang-undang Allah, dan sifatnya kudus, benar, dan baik. Hukum yang di luar diri kita ini membuat kita tahu apa yang dihakimi Allah dan apa yang dibenarkan-Nya. Hukum ini menghendaki kita menolak apa yang dihakimi Allah dan melakukan apa yang dibenarkan Allah untuk menuruti undang-undang Allah yang kudus, benar, dan baik.

Hukum kebaikan dalam pikiran kita, yang berasal dari hayat kita yang diciptakan dan yang baik, mengandung sifat manusia yang baik dan benar-benar sesuai dengan sifat hukum Allah di luar diri kita. Di dalam dirl kita, yaitu di dalam pikiran kita, hukum ini menimbulkan hasrat untuk berbuat baik. Khususnya sewaktu hukum Allah di luar diri kita menghendaki agar kita menjadi baik, maka dalam diri kita hukum kebaikan ini memberikan kecenderungan untuk berbuat baik. Karena itu, pikiran dalam diri kita senang menaati hukum Allah yang berada di luar kita. Inilah yang dikatakan rasul, "Jadi, dengan akal budiku aku melayani hukum Allah" (Rm. 7:26).

Hukum dosa dalam anggota-anggota tubuh kita berasal dari hayat Iblis yang jahat dan jatuh dalam daging kita, mengandung sifat jahat Iblis. Hayat Iblis yang jahat adalah "si jahat" yang ada dalam daging kita dan "dosa" yang berhuni dalam diri kita (Rm. 7:21, 20). Hukum yang keluar dari hayat yang jahat ini menyebabkan kita berbuat dosa, karena hukum ini adalah "hukum dosa". Dari daging kita, hukum ini memperlihatkan kekuatan alaminya untuk berbuat jahat dan berperang melawan hukum kebaikan dalam pikiran kita. Sewaktu hukum kebaikan dalam pikiran kita memberi kita keinginan untuk berbuat baik, hukum dosa bangkit memeranginya dan membuat kita menjadi tawanan (Rm. 7:23). Karena itu, kita bukan hanya tidak mampu memenuhi keinginan kita untuk berbuat baik atau memenuhi tuntutan yang baik dari hukum Allah, sebaliknya, kita mematuhi hukum dosa dalam anggota-anggota tubuh kita, melakukan segala jenis dosa dan memperoleh maut, sama seperti yang digambarkan dalam Roma 7:21-24. Karena itu, kita berdosa bukan karena pilihan kita sendiri, juga bukan karena kemauan kita sendiri, tetapi hukum dosa itulah yang mendorong kita dari dalam.

Karena itu, di sini kita dapat melihat bahwa dalam diri kita, umat yang jatuh, ada dua hukum yang saling bertentangan yang satu berasal dari hayat kebaikan yang diciptakan dan bekerja dalam pikiran dari jiwa kita, memberi kita keinginan untuk berbuat baik. Yang lain berasal dari hayat Iblis yang jatuh dan jahat serta bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita, menyebabkan kita berbuat dosa. Dua hukum yang saling bertentangan ini melakukan pekerjaan yang bertentangan dalam pikiran kita dan dalam anggota-anggota tubuh kita, berperang melawan satu sama lain di dalam kita. Biasanya, hasilnya adalah hukum dosa menang terhadap hukum kebaikan sehingga kita gagal berbuat kebaikan yang kita inginkan dan terpaksa melakukan kejahatan yang tidak kita inginkan. Inilah yang disebut oleh orang sebagai perang antara logika (alasan) dengan nafsu. Logika merupakan unsur berbuat baik, dan memang ada dalam hayat kita yang diciptakan, sedangkan nafsu merupakan dosa yang tinggal dalam tubuh kita yang jatuh, atau kejahatan yang berada dalam daging kita. Meskipun logika itu sebagian berasal dari hati nurani kita, tetapi logika itu bekerja dalam pikiran kita. Karena itu, kebaikan yang merupakan hasil kerja keras "logika" juga berasal dari daya nalar atau melalui daya nalar. Meskipun nafsu berkaitan dengan sifat manusia kita yang jatuh, tetapi nafsu itu bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita. Itulah sebabnya kejahatan yang merupakan hasil. kerja dari nafsu berasal dari nafsu. Karena alasan inilah, maka orang yang kuat daya nalarnya lebih mampu untuk berbuat baik, sedangkan orang yang lebih bernafsu mudah berbuat jahat. Dengan kata lain, semua kebaikan yang dilakukan oleh manusia berasal dari atau melalui daya nalar dalam pikiran, sedangkan semua kejahatan yang dilakukan oleh manusia berasal dari nafsu dalam anggota-anggota tubuh. Ketika logika dalain pikiran kita memperoleh kedudukan yang menguntungkan, maka logika itu menyebabkan manusia berbuat baik. Ketika nafsu dalam anggota-anggota tubuh mendapatkan kedudukan tertinggi, maka nafsu itu akan menyebabkan manusia berbuat jahat.

Beberapa orang menganggap bahwa perang ini sama dengan perselisihan yang disebutkan dalam Galatia 5. Ini tidak benar. Galatia 5 membicarakan daging kita berperang melawan Roh, hal ini hanya terjadi setelah kita diselamatkan dan mendapatkan Roh Kudus. Namun perang antara kedua hukum tadi berkenaan dengan perang antara hayat Iblis yang jatuh dan jahat dengan hayat kebaikan yang diciptakan, dan perang ini bahkan sudah ada sebelum kita diselamatkan. Karena itu, perang ini merupakan perang yang ada dalam diri kita sebelum kita diselamatkan. Perang ini juga merupakan perang antara kebaikan dengan kejahatan yang ada dalam semua orang duniawi.

"Dosa" yang merupakan asal hukum dosa adalah hayat Iblis; karena itu ia hidup. "Dosa" (di sini kita tulis dengan huruf awal besar, juga dalam bahasa Inggris berarti dia itu suatu oknum dan juga unik. Dalam alam semesta hanya ada satu Allah, dan hanya ada satu Dosa. Dosa merupakan istilah yang khusus dan sesuatu makhluk yang unik. Dosa merupakan nama lain dari Iblis. Karena itu Roma 5 sampai 8 memberi tahu kita bahwa Dosa dapat memerintah atas kita, menguasai kita, menyebabkan kita menjadi budaknya dan menentang Allah, berhuni dalam diri kita, dan mengatur kita, menyebabkan kita melakukan kejahatan yang tidak kita inginkan. Banyak dosa di luar diri kita itu tidak lain adalah tindakan-tindakan hasil dari pekerjaan Dosa yang unik itu dalam diri kita. Dosa yang unik ini merupakan akar dan induk dari segala dosa.

Bagaimana Dosa dapat menyebabkan kita berbuat dosa di luaran? Kita sudah melihat bahwa Dosa berhuni dalam tubuh kita. Meski demikian, bukan tubuh, tetapi tekad itulah yang merupakan organ untuk memotivasi. Tekad, yang merupakan bagian dari jiwa manusia, dikendalikan oleh Dosa dan mematuhi perintah Dosa, menghasut tubuh manusia untuk berbuat dosa. Karena itu, meskipun Dosa tinggal dalam tubuh kita, pekerjaannya yang merusak itu meluas dari sekeliling tubuh ke pusat. Dari tubuh sebagai dasar, Dosa menyebarkan racun dosa, menyebabkan kerusakan pada jiwa dan roh kita, sampai seluruh diri kita rusak. Karena itu, Yeremia 17:9 mengatakan, "Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu." Roma 1 dan Markus 7 juga menyatakan bahwa dalam diri manusia ada segala macam jenis dosa. Ayat-ayat ini membuktikan bahwa manusia sudah benar-benar dirusak oleh Dosa di batin dan penuh dengan dosa. Karena itu, hari ini dalam jiwa manusia, pikirannya jahat, emosinya tercemar, tekadnya memberontak, dan bahkan rohnya menjadi gelap. Inilah hasil pekerjaan Dosa dalam diri manusia.

Namun kita harus berterima kasih kepada Tuhan, karena dalam diri kita yang telah diselamatkan bukan hanya ada hukum yang baik dan hukum yang jahat, hukum manusia dan hukum Iblis, tetapi juga ada hukum Roh hayat Allah. Karena hukum ini berasal dari Roh hayat Allah maka hukum ini berasal dari hayat Allah yang ilahi dan bukan ciptaan. Dipandang dari aspek sifat yang ilahi dan yang kekal, maka dari semua yang disebut hayat dalam alam semesta, hanya hayat Allah itulah yang adalah "hayat". (Ini sudah dibahas secara terperinci dalam bab satu, "Apakah Hayat?") Karena itu, sifat hayat Allah adalah "hayat". Karena hukum Roh hayat berasal dari hayat Allah, maka sifatnya adalah "hayat", sama seperti sifat hayat Allah adalah "hayat". Hal ini tidak sama dengan kedua hukum yang telah disebutkan sebelumnya, yang sesuai dengan hayatnya, yaitu "baik" atau "jahat".

Menurut wahyu Alkitab, hayat dan kebaikan itu berbeda. Di sini ada tiga pokok utama. Pertama, hayat merupakan hakiki hayat Allah, sedangkan kebaikan merupakan hakiki hayat manusia. Kedua, hayat itu baik, tetapi kebajikan belum tentu hayat. Ketiga, pohon hayat dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat dalam Taman Eden memperlihatkan kepada kita bahwa hayat dan kebaikan itu benar-benar berbeda; hayat itu bukan baik maupun jahat. Hayat, baik, dan jahat, merupakan tiga hal yang berbeda dan terpisah.

Kita harus tahu bahwa bukan hanya hayat dan kebaikan itu tidak sama, tetapi kebaikan pun berbeda dari kebaikan. Ada kebaikan dari Allah, ada juga kebaikan dari manusia. Kebaikan Allah berasal dari hayat Allah dan mengandung sifat hayat Allah. Kebaikan manusia berasal dari hayat manusia dan hanya mengandung sifat baik manusia. Kebaikan yang disebutkan dalam Efesus 2:10 dan 2 Timotius 2:21 adalah kebaikan yang kita perhidupkan melalui hayat Allah, jadi merupakan kebaikan yang berasal dari hayat Allah dan merupakan kebaikan Allah. Kebaikan yang disebutkan dalam Matius 12:35, Roma 7:18, 19, 21 dan 9:11 adalah kebaikan yang kita perhidupkan sesuai dengan hayat kita sendiri; jadi merupakan kebaikan yang berasal dari hayat manusia dan merupakan kebaikan manusia. Kebaikan yang berasal dari hayat manusia tidak lain adalah kebaikan manusia belaka, tanpa hakiki "hayat" atau unsur Allah. Hanya kebaikan Allah yang berasal dari hayat Allah, yang tidak hanya baik, tetapi juga memiliki hakiki "hayat" dan unsur Allah itu sendiri. Karena itu, sewaktu kita mengatakan bahwa hayat dan kebaikan itu berbeda, yang kita maksudkan adalah hayat Allah dan kebaikan manusia itu berbeda. Kebaikan manusia berasal dari hayat manusia dan sedikit pun tidak mengandung sifat hayat Allah, dengan sendirinya berbeda dengan hayat Allah. Tetapi, karena kebaikan Allah berasal dari hayat Allah dan mengandung sifat hayat Allah, maka kita tidak dapat mengatakan bahwa kebaikan-Nya berbeda dengan hayat Allah.

Jadi kita melihat bahwa hukum Roh hayat yang mengandung sifat "hayat" Allah dapat menyebabkan kita memperhidupkan hayat Allah, yaitu memperhidupkan kebaikan Allah.

Selain itu, ketiga hukum yang berbeda dalam diri kita ini juga berbeda tingkat kekuatannya. Kita tahu bahwa hukum itu bermacam-macam kekuatannya sesuai dengan tingkat kekuatan dari asal bendanya. Hukum kebaikan berasal dari hayat manusia, dan hayat manusia itu yang terlemah, jadi kekuatan untuk berbuat kebaikan dari hukum kebaikan juga adalah yang paling lemah. Hukum dosa berasal dari hayat Iblis yang lebih kuat; jadi kekuatan hukum untuk berbuat dosa lebih kuat daripada kekuatan untuk melakukan hal yang baik dari hukum kebaikan. Hukum dosa tidak hanya membuat kita menjadi tidak mampu berbuat kebaikan, tetapi juga menyebabkan kita berbuat dosa dan kejahatan. Hukum Roh hayat berasal dari hayat yang paling kuat, yaitu hayat Allah; jadi kekuatan hukum ini juga yang paling kuat. Hukum ini tidak hanya mencegah kita menuruti hukum dosa hingga berbuat dosa, tetapi juga membuat kita mampu menaati hukum Roh itu dan dengan sendirinya memperhidupkan hayat Allah.

Para filsuf di sepanjang zaman telah menyarankan berbagai cara untuk mengembangkan moralitas atau memperbaiki kelakuan. Kenyataannya, apa yang mereka anjurkan merupakan kerja keras melalui daya nalar manusia, kemauan diri, dan usaha diri terhadap tubuh dan jiwa yang telah rusak, demi memperbaiki atau mengaktifkan kebaikan yang ada dalam diri manusia sejak semula. Semua itu tidak dapat melampaui kekuatan alami hukum dosa. Keselamatan manusia itu terbatas, sedangkan kekuatan hukum dosa itu terus ada; perjuangan manusia merupakan pemeritsan tenaga, sedangkan kekuatan hukum dosa itu terjadi dengan spontan. Dengan usahanya sendiri, manusia mungkin mampu mempertahankan diri untuk sementara waktu, tetapi begitu kekuatannya terkuras habis, maka kekuatan hukum itu akan muncul lagi. Karena itu, cara pembebasan Allah bukan dikerjakan melalui tubuh jasmani kita, dengan menanggulangi Dosa yang mengelilingi kita. PembebasanNya juga bukan dikerjakan pada jiwa yang terletak antara tbuh dan roh kita, yaitu dengan menguatkan tekad kita untuk berbuat baik. Tetapi pada inti diri kita, yaitu roh kita. Allah menambahkan unsur baru ke dalam diri kita, unsur yang membawakan kekuatan hayat yang luar biasa. Lalu Dia meluas dari inti diri kita ke segenap diri kita, meresap melalui semua bagian diri kita, dengan menggunakan satu hukum untuk menaklukkan hukum lain demi mengatasi kuasa dosa dalam hukum dosa. Selanjutnya, kita menjadi mampu memperhidupkan kebaikan yang dituntut oleh hukum Allah, yang sebelumnya tidak mampu kita perhidupkan melalui hukum kebaikan. Bahkan terlebih lagi, melalui hayat yang berasal dari hukum Roh hayat, kita mampu memperhidupkan hayat yang Allah kehendaki.

Karena itu, Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa ada empat hukum yang berkaitan dengan kita. Satu hukum berada di luar diri kita dan tiga hukum lainnya berada di dalam diri kita yang berada di luar diri kita adalah hukum Allah. Tiga hukum yang berada dalam diri kita: satu ada dalam jiwa kita, satu ada dalam tubuh kita, dan satu lagi ada dalam roh kita. Hukum yang ada dalam jiwa kita, yang berasal dari hayat manusia yang baik, yang diciptakan, itu baik dan memberi kita hasrat untuk berbuat baik. Hukum dalam tubuh kita, yang berasal dari hayat Iblis yang jatuh dan jahat, itu jahat dan menyebabkan kita berbuat dosa. Sedangkan hukum dalam roh kita, yang berasal dari hayat Allah yang ilahi dan bukan ciptaan, itu ilahi dan menyebabkan kita memperhidupkan hayat Allah yang ilahi.

Hukum Allah di luar diri kita mewakili Allah dalam memberikan tuntutan kekudusan, kebenaran, dan kebaikan bagi kita. Asal menyentuh tuntutan hukum Allah yang kudus dan baik, hukum kebaikan dalam jiwa kita ingin dan memutuskan untuk menggenapkan tuntutan itu. Tetapi sewaktu menyadari bahwa hukum kebaikan dalam jiwa kita mau memenuhi tuntutan hukum Allah (yang kudus dan baik) yang berada di luar kita, hukum dosa,dalam anggota-anggota tubuh kita pasti akan melawan, memusuhi, dan biasanya menang atas hukum kebaikan dalam jiwa kita. Jadi, kita bukan hanya tidak mampu menggenapkan hukum Allah, kita malah melanggar tuntutan hukum Allah yang kudus dan baik, yang berada di luar kita. Ini karena hukum dosa di dalam diri kita lebih kuat daripada hukum kebaikan dalam jiwa kita. Namun, hukum Roh hayat dalam roh kita itu jauh lebih kuat daripada hukum kebaikan dalam jiwa kita. Karena itu, kalau kita kembali ke dalam roh kita dan hidup menurut roh kita, maka hukum Roh hayat dalam roh kita akan membebaskan kita dari hukum dosa dalam tubuh kita, dan menyebabkan kita memperhidupkan hayat Allah yang ilahi. Jadi, kita tidak hanya akan mampu memenuhi tuntutan hukum Allah yang kudus dan baik, tetapi juga dapat memenuhi standar ilahi dari Allah itu sendiri.

Misalnya, hukum Allah yang ada di luar diri kita itu menuntut agar kita tidak iri hati. Terhadap tuntutan dari hukum Allah ini, hukum kebaikan dalam jiwa kita mau mematuhinya dan memutuskan untuk tidak iri lagi. Tetapi, pada saat itu juga, hukum dosa dalam tubuh kita segera bangkit menentang, menyebabkan kita iri di batin, sehinggit kita tidak mampu mematuhi hukum Allah yang menuntut agar kita tidak iri. Pada saat itu, bagaimanapun tekad dan keputusan kita, kita tidak dapat menghindar dari hati yang iri. Sebaliknya, semakin kita bertekad dan berjuang supaya tidak iri, rasa iri itu makin bertumbuh dan berkembang dalam diri kita. Berkaitan dengan tuntutan hukum Allah itu, kapan saja hukum kebaikan dalam jiwa kita mau berbuat baik, hukum dosa dalam tubuh kita akan segera menyebabkan kejahatan bekerja dalam diri kita dan berperang melawan pikiran baik kita. Lagi pula, hukum kebaikan dalam jiwa kita bukanlah lawan darl hukum dosa dalam tubuh kita, hampir dalam setiap pertentangan, hukum kebaikan kalah terhadap hukum dosa dalam tubuh kita. Tetapi puji Tuhan, hukum Roh hayat dalam roh kita lebih kuat daripada hukum dosa dalam tubuh kita, dan mampu melepaskan kita dan membebaskan kita dari hukum dosa. Kalau kita menghentikan perjuangan dan pergumulan kita melalui hukum kebaikan dalam jiwa kita, dan berjalan menurut hukum Roh hayat kita akan dibebaskan dari keinginan untuk iri yang digerakkan oleh hukum dosa dalam tubuh kita. Kita akan mampu memenuhi tuntutan luaran hukum Allah agar tidak iri dan memperhidupkan kekudusan Allah yang tidak ada bandingnya.

Karena itu kita dapat nampak dengan jelas bahwa hukum Allah yang berada di luar diri kita membebankan tuntutan-tuntutan pada diri kita, dan hukum kebaikan dalam jiwa kita dengan segera ingin mematuhinya. Tetapi hukum dosa dalam tubuh kita, yang ada di antara kedua hukum ini - hukum Allah yang ada di luar diri kita dan hukum kebaikan yang ada dalam jiwa kita - menghalangi dan merintangi kita sehingga hukum kebaikan dalam jiwa kita tidak dapat mematuhi tuntutan hukum Allah yang ada di luar dirl kita seperti yang diharapkannya. Sama seperti tubuh kita yang mengelilingi jiwa kita, begitu juga hukum dosa dalam tubuh kita mengelilingi hukum kebaikan dalam jiwa kita dan lebih kuat daripadanya. Karena itu, sangat sulit bagi hukum kebaikan dalam jiwa kita untuk menang atas hukum dosa dalam tubuh kita, untuk mematahkan kungkungannya dan mematuhi tuntutan hukum Allah yang berada di luar diri kita. Meski demikian, hukum Roh hayat dalam roh kita lebih kuat daripada semuanya; karena itu hukum Roh hayat dapat menang atas hukum dosa dalam tubuh kita dan membebaskan kita dari kepungan hukum itu, sehingga kita mampu mematuhi tuntutan hukum Allah terhadap kita dengan sepenuhnya, bahkan berlebih.

Kita mungkin dapat memakai ilustrasi lain di sini untuk menjelaskan hubungan keempat hukum ini dengan kita. Hukum Allah yang berada di luar diri kita itu seumpama laki-laki terhormat yang mengajukan lamaran, sedangkan hukum kebaikan yang ada dalam pikiran kita seumpama perempuan terhormat dan bijak yang menerima lamaran laki-laki itu. Tetapi, hukum dosa dalam anggota-anggota tubuh kita seumpama penjahat yang selalu membuntuti perempuan itu dan berusaha menciptakan masalah antara perempuan itu dengan laki-laki itu. Setiap kali dia melihat perempuan itu mengiyakan lamaran laki-laki itu, dia akan menculiknya dan memaksanya berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak atau kemauannya sendiri. Pada saat inilah, hukum Roh hayat dalam roh kita, yang dapat diumpamakan sebagai utusan surgawi, menyelamatkan perempuan itu dari penjahat tersebut, dan membuatnya mampu menerima lamaran laki-laki itu. Jadi keinginannya dapat terpenuhi. Akhirnya, perempuan itu menemukan bahwa utusan surgawi itu sesungguhnya adalah Dia yang diwakili oleh laki-laki itu. Dengan demikian, dengan membuat perempuan itu memenuhi lamaran lakiImki itu, utusan surgawi itu sesungguhnya membuat perempuan itu memenuhi hasratnya sendiri.

Dari ilustrasi ini kita melihat bahwa meskipun hukum Allah yang berada di luar diri kita memberikan berbagai tuntutan kepada kita, hukum itu tidak dapat membuat kita memenuhi tuntutan-tuntutannya. Hukum kebaikan dalam pikiran kita ingin memenuhi tuntutan hukum Allah namun tidak mempunyai kekuatan untuk menang atas hukum dosa dalam anggota-anggota tubuh kita. Selain itu, hukum dosa selalu menentang hukum kebaikan, dan begitu dilihatnya bahwa hukum kebaikan berusaha memenuhi tuntutan hukum Allah, maka hukum dosa itu akan menghalangi dan mencegahnya, sehingga tidak bisa terpenuhi keinginannya. Sedangkan hukum Roh hayat dalam roh kita adalah penyelamat dari Allah yang memiliki kuat kuasa hayat Allah yang mahabesar, membebaskan kita dari hukum dosa sehingga membuat kita mampu memenuhi semua tuntutan hukum Allah dan memperhidupkan hayat Allah yang ilahi. Kalau kita hidup menurut hukum Roh hayat ini, kita akan dibebaskan dari hukum dosa dalam anggota-anggota tubuh kita dan secara otomatis menjadi orang Kristen yang penuh kemenangan.

III. KESIMPULAN

Dengan ini kita dapat membuat beberapa kesimpulan.

1. Penyelamatan Allah Berbeda

dengan Perbaikan Diri Manusia

Pertama, dasarnya berbeda. Perbaikan diri manusia berdasar pada kebaikan manusia yang sudah ada sejak semula. Penyelamatan Allah berdasar pada hayat Allah dan Roh Allah, yaitu Roh hayat. Kedua, caranya berbeda. Perbaikan diri manusia adalah melalui pemerasan tenaga (usaha keras) manusia, menyebabkan tindakan keras terhadap tubuh, dan menaklukkan nafsu guna mendatangkan kebaikan dalam diri manusia. Penyelamatan Allah adalah melalui menaruh Roh-Nya dan hayat-Nya ke dalam roh kita sehingga menghidupkan roh kita, kemudian pekerjaan pembaruan dimulai dari roh kita, terlebih dulu memperbarui setiap bagian dari roh kita, kemudian bagian-bagian dalam jiwa kita, dan akhirnya mengubah tubuh jasmani kita. Ketiga, hasilnya berbeda. Hasil perbaikan diri manusia tidak lain adalah daya nalar manusia yang tertinggi, tidak dapat menyebabkan manusia memperhidupkan standar ilahi dari sifat Allah. Hasil penyelamatan Allah adalah membuat kita menjadi manusia Allah, memperhidupkan hayat Allah yang ilahi.

2. Penyelamatan Allah Bukan Membuat Manusia

Menjadi Manusia yang Baik, Melainkan Menjadi Manusia Hayat

Dalam alam semesta ada tiga golongan manusia : manusia Allah, manusia baik, dan manusia jahat. Penyelamatan Allah tidak membuat kita menjadi manusia jahat atau manusia baik, tetapi manusia hayat.

3. Kita yang Telah Diselamatkan oleh Allah

Harus Hidup dalam Allah

Allah itu hayat, dan penyelamatan Allah adalah agar kita menjadi manusia hayat. Hayat itu Allah, menjadi manusia hayat berarti menjadi manusia Allah. Untuk menjadi manusia seperti itu, kita harus hidup dalam Allah. Tetapi, hidup dalam Allah merupakan doktrin yang kedengarannya janggal. Kalau kita mau hidup dalam Allah, kita harus hidup dalam hukum Roh hayat. Ini berarti kita harus hidup dalam roh, karena hukum Roh hayat ada dalam roh. Hal ini juga berarti kita harus hidup dalam perasaan hayat, karena perasaan hayat merupakan perasaan hukum Roh hayat. Kita menaati perasaan hayat berarti kita memperhatikan roh dan hidup dalam roh. Kalau kita memperhatikan roh, kita hidup dalam hukum Roh hayat. Pada saat kita hidup dalam hukum Roh hayat, kita hidup dalam Allah. Dengan demikian, apa yang kita perhidupkan adalah Allah sendiri. Allah itu hayat, karena itu apa yang kita perhidupkan adalah hayat, dan kita menjadi manusia hayat.

4. Sasaran Penyelamatan Allah

Adalah Keesaan antara Allah dengan Manusia

Pada waktu kita menaati hukum Roh hayat dan hidup dalam Allah, Allah juga hidup dalam kita, Dia dan kita berbaur secara riil hingga keduanya benar-benar menjadi satu.

Di pihak positif, ada dua butir lagi. Pertama, kita harus menjamah perasaan yang di dalam, ini berarti menaati perasaan yang di dalam. Kedua, kita harus hidup dalam persekutuan. Persekutuan merupakan aliran hayat. Hidup dalam persekutuan berarti hidup dalam aliran hayat. Kedua butir ini membuat kita mampu mengalami hayat secara riil. Tujuan bab yang membicarakan tiga hayat dan empat hukum ini adalah untuk membawa ke sini. Kalau kita menjamah perasaan yang di dalam secara riil dan hidup dalam persekutuan, maka secara otomatis kita akan mampu 1) terlepas dari dosa, (2) melakukan pekerjaan baik yang tidak mampu kita lakukan, (3) memenuhi hukum Allah, dan (4) memperhidupkan hayat Allah. Akhirnya, kita dapat menjadi manusia Allah, mengekspresikan hayat Allah. Inilah sasaran keselamatan Allah, yang mencakup semua perkara yang berkenaan dengan hayat.