MINUM AIR HAYAT (1)
Pembacaan Alkitab:
Kel. 17:3a, 6; Yoh. 7:37-39; 4:10, 14;
1Kor. 10:4; 12:13, 3; Why. 21:6; 22:1-2, 17; Kis. 2:17a, 21
Dalam Alkitab, prinsip dasar mengenai persekutuan manusia dengan Allah adalah manusia perlu makan dan minum Allah. Karena hal makan dan minum adalah hal yang sangat lazim dalam kehidupan kita sehari-hari, maka hal ini tidak begitu diperhatikan oleh guru-guru besar dan pelajar-pelajar Alkitab. Namun, dalam Alkitab, hal makan dan minum bersifat mendasar dan penting.
MAKAN DAN MINUM DALAM KITAB
KEJADIAN, KITAB WAHYU, DAN INJIL YOHANES
Setelah catatan penciptaan manusia, ada sebutan pohon dan sungai yang “mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu” (Kej. 2:9-10). Pohon hayat adalah untuk makanan manusia, dan aliran sungai adalah untuk minuman manusia. Karena itu, pada awal Alkitab, makan dan minum disajikan berhubungan dengan persekutuan antara Allah dengan manusia.
Pada akhir Alkitab kita juga membaca makan dan minum. Dalam Wahyu 21 dan 22 makan dan minum ditekankan dengan tegas. Menurut Wahyu 21:6, “Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.” Dalam Wahyu 22:1 kita nampak “sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba” (Tl.), dan dalam ayat 2 dikatakan bahwa “di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon kehidupan” (Tl.). Air sungai hayat mengalir keluar dari takhta, dan pohon hayat tumbuh di seberang menyeberang sungai. Dalam Wahyu 22:14 tertulis suatu janji yang berhubungan dengan makan, sedang dalam Wahyu 22:17, suatu sebutan yang berhubungan dengan minum. Wahyu 22:14 mengatakan bahwa mereka yang membasuh jubah mereka mempunyai hak atas pohon kehidupan, dan ayat 17 mengatakan bahwa siapa saja yang mau boleh mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma. Dalam Wahyu 22:14 kita mempunyai janji makan pohon hayat, sedang dalam ayat 17 kita mempunyai sebutan minum air hayat. Karena itu, kita boleh mengatakan bahwa Alkitab diakhiri dengan perkataan tentang makan dan minum.
Dalam Injil Yohanes, Injil yang menekankan sifat ke-Allahan Kristus, juga diterangkan hal makan dan minum. Menurut Injil ini, Allah berinkarnasi sehingga kita bisa makan dan minum Dia. Yohanes 6 mencakup makan Yesus sebagai manna surgawi, sebagai roti sejati, roti hayat, roti Allah. Dalam Yohanes 6:57, Tuhan Yesus berbicara dengan perkataan jelas, tegas, dan pasti mengenai hal makan, “Siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Pasal 7 meneruskan pembicaraan tentang minum air hayat. Pada hari terakhir hari raya Pondok Daun, pada puncak perayaan itu, Tuhan Yesus berdiri dan berseru, “Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” (ayat 37). Yohanes 3 membahas kelahiran kembali, dan pasal 4, tentang minum air hayat. Dalam pasal ini, seorang perempuan Samaria yang haus datang ke sumur untuk menimba air. Di pinggir sumur itu ia bertemu dengan Tuhan Yesus, yang kemudian bercakap-cakap dengan dia dan memberi tahu dia bahwa air hidup bisa didapatkan di dalam Dia. Sampai pada suatu titik Ia berkata kepada perempuan itu, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu, ‘Berilah Aku minum!’ niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup” (ayat 10). Kemudian dalam ayat 14 Ia berkata bahwa air yang Ia berikan akan menjadi “mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal” (ayat 14). Perkataan-perkataan tentang air hidup ini merupakan sesuatu yang berbobot dan besar.
CARA ALLAH MENGGARAPKAN DIRI-NYA
KE DALAM KITA
Janganlah kita memandang hal makan dan minum yang dikatakan dalam Alkitab sebagai sesuatu yang biasa. Sebaliknya, perkara-perkara ini sangatlah penting. Melalui makan dan minum, kita sebagai umat pilihan Allah, menerima Dia ke dalam kita. Sepanjang tahun, kita berkali-kali menunjukkan bahwa kehendak Allah adalah menggarapkan diri-Nya ke dalam kita menjadi hayat kita dan segala sesuatu kita. Akan tetapi, kita masih tetap perlu diingatkan dengan fakta bahwa cara Allah menggarapkan diri-Nya ke dalam kita adalah melalui kita makan dan minum Dia.
BAGAIMANA MAKAN DAN MINUM TUHAN
Ketika saya masih di daratan China pada tahun 1940-an, saya tidak nampak terang perihal makan dan minum Tuhan sejelas yang saya lihat hari ini. Dalam tahun-tahun permulaan ministri saya, saya banyak memberitakan Injil, sering memberitakan dengan subyek Allah sebagai air hayat untuk memuaskan kita. Saya bahkan menerjemahkan kidung: “Benarkah takkan haus, ya benar tak haus”, dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Mandarin. Saya menyukai nyanyian ini. Kesan saya terhadap nyanyian ini amat dalam, dan nyanyian ini sangat sering saya gunakan dalam pemberitaan Injil saya. Akan tetapi, meskipun saya memberitakan Allah sebagai air hayat untuk meleraikan dahaga manusia, saya sendiri tidak tahu bagaimana minum air hayat ini. Betapa lucu, saya memberitakan minum air hayat, namun sementara itu saya sendiri sebenarnya tidak mengerti bagaimana meminumnya! Kita, orang-orang Kristen sering melakukan hal-hal yang lucu semacam ini. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Kristus adalah manna surgawi, akan tetapi tidak banyak yang tahu bagaimana memakan-Nya.
Berita pertama yang saya sampaikan perihal makan Yesus adalah pada tahun 1958. Sebelum waktu itu, saya tak tahu cara makan dan minum Dia. Tetapi setelah diterangi oleh Tuhan, mulai tahun 1958 saya mengutarakan perlunya makan Tuhan. Setelah saya menyampaikan berita pertama dengan judul ini, seorang saudara yang menjadi profesor di suatu universitas di Taiwan mendatangi saya dan mengatakan kepada saya bahwa kata-kata “makan Yesus” kedengarannya kasar. (Huruf China yang saya pakai berarti makan dengan lahap hingga habis). Saya mengingatkan saudara ini bahwa saya bukanlah yang pertama membicarakan makan Tuhan. Saya menunjukkan kepadanya Yohanes 6:57, di mana Tuhan Yesus mengatakan bahwa siapa yang makan Dia akan hidup oleh Dia. Saya katakan kepadanya bahwa saya hanyalah mengikuti Tuhan dan mengulangi firman-Nya. Ketika saudara ini mendengar hal ini, ia tak dapat berkata apa-apa lagi.
Sepanjang abad, orang-orang Kristen telah membicarakan tentang makan dan minum, akan tetapi hampir tak seorang pun tahu bagaimana makan dan bagaimana minum. Orang-orang Kristen banyak menulis buku-buku dengan judul depan “bagaimana”, seperti “bagaimana berdoa”, “bagaimana mengalahkan dosa”, dan “bagaimana menjadi pemenang”. Tetapi pernahkah Anda melihat buku yang memberi tahu kita bagaimana makan Yesus atau bagaimana minum air hidup? Namun, seperti yang telah saya tunjukkan, makan dan minum Yesus merupakan perkara yang sangat penting.
FAKTA, BUKAN PERUMPAMAAN ATAU KIASAN
Semasa muda, saya diberi tahu bahwa potongan-potongan firman yang membicarakan perihal makan dan minum Tuhan hanya merupakan perumpamaan atau kiasan. Saya mengira sebenarnya kita tak dapat makan dan minum Tuhan Yesus, hal ini hanyalah suatu perumpamaan, kiasan. Tetapi akhir-akhir ini, ketika saya memperhatikan hal makan dan minum Tuhan Yesus, saya merasa terkesan dengan perkataan Paulus dalam 1Korintus 10:4. Di sini Paulus tidak mengatakan bahwa batu karang merupakan pola atau lambang Kristus. Dengan jelas ia mengatakan bahwa batu karang itu adalah Kristus. Dalam 1Korintus 10:3 dan 4, Paulus membicarakan makanan rohani, minuman rohani, dan batu karang rohani. Karena kita kekurangan keberanian Paulus, mungkin kita akan melemahkan tekanan pernyataannya dengan mengatakan batu karang melambangkan Kristus. Semula saya juga tak mempunyai keberanian mengatakan bahwa air yang mengalir keluar dari batu karang adalah rohani. Menurut pengertian saya, air itu bersifat alami, bukan rohani. Saya juga tak berani mengatakan bahwa batu karang yang darinya air mengalir adalah batu karang rohani. Tetapi Paulus dengan berani dan tegas berkata bahwa ia adalah batu karang rohani yang mengikuti orang-orang Israel di padang gurun. Kemudian ia pun berkata bahwa batu karang itu bukannya melambangkan Kristus, melainkan adalah Kristus sendiri. Jika kita mengatakan hal ini tanpa perkataan Paulus sebagai dasar, sudah tentu kita bisa disalahkan sebagai bidah.
Janganlah kita memandang makan dan minum Yesus sebagai suatu perumpamaan atau kiasan. Saya mau dengan tegas mendeklarasikan bahwa hal-hal ini adalah fakta. Setiap hari, bahkan setiap jam, saya makan dan minum Tuhan Yesus. Dalam Yohanes 6, Tuhan berfirman bahwa Ia datang dari surga untuk menjadi makanan kita. Perkataan ini bukanlah suatu perumpamaan atau kiasan, melainkan suatu fakta ilahi. Kristus adalah makanan kita dan minuman kita. Dalam Yohanes 7:37-38, Ia meneruskan perkataan-Nya bahwa siapa yang haus boleh datang kepada-Nya dan minum dan dari dalam dirinya akan mengalir aliran-aliran air hidup. Ini adalah fakta surgawi.
Meskipun hal makan dan minum adalah sesuatu yang biasa dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam Alkitab makan dan minum adalah masalah yang cukup penting. Seperti yang telah kita tunjukkan, melalui makan dan minum Dia, Allah menggarapkan diri-Nya ke dalam kita. Melalui makan dan minum, kita menerima Tuhan ke dalam kita, dan secara organik, Ia menjadi satu dengan kita. Sewaktu kita makan dan minum unsur-unsur tertentu, unsur-unsur itu diterima masuk ke dalam kita dan menjadi satu dengan kita baik dalam hakiki maupun sarinya. Sebagai contoh, bagaimanakah daging dan sayur-sayuran di meja makan dapat menjadi satu dengan kita? Cara satu-satunya adalah melalui memakan hidangan itu. Ketika kita makan dan minum, secara organik makanan kita menjadi satu dengan kita, dan ketika makanan ini dicerna serta diasimilasi, makanan ini sebenarnya menjadi bagian dari diri kita, menjadi serabut serta jaringan-jaringan tubuh kita. Pemahaman atas hal ini bisa menolong kita nampak akan pentingnya makan dan minum dalam Alkitab. Makan dan minum Tuhan sangatlah berarti. O, betapa kita perlu makan Dia dan minum Dia!
PENTINGNYA MINUM
Menurut catatan Alkitab, minum lebih penting daripada makan. Wahyu 22:17 bukannya mengatakan siapa yang lapar, baiklah ia datang dan makan; melainkan siapa yang haus, baiklah ia datang dan minum air hayat. Ini menunjukkan bahwa dalam konsepsi ilahi, minum lebih penting daripada makan.
Dalam Kejadian 2, pohon hayat disebut duluan, baru kemudian sungai. Tetapi pada akhir Alkitab, dalam Wahyu 22, air hayat disebut duluan, baru kemudian pohon hayat. Menurut Wahyu 22:1 dan 2, pohon hayat tumbuh pada sungai hayat, suatu fakta yang dengan jelas menunjukkan bahwa air hayatlah yang mengangkut pohon. Ini berarti makan termasuk dalam minum dan minum lebih utama daripada makan. Ini juga dibuktikan oleh fakta bahwa dalam hayat jasmani kita, tanpa makan kita dapat tahan hidup lebih lama daripada tanpa minum.
Menurut urutan dalam Alkitab, makanan disajikan lebih dulu dan kemudian air. Inilah yang terdapat dalam Kitab Kejadian maupun dalam Kitab Keluaran. Keluaran 16 membicarakan perihal makanan, manna surgawi, dan kemudian Keluaran 17 meneruskan membicarakan perihal air yang mengalir keluar dari batu karang yang terpukul. Urutan yang sama ditemukan dalam permulaan pasal-pasal Kitab Wahyu. Wahyu 2:7 mengatakan, “Siapa yang menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.” Air hayat tidaklah disebut hingga Wahyu 7:17, dalam pasal itu dikatakan bahwa Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu “akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan.” Akan tetapi, pada akhir Kitab Wahyu, urutan ini dibalik. Kita semua tahu bahwa dalam pembicaraan maupun dalam penulisan, kata-kata yang terakhir merupakan kata-kata yang menentukan dan kata penutup itulah yang menyimpulkan. Kata penutup Kitab Wahyu, keseluruhan Alkitab menempatkan hal minum di depan makan. Pewahyuan pikiran mendasar Allah bukan diakhiri dengan makan, melainkan minum. Wahyu 22:17 mengatakan bahwa siapa yang haus boleh datang dan minum. Di satu pihak, Alkitab itu dalam dan misteri; di pihak lain, Alkitab itu riil. Dalam keriilannya, Alkitab diakhiri dengan panggilan untuk minum. Melalui ini kita nampak betapa pentingnya minum.
Tanpa mengetahui cara minum, kita tak akan bisa menjadi orang Kristen yang tepat. Ketika sebagian orang mendengar berita semacam ini, mereka bisa merasa heran bahwa kebanyakan dari orang-orang beriman yang berjalan di depan kita, tidak mengerti cara minum air hayat. Akan tetapi, bagaimanapun juga, banyak di antara mereka telah minum air hayat ini. Demikian juga, orang-orang yang hidup di abad-abad yang lampau tidak mengerti tentang vitamin. Tetapi ini tidak berarti mereka tidak menyerap vitamin itu ke dalam tubuh mereka. Mereka makan vitamin-vitamin itu tanpa memahaminya. Dalam prinsip yang sama, kebanyakan orang Kristen yang berjalan di depan kita telah mempunyai banyak pengalaman minum air hayat. Namun, mes-kipun itu merupakan suatu fakta, mereka tidak tahu cara minum. Mereka menikmati minum, tetapi mereka tidak mempunyai pengetahuan perihal minum.
Dalam berita ini dan berita selanjutnya, saya mempunyai beban bukan hanya terhadap perihal minum, lebih-lebih terhadap pengetahuan tentang minum. Setiap hari saya dengan sengaja dan dengan sadar menyerap vitamin-vitamin, tidak seperti mereka yang menyerap vitamin-vitamin tanpa mempunyai sedikit pengetahuan apa pun akan vitamin-vitamin itu. Demikian juga, jika kita memahami pengetahuan tentang minum, kita akan minum secara sadar dan dengan sengaja. Kita akan mempunyai pengetahuan bagaimana minum, dan dengan riil minum air hayat.
Bahkan pemazmur dalam Perjanjian Lama mempunyai pengalaman minum. Mazmur 36:9 mengatakan, “Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu.” Sungai ini mengandung banyak kesenangan, kegembiraan. Bahkan sebelum Allah datang di dalam daging, kaum beriman dalam Perjanjian Lama mengalami kegembiraan minum. Sampai Allah datang di dalam daging, dengan jelas Ia memberitakan dan memanggil supaya orang-orang datang kepada-Nya dan minum (Yoh. 7:37). Minum merupakan se-suatu yang penting bagi kehidupan kekristenan kita.
MINISTRI PELENGKAPAN DAN
MINISTRI PENAMBALAN
Perjanjian Baru ditulis oleh sejumlah penulis, yang meliputi Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Petrus, Yakobus, Yudas, dan Paulus. Dalam Kolose 1:25 Paulus mengatakan, “Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu.” Paulus diamanati dengan ministri meneruskan firman Allah dengan sepenuhnya (melengkapi firman Allah). Tanpa tulisan Paulus, wahyu ilahi dalam Alkitab tidak lengkap. Jika tulisan Paulus tidak dimasukkan ke dalam Alkitab, Kitab Suci akan menjadi seperti suatu kalimat yang tidak lengkap. Jadi, Surat-surat Kiriman Paulus penting untuk melengkapi firman Allah.
Ministri Yohanes adalah ministri penambalan. Setelah wahyu ilahi disampaikan dengan sepenuhnya melalui Paulus, terdapat sejumlah kebocoran dan kerusakan. Yohanes datang menambal apa yang telah bocor dan rusak. Alkitab diakhiri dengan ministri perlengkapan Paulus dan ministri penambalan Yohanes. Seperti yang kita ketahui, Kitab Wahyu, yang ditulis oleh Yohanes, merupakan kitab terakhir dalam Alkitab.
Baik dalam ministri Paulus maupun dalam ministri Yohanes, baik dalam ministri pelengkapan maupun dalam ministri penambalan, perkara makan dan minum sangatlah ditekankan. Paulus mencakupkan hal makan maupun minum dalam Surat 1Korintus. Dalam 1Korintus 3:2, Paulus berkata kepada kaum beriman di Korintus, “Susulah yang kuberikan kepadamu.” Perkataan ini menyiratkan perihal makan. Kemudian dalam 1Korintus 10:3 dan 4 Paulus mencakupkan perkataan baik makan maupun minum, “Mereka semua makan makanan rohani yang sama dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.” Paulus melayani kaum beriman dengan makanan rohani dan minuman rohani. Ministrinya adalah ministri memberikan makanan dan menyuplaikan minuman untuk meleraikan dahaga umat Allah.
Injil Yohanes ditulis kurang lebih 20 tahun setelah tulisan Paulus yang terakhir. Karena ministri Yohanes adalah ministri penambalan, Injilnya adalah Injil penambalan. Persoalannya disebabkan oleh orang-orang tertentu yang menyebut diri mereka orang-orang Kristen tetapi tidak percaya kepada ke-Allahan Kristus. Dalam Injilnya, Yohanes menambal kerusakan yang diakibatkan oleh kekurangan iman terhadap ke-Allahan Kristus. Injilnya dengan jelas menyatakan bahwa Kristus adalah Allah. Selain itu, telah kita tunjukkan bahwa dalam Injil yang menekankan ke-Allahan Kristus ini juga menekankan perihal makan dan minum Tuhan. Kita pun nampak bahwa dalam Kitab Wahyu kita menemukan keterangan tentang makan dan minum. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa ministri Yohanes, seperti ministri Paulus, menekankan pentingnya makan dan minum Tuhan. Tanpa makan dan minum, tidak ada jalan lain bagi kita untuk bisa menjadi orang Kristen yang normal. Karena itu sangatlah penting bagi kita untuk belajar bagaimana minum air hayat. Kita perlu memperhatikan semua wahyu dalam Alkitab mengenai bagaimana minum Tuhan.