SOROTAN TERANG DAN HAYAT
Kini kita akan mehhat butir terakhir mengenai pengenalan hayat, yaitu sorotan terang dan hayat. Dari firman Allah dan pengalaman kita, kita nampak bahwa sorotan terang sangat berhubungan dengan hayat. Kita bisa mengatakan bahwa sorotan terang itu berkaitan dengan keadaan kita yang diterangi sehingga kita menerima hayat. Seberapa banyak kita mendapatkan sorotan terang sebanyak itu pula kita menerima hayat. Hanya sorotan terang yang dapat menghasilkan hayat, dan hanya sorotan terang yang dapat menambahkan hayat. Karena itu, kalau kita ingin mengenal hayat, kita perlu melihat hubungan antara sorotan terang dengan hayat.
I. HAYAT BERBEDA DENGAN PERILAKU
Kita telah berulang menekankan bahwa maksud Allah menyelamatkan kita bukanlah supaya kita menjadi orang jahat atau pun orang baik, tetapi supaya kita menjadi manusia-hayat atau manusia-Allah. Karena itu, sesudah kita diselamatkan, kita tidak boleh hanya mencapai standar morahtas dalam perilaku dan hidup sebagai manusia yang baik saja, tetapi harus mencapai standar hayat dalam kohidupan dan hidup berdasarkan hayat Allah. Karena itu, jalan yang kita tempuh sekarang bukanlah jalan perbaikan diri, tetapi jalan hayat. Yang kita tuntut bukanlah perbaikan perilaku, tetapi pertumbuhan hayat. Supaya kita bisa terus berjalan maju dalam jalan hayat, tidak berbelok ke kiri atau ke kanan, kita harus mampu melihat perbedaan antara hayat dengan perilaku.
Hayat sangat berbeda dengan perilaku. Sejak awal Alkitab menyebutkan dua pohon di Taman Eden. Yang satu, pohon hayat (kehidupan); dan yang lain, pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Pohon hayat mengacu kepada hayat Allah, sedangkan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat mengacu kepada perilaku yang baik dan yang jahat. Pohon hayat dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat bukanlah satu pohon, tetapi dua pohon. Ini menunjukkan kepada kita bahwa hayat dan perilaku mutlak merupakan dua macam hal yang berbeda.
Sebenarnya apakah perbedaan antara hayat dengan perilaku? Secara sederhana, hayat adalah yang bertumbuh secara alami, sedangkan perilaku adalah yang dihasilkan oleh pekerjaan manusia. Misalnya, kita bandingkan rumah dengan pohon. Rumah merupakan hasil perbuatan, hasil pekerjaan manusia; sedangkan pohon merupakan ekspresi hayat, bertumbuh secara alami. Pintu dan jendela rumah ada karena pekerjaan; bunga dan daun pohon ada karena pertumbuhan. Rumah yang dibangun memperlihatkan jenis perilaku; pohon yang bertumbuh membuktikan jenis hayat. Perbedaan antara keduanya sangatlah jelas. Bagi kita sebagai orang Kristen, perbedaan antara perilaku dengan hayat juga demikian. Semua yang dihasilkan oleh usaha manusiawi kita, adalah perilaku; hanya ketika hayat Allah bertumbuh dari dalam diri kita, bukanlah hayat. Ada saudara saudari yang sangat mengasihi, sabar, rendah hati, dan lembut. Sekilas, kelihatannya mereka benar-benar memiliki hayat, tetapi kebajikan ini boleh jadi hanya bentuk perilaku yang dihasilkan oleh diri mereka sendiri, bukanlah hayat yang bertumbuh dari dalam. Meskipun perilaku mereka sudah banyak yang diperbaiki, namun hayat mereka hanya bertumbuh sedikit.
Meskipun hayat dan perilaku benar-benar berbeda, namun dalam penampilan luarnya, dua hal ini sering kali sangat mirip, dan suht membedakan keduanya. Bagaimana cara membedakan hayat dengan perilaku?
Pertama-tama, kita dapat membedakan keduanya melalui rasa atau aromanya. Bentuk perilaku dapat mirip sekali dengan hayat, tetapi pasti tidak memiliki rasa atau aroma hayat. Misalnya, mungkin ada dua pohon yang penampilan luarnya sama; yang satu sungguh-sungguh pohon dengan hayat, sedangkan yang lain hanyalah pohon buatan manusia tanpa hayat. Pada pohon yang sejati, yang memiliki hayat, terdapat banyak buah; pada pohon buatan manusia yang tanpa hayat, juga terdapat buah-buah buatan manusia. Buah kedua pohon itu memiliki bentuk dan warna yang sama; sulit sekali menemukan perbedaan pada penampilan luarnya. Tetapi kalau kita menclumnya atau merasakan buahnya, segera kita mengetahui bedanya. Buah yang sesungguhnya ada rasanya, tetapi buah hiasan tidak ada rasanya; buah palsu itu hanya bisa diamati, tetapi tidak bisa dirasakan. Sebagai orang Kristen, yang kita tampilkan dalam kehidupan kita sehari-hari juga demikian. Ada saudara saudari, model dan cara hidup mereka seharihari kelihatannya sangat penuh hayat; namun kalau Anda menciumnya dengan cermat, ternyata tidak ada aroma hayat. Ada saudari yang sangat mirip dalam menirukan cara berdoa dan bersekutu Madame Guyon, tetapi aromanya tidaklah tepat. Ada saudara meniru cara Yesus dari Nazaret yang rendah hati, tetapi aromanya sama sekali berbeda, walaupun dari luarnya mereka sungguh-sungguh bertindak seperti itu. Yang seperti itu adalah pekerjaan manusia, bukan pertumbuhan hayat; yang seperti itu merupakan perbuatan berdasarkan perilaku, bukan hidup berdasarkan hayat. Jadi melalui rasa atau aromanya, kita dapat membedakan apakah kehidupan seorang Kristen berasal dari hayat atau hanyalah bentuk perilaku. Semua yang berasal dari hayat pasti memiliki rasa atau aroma hayat, memiliki rasa atau aroma Allah; kalau hanya perilaku, ia akan memiliki rasa dan aroma manusia.
Kedua, kita dapat membedakan hayat dari perilaku melalui pengujian terhadap perubahan hngkungan. Semua yang berasal dari hayat dapat bertahan terhadap perubahan lingkungan; meskipun mengalami pukulan, namun masih dapat bertahan. Tidak demikian halnya dengan perilaku. Pada saat terjadi pukulan, perilaku mungkin berubah sifatnya atau menjadi padam. Misalnya, kita. menanam sebutir benih hayat ke dalam tanah, benih itu akan bertumbuh dan menghasilkan banyak buah. Tetapi kalau kita menanam batu tanpa hayat ke dalam tanah, tidak akan ada yang muncul dari dalamnya. Sering kali sangat sulit untuk membedakan apakah yang orang Kristen tampilkan adalah hayat atau perilaku; dan bahkan sering kah sulit untuk membedakannya dari rasa atau aromanya. Kita hanya dapat membiarkan perubahan pada hngkungan mengujinya. Ketika Allah mengizinkan semua jenis bujukan, godaan, kesulitan, atau pun pukulan dari lingkungan menimpa orang Kristen, maka kalau yang dia punyai berasal dari hayat Allah, dia akan dapat bertahan sesudah melewati semua keadaan itu, dan bahkan lebih nyata. Karena hayat Allah mengandung kuasa kebangkitan yang besar, tidak takut dipukul, tidak takut kematian, dan tidak dapat ditekan oleh lingkungan apa pun yang merugikan. Sebaliknya, hayat ini bisa menembus semua, mengatasi semua, berkembang selamanya dan tidak dapat binasa. Namun, kalau yang dimilikinya hanya berasal dari perilaku manusia, begitu menghadapi lingkungan yang merugikannya, menghadapi pukulan, perusakan, atau pencobaan, maka semua yang dia miliki akan berubah sifatnya atau padam. Karena semua perilaku manusia itu. berasal dari usaha manusia, maka usaha itu tidak dapat bertahan menghadapi pukulan atau perusakan; juga tidak dapat mengatasi godaan atau ujian; begitu lingkungan berubah, ia suht dapat bertahan.
Dulu ada seorang saudari yang meniru Madame Guyon sedemikian rupa sehingga dalam menghadapi apa pun dia selalu menghadapinya dengan tenang. Dia tidak hanya belajar bertindak seperti Madame Guyon, bahkan rasa atau aromanya pun mirip dia. Tetapi suatu hari anaknya yang paling dia kasihi, "Ishak satu-satunya" tiba-tiba jatuh sakit. Semua yang dia pelajari hilang begitu saja, dan dia menjadi lebih khawatir daripada siapa pun. Ini membuktikan bahwa ketenangan yang dulu ditunjukkan merupakan pekerjaan manusia, karena itu tidak dapat bertahan terhadap ujian.
Jadi, kita tidak boleh tergesa-gesa menilai keadaan rohani saudara saudari, juga tidak boleh cepat memuji penampilan kehidupan mereka. Pengamatan dan perasaan kita sering kah tidak dapat diandalkan. Hanya apa yang telah dibuktikan oleh Allah melalui waktulah yang tepat. Apa yang hanya merupakan perilaku manusia akan gagal dengan berlalunya waktu; entah berubah sifatnya, atau akan hancur. Namun, yang berasal dari hayat Allah akan bertahan melewati waktu. Ujian melalui waktu ini berasal dari Allah, agar kita dapat melihat apa itu hayat dan apa itu perilaku.
Izinkan saya menyebutkan di sini sedikit masalah pribadi untuk menggambarkan perbedaan antara hayat dengan perilaku. Begitu saya percaya Tuhan, saya mendengar bahwa orang-orang yang berada di suatu seminari Alkitab memiliki kehidupan sehari-hari, perilaku, dan sikap yang saleh dan juga sangat takwa kepada Tuhan. Ketika saya mendengar hal itu, saya sangat mengagumi mereka. Kemudian, saya juga mendengar bahwa seseorang, sesudah diselamatkan, menjadi orang yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Ketika saya mendengar hal itu, saya makin tergerak. Sejak saat itu., saya memutuskan untuk memiliki kehidupan yang saleh sebagai mahasiswa di seminari. Saya juga ingin menjadi orang Kristen yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Maka, setiap hari saya berusaha berperilaku baik dan belajar. Usaha berbuat dan belajar semacam itu sama sekali bukan berasal dari hayat, tetapi disebabkan pengaruh luar dan kekaguman dalam hati saya. Saya berusaha sebaik-baiknya, dengan usaha sendiri ingin meniru orang lain; karena itu, semuanya hanya merupakan bentuk perilaku.
Satu lagi contoh lainnya. Pada waktu itu, kebiasaan merayakan tahun baru Imlek masih sangat kuat di kalangan orang China. Namun, oleh penyelamatan Tuhan, hal seperti itu tidak lagi memiliki dasar dalam diri saya. Pada pagi hari pertama tahun itu, sesudah bangun tidur, saya berlutut seperti biasanya untuk berdoa dan membaca Alkitab dan sangat mengalami penyertaan Tuhan. Ketika saya selesai berdoa dan berdiri, ibu menyuruh saya memakai pakaian baru yang telah disiapkan untuk saya. Dengan spontan saya mengambilnya, mengenakannya, lalu bersama keluarga menikmati hidangan pesta tahun baru. Ketika selesai makan dan kembah ke kamar, saya berlutut lagi dan berdoa, tetapi anehnya saya merasa kehilangan penyertaan Tuhan dalam diri saya. Saya merasa seolah-olah Allah telah meninggalkan diri saya. Lalu saya memiliki perasaan kuat bahwa saya tidak seharusnya memakai pakaian itu. Saya segera melepaskannya dan memakai pakaian yang sebelumnya. Lalu saya berdoa lagi. Kali ini saya menyentuh penyertaan Allah; saya merasa bahwa Allah telah kembali.
Saudara, saudari, inilah hayat! Ini bukan dorongan, resolusi, atau pun perilaku lahiriah; juga bukan ajaran, latihan, atau pun peniruan. Hayat ini adalah hayat Allah di dalam batin saya memberi saya perasaan tertentu dan memberi tahu saya bahwa saya tidak boleh memakai pakaian baru tersebut. Perasaan dalam batin ini juga merupakan suatu kekuatan hayat, yang menyelamatkan saya. Sejak saat itu, kebiasaan perayaan itu sepenuhnya hilang dari diri saya. Betapa berbedanya hal ini dengan contoh sebelumnya tentang kekaguman dan peniruan lahiriah. Inilah ekspresi hayat.
Pada tahun 1940, di Shanghai diadakan suatu sidang pelatihan bagi para sekerja, dan banyak saudara saudari yang datang. Pada waktu itu ada seorang saudara berkata kepada saya, "Kalau pertumbuhan hayat saudara saudari yang tinggal di sini tidak memadai, mereka harus berusaha lebih keras." Perkataan ini sangat berarti. Dalam suasana itu, dengan sendirinya orang akan berbuat sedikit lebih saleh dan sedikit lebih rohani. Tetapi ingatlah, semua itu bukanlah hayat.
Kapan saja kita menanggapi sesuatu dengan menampilkan cara hidup tertentu, karena pengaruh suatu lingkungan atau disebabkan kekaguman maupun rasa takut, kehidupan seperti itu hanyalah suatu tiruan, suatu bentuk perilaku; dan pada suatu hari, ketika lingkungan berubah, cara hidup itu pun akan berubah. Jadi, kehidupan kita tidak boleh merupakan hasil dari pengaruh lingkungan, tetapi merupakan perasaan hayat dalam diri kita. Ketika lingkungan luar cocok dengan kita, kita hidup demikian; ketika lingkungan luar tidak cocok dengan kita, kita tetap hidup demikian. Lingkungan mungkin berubah, tetapi kehidupan kita tidak boleh berubah. Kehidupan yang demikian barulah kehidupan yang berasal dari hayat.
Setelah kita mehhat perbedaan antara hayat dengan perilaku, seharusnyalah kita menguji kehidupan kita sendiri dan memeriksanya satu demi satu. Berapa banyak yang bukan hasil perbuatan? Berapa banyak yang bukan hasil peniruan? Berapa banyak yang diperhidupkan dari hayat dalam diri kita? Begitu kita menguji diri kita dengan cara ini, kita akan segera melihat bahwa banyak dari antaranya hanyalah perilaku, peniruan, kepatuhan, dan penyesuaian terhadap peraturan lahiriah, karena pengaruh luar; sangat sedikit yang diperhidupkan berdasarkan hayat dalam kita. Ini membuktikan bahwa kita belum sepenuhnya menolak perilaku hasil usaha manusia.
Lalu, bagaimana kita baru dapat terlepas dari perilaku hasil usaha manusia dan hidup berdasarkan hayat? Kita harus tahu bahwa perilaku berasal dari dorongan dan ajaran manusia, atau dari peniruan dan latihan seseorang; tetapi hayat berasal dari sorotan terang Allah. Perilaku tidak memerlukan sorotan terang; perilaku dapat dihasilkan melalui usaha manusia. Namun hayat hanya dapat dihasilkan oleh sorotan terang. Karena itu, kalau kita mau terlepas dari perilaku dan hidup berdasarkan hayat, kita harus mendapatkan sorotan terang. Tanpa sorotan terang, paling jauh kita hanya dapat menghasilkan perilaku; tetapi jika kita memiliki sorotan terang, kita dapat memperhidupkan hayat.
II. HAYAT BERASAL DARI TERANG
Seluruh Alkitab mengungkapkan bahwa hayat berasal dari sorotan terang. Ketika terang itu masuk, hayat ikut masuk. Di mana ada terang, di situ ada hayat. Banyaknya hayat sebanding dengan banyaknya terang. Kejadian I dan 2 mengatakan bahwa sebelum Allah memulai pekerjaan pemulihan-Nya, seluruh bumi kosong dan gelap, yang berarti penuh kematian, karena kegelapan adalah lambang kematian. Karena itu, langkah pertama pekerjaan Allah adalah memerintahkan supaya ada terang. Ketika terang datang, terang itu mengenyahkan kematian yang ada pada kegelapan dan mulai mendatangkan hayat. Jadi, hayat datang mengikuti terang, dan hayat bermula dari terang.
Hari pertama Allah memerintahkan terang; kemudian hayat tanaman dihasilkan pada hari ketiga. Untuk hayat tanaman, terang harl pertama cukup. Namun untuk hayat yang lebih tinggi, diperlukan terang yang lebih kuat. Karena itu pada harl keempat, Allah memerintahkan matahari, bulan, dan bintang-bintang bersinar. Dengan cara ini, hayat yang lebih tinggi didatangkan ke dalam dunia. Tidak hanya ada burung, ikan, binatang buas, dan semua jenis hayat binatang, tetapi juga ada hayat manusia, yang memiliki rupa dan gambar Allah. Akhirnya, pada hari ketujuh, Allah, yang dilambangkan oleh pohon hayat, muncul. Allah sebagai terang tertinggi membawa hayat tertinggi, yaitu hayat Allah. Proses pemunculan berbagai jenis hayat menunjukkan kepada kita bahwa hayat selalu mengikuti terang. Hayat bermula dari terang, dan hayat bertumbuh lebih tinggi seperti halnya terang yang menjadi lebih kuat.
Terang hari pertama tidak nyata; karena itu ia hanya mendatangkan hayat tanaman, hayat yang paling rendah, hayat yang tanpa kesadaran. Ini melambangkan sorotan terang yang kita terima ketika kita diselamatkan (2 Kor. 4:6). Meskipun terang ini membawa hayat Allah ke dalam diri kita, namun hanya memberi kita hayat pada tingkat awal, yaitu hayat yang belum berbobot dan belum memiliki bentuk.
Terang hari keempat lebih kuat daripada terang hari pertama. Terang ini lebih jelas, lebih pasti, dan lebih nyata. Karena itu terang ini mendatangkan hayat yang lebih tinggi, yaitu hayat binatang. Karena terang lebih berbobot dan kuat, hayat juga lebih berbobot dan tinggi. Terang terus maju dan seiring dengan itu hayat juga terus maju. Ini melambangkan pengalaman kita; seperti kita menerima terang yang lebih kuat, jelas, pasti, dan lebih nyata dalam diri kita, hayat dalam diri kita juga bertumbuh dan menjadi lebih jelas bentuknya. Demikian, Kristus "terbentuk" dalam diri kita.
Terang hari ketujuh merupakan terang tertinggi; karena itu terang ini mendatangkan hayat tertinggi, yaitu hayat Allah, yang dilambangkan oleh pohon hayat. Ketika terang mencapai puncak, hayat juga mencapai puncak. Ketika terang menjadi sempurna, hayat juga menjadi sempurna. Ketika terang yang kita terima dalam diri kita mencapai puncak, hayat rohani kita juga akan menjadi penuh dan dewasa serta akan mencapai keadaan sepenuhnya serupa dengan Allah.
Dalam Kejadian 1 dan 2, Roh Kudus terus menunjukkan kepada kita bahwa hayat mengikuti terang. Dia menunjukkan kepada kita bahwa terang terbagi menjadi tiga tahap, yaitu hari pertama, hari keempat, dan hari ketujuh. Karena itu, hayat juga terbagi ke dalam tiga tahap. Terang menandai permulaan masing-masing tahap. Terang tahap tertentu mendatangkan hayat tingkat tertentu. Seberapa kuat terang tahap itu menentukan seberapa tinggi hayat yang didatangkan.
Allah bertujuan agar manusia yang diciptakan dalam terang hari keempat itu, bisa menyentuh pohon hayat yang dinyatakan dalam terang hari ketujuh, supaya dengan demikian menerima hayat Allah yang bukan ciptaan yang dilambangkan pohon itu. Sayang, sebelum manusia menerima hayat ini, Iblis datang memperdaya manusia. Iblis membujuk manusia untuk menerima hayat Iblis, yang dilambangkan oleh pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, sehingga manusia menjadi rusak. Sejak manusia rusak, Allah lalu menjaga pohon hayat supaya manusia tidak dapat menyentuhnya (Kej. 3:24). Dengan cara demikian, hayat yang dibawa masuk melalui terang hari ketujuh dikesampingkan. Lalu, pada suatu hari Allah menjadi daging dan datang ke bumi sebagai terang dan hayat. Yohanes berbicara tentang Dia, katanya, "Dalam Dia ada hidup (hayat), dan hidup itu adalah terang manusia" (Yoh. 1:4). Allah juga berkata, "Akulah terang dunia; siapa saja yang mengikut Aku.... akan mempunyai terang hidup" (Yoh. 8:12). Jadi, kedatangan Tuhan Yesus ke dunia berarti bahwa terang hari ketujuh bersama hayat hari ketujuh terbentuk lagi di tengah-tengah manusia, sehingga semua orang yang percaya dan menerima Dia dapat menerima hayat ini dalam diri mereka. Dengan cara demikian, kehendak semula Ahah digenapi.
Dalam Wahyu pasal 21 dan 22, Yerusalem Baru muncul. Dalam kota itu ada terang kemuliaan Allah, sehingga tidak memerlukan terang matahari dan bulan. Selain itu juga tidak ada lagi malam hari. Bersamaan dengan itu, di tengah-tengah jalan kota itu terdapat sungai air hayat, dan di kedua tepian sungai itu ada pohon hayat. Semua orang yang diselamatkan boleh minum air sungai itu dengan bebas dan mengambil bagian dalam pohon hayat. Jadi, bagian dalam kota itu terisi dengan terang dan hayat. Di satu pihak, terang mengusir kegelapan; di pihak lain, hayat menelan kematian. Inilah keadaan ketika hayat dalam terang hari ketujuh diterima oleh manusia dan bersatu dengan manusia, suatu keadaan yang penuh kemuliaan, yang juga merupakan hasil akhir dari Allah sebagai hayat dalam terang yang diterima manusia.
Semua ayat ini menunjukkan bahwa ada satu garis dalam seluruh Alkitab yang terus berbicara tentang hayat dan terang secara bersamaan. Di mana ada terang, di situ ada hayat. Inilah satu prinsip yang besar dalam Alkitab. Mazmur 36:10 mengatakan, "Sebab pada-Mu ada sumber hayat, didalam terang-Mu kami melihat terang." Ayat ini juga jelas membicarakan hubungan antara hayat dengan terang. Hayat selalu mengikuti terang, dan hanya terang yang dapat menghasilkan hayat.
Karena itu, kalau kita mau mengetahui keadaan hayat seseorang, kita harus melihat bagaimana terang yang ada dalam. dirinya. Kita sering berpikir bahwa kalau seseorang agak giat, maka hayatnya agak bertumbuh; atau kalau dia agak lebih saleh, maka hayatnya agak bertambah baik. Konsep seperti ini jelas sama sekali tidak benar. Hayat tidak berada dalam sikap giat manusia, juga tidak dalam kesalehan manusia. Hanya ada satu wilayah dan hanya ada satu sumber hayat, yaitu terang. Hayat berada bersama terang; hayat juga berasal dari terang. Untuk menentukan apakah seseorang memiliki pertumbuhan dalam hayat, kita harus mengamati keadaan terang yang ia terima dalam dirinya.
Jadi, kalau kita mau membantu orang lain untuk bertumbuh dalam hayat, kita harus membantu mereka untuk diterangi. Kalau orang lain dapat menerima penerangan dari kita, orang itu akan dapat bertumbuh dalam hayat. Misalnya, dalam hal berkhotbah, kalau apa yang kita katakan hanyalah sejenis dorongan atau ajaran, perkataannya hanya dapat menggerakkan orang, mempengaruhi orang, dan menyebabkan orang itu mengalami perbaikan perilaku; perkataannya tidak dapat mendatangkan basil akhir hayat. Pekerjaan kita hanya dapat mendatangkan faedah sesaat, tidak dapat bertahan lama. Kalau kita sendiri telah diterangi dan hidup dalam sorotan terang, maka firman yang kita sampaikan dapat membawa terang, yang mengungkapkan kesulitan-kesulitan riil manusia. (Inilah yang dikatakan dalam Efesus 5:13 bahwa segala sesuatu yang sudah disingkapkan oleh terang, menjadi nampak). Sesudah orang mendengar perkataan demikian, mereka mungkin tidak ingat doktrin itu dengan jelas, namun jauh di dalam lubuk mereka tertinggal sesuatu yang hidup yang terus mengusik mereka, terus menyentuh mereka, dan mengakibatkan perubahan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Perubahan seperti itu bukanlah perbaikan lahiriah sebagai hasil usaha manusia, tetapi merupakan pernyataan hayat dari penerangan yang diterima dalam diri orang itu; karena itu hasilnya dapat bertahan lama dan tidak berubah.
Dalam pemberitaan Injil juga demikian. Ada orang memberitakan Injil dapat meyakinkan orang dengan perkataannya, tetapi tidak dapat menyebabkan orang dalam dirinya menyentuh sinar terang Injil. Karena itu, meskipun orang mengatakan lewat mulutnya bahwa dia percaya dan bahkan menetapkan dalam hatinya untuk percaya, namun dia tidak dapat menerima hayat dalam dirinya sehingga bisa dilahirkan kembali dan diselamatkan. Akan tetapi, ada orang memberitakan Injil, perkataannya penuh dengan terang. Sementara orang mendengarkan, terang Injil terus menyorot ke dalam dirinya. Mungkin ia terus menggelengkan kepala sambil berkata, "Aku tidak percaya", namun sesudah ia pulang ke rumahnya, sesuatu dalam dirinya terus menyuruhnya, "Percayalah, percayalah!" Akhirnya, ia tidak bisa menahan diri untuk percaya. Inilah akibat sorotan terang yang menyebabkan orang-orang menerima hayat dalam dirinya, sehingga dilahirkan kembali dan diselamatkan. Semua contoh ini mengungkapkan bahwa hayat berasal dari terang. Ada terang, hayat dapat dihasilkan; tanpa terang, hayat tidak dapat dihasilkan. Hayat benar-benar berasal dari terang.
III. TERANG BERADA DALAM FIRMAN ALLAH
Hayat berada dalam terang, lalu, terang berada di mana? Dalam Alkitab kita nampak bahwa terang berada dalam firman Allah. Ini juga merupakan satu prinsip yang besar dalam Alkitab. Mazmur 119:105 mengatakan, "FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." Ayat 130 mengatakan, "Bila tersingkap, firman-firman-Mu membert terang." Ayat-ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa terang ada dalam firman Allah. Karena itu kalau kita mau memperoleh terang, kita harus memperoleh firman Allah. Begitu kita memperoleh firman Allah, kita pun memperoleh terang. Kalau kita tidak mendapat terang, itu karena kita kekurangan firman Allah.
Firman Allah yang kita bicarakan di sini tidak berkaitan dengan kata-kata yang tertulis dalam Alkitab, tetapi dengan perkataan yang disampaikan Roh Kudus kepada kita dalam diri kita. Alkitab adalah firman Allah yang tertulis, ini tentu benar; tetapi firman ini, yang terdiri atas tulisan-tulisan belaka, tidak mempunyai kekuatan sorotan terang dan tidak dapat menjadi terang dalam diri kita. Hanya ketika Roh Kudus sekali lagi mewahyukan perkataan Alkitab kepada kita, tersingkap, bagi kita, dan hidup, terhadap kita, barulah perkataan itu memiliki kekuatan sorotan terang dan dapat menjadi terang kita. Kalau kita hanya membaca Alkitab, sekalipun kita membacanya dengan teliti dan bahkan menghafalnya, yang kita peroleh hanyalah doktrin berbagai tulisan; kita masih belum memperoleh firman Allah; karena itu kita tidak memperoleh terang. Hanya ketika Roh Kudus dalam roh kita memberi kita wahyu, yaitu dengan membukakan perkataan Alkitab bagi kita, barulah perkataan itu menjadi firman Allah yang hidup, yang dapat membuat kita memperoleh terang Allah.
Dalam Yoh. 6:63 Tuhan berkata, "Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup (hayat)." Di sini Tuhan berbicara tentang perkataan, roh, dan hayat - tiga hal secara bersama-sama. Karena hayat dan roh ada dalam diri kita, maka jelaslah bahwa perkataan yang Allah katakan di sini pastilah juga berkaitan dengan perkataan yang disampaikan dalam diri kita, bukan berkaitan dengan tulisan-tulisan Alkitab yang ada di luar diri kita. Semua perkataan di luar diri kita hanyalah pengetahuan, bukanlah terang. Hanya perkataan yang masuk ke dalam diri kitalah yang merupakan perkataan Allah yang hidup dan menyorotkan terang. Ketika kita membaca Alkitab, kalau kita terus memakai roh kita dalam persekutuan untuk membaca, membuka roh untuk menerima, maka perkataan Alkitab merupakan roh dan hayat bagi kita. Perkataan itu dapat masuk ke dalam roh kita dan menjadi perkataan yang hidup, membawakan terang hayat.
Karena terang ada dalam firman Allah, maka kita harus menghormati firman Allah. Setiap kali Roh Kudus berbicara kepada kita dari dalam diri kita, kita mutlak harus menaatinya, tidak boleh meremehkannya, tidak boleh mengabaikannya. Yesaya 66:2 mengatakan bahwa Allah akan memperhatikan orang yang gentar kepada firman-Nya. Ayat 5 mengatakan bahwa orang yang gentar kepada firman Allah harus mendengarkan firman-Nya. Kalau kita tidak menaati firman Allah, berarti kita menolak terang Allah. Begitu kita menolak terang, maka terang itu sirna. Begitu terang sirna, hayat pun tiada, penyertaan Roh Kudus dan Allah juga meninggalkan kita, semua kekayaan dan berkat rohani pun lenyaplah. Ini sungguh suatu kerugian yang besar! Jadi, begitu orang yang sungguh-sungguh mengenal Allah menyentuh firman Allah, ia segera takut dan gentar, tidak berani menolak, tidak berani tidak taat.
Kalau Allah berbicara kepada Anda sekali dan Anda tidak memperhatikan; Dia berbicara lagi kepada Anda dan Anda masih tidak taat; untuk kali ketiga Dia berbicara kepada Anda dan Anda membiarkan saja Dia berlalu; pastilah tidak ada sedikit pun terang dalam diri Anda, sedikit pun tidak ada akal budi (kiat) rohani, sedikit pun tidak ada jalan masuk bagi hayat. Sebaliknya, kalau Anda taat kapan saja Allah berbicara kepada Anda, maka begitu Anda satu kali menaati firman Allah, di dalam Anda terbukalah satu celah, sehingga terang dapat memancar ke dalamnya. Sekali lagi Anda menaati firman Allah, kembali di dalam Anda ada keterbukaan lain lagi, sehingga terang dapat memancar lebih banyak lagi. Kalau Anda terus taat, Anda akan menjadi seperti empat makhluk hidup, yang tubuhnya hampir penuh dengan mata (Why. 4:8), menjadi sangat transparan, penuh terang dan hayat. Jadi, kita nampak bahwa hayat ada dalam terang, dan terang ada dalam firman Allah.
IV. TERANG ADALAH PERASAAN BATINIAH
Kita sudah melihat bahwa terang ada dalam firman Allah dan bahwa firman ini mengacu kepada perkataan Roh Kudus yang disampaikan-Nya di dalam diri kita. Karena itu, terang yang kita terima bukanlah sejenis terang lahiriah yang objektif, melainkan sejenis terang batiniah yang subjektif.
Yohanes 1:4 memberi tahu kita bahwa hayat Allah ada dalam Tuhan Yesus, dan hayat ini adalah terang manusia. Ketika kita menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, hayat ini masuk ke dalam diri kita dan menjadi "terang hidup" kita (Yoh. 8:12). Karena itu, sesungguhnya, terang ini bukanlah terang objektif yang menerangi kita dari luar kita, melainkan terang subjektif yang menerangi kita dari dalam kita.
Efesus 1:17-18 mengatakan bahwa saat kita menerima roh wahyu, mata hati kita diterangi, yang juga berarti bahwa kita menerima sorotan terang dalam diri kita. Karena wahyu Roh Kudus merupakan cerita batiniah dan subjektif, maka terang yang dibawa oleh wahyu ini pastilah bukan terang objektif di luar kita, melainkan terang subjektif di dalam kita.
Karena terang ada di dalam kita, maka setiap kali terang itu menyoroti, di dalam kita akan timbul suatu perasaan. Jadi kita bisa mengatakan bahwa terang adalah perasaan batiniah dalam diri kita. Seperti yang pernah saya singgung di depan tentang pakaian baru yang saya pakai pada tahun baru. Ketika saya memakainya, di dalam saya terasa tidak damai. Perasaan itu adalah sorotan terang batiniah. Jadi, terang batiniah adalah perasaan batiniah, dan perasaan batiniah juga adalah terang batiniah. Lebih dari sepuluh tahun lalu, kami jarang memakai istilah "perasaan" ini. Sekarang kita sangat jelas bahwa kalau kita berbicara tentang sorotan terang, kita tidak bisa tidak membicarakan perasaan, karena semua perasaan yang kita miliki dalam diri kita adalah sorotan terang yang kita peroleh.
Jadi, hari ini apakah kita berada di dalam terang atau di dalam gelap, apakah kita banyak diterangi atau sedikit? Ini dapat dilihat dari bagaimana keadaan perasaan dalam diri kita. Orang yang tidak memiliki perasaan, ia berada dalam kegelapan dan tidak mempersilakan terang Allah bersinar dalam dirinya. Orang yang memiliki perasaan, ia berada dalam terang dan mempersilakan terang Allah bersinar dalam dirinya. Karena itu, orang yang penuh perasaan adalah orang yang penuh terang, adalah orang yang transparan.
Beberapa saudara saudari memiliki keadaan seperti ini di hadapan Tuhan. Ketika orang lain berkontak dengan mereka, terasa mereka transparan dan bening seperti kristal. Saya pernah diberi tahu bahwa ada seorang saudara yang membuat orang lain merasa bahwa dia transparan, setiap kali dia berbicara. Ini benar. Ada orang ketika ia berdiri berbicara, Anda merasa bahwa ia tidak transparan. Ada orang, terhadapnya Anda merasa bahwa ia memiliki sedikit terang dalam dirinya, tetapi tidak begitu transparan. Yang lainnya lagi, sewaktu ia berdiri berbicara, timbul kesan bahwa la sungguh-sungguh transparan. la bisa seperti ini karena di dalam dirinya penuh dengan perasaan. Yang pasti, orang yang makin banyak perasaan, ia akan makin transparan.
Bagaimana caranya agar kita dapat menjadi penuh perasaan dan menjadi transparan? Ini bergantung pada cara kita memperlakukan Roh Kudus ketika Dia menerangi kita dan memberi kita perasaan. Kalau kita tidak menaati perasaan yang diberikan oleh Roh Kudus, kita tidak akan menjadi transparan dalam diri kita, dan perasaan kita pastilah akan menjadi lamban dan tumpul. Kalau kita terus-menerus tidak taat, maka perasaan dalam diri kita akan menjadi lebih tumpul, lebih suram, seiring waktu berlalu, hingga sepenuhnya menjadi gelap, tidak memiliki perasaan sama sekali. Kalau kita mau terus menaati perasaan yang diberikan Roh Kudus, maka Roh Kudus akan memperoleh kedudukan yang makin kuat dalam diri kita dan kesempatan yang lebih banyak untuk bekerja; sorotan terang dalam diri kita makin terang benderang, perasaan akan makin bertambah kaya dan makin peka.
V. SOROTAN TERANG TERGANTUNG
PADA BELAS KASIHAN ALLAH
Bagaimana caranya kita dapat menerima sorotan terang? Tergantung pada apakah sorotan terang itu? Dari pihak Allah, sorotan terang sepenuhnya tergantung pada belas kasihan Allah. Dia akan menaruh belas kasihan kepada siapa Dia mau menaruh belas kasihan, dan Dia akan bermurah hati kepada siapa Dia mau bermurah hati (Rm. 9:15). Orang yang menerima wahyu adalah orang yang diberi wahyu oleh Allah. Orang yang mendapat sorotan terang adalah orang yang diterangi Allah. Seluruhnya tergantung pada Allah, bukan tergantung pada kita. Karena itu, tidak seorang pun dapat menuntut terang, dan tidak seorang pun dapat mengendalikan terang. Ketika terang datang, terang itu datang tanpa dicari. Ketika terang tidak datang, sekalipun Anda mencarinya, terang itu tetap tidak datang. Terang itu seperti terbitnya matahari. Matahari terbit, kalau memang waktunya terbit. Walaupun Anda tidak ingin dia terbit, dia tidak akan mendengarkan Anda. Matahari tidak akan terbit, kalau memang bukan waktunya terbit; walaupun Anda menginginkan dia terbit, dia tidak akan mendengarkan Anda. Demikian juga, kalau Allah menerangi kita, kita dapat diterangi. Tetapi kalau Allah tidak menerangi kita, tidak ada yang dapat kita lakukan. Pada suatu hari, dalam perjalanan ke Damsyik, Saulus yang menentang Tuhan Yesus, sama sekali tidak berniat untuk mencari terang; namun terang dari surga menimpanya, menyebabkan dia jatuh rebah dan dia pun menerima rahmat yang besar (Kis. 9:3-4). Allah berbelas kasihan kepadanya. Jadi, terang Allah tidak dikendalikan oleh tangan manusia, tetapi oleh tangan Allah. Hal ini mutlak tergantung pada belas kasihan Allah.
Karena itu, kalau kita mau mendapatkan sorotan terang, kita hanya dapat menunggu Allah, menengadah kepada-Nya, dan percaya kepada-Nya, tidak ada hal lain yang dapat kita lakukan. Bila kita melakukan hal yang lain, kita dapat menentukan sesuai kemauan kita, tetapi kita tidak dapat menentukan untuk mendapatkan sorotan terang. Kita tidak dapat berkata : Saudara anu bisa membaca Alkitab, aku juga bisa membaca Alkitab; dia dapat menerima terang dari Alkitab, aku juga dapat menerima terang dari Alkitab. Orang yang memiliki motivasi demikian, pasti sulit mendapatkan terang.
Mungkin ada orang berkata : Meskipun kita tidak dapat mengendalikan terang alamiah, tetapi kita dapat membuat terang kita sendiri dengan tenaga listrik atau menyalakan lampu minyak atau lilin. Namun, kalau kita mau diterangi dalam hal rohani, kita tidak dapat berlaku demikian. Kita hanya dapat menunggu Allah menerangi. Kalau Allah tidak menerangi kita, kita tidak dapat membuat terang sendiri atau pun mencari terang sendiri. Mengenai hal ini, Yesaya 50:10-11 mengatakan, "Siapa di antaramu yang takut akan TUHAN dan mendengarkan suara hamba-Nya? Jika ia hidup dalam kegelapan dan tidak ada cahaya bersinar baginya, baiklah ia percaya kepada nama Tuhan dan bersandar kepada Allahnya! Sesungguhnya, kamu semua yang menyalakan api dan yang memasang panah-panah api, masuklah ke dalam nyala apimu, dan ke tengah-tengah panah-panah api yang telah kamu pasang! Oleh tangan-Kulah hal itu akan terjadi atasmu; kamu akan berbaring di tempat siksaan." Dalam seluruh Alkitab, inilah ayat yang berbicara paling jelas tentang perkara diterangi. Di satu pihak, ayat ini menjelaskan kepada kita cara yang tepat; kalau kita takut akan Allah, menaati suara Allah, dan tiba-tiba jatuh ke dalam kegelapan dan tidak mendapatkan terang, kita tidak boleh berbuat lain daripada percaya dalam nama Tuhan, berdasarkan kepada Allah kita, dan menunggu terang Allah bersinar, karena hanya Allahlah terang, hanya Allahlah sumber terang, dan hanya dalam terang Allah kita dapat mehhat terang. Di pihak lain, ayat ini juga memperingatkan kita bahwa ketika kita tidak memiliki terang, kita tidak boleh mencari jalan keluar sendiri dengan menyalakan api atau membuat terang sendiri. Karena kalau kita tidak menunggu Allah, malah bersiapsiap hendak membuat terang sendiri; meskipun kita mungkin berjalan dalam terang api selama beberapa waktu, pada akhirnya kita akan tergeletak dalam penderitaan.
Pada saat-saat itu, kita juga tidak dapat meminjam terang orang lain, dengan cara mengambil terang yang didapat orang lain sebagai terang kita untuk kita gunakan. Sebagai contoh, seandainya seseorang dalam sidang persekutuan memberikan kesaksian mengenai cara dia menerima penanggulangan salib ketika menemui kesukaran, dan akhirnya ia diberkati Allah. Salah seorang saudara yang mendengar kesaksian itu, sangat tergerak, dan ketika pulang ke rumah, dia memutuskan sejak hari itu dia mau menerima penanggulangan salib. Meskipun ini bukan merupakan sikap mencari atau membuat terang sendiri, namun sikap itu berarti meminjam terang dari orang lain; sikap itu berarti mengambil terang orang lain untuk diri sendiri. Orang yang berbuat demikian, tidak lama sesudah itu, pasti akan mengabaikan terang itu. Jadi, meminjam terang tidak ada gunanya; tidak dapat menggantikan terang yang sebenarnya.
Orang-orang yang takut akan Allah, mendengar suara-Nya dan menghadapi kegelapan, harus ingat supaya tidak berbuat apa pun kecuali percaya kepada Allah, bersandar kepada Allah, sepenuh hati menengadah kepada-Nya, menunggu Dia dengan tenang, dan sekali lagi mencari belas kasihan-Nya. Pada saat Allah datang, pada saat Allah mencurahkan belas kasihan, terang wajah-Nya merupakan
terang kita, penampakan-Nya merupakan penglihatan kita, dan kehadiran-Nya merupakan penerimaan kita. Asal kita menyentuh Dia, segera kita nampak terang. Begitu Dia menyembunyikan wajah-Nya dari kita, kita segera berada dalam kegelapan. Seberapa banyak kita berjuang untuk mendapat terang, itu tidak ada gunanya; betapa pun kita berusaha keras, itu semua sia-sia. Bukan karena Anda kendur sedikit maka Anda tidak nampak terang, dan karena saya agak saleh maka saya mendapat terang; juga bukan karena Anda agak malas maka Anda tidak mehhat terang, dan karena saya agak rajin maka saya mehhat terang. Sorotan terang tidak tergantung pada kerja keras atau perjuangan kita, melainkan pada belas kasihan Allah. Betapa banyaknya orang pada zaman sekarang yang membuat
terang mereka sendiri dengan menyalakan lampu dan api. Ketika kegelapan datang, mereka ini tidak menunggu fajar tiba, tidak menunggu matahari terbit; mereka pergi menyalakan api, membuat terang sendiri. Allah mengatakan bahwa semua orang yang menyalakan api untuk menerangi diri sendiri akan berakhir dalam penderitaan. Ini adalah ketetapan Allah. Betapa seriusnya hal ini! Semoga kita menundukkan diri serta takut kepada Allah dan mengharapkan belas kasihan-Nya.
VI. CARA MENDAPATKAN TERANG
Karena sorotan terang mutlak terletak dalam kendali tangan Allah dan tergantung sepenuhnya pada belas kasihan-Nya, haruskah kita sama sekali bersikap pasif dan acuh tak acuh? Tidak, sama sekali tidak. Dari ajaran Alkitab dan pengalaman kita sendiri, kita melihat bahwa kita masih memikul tanggung jawab. Dua Korintus 4:6 mengatakan, "Sebab Allah yang telah berfirman, Dari dalam gelap akan terbit terang!, Ia juga yang membuat terangNya bercahaya di dalam hati kita, ..." Ayat ini memberi tahu kita bahwa Allah sudah berbelas kasihan kepada kita, telah menyoroti kita. Allah yang bercahaya dalam hati kita adalah terang kita. Asal kita telah diselamatkan, kita sudah memiliki Allah dalam diri kita, dan kita sudah memiliki terang. Karena itu, yang menjadi pertanyaan sekarang bukanlah bagaimana caranya kita meminta atau mencari terang, tetapi bagaimana caranya kita memperoleh sorotan terang atau bagaimana caranya kita bisa mempersilakan terang bercahaya. Seperti misalnya, matahari sudah terbit, maka kita tidak perlu mencari matahari lagi; kita hanya perlu menerima sinarnya. Hanya orang bodoh yang mencari matahari ketika matahari sudah terbit. Efesus 5:14 mengatakan, "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." Anda hanya perlu bangun; baru nda dapat menerima sinarnya. Jadi sorotan terang meruakan soal memperoleh, soal menerima; bukan soal menunt atau mencari. Tanggung jawab yang kita pikul adalah menyingkirkan selubung supaya menerima terang dan menjadi orang yang diterangi. Paling tidak, hal ini meliputi segi-segi berikut ini.
Pertama, kita harus menginginkan sorotan terang itu. Karena terang tergantung pada sikap kita menerima dan nienyambut, bukan pada sikap meminta atau mencari, maka, apakah kita mau menerima dan menyambut merupakan syarat pertama untuk diterangi. Matahari telah terbit; karena itu Anda tidak perlu mencari atau meminta; Anda hanya perlu disinari oleh terang dan menerima sinar terang. Kalau Anda tidak bersedia menerima sinarnya; kalau Anda tidak mau disinari, tetapi terus menyelubungi diri, maka sekalipun setiap hari ada sinar matahari, tetap tidak dapat menyinari Anda. Terang hayat juga demikian; terang hayat sudah bersinar dalam diri kita. Pada zaman ini, bukan kita yang menunggu terang, tetapi teranglah yang menunggu kita. Terang itu ada dalam diri kita, terus menunggu kita menerima sinarnya. Karena itu, kalau kita menginginkan sinarnya dan menerima sinarnya, kita akan diterangi. Kalau kita tidak menginginkannya dan tidak menerimanya, sulit bagi kita untuk diterangi.
Namun, sangat sedikit orang pada zaman ini yang benar-benar menginginkan terang. Ada orang tidak menginginkannya karena hati mereka acuh tak acuh, dan orang lain tidak menginginkannya karena mereka telah memutuskan untuk menolaknya. Ribuan macam hal telah menjadi selubung terang dalam diri kita. Kalau kita tidak mau menyingkirkan selubung itu, kita adalah orang-orang yang tidak menginginkan terang dan menolaknya. Kemudian, tentu saja tidak ada jalan bagi kita untuk diterangi. Misalnya, pada pagi hari, ketika kita membaca Alkitab dan berdoa, kalau kita sungguh-sungguh menginginkan terang, pasti terang itu datang. Ketika terang datang, kita akan nampak sesuatu dalam diri kita. Penampakan ini adalah perasaan batiniah kita. Begitu kita memiliki perasaan di dalam diri kita, itu merupakan bukti bahwa terang telah datang. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah kita menaati perasaan dari sorotan terang ini. Kalau kita menaati perasaan sorotan terang ini dan melakukan penanggulangan, berarti kita menyingkirkan selubung dari diri kita. Demikian, kita adalah orang-orang yang menginginkan terang dan menerima terang itu, dan kita akan terus menerima terang. Kalau kita tidak menanggulangi sesuai dengan perasaan terang itu, berarti kita tidak mau menyingkirkan selubung dari diri kita. Demikian, kita adalah orang-orang yang tidak menginginkan terang, yang menolak terang terang. Akibatnya, kita tidak dapat memperoleh terang.
Kedua, kita harus membuka diri kepada Tuhan. Tuhan adalah terang, kalau dengan segenap hati kita berpaling kepada-Nva, kita pasti mendapat terang; tetapi kalau kita membelakangi Dia dan cenderung kepada hal-hal lain, kita pasti tidak memiliki terang. Dua Korintus 3:16 mengatakan, "Tetapi apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari orang itu." Kalau hati tidak berpaling kepada Tuhan, maka ada selubung di sana; tetapi ketika hati berpaling kepada Tuhan, selubung itu disingkapkan. Barulah orang dapat melihat Tuhan berhadapan muka; barulah orang dapat melihat terang. Karena itu, kalau kita mau menerima sinarnya, kita harus membuka diri kepada Tuhan, dari dalam batin membebaskan diri, menempatkan diri di hadapan Tuhan tanpa ada sedikit pun yang tersisa atau tertahan. Demikian akan sangat mudah bagi kita untuk memperoleh terang.
Tetapi, masalahnya tidak mudah bagi kita untuk membuka diri kepada Tuhan. Kita masih sering menyembunyikan diri, masih menahan diri, bukan hanya tidak berani membuka diri kepada-Nya, bahkan tidak berani berdoa kepada-Nya. Hal ini seperti seorang anak yang kadang-kadang takut memandang wajah orang tuanya. Ketika orang tuanya memanggil dia, dia hanya menjawab tanpa mau datang; karena tanpa setahu orang tuanya dia telah berbuat hal yang tidak dapat dikatakannya kepada mereka. Sungguh, banyak sekali orang yang keadaannya di hadapan Tuhan seperti itu. Karena mereka memiliki banyak hal atau urusan yang tidak menyenangkan Tuhan, maka mereka bersembunyi dan menahan diri. Mereka takut kalau-kalau Tuhan menyentuh hal-hal atau urusan itu, - lalu apa yang akan mereka lakukan? Tuhan mungkin menghendaki mereka menanggulangi berbagai hal atau urusan itu, - lalu apa yang akan mereka lakukan? Tuhan mungkin menghendaki mereka menyerahkan kepada-Nya sesuatu yang sangat mereka hargai, - lalu apa yang akan mereka lakukan? Karena mereka begitu takut diterangi Tuhan, maka mereka tidak berani membuka diri kepada Tuhan. Karena itu mereka seperti selembar kertas yang tergulung rapat, tidak pernah mau membuka diri dan tidak mau mempersilakan Allah menuliskan perkataan yang ingin Dia tuliskan.
Meskipun orang-orang yang tidak mau membuka diri kepada Allah itu masih menggunakan pikiran mereka untuk mendengarkan khotbah dan membaca Alkitab, namun khotbah yang mereka dengar dan Alkitab yang mereka baca hanya menjadi petunjuk bagi mereka untuk menghakimi orang lain, menjadi alat untuk mengkritik orang lain, sedangkan diri mereka sendiri tidak menerima terang sedikit pun. Keadaan ini seperti orang yang berada di kamar pada malam hari. Kalau kamar itu terang, dia tidak dapat melihat dengan jelas hal-hal yang ada di luar; kalau kamar itu gelap, dia dapat melihat hal-hal yang ada di luar dengan sangat jelas. Demikian juga, orang-orang yang menutup diri kepada Tuhan adalah para ahli dalam menghakimi dan mengkritik orang lain. Mereka sangat jelas tentang keadaan orang lain, tetapi mereka tidak tahu sedikit pun tentang keadaan diri mereka sendiri. Ini membuktikan bahwa mereka sama sekali berada dalam kegelapan!
Orang-orang seperti ini, yang tidak mau membuka diri kepada Tuhan juga dapat berkhotbah dan bekerja bagi Tuhan. Meskipun mereka tidak mau menerima terang, mereka dapat membujuk orang lain untuk mencari terang. Meskipun sering kali mereka mengharapkan Tuhan akan bermurah hati kepada mereka dan memberi mereka hidup yang berkelimpahan, melengkapi mereka dan memberikan berkat kepada mereka sehingga mereka dapat melayani dan bekerja, namun mereka takut terhadap sinar Tuhan dan bahkan menolaknya. Jadi perkataan yang mereka sampaikan dan pekerjaan yang mereka lakukan, hanyalah peringatan mati yang tidak dapat menghasilkan terang yang hidup bagi manusia.
Jadi bila orang-orang tidak mau membuka diri kepada Tuhan, maka mereka menjadi sia-sia dan kosong, gelap serta tanpa terang dalam diri mereka. Sama seperti keadaan dalam gudang bawah tanah: tidak peduli betapapun kuatnya terang dari luar, terang itu tidak dapat menyinari bagian dalam gudang. Tetapi bagi orang yang membuka diri kepada Tuhan, keadaannya mutlak berbeda. Orang ini benar-benar membebaskan diri, dari dalam sampai ke luar membeberkan segalanya di hadapan Tuhan, tanpa sisa sedikit pun, mempersilakan terang Allah menerangi. Orang seperti ini pasti dan sering memperoleh sorotan terang. Entah dengan cara mendengar atau membaca Alkitab, pada saat dia mendapat terang, dengan rendah hati dia menerimanya; di satu pihak menjadi sedih, namun di pihak lain menyembah Tuhan. Dia sedih karena kehancuran dan kegagalan dirinya; dia menyembah Tuhan karena kemurahan dan terang-Nya. Dalam terang, dia tidak melihat kesalahan orang lain, hanya melihat kesalahan diri sendiri. Karena itu dia tidak menyalahkan orang lain; dia hanya merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling menyedihkan, seperti cacing atau ulat, yang tidak dapat mengangkat kepalanya di hadapan Tuhan yang suci. Dia juga menengadah kepada Allah untuk mendapat belas kasihan-Nya, mohon Allah menyelamatkannya, dia mau menerima terang lebih dalam lagi. Dengan cara ini, terang Allah terus menyinari dalam dirinya, hayat Allah terus bertumbuh dalam dirinya, dan dia menjadi orang yang transparan, penuh perasaan.
Ketiga, kita harus menghentikan diri kita. Apa artinya menghentikan diri? Itu berarti menghentikan pandangan, cara, pemikiran, pendapat, perkataan kita, dan lainnya. Kita semua tahu bahwa "berhenti" bukanlah soal mudah. Hanya ada sedikit orang yang sungguh-sungguh dapat berhenti. Keadaan tidak mampu menghentikan diri juga merupakan selubung, selubung yang serius, yang menyebabkan kita tidak bisa diterangi.
Misalnya, ada saudara ketika membaca Alkitab selalu membacanya dengan pemikiran dan pendapatnya sendiri dan meletakkan pikirannya ke dalam maksud Alkitab. Alkitab jelas mengatakan, "Simon Petrus", tetapi ketika ia membaca menjadi "Petrus Simon." Alkitab jelas mengatakan, "Paulus, rasul Yesus Kristus," ketika la membaca menjadi "Paulus, rasul Kristus Yesus." Bila ia tidak membaca firman Allah, pendapatnya tidak mudah terlihat; tetapi bila ia membaca firman Allah, pendapatnya muncul. Karena itu, begitu ia membaca Alkitab, tidak ada ayat yang tidak ia beri pendapat dan pemikiran; namun ia sendiri tidak tahu bahwa pendapat dan pemikirannya berupa kayu, rumput kering, dan jerami yang tidak bernilai. Ada saudara yang dalam berkhotbah juga demikian; perkataannya beterbangan di udara, tanpa pokok atau inti masalah yang jelas. Ada saudara atau saudari, juga demikian ketika mendengarkan firman; mudah melupakan begitu saja semua hal yang penting dan mendasar, bahkan meski sudah diulang-ulang. Namun mereka ingat jelas cerita-cerita pengantarnya, kata-kata yang tidak penting, yang biasanya dilupakan orang sesudah diucapkan. Keadaan ini juga karena mereka memiliki banyak angan-angan dan pemikiran yang tidak bisa mereka hentikan. Saudara saudari seperti ini, yang selalu nampak sangat sibuk dan senang dengan khayalan yang disukainya, tidak dapat menghentikan satu pun bagian dari diri mereka. Akibatnya, mereka tidak dapat memperoleh sedikit terang pun.
Dalam Perjanjian Baru, terdapat contoh seperti ini. Lukas 10 dan Yohanes 11 sama-sama membicarakan satu orang yang paling sibuk dan tidak bisa berhenti, yaitu Marta. Lukas 10 mencatat betapa sibuknya dia secara lahiriah, sementara Yohanes 11 mencatat betapa aktifnya dia secara batiniah. Kita dapat mengatakan bahwa seluruh pribadinya berada dalam kesibukan. Dia tidak hanya memiliki banyak pendapat dan pemikiran, tetapi juga memiliki banyak perkataan; dia tidak dapat berhenti sebentar pun. Karena itu, tidak ada perkataan yang Tuhan katakan kepadanya dapat masuk ke dalam dirinya. Ketika dia bertemu Tuhan, sebelum Tuhan membuka mulut, dia sudah membuka mulut dan menyalahkan Tuhan, mengatakan, "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. " Tuhan menjawab dia, "Saudaramu akan bangkit." Ia segera memberikan pendapat dan berkata, "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." Dengan "ajaib" sekali dia menafsirkan perkataan Tuhan bahwa waktu kebangkitan masih baru akan terlaksana ribuan tahun mendatang. Lalu Tuhan berkata lagi kepadanya, "Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal im?" Marta berkata, "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, ..." Jawabannya sebenarnya bukan merupakan jawaban atas pertanyaan-Nya. Marta sama sekali tidak mendengarkan apa yang Tuhan katakan; dia banyak pendapat juga banyak bicara. Ketika dia selesai berbicara, dia segera pergi, dan diam-diam memanggil saudaranya, Maria. Katanya, "Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau. " Itu semua karangannya, semuanya adalah prakarsanya untuk Tuhan. Semua orang yang banyak bicara dan banyak pendapat pandai memberikan saran dan mengungkapkan pendapat. Orang semacam ini tidak dapat berhenti sebentar pun; karena itu, sama sekali terselubung dari terang, dan benar-benar tidak ada jalan baginya untuk diterangi.
Kesulitan tidak mampu berhenti ini terletak dalam diri manusia. Banyak membaca Alkitab tanpa terang, mendengar khotbah tanpa menangkap hal-hal yang utama, bukan karena mereka berdosa dan duniawi, tetapi karena mereka penuh pendapat, pemikiran, prakarsa, dan perkataan. Singkatnya, dosa dan dunia sama seperti sehelai pakaian gombal, yang tidak terlalu sulit untuk ditanggalkan. Tetapi pendapat, pemikiran, dan prakarsa dalam diri kita sama sekali tidak mudah dibuang. Karena itu sampai hari ini hal-hal itu menjadi selubung yang paling menyulitkan dalam diri kita; hal-hal itu membuat kita tidak bisa memperoleh terang Tuhan.
Jadi, kalau kita mau diterangi, kita harus berdiam diri, menghentikan diri. Bukan hanya kegiatan lahiriah kita harus berhenti; tetapi juga pendapat, pemikiran, prakarsa, pandangan, dan perkataan dalam diri kita harus dihentikan. Orang yang benar-benar berhenti, datang kehadapan Tuhan, baru bisa dengan tulus murni menerima perkataan Tuhan. Apa pun yang Tuhan katakan, dia mendengar dan mengerti. Ketika membaca Alkitab, dia tidak membacakan pendapat dan penjelasannya sendiri ke dalam Alkitab, melainkan membacakan maksud Alkitab ke dalam dirinya sendiri. Pada mulanya, dia kelihatannya tidak mengerti apa yang dia baca. Tetapi ketika terang itu datang, hal-hal besar bersinar dalam dirinya, membuat dia mendapatkan wahyu. Demikian juga ketika dia mendengar khotbah. Seluruh pribadinya dari dalam hingga luar dirinya menunggu dengan sabar di hadapan Tuhan, bersedia mendengar perkataan-Nya. Karena itu ketika khotbah disampaikan, dia dapat mengerti hal-hal yang penting dari berita yang disampaikan dan menerima perkataan Tuhan ke dalam dirinya. Orang seperti ini, karena dapat menghentikan diri, mampu terus-menerus menerima firman Allah yang hidup, yakni terang Allah, karena terang Allah berada dalam firman Allah. Jadi, syarat ketiga supaya dapat diterangi adalah menghentikan diri sendiri.
Keempat, kita tidak boleh berbantahan dengan terang. Inilah syarat mendasar yang lain supaya dapat diterangi. Ketika kita mendapatkan terang, perasaan dalam diri kita, kita harus segera menerima, menaati, dan menanggulangi, tidak seharusnya berbantahan. Kalau kita berbantahan dengan terang, terang akan hilang.
Ketika Roh Kudus melakukan pekerjaan penerangan dalam diri manusia, Dia melakukannya dengan sangat halus dan lembut. Begitu membantu perbantahan manusia, Dia segera mundur. Membuat Roh Kudus mengundurkan diri dengan cara melawan-Nya sangatlah mudah, tetapi untuk meminta-Nya kembali lagi sangatlah sulit. Bahkan meskipun kita mengaku dosa, menyesal, hingga mendapatkan pengampunan Tuhan, Roh Kudus mungkin masih tidak segera kembali. Kita membaca keadaan seperti ini dalam Kidung Agung. Ketika Tuhan mengetuk pintu kekasih-Nya, kekasih-Nya tidak membuka pintu. Kemudian, ketika kekasihnya menyadari apa yang telah dilakukannya, lalu pergi membuka pintu, Tuhan tidak ditemukannya. Ketika Tuhan menyembunyikan diri dengan cara begini, itu merupakan hukuman-Nya bagi manusia.
Bukan hanya Roh Kudus yang bekerja dengan cara demikian; orang-orang yang melayani Roh Kudus juga bekerja dengan cara demikian. Pelayan yang mengenal Allah dan dipakai oleh Allah selalu seorang membantu orang lain. Namun kalau Anda mengkritiknya atau sengaja menolak dia, maka dia tidak akan membantah Anda, tidak berdebat dengan Anda, juga tidak beradu pendapat benar atau salah. Dia hanya memiliki satu jalan : hanya mengundurkan diri, karena tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan kepada Anda dan tidak mampu lagi membantu Anda. Jadi, orang yang suka berdebat adalah orang yang bodoh, dan kehilangan yang dialaminya besar sekali! Kita harus sangat berhati-hati terhadap orang yang melayani Roh Kudus! Anda mungkin bebas mengkritik orang-orang yang berjalan di jaIan, tetapi Anda tidak boleh seenaknya mengkritik atau dengan sengaja berdebat dengan orang yang melayani Roh Kudus. Ini tidak berarti bahwa kritik Anda tidak benar atau bahwa debat Anda masuk akal; mungkin semua kritik Anda benar, dan semua debat Anda masuk akal, tetapi satu hal yang pasti : pada waktu Anda mengkritiknya dan berdebat dengan dia, ministrinya terhadap Anda akan terhenti. Dia mungkin mampu membantu ribuan orang, tetapi dia tidak dapat membantu Anda. Bukannya dia tidak mau membantu Anda, tetapi dia tidak dapat membantu Anda. Meski dia ingin membantu Anda sekalipun, Anda tidak akan memperoleh apa pun. Betapa seriusnya hal ini! Sungguh kita harus hati-hati!
Jadi, terhadap Roh Kudus yang berbicara dalam diri kita, maupun pelayan firman yang berbicara, kita tidak dapat memberikan kritik atau pun mengajak berbantahan. Penerangan Roh Kudus dalam diri menusia tidak dapat dikritik, karena begitu Anda bertengkar dengan-Nya, Anda akan berada dalam kegelapan sedikit-dikitnya selama beberapa hari. Periode kegelapan ini merupakan hukuman dan peringatan bagi Anda. Anda mengira tidak apa-apa satu kali melawan Allah, karena Anda masih dapat minta pengampunan-Nya. Ya, Dia dapat mengampuni Anda, tetapi Allah memiliki administrasi-Nya. Anda tidak dapat menghindari hukuman yang Dia tentukan untuk Anda. Kalau Anda sering bersalah kepada-Nya, maka Anda pasti akan berakhir lebih tragis lagi. Umat Israel di padang gurun terus menggerutu kepada Allah dan melawan Allah. Ketika mereka sampai di Kadesy-Barnea, tangan administrasi Allah menimpa mereka; mereka hanya dapat kembali ke padang gurun dan mengembara. Meski mereka menangis dan menyesal, namun tidak ada jalan untuk memperbaiki situasi. Jadi, baik sorotan terang yang kita terima dari Roh Kudus maupun sorotan terang dari pelayan firman Allah, harus kita taati dan tidak boleh diperbantahkan. Ini adalah satu prinsip yang hebat dalam penuntutan hal-hal rohani.
Ketika Roh Kudus menerangi kita, kalau kita benar-benar lemah dan tidak dapat taat, paling banyak kita dapat mengatakan, "0 Tuhan, aku seharusnya taat dalam hal ini, tetapi aku lemah; tolonglah, kasihanilah aku." Sikap hati seperti ini masih mendapat belas kasihan-Nya. Namun, bila kita diterangi, sebaiknya segera taat dan tidak membantah sedikit pun. Dengan demikian, kita dapat mempersilakan Allah menerangi kita terus.
Kelima, kita harus terus hidup dalam terang. Bila dalam hal tertentu kita menerima sorotan terang hingga mengenal kehendak Allah, ini bukanlah soal sekali taat lalu beres. Kita harus terus belajar menempatkan diri di bawah sorotan terang yang kita terima. Ini berarti bila Anda menerima sorotan terang dalam hal tertentu, Anda harus taat bukan hanya pada waktu itu saja, tetapi harus terus taat sesuai dengan prinsip itu.
Kelima butir di atas adalah jalan untuk memperoleh sorotan terang. Kalau di hadapan Tuhan kita memperhatikan dengan cermat kelima butir ini, kita akan sering memperoleh sorotan terang dan hidup, dalam terang. Pada tahap ini, bimbingan agar yang kita perlukan dalam diri kita, Allah akan memberikannya kepada kita; terang agar yang kita perlukan, Allah akan memberikan terang itu kepada kita; pertumbuhan hayat yang bagaimana yang kita perlukan, Allah akan membuat hayat kita memiliki pertumbuhan itu, melalui terang. Kiranya Tuhan membelaskasihani kita!
PENGALAMAN HAYAT
(1)
BAB
1 2 3 4 5 6 7 8
PENDAHULUAN
Meskipun kita tahu bahwa maksud dan hasrat hati Allah adalah mendapatkan manusia korporat yang mempunyai gambar-Nya, mengekspresikan kemuliaan-Nya, dan mempunyai otoritas-Nya untuk menanggulangi musuh-Nya sehingga Dia sendiri dapat memperoleh perhentian kekal, namun hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa maksud dan hasrat hati Allah yang luar biasa ini hanya dapat dicapai melalui hayat-Nya sendiri- Bahkan lebih sedikit lagi yang telah menjamah perihal pengenalan dan pengalaman atas hayat yang dapat merampungkan tujuan Allah ini. Karena itu, orang-orang kudus hari ini agak lemah dan kurang matang. Meskipun banyak yang mencari Tuhan namun hanya sedikit yang telah menemukan jalan hayat. Banyak orang bahkan salah paham dengan menganggap gairah, pengetahuan, kuasa, dan karunia-karunia sebagai hayat.
Kita bersyukur kepada Tuhan karena di hari-hari akhir yang mendesak ini, Allah telah menyatakan jalur hayat-Nya yang menakjubkan dan tersembunyi melalui saudara kita, sehingga memungkinkan setiap orang beriman untuk melihat dan menjamah perihal ini. Berita-berita ini dapat dianggap sebagai kristalisasi dari sari pengetahuan dan pengalaman atas hayat dari orang-orang kudus selama dua ribu tahun yang lalu, ditambah pengalaman pribadi saudara kita selama tiga puluh tahun; berita-berita ini benar-benar lengkap dan luar biasa. Isi berita ini dibagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama (Pengenalan Hayat) membahas pengenalan atas hayat yang dibagi menjadi empat belas butir utama yang menunjukkan ciri-ciri hayat dan berbagai prinsip pekerjaannya. Bagian kedua (Pengalaman Hayat) membahas pengalaman atas hayat dan dibagi menjadi sembilan belas butir yang menjelaskan pengalaman-pengalaman atas hayat rohani dalam berbagai tahap juga menjelaskan cara untuk menuntut hayat. Jika kita menuntut dan melaksanakan pelajaran-pelajaran ini satu per satu, maka kita akan dapat bangkit di jalan yang lurus dan akan cepat mencapai tahap kematangan hayat.
Karena itu, berita-berita ini telah membuat pengetahuan hayat yang hampir tidak terlihat dan tidak terjamah menjadi konkrit dan riil. Semua orang kudus yang mencintai Tuhan dan menuntut pertumbuhan hayat sangat perlu membaca berita-berita ini.
Dr. Y.L. Diang
November 1956
TAHAP PERTAMA – DI DALAM KRISTUS
Tahap pertama dari pengalaman hayat adalah berada dalam Kristus. Hal ini dikarenakan fakta bahwa hubungan pertama kita dengan Kristus adalah kita berada di dalam Kristus. Sebelum kita diselamatkan, kita berada di luar Kristus; kita berada di dalam Adam. Tetapi ketika kita dilahirkan kembali, Allah memindahkan kita ke dalam Kristus (2 Kor. 5:17). Dari sudut pandang kita, pengalaman dalam tahap ini dapat dikatakan sebagai tahap keselamat an atau tahap kelahiran kembali, tetapi dari sudut pandang
hubungan kita dengan Kristus, adalah berada di dalam Kristus.