← Daftar isi Keluaran (3) · bab 13/16

PENGALIRAN AIR HAYAT

Pembacaan Alkitab: Kel. 17:6; Yoh. 4:14; 7:38; Why. 22:2

Dalam Alkitab kita nampak bahwa minum air hayat dan pengaliran air hayat berjalan seiring. Minum dihubungkan dengan pengaliran dan pengaliran adalah satu dengan minum. Dalam Yohanes 4:14 Tuhan Yesus berkata, “Tetapi siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal.” Di sini kita nampak, jika kita minum air hayat, air ini akan menjadi mata air di dalam kita yang memancar sampai kepada hidup yang kekal. Pemancaran inilah yang kita maksudkan dengan pengaliran air hayat. Kita temukan prinsip yang sama dalam Yohanes 7:37 dan 38, Tuhan Yesus berkata bahwa orang yang percaya kepada-Nya, yang meminum Dia, “dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Jadi, minum dan peng-aliran adalah dua aspek dari satu perkara.

MINUM DAN PENGALIRAN

Tanpa pengaliran air hayat, sia-sialah minum kita. Faktanya, jika kita tidak mengalirkan, kita tidak akan mampu terus minum. Minum terhenti akibat tidak adanya pengaliran. Minum air hayat yang sejati tergantung pada pengaliran.

Kita mengambil selang air sebagai gambaran. Di satu pihak, selang menerima air dari kran; di pihak lain, selang mengalirkan air. Baik pengaliran ke dalam, maupun pengaliran keluar sama-sama diperlukan. Penerimaan dan pengaliran terjadi serentak. Jika kita tidak minum, kita tidak dapat mengalirkan dan jika kita tidak mengalirkan, kita tidak dapat terus minum.

Serius sekali jika minum kita terhenti akibat kurangnya pengaliran. Di antara sekian banyak orang beriman yang telah minum air hayat, tidak banyak yang mengalami pengaliran air hayat itu. Akibatnya, minum mereka terhenti. Jika Anda tidak mengalirkan, Anda tidak dapat terus menerima air hayat melalui minum. Pengaliran dapat memelihara kelangsungan aliran batiniah. Bukan minum, bukan penerimaan, yang menjaga kelangsungan aliran ini, melainkan pengaliran air hayat. Banyak orang Kristen yang tidak minum sama sekali atau menemukan bahwa minumnya mereka tidak menghasilkan apa-apa. Penyebabnya ialah sekalipun mereka telah minum, mereka tidak mengalirkan. Kekurangan pengaliran menyebabkan minumnya mereka tidak berakibat apa-apa. Ini sangat serius. Maka dalam berita ini, saya berbeban menunjukkan bahwa menurut pengalaman atas air hayat, pengaliran jauh lebih penting daripada minum. Memang, pengalaman kita atas air hayat dimulai dengan minum. Tetapi tanpa pengaliran, kita tidak berdaya meneruskan minum. Jika pengaliran tidak menyertai minum kita, minum kita akan terhenti. Pengalaman kita mempersaksikan kebenaran hal ini.

KESERIUSAN AKAN HILANGNYA

RASA HAUS KITA

Selanjutnya, kurangnya pengaliran bisa menyebabkan hilangnya rasa haus kita. Sebelum kita mulai minum air hayat untuk kali pertama, ada rasa haus di dalam batin kita. Baik sekali memiliki rasa haus semacam itu, tetapi mengerikan sekali bila kita kehilangan hal itu. Pemberitaan Injil yang tepat tidak sekadar memberikan air hayat kepada orang lain, melainkan menimbulkan suatu rasa haus di batin mereka. Jika orang-orang itu haus, kita dengan mudah meyakinkan mereka untuk minum. Penjual yang baik tahu bagaimana membangkitkan suatu hasrat dan keinginan membeli dalam hati orang terhadap barang-barang yang mereka jual. Tanpa keinginan atau hasrat semacam itu, orang tidak akan tertarik, sekalipun terhadap barang-barang yang bagus. Ini menggambarkan fakta betapa pentingnya rasa haus itu.

Demi belas kasihan Tuhan, kita memiliki rasa haus terhadap-Nya melalui pemberitaan Injil. Saya tidak pernah lupa betapa rasa haus saya dibangkitkan melalui mendengarkan suatu berita Injil, lebih dari 55 tahun yang lalu. Saya begitu haus sehingga saya seolah-olah dapat meminum air satu samudra. Satu berita menimbulkan rasa haus di batin saya yang tetap berlangsung sampai sekarang. Meskipun sudah lebih dari 55 tahun berlalu sejak saya mendengar pemberitaan yang ajaib itu, saya masih haus akan air hayat.

Kita perlu terkesan dengan pentingnya mengalirkan air hayat. Jika pengaliran berhenti, minum kita akan terhenti, dan jika minum kita terhenti, kita akan kehilangan rasa haus kita. Sebelum rasa haus kita dibangkitkan kembali atau terpulih, kita akan mengalami kematian rohani sejangka waktu. Setelah kita mengalami kekeringan semacam itu sejangka waktu, kita akan digerakkan oleh Tuhan dalam belas kasihan-Nya yang berdaulat untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Rasa haus kita akan dibangkitkan dan kita akan mulai minum kembali. Saya benar-benar memperhatikan tingkatan rasa haus kita. Banyak orang di antara kita yang pernah mengalami kehilangan rasa haus kita. Jika kita hendak mempertahankan rasa haus batiniah kita, kita perlu terus-menerus mengalirkan, terus-menerus minum.

MENGALIR MASUK

DAN MENGALIR KELUAR

Secara doktrinal, untuk mengalirkan air hayat, haus kita harus dileraikan dulu (Yoh. 4:14). Artinya, jika kita tidak dipenuhi dengan air hayat, tidak akan ada aliran apa pun. Pengaliran berasal dari keluapan dan keluapan berasal dari terlerainya haus kita. Namun, dari sudut pengalaman, jika kita hendak mengalirkan, kita tidak perlu menunggu haus kita terlerai.

Sejak kita minum Tuhan untuk meleraikan haus kita, kita perlu memperhatikan pengaliran. Banyak orang di antara kita telah minum air hayat beberapa waktu yang lampau. Persoalan kita lebih banyak berkaitan dengan pengaliran daripada minum. Dalam memberitakan Injil kepada orang-orang yang tidak percaya, saya menekankan pentingnya minum; tetapi dalam melayani orang-orang percaya, saya menekankan pentingnya pengaliran. Sebagai orang-orang yang percaya, kita telah minum air hayat. Kini, keperluan kita yang khusus adalah mengalirkan air hayat itu.

Sukar untuk menentukan seseorang sedang minum atau tidak, namun kita mudah melihat apakah seseorang sedang mengalirkan atau tidak. Mari kita lihat lagi gambaran tentang selang air. Kita tidak dapat melihat masuknya air, tetapi dapat melihat pengaliran keluarnya. Demikian juga, saya dapat melihat pengaliran dari Anda. Kita mungkin tidak tahu apakah air hayat itu masuk ke dalam kita, namun kita sungguh-sungguh tahu bila air itu mengalir dari diri kita. Pengaliran keluar semacam ini adalah suatu hal yang nyata bagi setiap orang.

MENGALIRKAN MELALUI BERBICARA

Mungkin Anda bingung akan apa artinya mengalirkan air hayat secara riil. Pengaliran dapat diumpamakan dengan menyemprot sesuatu dengan air. Menyemprot pipa adalah mengalirinya dengan air untuk membersihkannya; yakni mencucinya dengan suatu aliran air yang deras. Sebagai orang Kristen, dari dalam batin kita seharusnya ada penyemprotan air hayat. Untuk memiliki penyemprotan, pengaliran yang kuat ini, kita perlu menyeru nama Tuhan Yesus dan berdoa. Menyanyi bagi Tuhan juga membantu.

Hal yang khusus membantu untuk mendatangkan pengaliran batiniah adalah berbicara kepada Tuhan, melalui Tuhan, untuk Tuhan, di dalam Tuhan, dan dengan Tuhan. Semakin kita berbicara sedemikian, kita akan semakin mengalirkan. Jika tidak ada seorang pun yang menjadi lawan bicara kita, kita boleh berbicara kepada benda-benda di dalam kamar kita. Bicaralah kepada meja, pintu, dan dinding. Bicaralah kepada sesuatu dan segala sesuatu. Jika Anda mempunyai hewan peliharaan di rumah, berbicaralah kepadanya. Berbicaralah kepada anjing, kucing, burung-burung, atau ikan. Beberapa orang mungkin menganggap demikian ini suatu hal yang menggelikan, tetapi saya dapat mempersaksikan bahwa berbicara akan menghasilkan perbedaan. Orang Kristen tidak seharusnya membisu, berdiam diri. Sebaliknya, kita harus menjadi orang-orang yang meluapkan dan mengalirkan hayat. Kita semua mempunyai sesuatu untuk diajak berbicara. Kita dapat berbicara kepada jendela-jendela, pintu-pintu, batu bata, dan batu lainnya. Jika kita berbicara, sesuatu dari Tuhan Yesus akan mengalir keluar. Dengan berbicara kita bagaikan selang air yang mempunyai baik pengaliran masuk maupun keluar.

Jumlah pengaliran masuk sebanding dengan jumlah pengaliran keluar. Banyaknya air yang mengalir keluar dari diri kita mencerminkan berapa banyak air yang dapat mengalir masuk ke dalam kita. Dengan kata lain, berapa banyak kita mengalirkan menandakan berapa banyak air hayat yang mampu kita minum.

Ada orang mungkin sangat kering, bahkan kersang. Penyebabnya ialah mungkin mereka tidak berbicara. Karena mereka tidak berbicara, maka mereka tidak membiarkan air hayat mengalir. Saya menganjuri Anda untuk mengalirkan air hayat melalui berbicara. Ini mungkin kedengarannya agak ganjil, namun saya dapat bersaksi bahwa ini sangat riil dan sangat efektif.

BERBICARA DALAM SIDANG-SIDANG GEREJA

Kita perlu berbicara dalam beberapa cara. Pertama, kita perlu memberitakan Injil kepada orang yang belum percaya. Lalu kita perlu membicarakan kebenaran dengan kaum beriman kepada sesama orang Kristen. Kita juga seharusnya berbicara dalam sidang-sidang gereja. Karena saya berbicara terlalu banyak dalam pelayanan firman, saya pun melakukan yang disebut orang dengan “tenang” dalam sidang. Maksud saya, dengan berbuat demikian, saya memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara. Misalnya, selama 45 tahun yang lalu, dalam Sidang Pemecahan Roti, saya tidak pernah berdiri mendekati meja untuk mengucapkan syukur dan pujian kepada Tuhan guna mengambil roti atau cawan. Namun demikian, ini tidak berarti bahwa saya tidak berbeban melakukan hal itu. Kadang-kadang, saya sangat berbeban untuk itu, khususnya sewaktu roh kaum beriman tenggelam dan sidang begitu kendur, sehingga saat yang tepat untuk membagikan roti dan cawan berlalu tanpa seorang pun berbuat apa-apa. Dalam keadaan semacam itu, berlalulah waktu untuk kenikmatan yang manis akan makan dan hilanglah kesempatan. Ketika roti berlalu, banyak kenikmatan akan makan telah hilang. Sering kali dalam Sidang Pemecahan Roti, kita gagal mengedarkan roti dan cawan pada saat yang tepat. Kadang-kadang tidak ada seorang pun bersyukur kepada Tuhan atas roti atau cawan. Sebaliknya, setiap orang berlambat-lambat dan membisu. Baru-baru ini, saya mulai menyesali pembatasan yang saya paksakan pada diri saya, sekalipun alasan saya ialah hendak memberikan kesempatan berfungsinya kaum beriman dengan berbicara dan berdoa. Seperti yang lain, saya juga perlu mengalirkan pujian dan ucapan syukur dalam sidang-sidang gereja. Dengan berbuat demikian, kita membebaskan orang lain untuk dipenuhi dengan air hayat. Kita semua perlu dibebaskan dalam sidang-sidang. Janganlah duduk di tempat dan menunggu yang lain berfungsi. Sebaliknya, berfungsilah dengan aktif melalui berbicara bagi Tuhan, dan peganglah setiap kesempatan untuk mengalirkan air hayat.

Berkali-kali kaum beriman datang kepada saya dengan keluhan-keluhan atas sidang-sidang. Kaum beriman tersebut mengatakan kepada saya bahwa sidang terlalu rendah, terlalu miskin. Biasanya, jika saya mendengar keluhan dan kritik semacam itu, saya tidak berdebat. Bahkan mungkin saya tidak menjawab. Namun demikian, saya hendak memakai kesempatan ini untuk menunjukkan bahwa mereka yang mengeluh karena sidang-sidang gereja, haruslah sebagai orang-orang yang ikut bertanggung jawab atas hal ini. Mungkin suatu sidang begitu miskin karena mereka membisu, tidak membebaskan aliran air hayat. Kita semua mempunyai banyak kesempatan untuk berbicara dalam sidang. Bahkan dalam sidang yang dikhususkan untuk pelayanan firman, ada kesempatan untuk berbicara baik sebelum atau sesudah pemberitaan. Juga, kita semua dapat berdoa dalam Sidang Doa dan mempersembahkan puji-pujian dan ucapan syukur dalam Sidang Pemecahan Roti. Semua sidang gereja terbuka bagi kaum saleh. Kita perlu berfungsi dengan mengalirkan air hayat. Menurut Efesus 5:18-20 dan Kolose 3:16, orang Kristen seharusnya senantiasa berbicara, menyanyi, bermazmur, dan mengucap syukur.

PENANGKAL YANG TERBAIK

Jika kita tetap membisu dan tidak mau berbicara, kita akan lebih mudah tersinggung atau marah-marah. Sebaliknya, jika kita senantiasa berbicara, menyanyi, dan mengucap syukur, kita akan sulit marah. Ini membuktikan bahwa pengaliran air hayat adalah suatu penangkal yang mengusir hal-hal negatif, semua “lalat”, “kalajengking”, dan “tikus”. Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan berperang. Siang malam kita berperang melawan hal-hal negatif yang mencoba mempengaruhi suatu penangkal untuk menghalau “serangga-serangga”. Berbicara adalah penangkal yang terbaik.

Andaikan saya bepergian dengan pesawat udara menjenguk gereja di suatu kota. Jika selama penerbangan saya tetap berdiam diri, tidak berdoa, memuji, atau menyeru nama Tuhan Yesus, saya akan diganggu oleh hal-hal negatif atau pikiran-pikiran serong. “Kalajengking-kalajengking” mungkin tidak akan datang sendirian, melainkan berbondong-bondong. Pikiran-pikiran negatif mungkin berkerumun memenuhi pikiran saya, pikiran tentang saudara-saudara tertentu atau mungkin cara istri saya memperlakukan saya beberapa hari yang lalu, atau tentang sikap anak saya yang seolah-olah mengganggu saya. Jika saya tidak melalui berbicara menghalau “kalajengking-kalajengking” itu, pikiran-pikiran yang negatif itu, saya tidak akan berhasrat berbicara bagi Tuhan sesampainya saya di tempat tujuan. Bahkan mungkin saya tidak akan merasakan beban apa pun dalam batin saya.

Namun, misalnya keadaan saya sama sekali berbeda. Saya tidak berdiam diri, saya terus-menerus berbicara melalui memuji, berdoa, mengucap syukur, dan menyeru nama Tuhan. Karena saya berbicara, air hayat terus-menerus mengalir dalam batin saya. Begitu saya disapa oleh saudara-saudara, saya akan dengan spontan berkata, “Puji Tuhan!” Selanjutnya saya akan berbeban memberikan hayat kepada gereja di tempat itu.

Jika kita kekeringan dalam hal rohani, kita akan mudah tersinggung atau marah. Jika kita tidak mengalirkan air hayat, kita akan mudah marah-marah kepada suami atau istri kita. Tetapi jika kita berlimpah dengan air hayat, sikap kita yang mudah tersinggung, gusar, dan marah-marah akan tersembur keluar dan sirna. Betapa besar perbedaan yang dihasilkan dengan mengalirkan air hayat.

MEMANCAR SAMPAI HIDUP YANG KEKAL

Kebangunan yang sejati adalah perkara mengalirkan, meluapkan. Mari kita baca Yohanes 4:14 lagi, “Tetapi siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal.” Ciri khas pancaran air adalah mengalir tanpa henti. Sesuatu yang tidak mengalir tidak dapat menjadi suatu pancaran. Sebaliknya mungkin akan seperti Laut Mati yang tidak mempunyai pengaliran apa pun. Jika kita minum air hayat, di dalam kita akan timbul suatu pancaran air yang memancar sampai hidup yang kekal. Frasa “memancar sampai hidup yang kekal” sulit dimengerti. Saya tidak yakin bahwa seorang Kristen, bahkan yang di antara kita, mengerti sepenuhnya akan hal ini. Apa yang dimaksud dengan memancar sampai hidup yang kekal? Ini berhubungan dengan masa kini atau masa kekekalan? Hal ini berhubungan dengan keduanya. Tetapi apa maksudnya dikatakan bahwa air hayat mengalir dari sekarang sampai hidup yang kekal? Ini suatu misteri. Peluapan air hayat, pengaliran air ini selalu membawa kita ke dalam suatu situasi yang penuh dengan kepenuhan hayat. Menurut pengalaman saya, setiap kali air hayat mengalir di batin saya, saya dibawa ke dalam situasi yang dipenuhi dan diluapi dengan air hayat. Inilah yang dimaksud dengan air hayat memancar sampai hidup yang kekal.

Andaikan saya mengunjungi seorang saudara di rumahnya. Tetapi saya membisu sepanjang jalan, dingin, dan mati. Jika keadaan saya begini, tidak akan ada pancaran sampai hidup yang kekal. Sebaliknya, saudara yang bersangkutan dan saya akan tertekan lebih ke bawah dan ke bawah sampai maut. Tetapi jika selama perjalanan ke rumah saudara tersebut, saya mengalirkan air hayat dengan berbicara, air hayat akan memancar di dalam saya sampai kepada hidup yang kekal. Kemudian begitu saya berbicara dengannya, air hayat akan terus mengalir. Dengan mengalirkan air hayat, kita akan dibawa ke dalam suatu keadaan yang diluapi dengan hayat. Sesungguhnya inilah yang dimaksud dengan air memancar sampai hidup yang kekal.

Semakin kita berbicara, kita akan semakin terbawa ke dalam suatu keadaan yang meluapi kita dengan hayat yang kekal. Ini seharusnya menjadi pengalaman kita dalam kehidupan sehari-hari dan juga dalam sidang-sidang gereja. Kalau tidak, sidang-sidang kita akan seperti suatu sandiwara di teater. Kita mengikuti sidang bukan untuk sandiwara, kita datang untuk bersaksi, mengekspresikan, dan memamerkan pengaliran air hayat yang kita alami hari demi hari.

Dalam hal mengalirkan air hayat melalui berbicara, orang-orang Kristen hari ini sudah jauh dari sasaran. Para fundamentalis tetap mempertahankan suatu formalitas. Formalitas-formalitas itu mengantar orang-orang ke dalam maut, bukan ke dalam hidup yang kekal. Sebaliknya, dalam aliran Pentakosta, ada sejumlah pembicaraan. Sekalipun kebanyakan percakapan tersebut menggelikan, pada dasarnya masih lebih baik daripada tidak berbicara sama sekali, dan mungkin masih ada suatu manfaat rohani. Namun, kita yang di dalam pemulihan Tuhan tidak perlu berbicara seperti mereka yang di aliran Pentakosta. Sebaliknya, kita mempunyai banyak perkataan atas Kristus sebagai hayat kita dan atas semua yang telah dihasilkan oleh pelayanan firman. Betapa kita harus berkata-kata seorang kepada yang lain! Janganlah menjadi seperti para fundamentalis atau orang-orang Pentakosta. Sebaliknya, mari berkumpul bersama untuk mengalirkan air hayat melalui berbicara.

Pengaliran, peluapan yang berasal dari berbicara akan mendatangkan hayat, akan menghasilkan pancaran sampai hidup yang kekal. Semakin banyak pembicaraan, nyanyian, doa, dan puji-pujian, semakin banyak pula pengaliran di antara kita. Mari kita memegang setiap kesempatan dalam sidang-sidang gereja untuk mengalirkan. Janganlah menyia-nyiakan waktu dalam kebisuan, dalam kesunyian, tetapi gunakanlah setiap menitnya untuk mengalirkan air hayat. Pembicaraan sedemikian tidak hanya akan membawa kita ke dalam keadaan yang meluapi kita dengan hayat, tetapi juga membawa kita ke dalam kepenuhan Roh. Semakin kita berbicara, kita akan semakin dibawa ke dalam kepenuhan Roh.

DISATUKAN DENGAN KRISTUS

YANG DIPUKUL

Jika kita mau mengalirkan air hayat, kita juga perlu disatukan dengan Kristus yang dipukul (Kel. 17:6; Yoh. 7:38). Batu yang dipukul melambangkan Kristus yang berinkarnasi dalam penyaliban-Nya. Dalam berita yang lalu kita telah menunjukkan bahwa di atas salib, Kristus telah dipukul oleh Allah. Kita perlu ditandai dengan pukulan ini. Artinya, hayat manusia kita, hayat alamiah kita, harus dipukul sedemikian rupa sehingga air hayat dapat mengalir. Walaupun demikian kita tidak perlu mencoba memukul diri kita sendiri. Jika kita dengan sederhana bersatu dengan Kristus yang dipukul, disatukan dengan Dia, kita akan mengalami penyaliban atas hayat alamiah kita. Kemudian sebagaimana hayat ilahi Kristus mengalir seperti air hayat melalui pemukulan atas hayat insani-Nya, kita pun akan mengalami pengaliran air hayat melalui pemukulan atas hayat alamiah kita. Hanya ketika hayat alamiah kita telah dipukul, barulah air ilahi mengalir dari kita.

Jika kita berbicara tanpa disatukan dengan Kristus yang dipukul, pembicaraan kita, bahkan pujian dan doa kita akan menjadi alamiah. Kita perlu bersatu dengan Kristus secara sungguh-sungguh dan praktis. Kemudian kita akan mengalami pemukulan atas hayat alamiah yang terjadi di dalam Dia dan dengan Dia pada saat penyaliban-Nya. Jika kita demikian disatukan dengan Kristus yang dipukul, air hayat akan mengalir tidak secara alamiah, melainkan secara murni, tanpa campuran. Dengan demikian apa pun yang keluar dari diri kita melalui doa, puji-pujian atau kesaksian, akan menjadi pengaliran hayat ilahi dalam kemurniannya.

Ketika kita disatukan dengan Kristus dalam kematian-Nya, hayat alamiah dan hayat insani kita akan dimatikan. Kemudian, apa yang mengalir dari diri kita adalah hayat Allah, hayat yang kekal dan ilahi. Hayat ini adalah air hayat. Jika kita disatukan dengan Kristus yang dipukul, apa pun yang mengalir dari diri kita akan murni. Tidak akan ada campuran hayat ilahi dengan hayat alamiah.

Selanjutnya, pengaliran ini akan membawa kita ke dalam suatu keadaan yang diluapi dengan hayat kekal. Menurut Wahyu 22:1 dan 2, suplai hayat ada di dalam air hayat, karena pohon hayat tumbuh di sungai hayat. Jika air hayat mengalir di dalam kita, kita disuplai dengan berlimpah. Lagi pula, seluruh gereja akan menerima suplai hayat yang kaya. Oh, betapa kita memerlukan pengaliran yang sedemikian!

Saya menganjuri Anda berdoa mengenai pengaliran air hayat dan melaksanakan apa yang telah Anda dengar dalam berita ini. Betapa pun kita perlu meninggalkan pengajaran-pengajaran tradisional dan praktek-praktek kekristenan. Kita semua perlu melupakan pengaruh latar belakang kita di dalam kekristenan. Apa yang telah kita bicarakan dalam berita ini sesuai dengan firman Allah yang murni, bukan menurut tradisi Kristen, melainkan pengaliran air hayat. Jika kita melaksanakan pengaliran melalui berbicara dan melalui disatukan dengan Kristus yang dipukul, kita tidak hanya mempunyai satu aliran, melainkan banyak aliran seperti yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Yohanes 7:38. Aliran-aliran air hayat akan mengalir keluar dari lubuk batin kita.