← Daftar isi Keluaran (3) · bab 2/16

PENGGANTIAN MAKANAN

Pembacaan Alkitab:

Kel. 16:1-5, 13-31, 35; Bil. 11:1-9, 18-20, 31-34;

Yoh. 6:27, 31-35, 48-51, 57-58

Dalam berita ini kita akan memperlihatkan penggantian makanan yang dinyatakan dalam pasal 16. Dalam seluruh Kitab Keluaran, tidak ada perkara yang lebih penting daripada ini. Sebelumnya kita telah nampak pentingnya Paskah dalam pasal 12. Paskah menyatakan penebusan dan kelahiran kembali, sebab dengan Paskah kita memiliki darah anak domba bagi penebusan dan daging anak domba bagi hayat. Jadi, pada Paskah kita memiliki dua perkara yang mendasar, yaitu penebusan dan hayat. Tetapi dalam Keluaran 12, kita tidak melihat perkara yang penting mengenai penggantian makanan. Tujuan Allah ialah mengubah susunan kita, artinya, Allah bermaksud menyusun kembali kita. Tidak banyak pembaca kitab ini yang telah nampak bahwa penyusunan kembali umat Allah tersebut dinyatakan dalam pasal 16. Butir yang terpenting dalam pasal ini ialah Allah bermaksud menyusun kembali umat tebusan-Nya dengan jalan mengganti makanan mereka.

Kitab Keluaran menyajikan gambaran yang jelas tentang penyelamatan Allah, yakni gambaran yang tidak didapati pada kitab lain dalam Alkitab, termasuk Surat-surat Paulus. Gambaran ini menunjukkan kepada kita bahwa dalam penyelamatan Allah, Allah ingin menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita, untuk menjadi segala sesuatu kita. Allah bermaksud menjadi segala sesuatu kita, supaya kita dapat dibangun menjadi tempat kediaman-Nya di atas bumi. Untuk menggambarkan hal ini, Kitab Keluaran berakhir dengan berdirinya Kemah Pertemuan (tabernakel) sebagai tempat kediaman bagi kemuliaan Allah.

Untuk mencapai tujuan-Nya, Allah tidak menghendaki umat tebusan-Nya menjadi sesuatu atau melakukan sesuatu. Agar kita bisa menjadi tempat kediaman-Nya, Ia hendak menjadi segala sesuatu kita, dan Ia hendak melakukan segala sesuatu bagi kita. Ini menunjukkan bahwa kita bukanlah apa-apa dan tidak seharusnya melakukan apa pun. Apakah Anda mau menjadi bukan apa-apa? Apakah Anda juga mau berhenti dari pekerjaan Anda? Saya merasa sangsi ada orang beriman yang dapat menjawab pertanyaan ini secara positif. Ketika kita hidup dalam dunia, kita tidak mempunyai hati terhadap Tuhan, dan kita tidak suka melakukan sesuatu untuk Dia. Tetapi setelah kita masuk ke dalam pemulihan Tuhan, dengan segera kita mempunyai keinginan untuk menjadi orang yang penting dan melakukan sesuatu untuk Tuhan. Baik yang tua maupun yang muda sama saja. Orang yang tua mempunyai banyak rencana, dan orang yang muda mempunyai keinginan dan energi yang besar. Meskipun kita ingin menjadi sesuatu dan berbuat sebanyak mungkin, Allah akan berkata, “Aku tidak menghendaki kalian menjadi sesuatu, dan Aku tidak ingin kalian melakukan sesuatu. Biarlah Aku melakukan semuanya untuk kalian, dan biarlah Aku menjadi segala sesuatu kalian.”

Jika kita memperhatikan gambaran tentang keselamatan Allah yang disajikan dalam Kitab Keluaran, kita akan nampak bahwa orang-orang Israel tidak menjadi sesuatu atau melakukan sesuatu. Bila mereka melakukan sesuatu, Tuhan akan sakit hati, sekalipun yang mereka lakukan adalah perkara yang baik. Tuhan hanya menghendaki umat-Nya berada dalam tangan-Nya, sehingga Ia dapat menggarapkan diri-Nya ke dalam mereka. Jika kita mempunyai pengertian yang jelas tentang ini, kita akan mempunyai dasar yang kuat untuk memahami Kitab Keluaran.

Ketika kita sampai pada pasal 16, kita nampak pentingnya penyusunan kembali. Dalam pasal 12, umat Allah ditebus, dan dalam pasal 14, mereka dibebaskan. Tetapi meskipun mereka telah ditebus, diselamatkan, dan dibebaskan, dan meskipun kebutuhan mereka telah tersuplai, mereka masih perlu disusun kembali. Umat Allah memerlukan suatu susunan yang baru. Hal yang penting dalam pasal 16 bukanlah penebusan, pembebasan, atau penyuplaian. Hal yang penting dari pasal ini ialah penyusunan kembali melalui penggantian makanan.

Meskipun orang-orang Israel telah ditebus dan dibebaskan, mereka masih bersifat Mesir dalam susunan mereka. Sel-sel dan urat-urat tubuh mereka masih bersifat Mesir, dan susunan-Nya tidak berbeda dengan orang-orang Mesir. Orang-orang Israel telah diselamatkan, ditebus, dibebaskan, dan disuplai, namun susunan mereka masih mutlak sama seperti orang-orang Mesir. Allah tidak akan pernah dapat menggunakan bahan-bahan yang demikian untuk tempat kediaman-Nya yang surgawi.

Kehendak Allah ialah memakai umat-Nya sebagai bahan-bahan untuk pembangunan tempat kediaman-Nya di bumi. Tetapi meskipun bangsa itu tidak lagi berada di Mesir, mereka masih bersifat Mesir dalam susunan mereka. Mereka masih merupakan susunan dari unsur Mesir, sebab mereka bertumbuh dewasa di Mesir, dan mereka dibesarkan dengan makanan Mesir yaitu mentimun, semangka, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih. Segala sesuatu yang mereka makan bersifat Mesir. Tujuan Allah bukan membawa sejumlah orang Mesir yang tertebus ke dalam surga. Mungkin saja Ia menyelamatkan orang-orang yang mempunyai susunan Mesir itu dari Tanah Mesir, tetapi Ia tidak akan membawa orang-orang yang demikian ke dalam tempat kediaman-Nya. Untuk menjadi bahan bagi tempat kediaman-Nya, umat Allah harus disusun kembali. Seperti orang-orang Israel, hari ini kita telah keluar dari Mesir, keluar dari dunia, namun dalam sifat dan susunan kita, kita masih bersifat Mesir. Karena itu, kita perlu memahami hal yang terpenting dalam pasal 16 yang berkenaan dengan pengubahan susunan ini.

Sewaktu Allah membawa umat-Nya ke padang gurun, Ia telah siap untuk mengubah susunan mereka. Inilah alasannya Ia tidak segera menyuplai mereka dengan makanan. Ketika mereka berjalan keluar dari Mesir, mereka membawa sejumlah bahan makanan Mesir. Suplai makanan ini menunjang mereka selama kurang lebih satu bulan. Ketika makanan dari Mesir itu telah habis, bangsa itu dalam keadaan kekurangan. Meskipun Allah mengetahui kebutuhan mereka, Ia tidak segera bertindak untuk memenuhi kebutuhan itu. Inilah prinsip Allah dalam menanggulangi kita. Ia tahu bahwa Ia harus melakukan sesuatu untuk kita, namun Ia menahan diri, sebab Ia menyadari bahwa jika Ia bertindak sebelum waktunya, kita tidak akan tersingkap. Karena itu, dalam Keluaran 16, Allah menunggu sampai orang-orang Israel tersingkap. Setelah mereka memakan makanan Mesir yang terakhir dan tidak mempunyai apa-apa lagi untuk dimakan, mereka merasa menderita. Penderitaan mereka sedemikian hebatnya, sehingga mereka lupa akan mukjizat-mukjizat yang telah Tuhan tunjukkan, dan mereka bersungut-sungut serta mengeluh kepada Musa dan Harun. Sebagaimana telah saya tunjukkan, mereka sangat fasih dalam sungut-sungut mereka. Tetapi sewaktu mereka bersungut-sungut dan mengeluh, mereka tersingkap. Dua hal yang berkenaan dengan tersingkapnya mereka adalah: mereka tersusun dari unsur Mesir, dan selera, rasa lapar, kehausan, dan keinginan mereka masih bersifat Mesir. Dalam sungut-sungut mereka, mereka menyatakan keinginan mereka terhadap makanan Mesir, “Ah, kalau kami mati tadinya di Tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang!” (16:3). Ini membuktikan bahwa selera mereka masih bersifat Mesir.

Seandainya Allah telah menurunkan manna sebelum orang-orang Israel sampai di padang gurun dan manna itu telah menanti kedatangan mereka di sana, maka bangsa itu tidak akan tersingkap. Mereka hanya akan makan manna, sedangkan problem susunan dan selera mereka yang bersifat Mesir belum tersingkap jelas. Karena itu, dalam hikmat-Nya, Allah tidak mengirim suplai manna surgawi sampai bangsa itu tersingkap.

Bila kita kurang makan, kita akan tersingkap. Jika kita selalu makan dengan cukup, banyak hal akan tetap tertutup. Tetapi bila kita kekurangan makanan yang cukup, kita akan tersingkap. Bila penuh dengan makanan, kebanyakan orang tidak akan berpikir untuk mencuri. Tetapi jika kekurangan makanan, banyak orang yang beradab dan berbudaya pun akan menjadi pencuri. Mereka akan tersingkap karena kekurangan makanan. Menurut catatan dalam Keluaran 16, Allah tidak memberikan apa pun kepada umat-Nya sampai mereka tersingkap. Ini perlu, agar melalui kelaparan, nafsu makan mereka, keinginan, dan susunan mereka yang bersifat Mesir itu dibawa kepada terang.

Setelah bangsa itu tersingkap, Allah datang untuk me-menuhi nafsu mereka dengan mengirimkan burung-burung puyuh pada senja hari. Menurut 16:12, Tuhan berkata kepada Musa, “Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.”

Kita perlu melihat arti pengiriman burung-burung puyuh dan manna tersebut. Allah mengirimkan burung-burung puyuh untuk memenuhi nafsu makan mereka yang bersifat Mesir, tetapi Ia mengirimkan manna untuk menyusun kembali mereka. Lagi pula, pengiriman burung-burung puyuh tersebut tidak disertai dengan peraturan dan batasan. Allah tidak mengatakan kepada bangsa itu kapan dan bagaimana mereka harus memungut burung-burung puyuh tersebut. Burung-burung puyuh tersebut dikirim tanpa batasan, sebab daging tidak menghendaki pembatasan. Dengan kata lain, karena makanan Mesir tidak mempunyai batasan, maka burung-burung puyuh tersebut dikirim dengan suatu cara untuk disesuaikan dengan makanan itu, yaitu tanpa pembatasan dan peraturan. Mereka yang makan burung-burung puyuh itu tidak terkendali dan tidak teratur. Sebaliknya, pengiriman manna disertai dengan sejumlah peraturan.

Beberapa orang mungkin akan merasa heran mendengar peraturan yang berhubungan dengan pengiriman manna. Berdasarkan pengertian mereka, berkat tidak disertai dengan peraturan. Tetapi sebenarnya, lebih banyak peraturan yang menyertai berkat daripada hukum. Jika seseorang hidup secara terpisah dari hayat ilahi, ia akan menjadi liar dan tidak terkendali. Tetapi, hayat Allah mengatur dan membatasi. Semakin kita berada dalam hayat, semakin kita diatur. Misalnya, mengemudikan mobil. Jika Anda mengemudikan mobil tanpa peraturan, maka Anda akan mengalami kecelakaan yang berat. Bahkan mungkin Anda akan meninggal.

Peraturan-peraturan yang berkenaan dengan pengiriman manna dan burung-burung puyuh dapat juga diilustrasikan dengan ketaatan terhadap etika makan. Saya tahu bahwa bangsa-bangsa tertentu seperti orang Inggris dan Jerman, sangat memperhatikan etika makan secara keseluruhan. Kita pasti mempunyai peraturan-peraturan tertentu supaya kita dapat makan secara pantas. Sangatlah sukar untuk menikmati makanan, kalau kita tidak makan dengan cara yang benar. Sebagai contoh, dapatkah Anda menikmati steak jika Anda mencoba memotongnya dengan sendok? Jika kita makan steak dengan cara yang lebih tepat, maka kita akan lebih nikmat. Kita tidak seharusnya mempunyai sikap yang acuh tak acuh terhadap peraturan makan dan hanya mempedulikan makanannya saja.

Kita telah nampak bahwa burung-burung puyuh dikirim dalam cara yang tidak disertai dengan peraturan. Burung-burung puyuh itu menutupi perkemahan, dan orang-orang Israel mengumpulkan burung-burung itu dengan cara yang mereka kehendaki. Akan tetapi, pengiriman manna sangat berbeda. Untuk memungut manna, bangsa itu harus bangun pagi-pagi sebelum matahari menjadi panas. Lagi pula, mereka tidak mengumpulkan manna itu dengan cara yang tamak, mereka dibatasi. Dalam 16:16 kita nampak bahwa Tuhan memerintahkan, “Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa.” Ini menunjukkan bahwa Allah menghendaki kita supaya bekerja sama dengan peraturan-peraturan-Nya. Ketika kita melakukan hal ini, berarti kita bekerja sama dengan Allah sendiri, dan kita esa dengan Dia. Menaati peraturan-peraturan Allah berarti kita seperti Dia dan menuruti Dia.

Dalam 16:19, kita nampak satu peraturan lagi yang berkenaan dengan manna, di mana Musa menyuruh bangsa itu supaya tidak menyimpan manna itu sampai keesokan paginya. Mereka yang tidak menaati peraturan tersebut, mendapati bahwa manna itu “berulat dan berbau busuk” (ayat 20). Selanjutnya, pada hari keenam, orang-orang Israel diperintahkan untuk memungut roti itu “dua kali lipat banyaknya, dua gomer untuk tiap-tiap orang” (ayat 22); mereka tidak akan memungutnya pada hari Sabat. Peraturan-peraturan ini juga menunjukkan bahwa untuk makan manna haruslah menurut Allah.

Makan burung puyuh akan membuat orang menjadi liar dan tidak terkendali, tetapi makan manna akan menyebabkan orang teratur dan menurut Allah. Mereka yang disusun kembali akan diatur. Mereka harus bangun memungut manna sesuai dengan peraturan waktu dari Allah, dan mereka harus mengumpulkannya sesuai dengan cara Allah, bukan menurut ketamakan mereka. Allah tidak memperbolehkan kita malas atau tamak. Kita harus rajin, tetapi kita tidak boleh memungut manna menurut ketamakan kita. Mereka yang memungut lebih banyak manna, tetap tidak akan lebih dari satu gomer.

Saya harap, kita memegang satu pokok penting bahwa makan manna akan menyebabkan kita sesuai dengan Allah. Semakin kita makan manna, semakin pula kita sesuai dengan Allah, dan semakin pula kita berpihak kepada Allah. Kelakuan kita dan semua perbuatan kita akan sesuai dengan peraturan Allah. Kita akan menjadi orang-orang yang hidup, bertindak-tanduk, berperilaku, dan berjalan menurut apa adanya Allah. Sebaliknya, makan burung puyuh adalah sesuai dengan corak, kebiasaan, dan cara Mesir, yaitu liar dan tanpa peraturan. Tetapi makan manna membuat perilaku kita sama dengan perilaku Allah. Ini menyebabkan kita bertindak sama seperti Allah.

Pokok yang penting dalam pasal 16 ialah Allah hendak menyusun kembali umat tebusan-Nya. Setelah Allah menebus kita, menyelamatkan kita, dan membebaskan kita dari dunia, Ia akan mengganti makanan kita untuk mengubah susunan kita. Tujuan-Nya ialah untuk menyingkirkan setiap bekas dari susunan yang bersifat Mesir. Mahasiswa-mahasiswa kedokteran mengetahui bahwa makanan baru akan menyebabkan sel-sel dan jaringan tubuh kita berangsur-angsur berubah. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya datang dari Timur Jauh ke Amerika Serikat, saya tersusun dari makanan China. Tetapi lewat beberapa tahun kemudian, saya telah tersusun kembali menurut makanan Amerika Serikat. Ini mengilustrasikan keinginan Allah untuk menyusun kembali umat-Nya dengan jalan mengganti makanan mereka. Melalui penggantian makanan, jaringan tubuh dan sel-sel mereka akan tersusun kembali.

Telah berkali-kali kita membicarakan tentang makanan Mesir. Sekarang kita sampai pada masalah yang penting mengenai apa dan meliputi apa saja makanan Mesir itu. Makanan Mesir ialah semua benda yang darinya kita ingin hidup juga ingin memperoleh kepuasan. Makanan yang demikian ini boleh jadi meliputi televisi, olah raga, musik, majalah, surat kabar, atau bentuk-bentuk hiburan lain yang bersifat duniawi. Ada beberapa orang yang tidak dapat hidup tanpa televisi atau surat kabar. Ini menunjukkan bahwa benda-benda itu merupakan sebagian dari makanan mereka yang bersifat Mesir. Ada juga yang hidup dari melihat-lihat etalase toko. Mungkin mereka tidak membeli apa-apa, tetapi mereka merasa nikmat jika melihat benda-benda yang ada di dalam etalase toko. Melalui ilustrasi-ilustrasi ini, kita dapat dengan mudah memahami bahwa Amerika Serikat adalah negara yang paling bersangkutan dengan makanan yang bersifat Mesir. Di Amerika Serikat terdapat sebuah Sungai Nil modern, yang menghasilkan semua gaya dari suplai duniawi.

Sebelum kita diselamatkan, kita semua memiliki makanan Mesir. Tetapi setelah kita diselamatkan, kita harus mengganti makanan kita. Namun, banyak orang Kristen yang setelah diselamatkan, masih hidup menurut makanan mereka yang dulu. Ini berarti mereka masih terus menginginkan dan haus akan barang-barang duniawi.

Beberapa orang mungkin mengira bahwa dalam membicarakan makanan yang bersifat Mesir, saya sedang menanggulangi masalah mengasihi dunia. Ini merupakan cara yang amat dangkal dalam melihat masalah yang menyangkut penggantian makanan. Yang penting di sini ialah apa saja yang kita inginkan, kita dambakan, dan kita kehendaki, ialah makanan yang sesuai dengan apa yang tersusun di dalam diri kita. Selain mereka yang berada dalam gereja lokal, jarang ada orang Kristen yang telah disusun kembali melalui penggantian makanan. Dengan tinggal di rumah beberapa orang Kristen selama perjalanan saya, saya mengetahui bahwa selera dari beberapa orang beriman masih tertuju kepada barang-barang Mesir. Tidak banyak orang Kristen yang memiliki rasa lapar dan haus yang sejati terhadap Kristus.

Di padang gurun, Allah tidak memberikan apa-apa kepada orang-orang Israel selain manna. Menurut Bilangan 11:6, bangsa itu mengeluh, “Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apa pun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.” Betapa mengherankan bahwa Allah tidak memberikan apa-apa kepada bangsa itu kecuali manna! Ini menunjukkan bahwa Ia tidak memberikan apa-apa kepada mereka kecuali Kristus. Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa banyak gereja yang tidak memiliki selera terhadap barang-barang lain kecuali Kristus. Hari demi hari, banyak orang dalam gereja yang mempunyai nafsu makan terhadap Kristus dan hanya Kristus melulu. Kita haus akan Dia, dan kita ingin berkontak dengan Dia, membaca firman, menyeru nama-Nya, dan membaca berita-berita yang telah dicetak. Benar-benar Tuhan telah mengganti makanan kita.

Saya dapat bersaksi bahwa saya hidup bersandar Tuhan Yesus Kristus, bukan bersandar yang lainnya. Saya sering membaca surat kabar. Tetapi bila surat kabar itu menjadi sebagian dari makanan saya, dengan segera saya bertobat dan mohon ampun kepada Tuhan, sebab saya telah beralih kepada barang-barang lain selain Dia, untuk memuaskan keinginan saya. Kapan saja kita menginginkan dan haus akan barang-barang selain Kristus, kita bersalah.

Kita perlu memahami berita ini dengan cara yang benar. Beban saya bukanlah menyuruh kaum beriman untuk tidak mengasihi dunia, melainkan menunjukkan perlunya pergantian makanan. Semoga Tuhan membuang hasrat dan keinginan kita terhadap benda-benda lain selain Kristus! Kita memerlukan pakaian dan tempat tinggal yang pantas. Akan tetapi, nafsu makan kita, hasrat kita, harus tidak tertuju kepada barang-barang ini. Nafsu makan kita harus tertuju kepada Kristus. Kita seharusnya tidak berusaha memuaskan nafsu kita dalam berpakaian atau rumah yang lebih indah. Allah telah mengganti makanan kita dan barang-barang Mesir dengan Kristus sendiri.

Ini tidak berarti kita harus hidup seolah-olah kita adalah biarawan atau biarawati. Kita tidak harus seperti aliran Amish, yang hanya memakai pakaian warna-warna tertentu. Para saudari perlu berpakaian secara pantas, tetapi janganlah mempunyai selera terhadap gaya atau mode zaman. Sebaliknya, selera mereka haruslah terhadap Kristus. Kita semua perlu berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu. Aku ingin menghirup, minum, dan makan Dikau. Tuhan, aku ingin makan Dikau.” Keinginan kita, kehausan kita, hasrat kita, dan selera kita, haruslah terhadap Kristus sebagai manna surgawi.

Selama 40 tahun, Allah tidak memberi apa-apa kepada orang-orang Israel untuk dimakan selain manna. Sebagaimana telah saya jelaskan, tidak ada seorang pun yang mengetahui intisari atau unsur manna. Kita hanya mengetahui bahwa setiap hari manna itu turun dari surga. Dari Yohanes 6, kita juga mengetahui bahwa manna surgawi itu merupakan lambang Kristus. Kristus datang dari Allah untuk menjadi makanan kita. Kita perlu makan Dia, minum Dia, dan menghirup Dia. Kita memerlukan pengubahan di dalam susunan batin kita. Kita tidak hanya memerlukan pengubahan kelakuan yang di luar. Jika kita ingin mempunyai pengubahan batin yang demikian, kita perlu memiliki penggantian suplai makanan, sebab makanan yang kita makan adalah sumber dari susunan kita. Para ahli gizi mengatakan bahwa kita adalah apa yang kita makan. Makanan yang kita makan itu secara organik masuk ke dalam kita, dan menjadi susunan kita. Sebagai umat Allah hari ini, kita perlu disusun kembali dengan Kristus sebagai unsur kita. Dengan cara ini, kita akan menjadi Kristus menurut susunan kita. Melalui penggantian makanan, kita menerima intisari surgawi yang menyusun kembali kita dengan Kristus. Pengubahan susunan melalui penggantian makanan ini, sama sekali berbeda dengan metode perbaikan diri yang dipraktekkan dalam agama.

I. MAKANAN MESIR

A. MEMBUAT ORANG MENJADI BERSIFAT MESIR

Makanan Mesir menyebabkan orang menjadi bersifat Mesir. Sebagai contoh, jika orang menonton televisi, mereka menjadi “televisi”. Demikian juga, jika mereka diberi olah raga dan hiburan tertentu, mereka menjadi tersusun oleh olahraga atau hiburan itu. Ilustrasi-ilustrasi ini menunjukkan bahwa makanan Mesir menyusun orang-orang dengan unsur Mesir, dan membuat mereka menjadi bersifat Mesir di dalam susunan mereka.

B. SESUAI DENGAN NAFSU DAGING

Lagi pula, makanan Mesir sesuai dengan nafsu daging (16:3; Bil. 11:4-5). Apa saja yang bersifat duniawi, sesuai dengan selera daging kita yang penuh nafsu.

C. MEMBANGKITKAN MURKA KEKUDUSAN ALLAH

Keinginan bangsa itu terhadap makanan Mesir membangkitkan murka kekudusan Allah (Bil. 11:1). Dalam kemarahan dan ketidaksenangan-Nya itu, Ia mengirimkan burung-burung puyuh kepada mereka.

D. MENYEBABKAN KEMATIAN

Akhirnya, makanan Mesir itu mengakibatkan kematian (Bil. 11:33-34). Akibat dari makanan Mesir ialah kematian rohani. Karena demikian banyak orang Kristen yang masih menginginkan barang-barang Mesir, mereka menderita kematian rohani, dipukul oleh murka kekudusan Allah.

II. MAKANAN SURGAWI

A. MEMBUAT ORANG MENJADI SURGAWI

Makanan surgawi membuat orang menjadi surgawi. Makanan surgawi ini sebenarnya ialah Kristus sendiri. Ia adalah makanan, yaitu manna. Karena itu, dengan makan Kristus, kita menjadi Kristus; yaitu Kristus menjadi susunan unsur kita.

B. MENGGENAPKAN KEHENDAK ALLAH

Makanan surgawi menggenapkan kehendak Allah. Mereka yang mendirikan Kemah Pertemuan bukanlah orang-orang Mesir, melainkan orang-orang dengan susunan surgawi. Sekurang-kurangnya empat bulan setelah orang-orang Israel meninggalkan Mesir, mereka mulai mendirikan Kemah Pertemuan. Selama empat bulan ini, makanan mereka telah diganti, dan paling tidak susunan mereka sedang dalam proses pengubahan dan digantikan dengan unsur manna. Karena mereka tersusun dari manna, mereka dapat mendirikan Kemah Pertemuan sebagai tempat kediaman Allah. Gambaran ini menunjukkan bahwa hanya mereka yang telah disusun kembali dengan Kristuslah yang memenuhi syarat untuk dibangun menjadi gereja sebagai tempat kediaman Allah hari ini. Inilah arti dari perkataan bahwa makanan surgawi menggenapkan kehendak Allah.

Bawang putih, bawang prei, bawang merah, semangka dan mentimun, hanya membuat umat Allah menjadi bersifat Mesir dalam susunan mereka. Barang-barang ini hanya dapat memuaskan nafsu mereka, tetapi tidak memungkinkan mereka menggenapkan kehendak Allah. Supaya kehendak Allah dapat dirampungkan, umat-Nya harus disusun kembali dengan manna. Ini mewahyukan bahwa susunan kita harus diatur kembali melalui makan Kristus. Kristus harus menggantikan makanan Mesir. Untuk pembangunan gereja, kita semua perlu disusun kembali dengan Kristus. Ingatlah bahwa mereka yang mendirikan Kemah Pertemuan telah mengalami penggantian makanan dan telah mulai disusun kembali dengan unsur manna. Hanya orang-orang demikianlah yang dapat mendirikan tempat kediaman Allah. Sebenarnya, setelah disusun kembali, mereka sendirilah yang menjadi tempat kediaman Allah.

C. MENGUJI BANGSA ITU DALAM HUBUNGAN MEREKA DENGAN KEHENDAK ALLAH

Makanan surgawi juga menguji kita dalam hubungan kita dengan kehendak Allah, dan membuktikan di mana kita berada (16:4-5, 16-30). Apakah kita satu dan serasi dengan Allah? Peraturan-peraturan yang rinci mengenai pemungutan manna akan membuktikan di mana kita berada. Peraturan-peraturan ini membuktikan apakah kita sesuai dengan Allah atau tidak.

D. MEMPERTAHANKAN BANGSA ITU UNTUK

MENGGENAPKAN KEHENDAK ALLAH

Makanan surgawi juga mempertahankan umat Allah untuk menggenapkan kehendak-Nya (16:35; Yoh. 6:57). Melalui makanan surgawi kita dipertahankan untuk menjadi tempat kediaman Allah, bukan untuk tujuan lain. Kita semua mengakui perlunya penggantian makanan. Kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri apa yang kita inginkan dan dambakan, dan selera macam apa yang kita miliki. Makanan kita harus berubah dari makanan Mesir kepada makanan surgawi. Kita harus beralih dari kuali berisi daging, ikan, mentimun, semangka, bawang merah, bawang putih, dan bawang prei kepada Kristus, yakni makanan surgawi yang unik, yang disuplai oleh Allah. Karena Kristus menjadi makanan kita, berarti Ia adalah segala sesuatu kita. Bahkan Ia adalah televisi kita, hiburan kita, musik kita, surat kabar, dan olahraga kita. Kita semua harus dapat bersaksi bahwa Tuhan telah mengganti makanan kita dari bermacam-macam barang kepada satu-satunya makanan, yakni manna surgawi. Dalam berita yang akan datang, kita akan melihat kekayaan manna dalam semua aspeknya. Semoga Tuhan mengganti makanan kita, sehingga kita boleh disusun kembali dengan Kristus, dan menjadi tempat kediaman Allah.

Bersama penggantian makanan, kita memerlukan pengubahan selera. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah orang-orang Israel benar-benar mengalami pengubahan selera. Mungkin saja mereka makan manna hanya karena terpaksa. Mereka tidak mempunyai apa-apa lagi untuk dimakan.

Tuhan Yesus berkata, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 6:27). Hari ini, semua orang dunia ini sedang bekerja untuk makanan yang dapat binasa. Makanan yang dapat binasa ini meliputi benda-benda seperti televisi, olahraga, musik, dan hiburan-hiburan. Kepuasan-kepuasan macam ini akan binasa. Hanya Kristus sendirilah makanan yang tidak dapat binasa. Makanan ini bertahan sampai kepada hidup yang kekal.

Makanan ialah apa saja yang kita terima untuk kepuasan kita. Jika kita memahami prinsip ini, kita akan menyadari bahwa makanan duniawi hari ini tidak hanya ter-diri atas makanan yang bersifat fisik, tetapi juga termasuk semua hal yang bersandarnya kita hidup, termasuk pendidikan, uang, kedudukan, jabatan, olahraga, dan hiburan. Orang-orang duniawi mempunyai makanan yang bersifat jasmani dan jiwani, tetapi mereka tidak mempunyai makanan rohani. Mereka tidak bekerja untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, mereka bekerja untuk makanan yang dapat binasa.

Tuhan Yesuslah manna yang riil. Yohanes 6 menunjukkan bahwa kita harus menuntut Dia dan makan Dia. Tetapi tidak banyak orang Kristen yang menyadari perlunya penggantian makanan ini. Semua orang yang telah dilahirkan kembali perlu mengganti makanan mereka. Inilah alasannya Keluaran 16 lebih penting daripada Keluaran 12. Dalam Keluaran 12 kita melihat orang-orang yang telah ditebus, tetapi kita tidak melihat orang-orang yang telah disusun kembali. Dalam pasal 14 umat Allah telah keluar dari Mesir, tetapi Mesir belum keluar dari mereka. Berdasarkan susunan mereka, mereka masih bersifat Mesir. Jadi, tujuan Allah ialah mengubah susunan mereka dengan jalan mengganti makanan mereka. Menjelang orang-orang Israel mendirikan Kemah Pertemuan, makanan mereka telah diubah. Susunan mereka juga mulai berubah. Ketika mereka mendirikan Kemah Pertemuan, mereka tidak makan makanan Mesir. Sebaliknya, makanan mereka terdiri dari manna.

Selanjutnya, setelah Kemah Pertemuan didirikan, mereka menghabiskan banyak waktu untuk mengurus Kemah Pertemuan. Mereka harus membongkar, memikul, dan mendirikannya kembali. Selama mereka berada di padang gurun, mereka tidak melakukan apa-apa selain makan manna dan mengurus Kemah Pertemuan. Mereka tidak melakukan pekerjaan lain. Ini menunjukkan bahwa Allah tidak meminta mereka melakukan apa pun, bahkan bercocok tanam pun tidak. Allah memberi makan mereka dengan mengirimkan manna dari surga. Bangsa itu tinggal memungutnya, mengolahnya, memakannya, dan mengurus Kemah Pertemuan. Alangkah menakjubkan gambaran ini!

Jika kita memperhatikan gambaran ini, kita akan nampak bahwa Allah hanya menghendaki kita makan Kristus dan mengurus gereja, yakni tempat kediaman-Nya. Kita harus tidak membiarkan diri kita kehilangan perhatian terhadap perkara-perkara ini. Hari demi hari, kita hanya harus makan Kristus dan melaksanakan hidup gereja (church life). Di sini kita bukan untuk yang lainnya, tetapi bagi Kristus dan gereja. Menurut opini orang-orang luar, kita yang berada dalam pemulihan Tuhan ini telah menghabiskan waktu kita tanpa melakukan apa-apa. Bahkan mereka menyalahkan kita, sebab kelihatannya kita tidak melakukan pekerjaan apa pun bagi Tuhan. Tetapi, sebagaimana orang-orang Israel setiap hari memungut manna dan mengurus tempat kediaman Allah, demikian pula seharusnya kita setiap hari makan Kristus dan memelihara hidup gereja.