MAKANAN SURGAWI — MANNA (2)
Pembacaan Alkitab:
Kel. 16:4-5, 13b-15, 31; Bil. 11:6b-9
III. CIRI-CIRI MANNA
Sekarang marilah kita beralih kepada berbagai ciri manna. Dalam Keluaran 16 dan Bilangan 11, kita telah diberi penjelasan yang singkat mengenai manna. Dalam penjelasan yang singkat ini setidak-tidaknya telah ditunjukkan empat belas aspek manna. Setiap aspek merupakan salah satu ciri manna.
1. Dari Surga
Ciri manna yang pertama adalah manna berasal dari surga (16:4a). Jadi, manna bersifat surgawi. Meskipun kita tidak mengetahui esens atau intisari manna, namun kita tahu bahwa manna berasal dari surga. Dalam Keluaran 16:4 Tuhan berkata kepada Musa, “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu.” Manna sangat sukar untuk dianalisis. Sudah pasti, manna mengandung gizi untuk memenuhi semua keperluan tubuh jasmaniah manusia. Kalau tidak, manna tidak akan dapat menunjang umat Allah yang bertahun-tahun di padang gurun. Di satu pihak, manna mempunyai semua unsur yang diperlukan untuk menunjang tubuh jasmaniah manusia; di pihak lain, manna adalah makanan surgawi.
Sebagaimana kita tidak dapat menganalisis atau menerangkan manna, demikian pula kita tidak dapat menganalisis atau menerangkan Tuhan Yesus Kristus. Kristus diutus dari surga oleh Bapa untuk menjadi manna yang sejati. Sebagai roti yang berasal dari surga, Ia adalah makanan yang melalui Dia orang-orang Israel hidup. Dalam Yohanes 6:51 Tuhan Yesus berkata, “Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” Siapakah yang dapat menganalisis esens Kristus sebagai makanan surgawi kita? Kita tidak mungkin dapat menganalisis substansi-Nya secara ilmiah. Tetapi meskipun kita tidak dapat menganalisis esens Kristus atau menjelaskan sepenuhnya, namun Ia sangat riil. Ia tidak kelihatan dan tidak dapat diraba, namun Ia riil, dan menunjang umat Allah.
Dari masa Kerajaan Romawi sampai hari ini, banyak pemerintah duniawi dan pemimpin-pemimpin dunia yang telah mencoba memadamkan pergerakan Tuhan di bumi. Mereka juga berusaha merusak dan menghancurkan Tubuh-Nya. Tetapi semua usaha mereka itu sia-sia. Tubuh Kristus tidak dapat dihancurkan, sebab dalam gereja ada esens surgawi, yaitu unsur surgawi, yang menunjang gereja di bumi. Karena Kristus menyalurkan unsur ini ke dalam gereja, maka tidak ada apa pun yang dapat merusak atau menyudahinya.
Sebagaimana manna menunjang hampir dua juta orang di padang gurun selama empat puluh tahun, demikian juga Kristus sebagai manna yang sejati menunjang gereja hari ini. Manna ini tidak memiliki sumbernya di bumi; manna turun dari surga, tempat Allah berada. Jadi, manna tidak hanya merupakan makanan surgawi, namun juga makanan yang suci. Di satu pihak, Tuhan Yesus adalah “roti yang turun dari surga”; di pihak lain, Ia adalah “roti yang dari Allah”, yang turun dari surga untuk menjadi makanan kita (Yoh. 6:32-33).
2. Bersama Embun
Dalam Keluaran 16:13-14, kita nampak bahwa manna datang bersama-sama embun: “Pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu. Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi.” Benda yang halus seperti sisik ini adalah manna. Bilangan 11:9 juga mengatakan bahwa manna datang bersama embun; “Dan apabila embun turun di tempat perkemahan pada waktu malam, maka turunlah juga manna di situ.” Ini berarti dalam mengirimkan burung-burung puyuh, Allah menggunakan angin. Namun dalam mengirimkan manna, Allah menggunakan embun. Sebenarnya Allah dapat mengirimkan manna tanpa embun. Fakta bahwa manna datang bersama embun, pasti memiliki arti rohani tertentu. Karena pengalaman saya mengenai hal ini belum sempurna, saya tidak dapat menerangkan sepenuhnya mengapa manna datang bersama embun. Tetapi berdasarkan pengalaman rohani saya dapat menunjukkan bahwa embun melambangkan anugerah sehari-hari, yaitu anugerah yang kita terima setiap hari. Dalam Mazmur 133:3, kita membaca tentang “embun Gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion.” Embun Gunung Hermon melambangkan anugerah yang turun dari surga. Hermon, gunung yang tinggi, melambangkan surga, tempat yang tinggi, dari mana embun turun. Embun menyatakan anugerah Tuhan Yesus Kristus.
Embun berbeda dengan hujan, salju, atau embun beku. Embun lebih halus daripada hujan dan tidak sedingin embun beku. Menurut Ratapan 3:22-23, rahmat Allah itu seperti embun, selalu segar tiap pagi. Rahmat dalam Perjanjian Lama itu, akhirnya menghasilkan anugerah dalam Perjanjian Baru. Karena alasan inilah, Yeremia menggunakan kata rahmat dalam Ratapan 3. Setiap pagi, anugerah Tuhan sesegar embun.
Telah berkali-kali saya tunjukkan bahwa anugerah ialah Allah mencapai kita. Ketika Allah mencapai kita dalam cara yang positif, penuh rahmat dan simpati, Ia menjadi anugerah bagi kita. Manna selalu datang melalui anugerah ini. Saya menganjuri kaum beriman agar mempraktekkan penyegaran pagi. Namun, meskipun mungkin kita berpenyegaran pagi secara teratur, sering selama kita bersama Tuhan pada waktu pagi, kita tidak mengalami kesegaran embun. Akibatnya, kita tidak memperoleh manna. Sebaliknya, firman Tuhan seolah hanyalah merupakan tulisan hitam di atas putih. Tetapi bila kita mengalami embun tersebut pada penyegaran pagi, kita tahu bahwa Allah mencapai dan melawat kita. Lawatan Allah ini adalah Tuhan sebagai anugerah kita. Pengalaman kita memberikan kesaksian bahwa di mana embun berada, di situ pulalah manna berada.
Ketika kita memiliki embun sewaktu kita membaca firman pada pagi hari, firman itu akan benar-benar menjadi makanan bagi kita. Jika kita tidak memiliki embun yang menyegarkan, kita tidak akan memperoleh manna yang datang bersama embun itu.
Gambar tentang manna dan embun ini sangatlah indah. Sebuah gambar benar-benar lebih baik daripada seribu kata-kata! Embun pada waktu pagi sangat menyegarkan. Tanpa embun ini, tanpa anugerah ini, kita akan menjadi sangat kering. Tetapi dengan embun ini kita didiris dan disegarkan. Syukur kepada Tuhan bahwa manna tidak datang sendirian, melainkan bersama embun.
3. Pada Pagi Hari
Saya telah menunjukkan bahwa burung-burung puyuh datang pada petang hari, tetapi manna dikirim pada pagi hari. Keluaran 16:21 mengatakan bahwa orang-orang Israel “setiap pagi mereka memungutnya.” Fakta bahwa manna datang pada pagi hari menunjukkan bahwa manna memberi kita suatu permulaan yang baru. Karena setiap hari bumi berputar pada porosnya, maka setiap hari kita mempunyai permulaan yang baru, suatu perputaran yang baru. Kita juga mempunyai permulaan bulan dan tahun. Manna tidak berhubungan dengan permulaan bulanan atau tahunan, tetapi manna berhubungan dengan permulaan harian yang baru. Jika Allah mengirim manna setahun sekali, kita tidak akan bisa hidup. Jika manna dikirim sebulan sekali, kita tidak akan dikuatkan, ditunjang, dan dipuaskan. Syukur kepada Tuhan bahwa setiap hari Ia mengirim manna. Setiap pagi kita bisa memperoleh suatu permulaan baru.
Dalam pengalaman rohani kita, kita memerlukan perputaran harian ini, yaitu permulaan harian yang baru. Kadang-kadang pada malam hari, saya dengan tidak sabar menanti datangnya pagi dan suatu permulaan yang baru. Ketika saya hendak tidur pada malam hari, saya berkata, “Tuhan, setelah beristirahat malam ini, aku mengharapkan permulaan yang baru dengan Engkau pada pagi hari.” Puji Tuhan untuk setiap hari yang baru, yaitu setiap permulaan yang baru! Manna selalu membawa kita ke permulaan baru yang sedemikian ini.
Kita boleh juga mengatakan bahwa setiap permulaan yang baru membawakan kita manna yang segar. Jika Anda berharap menerima manna dari Tuhan, Anda perlu berdoa, “Tuhan, aku telah siap untuk suatu perputaran yang baru. Aku tidak ingin hidup sama seperti waktu-waktu yang lampau. Aku ingin memiliki suatu permulaan yang baru dengan Engkau.” Sewaktu Anda datang kepada Tuhan pada pagi hari, apakah Anda mau berdoa seperti ini? Jika Anda mengatakan kepada-Nya bahwa Anda telah siap untuk suatu permulaan yang baru, Anda akan mengalami embun, dan manna ada bersama embun itu. Tetapi jika keinginan Anda adalah untuk mengalami lagi waktu-waktu yang lampau, yaitu hidup sama seperti kehidupan yang Anda tempuh pada tahun-tahun yang lalu, manna tidak akan datang kepada Anda.
Untuk memiliki manna, kita harus disiapkan bagi suatu permulaan yang baru. Dari pengalaman, saya bisa meyakinkan Anda bahwa manna akan datang bila Anda ingin memiliki suatu permulaan yang baru. Pada waktu pagi, marilah kita datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku ingin suatu permulaan yang baru. Aku tidak ingin sama seperti kemarin. Aku mengucap syukur kepada-Mu Tuhan bahwa dalam kedaulatan dan rencana-Mu, dalam tahun ini setiap hari Engkau memberi kami suatu permulaan yang baru.” Jika Anda berdoa kepada Tuhan secara demikian, yaitu menginginkan suatu permulaan baru, manna akan datang bersama embun pada waktu pagi hari.
Mengenai pemungutan manna dengan embun pada waktu pagi, kita tidak lagi memerlukan doktrin. Apa yang kita perlukan ialah pengalaman yang lebih banyak dalam kehi-dupan kita sehari-hari. Bertahun-tahun kita telah mengetahui bahwa manna adalah lambang Kristus. Alangkah kasihan, di antara orang-orang Kristen hari ini, sebagian besar hal ini masih merupakan doktrin! Ketika saya berada di antara “Kaum Saudara” (the Brethren), saya diajar dengan jelas bahwa manna melambangkan Kristus. Tetapi saya tidak dibantu untuk memungut manna hari demi hari. Sebagai pengganti hayat, yang ada hanyalah doktrin.
Banyak hal, bahkan yang berkenaan dengan Kristus pun telah menjadi doktrin tradisional. Bahkan orang-orang yang tidak percaya pun mungkin tahu tentang kebenaran-kebenaran tertentu mengenai Kristus. Beberapa orang mungkin menyadari bahwa manna merupakan lambang Kristus. Yang kita perlukan bukanlah doktrin tradisional, melainkan pengalaman riil dalam hayat.
Beribu-ribu, bahkan berjuta-juta orang, membaca Alkitab tanpa menerima sedikit pun manna. Dalam pembacaan Alkitab mereka, yang ada hanyalah tulisan hitam di atas putih. Di bawah pengaruh tradisi, mereka tidak suka menerima terang yang baru. Mereka bahkan tidak merasa tertarik untuk menuntut terang yang sedemikian ini. Mereka merasa puas dengan memahami Alkitab menurut pengetahuan tradisional dan aspirasi etis. Mereka ingin mempelajari ajaran-ajaran Alkitab untuk memperbaiki kelakuan mereka. Mereka mendekati Alkitab dalam cara yang sama dengan mendekati tulisan-tulisan klasik. Bahkan saya pernah mendengar seorang misionaris mengatakan bahwa ajaran-ajaran Alkitab sama dengan ajaran-ajaran filsafat tertentu. Alangkah menyedihkan kesalahpahaman tentang firman Allah ini!
Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, orang-orang Yahudi tidak memperhatikan Dia. Mereka telah sepenuhnya terisi oleh tradisi-tradisi nenek moyang mereka. Pengertian mereka mengenai Perjanjian Lama berdasar pada ajaran dan pengetahuan tradisional. Setelah Saulus dari Tarsus beroleh selamat, mungkin ia telah menghabiskan banyak waktu untuk mencocokkan pengalamannya dengan Perjanjian Lama. Tentunya ia melakukan hal ini menurut pimpinan Roh Kudus, bukan menurut pengetahuan tradisional yang diwarisinya dari nenek moyangnya dalam agama Yahudi. Karena itu, Paulus menerima terang, yakni wahyu.
Pengalaman kita hari ini sama dengan pengalaman Paulus. Saya bisa bersaksi, karena saya tidak memelihara tradisi agama, maka saya bisa menerima terang dari Tuhan mengenai firman. Jika saya tetap memelihara tradisi agama, saya tidak akan menerima terang. Pada tahun 1964 saya diberi saran oleh seseorang, supaya tidak mengajarkan bahwa Kristus adalah Roh, meskipun kebenaran ini telah diwahyukan dalam Perjanjian Baru. Saya diberi tahu bahwa ajaran yang sedemikian ini tidak akan diterima oleh orang-orang Kristen hari ini. Karena orang-orang itu memelihara sedemikian banyaknya ajaran tradisional, mereka telah buta.
Tahun demi tahun, mereka tidak menerima terang baru. Puji Tuhan, hampir setiap hari kita menerima terang baru. Kita harus tidak dibatasi oleh apa yang kita lihat pada tahun-tahun yang lalu. Bahkan para sarjana pun terbuka terhadap penemuan-penemuan baru. Jika kita secara rohani ingin maju, kita perlu mengesampingkan tradisi. Sewaktu kita datang kepada firman, kita harus melupakan pengetahuan tradisional kita.
Kekristenan telah menjadi agama tradisi yang melupakan Kristus sebagai realitas. Ibadah minggu pagi dipenuhi dengan tradisi. Tetapi keadaan kita dalam pemulihan harus sama sekali berbeda. Setiap hari kita perlu terus bersama Tuhan. Kita tidak hanya harus membaca Alkitab, tetapi juga berhubungan dengan Kristus sebagai persona yang hidup yang tinggal di dalam kita. Ketika kita membaca Alkitab, kita harus berkontak dengan persona yang hidup ini. Sebagai pengganti dari dipenuhi dengan doktrin atau tata cara, kita harus benar-benar mencari Tuhan sendiri. Jika kita mengikuti Tuhan dalam cara yang sedemikian ini, setiap pagi kita akan memiliki permulaan yang baru dengan Dia.
Waktu kita bersama Tuhan pada pagi hari haruslah tidak menurut tradisi atau kebiasaan. Kebiasaan dalam beberapa rumah tangga ialah bangun pagi-pagi dan membaca Alkitab. Tetapi mungkin saja mereka membaca Alkitab setiap pagi tanpa mengumpulkan manna, sebab mereka tidak berkontak dengan Tuhan. Kata-kata yang dicetak dalam Alkitab tidak memberi kita hayat. Dalam Yohanes 5:39 dan 40, Tuhan Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup (hayat) itu.” Jika kita ingin memperoleh hayat, kita harus datang kepada Tuhan. Untuk memiliki hayat, kita harus memiliki Dia.
Resep obat sangatlah berbeda dengan obat itu sendiri. Kita tidak akan dapat memiliki obat dengan hanya mempelajari resepnya. Tetapi hal inilah yang banyak dilakukan oleh orang-orang Kristen hari ini. Dalam beberapa hal, mereka bahkan mempelajari resep-resep dalam cara yang tidak tepat. Di satu pihak, saya gembira oleh apa yang telah Tuhan tunjukkan kepada kita. Di pihak lain, saya sedih karena situasi di antara orang-orang Kristen. Siapakah yang benar-benar menaruh perhatian terhadap Tuhan sendiri? Sangatlah sedikit! Meskipun Dia demikian hidup dan tersedia.
Dalam berita sebelumnya saya telah menunjukkan bahwa pengakuan dosa saya terhadap Tuhan setiap hari terutama ialah mengenai kekurangan saya untuk tetap esa di dalam roh dengan Dia. Kita tahu 1Korintus 6:17 memberi tahu kita bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Kita juga tahu bahwa kita harus hidup menurut roh perbauran ini. Tetapi berapa banyakkah kita benar-benar hidup dalam roh ini? Mungkin di antara kita dalam pemulihan Tuhan, hal ini juga menjadi suatu doktrin sebagai pengganti dari pelaksanaan yang riil dan sejati dalam hayat. Dalam kehidupan Anda sehari-hari, apakah masalah mengikatkan diri dengan Tuhan dalam satu roh ini merupakan suatu pelaksanaan, atau apakah masalah ini hanya merupakan suatu doktrin? Jika hal ini hanya merupakan pengetahuan yang doktrinal, semua ini tidak ada artinya. Setiap wahyu sangat mudah berubah menjadi suatu ajaran tradisional. Marilah kita berpaling dari semua ajaran tradisional, dan mencari Tuhan sendiri. Jika kita melakukan hal ini, terang firman akan menyinari kita.
Meskipun Keluaran 16 merupakan pasal yang besar dalam Alkitab, namun banyak orang Kristen yang tidak menaruh penghargaan yang cukup terhadap pasal ini, sebab mereka masih berada di bawah pengaruh tradisi agama. Mungkin kita akan lebih terkesan dengan pasal ini jika kita adalah orang-orang yang sederhana, tidak berpendidikan, dan tidak mempunyai pengetahuan Alkitab. Jika situasi kita demikian, mungkin kita akan dapat lebih mudah nampak bahwa pasal-pasal ini mewahyukan tujuan Allah untuk mengganti sumber hakiki kita, dengan jalan mengganti unsur susunan kita. Kalau kita hanya mengatakan bahwa manna adalah makanan surgawi yang melambangkan Kristus, itu hanyalah pengertian yang dangkal mengenai pasal 16. Pengertian doktrinal yang sedemikian ini tidak mempunyai pengaruh atas kehidupan kita. Bahkan mungkin hal ini akan menghalangi kita untuk menerima wahyu Allah, yang telah disampaikan dalam bagian firman ini. Tetapi jika kita berpaling dari ajaran tradisional dan berdoa seturut pasal ini, kita akan beroleh terang sehingga kita nampak bahwa sebagai kaum beriman, kita harus hidup berdasarkan Kristus sendiri. Hanya Kristus yang hiduplah yang menjadi makanan, yang olehnya kita hidup hari demi hari.
Alangkah besarnya perbedaan antara pengertian yang sedemikian ini dengan ajaran tradisional! Ketika kita berada dalam agama, banyak di antara kita yang telah mendengar tentang Kristus sebagai manna. Tetapi apakah pengaruhnya terhadap kita? Hal ini tidak dapat melindungi kita dari kegemaran terhadap hiburan duniawi. Beberapa orang telah menerima ajaran yang dangkal mengenai jangan mengasihi dunia. Mereka diajarkan untuk jangan berselera terhadap mentimun dan bawang putih dari Mesir. Alangkah dangkalnya! Kebenaran yang dalam dari Keluaran 16 ialah Allah hendak mengganti makanan kita. Hal yang terpenting di sini bukannya apakah kita mengasihi dunia atau tidak; tetapi apakah makanan kita telah diganti atau belum. Berusaha untuk tidak mengasihi dunia sangat berbeda dengan memperoleh penggantian makanan.
Selama kita mencari Tuhan untuk suatu permulaan baru dan suplai manna, kita perlu berpaling kepada roh kita. Tetapi kita sering dengan mudah menggunakan pikiran kita daripada menggunakan roh kita. Karena ini merupakan kecenderungan kita, maka kita perlu mempunyai kebiasaan untuk berkontak dengan Tuhan dalam firman sebelum kita dipenuhi dengan urusan-urusan dalam sehari itu. Sekali kita terlibat dalam sekian banyaknya perkara, akan jauh lebih sukar menggunakan roh kita untuk berkontak dengan Tuhan. Perkara pertama yang harus kita lakukan setiap pagi ialah datang kepada Tuhan dalam firman dan terawat oleh Dia.