MAKANAN SURGAWI — MANNA (3)
Pembacaan Alkitab:
Kel. 16:13b-15, 31-36; Bil. 11:6b-9
Dalam berita sebelumnya telah saya tunjukkan bahwa manna turun dari surga (16:4), manna datang bersama embun (16:13a-14; Bil. 11:9), dan manna datang pada pagi hari (16:13a, 21). Dalam berita ini, kita akan membahas ciri-ciri manna yang lain.
4. Kecil
Berlawanan dengan konsepsi manusia, manna adalah sesuatu yang kecil (16:14b). Orang-orang biasanya selalu menghargai sesuatu yang besar, dan kita sering memuji Tuhan karena kebesaran-Nya. Namun, di manakah Anda bisa mendapatkan kidung pujian atas kekecilan Kristus? Saya telah memeriksa banyak buku kidung pujian, namun belum menemukan satu pun nyanyian yang memuji kekecilan Kristus.
Bangunan-bangunan material boleh jadi sangat besar, tetapi makanan harus cukup kecil supaya sesuai dengan mulut kita. Makanan yang kita terima harus cukup kecil untuk dimakan. Jika kita hendak makan sepotong daging yang besar, pertama-tama kita harus memotongnya menjadi potongan-potongan yang kecil.
Telah berabad-abad, sedikit sekali dari antara orang yang percaya kepada Tuhan yang mempunyai penghargaan cukup terhadap nilai kekecilan Tuhan. Banyak orang yang beranggapan bahwa empat kitab Injil dalam Alkitab merupakan catatan kehidupan seseorang yang besar. Sebenarnya, kitab-kitab Injil tersebut tidak menekankan kebesaran Kristus. Ya, memang Tuhan Yesus adalah keturunan Daud, keturunan keluarga raja. Tetapi Ia dilahirkan dalam sebuah palungan, dan Ia dibesarkan dalam keluarga seorang tukang kayu, di sebuah kota yang kecil yang dipandang rendah. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak memperlihatkan kebesaran-Nya. Sebaliknya, Ia lebih suka menjadi orang yang kecil dalam pandangan manusia.
Menurut Yohanes 6, orang banyak hendak menobatkan Tuhan Yesus sebagai raja, namun Ia menghindarkan diri dari pemuliaan yang sedemikian itu. Pada hari berikutnya, Ia kembali dan memberikan diri-Nya sendiri sebagai roti hidup (Yoh. 6:35). Ia tidak ingin menjadi seorang raja; Ia ingin menjadi makanan yang dapat diterima oleh umat-Nya sebagai hayat dan suplai hayat mereka. Tuhan tidak ingin menjadi besar, Tuhan ingin menjadi kecil untuk menjadi makanan bagi kita.
Sejak kenaikan Kristus ke surga sampai sekarang, guru-guru Kristen cenderung menekankan kebesaran dan keagungan Kristus. Tetapi Kristus ingin menjadi kecil, sehingga kita boleh memakan-Nya. Kebangunan baru yang besar dalam sejarah gereja, belum terarah kepada kekecilan Kristus. Inilah alasan-Nya, mengapa kebangunan baru sedemikian ini biasanya tidak bertahan lama. Lagi pula, kemerosotan dalam kekristenan masuknya justru melalui pintu kemegahan dan kebesaran. Jika kita mau menutup pintu ini, maka tidak akan ada unsur kemerosotan yang dapat masuk ke dalam gereja.
Dalam kekecilan-Nya, Tuhan sama sekali berbeda dengan konsepsi alamiah kita mengenai diri-Nya. Bahkan kita yang dalam pemulihan Tuhan pun mungkin berharap melihat hal-hal yang besar. Karena keinginan terhadap kebesaran tersebut, banyak orang yang dalam gerakan Pentakosta atau kharismatik jatuh dalam kesombongan dan pernyataan yang dilebih-lebihkan. Karena alasan inilah, kita harus mengabaikan bagian yang besar dari berita-berita mengenai penyembuhan-penyembuhan dan keajaiban-keajaiban, yang menurut dugaan terjadi dalam gerakan Pentakosta hari ini. Beberapa orang mungkin memegahkan diri dengan mengatakan bahwa banyak penyembuhan yang terjadi di dalam suatu perhim-punan khusus, bahkan ketika tidak ada penyembuhan yang sungguh-sungguh sekalipun.
Beberapa tahun yang lalu tersebar berita-berita mengenai kebangunan baru yang besar, yang menurut dugaan terjadi di Pulau Timor. Menurut berita-berita itu, keajaiban-keajaiban merupakan hal yang biasa. Bahkan dibuat pernyataan-pernyataan bahwa ada orang yang bangkit dari kematian. Seorang misionaris yang dahulu ada di sana dan sekarang berada di dalam pemulihan Tuhan, pernah menghadiri beberapa pertemuan kebangunan baru tersebut untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dalam suatu pertemuan, pemimpinnya mengumumkan bahwa selama pertemuan tersebut berjalan, air akan diubah menjadi anggur. Pada saat tertentu, saudara ini melihat pemimpin tersebut mengeluarkan sebuah botol yang telah ia sembunyikan, dan menuang anggur dari botol itu ke dalam sebuah botol air. Betapa dustanya! Dusta sedemikian ini diperbolehkan, sebab cukup banyak orang Kristen yang mempunyai keinginan terhadap kebesaran.
Keajaiban bukanlah makanan. Bahkan penyembuhan yang sungguh-sungguh menakjubkan pun boleh jadi bukan merupakan makanan bagi kita. Bisa saja kita disembuhkan oleh Tuhan tanpa menerima-Nya sebagai makanan. Penyembuhan-penyembuhan boleh jadi besar dan menakjubkan, namun tidak memiliki sifat-sifat makanan. Namun, mungkin saja kita menerima penyembuhan ilahi dalam cara yang tepat, sehingga melalui penyembuhan tersebut Tuhan menjadi suplai hayat bagi kita. Penyembuhan semacam ini bukanlah bersifat besar secara luaran, sebaliknya, penyembuhan semacam ini bersifat kecil dalam penampilan.
Perkara-perkara dalam kehidupan kekristenan kita yang tidak menyuplaikan hayat kepada kita tidaklah sejati maupun normal; perkara-perkara itu berlawanan dengan sifat makanan. Menurut Injil Yohanes, orang-orang berusaha untuk mengagungkan dan memuliakan Tuhan Yesus, namun Ia selalu menghindarkan diri dari pemuliaan sedemikian itu. Dalam Yohanes 2, orang-orang Yahudi melihat keajaiban-keajaiban yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Tetapi Ia tidak mengamanatkan diri-Nya sendiri kepada mereka. Ia tidak menaruh kepercayaan kepada orang-orang yang terkesan oleh keajaiban-keajaiban. Dalam Yohanes 3, Nikodemus datang kepada Tuhan Yesus pada waktu malam. Tanpa terjadi sesuatu yang menakjubkan, Tuhan merupakan hayat bagi orang ini dalam cara yang luar biasa, dalam cara yang tenang, tersembunyi, kecil, dan diam-diam. Inilah cara ilahi.
Bahkan kita yang di dalam pemulihan Tuhan pun mungkin berharap untuk melihat terjadinya perkara-perkara besar. Keinginan demikian ini sering membukakan pintu bagi permasalahan. Keinginan terhadap kebesaran selalu mengakibatkan penderitaan. Namun demikian, penderitaan ini mungkin akan membantu mengakhiri keinginan terhadap kebesaran tersebut.
Karena Alkitab tidak memberi kita ukuran (dimensi) manna, maka kita tidak tahu seberapa kecilnya manna itu. Dalam kebesaran dan kekecilan-Nya, Kristus tidak terbatas. Dalam Alkitab, pemberian penjelasan yang rinci tentang manna hanya meliputi sebuah kata mengenai kekecilannya. Manna itu kecil, agar dapat diterima sebagai makanan. Sebagai manna yang riil, Kristus cukup kecil untuk kita makan, untuk dicerna, dan untuk diasimilasi.
5. Halus
Sifat lain dari manna ialah kehalusannya (16:14a). Manna sangat halus dan rata (seimbang). Pada dasarnya, kita adalah kasar dan tidak seimbang. Bahkan dalam kebajikan seperti keramahan dan kerendahan hati, mungkin kita ka-sar dan tidak seimbang. Jarang sekali kita menemukan seseorang yang halus, rata, dan seimbang. Namun demikian, ketika kita menerima Tuhan Yesus sebagai makanan kita, menikmati perkataan-Nya sebagai suplai hayat kita, kita akan diseimbangkan, menjadi halus dan rata.
6. Bulat
Dalam Keluaran 16:14, kita nampak bahwa manna berbentuk bulat. Sukar dipastikan apakah manna itu bundar pipih seperti kepingan, ataukah bulat seperti sebuah bola. Sebuah kepingan berbentuk bundar, sedangkan sebuah bola berbentuk bulat. Istilah Ibraninya seolah-olah menunjukkan bahwa manna berbentuk seperti sebuah kepingan. Tetapi di tempat lain dikatakan bahwa manna berbentuk seperti biji ketumbar. Ini menunjukkan bahwa manna berbentuk seperti bola.
Bulatnya manna melambangkan bahwa Kristus bersifat kekal, tanpa awal dan akhir. Kristus adalah makanan yang kekal dengan sifatnya yang kekal, untuk makanan yang kekal tanpa batas. Siapa yang makan Dia akan memperoleh hayat yang kekal dengan sifatnya yang kekal, dan akan menerima makanan yang kekal. Dengan makan Kristus, kita menjadi umat yang kekal, yang melewati batas waktu. Makan Yesus membawa kita keluar dari waktu dan masuk ke dalam kekekalan. Hayat yang kita terima dalam kelahiran kembali adalah hayat yang kekal dengan sifatnya yang kekal. Karena kita telah menerima hayat yang sedemikian ini, kita telah menjadi umat yang kekal. Dalam beberapa hal, kita telah bersifat kekal, meskipun demikian, tentu saja kita masih berada dalam waktu. Semakin kita makan Tuhan Yesus, kita akan semakin menjadi kekal.
Bulatnya manna menunjukkan bahwa Kristus bersifat kekal, sempurna, dan penuh. Pada manna tidak terdapat kekurangan. Tuhan Yesus dan perkataan-Nya adalah sempurna dan penuh. Melalui makan Dia, kita akan diubah. Semakin kita makan Tuhan Yesus dan perkataan-Nya, kita akan menjadi semakin kekal, sempurna, dan penuh. Di dalam manna surgawi ini, tidak terdapat cacat dan kekurangan.
7. Putih
Keluaran 16:31 menunjukkan bahwa manna berwarna putih. Manna bersih dan murni, tanpa campuran. Tidak ada makanan duniawi yang seperti manna ini. Apa saja yang kita makan, selain Kristus dan perkataan-Nya, adalah campuran. Hanya Kristus dan perkataan-Nyalah yang murni. Semakin kita makan Kristus dan perkataan-Nya, kita akan semakin dibersihkan dan diselamatkan dari setiap macam campuran.
Jika kita setiap hari datang kepada Tuhan Yesus dan menerima-Nya ke dalam kita serta makan firman-Nya, kita akan mengalami proses pembersihan yang membuat kita lebih murni. Mereka yang makan Kristus, akhirnya menjadi sederhana dan murni. Kebanyakan orang bersifat rumit. Bagaimana orang-orang yang rumit ini bisa menjadi sederhana? Jalan satu-satunya ialah makan Tuhan Yesus. Semakin kita makan Dia dan menerima perkataan-Nya, kita akan semakin disederhanakan. Dengan cara inilah kita menjadi tulus dan murni.
Jika kita makan Kristus sebagai manna kita, kita tidak hanya dimurnikan dan disederhanakan, tetapi juga menjadi putih. Menjadi putih berarti tanpa noda. Jika kita makan Kristus, noda-noda di dalam kita akan dihapuskan. Meskipun mungkin kita baik dalam hal-hal tertentu, tetapi kita tidak putih. Sebagai contoh, kasih dan kerendahan hati kita mungkin memiliki corak alamiah tertentu. Sebenarnya, tidak satu pun kebajikan manusia yang putih. Tetapi semakin kita menerima Kristus sebagai suplai hayat kita, corak alamiah kita akan dihapuskan, dan kita akan menjadi lebih putih.
8. Seperti Embun Beku
Manna juga seperti embun beku (16:14). Embun beku adalah suatu benda di antara embun dan salju. Baik embun maupun embun beku, keduanya menyegarkan. Tetapi meskipun embun menyegarkan, embun tidak membunuh kuman-kuman. Namun embun beku membunuh kuman-kuman. Sebagai manna, Kristus tidak hanya menyegarkan kita; Ia juga membunuh hal-hal negatif di dalam kita. Bila kita mengalami Kristus sebagai suplai hayat, kita didiris dan disegarkan, dan hal-hal negatif di dalam kita, seperti sikap-sikap negatif kita, akan dimatikan. Kita mengalami penyegaran embun beku, juga mengalami pembunuhannya atas kuman-kuman.
Seperti proses pengaturan suhu udara, embun beku juga mendinginkan kita. Semua orang duniawi terlalu panas dalam pengejaran mereka terhadap kesenangan-kesenangan yang penuh dosa dan hiburan-hiburan duniawi. Banyak orang Kristen hari ini juga terlalu panas, terlalu demam. Mereka perlu didinginkan. Terutama mereka yang di dalam gerakan Pentakosta atau gerakan Kharismatik. Mereka yang terlibat dalam gerakan Kharismatik perlu makan manna dan mengalami embun beku. Sebenarnya, kita semua memerlukan pengalaman atas embun beku. Karena kita terlalu panas dalam hal-hal tertentu, kita perlu menjadi dingin dan tenang. Kita semua perlu ditenangkan, supaya disegarkan dengan cara yang tepat. Jika kita makan Kristus dan perkataan-Nya, kita akan didinginkan dan disegarkan oleh embun beku tersebut.
9. Seperti Biji Ketumbar
Dalam Keluaran 16:31 dan Bilangan 11:7, dikatakan bahwa manna berbentuk seperti biji ketumbar. Ini menunjukkan bahwa sebagai makanan, Kristus penuh hayat. Ketika kita makan Kristus, Ia masuk ke dalam kita sebagai benih. Dibandingkan dengan jagung atau gandum, biji ketumbar jauh lebih kecil. Meskipun benih ini sangat kecil, tetapi penuh hayat, dan membawa unsur hayat ke dalam seluruh diri kita. Sebagai benih yang sedemikian inilah Kristus bertumbuh di dalam kita. Jika kita berusaha menerima Kristus di dalam kebesaran-Nya, kita sangat keliru. Kristus yang kita terima sebagai makanan adalah kecil, yaitu seperti biji ketumbar. Kenikmatan yang tepat dan normal atas Kristus ialah menerima-Nya sebagai benih kecil yang penuh gizi.
Sebagai Roh pemberi hayat yang almuhit, Kristus tidaklah besar; Ia benar-benar sangat kecil. Jika Ia tidak kecil, bagaimana Ia dapat tinggal di dalam kita? Dalam pengalaman kita sehari-hari, Roh itu kecil, tidak besar. Namun demikian, mereka yang di dalam gerakan kharismatik berharap untuk memperoleh Roh itu dalam cara yang besar. Mereka menghendaki seluruh dunia ini dihebohkan oleh suatu gerakan yang kuat dan hebat dari Roh itu. Beberapa orang Kristen telah berdoa selama bertahun-tahun, tetapi tidak ada gerakan Roh sedemikian ini yang telah terjadi. Di dalam gereja, Roh pemberi hayat ini bergerak di dalam dan di antara kita dalam cara yang kecil, di sana-sini menangkap orang-orang bagi Tuhan. Meskipun pekerjaan Roh itu berada pada skala yang kecil, tetapi tidak pernah berhenti.
Dalam banyak hal, mereka yang diselamatkan dengan hebat tidak terus bersama Tuhan. Namun mereka yang di ubah dalam cara yang tidak luar biasa, sering terus bersama Tuhan secara mutlak dan berkesinambungan. Seperti benih-benih ketumbar yang tumbuh secara diam-diam dan tanpa kegemparan, mereka tumbuh secara berangsur-angsur dan sungguh-sungguh. Pada mereka tidak ada yang istimewa, tidak ada yang luar biasa, namun hayat bertumbuh dan berbiak. Inilah cara untuk menikmati Kristus sebagai biji ketumbar yang penuh hayat.
10. Padat
Fakta bahwa manna bersifat padat dinyatakan dalam penjelasan bagaimana bangsa itu mengolahnya; mereka “menggilingnya dengan batu kilangan atau menumbuknya dalam lumpang. Mereka memasaknya dalam periuk” (Bil. 11:8). Untuk digiling, ditumbuk, dan dimasak, manna harus padat. Mungkin manna keras seperti padi-padian tertentu. Dalam pengalaman Anda, lunak atau keraskah Kristus? Sering ketika saya makan Kristus, saya mendapati bahwa Ia padat, bahkan keras. Berlawanan dengan konsepsi alamiah kita, Kristus tidaklah lunak. Namun demikian, banyak orang yang menganggap Kristus sebagai manusia yang sangat lemah. Tetapi manna bersifat padat, sehingga manna dapat digiling, ditumbuk, dan dimasak dalam periuk. Sebelum manna dijadikan roti dan kue, manna harus digiling lebih dulu.
Mungkin Anda merasa heran apa artinya ini. Ketika saya masih muda, saya mengira orang-orang Israel hanya mengumpulkan manna, membawanya ke kemah mereka dan memakannya. Bilangan 11:8 sangat lama membingungkan saya. Makan manna bukanlah suatu masalah yang sederhana. Setelah mengumpulkan manna, kita perlu menggilingnya, menumbuknya, memasaknya, dan kemudian membuatnya menjadi roti. Banyak orang Kristen yang membaca Alkitab, tetapi mereka tidak menerima makanan apa pun, sebab mereka kurang menggiling, menumbuk, dan memasak. Dalam pengalaman kita sehari-hari, kita perlu menggiling Kristus, menumbuk Kristus, dan memasak Kristus. Pengalaman-pengalaman kita adalah batu-batu kilangan, lumpang, dan periuk untuk menggiling, menumbuk, dan memasak Kristus. Ada pengalaman-pengalaman yang seperti batu-batu penggiling, sedangkan yang lainnya seperti lumpang dan periuk. Melalui bermacam-macam keadaan dan situasi yang berbeda, Alkitab menjadilah makanan bagi kita. Mungkin kita telah mengumpulkan manna, namun kita belum menggiling, menumbuk, atau memasaknya. Mungkin kita hanya memiliki manna yang mentah, yang tidak enak untuk dimakan. Setelah manna digiling, manna dijadikan roti dan kue. Untuk membuat roti dan kue ini, kita memerlukan situasi dan keadaan khusus. Kita juga memerlukan kaum beriman lainnya, yang memiliki lebih banyak pengalaman untuk membantu kita menggiling, menumbuk, dan memasak manna. Lepas dari proses ini, manna masih belum memadai untuk dimakan.
Meskipun mungkin kita mengumpulkan manna selama waktu-waktu kita bersama Tuhan pada pagi hari, manna masih belum siap untuk dimakan. Tetapi melalui pengalamanpengalaman kita dalam keadaan yang berbeda-beda, manna digiling, ditumbuk, dan dimasak. Selanjutnya, manna siap untuk dimakan.
11. Kelihatannya Seperti Damar Bedolah
Dalam Bilangan 11:7 dikatakan bahwa manna kelihat-annya seperti damar bedolah (mutiara). Sulit sekali menerjemahkan ayat ini secara tepat. King James Version mengatakan, “Warnanya seperti damar bedolah.” Damar bedolah melambangkan dua substansi yang berbeda, yaitu getah transparan yang putih dan mutiara putih. Mutiara yang dihasilkan oleh getah dari pohon tertentu, sangat mirip dengan mutiara yang dihasilkan oleh tiram. Ketika getah yang mengalir keluar dari pohon-pohon ini menjadi keras, getah tersebut membentuk mutiara yang seperti bola. Kata bedolah dalam ayat ini berkenaan dengan bola-bola tersebut. Karena itu, ada dua substansi yang disebut mutiara, yang satu dihasilkan oleh tiram, dan yang lainnya dihasilkan oleh keluarnya getah dari pohon. Kedua jenis mutiara ini terang dan transparan.
Kata Ibrani yang diterjemahkan “warna” atau “rupa” dalam ayat ini sebenarnya berarti “mata”. Manna memiliki mata. Mata dari manna seperti mata mutiara. Mutiara agak menyerupai mata. Jika Anda memeriksa mutiara, Anda akan melihat bahwa mutiara itu mirip dengan sebuah bola mata. Setiap potong manna nampak mirip dengan bola mata, yaitu bulat, terang, dan transparan. Apakah Anda menyadari bahwa bola mata Anda itu transparan? Jika tidak, kita akan buta. Bola mata kita transparan seperti lensa kamera.
Semakin kita makan Kristus, kita akan semakin memiliki lebih banyak mata, dan kita akan menjadi lebih transparan. Empat makhluk dalam Wahyu 4 “penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang” dan “sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata” (ayat 6, 8). Mata adalah indra dari makhluk hidup untuk menerima terang dan visi. Fakta bahwa keempat makhluk tersebut penuh dengan mata menunjukkan bahwa mereka jernih bagaikan kristal dalam setiap hal.
Mata menyatakan tembus cahaya (transparan). Kecuali mata kita, seluruh tubuh kita tidak tembus cahaya. Jika kita tidak memiliki Kristus, kita tidak memiliki mata, dan kita sama sekali tidak tembus cahaya. Ketika kita beroleh selamat, kita mulai menjadi transparan. Sekarang, semakin kita menikmati Kristus sebagai manna surgawi, kita akan semakin transparan. Bila kita hidup bersama-sama dengan kaum beriman yang menikmati Kristus sebagai makanan, kita merasa bahwa mereka transparan. Sebagai manna, Kristus bersifat transparan. Ketika kita makan Dia, kita juga menjadi transparan.
Sifat transparan ini akhirnya akan menjadi penampilan (rupa) kita. Jika kita menikmati Kristus hari demi hari, makan Dia sebagai manna yang kelihatannya seperti damar bedolah, kita akan memiliki rupa Kristus, rupa bola mata, dan rupa ini akan menjadi warna kita. Melalui makan Kristus, warna kita menjadi transparan Kristus. Dengan demikian, transparan menjadi rupa dan warna kita.
Makan Kristus menyebabkan kita memiliki lebih banyak mata. Semakin kita makan Kristus dan perkataan-Nya, kita akan semakin menjadi makhluk yang penuh dengan mata. Sering kali saya mengharapkan bahwa saya tidak dibatasi oleh dua mata jasmaniah. Dengan lebih banyak mata, saya dapat lebih banyak melihat. Jika kita memiliki lebih banyak mata rohani, kita akan menjadi jauh lebih terang dan transparan. Cara untuk memiliki lebih banyak mata ialah lebih banyak makan Tuhan Yesus sebagai manna yang sejati dengan rupa seperti damar bedolah, rupa yang terang, bola mata yang transparan. Ketika kita berada di Yerusalem Baru, seluruh tubuh kita akan menjadi transparan seperti tembok kota itu. Karena tembok kota itu seluruhnya transparan, kemuliaan Allah dapat bercahaya melaluinya. Dengan makan Yesus, akhirnya seantero diri kita akan menjadi transparan.
12. Rasanya Seperti Minyak Baru
Bilangan 11:8 mengatakan, “Rasanya seperti rasa panganan yang digoreng” (Rasanya seperti minyak baru. Tl.). Minyak melambangkan Roh Kudus. Bila kita makan Kristus sebagai manna kita, kita mengecap Roh Allah. Minyak di sini adalah baru. Roh yang kita kecap ketika kita menikmati Kristus sebagai manna selalu baru.
13. Rasanya Seperti Kue Madu
Keluaran 16:31 mengatakan bahwa “rasanya seperti rasa kue madu.” Madu manis rasanya. Madu merupakan perbauran antara dua hayat, yaitu hasil dari hayat hewani dan hayat nabati. Lebah madu yang memproduksi madu menerima suplai dari bunga, dari hayat nabati. Sebagai manna kita, Kristus memiliki unsur perbauran antara hayat hewani dengan hayat nabati. Perbauran ini merupakan makanan kita yang manis.
Saya telah menunjukkan bahwa rasa manna adalah seperti minyak baru, dan juga seperti kue madu. Rasa minyak baru itu harum, sedangkan rasa madu itu manis. Keharuman dan kemanisan merupakan aspek rasa yang terpenting. Rasa minyak menunjukkan keharuman, dan rasa madu menunjukkan kemanisan. Makanan yang gurih dan enak selalu harum atau manis. Rasa Kristus seperti minyak dan madu. Minyak dicampur dengan roti, dan madu dicampur dengan kue. Sebagai makanan kita, Kristus memiliki rasa minyak dan madu.
Dalam kenikmatan kita atas Kristus, kita mengecap keharuman dan kemanisan-Nya. Di dalam-Nya terdapat rasa minyak dan madu. Kristus tidak pernah pahit atau asin. Ia selalu harum dan manis.
14. Cocok untuk Dibuat Roti
Setelah manna digiling, bangsa itu membuatnya menjadi roti (Bil. 11:8). Roti ini merupakan roti yang halus dan bergizi. Sebagai roti yang dibuat dari manna, Kristus kaya dengan gizi. Alkitab mengatakan bahwa Kristus adalah roti yang turun dari surga (Yoh. 6:41). Fakta bahwa Kristus adalah roti, melambangkan bahwa Ia adalah makanan yang kaya dengan gizi. Aspek Kristus sebagai manna ini dilambangkan oleh roti. Perbedaan antara roti dengan makanan ialah, roti itu halus, sedangkan makanan itu agak kasar. Puji Tuhan, bahwa Ia adalah roti halus yang penuh dengan gizi!
15. Suatu Misteri
Yang terakhir, manna merupakan suatu misteri. Sesungguhnya, kata manna berarti “apa ini?”. Tidak seorang pun dari orang-orang Israel yang mengetahui apa manna itu. Apakah Anda memperhatikan bahwa dalam menjelaskan manna Alkitab menyamakannya dengan benda-benda tertentu? Sebagai contoh, Keluaran 16:14 mengatakan bahwa manna sekecil embun beku, dan Keluaran 16:31 mengatakan bahwa manna seperti biji ketumbar serta rasanya seperti kue madu. Kata-kata “seperti” dan “bagaikan” terus-menerus digunakan. Alkitab tidak memberi tahu kita dengan sungguh-sungguh apa manna itu, sebab manna bersifat misterius.
Sebagai manna yang sejati, Kristus bersifat misterius; Ia tidak dapat dijelaskan secara ilmiah. Dalam Perjanjian Baru terdapat bermacam-macam petunjuk mengenai kemisteriusan Kristus. Sebagai contoh, setelah kebangkitan-Nya, Kristus masuk ke dalam ruang yang tertutup di mana para rasul berkumpul. Rasul-rasul itu “terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu” (Luk. 24:37). Mengetahui bahwa mereka ragu-ragu, Tuhan berkata, “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku” (ayat 39). Dalam kebangkitan-Nya, Kristus menjadi Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45b). Meskipun demikian, Ia memiliki tubuh yang dapat dilihat dan diraba. Para rasul bahkan dapat melihat bekas paku pada tangan dan kaki-Nya. Sukar untuk mengatakan apakah Kristus hari ini bersifat rohani atau jasmani. Di satu pihak, Ia masih memiliki tubuh daging dan tulang. Di pihak lain, Alkitab memberi tahu kita bahwa Kristus hidup di dalam kita dan terbentuk di dalam kita (Gal. 2:20; 4:19). Kita tidak dapat dengan sederhana menerangkan Kristus, karena Ia misterius. Sebagai manna, Kristus benar-benar suatu misteri.