ALLAH MENANGGULANGI DAGING UMAT-NYA
Pembacaan Alkitab:
Kel. 16:1-4, 8-13a; Bil. 11:1-6, 10-23, 31-34
Kitab Keluaran menyajikan gambaran tentang keselamatan sempurna Allah. Dalam keselamatan Allah, terdapat dua perkara yang penting sekali. Perkara pertama, ialah Allah ingin menjadi segala sesuatu bagi umat pilihan-Nya. Ia ingin menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam mereka yang telah ditentukan-Nya bagi diri-Nya sendiri. Kedua, karena Allah ingin menjadi segala sesuatu bagi kita, maka Ia tidak menginginkan kita melakukan perkara apa pun. Sebaliknya, Ia ingin melakukan segala sesuatu bagi kita.
Bila kita menerapkan dua perkara ini pada Kitab Keluaran, kita nampak bahwa Allah sendirilah yang menghadapi Firaun dan orang-orang Mesir. Allah tidak menghendaki orang-orang Israel berperang supaya mereka dibebaskan dari tirani Mesir. Allah melakukan segala sesuatu untuk mengalahkan orang-orang Mesir secara total. Ketika Musa menghadapi Firaun, yang ia miliki ialah sebatang tongkat, tongkat yang mati. Allahlah yang melakukan segala sesuatu bagi umat-Nya.
Perhatikanlah apa yang Allah lakukan bagi umat-Nya dalam waktu kurang dari 40 hari. Ia mendatangkan tulah ke atas orang-orang Mesir, dan pada malam Paskah, Ia membunuh setiap anak sulung orang-orang Mesir. Kemudian Ia melepaskan orang-orang Israel dari tangan Firaun, dan membawa mereka melalui Laut Merah, di mana bala tentara Mesir tenggelam. Selanjutnya, Allah membawa bangsa itu ke Mara, di mana Ia mengubah air pahit menjadi air manis. Setelah itu Ia menuntun bangsa itu ke Elim, di mana terdapat 12 mata air dan 70 pohon korma.
I. NAFSU SERAKAH BANGSA ITU
Menurut Keluaran 16:1, “Tibalah segenap jemaah Israel di padang gurun Sin, . . . pada hari yang kelima belas bulan yang kedua, sejak mereka keluar dari Tanah Mesir.” Hari Paskah jatuh pada hari yang keempat belas bulan yang pertama. Oleh karena itu, catatan pasal 16 melukiskan apa yang terjadi pada 31 hari sesudah hari Paskah. Kali pertama saya menyadari hal ini, saya merasa sangat heran. Dalam jangka waktu yang pendek ini, umat Allah telah melihat sejumlah keajaiban. Tetapi, mereka kurang terkesan oleh kelimpahan persediaan Tuhan. Hari Paskah merupakan satu peristiwa yang besar, sedangkan menyeberangi Laut Merah merupakan peristiwa yang lebih besar. Selain itu, pengalaman di Mara dan di Elim sangat luar biasa. Meskipun demikian, tatkala bangsa itu tiba di padang gurun Sin, mereka bersungut-sungut, dan bernafsu ingin menghadapi kuali berisi daging dari Mesir, seolah-olah mereka sama sekali tidak mempunyai pengalaman.
Tidak banyak pembaca Kitab Keluaran yang memberikan cukup perhatian terhadap pasal 16. Sebenarnya, pasal ini lebih besar daripada pasal 12 maupun pasal 14. Dalam pasal 12 kita memiliki Paskah, dalam pasal 14 penyeberangan Laut Merah, dan dalam pasal 16 makan manna. Makan manna menunjukkan bahwa umat Allah telah mencapai titik di mana mereka telah mulai menjadi bangsa surgawi, bangsa yang sifatnya telah mulai diubah oleh unsur surgawi.
Banyak keajaiban dalam Alkitab yang dilakukan dengan benda-benda jasmani ciptaan Allah. Sebagai contoh, Tuhan Yesus memberi makan orang banyak dengan roti dan ikan (Mat. 14:19). Tetapi dapatkah kita mengatakan bahwa manna dalam pasal 16 itu merupakan benda ciptaan lama Allah? Tidak ada sarjana yang dapat memberitahukan apa sebenarnya unsur manna itu. Apa pun unsur manna itu, unsur ini benar-benar bukan termasuk ciptaan lama. Dalam ciptaan lama Allah, tidak ada benda yang seperti manna.
Dalam pasal 16 terdapat dua keajaiban: pengiriman burung-burung puyuh dan pengiriman manna. Angin dari Allah bertiup dan membawa burung-burung puyuh (Bil. 11:31). Sudah tentu ini merupakan keajaiban, namun keajaiban ini menggunakan benda-benda alami dan jasmani. Tetapi pengiriman manna sangat berbeda. Manna turun dari surga (Kel. 16:4). Meskipun kita tahu bahwa manna turun dari surga, tetapi kita tidak mengetahui apa unsur manna itu. Bagaimanapun, kita tahu bahwa manna merupakan suatu makanan yang berbeda dari semua makanan duniawi. Makan manna berarti memperoleh makanan surgawi. Makanan surgawi ini bukanlah termasuk ciptaan lama.
Orang-orang selalu hidup berdasarkan apa yang mereka makan. Ahli gizi mengatakan bahwa diri kita adalah apa yang kita makan. Sebagai contoh, jika kita banyak makan daging, kita akan menjadi suatu komposisi daging. Hari demi hari, selama 40 tahun, orang-orang Israel makan manna. Sebagai akibatnya, mereka menjadi susunan manna. Bahkan walaupun kita tidak mengetahui intisari manna, tetapi kita tahu bahwa manna adalah semacam makanan yang menyebabkan orang menjadi bersifat surgawi. Dengan makan makanan surgawi sedemikian ini, kita menjadi orang-orang surgawi.
Dengan memberikan manna kepada umat-Nya untuk dimakan, Allah menunjukkan bahwa tujuan-Nya ialah mengubah sifat umat-Nya. Ia ingin mengubah keseluruhan diri mereka, mengubah susunan mereka. Mereka telah mengalami perubahan tempat. Tadinya mereka berada di Mesir. Sekarang mereka bersama Tuhan di padang gurun, suatu tempat pemisahan. Tetapi tidak cukup hanya memiliki perubahan tempat saja, sebab hal ini terlalu bersifat luaran dan terlalu obyektif. Harus ada pula perubahan yang di dalam dan subyektif, yaitu perubahan hayat dan sifat. Cara Allah menghasilkan perubahan sedemikian ini di dalam umat-Nya ialah dengan mengganti makanan mereka. Dengan makan makanan Mesir, umat Allah tersusun oleh unsur Mesir. Unsur dunia telah menjadi komposisi mereka. Ketika mereka berada di Mesir, mereka tidak makan sesuatu pun yang bersifat surgawi, sebab segala sesuatu yang mereka makan adalah sesuai dengan makanan Mesir dan bersifat Mesir. Meskipun umat Allah telah keluar dari Mesir dan masuk ke padang gurun pemisahan, mereka masih tersusun oleh unsur Mesir. Sekarang, tujuan Allah ialah mengubah unsur mereka dengan jalan mengganti makanan mereka. Ia tidak ingin mereka makan apa saja yang datang dari sumber yang bersifat duniawi. Mereka tidak lagi diizinkan makan makanan orang-orang Mesir. Allah ingin memberi makan mereka dengan makanan dari surga untuk menyusun mereka dengan unsur surgawi. Keinginan Allah ialah mengisi mereka, memuaskan mereka, memenuhi mereka dengan makanan dari surga, dan dengan cara demikian membuat mereka menjadi orang-orang surgawi.
Sebelum Allah mengirim manna dari surga, Ia mengirim burung-burung puyuh (16:13). Burung-burung puyuh itu bahkan menyebabkan bangsa itu lebih bersifat daging. Sifat dan hakiki burung-burung puyuh itu cocok dengan sifat dan hakiki orang-orang Israel. Tetapi manna tidak, sebab manna adalah kategori lain, kerajaan dan alam lain. Jadi, dengan mengirim manna, Allah menunjukkan bahwa tujuan-Nya ialah mengubah susunan (komposisi) unsur umat-Nya. Ia tidak puas dengan perubahan tempat saja, harus pula ada perubahan susunan unsur. Kita, umat Allah hari ini, tadinya merupakan suatu susunan benda-benda duniawi, susunan unsur Mesir. Karena itu, sasaran Allah bukan hanya mengubah perilaku kita, tetapi juga mengubah insan batiniah kita, yakni susunan diri kita yang paling dalam. Meskipun kita telah tersusun oleh unsur Mesir, Allah bermaksud untuk menyusun kita dengan unsur surgawi. Kita semua perlu nampak hal ini.
Allah tahu bahwa orang-orang Israel membutuhkan makanan. Jika mereka percaya kepada Tuhan, mereka akan saling menganjuri untuk beroleh perhentian di dalam Dia. Mereka akan saling berkata, “Allah kita mengetahui keperluan kita. Tidak perlu kita bersungut-sungut atau mengeluh. Marilah kita percaya kepada-Nya dan berlega hati. Ingatlah apa yang telah Tuhan lakukan bagi kita pada hari-hari belakangan ini. Ia menanggulangi Firaun, Ia membunuh anak sulung, Ia mengalahkan orang-orang Mesir, Ia membawa kita melewati Laut Merah, dan Ia telah menyuplai setiap keperluan kita.” Seharusnya mereka percaya kepada Tuhan, tetapi sebaliknya, mereka seolah-olah lupa akan segala sesuatu yang telah Tuhan lakukan bagi mereka. Mereka tidak memuji dan berterima kasih kepada-Nya, malahan bersungut-sungut dan mengeluh. Perkataan mereka kepada Musa tajam dan kasar, “Ah, kalau kami mati tadinya di Tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan” (16:3). Bahkan Musa tersentuh oleh sungut-sungut bangsa itu. Hal ini dibuktikan oleh fakta bahwa Musa berkata, “Sebab, apalah kami ini maka kamu bersungut-sungut kepada kami?” (16:7). Dalam mengucapkan perkataan ini, Musa bukanlah merupakan yang menang. Sebaliknya, menandakan ia telah kalah, telah tersentuh oleh sungut-sungut bangsa itu. Jika saya yang menjadi Musa, saya akan mengucapkan perkataan yang jauh lebih kuat. Saya akan berkata, “Telah lupakah kalian akan apa yang telah kulakukan bagi kalian? Kalian ingat akan kuali berisi daging, tetapi kalian tidak ingat akan tirani, kerja paksa, dan penderitaan di Mesir; aku membawa kalian keluar dari tirani itu. Mengapa kalian bersungut-sungut kepadaku?” Dibandingkan dengan kita, Musa adalah yang menang. Meskipun demikian, ia tidak menang secara mutlak.
Saya telah menunjukkan bahwa dalam keselamatan-Nya, Allah bermaksud menjadi segala sesuatu kita, dan melakukan segala sesuatu bagi kita. Ia itu riil, hidup, setia, dan bertujuan. Karena Allah mempunyai satu tujuan dalam keselamatan-Nya, maka kita tidak perlu meminta kepada-Nya supaya membelaskasihani kita dan menolong kita. Allah sedang bekerja bagi kita, dan Ia tahu semua keperluan kita. Jika kita mengenal Tuhan dan jalan-Nya, kita tidak akan mengeluh atau bersungut-sungut bila kita menghadapi suatu keperluan. Sebaliknya kita akan berkata, “Puji Tuhan! Ia mengetahui setiap keperluan kita. Jika Ia menghendaki kita tidak memperoleh makanan, maka Ia akan membiarkan kita berpuasa dengan memuji dan bersukaria di hadapan-Nya. Bahkan jika Ia tidak memberi makanan selama beberapa hari, kita akan tetap bersukaria. Ia mengetahui keperluan kita, dan Ia akan mengirimkan suplai pada saat yang tepat. Jika Ia menentukan kita untuk berpuasa, bukan berpesta, marilah kita tetap memuji-Nya. Ia mengetahui apa yang terbaik bagi kita, marilah kita menerimanya dengan bersukaria.”
Seandainya orang-orang Israel mempunyai sikap yang demikian, maka Allah tidak akan mengirim burung-burung puyuh. Ia hanya akan mengirim manna pagi-pagi benar pada keesokan harinya. Tujuan-Nya mengirim manna ialah untuk mengubah susunan unsur umat-Nya. Manna menghasilkan perubahan metabolis, yang di dalamnya unsur Mesir digantikan oleh unsur surgawi. Metabolisme surgawi sedemikian ini menyebabkan umat Allah diubah. Menurut sebutan, orang-orang Israel bukanlah orang-orang Mesir. Tetapi menurut hakiki dan susunan, mereka sama sekali tidak berbeda dengan orang-orang Mesir. Dengan memberikan manna kepada bangsa itu, seolah-olah Allah berkata, “Aku telah menyelamatkan kalian dari Mesir secara kedudukan, tetapi kalian belum diubah secara sifat. Sekarang Aku hendak mengubah susunan unsur kalian, dengan jalan mengubah makanan kalian dari makanan Mesir kepada makanan sur-gawi. Dalam hal ini, Aku akan mengubah sifat dan diri kalian, dan Aku akan menyusun kalian menjadi orang-orang yang istimewa. Karena Aku menghendaki supaya kalian bersifat surgawi, maka Aku tidak akan memberi kalian makanan yang sumbernya berasal dari dunia ini. Hari demi hari Aku akan mengirim makanan surgawi, makanan dari tempat kediaman-Ku di surga. Makanan ini akan mengubah susunan unsur kalian.” Semoga kita semua nampak bahwa tujuan Allah dalam keselamatan-Nya ialah menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita dan mengubah susunan unsur kita dengan jalan memberi kita makanan surgawi.
II. PENANGGULANGAN ALLAH
Sekarang marilah kita melihat bagaimana Allah menanggulangi umat-Nya ketika mereka bersungut-sungut dan mengeluh karena kekurangan makanan. Jika kita memperhatikan hal ini, kita perlu menyadari bahwa kita semua mempunyai kecenderungan untuk memahami Alkitab secara alamiah. Menurut pengertian alamiah kita, mungkin kita mengira bahwa dalam Keluaran 16, Allah hanya menguji orang-orang Israel. Mungkin kita percaya bahwa Allah dengan sengaja tidak memberi makanan, untuk menguji umat-Nya dan untuk menyingkapkan kurangnya iman mereka. Beberapa orang mungkin bahkan menghubungkan dengan Ibrani 3:12 yang berkenaan dengan hati yang jahat dan tidak percaya. Menurut pandangan ini, orang-orang Israel tidak menaruh iman untuk melayani Tuhan, untuk percaya kepada-Nya, untuk bersandar kepada-Nya, dan untuk memuji Dia. Oleh karena hati yang jahat dan tidak percaya, maka mereka mengeluh. Karena itu, Allah marah terhadap mereka. Kemudian Ia mengirim burung-burung puyuh pada malam hari, dan manna pada pagi hari.
Pengertian yang demikian mengenai Keluaran 16 sangatlah dangkal. Untuk memahami pasal ini secara demikian, tidaklah memerlukan terang Roh Kudus. Mereka yang memahami bagian ini secara demikian berarti membaca Alkitab seperti seorang anak Sekolah Dasar, yang hanya dapat membaca kata per kata, sehingga yang mereka peroleh tak lain hanyalah pengertian yang alamiah dan dangkal.
Jika kita memiliki visi rohani, kita akan nampak Keluaran 16 mewahyukan bahwa umat tebusan Allah masih ingin menempuh kehidupan alamiah. Akan tetapi, tujuan Allah atas mereka ialah supaya mereka menempuh kehidupan surgawi. Mereka masih ingin menempuh hidup dengan cara yang sama seperti yang mereka lakukan di Mesir. Umat Allah teringat bagaimana mereka duduk menghadapi kuali berisi daging dan menikmati makanan Mesir. Tetapi keinginan Allah ialah mereka tidak lagi makan makanan Mesir. Ia menghendaki supaya mereka mengganti makanan mereka serta menempuh kehidupan surgawi. Ia menghendaki mereka melupakan makanan Mesir, dan makan makanan surgawi, yaitu jenis makanan yang tidak ada seorang pun pernah makan sebelumnya. Seolah-olah Allah berkata kepada umat-Nya, “Sampai sekarang, tidak ada seorang pun yang pernah makan makanan surgawi. Aku hendak menjadikan kalian orang-orang surgawi. Aku menghendaki kalian memiliki hayat surgawi dan menempuh hidup secara surgawi. Mulai sekarang, Aku akan memberi kalian makan makanan surgawi.”
Dalam membaca firman Tuhan, saya telah belajar untuk tidak menaruh kepercayaan pada pengertian alamiah saya. Ketika membaca Keluaran 16 ini, saya tidak puas dengan pengertian alamiah dari bagian firman ini. Saya tidak mau membuang-buang waktu kaum beriman dengan berbicara menurut konsepsi alamiah. Karena itu, saya berkata kepada Tuhan, “Jika Engkau menghendaki aku berbicara tentang pasal ini, Engkau harus memberikan terang dan visi-Mu kepadaku. Tunjukkanlah kepadaku, apa kehendak-Mu mengenai pasal ini.” Ketika saya berdoa, menengadah kepada Tuhan, dan memperhatikan pasal ini dalam kehadiran-Nya, terang mulai bersinar. Di bawah sinar terang itu, saya nampak bahwa hal yang penting di sini ialah meskipun umat Allah ingin terus menempuh kehidupan lama Mesir, tujuan Allah ialah membuat mereka menempuh kehidupan yang berbeda. Karena sasaran Allah ialah mengganti makanan mereka, maka Ia tidak segera mengirim makanan kepada mereka setelah mereka tiba di padang gurun. Dalam hikmat-Nya, Allah dengan sengaja menunda memberikan makanan kepada mereka. Jika Ia mengganti makanan mereka lebih awal, maka bangsa itu tidak akan cukup terkesan. Allah tahu bahwa jika Ia menunggu sampai umat-Nya mempunyai suatu keperluan, baru mengirim manna surgawi, mereka akan terkesan secara lebih mendalam dan lebih tahan lama.
Orang-orang Israel makan manna di padang gurun selama 40 tahun. Alkitab memberi tahu kita bahwa hanya dua kali mereka menghadapi kesulitan dalam hal manna. Dalam Keluaran 16, bangsa itu dihukum oleh Allah. Hukuman ini melatih mereka supaya tidak menginginkan makanan Mesir. Tetapi menurut Bilangan 11, setahun kemudian bangsa itu sekali lagi bernafsu terhadap makanan Mesir. Tetapi setelah mereka dihukum oleh Allah secara lebih berat lagi di Kibrot Taawa, mereka tidak lagi mempunyai kesulitan dengan makanan surgawi yang diberikan oleh Allah. Allah sungguh merupakan Bapa yang baik bagi umat-Nya. Jika Allah telah mengirim manna sebelum bangsa itu tiba di padang gurun, mereka tidak akan menghargainya, dan mungkin mereka tidak mempelajari sesuatu. Setelah bangsa itu tiba di padang gurun dan menyadari bahwa di sana tidak ada makanan, mereka mulai bersungut-sungut dan mengeluh. Pada malam itu juga, Allah mengirim burung-burung puyuh untuk memuaskan nafsu mereka. Lalu keesokan paginya datanglah manna. Tentu saja, hal ini merupakan suatu kesan yang mendalam bagi bangsa itu.
A. MEMUASKAN NAFSU MEREKA
DENGAN BURUNG-BURUNG PUYUH
Makanan di Mesir sesuai dengan daging umat Allah. Makin banyak mereka makan makanan Mesir, mereka menjadi lebih bersifat daging, sebab makanan Mesir sesuai dengan daging umat itu. Akan tetapi, manna adalah makanan dari kategori lain. Manna datang dari surga, dan orang yang memakannya akan menjadi bersifat surgawi. Ketika orang-orang Israel bersungut-sungut di padang gurun, sungut-sungut mereka itu sesuai dengan daging mereka. Ini berarti mereka bersungut-sungut menurut diri mereka yang lama, menurut manusia lama. Dalam sungut-sungut mereka, mereka tidak hidup sebagai umat tebusan Allah, tetapi sebagai orang-orang alamiah.
Daging di sini bukan hanya menandakan bagian yang bernafsu dari diri kita; daging di sini menandakan keseluruhan diri kita yang jatuh, keseluruhan manusia lama kita. Meskipun umat Allah telah ditebus, mereka masih hidup seperti orang-orang Mesir, seperti mereka yang belum ditebus oleh Allah. Karena alasan ini, maka Allah mengirim burung-burung puyuh untuk memuaskan nafsu daging mereka. Untuk kali pertama Allah mengirim burung-burung puyuh adalah dalam Keluaran 16. Meskipun Ia menghukum bangsa itu, hukuman-Nya pada saat itu tidaklah berat. Untuk kali kedua “bangkitlah murka TUHAN terhadap bangsa itu dan TUHAN memukul bangsa itu dengan suatu tulah yang sangat besar” (Bil. 11:33). Selanjutnya Bilangan 11:34 mengatakan, “Sebab itu dinamailah tempat itu Kibrot Taawa, karena di sanalah dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus.” Kibrot Taawa berarti kuburan nafsu.
Sebelum Allah memukul bangsa itu dengan tulah yang sangat besar, Ia mengirim burung-burung puyuh secara berlimpah-limpah. Dalam cara yang menakjubkan, Tuhan memberi makan bangsa itu dengan burung-burung puyuh selama tiga puluh hari (Bil. 11:19-20). Dalam Bilangan 11:31, kita memperoleh penjelasan tentang jumlah yang besar dari burung-burung puyuh: “Lalu bertiuplah angin yang dari TUHAN asalnya; dibawanyalah burung-burung puyuh dari sebelah laut, dan dihamburkannya ke atas tempat perkemahan dan di sekelilingnya, . . . kira-kira dua hasta tingginya dari atas muka bumi.” Betapa berlimpahnya burung-burung puyuh itu! Mula-mula, bangsa itu merasa senang. Tetapi akhirnya burung-burung puyuh itu memuakkan mereka, sebab mereka makan burung-burung puyuh itu sampai daging itu keluar dari hidung mereka (Bil. 11:20). Dalam Bilangan 11:33 dikatakan, “Selagi daging itu ada di mulut mereka, sebelum dikunyah, maka bangkitlah murka TUHAN terhadap bangsa itu.”
Kita perlu menerapkan catatan dalam Bilangan 11 ini sebagai pengalaman kita. Jika setelah diselamatkan kita masih terus bernafsu terhadap benda-benda duniawi, mungkin Allah akan memberikannya kepada kita. Sebagai contoh, mungkin Anda bernafsu terhadap mobil baru, mungkin Allah memberikannya kepada Anda untuk memenuhi nafsu Anda, tetapi Ia akan merasa tidak senang dalam melaksanakannya. Sebaliknya, Ia akan memberikan apa yang Anda inginkan untuk menunjukkan kemuliaan-Nya, kemarahan-Nya, dan kecukupan-Nya. Sebagaimana Allah mengirim burung puyuh yang berlimpah-limpah itu kepada orang-orang Israel, demikian juga mungkin Allah memberi Anda sedemikian ba-nyak mobil yang membuat Anda menjadi muak. Allah akan memberikan apa yang terhadapnya Anda bernafsu, tetapi mungkin Anda akan mengalami perasaan-Nya yang tidak senang. Lambat-laun, mobil-mobil yang terhadapnya Anda bernafsu itu akan memuakkan Anda.
Saya mengenal beberapa orang beriman yang sangat mengasihi uang pada masa muda mereka. Tetapi setelah mereka kaya, uang yang mereka senangi itu memuakkan mereka. Lagi pula, mereka menderita kematian rohani. Semua orang Kristen hari ini, perlu mendengar ajaran dari firman Tuhan mengenai hal ini.
Saya menganjuri semua orang beriman untuk tidak mengasihi dunia dan tidak bernafsu terhadap benda-benda duniawi. Tetapi justru hal inilah yang dilakukan oleh kebanyakan orang Kristen hari ini. Untuk memuaskan nafsu mereka, mereka mencari barang-barang dari Mesir. Mungkin Allah mengizinkan mereka memperoleh apa yang mereka inginkan. Akan tetapi, ini bukanlah tanda yang positif. Jangan mengira bahwa jika Allah memberikan apa yang Anda inginkan itu berarti Ia setuju dengan Anda, Ia merasa senang, atau Ia bermaksud untuk meneguhkan iman Anda. Sebaliknya, ini merupakan suatu tanda dari kemarahan-Nya dan ketidaksenangan-Nya. Banyak orang Kristen hari ini yang telah dipukul oleh Allah dalam kemarahan-Nya. Karena alasan inilah, maka pada mereka tidak ada hayat, yang ada hanyalah kematian rohani.
Saya harap semua orang beriman dalam pemulihan Tuhan, terutama para muda mudi, akan belajar melupakan dunia dan tidak bernafsu terhadap barang-barang Mesir. Allah yang telah menyelamatkan kita adalah riil, hidup, setia, dan bertujuan, serta memperhatikan keperluan kita. Maka tidak perlu kita bernafsu terhadap benda-benda duniawi. Kita bukan lagi orang-orang duniawi. Kita adalah umat pilihan Allah, dan Ia menghendaki kita menempuh kehidupan surgawi. Saya bisa bersaksi bahwa Tuhan itu setia dan patut kita percayai. Melalui pengalaman saya, saya belajar untuk tidak bertindak berdasarkan diri saya sendiri. Apa pun yang saya kerjakan di dalam diri sendiri tidak akan menyenangkan Tuhan. Saya ulangi, Tuhan ingin menjadi segala sesuatu kita, dan ingin melakukan segala sesuatu bagi kita. Kehendak-Nya ialah memberi makanan surgawi kepada kita, menurunkan manna untuk kita. Dengan makan makanan surgawi ini, kita akan menjadi orang-orang surgawi yang menempuh kehidupan surgawi. Ini akan membuat kita sama sekali berbeda dengan orang-orang dunia.
B. MENAMPAKKAN KEMULIAAN-NYA
KEPADA BANGSA ITU
Melalui hukuman Allah, orang-orang Israel nampak kemuliaan-Nya. Tetapi mereka tidak nampak dalam cara yang menyenangkan. Dalam berita sebelumnya saya menunjukkan bahwa sering ketika kita sedang bersungut-sungut kepada Tuhan, kemuliaan-Nya tertampak kepada kita. Tetapi ketika hubungan kita baik dengan Dia, mungkin kehadiran-Nya seolah-olah tidak kelihatan istimewa. Sebagai contoh, di dalam sidang mungkin Anda tidak merasakan kehadiran Tuhan dalam cara yang luar biasa. Tetapi jika Anda mencoba untuk menuruti keinginan Anda dalam beberapa bentuk hiburan duniawi, Anda akan memiliki kesadaran yang kuat atas kehadiran-Nya. Tuhan di dalam Anda akan menjadi sangat aktif, bahkan mungkin mengganggu. Inilah kemuliaan Tuhan yang tertampak kepada kita. Ketika Anda melaksanakan kehendak Tuhan, mungkin Anda tidak merasakan bahwa Tuhan beserta Anda. Tetapi ketika Anda tidak patuh kepada Tuhan, Anda akan memiliki kesan yang pasti bahwa Ia beserta Anda. Inilah tertampilnya kemuliaan Tuhan, namun bukan dalam cara yang positif.
C. MENUNJUKKAN KELIMPAHAN-NYA
KEPADA BANGSA ITU
Lagi pula, biasanya melalui beberapa macam pengalaman negatif, banyak di antara kita baru mampu mengetahui kelimpahan Tuhan. Kita telah belajar, boleh jadi dalam cara yang memalukan, bahwa Tuhan itu berkelimpahan. Sebagai contoh, seorang saudara dari Timur Jauh boleh jadi datang ke negeri ini dalam keadaan sangat miskin. Tetapi beberapa tahun kemudian, ia memperoleh gelar doktoral dan memiliki gaji yang tinggi. Sekarang ia bisa bersaksi mengenai kelimpahan Allah. Orang-orang lain bisa bersaksi bahwa meskipun mereka menginginkan sebuah rumah dengan tiga buah kamar, namun Allah memberi mereka rumah yang berkamar lima. Dalam hal ini, Allah menunjukkan kelimpahan-Nya kepada mereka. Walaupun Dia tidak melakukannya dalam cara yang positif, melainkan dalam cara yang negatif.
Pada Tuhan tidak ada yang kurang. Namun dalam Bilangan 11, Musa tidak menyadari hal ini. Ia berkata kepada Tuhan bahwa di antara bangsa itu ada enam ratus ribu orang berjalan kaki (ayat 21). Lalu ia bertanya kepada Tuhan, “Dapatkah sekian banyak kambing domba dan lembu sapi disembelih bagi mereka, sehingga mereka mendapat cukup? Atau dapatkah ditangkap segala ikan di laut bagi mereka, sehingga mereka mendapat cukup?” (ayat 22). Di sini kita nampak bahwa Musa merasa heran, bagaimana Allah dapat menyuplaikan daging selama 30 hari untuk enam ratus ribu orang laki-laki, belum ditambah dengan wanita dan anak-anak. Menurut ayat 23, TUHAN menjawab Musa, “Masakan kuasa TUHAN akan kurang untuk melakukan itu? Sekarang engkau akan melihat apakah firman-Ku terjadi kepadamu atau tidak!” Tuhan tidak memerlukan kambing domba, lembu sapi, ataupun ikan. Maksud-Nya ialah mengirim burung-burung puyuh dalam jumlah yang besar.
Banyak orang di antara kita yang bisa bersaksi bahwa setelah kita diselamatkan, kita benar-benar menerima barang yang sangat kita inginkan. Sesungguhnya, kita menerimanya secara demikian berlimpah sehingga keluar dari hidung kita dan menyebabkan kita menderita kematian rohani. Sebagai contoh, semakin banyak mobil dan rumah yang dimiliki seorang saudara, semakin banyak pula masalah yang ia hadapi. Akhirnya, benda-benda ini memuakkannya. Meskipun mungkin ini diberikan dalam cara yang negatif, kita nampak bahwa Allah itu limpah, sehingga kita menyembah Dia karena kelimpahan-Nya.
Seperti orang-orang Israel dalam Bilangan 11, kita perlu nampak kemarahan Allah dan kelimpahan-Nya. Kemudian kita akan benar-benar mengetahui bahwa Tuhan itu setia dalam memenuhi keperluan kita. Ia adalah Gembala kita, maka kita tidak akan kekurangan. Boleh jadi kadang-kadang kita memperoleh lebih banyak daripada apa yang kita butuhkan. Lambat laun, kita akan belajar untuk tidak bernafsu terhadap apa saja. Bahkan mungkin kita harus berkata kepada Tuhan bahwa kita tidak lagi menghendaki mobil-mobil dan rumah-rumah. Dengan kata lain, kita tidak lagi menginginkan burung-burung puyuh itu. Sebaliknya, kita puas dengan manna surgawi. Manna datang dengan cara yang mudah, dan tidak pernah menyusahkan.
Pada tahun-tahun permulaan mereka di padang gurun, orang-orang Israel belajar untuk tidak bernafsu terhadap makanan Mesir. Selama satu tahun, mereka tidak disusahkan oleh makanan manna. Dan ketika mereka mengeluh lagi, Allah menghukum mereka dan melatih mereka dengan cara yang keras. Setelah penghukuman ini, mereka mempelajari pelajaran yang tetap. Mulai saat itu, mereka puas dengan makanan surgawi. Mereka terus makan manna selama lebih dari 38 tahun. Sudahkah Anda belajar untuk puas dengan makanan surgawi dan tidak bernafsu terhadap benda-benda Mesir? Sebagai umat tebusan Allah, kita harus tidak bernafsu terhadap benda-benda duniawi. Kita perlu menyadari bahwa Allah kita itu riil, hidup, setia, dan bertujuan. Karena Ia telah menyelamatkan kita dengan suatu tujuan, maka Ia pasti akan memimpin kita dan menjaga kita dengan cara-Nya sendiri. Kita tidak perlu merasa khawatir atau bernafsu terhadap apa saja. Ia mengetahui semua kebutuhan kita, dan Ia akan memenuhi kebutuhan kita pada saat yang tepat dengan makanan surgawi.
Semakin kita menikmati makanan yang Tuhan berikan kepada kita, semakin pula kita menjadi surgawi. Marilah kita melupakan kuali berisi daging di Mesir, dan merasa gembira serta puas dengan makanan surgawi. Marilah kita menikmati suplai surgawi Allah, sehingga kita boleh menjadi orang-orang surgawi dalam segala hal. Dengan demikian, meskipun kita berjalan di padang gurun di bumi ini, kita akan menjadi orang-orang surgawi dengan makanan surgawi pula. Sumber suplai kita bukanlah di bumi ini, melainkan di dalam surga. Hari demi hari, Allah menurunkan makanan ke atas kita, sehingga kita boleh memakannya dan menjadi orang-orang surgawi.
Cara Allah menanggulangi daging umat-Nya ialah dengan jalan mengganti makanan mereka. Inilah penanggulangan yang riil terhadap umat Allah. Memandang masalah penanggulangan daging ini, beberapa guru Kristen mengatakan bahwa daging ditanggulangi oleh salib. Tetapi apakah daging itu masih utuh atau telah dipotong menjadi potongan-potongan, daging itu masih tetap daging. Penanggulangan daging yang sebenarnya ialah melalui pergantian makanan.
Ketika orang-orang Israel berada di padang gurun, mereka ingin menempuh hidup menurut cara yang lama. Mereka menginginkan bahan makanan dari Mesir. Menurut Bilangan 11:5, mereka berkata, “Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih.” Makanan Mesir ini menyusun bangsa itu dengan unsur Mesir, suatu unsur yang sesuai dengan daging mereka. Tujuan Allah bukan hanya menanggulangi daging umat-Nya, tetapi juga menyebabkan daging itu dikesampingkan. Tujuan-Nya ialah memberi umat-Nya makanan lain, dan dengan jalan demikian menyusun mereka kembali. Dalam Keluaran 16 kita nampak bahwa makanan mereka tidak lagi terdiri dari bahan makanan dari Mesir, tetapi hanya terdiri dari makanan surgawi. Inilah cara Allah untuk menanggulangi daging.
Sebagai manusia yang telah jatuh, kita di dalam keseluruhan sifat kita yang telah jatuh, tidak lain hanyalah daging. Bahkan jika daging ini dipotong menjadi potongan-potongan pun, tetap merupakan daging. Cara Allah menanggulangi daging ialah dengan jalan mengesampingkannya dan tidak memakannya. Karena alasan inilah, Ia mengganti makanan umat-Nya dan mengirim kepada mereka makanan yang tidak disukai oleh daging mereka. Dengan mengganti makanan mereka serta memberi mereka manna dari surga, Ia menyebabkan mereka memiliki susunan unsur yang berbeda. Inilah hal yang terpenting dalam Keluaran 16. Dalam pasal ini kita melihat penggantian makanan, yang mengakibatkan penyusunan kembali dan pengubahan dari umat pilihan Allah.