← Daftar isi Keluaran (3) · bab 12/16

MINUM AIR HAYAT (2)

Pembacaan Alkitab:

Kel. 17:3a, 6; Yoh. 7:37-39; 4:10, 14;

1Kor. 10:4; 12:13, 3; Why. 21:6; 22:1-2, 17; Kis. 2:17a, 21

Dalam berita ini kita akan melihat apa yang diwahyukan dalam Alkitab mengenai jalan untuk minum air hayat. Saya dapat bersaksi bahwa saya telah menggunakan waktu lebih dari 30 tahun untuk menemukan bagaimana caranya minum air hayat. Dalam berita yang di depan saya pernah menunjukkan bahwa sekalipun saya telah banyak memberitakan mengenai minum air hayat, saya sendiri tidak tahu harus bagaimana meminumnya. Akhirnya, saya harus bertanya kepada diri saya sendiri, “Engkau telah memberitakan cukup banyak mengenai minum, tetapi apakah engkau tahu bagaimana caranya minum?” Saya harus mengakui bahwa saya tidak tahu cara minum. Saya mulai menyadari pentingnya menemukan cara yang tepat untuk minum. Apa yang akan saya lakukan seandainya sesudah sebuah berita mengenai minum air hidup saya beritakan, ada seseorang bertanya kepada saya bagaimana caranya minum? Misalkan, seseorang mendatangi Anda dan berkata, “Aku yakin bahwa Kristus adalah air hayat itu, dan aku haus akan Dia. Tolong beri tahu aku bagaimana minum air hayat ini.” Bagaimana jawaban Anda bila ada pertanyaan sedemikian ini?

Tidak semua rahasia ilahi dalam Alkitab diwahyukan secara jelas dan nyata. Dalam hikmat-Nya, kadang-kadang Tuhan mewahyukan rahasia-rahasia-Nya secara agak tersembunyi. Rahasia-rahasia ini tercatat dalam Alkitab dan diwahyukan di dalam Alkitab, tetapi tidak semuanya terungkap sekaligus. Misalkan saja, Alkitab menyuruh kita untuk percaya, tetapi tidak memberi tahu kita bagaimana caranya. Beberapa tahun ini dalam hal mengabarkan Injil saya telah memberi tahu orang-orang untuk percaya di dalam Tuhan. Ketika seseorang menanyakan bagaimana cara percaya, saya merasa kesulitan. Apakah yang akan Anda katakan bila seseorang bertanya kepada Anda bagaimana cara percaya kepada Tuhan Yesus? Akankah Anda memberi tahu orang tersebut secara doktrinal bahwa iman itu datang dari mendengarkan? Jika Anda hanya menyuruh dia percaya, apakah yang akan Anda lakukan kalau Anda ditanya bagaimana cara percaya? Jawaban yang terbaik bagi pertanyaan ini ialah bahwa kita percaya melalui menyeru nama Tuhan Yesus. Kepada orang yang belum beroleh selamat, tidaklah seharusnya kita memberi jawaban-jawaban yang rumit mengenai bagaimana cara percaya. Janganlah mencoba menjelaskan bahwa dengan percaya kita memasuki suatu kesatuan yang organik dengan Tuhan. Penjelasan yang sedemikian hanya akan membingungkan mereka. Beri tahu mereka yang mau percaya kepada Tuhan Yesus supaya membuka mulut mereka serta berseru, “Oh, Tuhan Yesus.” Jalan untuk percaya kepada Tuhan ialah menyeru nama-Nya.

Sebagaimana Alkitab tidak memberi tahu kita bagaimana cara kita percaya, Alkitab juga tidak memberi tahu kita bagaimana cara minum air hayat itu. Kitab Suci dengan sederhana mengatakan bahwa jika kita haus, kita seharusnya datang kepada Tuhan dan minum. Jikalau kita pergi kepada Tuhan dan bertanya kepada Dia bagaimana caranya minum, Dia akan mengatakan, “Jika engkau haus dan ingin minum, silakan minum saja.” Kita belajar minum dengan jalan minum. Karena itu cara minum agaknya sama dengan cara percaya, setidaknya sangatlah berdekatan. Ketika kita renungkan bagaimana cara minum, saya lebih suka memperkenalkan dengan jalan yang sederhana lagi riil akan pelajaran yang sudah saya pelajari lebih dari 30 tahun. Kata-kata ini ditujukan kepada mereka yang sudah percaya di dalam Tuhan, bukan kepada orang-orang yang tidak percaya.

I. DITEMPATKAN PADA POSISI

UNTUK MINUM

Sebagai kaum beriman, kita telah ditempatkan pada posisi untuk minum. Ini adalah aspek pertama dari pengetahuan minum. Satu Korintus 12:13 mengatakan, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Melalui baptisan kita telah ditempatkan pada posisi untuk minum. Asal kita telah dibaptis ke dalam Tuhan, kita memiliki posisi untuk minum air hayat. Sebelum kita beroleh selamat, kita menjauhi air hayat. Namun sekarang kita telah diselamatkan, kita sudah dibawa kembali dan ditempatkan pada posisi untuk minum. Misalnya, ada mesin air minum di dalam gedung gereja kita. Supaya kita dapat minum dari mesin ini, mulut kita harus dalam posisi yang tepat. Begitu pula, untuk minum air hayat, kita harus ditempatkan dahulu pada posisi untuk minum. Baptisan memberi kita posisi ini. Terima kasih kepada Tuhan, kita semua ditempatkan pada posisi untuk minum.

II. PERLU RASA HAUS

Sekalipun kita telah ditempatkan pada posisi untuk minum, kita tak akan minum jika kita tak haus. Untuk minum air hidup perlu rasa haus (Kel. 17:3a; Yoh. 7:37; Why. 21:6). Laksaan orang Kristen dewasa ini tidak haus akan Tuhan. Alangkah perlunya belas kasihan bisa menjadikan kita haus! Saya dapat bersaksi bahwa hari demi hari saya haus akan air hayat. Jika saya tak berdoa sejangka waktu, saya sadar akan kehausan saya. Adalah suatu belas kasihan Allah bahwa kita memiliki rasa haus akan air hayat, terlebih lagi ketika banyak orang Kristen tidak merasa haus. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa sepanjang hari kita sadar akan kehausan di dalam kita. Kehausan ini menyebabkan kita berdoa dan berkontak dengan Tuhan. Mungkin dengan sederhana kita berkata, “Tuhan Yesus, aku haus akan Engkau, aku mau berkontak dengan-Mu.” Kalau kita merasa tidak begitu haus, kita perlu berdoa, “Tuhan, tambahkanlah rasa haus di dalamku.” Kita semua perlu rasa haus yang sedemikian terhadap Tuhan.

III. DATANG KEPADA TUHAN

Kita juga perlu datang kepada Tuhan. Dalam Yohanes 7:37, Tuhan Yesus mengundang mereka yang haus untuk datang kepada-Nya dan minum. Seperti halnya Roh dan pengantin perempuan menyerukan panggilan untuk datang dan meminum air hayat (Why. 22:17). Meskipun kita sudah ditempatkan pada posisi untuk minum dan kita merasa haus, kita masih perlu datang kepada Tuhan secara berkesinambungan, sampai 24 jam sehari. Jika kita memberi tahu Tuhan bahwa kita ingin datang kepada-Nya sepanjang hari, Dia pasti akan menjawab doa kita. Beritahukanlah kepada Tuhan, “Tuhan, aku tidak mau berhenti datang kepada-Mu. Aku mau datang kepada-Mu 24 jam sehari, bahkan ketika aku tidur.” Apa pun yang kita lakukan, kita boleh datang kepada Tuhan melalui menyeru nama-Nya. Setiap kali kita menyeru nama Tuhan Yesus, kita datang kepada-Nya.

IV. MEMINTA KEPADA TUHAN

Untuk minum air hayat kita perlu minta Tuhan akan air ini. Dalam Yohanes 4:10, Tuhan berkata kepada wanita Samaria, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu, ‘Berilah Aku minum!’ niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”

V. BERSERU KEPADA TUHAN

Meskipun kita telah ditempatkan pada posisi untuk minum, kita dapat merasa haus, kita dapat datang kepada Tuhan, dan meminta kepada-Nya, sebenarnya kita belumlah minum sampai saat kita menyeru nama Tuhan (Kis. 2:21). Dalam 1Korintus 12 kita menemukan rahasia minum. Dalam ayat 13, Paulus berkata bahwa kita semua telah diberi minum dari satu Roh, dan ayat 3 memberi tahu kita bahwa tak seorang pun dapat menyeru nama Tuhan Yesus kecuali di dalam Roh Kudus. Minum Roh ialah berseru, “Tuhan Yesus.” Setiap kali kita menyeru nama Tuhan dengan jalan ini, kita dengan spontan minum air hayat.

Dalam 1Korintus 12 kita nampak bahwa air adalah Roh itu, karena ayat 13 berbicara mengenai minum dari satu Roh. Cara minum ialah berseru kepada nama Tuhan. Jika kita haus, asal berseru, “Tuhan Yesus,” kita segera minum dari Roh itu. Seruan kita adalah minumnya kita. Menurut 1Korintus 12:3, ketika kita berseru, “Tuhan Yesus,” kita ada di dalam Roh. Saya dapat bersaksi bahwa setiap kali saya berseru kepada Tuhan dari dalam roh saya, saya mempunyai keyakinan dan perasaan bahwa saya ada di dalam roh berkontak dengan Tuhan.

Selama beberapa tahun saya merasa tidak jelas terhadap perkataan Paulus dalam 1Tesalonika 5:17 mengenai tetaplah berdoa atau berdoa dengan tidak putus-putus. Saya merasa heran bagaimana mungkin berdoa dengan tidak putus-putus. Sekarang saya nampak bahwa kita dapat berdoa dengan tidak putus-putus dengan mudah, melalui menyeru nama Tuhan Yesus secara terus-menerus. Rahasia minum Roh dalam 1Korintus 12 juga adalah rahasia berdoa dengan tidak putus-putus. Karena kita berseru kepada Tuhan dengan tidak putus-putus, maka adalah mungkin bagi kita untuk berdoa dengan tidak putus-putus. Kecuali ketika kita sedang tidur, kita dapat secara terus-menerus menyeru nama Tuhan. Mungkin menyeru nama Tuhan pada akhirnya akan menjadi bagian dari kehidupan kita; kita akan berseru kepada-Nya bahkan ketika kita sedang tidur. Setiap kali kita berseru, “Tuhan Yesus,” kita mempunyai perasaan yang dalam bahwa Tuhan sungguh-sungguh bersatu dengan kita di dalam roh.

Kita dapat berseru kepada Tuhan setiap waktu dan di setiap tempat. Ketika Anda dicobai untuk marah-marah, berserulah, “Tuhan Yesus.” Sebagai ganti untuk menahan amarah Anda, berserulah kepada nama Tuhan Yesus. Jika Anda berseru kepada Tuhan di saat yang sedemikian, air hayat akan membuat amarah Anda tertaklukkan. Berseru kepada Tuhan sesungguhnya adalah minum air hayat.

Ada orang Kristen yang tidak setuju dengan menyeru nama Tuhan, mereka lebih suka berkontak dengan-Nya secara tenang. Saya tak berkata bahwa kita harus menyeru nama Tuhan dengan suara keras. Bagaimanapun saya hendak menunjukkan bahwa menyeru nama Tuhan menduduki sebuah tempat yang penting dalam Kitab Suci. Kata “berseru” dalam bahasa Ibrani ialah “memanggil”, “berteriak kepada”, “bersuara hingga terdengar”. Kata “berseru” dalam bahasa Yunani berarti “menyeru kepada seseorang”, memanggil nama seseorang. Jadi, berseru menurut Alkitab ialah memanggil nama seseorang dengan suara yang terdengar. Meskipun doa bisa dilakukan dengan diam tenang, namun berseru adalah sesuatu yang terdengar. Tuhan Yesus ialah persona yang hidup, dekat, dan tersedia. Begitu kita menyeru nama-Nya, Dia bereaksi.

Selama beberapa tahun saya adalah seorang Kristen yang tenang. Sidang-sidang yang saya hadiri sangat tenang sehingga hampir-hampir Anda dapat mendengar sebatang jarum yang jatuh. Tetapi akhirnya saya mulai mempraktekkan menyeru nama Tuhan seturut Alkitab. Ketika kita menyeru nama-Nya, kita minum air hayat.

Saya telah menunjukkan bahwa kata berseru berarti berteriak kepada atau memanggil nama seseorang. Kata depan “kepada”, menyiratkan doa, itu menunjukkan bahwa ketika kita berseru, “Tuhan Yesus,” kita menengadah kepada-Nya di dalam doa. Demikianlah, kita tidak saja memanggil nama Tuhan, tetapi juga berseru kepada-Nya. Sambil memanggil nama-Nya, kita berdoa kepada-Nya. Misalnya Anda berseru, “Tuhan Yesus,” ketika sedang mengendarai mobil. Ini tidak hanya menyeru nama Tuhan, tetapi juga adalah cara untuk menengadah kepada-Nya dan berdoa kepada-Nya. Minum air hayat secara tepat ialah menyeru nama Tuhan.

Saya ingin menekankan fakta bahwa setiap waktu dan di setiap tempat kita dapat minum air hayat demi berseru kepada Tuhan. Selama beberapa tahun saya memiliki kon-sepsi bahwa saya haruslah formal dalam berkontak dengan Tuhan. Saya berpikir bahwa sebelum saya berkontak dengan Dia di dalam doa, saya haruslah berpakaian rapi dan kemudian pergi ke suatu tempat di mana saya dapat berdiri di hadapan-Nya atau berlutut. Sekarang saya menikmati berseru kepada Tuhan di mana pun dan kapan pun. Saat minum air hayat, saya tak peduli akan formalitas apa pun. Saya hanya tahu bahwa setiap kali saya berseru, “Tuhan Yesus,” tak peduli saya berada di mana, saya sungguh-sungguh menikmati Tuhan.

Kadang-kadang saya merasa ada beban berat di dalam saya. Mungkin ketika saya sedang berpakaian di pagi hari, dengan spontan saya mulai menyeru nama Tuhan. Alangkah nikmatnya! Alangkah meleraikan dahaga saya! Melalui demikian berseru kepada Tuhan, di dalam saya dikuatkan untuk menanggung beban berat saya.

Ada orang boleh jadi menyangka bahwa dalam berdoa kepada Tuhan dan berseru kepada Dia kita harus sopan dan hormat, berdoa di waktu-waktu yang memadai dan di tempat yang layak. Itu adalah konsepsi agama dan sedikit pun tidak riil. Tuhan adalah air hayat kita. Jika kita lebih memperhatikan sopan santun atau penghormatan melebihi minum air hayat, Tuhan akan berkata, “Aku tidak memerlukan penghormatanmu. Aku menghendaki kamu minum air hayat. Aku tidak menghendaki kamu menghormati Aku. Aku menghendaki kamu minum Aku. Jalan untuk menghormati Aku ialah meminum Aku.” Alangkah bedanya hal ini dari konsepsi agama mengenai ibadah dan formalitas! Mereka yang dengan khidmat menyanyi: “Kudus, kudus, kudus,” tidak banyak minum Tuhan. Jangan memperhatikan formalitas agama, mari kita berkata, “Tuhan Yesus, aku di sini. Aku bukanlah di tempat yang suci menyembah Engkau dengan tata cara agama. Aku di sini minum Engkau melalui menyeru nama-Mu.”

Di masa yang lampau saya sering memberi dorongan kepada kaum beriman untuk meluangkan waktu menyendiri dengan Tuhan setiap pagi. Meski saya tidak menarik kembali perkataan ini, kini saya dapat berkata bahwa jika Anda tahu bagaimana cara minum Tuhan, Anda dapat melupakan menyisihkan sejangka waktu tertentu untuk berkontak dengan Dia. Marilah kita berseru kepada Tuhan dengan tak peduli di mana kita berada atau apa yang sedang kita kerjakan. Kali pertama kita bangun pagi, kita seharusnya minum air hayat demi menyeru nama Tuhan. Sambil membersihkan diri dan berpakaian, kita dapat minum air hayat. Kita perlu melupakan segala formalitas dan hanya memperhatikan perihal minum air hayat. Formalitas tidak mendatangkan apa-apa, malah membunuh. Yang kita perlukan adalah menerima Tuhan Yesus dengan menyeru nama-Nya secara murni. Demikian kita akan menerima suplai air hayat.

Berseru kepada Tuhan secara spontan dan informal lebih baik daripada mendekati-Nya secara agamawi dengan penghormatan, formalitas, dan kekhidmatan. Saya lebih suka mendengar kaum muda berseru kepada Tuhan dalam perjalanan mereka ke gedung gereja daripada mendengar paduan suara menyanyikan lagu-lagu secara agamawi. Betapa indahnya mendengar kaum saleh berseru kepada Tuhan, “Tuhan Yesus, aku mengasihi-Mu! Tuhan, di sini aku minum dari-Mu dan menikmati-Mu.” Alangkah baiknya hal ini daripada kebaktian yang formal agamawi! Saya menyadari bahwa hal ini bisa mengguncangkan orang-orang yang agamawi. Namun saya tahu apa yang saya katakan. Demi minum air hayat, saya sering bergembira di dalam Tuhan. Saya mendorong saudara saudari untuk terus-menerus berlatih menyeru nama Tuhan. Lebih banyak Anda berseru kepada-Nya, lebih banyak Anda minum air hayat.

Akhir-akhir ini kita telah bersekutu mengenai opini-opini dan kehancuran yang disebabkan oleh opini-opini itu bagi hidup kekristenan dan hidup gereja. Cara untuk menanggulangi opini-opini kita ialah berseru kepada Tuhan Yesus. Biasanya ketika kita mengukuhi opini kita, kita berhenti berseru kepada Tuhan. Mereka yang suka bertengkar jarang berseru kepada-Nya. Demikian juga dengan seorang saudari yang tidak senang kepada suaminya. Karena ketidaksenangan ini, dia tidak mau berdoa atau berseru kepada Tuhan. Kadang-kadang saya mengingatkan saudari yang demikian, sekalipun suaminya boleh jadi telah menyandungnya, tetapi Tuhan Yesus sekali-kali tidak demikian. Lalu saya bertanya kepadanya mengapa dia tidak mau berbicara kepada Tuhan. Tetapi sering saudari yang bersangkutan menolak berseru kepada Tuhan. Karena tidak ada penyeruan, maka juga tidak ada peminuman akan air hayat. Demikianlah, sebagai ganti suplai hayat, terdapatlah kematian dan kekeringan. Marilah kita berdiri melawan semua kematian yang demikian. Saat saudara atau saudari dicobai untuk bertengkar dengan suami atau istri Anda, minumlah air hayat melalui menyeru nama Tuhan.

VI. MENERIMA DAN MENGAMBIL

MELALUI PERCAYA

Akhirnya, kita minum air hayat demi menerima dan mengambil melalui percaya. Menurut Yohanes 7:39, kita menerima Roh sebagai air hayat demi percaya ke dalam Kristus. Wahyu 22:17 berbicara mengenai mengambil air hayat secara gratis. Ketika kita menyeru nama Tuhan, dengan spontan kita menerima air hayat dan mengambilnya dengan cuma-cuma. Jika kita berseru kepada Tuhan, kita akan memiliki iman yang hidup. Lebih banyak kita berseru, lebih banyak kita percaya; dan lebih banyak kita percaya, lebih banyak pula kita menerima dan mengambil air hayat.

Menyeru nama Tuhan menyelesaikan segala masalah kita. Jika Anda dipenuhi oleh dukacita dan kekhawatiran, berserulah kepada Tuhan. Kalau Anda dikecewakan, kehilangan semangat, atau kebingungan, berserulah kepada-Nya. Berserulah kepada-Nya di kala Anda lemah atau ketika Anda teguh. Melalui berseru, Anda menerima dan mengambil air hayat.

VII. MEMINUM DAN MENYEMBAH ALLAH

Problem yang mendasar di antara umat Kristen, khususnya di antara mereka yang ada di dalam kekristenan yang terorganisir, berhubungan dengan agama penyembahan Allah. Bahkan orang-orang yang tidak percaya pun memiliki konsepsi penyembahan terhadap Allah secara agamawi. Mereka yang memperhatikan Tuhan berpikir bahwa mereka seharusnya menyembah Dia sebagai Yang Mahakuasa, yang mengatasi segala-galanya. Mereka menghormati Allah Yang Mahakuasa sebagai tujuan penyembahan mereka. Konsepsi ini adalah bagian dari naluri mereka.

Karena Alkitab menyuruh kita menyembah Allah, maka kita tidak dapat berkata bahwa pikiran untuk menyembah-Nya itu salah. Namun bagaimana kita menyembah-Nya? Dalam Yohanes 4:23–24, Tuhan Yesus memberi tahu wanita Samaria yang mengajukan pertanyaan mengenai penyembahan, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa mencari orang-orang yang menyembah Dia secara demikian. Allah itu Roh dan siapa saja yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Perkataan Tuhan dengan jelas mewahyukan bahwa kita harus menyembah Allah. Namun, pertanyaannya ialah bagaimana menyembah Dia. Para agamawan memiliki cara penyembahan yang berbeda-beda. Sebenarnya, segala cara penyembahan agamawi yang berbeda-beda itu salah. Sampai pun wanita Samaria dalam Yohanes 4 memiliki konsepsi yang salah mengenai cara menyembah Allah. Tuhan Yesus mewahyukan kepadanya bahwa penyembahan yang tepat kepada Allah bukanlah di suatu tempat tertentu secara fisik, melainkan di dalam roh kita.

Menurut Yohanes 4, menyembah Allah di dalam roh ialah minum Dia. Janganlah memandang Allah sebagai suatu obyek penyembahan, lalu Anda menyembah-Nya di dalam roh. Dalam hal yang sedemikian, organ (roh) adalah benar, namun caranya masih salah. Bersujud di hadapan Allah bukanlah cara yang tepat untuk menyembah Dia; caranya ialah minum Dia sebagai air hayat. Allah tidak menghendaki menjadi obyek penyembahan kita. Sebaliknya, Dia datang sebagai air hayat untuk kita minum. Ketika kita minum Dia sebagai air hayat, kita baru benar-benar menyembah-Nya. Minum Tuhan dengan roh kita baru benar-benar menyembah Dia.

Sidang Pemecahan Roti adalah suatu sidang penyembahan. Mengenang Tuhan di depan meja-Nya adalah menyembah Dia. Cara untuk menyembah Tuhan di dalam sidang ini bukanlah berlutut atau bersujud, melainkan makan roti dan minum cawan mengenang Dia. Makan dan minum membentuk penyembahan yang benar. Kita bukannya mengenang Tuhan dengan menggunakan otak kita untuk mengingat hal-hal tertentu. Kita mengenang-Nya dengan jalan makan dan minum. Mengenang Tuhan dengan jalan makan dan minum adalah menyembah Dia.

Tidak banyak orang Kristen yang telah nampak bahwa maksud Allah ialah menggarapkan diri-Nya ke dalam kita. Kebanyakan orang beriman hanya mengetahui bahwa Allah adalah Allah, kita adalah ciptaan-Nya; karena kita sudah jatuh, demi kasih-Nya kepada kita, Allah mengutus Putra-Nya untuk mati bagi kita di kayu salib dan menggenapkan penebusan. Orang-orang Kristen yang sejati juga mengerti bahwa Kristus sudah bangkit, dan mengutus Roh Kudus untuk memimpin kita kepada pertobatan, menyebabkan kita percaya kepada-Nya, dan menerima-Nya sebagai Juruselamat kita. Setelah itu, menurut konsepsi yang alamiah, Alkitab digunakan sebagai sebuah buku pengajaran moral untuk mengajar kaum beriman memuliakan Allah dalam hidup mereka sehari-hari. Akhirnya, orang-orang Kristen diberi tahu bahwa setelah mereka meninggal dunia atau setelah Tuhan datang, mereka akan tinggal bersama Dia selamanya. Alkitab memang mengajarkan hal-hal sedemikian, tetapi pengajaran-pengajaran itu masih sangat dangkal. Semuanya itu bukanlah inti wahyu ilahi dalam Alkitab. Inti wahyu ilahi ialah Allah menciptakan kita dan menebus kita dengan tujuan menggarapkan diri-Nya ke dalam kita menjadi hayat kita. Kita dalam pemulihan Tuhan perlu nampak visi yang lebih penuh dari wahyu ini. Jika kita memiliki visi yang penuh sedemikian rupa, konsepsi kita mengenai penyembahan akan diatur olehnya.

Allah Tritunggal menggarapkan diri-Nya ke dalam kita sewaktu kita makan dan minum Dia. Sebagai makanan dan minuman kita, Dia masuk ke dalam kita menjadi satu dengan kita secara organik. Apa yang kita terima masuk ke dalam kita dengan cara makan dan minum menjadi satu dengan kita secara demikian. Makanan dan minuman ini akan menembus sel-sel kita dan menjadi jaringan-jaringan kita yang organik. Ketika suatu makanan kita terima dengan jalan makan dan minum, setelah tercerna dan terasimilasi, itu menjadi unsur penyusun kita. Demikianlah kita merupakan sebuah susunan dari apa yang kita makan dan minum. Ini adalah yang benar di dalam dunia rohani maupun di dalam dunia jasmani. Demi makan dan minum, mempelai perempuan menjadi satu dengan Roh itu. Menurut Wahyu 22:17, Roh dan mempelai perempuan berbicara sebagai pemanggil mereka yang haus untuk meminum air hayat.

Jika kita nampak bahwa tujuan Allah ialah menggarapkan diri-Nya ke dalam kita, maka kita dengan otomatis akan makan dan minum Dia. Para ibu tahu bahwa bayi mereka akan makan dan minum dengan sendirinya tanpa mempedulikan formalitas, cara, atau aturan apa pun. Anak kecil lebih pandai dalam hal makan dan minum daripada orang dewasa. Makan dan minum kita sering terhalang oleh segala perhatian yang kita curahkan atas berbagai etika makan (perilaku). Kadang-kadang makin banyak kita memperhatikan perilaku, makin sedikitlah kita menikmati makanan. Saya pernah mendengar kisah seorang duta besar China yang menghadiri perjamuan makan resmi di Jerman. Karena dia sangat memperhatikan etika yang tepat dan hal tata cara makan, dia tidak dapat menikmati makanan tersebut. Dia membuang-buang waktunya dengan melihat bagaimana gerak-gerik orang lain dan bagaimana cara mereka menggunakan alat-alat makan mereka. Etika makan mencegah dia makan. Anak-anak tidak demikian. Ketika cucu perempuan saya yang kecil mengunjungi kami, neneknya sering memberinya sesuatu untuk dimakan. Cucu perempuan saya yang kecil menikmati makanannya secara spontan dan dengan cara yang informal. Dia adalah contoh yang baik bagi kita untuk tidak begitu memperhatikan hal yang formal, sebaliknya lebih banyak makan dan minum.

Sewaktu Tuhan Yesus berbicara dengan perempuan Samaria, imam-imam di dalam Bait Allah sedang menyembah Allah secara formal, sistematis, dan dengan perilaku yang diatur dan ditentukan. Namun di manakah Allah pada waktu itu? Dia ada bersama para imam dalam bait, atau ada bersama perempuan itu di tepi sumur di Samaria? Kita semua tahu, Dia ada bersama perempuan Samaria itu. Dia bertemu dengan perempuan itu di tempat terbuka, jauh dari bait dan mezbah, tanpa formalitas agama maupun liturgi agama. Akhirnya perempuan Samaria itu minum air hayat dan menyembah Allah secara riil. Waktu itu penyembahan riil kepada Allah bukanlah dilakukan oleh para imam di dalam bait, tetapi dilakukan oleh perempuan Samaria yang minum air hayat. Sia-sialah para imam menyembah Allah; perempuan Samaria itu menyembah Dia secara riil melalui minum Dia. Roh sebagai air hayat diinfuskan ke dalamnya. Allah sedang mencari penyembahan yang benar, dan Dia menerimanya dari perempuan Samaria yang minum Roh sebagai air hayat.

Orang-orang Kristen hari ini perlu nampak penyembahan yang benar. Mereka menuduh saudara-saudara yang di dalam pemulihan Tuhan sebagai orang-orang yang bidah. Sebenarnya mereka sendirilah yang bidah dan tidak tahu kebenaran. Sebagaimana halnya imam-imam di dalam bait yang buta akan penyembahan yang benar. Dalam Yohanes 4, Tuhan Yesus tidak membuang waktu untuk berbicara dengan orang-orang Yahudi “yang standar” mengenai cara penyembahan Perjanjian Lama. Sebaliknya, Dia berbincang-bincang dengan perempuan yang amoral, yang setengah kafir, mengenai penyembahan yang memuaskan hati Allah. Perempuan ini menyembah Allah di dalam rohnya melalui minum Dia sebagai air yang meleraikan dahaganya. Demikianlah Allah disembah olehnya dengan cara yang benar. Alangkah bedanya ini dari penyembahan agamawi secara formal!

Selama berabad-abad, penyembahan kekristenan mirip dengan penyembahan para imam dalam bait. Hanya sedikit yang menyembah Dia di dalam roh melalui minum Dia sebagai air hayat. Tetapi sebagaimana saya tunjukkan dengan tegas dalam berita ini, inilah cara yang tepat untuk menyembah Dia.

Kita harus mengakui bahwa sebagian besar cara kita bersidang, tanpa disadari masih di bawah pengaruh latar belakang agama kita. Makin sering kita masuk ke dalam penyembahan yang benar kepada Tuhan melalui minum Dia sebagai air hayat di dalam roh kita, makin banyak pula kita sadari betapa kurangnya praktek kita. Demi belas kasihan Tuhan, saya sudah nampak penyembahan yang Tuhan kehendaki. Karena visi yang telah saya nampak, saya tidak menaruh perhatian terhadap agama, bahkan terhadap praktek-praktek kita sendiri. Sebenarnya, kita tidak perlu praktek-praktek. Keperluan kita ialah nampak bahwa Allah kita hari ini telah melalui proses inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, kenaikan, dan penobatan, menjadi Roh pemberi hayat yang almuhit untuk kita minum. Dia adalah Roh yang majemuk, dan kita mempunyai roh sebagai sarana untuk minum Dia. Dalam roh, kita satu dengan Dia. Jika kita nampak visi ini yang merupakan titik fokus wahyu ilahi dalam Alkitab, kita akan tahu bagaimana minum Tuhan sebagai air hayat.