MAKANAN SURGAWI — MANNA (1)
Pembacaan Alkitab:
Kel. 16:4-5, 13b-15, 31; Bil. 11:6b-9
Jika kita hendak memahami Alkitab, kita memerlukan terang dan visi surgawi. Terutama jika kita ingin nampak makna rohani dari bermacam-macam perkara dalam Kitab Keluaran. Dalam berita-berita sebelumnya, kita telah nampak bahwa Kitab Keluaran merupakan kitab gambar. Tetapi jika kita tidak memiliki terang dan visi dalam membaca buku ini, kita tidak akan dapat memahami arti gambar-gambar ini.
Banyak orang Kristen mengetahui bahwa selama mengembara di padang gurun, orang-orang Israel makan manna. Namun tidak banyak di antara mereka yang mengetahui dengan sungguh-sungguh makna manna dalam Keluaran 16. Mungkin mereka mengetahui dengan jelas kisah dalam Kitab Keluaran, bahkan mungkin mereka mengetahui bahwa manna itu adalah lambang Kristus sebagai makanan bagi kita. Tetapi mereka tidak mengenal sepenuhnya tentang pentingnya makan seperti yang tercatat dalam pasal ini.
Pengertian makan adalah pengertian yang mendasar dan utama dalam Alkitab. Jika kita mempelajari pentingnya makan dalam Alkitab, kita perlu ingat akan prinsip penyebutan kali pertama. Menurut prinsip ini, penyebutan kali pertama suatu hal dalam Alkitab, mempengaruhi arti penyebutan hal itu dalam seluruh Alkitab. Setelah Allah menciptakan manusia, Ia memberi perintah dan peringatan tentang makan: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kej. 2:16-17). Makan merupakan pengertian yang mendasar dalam firman ilahi, sebab makan berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan Allah. Karena itu, setelah menguraikan penciptaan manusia, Alkitab membicarakan kehidupan manusia yang berhubungan dengan makan.
Dalam Kejadian 1:26, kita nampak bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kata-kata “gambar” dan “rupa” menunjukkan bahwa manusia itu untuk ekspresi Allah. Tetapi gambar dan rupa sepertinya bersifat luaran, dan tidak perlu melibatkan isi yang di dalam. Karena alasan inilah, Kejadian 2 menunjukkan pentingnya makan bagi manusia. Pasal ini mewahyukan bahwa Allah menghendaki manusia makan buah pohon hayat. Secara luaran manusia memiliki gambar Allah. Tetapi secara batiniah, manusia perlu menerima buah pohon hayat ke dalamnya sebagai isi. Sudah pasti pohon hayat itu merupakan lambang dari Allah sebagai hayat bagi manusia. Sesuai dengan rencana kekal-Nya, Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, sehingga manusia boleh mengekspresikan-Nya. Selanjutnya Allah menempatkan manusia ciptaan-Nya itu di hadapan pohon hayat (Kej. 2:9), dengan maksud supaya manusia itu menerima Allah ke dalamnya sebagai hayat. Dalam Alkitab, inilah keterangan yang pertama tentang makan.
Pada akhir Alkitab, yaitu dalam Wahyu 22, sekali lagi kita nampak pohon hayat. Ayat 2 mengatakan bahwa di seberang-menyeberang sungai yang mengalir dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu, terdapat pohon hayat. Lalu ayat 14 mengatakan bahwa mereka yang membasuh jubahnya, akan memperoleh hak atas pohon hayat. Ayat 19, menunjukkan bagian kita atas pohon hayat. Semua keterangan dalam Wahyu 22 ini menunjukkan bahwa dalam kekekalan dan sampai selamanya, umat tebusan Allah akan makan dari pohon ini. Lagi pula, Wahyu 2:7 mengatakan bahwa siapa yang menang, akan makan dari pohon hayat yang ada di Taman Firdaus Allah.
Setelah kejatuhan manusia, Allah datang untuk menebus umat-Nya. Paskah merupakan gambaran yang lengkap tentang penebusan Allah, dan tentang maksud serta tujuan Allah dalam penebusan. Berdasarkan gambaran dalam Keluaran 12, pengertian makan juga bersifat inti dan mendasar dalam penebusan. Pada waktu Paskah, darah anak domba dibubuhkan pada “kedua tiang pintu dan ambang atas rumah”, dan di dalam rumah-rumah itu daging anak domba dimakan (Kel. 12:7). Kemudian bangsa itu makan daging anak domba dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit (ayat 8).
Selanjutnya butir utama dalam Keluaran 16 ialah makan manna. Pasal ini tidak berhubungan dengan kelakuan, tabiat, atau perbaikan diri sendiri, melainkan berhubungan dengan makan. Dalam Yohanes 6, Tuhan Yesus dengan jelas mengatakan bahwa Dialah manna yang sejati yang dikirim dari surga oleh Allah Bapa, untuk menjadi makanan umat pilihan-Nya. Karena itu, kita perlu mengetahui bagaimana kita harus makan Dia. Dalam ayat 32, Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari surga.” Kemudian Tuhan mengatakan bahwa siapa saja yang makan Dia, akan hidup oleh Dia (ayat 57). Manna juga disebutkan dalam Wahyu 2:17, di mana Tuhan berkata bahwa Tuhan akan memberikan “manna yang tersembunyi” kepada mereka yang menang. Ayat-ayat ini membantu kita nampak bahwa dalam Alkitab, pengertian makan bersifat inti dan mendasar.
Kita semua menyadari, supaya bisa hidup tepat, kita perlu makan dengan tepat. Misalnya, kita makan racun, kita pasti akan mati. Suatu ketika saya pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa makanan seseorang dapat mempengaruhi perangai orang tersebut. Menurut artikel itu, perangai seorang anak umumnya dipengaruhi oleh makanan yang dimakannya. Ini menunjukkan pentingnya makanan rohani yang sebenarnya. Tentu saja jika kita makan Kristus sebagai manna yang sejati, kita tidak akan menjadi mudah marah. Sebagaimana telah ditunjukkan dalam berita yang lalu, makanan surgawi ini menyebabkan nafsu kita dibatasi. Makanan surgawi ini juga menanggulangi ambisi kita yang egoistis. Di satu pihak, manna surgawi itu memberi makan dan menyehatkan kita; di pihak lain, manna surgawi itu menghapuskan hal-hal negatif di dalam kita. Karena makan merupakan perkara yang sedemikian pentingnya, maka pengaturan makanan manusia juga merupakan pengertian yang mendasar dalam Alkitab.
Tahukah Anda apa yang menyebabkan kejatuhan manusia? Manusia jatuh karena makan secara tidak tepat. Pada prinsip yang sama, kita diselamatkan dan disehatkan dengan jalan makan secara tepat. Manusia jatuh karena makan buah pohon pengetahuan, tetapi ia diselamatkan dan dibebaskan dengan jalan makan buah pohon hayat.
I. LAMBANG KRISTUS
Manna adalah lambang Kristus (Yoh. 6:31-35, 48-51, 57-58). Sebagai manna yang sejati, Kristus dikirim oleh Allah Bapa (ayat 32) bagi umat pilihan Allah, supaya mereka hidup oleh Kristus (ayat 57). Meskipun mungkin kita mengakui bahwa manna adalah lambang Kristus, kita tidak seharusnya memandang hal ini secara alamiah atau dangkal. Bila kita memperhatikan pengiriman manna dalam Keluaran 16, kita perlu nampak hubungan antara perihal makan kita dan kehidupan kita. Supaya hidup, kita harus makan. Hal ini juga merupakan prinsip yang mendasar dalam Alkitab. Karena itu dalam Yohanes 6:57, Tuhan Yesus berkata, “Siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Tanpa makan, kita tidak mungkin hidup.
Sekarang kita harus nampak bahwa cara kita hidup tergantung pada apa yang kita makan. Jika Anda banyak makan ikan, maka Anda akan tersusun oleh unsur ikan, sebab Anda menyerap kehidupan dan sifat ikan. Tentu saja Anda tidak akan tersusun oleh unsur ikan, jika makanan Anda bukan ikan, melainkan hanya meliputi ayam atau daging sapi. Kehidupan kita tergantung pada jenis makanan yang kita makan.
Berdasarkan gambaran dalam Kitab Keluaran, orang-orang Israel telah ditentukan untuk memiliki kehidupan yang surgawi. Akan tetapi, ketika mereka keluar dari Mesir, mereka membawa serta makanan Mesir. Selama beberapa minggu pertama dari perjalanan mereka, mereka makan makanan Mesir ini. Tetapi ketika suplai makanan Mesir tersebut habis, bangsa itu menderita dan mulai menggerutu dan bersungut-sungut. Meskipun kekurangan makanan tersebut merupakan suatu problem bagi bangsa itu, hal itu menyebabkan sukacita bagi Allah, sebab dengan demikian Allah memperoleh kesempatan yang baik sekali untuk mengubah kehidupan umat-Nya. Tujuan Allah ialah mengubah kehidupan mereka, dari kehidupan Mesir kepada kehidupan surgawi. Allah tidak hanya hendak menanggulangi, mengubah, atau mengatur bangsa itu secara luaran saja. Ia hendak mengubah mereka secara organik dengan jalan mengganti makanan mereka. Ketika orang-orang Israel berada di Mesir, mereka mempunyai banyak sekali barang untuk dimakan, yaitu semua unsur makanan Mesir. Tetapi, Allah hendak mengubah makanan mereka dari banyak jenis menjadi satu jenis, dan jenis itu ialah manna yang turun dari surga.
Dalam Kejadian 2, tujuan Allah ialah supaya pohon hayat menjadi satu-satunya makanan bagi manusia. Wahyu 22 menunjukkan bahwa pohon hayat akan menjadi satu-satunya makanan kita dalam kekekalan. Meskipun pohon ini menghasilkan 12 macam buah, namun hanya akan ada satu pohon di Yerusalem Baru, bukan banyak pohon. Sebaliknya dalam kekristenan hari ini, terdapat beribu-ribu pohon, beribu-ribu sumber makanan. Tetapi, dalam ekonomi Allah hanya ada satu pohon pohon hayat. Pohon ini dulu berada di Taman Eden, dan pohon ini akan berada di Yerusalem Baru.
Dalam Keluaran 16 dan Yohanes 6, pohon hayat muncul dengan nama manna. Jika Anda membaca Alkitab dengan cermat dan dengan pengertian, Anda akan nampak bahwa pohon hayat dan manna dipakai secara bergantian. Manna adalah pohon hayat, dan pohon hayat adalah manna. Ini berarti manna dalam Keluaran 16 adalah pohon hayat dalam Kejadian 2, dan manna dalam Yohanes 6 adalah pohon hayat dalam Wahyu 22. Manna dan pohon hayat adalah istilah-istilah yang berlainan untuk menerangkan satu benda. Allah tidak memiliki dua macam makanan untuk umat pilihan-Nya. Karena hanya ada satu Allah, maka juga hanya ada satu macam makanan. Kristus adalah manna kita, juga pohon hayat kita sampai kekal. Kita mempunyai satu Allah, yaitu Kristus, dan satu Roh. Maka kita juga mempunyai satu makanan.
Namun, orang-orang dalam dunia hidup oleh bermacam-macam makanan. Dalam berita sebelumnya telah ditunjukkan bahwa orang-orang duniawi boleh jadi hidup berdasarkan pendidikan, olahraga, dan hiburan. Tidak hanya ada swalayan makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan jasmani, ada juga swalayan makanan dan minuman yang bersifat kejiwaan atau keagamaan. Karena orang-orang dalam dunia hidup dari sedemikian banyaknya barang yang bukan Kristus, kita boleh menganggap mereka sebagai orang-orang Mesir hari ini. Sebelum kita diselamatkan, kita berada di Mesir menikmati makanan Mesir bersama orang-orang yang tidak beroleh selamat. Tetapi kita telah diselamatkan dan telah keluar dari Mesir. Sekarang, Allah bermaksud mengganti makanan kita. Akan tetapi, kita mungkin masih ingin duduk di samping kuali berisi daging, dan kita masih ingin hidup dari mentimun, semangka, bawang merah, bawang prei, dan bawang putih, atau menikmati ikan dari Sungai Nil. Karena itu, kita menghadapi masalah, yaitu kita memiliki lebih dari satu unsur dalam makanan kita, dan kita hidup dari bermacam-macam barang selain Kristus. Sebagai contoh, meskipun saya menganjurkan anak-anak muda supaya memiliki pendidikan yang baik, namun saya harus menganjurkan mereka agar tidak hidup bersandar pendidikan. Pendidikan tidak seharusnya menjadi makanan kita.
Sesuai dengan ekonomi Allah, kita harus hanya hidup bersandarkan Kristus. Kristus harus menjadi satu-satunya makanan kita, dan kita harus hidup berdasarkan Dia. Kita tidak seharusnya mencoba hidup bersandarkan makanan lain. Apa saja yang memuaskan, menguatkan, dan memelihara kita, adalah makanan kita. Satu-satunya makanan yang kita terima untuk pemeliharaan, kekuatan, dan kepuasan kita, haruslah Kristus. Namun, banyak orang beriman yang tidak mau menerima Kristus sebagai satu-satunya sumber kepuasan, kekuatan, dan pemeliharaan mereka. Sebaliknya, mereka mencoba mencari kepuasan, pemeliharaan, dan kekuatan dari benda-benda lain. Karena Allah menghendaki kita hidup bersandar Kristus, maka kita harus dipelihara, dikuatkan, dan dipuaskan oleh Kristus sendiri.
Saya sangat menekankan fakta bahwa Allah hendak mengganti makanan kita. Kehendak hati-Nya ialah menghentikan makanan yang bersifat duniawi, dan memberi kita makanan surgawi, yaitu Kristus. Karena istilah-istilah seperti pencobaan dan mengasihi dunia telah digunakan secara ringan dalam kekristenan, maka lebih baik saya tidak menggunakan istilah-istilah tersebut dalam membicarakan wahyu ilahi dalam Keluaran 16. Saya ingin bertanya mengenai makanan Anda. Hidup bersandarkan apakah Anda hari demi hari? Apa yang Anda terima untuk memuaskan, memelihara, dan menguatkan Anda? Kita semua harus menghadapi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Kita semua harus bisa berkata, “Tuhanlah satu-satunya yang memuaskan aku. Terpisah dari Dia, aku tidak memperoleh kepuasan. Setiap hari aku dikuatkan dan dipelihara oleh Kristus. Dialah satu-satunya makanan yang menunjang aku.”
Saya bisa bersaksi bahwa lima puluh tahun lebih saya telah dipuaskan, dikuatkan, dan dipelihara tidak oleh apa pun selain Kristus. Sejak saya beroleh selamat pada usia 19 tahun, Kristus telah menjadi makanan saya yang memuaskan. Saya telah memperoleh barang-barang tertentu yang baik, namun tidak satu pun dari barang-barang itu yang memuaskan saya.
Kristus harus menjadi makanan kita, kepuasan kita, kekuatan kita, dan pemeliharaan kita. Akan tetapi, ini tidak berarti kita tidak memerlukan barang-barang tertentu untuk kehidupan kita. Kita memerlukan bermacam-macam barang yang baik dan berguna, seperti pendidikan. Tetapi kita tidak seharusnya membiarkan barang-barang ini men-jadi makanan kita. Kita mungkin memerlukan dan memiliki barang-barang itu, tetapi kita tidak seharusnya hidup bersandarkan atau berdasarkan barang-barang itu. Satu-satunya makanan kita adalah Kristus.
Kristus yang menjadi makanan kita ialah Kristus yang subyektif. Dia adalah Allah yang telah melewati berbagai proses, yang tinggal di dalam roh kita sebagai Roh yang almuhit. Di satu pihak, Kristus berada di surga sebagai Tuhan; di pihak lain, Ia tinggal di dalam roh kita sebagai Roh pemberi hayat yang almuhit. Kita memandang Tuhan di surga; dan kita berhubungan dengan Roh itu di dalam roh kita. Puji Tuhan, Ia berada di dalam kita secara subyektif! Tujuan utama dari keadaan-Nya yang subyektif ini ialah Ia boleh menjadi makanan kita, suplai hayat kita. Apa saja yang menjadi makanan dan suplai hayat kita, haruslah merupakan benda yang dapat masuk ke dalam kita, dan yang kemudian terasimilasi dengan kita. Benda ini harus diterima ke dalam kita, dan harus menjadi bagian dari jaringan dan urat tubuh kita. Dalam cara yang tepat ini, Kristus bersifat subyektif bagi kita. Dalam 1Korintus 6:17 Paulus memberi tahu kita, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Bila kita makan suatu makanan, kita mengikatkan diri kita pada makanan tersebut. Sebagai contoh, bila saya makan ikan untuk makan malam, saya mengikatkan diri saya pada ikan tersebut. Dalam prinsip yang sama, bila kita makan Kristus sebagai makanan kita yang sejati, kita mengikatkan diri kita pada-Nya, dan menjadi satu roh dengan Dia. Karena itu, Kristus yang subyektif, yang kepada-Nya kita mengikatkan diri, dan yang dengan-Nya kita menjadi satu roh, adalah makanan kita, manna surgawi kita. Kita semua perlu nampak hal ini.
Dalam menyampaikan berita-berita dari Kitab Keluaran ini, saya tidak merasa puas dengan hanya memberikan pelajaran Alkitab atau ajaran-ajaran kepada kaum beriman.
Saya berharap kita mampu mengalami semua perkara ini secara nyata dan riil. Sebelum menyampaikan berita ini, saya terus-menerus berdoa kepada Tuhan, supaya kita semua boleh nampak perlunya hidup bersandarkan Kristus dan berdasarkan Kristus. Kita tidak memerlukan pengajaran, doktrin, dan pengetahuan Alkitab. Kita perlu menerima Dia sebagai makanan kita, dan kita perlu hidup berdasarkan Dia. Hidup bersandarkan Kristus dan berdasarkan Kristus ini, janganlah menjadi pelaksanaan yang hanya sekali-kali saja. Sebaliknya, hal ini harus menjadi jalan yang kita tempuh selama 24 jam sehari.
Selama beberapa bulan yang lalu, sebagian besar dari pengakuan dosa saya kepada Tuhan adalah berkenaan dengan kekurangan saya dalam memperhidupkan Dia dengan jalan menjadi satu roh dengan Dia. Setiap hari saya harus banyak mengaku dosa kepada Tuhan mengenai hal ini. Pagi-pagi sekali saya berdoa, “Tuhan, berilah aku karunia, supa-ya aku boleh memperhidupkan Engkau dan menjadi satu roh dengan-Mu.” Untuk kira-kira satu jam lamanya, mungkin saya berhasil hidup dalam satu roh dengan Tuhan. Tetapi setelah itu, saya sadar bahwa saya tidak lagi menjadi satu roh dengan Dia. Jadi, saya perlu mengaku dosa, meminta pengampunan Tuhan, dan kembali kepada-Nya. Menjadi satu roh dengan Tuhan adalah seperti bernafas, yang bukannya terjadi sekali untuk seterusnya, tetapi saat demi saat secara berkesinambungan.
Pada awalnya, saya merasa sukar untuk mengatasi dosa-dosa tertentu yang merepotkan. Sekarang, bersandar belas kasihan dan anugerah Tuhan, saya tidak lagi disusahkan oleh dosa-dosa itu. Apa yang saya rasakan sukar hari ini ialah belajar menjadi satu roh dengan Tuhan secara berkesinambungan. Ini adalah pelajaran yang sangat sukar untuk dipelajari. Jika saya tidak berlatih hidup dalam satu roh dengan Tuhan, maka ministri saya mengenai hal ini tidak riil. Memperhidupkan Kristus dan hidup berdasarkan Kristus tidak seharusnya merupakan doktrin melulu, melainkan harus menjadi kehidupan kita sehari-hari secara riil. Saya sendiri harus belajar menempuh jalan ini. Dalam pengalaman saya, saya mendapati bahwa untuk menjadi satu roh dengan Tuhan, diperlukan kepekaan yang besar. Dosa-dosa yang merepotkan orang adalah kasar, tetapi hidup dalam satu roh dengan Tuhan adalah sangat halus, lembut.
Ketika saya masih muda, saya merasa heran mengapa Tuhan memerintahkan kita supaya berjaga-jaga dan berdoa (Mat. 26:41). Saya tidak mengerti mengapa saya perlu berjaga-jaga. Sekarang saya tahu bahwa kita perlu berjaga-jaga, supaya secara batiniah kita jangan kehilangan kontak dengan Tuhan. Kita perlu berjaga-jaga, supaya dalam pengalaman kita, kita tidak menghentikan aliran listrik rohani kita sehingga terpisah dari Kristus. Untuk terputus dari Kristus, kita tidak perlu melakukan hal-hal yang kasar, seperti kehilangan kesabaran atau marah-marah. Kita dapat terputus dari Kristus hanya dengan memandang suami atau istri kita secara tidak ramah. Kita perlu berpaling kepada Tuhan, mengaku dosa, dan menerima pengampunan-Nya. Bahkan kita perlu meminta Dia membersihkan mata kita. Kita mempunyai air muka yang tidak ramah, sebab pada waktu itu kita tidak menjadi satu roh dengan Tuhan.
Setiap pagi kita harus meminta kepada Tuhan, supaya memberi kita karunia untuk menjadi satu roh dengan Dia pada hari itu. Kemudian kita perlu berlatih untuk menjadi satu roh dengan Dia secara riil. Jika kita mencoba mempraktekkan hal ini, kita akan menyadari bahwa dari waktu ke waktu, kita tidak selalu menjadi satu dengan Dia. Pengalaman kita boleh jadi mirip dengan sebuah lampu yang karena beberapa problem yang bersifat elektris, menyala dan padam dengan tidak menentu. Pernah sekali saya mempunyai lampu yang demikian pada waktu saya masih bersekolah, dan saya merasa sangat terganggu. Suatu saat lampu itu menyala, tetapi sebentar kemudian padam. Lampu itu terus padam dan menyala sepanjang hari. Sering kali kita mempunyai pengalaman yang demikian dengan Tuhan. Mereka yang ingin memperhidupkan Kristus dengan jalan menjadi satu roh dengan Dia, akan terganggu oleh pengalaman-pengalaman menyala dan padam seperti ini.
Bila Anda hendak tidur pada malam hari, mintalah kepada Tuhan, supaya mempersiapkan Anda untuk mempraktekkan hidup dalam satu roh dengan Dia pada keesokan harinya. Jika kita berusaha untuk hidup dalam keesaan dengan Tuhan, kita akan mendapati bahwa menerima Kristus sebagai makanan kita sebagian besar masih merupakan masalah doktrin bagi kita. Hal ini belum merupakan suatu realitas dalam kehidupan kita sehari-hari.
Banyak orang Kristen yang mengetahui bahwa manna adalah lambang Kristus. Tetapi tidaklah ada artinya kalau hanya mengenal hal ini sebagai suatu doktrin. Tujuan Allah ialah supaya kita sepanjang hari hidup dari Kristus. Ia tidak menghendaki kita hidup bersandarkan apa pun selain Kristus. Memang kita memerlukan barang-barang tertentu untuk hidup kita, tetapi barang-barang itu tidak seharusnya menjadi makanan bagi kita. Kristuslah satu-satunya makanan kita, dan kita harus hidup hanya berdasarkan Dia dan bersandarkan Dia. Semoga mata kita terbuka, sehingga nampak akan perkara yang penting ini.
II. SATU-SATUNYA MAKANAN
BAGI UMAT PILIHAN ALLAH
Manna surgawi haruslah menjadi satu-satunya makanan bagi umat pilihan Allah. Orang-orang Israel bahkan dapat berkata, “tidak ada sesuatu apa pun, kecuali manna ini saja yang kita lihat” (Bil. 11:6b). Dalam hal Kristus sebagai satu-satunya makanan bagi umat Allah, saya hendak berbicara mengenai keunikan ministri. Beberapa orang Kristen mengatakan bahwa ada banyak ministri. Dalam kekristenan hari ini, sebagaimana telah saya tunjukkan, terdapat beratus-ratus sumber, terdapat pula beratus-ratus apa yang dinamakan ministri. Tetapi dalam Alkitab, terutama dalam Perjanjian Baru, hanya ada satu ministri. Dua belas rasul dalam Perjanjian Baru, semuanya mendapat bagian dalam ministri yang sama. Dalam suatu berita yang berjudul “The Ministry in the New Testament Economy” kita membahas kebenaran mengenai ministri dalam ekonomi Perjanjian Baru. Dalam berita itu telah ditunjukkan bahwa dalam pandangan Tuhan, hanya ada satu ministri pada zaman Perjanjian Baru. Dua belas rasul sebermula tidak memiliki ministri yang berbeda. Sebaliknya, mereka semua mendapat bagian dalam ministri Perjanjian Baru yang unik ini. Berbicara tentang Yudas, Petrus berkata bahwa “dahulu ia termasuk salah seorang dari kami dan mengambil bagian di dalam pelayanan ini” (Kis. 1:17). Ini membuktikan bahwa kedua belas rasul tersebut berada dalam “pelayanan ini”. Ini menunjukkan bahwa hanya ada satu ministri yang unik dalam Perjanjian Baru. Karena itu, ketika rasul-rasul tersebut berdoa untuk mencari pengganti Yudas, mereka memohon kepada Tuhan supaya menunjukkan siapa yang Ia pilih untuk mengambil bagian di dalam pelayanan ini (Kis. 1:25).
Rasul Paulus juga mempunyai bagian dalam ministri ini. Dalam 2Korintus 4:1 ia berkata, “kami telah menerima pelayanan (ministri) ini.” Ia tidak berkata, “Aku telah menerima ministri ini” atau “Kami telah menerima ministri-ministri ini.” Lagi pula, dalam 1Timotius 1:12 Paulus berkata, “Aku bersyukur kepada Dia yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku.” Dalam ayat ini Paulus tidak berkata, “Ia mempercayakan ministriku kepadaku,” tetapi ia berkata bahwa Tuhan mempercayakan kepadanya ministri Perjanjian Baru yang unik.
Para Rasul hanya mempunyai satu ministri, sebab mereka menyuplaikan makanan yang sama. Kita semua tahu bahwa Perjanjian Baru memiliki empat kitab Injil. Matius menulis dari sudut jabatan raja; Markus dari sudut pelayanan; Lukas dari sudut penebusan melalui manusia yang normal; dan Yohanes dari sudut hayat melalui sifat ke-Allahan Kristus. Meskipun demikian, kitab-kitab Injil tersebut membicarakan satu Orang. Penulis-penulis dari keempat kitab Injil semuanya menyuplaikan Kristus yang sama. Ini menunjukkan bahwa meskipun penekanan penulis-penulis kitab Injil tersebut berbeda, tetapi mereka tetap satu ministri. Masing-masing kitab merupakan biografi dari persona ajaib yang sama. Tetapi dalam dunia kekristenan hari ini terdapat banyak sekali ministri yang berlainan. Ministri-ministri ini menyebabkan terjadinya perpecahan. Sebagai pengganti dari satu pohon dengan satu makanan, ada beratus-ratus pohon yang memproduksi banyak sekali jenis makanan.
Mereka yang menentang pemulihan Tuhan, kadang-kadang mengatakan bahwa gereja-gereja lokal hanya mendengarkan dan mematuhi satu orang saja, yaitu Witness Lee, dan tidak menerima ministri orang lain. Sangatlah keliru jika mengatakan bahwa gereja-gereja lokal hanya mendengarkan dan mematuhi saya. Tetapi dengan sungguh-sungguh saya katakan bahwa semua gereja hanya mempunyai satu ministri. Kita dalam pemulihan Tuhan hari ini mempunyai ministri yang unik. Ministri ini sama dengan ministri pada permulaan pemulihan Tuhan. Lagi pula, ministri ini sama dengan yang ada di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, Eropa, Asia, Afrika, dan Australia, ministri ini adalah satu dan sama. Meskipun hanya ada satu ministri dalam pemulihan Tuhan, namun ada beratus-ratus, bahkan beribu-ribu pembicara. Semua pembicara ini membicarakan hal yang sama, meskipun mungkin mereka membicarakannya dari sudut yang berlainan. Puji Tuhan karena ministri dalam pemulihan-Nya ini! Kita semua makan dari satu pohon, yaitu pohon hayat. Kita tidak mempunyai sumber yang lain.
Dalam pemulihan Tuhan, kita tidak dapat menerima setiap ministri yang bukan merupakan bagian dari ministri itu. Jika kita menerima jenis ministri yang lain, berarti kita menerima makanan yang berbeda dari manna surgawi. Kita bersyukur kepada Tuhan, sebab dari semula Ia telah menunjukkan kepada kita apakah ministri Kristus itu, yaitu ministri hayat. Kita mempunyai satu pohon hayat, satu manna. Selama saya berada di Amerika Serikat, saya telah menyampaikan beribu-ribu berita. Tetapi semua berita ini menyampaikan satu makanan, yaitu Kristus sebagai satusatunya makanan bagi umat Allah.
Jika Tuhan mengizinkan, saya bisa menyampaikan berita demi berita mengenai doktrin. Tetapi Tuhan tidak mengizinkan saya membicarakan hal-hal yang sedemikian. Ketika saya tengah menyampaikan berita-berita Pelajaran Hayat Wahyu dan Matius, Tuhan menjaga saya dari kekacauan antara pohon hayat dan pengetahuan tentang nubuat. Tetapi, kadang-kadang saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan nubuat Alkitab, sebagai contoh, yaitu mengenai enam puluh dua kali tujuh masa dalam Daniel 9. Pertanyaan semacam ini bisa menjadi suatu pencobaan. Begitu saya membuka mulut menjawab pertanyaan yang sedemikian ini, saya teringat bahwa tugas saya adalah menyuplaikan Kristus sebagai satu-satunya makanan. Kita tidak mempunyai pohon yang lain yang disebut pohon doktrin atau pohon nubuat.
Dalam pemulihan Tuhan, kita memelihara gandum, bukan sekam. Meskipun mungkin terdapat beribu-ribu butir gandum, semua butir itu menghasilkan gandum, bukan hasil tuaian lainnya. Dalam prinsip yang sama, Alkitab hanya memproduksi Kristus sebagai satu-satunya makanan kita. Karena alasan inilah, kita tidak menerima ministri-ministri yang memberikan jenis makanan lain.
Berdasarkan Alkitab, Allah hanya mempunyai satu ministri. Ministri ini adalah ministri Kristus, yakni ministri hayat. Mereka yang mengambil bagian dalam ministri yang unik ini mengucapkan perkataan yang sama, dan mempunyai tujuan yang sama pula. Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa selama tahun-tahun pemulihan Tuhan ada di Amerika Serikat, pembicaraan dan sasaran kami telah menjadi satu. Penyebab dari keesaan ini ialah ministri kita adalah satu, dan hayat yang kita suplaikan kepada kaum beriman juga satu.
Saya mempunyai beban untuk menekankan pentingnya ministri unik yang ada dalam Alkitab dan pemulihan Tuhan hari ini, sebab beberapa orang mengkritik kita karena kita tidak menerima ministri-ministri lain. Mereka mencari kesalahan pada fakta bahwa ministri dalam pemulihan Tuhan adalah satu. Kritikan-kritikan mengenai ministri ini sangat halus, seperti perkataan ular dalam Kejadian 3. Saya berharap, kata-kata ini akan menyuntik kita untuk mencegah racun-racun yang halus tersebut. Bila seseorang berbicara tentang ministri unik dalam pemulihan Tuhan tersebut dengan bersifat mencela, kita harus menjawab bahwa kita mempunyai satu ministri, sebab dalam Alkitab hanya ada satu pohon hayat. Karena kita mempunyai satu Allah, satu Kristus, dan satu Roh dengan satu pohon hayat, maka kita juga mempunyai satu ministri. Puji Tuhan bahwa dalam pemulihan-Nya hanya ada satu ministri! Karena ministri ini unik, maka tidak akan ada perpecahan di antara kita. Akan tetapi, jika ada dua ministri, akan terjadi perpecahan. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa kita bertahan dalam keesaan, karena kita mempunyai satu ministri.
Tetapi kita harus mengerti dengan jelas bahwa mempunyai satu ministri, bukan berarti hanya ada satu pembicara untuk semua gereja. Hari ini ada lebih dari 350 gereja lokal. Bisakah hanya ada satu orang yang berbicara di dalam semua gereja tersebut? Seperti yang telah saya tunjukkan, di Timur Jauh dan di Barat, terdapat banyak sekali pembicara yang membicarakan hal yang sama bagi tujuan yang sama pula.
Karena manna adalah satu-satunya makanan bagi umat pilihan Allah, mereka tidak diizinkan memilih makanan lain menurut selera mereka sendiri. Dalam hal makan, orang lebih suka makan makanan yang sesuai dengan selera pribadi mereka. Sebagai contoh, di Hong Kong banyak sekali restoran China yang khusus menjual berbagai jenis makanan. Untuk makanan jasmani kita, kita dapat memilih dari bermacam-macam pilihan restoran China, dan juga bermacam-macam gaya masakan Barat yang berlainan. Tetapi di Yerusalem Baru, hanya ada satu jenis makanan. Berdasarkan visi tentang Yerusalem Baru dalam Wahyu 22, sungai air hayat mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba, dan di sepanjang sungai itu tumbuh pohon hayat. Demikian juga dalam pemulihan Tuhan, kita memiliki Kristus sebagai satu-satunya makanan kita.