PEPERANGAN YANG TERUS-MENERUS MELAWAN AMALEK
Pembacaan Alkitab:
Kel. 17:9-16; 1Sam. 15:1-33; Rm. 8:7-8, 13; Gal. 5:17, 24
Keluaran 1-17 membentuk bagian yang lengkap. Dalam bagian ini kita memiliki gambaran lengkap mengenai karunia keselamatan Allah, gambaran yang meliputi penanggulangan terhadap dunia dan daging. Umat pilihan Allah diperbudak di Mesir, yang melambangkan dunia. Kemudian Allah datang menanggulangi dunia, mengadakan penebusan, dan membebaskan umat-Nya dari dunia. Setelah itu, mereka menikmati suplai manna surgawi dan air hayat. Kemudian dalam Keluaran 17, Allah menanggulangi orang Amalek, yaitu daging.
Jika kita melihat pandangan umum tujuh belas pasal pertama Kitab Keluaran, kita akan nampak gambaran tentang karunia keselamatan Allah yang dimulai dengan penanggulangan terhadap dunia, dan yang berakhir dengan penanggulangan terhadap daging. Gambaran ini memungkinkan kita memahami bahwa sebagai umat Allah, kita pernah berada di bawah tirani dunia. Tetapi setelah kita ditebus, diselamatkan, dan dibebaskan, kita mulai menikmati persediaan ilahi akan manna dan air hayat. Tetapi pada suatu hari, kita harus menghadapi musuh yang subyektif daging. Musuh ini berusaha mengganggu kita, menduduki kita, bahkan merusak kita.
Bagian berikutnya, yaitu pasal 18-40, merupakan bagian yang panjang yang berhubungan dengan kerajaan. Ini menunjukkan bahwa setelah kita dibebaskan dari dunia, menikmati persediaan ilahi, dan menanggulangi daging, kita akan berada di dalam kerajaan. Betapa indahnya berita-berita ini! Mungkin Anda tidak pernah menyadari bahwa pasal-pasal ini berhubungan dengan kerajaan. Mungkin Anda hanya menyadari bahwa pasal-pasal ini meliputi pembangunan Kemah Pertemuan sebagai tempat kediaman Allah. Tetapi kita perlu mengetahui, di luar kerajaan, rumah Allah tidak mungkin ada. Hanya bila kita mengalahkan musuh, menanggulangi dunia dan daging, kita akan berada di dalam kerajaan. Di dalam kerajaanlah kita baru dapat mendirikan Kemah Pertemuan. Prinsip ini sama dengan pembangunan bait suci. Setelah Daud berperang melawan musuh dan memperoleh kemenangan, Salomo memperoleh kerajaan. Di dalam kenikmatan inilah bait suci didirikan. Pada bagian kedua Kitab Keluaran, yaitu pasal 18-40, kita nampak bahwa umat tebusan Allah berada dalam kenikmatan atas kerajaan. Setelah dibebaskan dari dunia dan ditanggulangi dagingnya, mereka dapat mendirikan Kemah Pertemuan sebagai tempat kediaman Allah.
Menurut Perjanjian Baru, Iblis, dunia, dan daging adalah musuh Allah (Mat. 13:25, 39; Rm. 8:7-8; Yak. 4:4). Dalam Kitab Keluaran, Iblis dilambangkan oleh Firaun, dunia dilambangkan oleh Mesir, dan daging dilambangkan oleh Amalek. Setelah ketiga musuh ini ditanggulangi, barulah Kerajaan Allah datang.
I. ORANG AMALEK — DAGING SEPENUHNYA BERSETERU TERHADAP ALLAH
Dalam Perjanjian Lama, tidak ada musuh yang ditanggulangi sepenuhnya seperti Amalek, sebab Amalek melambangkan daging, yang merupakan musuh terakhir yang melawan Kerajaan Allah. Daginglah yang menghalangi terbangunnya gereja. Selama daging tetap merupakan suatu masalah, kerajaan tidak akan datang. Kerajaan datang hanya setelah daging ditanggulangi. Demi hidup gereja, kita perlu menanggulangi daging kita. Jika daging tidak ditanggulangi, Kerajaan Allah tidak akan datang. Kemudian tanpa kemerajaan (kingship) Kristus, tanpa kekepalaan-Nya, tidak ada jalan bagi pembangunan Tubuh. Inilah alasannya mengapa selama seribu sembilan ratus tahun yang lalu, sedikit sekali terjadi pembangunan gereja. Kekacauan dan perpecahan di antara orang Kristen terutama disebabkan oleh daging, yaitu Amalek. Di antara orang Kristen, Amalek sangat kuat. Karena itu, kita tidak memiliki Kerajaan Allah secara riil. Tanpa kerajaan, kita tidak mungkin memiliki pembangunan. Bahkan di antara orang Kristen, kita sulit berbicara mengenai pembangunan gereja.
Syukur kepada Tuhan, karena belas kasihan dan anugerah-Nya, kita yang berada di dalam pemulihan-Nya telah mengetahui betapa pentingnya menanggulangi daging. Meskipun daging masih tetap merupakan suatu masalah, kita tidak berani membiarkan daging kita bebas tanpa kendali. Kita sama sekali tidak memiliki keberanian untuk tinggal di dalam daging. Akan tetapi, banyak orang Kristen yang sangat berani tinggal di dalam daging. Alangkah kuatnya Amalek hari ini! Karena Amalek kuat, maka tidak ada kerajaan dan pembangunan.
Dalam tulisan-tulisannya, Paulus sepenuhnya menanggulangi daging. Ia menggunakan ungkapan-ungkapan tertentu untuk menunjukkan bahwa daging adalah perseteruan terhadap Allah. Sebagai contoh, dalam Roma 8:7 ia berkata, “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena keinginan itu tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” Daging sangat berbahaya, karena daging tidak takluk kepada hukum Allah. Dalam pandangan Allah, daging tidak patuh kepada hukum. Ketidakpatuhan ini berlaku di antara orang Kristen hari ini. Daging tidak mempunyai kemampuan untuk takluk kepada hukum Allah.
Selanjutnya dalam 8:8, Paulus mengatakan, “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Daging tidak takluk kepada hukum Allah, daging tidak dapat takluk kepada hukum Allah, dan daging tidak berkenan kepada Allah. Karena itu, dalam pandangan Allah, tidak ada kedudukan bagi daging. Daging harus dibereskan.
Daging menunjukkan keseluruhan manusia lama kita yang telah jatuh. Karena itu, daging tidak hanya menunjukkan bagian dari adanya kita, tetapi juga menunjukkan segenap adanya kita yang telah jatuh. Menurut Roma 6:6, manusia lama kita telah disalibkan bersama Kristus. Karena manusia lama kita adalah sia-sia, maka Allah menyalibkannya bersama Kristus. Sebagaimana kita nampak, kita perlu bekerja sama dengan Allah dalam apa yang telah Ia kerjakan dengan menyalibkan daging (Gal. 5:24). Nasib daging ialah dibinasakan. Bagaimanapun baiknya daging dalam pandangan kita, dalam pandangan Allah, daging bersifat memberontak dan keji. Karena alasan inilah, maka Allah memutuskan untuk menghapuskan nama Amalek.
II. TUHAN BERPERANG MELAWAN
AMALEK TURUN-TEMURUN
Allah juga telah memutuskan untuk berperang melawan Amalek turun-temurun. Dalam Alkitab, banyak disebutkan bahwa umat Allah berperang melawan Amalek. Kita nampak hal ini dalam Hakim-hakim 3:13-15; 5:14; 6:3; 7:12-14; 1Samuel 15:2-9, 32-33; 27:8; 30:1-17; 2Samuel 8:12; 1Tawarikh 4:42-43. Bahkan kita nampak peperangan melawan Amalek dalam Kitab Ester (3:1-6; 9:7-10) di mana dikatakan bahwa Haman adalah orang Agag, keturunan bangsa Agag, raja Amalek yang dicincang oleh Samuel (1Sam. 15:33). Meskipun Agag telah dibunuh, namun beberapa keturunannya masih hidup. Haman adalah keturunan Agag. Allah membenci daging yang dilambangkan oleh Haman. Menurut Kitab Ester, daging bekerja secara sembunyi-sembunyi untuk meruntuhkan umat Allah, dan bahkan membunuh mereka. Hari ini, Haman, yaitu daging, berusaha untuk bekerja di dalam gereja. Rencana Haman untuk membinasakan orang-orang Israel akhirnya tersingkap dan gagal. Ester mengadakan penanggulangan terhadap Haman, yaitu daging yang tersembunyi. Melalui bantuan Ester, Haman dapat dibinasakan. Jadi kita nampak bahwa Kitab Ester merupakan sejarah peperangan Allah dengan Amalek, kelanjutan dari peperangan dengan Amalek turun-temurun.
III. BAGAIMANA HARUS BERPERANG
MELAWAN AMALEK
A. MELALUI BERDOA
DENGAN KRISTUS SEBAGAI PENGANTARA
Sekarang kita sampai pada masalah yang penting mengenai bagaimana harus berperang melawan Amalek. Pertama-tama kita berperang dengan jalan berdoa dengan Kristus sebagai Pengantara (Kel. 17:11). Musa mengangkat tangannya di puncak bukit, melambangkan Kristus sebagai Pengantara di surga. Dalam Keluaran 17:12 dikatakan bahwa ketika tangan Musa penat, “Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam.” Apa artinya ini? Telah saya tunjukkan bahwa Musa di sini melambangkan Kristus yang menjadi Pengantara bagi kita di surga. Tetapi dapatkah kita mengatakan bahwa tangan Kristus penat? Tentu saja Kristus tidak memerlukan siapa pun untuk menopang tangan-Nya. Di surga tidak ada Harun dan Hur yang membantu Kristus berdoa. Jadi, lambang ini kelihatannya tidak begitu memadai. Namun, karena Alkitab diilhamkan oleh Allah, di sini pasti ada sesuatu yang berhubungan dengan pengalaman kerohanian kita.
Jika kita melihat ayat-ayat ini dalam terang pengalaman kita, kita akan memahami bahwa untuk menanggulangi daging, kita tidak hanya memerlukan doa syafaat Kristus di surga, tetapi kita sendiri juga perlu berdoa. Beberapa guru Kristen menekankan pekerjaan Kristus yang obyektif di surga. Mereka menunjukkan bahwa sekarang Kristus berada di surga menjadi Pengantara kita. Ada orang sangat memperhatikan pentingnya berpuasa dan berdoa. Jika seseorang terganggu oleh daging dalam aspek tertentu, mereka akan menganjurinya supaya berpuasa dan berdoa. Bagi pengalaman kita, kita memerlukan aspek yang obyektif, juga memerlukan aspek yang subyektif. Sebagaimana telah saya tunjukkan, Musa yang berdoa di puncak bukit melambangkan Kristus yang menjadi Pengantara kita di surga. Namun fakta bahwa Musa memerlukan Harun dan Hur untuk menopang tangannya, melambangkan bahwa kita perlu berdoa. Kristus berdoa di surga, kita di bumi harus berdoa pula. Ketika kita berdoa, kita bersatu dengan Musa di puncak bukit. Tetapi ketika kita membinasakan daging, kita bersatu dengan Yosua yang berperang di lembah.
Meskipun Kristus sebagai Pengantara tidak memerlukan orang lain untuk menopang tangan-Nya, tetapi tangan kita yang berdoa perlu ditopang. Tangan berdoa kita mudah sekali penat. Kita tahu bahwa untuk menanggulangi daging, kita perlu berdoa. Tetapi tangan kita mudah sekali penat. Jadi, kita memerlukan bantuan Harun dan Hur.
Harun, imam besar, melambangkan keimaman, dan Hur, yang berasal dari suku Yehuda, melambangkan kemerajaan. Cucu Hur, yaitu Bezaleel, diberi kemampuan untuk membuat rancangan bagi Kemah Pertemuan (Kel. 31:2-5). Bila kita memperhatikan pasal-pasal yang terakhir dari Kitab Keluaran, kita akan nampak bahwa Kemah Pertemuan, yaitu bangunan Allah, didirikan oleh keimaman dan kemerajaan. Doa kita perlu ditopang oleh keimaman dan kemerajaan. Kadang-kadang tangan kita yang berdoa menjadi penat bukan karena kita kurang berhasrat untuk berdoa, tetapi karena kurangnya desakan dan dorongan. Ini berarti kita memerlukan Harun dan Hur, yaitu keimaman dan kemerajaan.
Keimaman berhubungan dengan ruang maha kudus. Dalam pengalaman kita, ruang maha kudus selalu berkait-an dengan roh kita. Karena itu, menjadi penat pada waktu berdoa menunjukkan adanya suatu masalah atau suatu kekurangan di dalam roh kita. Karena beberapa sebab, roh kita tidak tekun, tidak aktif, atau tidak positif terhadap Tuhan. Ini menyebabkan doa kita menjadi berat. Pengalaman kita menegaskan hal ini. Pada waktu-waktu penat yang sedemikian ini, kita jangan menanggulangi doa kita dengan mencoba untuk berdoa lebih banyak lagi. Kita harus menanggulangi roh kita. Di dalam roh kita kekurangan keimaman. Kita memerlukan Harun, imam besar, untuk menguatkan roh kita.
Alasan lain yang menyebabkan kita penat dalam berdoa ialah pemberontakan terhadap kemerajaan (kingship). Jika Anda mengatakan bahwa Anda tidak memberontak, maka saya akan bertanya mengenai ketidaktaatan. Dapatkah Anda mengatakan bahwa Anda tidak pernah tidak taat kepada Tuhan? Sebagai contoh, seorang saudari mungkin merasakan pengendalian dari Tuhan yang mencegahnya pergi ke toko serba ada, tetapi ia tidak taat kepada pengendalian ini dan tetap pergi. Dalam satu hari, mungkin kita telah berkali-kali tidak taat kepada Tuhan. Kita menentang wewenang, kemerajaan yang ada di dalam kita. Karena kekurangan kemerajaan, kita mudah sekali penat dalam berdoa.
Doa kita juga menjadi penat bila kita mengabaikan pembangunan Kemah Pertemuan. Hur berhubungan dengan pembangunan. Sesungguhnya, arah Kitab Keluaran ditujukan kepada pembangunan Kemah Pertemuan. Saya telah menunjukkan bahwa Bezaleel, cucu Hur, diberi keahlian oleh Allah dalam membuat berbagai rancangan untuk Kemah Pertemuan. Ini menunjukkan bahwa doa kita perlu kita arahkan kepada pembangunan gereja. Apa yang sedang Allah kerjakan hari ini justru untuk tujuan ini. Jika kehidupan doa kita tidak memperhatikan pembangunan gereja, doa kita tidak akan tahan lama. Tetapi jika kita memiliki keimaman dan kemerajaan serta mengarah kepada pembangunan Kemah Pertemuan, yaitu gereja, kehidupan doa kita tidak akan menjadi penat. Sebaliknya, kehidupan doa kita akan ditopang oleh keimaman dan kemerajaan, dan kehidupan doa kita ini akan tertuju kepada pembangunan gereja. Kemudian kita akan dapat berperang melawan daging, yaitu Amalek, melalui doa kita.
Di dalam doa kita, kita harus menjadi satu dengan Kristus yang ada di surga. Kita perlu mengikatkan diri kita dengan Kristus, dan menjadi satu dengan Dia dalam doa syafaat-Nya. Kita harus menjadikan doa-Nya menjadi doa kita, doa syafaat-Nya menjadi doa kita yang seketika. Ditopang oleh keimaman dan kemerajaan, yang bergerak di dalam roh kita dan yang tunduk di bawah wewenang Allah, kita perlu berdoa dengan Allah yang berada di atas takhta di surga. Lagi pula, arah doa kita harus ditujukan kepada sasaran pembangunan rumah Allah. Jika kita memiliki faktor-faktor ini keimaman, kemerajaan, dan pandangan terhadap pembangunan Allah, saya percaya bahwa kehidupan doa kita tidak akan berhenti. Gambaran mengenai Harun dan Hur yang menopang tangan Musa merupakan gambaran kesatuan antara Kristus dengan kita di dalam doa. Ketika Kristus berdoa syafaat, kita berdoa. Kita bersatu dengan Dia dalam doa syafaat-Nya. Inilah cara berdoa yang tepat bagi kita untuk menanggulangi daging.
Menanggulangi daging bukanlah perkara yang dangkal, sebab segenap adanya kita yang telah jatuh ini ialah daging. Dalam arti tertentu, daging adalah diri kita sendiri. Karena itu menanggulangi daging lebih sukar daripada menanggulangi dunia atau dosa. Untuk menanggulangi keseluruhan adanya kita yang telah jatuh ini, kita perlu banyak berdoa dalam kesatuan dengan doa syafaat Kristus yang surgawi. Untuk berdoa secara demikian, kita harus serasi dengan Kristus dan menjadi satu dengan Dia. Dia berdoa di surga, kita berdoa bersama Dia. Jika kita mau berdoa secara demikian, roh kita perlu digerakkan oleh keimaman dan perlu ditundukkan oleh kemerajaan. Kita juga perlu memperhatikan pembangunan Allah. Dengan demikian kita akan memperoleh tunjangan yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan doa kita.
Dalam Keluaran 17:12 dikatakan bahwa Harun dan Hur mengambil sebuah batu dan meletakkannya di bawah Musa, supaya ia duduk di atasnya. Ini menunjukkan bahwa kehidupan doa kita harus mempunyai dasar yang kokoh. Ketika saya masih muda, saya belajar berdoa. Tetapi doa saya tidak memiliki dasar yang kokoh. Sama dengan kebanyakan orang Kristen hari ini. Mereka telah belajar berdoa, tetapi mereka tidak memiliki dasar yang kokoh bagi kehidupan doa mereka. Saya tidak percaya bahwa berdasarkan konteks Keluaran 17, dasar yang kokoh bagi kehidupan doa kita ialah Kristus secara langsung. Sebaliknya, saya percaya bahwa batu yang digunakan sebagai dasar yang kuat itu menunjukkan kepada kita bahwa di dalam kita sendiri, kita tidak dapat mempertahankan kehidupan doa. Inilah pengenalan terhadap fakta bahwa kita memerlukan penopang. Dalam hayat alamiah kita, seperti Musa, kita tidak dapat bertekun dalam doa. Kita tidak dapat terus-menerus berdoa sepanjang hari. Jadi, kita perlu menyadari kelemahan kita. Kesadaran ini akan memberi kita dasar yang kokoh, yang kita perlukan bagi kehidupan doa kita.
Ketika Anda berdoa, Anda perlu menyadari bahwa dalam diri Anda sendiri, Anda tidak akan dapat berdoa. Setiap orang yang berdoa dapat bersaksi bahwa tidak mungkin memiliki kehidupan doa tanpa dasar yang kokoh. Kita memerlukan sesuatu yang kokoh untuk menopang kehidupan doa kita. Setiap kali berdoa, katakanlah kepada-Nya, “Tuhan, aku tidak dapat berdoa terus-menerus. Aku memerlukan dasar yang kokoh untuk doaku. Aku menerima Engkau sebagai dasar yang sedemikian ini.”
Alkitab mengatakan bahwa Musa berdoa sampai matahari terbenam. Mungkin kita memiliki waktu yang baik untuk berdoa pada waktu pagi hari, tetapi biasanya tidak dapat bertahan sampai tengah hari, lebih-lebih tidak sampai akhir hari itu. Apakah Anda dapat menjaga diri Anda di dalam roh yang berdoa dari pagi sampai malam? Mungkin hanya beberapa orang di antara kita saja yang dapat melakukan hal ini. Musa dapat berdoa sampai matahari terbenam karena ia memiliki batu, yaitu dasar yang kokoh untuk didudukinya, dan karena ia memiliki Harun dan Hur yang menopang dia. Berdoalah kepada Tuhan, “Tuhan, aku tidak dapat tak henti-hentinya berdoa. Aku mudah marah atau berkata yang sia-sia. Aku tidak dapat berdoa secara terus-menerus. Tuhan, aku hanya dapat berdoa untuk waktu yang singkat, aku tidak dapat berdoa sepanjang hari.” Jika Anda berkata demikian kepada Tuhan, Anda akan mendapati bahwa Anda sedang duduk di atas sebuah batu. Anda akan memiliki dasar yang kokoh bagi kehidupan doa Anda.
Saya berbeban membicarakan butir ini, karena saya tahu bahwa salah satu masalah terbesar yang kita hadapi ialah kehidupan doa kita. Jika kita menginginkan kehidupan doa kita dapat bertahan, kita perlu memelihara empat hal ini: dasar yang kokoh, keimaman, kemerajaan, dan pemba-ngunan Kemah Pertemuan. Dengan demikian kehidupan doa kita akan tertopang teguh.
Ayat 11 mengatakan, “Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek.” Ini menunjukkan bahwa setiap kali kehidupan doa kita menjadi penat, daging kita akan menang. Kita mengetahui hal ini dari pengalaman kita. Hanya kehidupan doa yang tepatlah yang dapat mengalahkan daging kita. Jangan mengira karena Anda telah lama beroleh selamat dan memiliki pengalaman-pengalaman rohani tertentu, daging Anda tidak akan kuat lagi. Adalah fakta bahwa jika doa kita berhenti, secara spontan daging kita akan muncul sama seperti orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Bagaimanapun limpahnya pengalaman rohani kita, pengalaman ini tidak akan menyebabkan daging kita bertambah baik. Daging kita tidak akan terpengaruh oleh hal ini. Bahkan setelah Anda berpuluh-puluh tahun menjadi orang Kristen pun, daging tidak akan terpengaruh, berubah, atau bertambah baik. Jika doa Anda berhenti, daging Anda hari ini akan sama dengan ketika Anda belum beroleh selamat. Karena daging tidak berubah atau bertambah baik, maka kita perlu senantiasa berdoa.
Kita telah nampak bahwa doa yang sejati menyebabkan kita disatukan dengan Kristus yang surgawi. Pengalaman ini terjadi melalui kehidupan doa yang tepat. Setiap kali kita berdoa sungguh-sungguh, kita akan menikmati keesaan dengan Kristus yang surgawi. Tetapi doa ini tergantung pada dasar yang kokoh, keimaman, kemerajaan, dan sasaran pembangunan Allah.
B. MELALUI ROH YANG BERPERANG
MEMATIKAN DAGING
Untuk berperang melawan Amalek, kita harus mematikan daging melalui Roh yang berperang (Rm. 8:13; Gal. 5:17, 24). Roma 6:6 mengatakan bahwa manusia lama kita telah disalibkan bersama Kristus. Tetapi dalam Roma 8:13 kita nampak bahwa oleh Roh kita mematikan perbuatan-perbuatan tubuh. Selanjutnya dalam Galatia 5:24, Paulus mengatakan siapa yang menjadi milik Kristus, ia telah menyalibkan daging. Jika kita tidak percaya bahwa manusia lama kita telah disalibkan bersama Kristus di kayu salib, kita tidak akan dapat menanggulangi daging kita. Berdasarkan fakta bahwa manusia lama kita telah disalibkan, kita memiliki keberanian dan dorongan untuk mematikan daging.
Menurut Roma 8:13, ketika kita mematikan perbuatanperbuatan tubuh, Roh itu akan bekerja bersama kita. Ini berarti bahwa berapa banyaknya Roh itu bekerja, tergantung pada besarnya kemauan kita. Jika kita menyalibkan daging, Roh itu segera bekerja bersama kita. Kita semua menghargai pekerjaan Roh itu. Tetapi Roh itu tidak akan bekerja jika kita tidak bekerja. Roh itu menolong orang yang menolong diri sendiri. Namun, adalah fakta bahwa bahkan ketika kita berusaha menolong diri kita sendiri, kita masih tidak dapat melakukan apa-apa. Kita memerlukan Roh itu, dan Roh itu memerlukan kerja sama kita. Ia menunggu kita menolong diri kita sendiri. Segera setelah kita melaksanakan hal ini, Ia datang untuk melakukan segala sesuatu bagi kita. Jadi, melalui Roh itu yang tinggal di dalam kita, kita mema-tikan perbuatan-perbuatan tubuh.
Pada dasarnya, masalah ini sama dengan yang dikatakan dalam Galatia 5. Menurut konteks pasal ini, Roh itu dan daging berperang satu sama lain. Tetapi siapa yang menjadi milik Kristus, pasti menyalibkan daging. Selama Roh itu berperang melawan daging, kita menyalibkan daging. Hal ini dilakukan oleh kerja sama kita dengan pekerjaan Roh itu.
Di satu pihak, kita harus berdoa dengan Kristus; di pihak lain, kita harus mematikan daging dengan Roh yang berperang. Hari ini, Kristus berada di surga, di dalam kita sebagai Roh yang berperang. Di surga, Ia adalah Musa yang berdoa syafaat, dan di dalam kita, Ia adalah Yosua yang berperang. Kita perlu menjadi satu dengan Kristus yang surgawi, untuk bekerja sama dengan Kristus yang hidup. Kemudian secara riil daging akan dimatikan.
C. MELALUI MEMATIKAN SEMUA YANG BAIK ATAU
YANG BURUK YANG BERASAL DARI DAGING
Jika kita mau berperang melawan Amalek, kita harus mematikan semua yang berasal dari daging, sekalipun itu baik atau buruk. Sebenarnya, tidak ada sesuatu pun yang baik dari daging. Tetapi dalam pandangan kita, aspek-aspek tertentu dari daging kelihatannya baik. Dalam 1Samuel 15:3, Tuhan memerintahkan Saul untuk “pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” Meskipun Saul menumpas segala yang ada pada Amalek, namun ia “menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka” (1Sam. 15:9). Saul memaafkan diri dengan berkata “Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan kurban kepada TUHAN, Allahmu” (1Sam. 15:15). Sangat sukar untuk mengatakan apakah Saul berbohong atau tidak. Mungkin ia menyimpan domba-domba dan lembu-lembu yang terbaik untuk dirinya sendiri, bukan untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Menurut 1Samuel 15:12, Saul mendirikan sebuah tugu peringatan, untuk memperingati kemenangannya atas Amalek. Ini menunjukkan bahwa ia tidak memperhatikan perkataan dan tujuan Allah, tetapi memperhatikan kenikmatan dan kemuliaannya sendiri. Ketika Samuel bertanya kepada Saul mengenai apa yang telah ia perbuat, Saul membela dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa ia telah mematuhi perintah Tuhan, tetapi “rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan kurban kepada TUHAN, Allah mu” (ayat 21). Ini menunjukkan bahwa daging yang jahat dimusnahkan, sedangkan daging yang nampaknya baik dibiarkan tinggal.
Sering kita memusnahkan daging yang jahat, tetapi melindungi daging pilihan, yaitu daging yang baik. Kita semua memiliki butir-butir tertentu yang baik, masalah-masalah tertentu yang baik, yang kita sangka lebih baik daripada orang lain. Aspek-aspek daging ini ialah “kambing yang mengembik” dan “lembu yang menguak”. Setiap kali kita mengatakan diri sendiri lebih baik daripada orang lain, kita membiarkan suara-suara domba dan lembu itu terdengar oleh orang lain. Saul berkata bahwa ia telah melaksanakan firman Tuhan, tetapi Samuel berkata, “Kalau begitu apakah bunyi kambing domba, yang sampai ke telingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar itu?” (ayat 14). Ketika Saul menyatakan bahwa hewan-hewan itu dibiarkan tinggal untuk dipersembahkan kepada Tuhan, Samuel menjawab, “Apakah TUHAN itu berkenan kepada kurban bakaran dan kurban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada (mengalahkan) kurban sembelihan, memperhatikan (menaati) lebih baik daripada (mengalahkan) lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim” (ayat 22-23). Pemberita-pemberita firman Tuhan sering membicarakan ayat-ayat ini. Tetapi, sebagai pengganti dari mendengarkan perintah dan taat, di antara orang-orang Kristen hari ini bahkan terdapat banyak sekali kambing yang mengembik dan lembu yang menguak. Jika kita mau menanggulangi daging kita, kita harus menanggulangi dengan tuntas, yaitu mematikan semua yang baik maupun yang buruk. Apa saja yang berasal dari daging, harus ditanggulangi.
D. MELALUI MENAATI FIRMAN TUHAN
Berperang melawan Amalek, juga memerlukan ketaatan terhadap firman Tuhan (1Sam. 15:22-23). Pada zaman Saul, ketaatan kepada firman hanyalah secara luaran. Tetapi hari ini, kita harus menaati pengurapan yang di dalam. Bila kita tidak taat kepada pengurapan yang di dalam, daging akan segera menjadi kuat. Namun jika kita selalu menaati pengurapan yang di dalam, kita akan berdoa dengan Kristus, dan bekerja sama dengan Roh yang hidup itu. Ini akan memungkinkan kita mengalahkan, bahkan mematikan daging. Inilah cara berperang melawan daging.