AMALEK LAWAN KERAJAAN
Pembacaan Alkitab:
Kel. 17:12, 16; 1Sam. 15:2-3, 7-9, 10-29
Prinsip utama dalam Alkitab adalah perkara-perkara rohani yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru, dilukiskan dalam Perjanjian Lama dengan lambang atau gambaran. Demikian juga dengan masalah daging, yang dilambangkan dengan Amalek. Dalam tulisan-tulisannya, Paulus menanggulangi daging secara tuntas. Dalam seluruh Alkitab, tidak ada kata-kata yang lebih keras daripada yang digunakan oleh Paulus dalam Roma 8. Dalam ayat 7, Paulus mengatakan bahwa “keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah,” dan “keinginan itu tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” Selanjutnya dalam ayat berikutnya ia mengatakan bahwa “mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Dalam Galatia 5, Paulus juga dengan sungguh-sungguh dan tegas berbicara mengenai daging. Tetapi jika kita hanya memiliki Roma 8 dan Galatia 5, kita masih akan menemui kesukaran dalam memperoleh pengertian yang cukup mengenai daging, sebab dalam Alkitab, istilah “daging” digunakan dalam cara yang berbeda-beda, dengan arti yang berbeda-beda pula. Jadi, kita sukar mengenal daging dan menanggulanginya.
I. HASIL DARI DAGING — ISMAEL,
LAWAN HASIL DARI ANUGERAH — ISHAK
Kita bersyukur kepada Tuhan atas gambaran-gambaran tentang daging yang diberikan dalam Perjanjian Lama. Salah satu di antaranya adalah mengenai Ismael dalam Kitab Kejadian. Setelah berkali-kali manusia jatuh, sampai pada zaman Babel, telah mencapai batas terendah, Allah datang memanggil Abraham dan berjanji akan melakukan perkara-perkara tertentu untuknya. Dalam hubungan-Nya dengan Abraham, Allah tidak menghendaki Abraham melakukan perkara apa pun, selain meninggalkan negeri ayahnya. Para pelajar Alkitab menyadari bahwa hubungan Allah dengan Abraham berkaitan dengan janji yang telah Ia berikan kepada Abraham. Dalam Kejadian 12, kita memiliki janji, dan dalam Kejadian 15, janji itu dijamin menjadi suatu perjanjian. Sampai Kejadian 17, sunat menjadi tanda atau meterai perjanjian yang dijamin dalam Kejadian 15. Janji Allah kepada Abraham diulangi lagi kepada putranya, yaitu Ishak, dan kepada cucu laki-lakinya, yaitu Yakub. Allah pernah berjanji bahwa Ia akan melakukan sesuatu bagi Abraham, yang akan menyebabkan semua bangsa di bumi ini diberkati. Alangkah besarnya janji ini!
Janji Allah kepada Abraham ini bersifat anugerah. Ini berarti Allah tidak menghendaki Abraham melakukan sesuatu untuk memenuhi janji ini. Sebaliknya, Allah sendirilah yang akan melakukan segala sesuatu untuk dia. Seperti Abraham, apa adanya kita dan apa yang kita miliki, berasal dari daging. Lagi pula, apa saja yang dapat kita lakukan adalah menurut daging. Kalau kita melakukan sesuatu untuk memenuhi janji Allah, itu berarti dalam cara tertentu kita menggunakan daging. Inilah alasannya mengapa Allah tidak menghendaki Abraham melakukan apa pun untuk memenuhi janji itu. Allahlah yang akan melakukan segala sesuatu. Inilah anugerah.
Namun, Abraham menerima usul Sara untuk melahirkan keturunan dari Hagar. Dalam melakukan ini, Abraham menggunakan dagingnya, dan hasilnya adalah Ismael. Allah menghendaki Abraham diakhiri. Tetapi pada usia 86, Abraham mengambil Hagar sebagai istrinya dan memperoleh anak yaitu Ismael. Selama 13 tahun kemudian, Allah tidak menampakkan diri kepadanya. Kemudian ketika Abraham berumur 99 tahun, Allah datang untuk menegur Abraham dan menegaskan kembali janji yang telah Dia berikan kepadanya. Pada saat itulah Abraham menyadari bahwa ia telah keliru.
Hasil dari penggunaan daging adalah Ismael. Ismael adalah lawan Ishak, yang merupakan hasil dari anugerah. Anugerah adalah Allah menjadi segala sesuatu bagi kita. Khususnya, anugerah adalah Allah sebagai tenaga dan kenikmatan kita. Allah telah berjanji kepada Abraham bahwa Ia akan memberi Abraham seorang putra. Tetapi Allah tidak menghendaki Abraham melahirkan keturunan. Karena itu, Allah menunggu sampai Abraham menganggap dirinya seolah-olah mati, sama sekali tidak mampu melahirkan anak, Allah datang untuk memungkinkan mereka melahirkan seorang anak. Menurut catatan dalam Kitab Kejadian, kelahiran Ishak adalah kedatangan Tuhan. Ketika Ishak lahir, Allah datang. Tentu saja ini tidak berarti bahwa Ishak adalah anak Allah, melainkan berarti Ishak dilahirkan bukan melalui penggunaan daging manusia, tetapi menurut anugerah Allah, menurut lawatan Allah. Karena itu, Ishak adalah hasil dari anugerah. Ismael, hasil dari daging manusia, adalah lawan Ishak.
Ishak adalah orang yang dihasilkan dari anugerah Allah, untuk menggenapkan kehendak kekal Allah. Ini merupakan suatu peristiwa yang sangat bermakna besar. Jadi, menjadi lawan Ishak merupakan perkara yang sangat serius. Hasil dari daging Ismael, menjadi lawan hasil dari anugerah Allah Ishak. Ini merupakan pemberontakan, yaitu pemberontakan besar terhadap kehendak kekal Allah.
Sangat sukar untuk mendefinisikan daging. Dalam berita ini, saya hendak menyatakan definisi khusus dari daging: daging berkaitan dengan apa saja yang tidak bekerja berdasarkan anugerah. Anugerah ialah Allah Tritunggal yang menjadi segala sesuatu kita, dan yang melakukan segala sesuatu bagi kita. Perjanjian Baru mewahyukan bahwa anugerah bukan mengacu kepada berkat-berkat material. Menurut Perjanjian Baru, anugerah ialah Allah sendiri, tidak hanya menjadi kenikmatan kita, tetapi juga melakukan segala sesuatu bagi kita. Apa saja yang kita lakukan adalah dari daging, tetapi apa yang Allah lakukan adalah anugerah. Jika saya berbicara dalam diri saya sendiri tanpa mengandalkan Allah, maka pembicaraan saya adalah dari daging, meskipun subyeknya adalah Alkitab atau doktrin rohani. Ini menunjukkan bahwa bahkan dalam berbicara mengenai hal-hal rohani atau hal-hal yang berkenaan dengan Kitab Suci sekalipun, kita mungkin berasal dari daging. Apa saja yang kita lakukan, baik atau jahat, jika di luar anugerah, itulah daging. Sebagai contoh, jika seorang saudara mengasihi istrinya berdasarkan diri sendiri dan tidak bersandar anugerah, kasihnya itu berasal dari daging.
Dalam arti tertentu, apa yang disebut daging yang baik, bagi Allah lebih membencikan daripada daging yang jahat. Dalam 1Samuel 15, kita nampak bahwa Allah membenci aspek-aspek yang baik dari Amalek. Karena itu, apa pun yang kita lakukan tanpa mengandalkan Allah dan percaya kepada-Nya adalah dari daging, tidak peduli bagaimanapun baiknya hal itu. Apa pun yang tidak dilakukan oleh Allah adalah dari daging. Seandainya saya menjenguk Anda berdasarkan diri saya sendiri dan bukan berdasarkan Allah, penjengukan itu berasal dari daging. Jika saya berdoa untuk orang lain tanpa mengandalkan Allah, tetapi sebaliknya berdoa dalam diri sendiri, doa itu adalah daging. Jangan mengira daging hanya menunjukkan hal-hal yang jahat atau nafsu yang jahat. Tentu, hal-hal semacam itu adalah daging. Daging juga meliputi hal-hal yang baik. Perhatikan kata “terbaik” dan “pilihan” dalam 1Samuel 15. Saul menyayangi lembu-lembu yang terbaik dan barang rampasan pilihan. Apa yang berhubungan dengan daging adalah hal-hal yang “terbaik” dan “pilihan”. Karena itu sekali lagi saya katakan bahwa apa saja yang kita lakukan jika tanpa Roh itu, tanpa mengandalkan Allah dan percaya kepada-Nya, bagaimanapun baiknya, adalah daging. Apa saja yang berasal dari diri kita sendiri adalah Ismael.
Ishak melambangkan Kristus. Karena itu, hasil dari daging yang dilambangkan oleh Ismael, adalah lawan Kristus. Tujuan Allah ialah menggarapkan Kristus ke dalam kita. Tetapi daging bekerja dalam cara yang berlawanan dengan Kristus. Akibat, hasil dari daging adalah lawan Ishak. Bila kita menggunakan daging kita, kita menghasilkan Ismael, dan Ismael ini selalu merupakan lawan Kristus. Ismael memutuskan kita dari anugerah dan mencegah kita berhubungan dengan Kristus. Karena alasan inilah dalam Yohanes 15, Tuhan Yesus berkata bahwa di luar Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi kita telah melakukan banyak sekali perkara-perkara besar di luar Kristus. Namun semua perkara baik yang telah kita lakukan di luar Kristus itu adalah Ismael yang merupakan lawan Kristus.
Ismael membuat kita tidak dapat menggenapkan kehendak kekal Allah. Kita tidak dapat menggenapkan kehendak kekal Allah selama kita masih menggunakan daging kita dan tidak percaya kepada Allah, tidak mengandalkan-Nya, atau tidak hidup dalam keesaan dengan Dia.
Kita telah terbiasa melakukan banyak perkara di luar Kristus. Kita semua membenci perkara-perkara yang penuh dosa. Tetapi tidak banyak orang yang membenci perkara-perkara yang baik, bahkan yang nampaknya perkara-perkara rohani, yang dilakukan di luar Kristus. Apakah Anda pernah menyalahkan diri Anda sendiri karena Anda berdoa dalam daging untuk perkara tertentu? Hasil dari berdoa dalam daging juga akan menjadi Ismael. Ismael ini adalah lawan Kristus, dan menghalangi kita menikmati anugerah Allah untuk menggenapkan kehendak Allah.
Daging manusia adalah lawan anugerah Allah. Ini berarti apa saja yang manusia lakukan di luar diri Allah, mengha-langi kehendak Allah. Ini merupakan masalah yang serius. Kita harus mengakui bahwa kita masih melakukan banyak hal melalui penggunaan daging kita. Namun, boleh jadi ada orang menyangkal bahwa mereka menggunakan daging. Tetapi mereka juga tidak bersandar Tuhan. Asalkan kita tidak bersandar kepada Tuhan, kita ada di dalam daging, dan menggunakan daging. Hanya dengan tidak percaya kepada Tuhan, secara spontan kita hidup di dalam daging.
Kita perlu belajar tidak melakukan apa-apa dengan menggunakan daging. Kadang-kadang ketika daging saya kuat, saya bahkan tidak berani berbicara dengan seorang saudara pun. Saya menyadari bahwa apa saja yang ingin saya katakan, akan berasal dari daging. Jadi, hal terbaik yang saya lakukan adalah tidak mengerjakan apa pun. Pada saat-saat yang demikian, saya hanya dapat berkata, “Tuhan, am-punilah aku. Aku tidak dapat melakukan apa pun. Karena aku tidak berani melahirkan Ismael, aku tidak memiliki keberanian untuk melakukan sesuatu.”
II. AMALEK LAWAN KEMERAJAAN
Gambaran kedua mengenai daging ialah Amalek dalam Kitab Keluaran. Dalam gambaran ini kita nampak bagaimana harus menanggulangi daging, persoalan yang kita bahas dalam berita sebelumnya. Jika kita hendak menanggulangi daging yang dilambangkan oleh Amalek, kita harus serasi dengan Kristus yang menjadi Pengantara di surga, dan mengikatkan diri kita dengan Roh yang berperang yang ada di dalam kita. Dalam berita ini kita perlu nampak bahwa daging bukan hanya lawan anugerah, tetapi juga lawan kemerajaan. Karena alasan inilah, daging harus ditanggulangi sepenuhnya sebelum Kerajaan Allah datang. Di mana daging berada, tidak akan terdapat Kerajaan Allah. Hanya bila daging ditanggulangi, maka datanglah Kerajaan Allah.
Dalam Roma 8:7, Paulus berkata bahwa daging tidak mungkin takluk kepada Allah. Kerajaan Allah menunjukkan wewenang Allah dengan segala sesuatu takluk kepada Allah. Tetapi daging tidak mungkin takluk kepada Allah. Daging sama sekali menentang takhta Allah.
A. MELAWAN TAKHTA TUHAN
Dalam Keluaran 17:16, kita nampak bahwa Amalek adalah tangan yang melawan (menentang) takhta TUHAN (Tl.). Dalam pandangan Allah, Amalek dianggap melawan takhta Allah. Ini menunjukkan bahwa Amalek berusaha merobohkan takhta Allah, sebagaimana Iblis (Satan) pernah berusaha melakukan hal itu. Keluaran 17:16 mengatakan bahwa karena melawan takhta TUHAN, Allah akan berperang melawan Amalek turun-temurun. Melalui hal ini kita nampak bahwa Amalek adalah lawan wewenang Allah.
Setiap aspek daging kita, entah itu baik atau jahat, merupakan musuh dari wewenang Allah. Daging tidak suka kepada Allah dan wewenang-Nya. Bila kita berada di dalam daging, kita menganggap diri kita sebagai orang yang tidak wajib tunduk kepada takhta Allah. Kita merasa bahwa kita memiliki kedudukan dan hak kita sendiri. Sumber dari sikap yang sedemikian ini adalah Iblis. Tetapi, Iblis bersatu dengan daging kita. Prinsip Iblis bukanlah datang kepada kita secara langsung, tetapi datang melalui orang lain, dan melalui beberapa hal di dalam diri kita sendiri. Sebagai contoh, Iblis datang kepada Hawa dalam rupa ular. Dalam Matius 16, Petrus, seorang rasul yang sangat mengasihi Tuhan Yesus, telah diperalat oleh Iblis. Iblis datang kepada Tuhan di dalam Petrus dan melalui Petrus. Sering kali daging kita bertindak sebagai selubung bagi Iblis. Setiap kali kita menggunakan daging kita, Iblis bersembunyi di dalam kita. Karena itu, seperti Iblis sendiri, daging berlawanan dengan wewenang Allah. Menurut gambaran dalam Keluaran 17, orang Amalek melawan takhta Allah.
B. HUR DARI SUKU YEHUDA MENOPANG TANGAN
MUSA YANG BERDOA MELAWAN AMALEK
Ketika tangan Musa yang berdoa menjadi penat, maka diperlukan bantuan keimaman yang dilambangkan oleh Harun dan bantuan kemerajaan yang dilambangkan oleh Hur, yang berasal dari suku Yehuda. Karena orang Amalek melawan takhta Allah, maka tangan yang berdoa itu perlu ditopang oleh kemerajaan dalam berperang melawan Amalek. Kemerajaan merupakan penopang bagi kehidupan doa kita. Jika kita tidak berada di bawah wewenang Allah, melainkan memberontak, kehidupan doa kita akan berakhir. Tetapi semakin kita tunduk kepada Allah dan wewenang-Nya, kita akan semakin berhasrat untuk berdoa. Ketika kita memberontak kepada Allah dan menolak wewenang-Nya, hasrat kita untuk berdoa akan hilang. Mungkin mengenai suatu masalah Anda tidak taat kepada urapan minyak yang di dalam. Sebagai akibatnya, dalam sejangka waktu, mungkin beberapa hari, Anda tidak mempunyai keinginan untuk berdoa. Jadi, sangatlah penting bagi kita untuk belajar menghormati kemerajaan Allah, menghormati wewenang Allah. Kita harus bersikap, “Tuhan, aku tidak mau melakukan apa pun tanpa Engkau. Aku memerlukan Engkau sebagai anugerahku. Daging adalah diriku sendiri yang melakukan hal-hal di luar Tuhan. Aku tidak ingin hidup tanpa Engkau sebagai anugerahku.” Kita semua perlu berdoa dengan roh yang sedemikian ini.
Kita juga harus berdoa, “Tuhan, bantulah aku untuk menghormati wewenang-Mu, kemerajaan-Mu, dan selalu tunduk kepada-Mu. Tuhan, Engkau mempunyai wewenang. Aku perlu patuh dan tunduk kepada-Mu.” Jika kita membina sikap yang sedemikian ini, keinginan dan hasrat kita untuk berdoa akan bertambah. Sebagai contoh, jika kita di bawah pimpinan Tuhan pergi berbelanja, kita akan dipenuhi dengan doa selama berbelanja. Kalau pemberontakan membunuh keinginan kita untuk berdoa, maka kepatuhan menambah hasrat kita untuk berdoa.
Karena Amalek terlibat dengan Kerajaan Allah, maka kita perlu ditopang oleh keimaman dan kemerajaan untuk berperang melawan Amalek. Jika kita berusaha menanggulangi daging tanpa memelihara wewenang Allah, kita sangat keliru. Pada dasarnya, diri kita sendiri berlawanan dengan Kerajaan Allah. Dalam kehidupan doa kita, kita perlu ditopang oleh kemerajaan dari Hur. Selanjutnya, kita harus memandang Tuhan bagi anugerah yang menjadi sasaran wewenang-Nya. Dengan cara inilah kita menghormati wewenang Allah, dan menguatkan kemerajaan dalam pengalaman kita.
C. KERAJAAN DATANG SETELAH PEPERANGAN MELAWAN AMALEK
Dalam Keluaran 18, kita memiliki suatu lambang, yaitu gambaran mengenai Kerajaan Allah. Fakta bahwa gambaran ini disajikan setelah peperangan melawan Amalek, menunjukkan bahwa ketika Amalek ditanggulangi, kerajaan dan kemerajaan segera datang. Ini juga menunjukkan bahwa Amalek adalah lawan kemerajaan.
D. RAJA SAUL KEHILANGAN KEMERAJAANNYA
Dalam 1Samuel 15, yaitu bagian lain dari firman mengenai Amalek, kita nampak bagaimana Saul kehilangan kemerajaannya. Meskipun Saul telah diurapi menjadi raja, ia kehilangan kemerajaan karena caranya menanggulangi Amalek. Dari hal ini kita harus belajar, agar kita berhati-hati dalam menanggulangi daging. Boleh jadi kita menanggulangi daging dengan suatu cara yang mengakibatkan kita kehilangan kemerajaan kita.
Menurut Wahyu 5:10, kita sebagai orang Kristen telah diselamatkan bukan hanya untuk menjadi para imam, tetapi juga menjadi raja. Kita adalah Harun dan Hur hari ini. Kita telah dilahirkan dalam keluarga raja. Petrus mengatakan bahwa kita adalah imamat yang rajani (1Ptr. 2:9). Tetapi tidak banyak orang Kristen yang menyadari bahwa mereka adalah raja sejak lahir. Sedangkan mereka yang menyadari fakta ini, mungkin saja tidak begitu memperhatikannya. Karena kita adalah raja, kita harus bertindak tanduk sebagai raja.
Ketika kita berhubungan dengan orang-orang Kristen tertentu, kita merasa bahwa mereka menyandang kemerajaan, wewenang. Tetapi ketika kita berhubungan dengan kaum beriman lainnya, kita merasa bahwa mereka kekurangan kemerajaan. Mereka sangat jauh di bawah tingkat kemerajaan. Karena kita telah dilahirkan sebagai raja dan akan menjadi raja kelak, maka sangatlah penting melatih kemerajaan kita hari ini.
1. Tidak Menumpas Amalek secara Tuntas
Saul kehilangan kemerajaannya karena ia tidak menumpas tuntas Amalek. Menurut 1Samuel 15:3, Saul telah diperintah “kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” Apa saja yang menjadi milik Amalek harus ditumpas seluruhnya. Tidak ada satu pun yang boleh dibelaskasihani. Meskipun Saul menumpas Amalek, namun ia tidak menumpas mereka secara tuntas.
2. Menyelamatkan Agag, Raja Amalek, dan Ternak yang Terbaik
Satu Samuel 15:9 mengatakan, “Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka.” Saul menyelamatkan kambing domba terbaik dan “jarahan . . . yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas” (ayat 21). Ini menggambarkan fakta bahwa secara pengalaman, kita menghargai aspek-aspek yang baik dari hayat alamiah kita, misalnya kebaikan alamiah kita, dan kita tidak mau menumpasnya. Kita semua menghargai hal-hal yang baik dari daging kita. Kita semua adalah Saul. Ketika kita diperintah oleh Allah untuk menumpas daging, kita hanya menumpas hal-hal yang negatif saja, misalnya temperamen kita yang suka marah. Tetapi, sedikit sekali yang menumpas aspek-aspek yang baik dari hayat alamiah. Bagaimanapun macamnya kita ini, kita semua menghargai bagian pilihan dari manusia alamiah kita. Namun kita perlu didorong oleh fakta bahwa Tuhan masih bekerja di atas dan di dalam kita. Dalam Perjanjian Baru, kita dapat melihat bahwa Paulus dan Yohanes telah bebas dari daging mereka. Mereka menumpas Amalek di dalam mereka secara tuntas.
Kita memerlukan terang yang kuat, sehingga kita nampak bahwa apa adanya kita dalam hayat alamiah ini adalah Amalek. Amalek di dalam kita harus ditumpas secara tuntas. Jangan membuat alasan untuk menyelamatkan setiap aspek Amalek di dalam kita.
Saul mencoba membela diri karena kegagalannya dalam menumpas Amalek. Pertama-tama, ia mengatakan bahwa “rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik” (ayat 15). Dalam 1Samuel 15, tidak saya temukan ayat yang mengatakan bahwa Saul hendak membunuh semua ternak dan rakyatnya tidak menyetujuinya. Saya yakin bahwa Saul berdusta dalam menyalahkan rakyatnya. Saul pasti merasa sangat senang karena kemenangannya atas Amalek. Bahkan ia mendirikan sebuah tanda peringatan bagi dirinya sendiri, sebagai peringatan atas prestasinya (ayat 12).
Kedua, Saul mengatakan kepada Samuel bahwa kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik telah diselamatkan untuk dipersembahkan kepada Allah (ayat 15, 21). Namun, saya tidak yakin bahwa Saul mempunyai hati yang sedemikian terhadap Tuhan. Sebaliknya, saya yakin bahwa ia berdusta kepada Samuel mengenai tujuan penyelamatan kambing domba dan lembu-lembu itu.
Selama saya membaca 1Samuel 15, saya tidak yakin bahwa diri saya lebih baik daripada Saul. Saya tahu bahwa gambaran mengenai Saul tersebut menggambarkan apa yang ada di dalam diri saya. Dalam masalah membela diri, mungkin kita bahkan lebih buruk daripada Saul. Setiap pembelaan diri adalah dusta. Hal ini sama dengan kita. Janganlah mencoba membela diri sendiri di hadapan Tuhan. Tidak ada pembelaan diri yang bertahan di hadapan Tuhan.
Janganlah membela diri atas kegagalan Anda dalam menumpas daging secara tuntas. Jangan mengatakan bahwa Anda mempunyai kebiasaan tertentu, dan Anda tidak dapat berbuat apa-apa terhadapnya. Perkataan yang mengatakan bahwa Anda tidak dapat menumpasnya adalah dusta. Jika kita memandang masa lampau kita, kita akan nampak, telah berapa kali kita gagal menumpas daging secara tuntas. Kita tidak patuh kepada perintah Allah untuk menumpas Amalek secara tuntas. Sangat sedikit di antara umat Allah yang menumpas daging secara tuntas. Inilah alasannya, mengapa dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak memiliki penghargaan terhadap kemerajaan. Karena kita tidak menumpas Amalek secara tuntas, maka dalam pengalaman kita, kerajaan tidak kunjung datang.
Akhir-akhir ini, dalam suatu sidang yang khusus telah saya tunjukkan bahwa kita semua memiliki sifat-sifat yang khas, yang menghalangi kita menikmati Kristus. Hal lain yang merusak kehidupan rohani kita ialah kebiasaan kita, yang memelihara aspek-aspek yang baik dari daging. Kita biasa menyingkirkan aspek daging yang buruk, dan memelihara aspek daging yang baik. Tidak banyak di antara kita yang benar-benar membenci “daging yang baik”. Namun, kita harus membenci setiap aspek daging, karena aspek-aspek itu merupakan lawan anugerah, dan menghalangi kita dalam menikmati Kristus. Kita juga harus membenci daging, karena daging adalah lawan kemerajaan.
Menyelamatkan aspek daging, menyebabkan kekurangan wewenang rohani. Banyak orang beriman yang kekurangan bobot wewenang rohani hanya karena mereka belum menanggulangi sifat-sifat khas mereka secara tuntas. Kebudayaan, opini, ciri-ciri khas dan kebiasaan, adalah tempat persembunyian daging, dan semuanya itu merusak kehidupan rohani kita. Karena kita menyelamatkan aspek-aspek daging yang baik, maka aspek-aspek ini menghabiskan kerajaan kita, wewenang kita. Seperti mereka yang telah bertahun-tahun berada di dalam Tuhan dan mengasihi serta menuntut-Nya, kita pun harus memiliki bobot rohani yang memadai. Kita harus diisi dengan kemerajaan, dengan wewenang ilahi. Tetapi dalam beberapa hal, kebalikannyalah yang terjadi. Karena banyak orang saleh tidak menumpas “Agag” dalam diri mereka dan ternak Amalek yang terbaik, maka mereka kekurangan wewenang, kemerajaan, serta bobot rohani.
3. Menyelamatkan Ternak yang Terbaik untuk Dipersembahkan kepada TUHAN Adalah Jahat dalam Pandangan TUHAN
Allah tidak mau menerima alasan Saul bahwa rakyat-lah yang menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Allah telah memerintahkan Saul untuk menumpas segala sesuatu milik Amalek secara tuntas, tanpa alasan. Allah tidak menghendaki ternak yang terbaik untuk dipersembahkan kepada-Nya. Dalam pandangan Allah, hal yang demikian itu adalah jahat (1Sam. 15:19). Ini menunjukkan, mungkin kita menganggap suatu benda pantas dipersembahkan kepada Tuhan. Tetapi bagi Tuhan itu adalah jahat. Perhatikan gambaran mengenai Kain, yang persembahannya dalam pandangan Tuhan adalah jahat. Banyak orang Kristen hari ini yang mempersembahkan barang-barang yang dipandang jahat oleh Tuhan. Mereka menyatakan ingin ikut serta dalam pelayanan rohani, tetapi Allah mengatakan bahwa persembahan mereka itu jahat, sebab sumber persembahan itu ada di dalam daging. Apa saja yang dipersembahkan kepada Allah jika bersumber dalam daging, dalam pandangan-Nya adalah jahat.
4. Berbuat Dosa yang Lancang dengan
Mempersembahkan Kurban kepada TUHAN Berdasarkan Kehendak Manusia
Dengan mempersembahkan kurban kepada Tuhan berdasarkan kehendak manusia, Saul telah melakukan dosa yang lancang. Samuel mengatakan kepadanya, “Apakah TUHAN itu berkenan kepada kurban bakaran dan kurban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada (mengalahkan) kurban sembelihan, memperhatikan (menaati) lebih baik daripada (mengalahkan) lemak domba-domba jantan” (1Sam. 15:22). Mempersembahkan sesuatu kepada Allah berdasarkan kehendak kita sendiri adalah lancang. Sekalipun kita mempersembahkan sesuatu yang baik, kita masih tetap melakukan dosa yang lancang. Allah tidak memerintahkan Saul untuk menyelamatkan ternak pilihan, dan mempersembahkan semua itu kepada-Nya sebagai kurban persembahan. Saul bertindak lancang dalam melakukan hal ini. Tindakan ini adalah dosa.
5. Pendurhakaan Sama Seperti Dosa Bertenung dan Kedegilan Sama Seperti Menyembah Berhala dan Terafim
Dalam 1Samuel 15:23, Samuel mengatakan, “Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim.” Bertenung meliputi hubungan dengan setan. Perkataan Samuel kepada Saul menunjukkan bahwa menyelamatkan daging kita adalah pemberontakan, yang membawa kita ke dalam hubungan dengan setan. Mempersembahkan kurban seperti cara Saul sebenarnya bukan mempersembahkan kurban kepada Allah, melainkan berhubungan dengan setan. Pendurhakaan yang sedemikian ini sama dengan dosa bertenung.
Lagi pula, kedegilan Saul sama dengan menyembah berhala dan terafim. Kata “berhala” dalam bahasa Ibrani yang ditulis dalam 1Samuel 15:23, berarti berhala yang sia-sia. Kedegilan Saul sama seperti menyembah berhala yang sia-sia. Sebenarnya ia tidak menyembah Tuhan, tetapi menyembah berhala kesia-siaan. Mungkin Saul mengira ia menyembah Allah yang benar, tetapi sebenarnya ia melayani berhala. Perkataan Samuel kepada Saul berarti, karena pendurhakaannya, Saul menjadi berhubungan dengan setan dan berhala kesia-siaan.
Jika sebagai pengganti menumpas daging secara tuntas kita malah menyelamatkan aspek-aspek daging tertentu yang baik, kita juga akan berhubungan dengan setan. Menyelamatkan daging yang baik, lalu mempersembahkannya kepada Allah, merupakan kekejian bagi Allah, sebab dalam praktek yang sedemikian ini setan ikut terlibat, berhala kesia-siaan juga ikut terlibat. Jika kita mau menuruti perkataan Tuhan untuk menumpas daging secara tuntas, kita akan memiliki kemerajaan, dan kita akan berada di dalam Kerajaan Allah. Tetapi jika kita tidak melaksanakan perintah-Nya untuk menumpas Amalek, kita akan terputus dari wewenang Allah, dan menjadi satu dengan setan dan berhala kesia-siaan.
Sangatlah penting bagi kita nampak apa itu daging, dan bagaimana daging merupakan lawan anugerah dan kemerajaan Allah. Jika kita ceroboh dalam menanggulangi daging, kita akan seperti Saul, kehilangan kemerajaan. Kemudian secara spontan, kita akan mengikatkan diri dengan kuasa kegelapan. Kelihatannya kita adalah umat Allah, tetapi sebenarnya kita menyembah berhala kesia-siaan. Betapa seriusnya hal ini! Pendurhakaan sama seperti dosa bertenung, dan kedegilan sama seperti menyembah berhala dan terafim. Semoga Tuhan membelaskasihani kita, sehingga kita mengetahui apa itu daging, dan bagaimana cara menanggulanginya secara tuntas.
Catatan dalam Alkitab mengenai Amalek, mengajarkan kepada kita bahwa kita harus takut dan gentar terhadap Allah dalam melakukan hal-hal yang baik. Kita semua takut melakukan hal-hal yang jahat. Tetapi boleh jadi kita tidak takut melakukan hal-hal yang baik. Gambaran mengenai Amalek dalam Perjanjian Lama menunjukkan kepada kita bahwa melakukan hal-hal yang baik berdasarkan kemauan kita sendiri, bahkan lebih buruk daripada melakukan halhal yang jahat, sebab semuanya itu bertentangan dengan takhta Allah. Kurban persembahan Kain kelihatannya baik, tetapi sebenarnya merupakan pendurhakaan terhadap takhta Allah dan ekonomi-Nya. Demikian juga, Saul menyelamatkan ternak pilihan dari Amalek, dengan tujuan untuk dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban persembahan. Ini merupakan pendurhakaan yang berhubungan dengan tenung, yaitu hubungan dengan setan. Kebanyakan apa yang dikerjakan oleh orang Kristen hari ini yang dikira untuk Allah, sebenarnya merupakan pendurhakaan terhadap ekonomi Allah, dan berhubungan dengan setan.
Tanpa 1Samuel 15:22 dan 23, kita tidak akan menyadari bahwa perbuatan Saul itu merupakan pendurhakaan yang berkenaan dengan setan. Tetapi perkataan Samuel menyingkapkan sifat dari apa yang telah Saul lakukan. Kelihatannya Saul bermaksud untuk mempersembahkan kurban kepada Tuhan. Namun sebenarnya kurban persembahannya itu berhubungan dengan setan. Hal ini mewahyukan pentingnya mengenal bahwa apa saja yang kita lakukan di luar anugerah Allah, dan tidak mengandalkan Allah serta tidak percaya kepada-Nya, berasal dari daging. Dan apa saja yang berasal dari daging, bertentangan dengan takhta Allah. Ini akan digunakan oleh si licik, yaitu musuh Allah, untuk menghalangi kehendak Allah.
Banyak orang Kristen hari ini yang menyelamatkan aspek-aspek daging yang terbaik dan mempersembahkannya kepada Allah. Kaum beriman bahkan dianjurkan untuk mempersembahkan hayat alamiah yang terbaik kepada Allah. Dalam mempersembahkan persembahan yang sedemikian ini, umat tebusan Allah tidak membuang daging, dan mereka tidak mengandalkan Allah. Di antara orang Kristen hari ini, aktivitas daging justru dianjurkan. Hanya Tuhanlah yang tahu, berapa banyak aktivitas kekristenan hari ini yang berhubungan dengan setan, dan yang menjadi penghalang kehendak Allah.
Di bawah terang firman Allah, kita harus belajar bahwa dalam melayani Allah kita perlu takut dan gentar, agar kita tidak gagal dalam bersandar kepada anugerah-Nya dan percaya kepada-Nya. Kita harus takut mengerjakan hal-hal di dalam kita sendiri, bahkan yang terbaik atau yang berdasarkan kemauan kita sendiri. Kita bahkan harus lebih takut melakukan hal-hal yang baik daripada yang buruk. Kita semua mengetahui bahwa Allah menghukum yang jahat. Sekarang kita harus belajar mengetahui bahwa bahkan dalam mengerjakan hal yang baik pun, kita bisa memberi kesempatan kepada daging untuk menghasilkan Ismael. Mungkin kita juga akan memberi tumpuan kepada Agag, raja Amalek.
?