AIR HAYAT DALAM KEBANGKITAN
Pembacaan Alkitab:
Kel. 17:6, 1Kor. 10:4; 12:13; Yoh. 4:10, 14; 7:38-39; 19:34; Why. 22:1-2, 17, 21:6
Mengenai air yang mengalir dari batu karang yang terpukul dalam Keluaran 17:6, mengandung perkara yang rohani dan misterius. Untuk memahami perkara ini, kita perlu mengerti bahwa dalam setiap catatan Alkitab pasti ada makna rohaninya. Janganlah kita mencoba memahami setiap potongan catatan Alkitab hanya menurut hitam di atas putih. Sebagai contoh, catatan perihal turunnya manna dalam Keluaran 16 mempunyai aspek-aspek ini. Kita tahu bahwa manna sangat misterius. Tak seorang pun dapat mengatakan apakah manna itu. Manna sangat misterius karena manna turun dari surga. Dengan prinsip yang sama, air yang mengalir dari batu karang yang terbelah juga misterius.
Karena manna turun dari surga, maka mudah disadari kalau manna itu misterius. Akan tetapi mungkin kita tidak mengakui kemisteriusan aspek-aspek air yang keluar dari batu karang yang terpukul. Sebaliknya, boleh jadi kita menganggap ini adalah sesuatu yang alamiah, sesuatu yang hanya berhubungan dengan bumi. Tetapi bagaimana mungkin air yang begitu banyak dapat keluar dari satu batu karang saja? Apakah batu karang itu sebuah sumber atau sebuah mata air? Bagaimana mungkin batu karang itu dapat menjadi sumber air? Selanjutnya, air dari batu karang itu rohani atau alami? Jika kita katakan bahwa itu hanyalah alami karena dihasilkan dari batu karang sesungguhnya, lalu bagaimana kita menanggapi perkataan Paulus dalam 1Korintus 10:4 yang mengatakan bahwa mereka semua “minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka”? Menurut ayat ini, baik air maupun batu karang, kedua-duanya adalah rohani. Segala sesuatu yang rohani adalah misterius. Karena itu, minuman rohani dan batu karang rohani kedua-duanya adalah misterius. Misterius berarti tidak dapat dijelaskan walaupun dapat dinikmati dan dialami. Baik manna maupun air hayat dari batu karang yang terpukul adalah rohani dan misterius.
Berdasarkan apa Paulus mengatakan bahwa batu karang itu rohani? Boleh jadi dasarnya adalah kelimpahan wahyu yang ia terima dari Tuhan mengenai hal-hal di dalam surga, di bumi, dan di bawah bumi. Paulus pernah dididik oleh Gamaliel, ia mempunyai pengetahuan yang penuh terhadap Perjanjian Lama. Tak dapat disangsikan, melalui wahyu yang Tuhan berikan kepadanya, mata Paulus tercelik untuk melihat makna rohani banyak hal yang besar dalam Perjanjian Lama. Boleh jadi inilah yang memberikan jaminan baginya untuk mengatakan bahwa manna, air, dan batu karang semuanya adalah rohani. Akan tetapi, apa pun dasar Paulus, kita yakin penafsirannya tepat.
Air ini misterius karena air ini keluar dari batu karang yang mengikuti bangsa itu dalam perjalanan mereka melalui padang gurun. Sudah tentu batu karang semacam ini tak mungkin bersifat alami atau material. Bagaimana mungkin sebuah batu karang yang harfiah, yang alami, mengikuti perjalanan bangsa itu? Paulus mengatakan batu karang mengikuti orang, berarti batu karang itu adalah batu karang yang hidup. Karena itu, batu karang ini adalah yang rohani dan misterius. Sama seperti kita memperhatikan masalah air hayat dalam kebangkitan, kita harus terkesan dengan aspek rohani dan aspek misteri air yang berasal dari batu karang yang terpukul.
Air yang keluar dari batu karang adalah air hayat dalam kebangkitan. Kebangkitan menunjukkan sesuatu telah ditaruh ke dalam maut, tetapi kemudian hidup kembali. Juga menunjukkan hayat yang bertumbuh dari sesuatu yang telah melewati kematian. Air hidup dalam Keluaran 17 mengalir dari batu karang. Mengapa Allah menyebabkan air keluar dari batu karang? Kalau Dia itu Maha kuasa, Dia tak perlu menggunakan batu karang. Dia bisa saja dengan mudah membelah tanah dan membuat air hidup mengalir keluar. Dalam Alkitab, batu karang ini menyatakan penebusan Allah dan inkarnasi Kristus. Batu karang ini juga menyatakan keinsanian Kristus serta kematian-Nya. Air yang mengalir keluar dari batu karang yang terpukul memancar keluar setelah inkarnasi, hidup sebagai manusia, dan mati. Air hanya bisa mengalir setelah langkah-langkah utama Kristus digenapi. Alkitab dengan jelas memberi tahu kita bahwa batu karang adalah Kristus. Bagaimana mungkin Kristus, yang adalah Allah, menjadi batu karang? Ini menyiratkan inkarnasi dan kehidupan insani-Nya. Untuk menjadi batu karang, Kristus harus berinkarnasi dan hidup di antara manusia untuk sejangka waktu. Akhirnya, ketika Ia di atas salib, Ia dipukul oleh kuasa hukum Taurat Allah. Jadi, Keluaran 17:6 merupakan suatu ayat yang dalam. Ayat ini meliputi inkarnasi, kehidupan insani, dan kematian Kristus.
Cukup mudah melihat bahwa batu karang yang terpukul melambangkan Kristus yang terpukul dalam penyaliban-Nya. Sekarang kita harus meneruskan pengamatan kita akan air hayat yang mengalir dalam kebangkitan. Air ini tak dapat mengalir kecuali Kristus telah berinkarnasi, menempuh hidup insani, dan mati. Hari ini air hayat masih mengalir dalam kebangkitan. Kita sering berkidung tentang minum air hayat. Tetapi ketika kita menyanyikan nyanyian-nyanyian ini atau membaca ayat-ayat seperti 1Korintus 12:13, saya meragukan banyak di antara kita yang mengerti bahwa air hayat yang kita minum adalah di dalam kebangkitan. Dalam Yohanes 4:10, Tuhan Yesus berkata kepada perempuan Samaria, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu, ‘Berilah Aku minum!’ niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” Air hidup yang Tuhan nyatakan adalah air hayat dalam kebangkitan. Sebelum Tuhan Yesus terpukul di atas salib, air ini belum tersedia untuk kita minum.
Menurut Yohanes 7:38–39, aliran-aliran air hayat berhubungan dengan kebangkitan Kristus. Di sini kita nampak bahwa Roh sebagai air hayat dapat diterima hanya setelah Tuhan Yesus dimuliakan, yakni setelah Tuhan Yesus disalibkan dan masuk ke dalam kebangkitan. Pemuliaan yang dikatakan dalam Yohanes 7:39 menyatakan pemuliaan Kristus dalam kebangkitan-Nya. Lukas 24:26 menunjukkan bahwa dalam kebangkitan, Kristus masuk ke dalam kemuliaan-Nya. Jadi, ketika Ia dibangkitkan, Ia dimuliakan. Setelah pemuliaan Kristus dalam kebangkitan, air hayat pun mengalirlah. Roh sebagai aliran-aliran air hayat dapat dialami oleh kaum beriman hanya setelah Kristus melewati inkarnasi, kehidupan insani, kematian, dan setelah Ia masuk ke dalam kebangkitan.
Ketika Tuhan Yesus ada di atas salib: “seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air” (Yoh. 19:34). Kebanyakan orang Kristen hanya memperhatikan darah yang mengalir keluar dari lambung Tuhan, dan tidak memperhatikan air. Ingatlah, darah dalam Yohanes 19:34 disebut duluan dan kemudian air. Ini menunjukkan bahwa pertama-tama kita ditebus dan kemudian kita menerima Roh.
Sekalipun kita telah menunjukkan bahwa air hayat mengalir dalam kebangkitan, namun kita belum memberikan definisi kebangkitan. Kebangkitan sukar didefinisikan. Untuk memahaminya secara tepat, kita memerlukan wahyu seluruh Alkitab. Menurut fakta, fokus Alkitab adalah kebangkitan. Anda boleh jadi merasa heran mendengar bahwa kebangkitan sebenarnya adalah diri Allah sendiri. Dalam Yohanes 11:25 Tuhan Yesus berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup.” Menurut konsepsi kita, pertama-tama kita mempunyai hayat dan kemudian kebangkitan. Tetapi dalam urutan ilahi, kebangkitan mendahului hayat.
Kebangkitan yang adalah diri Allah sendiri dinyatakan oleh fakta bahwa Ia yang berfirman adalah kebangkitan dan adalah Allah yang berinkarnasi. Ia adalah Firman yang adalah Allah dan yang menjadi daging (Yoh. 1:1, 14 Tl.). Dalam Yohanes 11:25, Ia menyatakan bahwa diri-Nya adalah kebangkitan. Menelusuri kembali, kita akan nampak bahwa kebangkitan adalah Yesus, Yesus adalah Firman yang menjadi daging, dan Firman adalah Allah. Ini menunjukkan bahwa kebangkitan adalah Allah.
Ada orang mungkin merasa heran bagaimana mungkin Allah dapat menjadi kebangkitan karena kebangkitan meliputi kematian. Tanpa kematian tidak ada kebangkitan. Bagaimana mungkin Allah mati, atau terlibat dalam kematian, agar dapat dibangkitkan? Untuk membuktikan bahwa Ia adalah kebangkitan, Allah harus masuk ke dalam kematian. Tanpa ini tak ada jalan lain untuk bisa membuktikan bahwa Ia adalah kebangkitan. Untuk masuk ke dalam kematian, Allah harus berinkarnasi. Ia harus mempunyai tubuh manusia dengan hayat dan sifat manusia. Allah yang berinkarnasi dan menempuh kehidupan insani serta kematian juga masuk ke dalam kebangkitan. Segala yang melewati kematian dan yang menghasilkan kehidupan ada di dalam kebangkitan. Sebagai kebangkitan, Allah adalah persona yang berinkarnasi, mengalami kehidupan insani, dan melalui kematian. Sekarang di dalam kebangkitan, Ia adalah Yang menang, Yang jaya, dan Yang melampaui.
Tuhan perlu memperluas wawasan kita sewaktu membaca Alkitab. Jika kita mempunyai wawasan yang luas, kita akan nampak bahwa melalui inkarnasi, Allah yang kekal melewati pintu yang membawa-Nya bersentuhan dengan banyak kesulitan, penderitaan, dan tekanan dalam kehidupan insani yang tidak Ia temui di dalam kekekalan. Tetapi sebagai yang berinkarnasi, Ia mengalami semua penderitaan ini, bahkan akhirnya masuk ke dalam maut. Kebangkitan Kristus bukan hanya merupakan hasil keluarnya Kristus dari kubur, melainkan juga merupakan buah dari kehidupan-Nya sebagai manusia selama tiga puluh tiga setengah tahun dengan segala penderitaan dan kesukaran yang dialami-Nya. Tak ada penderitaan, kesukaran, atau lingkungan negatif yang mampu mengalahkan Dia atau menekan-Nya. Sebagai gantinya, Ia berhasil mengalahkan semua perkara negatif dan menaklukkannya. Ia mengalahkan semua perkara negatif, termasuk maut, alam maut, dan kubur. Inilah Allah di dalam Kristus yang adalah kebangkitan.
Karena air hayat ada di dalam kebangkitan, air hayat juga adalah kemenangan dan kejayaan yang melampaui setiap perkara negatif. Ketika kita minum air ini, kita menjadi orang-orang di dalam kebangkitan dan milik kebangkitan.
Sekarang kita melihat tiga gambaran yang diilustrasikan dalam Alkitab: batu karang yang terpukul dengan air yang mengalir darinya, Kristus di atas salib dengan darah dan air yang mengalir dari lambung-Nya; dan Allah di atas takhta, yang darinya mengalir aliran-aliran sungai hayat. Gambaran-gambaran ini bukannya menyatakan tiga jenis air yang berbeda, satu mengalir dari batu karang, yang lain mengalir dari tubuh Kristus; dan masih ada yang lain lagi mengalir dari takhta Allah. Tidak! Air dalam gambaran-gambaran ini menunjukkan satu air. Lalu mengapa firman memisahkan gambaran batu karang, tubuh Yesus, dan takhta? Tambahan pula, apakah sumber aliran air ini? Sumber aliran air ini batu karang, tubuh jasmani Yesus, ataukah takhta? Menurut Wahyu 22:1, sumber aliran air itu adalah takhta Allah. Ayat ini mengungkapkan bahwa sungai air hayat berasal dari takhta.
Takhta Allah dengan aliran air hayat telah ada lama sebelum Yesus disalibkan dan sebelum batu karang dipukul. Air hayat yang keluar dari takhta telah mengalir sebelum kematian Kristus, bukan sesudahnya. Menurut urutan dalam Alkitab, batu karang adalah yang pertama, tubuh jasmani Yesus adalah yang kedua, dan takhta adalah yang ketiga. Tetapi sebenarnya takhta adalah yang pertama. Aliran air hayat dimulai dari takhta. Sebelum batu karang dipukul dan sebelum Kristus disalibkan, air hayat sudah mengalir dari takhta. Janganlah menganggap bahwa Wahyu 22:1 hanya menggambarkan apa yang telah terjadi dalam Keluaran 17 dan Yohanes 19. Ini adalah gambaran dari sesuatu sejak kekekalan, sesuatu yang meliputi keseluruhan Alkitab. Ini menunjukkan bahwa air hayat mengalir sebelum berinkarnasi-Nya Kristus. Namun, inkarnasi merupakan pengaliran yang lebih lanjut dari air hayat. Allah mengalir dari takhta-Nya ke dalam palungan dan juga ke dalam rumah tukang kayu. Tiga puluh tiga tahun berikutnya, Allah mengalir ke dalam salib dan kemudian mengalir ke dalam kebangkitan.
Alkitab menceritakan kisah mengalirnya Allah. Sepanjang abad, Allah terus mengalir, dan hari ini Ia masih tetap mengalir. Di dalam aliran-Nya, Ia melewati inkarnasi, kehidupan insani, dan kematian, dan kemudian masuk ke dalam kebangkitan. Sekarang di dalam kebangkitan, Ia adalah air hayat untuk kita minum. Karena itu, air hayat yang kita nikmati hari ini ada di dalam kebangkitan.
Air hayat mempunyai banyak kadar, banyak unsur. Setiap kali kita minum air hayat dengan cara yang tepat, air ini akan menyuplai kita dengan semua kadar dan unsur yang ada dalam air itu. Unsur-unsur ini bekerja di dalam kita. Mereka yang mengutamakan apa yang disebut pengalaman-pengalaman Pentakosta mengira, mereka minum banyak air tatkala mereka berbicara dalam bahasa lidah. Sebenarnya mereka menerima sangat sedikit suplai hayat, kalaupun ada. Namun, dalam pengalaman kita, kita menikmati pekerjaan yang bersifat batiniah dari aliran air dan segala unsur yang ada padanya. Aliran air yang di dalam kita bukanlah air tanpa unsur inkarnasi, melainkan air yang meliputi inkarnasi, kehidupan insani, dan kematian, bahkan air hayat dalam kebangkitan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan air ini atau menaklukkannya; karena air ini adalah kebangkitan, juga adalah hayat.
Dalam berita ini saya mempunyai beban untuk menunjukkan bahwa air hayat ada di dalam kebangkitan. Sebenarnya, air itu sendiri adalah kebangkitan. Ini berarti bahwa Roh, yang dinyatakan oleh aliran air, adalah kebangkitan. Kebangkitan adalah Allah Tritunggal, Bapa sebagai sumber, Kristus Putra sebagai jalan, dan Roh sebagai aliran. Hari ini kita minum air hayat di dalam kebangkitan. Air ini telah melalui inkarnasi, kehidupan insani, dan maut. Karena air ini ada di dalam kebangkitan, maka semakin kita meminumnya, semakinlah kita keluar dari kondisi alamiah kita, dan tetap menang atas penderitaan-penderitaan maupun kesulitan-kesulitan. Air hayat memisahkan kita dari dunia dan dari segala macam perkara negatif. Karena air hayat adalah kebangkitan, kita menikmati kebangkitan melalui berbagian atasnya.
I. AIR HAYAT ADALAH ALLAH TRITUNGGAL
YANG MENGALIR KELUAR MENJADI HAYAT KITA
Air hayat adalah Allah Tritunggal yang mengalir keluar menjadi hayat kita. Dengan mengatakan air hayat adalah Allah Tritunggal boleh jadi merupakan kejutan bagi mereka yang sistematis dan dogmatis dalam teologi mereka. Mereka menganggap pernyataan seperti ini adalah bidah. Fakta bahwa air hayat mengalir dari takhta Allah dan Anak Domba menunjukkan bahwa Allah Bapa adalah sumber, Allah Putra adalah saluran dan Allah Roh adalah aliran. Dua Korintus 13:13 memperkuat hal ini. Dalam ayat ini Paulus mengatakan, “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Di sini kita mempunyai kasih Bapa, anugerah Putra, dan persekutuan atau aliran dari Roh. Ini adalah Allah Tritunggal sebagai air hayat. Hari ini, air hayat yang kita minum adalah Allah Tritunggal yang mengalir keluar menjadi hayat kita.
Ada orang, ketika membaca berita-berita semacam ini, lalu menyanggah bahwa air hayat bukanlah diri Allah sendiri yang mengalir, melainkan aliran hayat Allah. Kalau demikian, apakah hayat Allah itu? Kita tidak bisa sepenuhnya menjawab pertanyaan ini, kita tidak mampu menerangkan apakah hayat Allah itu. Akan tetapi, dari pengalaman kita, kita tahu bahwa air hayat adalah diri Allah Tritunggal.
Janganlah mencoba memahami ketritunggalan ini secara doktrinal. Sebaliknya, pahamilah Allah Tritunggal dengan jalan mengalami. Hari demi hari kita boleh mengalami aliran Bapa, Putra, dan Roh. Saya dapat bersaksi bahwa setiap hari saya mempunyai satu kenikmatan yang manis atas aliran Allah Tritunggal. Terpisah dari aliran ini, saya tak sanggup menanggung penderitaan dan kesukaran yang saya hadapi setiap waktu. Terpujilah Tuhan untuk pengalaman atas aliran Allah Tritunggal sebagai air hayat kita!
II. ALLAH MENJELMA DI DALAM KRISTUS
UNTUK MENJANGKAU MANUSIA
A. BERINKARNASI DAN HIDUP DI ANTARA MANUSIA
Untuk mengalir ke dalam kita, Allah telah menjelma di dalam Kristus untuk menjangkau manusia (Yoh. 1:14). Ini berarti Allah berinkarnasi dan hidup di antara manusia. Tuhan Yesus hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun. Ketika manusia Yesus hidup di bumi, Allah hidup di dalam-Nya. Ini adalah satu fakta sejarah.
B. DISALIBKAN UNTUK DIBEBASKAN
Semasa kanak-kanak, saya merasa sedih karena Tuhan Yesus dipaku di atas salib. Saya memahami penyaliban Kristus menurut konsepsi alamiah saya. Tanpa penyaliban, tidak akan ada jalan bagi Allah yang menjelma di dalam Kristus untuk dibebaskan. Melalui inkarnasi, Allah diikat dan dibatasi di dalam Tuhan Yesus. Tetapi melalui penyaliban Ia dibebaskan dari ikatan dan pembatasan ini. Tuhan Yesus pernah menjadi sebiji benih gandum. Jika Ia tidak jatuh ke tanah dan mati, Ia akan tetap satu biji saja (Yoh. 12:24), dan apa yang ada di dalamnya tidak akan dibebaskan. Tetapi karena Ia jatuh ke tanah dan mati, Ia dibebaskan. Satu biji telah menghasilkan banyak biji. Hayat ilahi, sifat ilahi, dan semua kekayaan ilahi dibebaskan melalui penyaliban Kristus.
C. DIBANGKITKAN MENJADI ROH PEMBERI-HAYAT
Setelah melalui inkarnasi dan penyaliban, Kristus dibangkitkan menjadi Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45). Berkali-kali saya mempunyai beban untuk menunjukkan bahwa Kristus hari ini adalah Roh pemberi hayat. Dari awal sampai akhir, Alkitab merupakan wahyu Allah Tritunggal. Dalam Kejadian 1:26 Allah menyebut diri-Nya dengan kata ganti “Kita”. Ini merupakan keterangan terhadap sikap ketritunggalan ke-Allahan. Meskipun Alkitab membicarakan banyak hal, namun titik pusatnya adalah Allah Tritunggal telah melalui inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan, menjadi Roh pemberi hayat yang almuhit. Saya tidak pernah bosan mendeklarasikan fakta yang ajaib ini. Aliran Allah Tritunggal ini tidak pernah kering. Jika kita membaca Alkitab dari sudut pandangan ilahi, kita akan nampak bahwa titik pusatnya adalah wahyu perihal Allah Tritunggal dan berbagai proses yang dijalani-Nya untuk menjadi Roh pemberi hayat.
III. ROH ITU ADALAH AIR HAYAT
Roh itu Roh pemberi hayat adalah air hayat (Yoh. 7:38-39). Kita telah menunjukkan bahwa air hayat adalah Allah Tritunggal. Sekarang kita menyatakan bahwa Roh itu adalah air hayat. Sebagian orang mungkin merasa heran apakah benar air hayat adalah Roh itu atau Allah Tritunggal. Cara yang tepat untuk memahami wahyu ilahi dalam Alkitab mengenai hal ini adalah menyatakan bahwa air hayat adalah Roh itu, Roh itu adalah Allah Tritunggal, dan Allah Tritunggal adalah air hayat. Apa yang diwahyukan dalam Alkitab membawa kita kepada suatu lingkaran yang penuh. Dalam Yohanes 1:1 dikatakan bahwa pada mulanya ada Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah sendiri. Selanjutnya Yohanes 1:14 meneruskan bahwa Firman telah menjadi daging (manusia). Kristus, di dalam daging, Adam yang terakhir, telah menjadi Roh, dan Roh itu adalah Firman (Ef. 6:17). Jika kita suka menganalisis wahyu yang ajaib ini secara doktrinal dan memperdebatkannya, bukannya menikmatinya, kita akan menderita kerugian. Kelimpahan ilahi siap untuk kita minum. Jika kita berbagian atasnya, kita akan dikenyangkan, terpelihara, dan disuplai dengan berkelimpahan. Namun, jika kita hanya menyelidikinya, menganalisisnya, kita akan mencabut diri kita sendiri dari kenikmatan dan suplai ini.
A. MENGALIR KELUAR DARI TAKHTA ALLAH
Roh pemberi hayat sebagai air hayat mengalir keluar dari takhta Allah (Why. 22:1). Di satu pihak, Dia yang duduk di takhta adalah Allah; di pihak lain, air hayat yang mengalir dari takhta adalah Allah juga. Air yang mengalir dari takhta Allah membawa kuasa Allah. Ketika kita minum air ini, kita menerima kuasa sebagai kekuatan. Kita ditaklukkan oleh air hayat yang mengalir di dalam kita.
Selanjutnya, air hayat yang mengalir dari takhta Allah membawakan kelimpahan hayat ilahi kepada kita. Ini dinyatakan oleh fakta bahwa pohon hayat tumbuh di sungai hayat (Wahyu 22:2). Karena kelimpahan hayat ilahi terbawa dalam aliran air hayat, maka kita menerima kelimpahan-kelimpahan ini sewaktu minum air ini.
B. MENGALIR MELALUI KRISTUS YANG TERPUKUL
Roh mengalir melalui Kristus yang terpukul, yang dilambangkan oleh batu karang yang terbelah (Kel. 17:6; 1Kor. 10:4). Aliran ini meliputi keinsanian Kristus, kehidupan insani Kristus, dan kematian Kristus. Kita tak dapat merasakan, mengalami, atau menikmati keinsanian Tuhan kecuali melalui air hayat yang di batin kita. Semakin kita minum air ini, semakinlah kita mengalami dan menikmati keinsanian Kristus, kehidupan insani Kristus, dan kematian Kristus.
C. MENGALIR DALAM KEBANGKITAN
1. Dengan Kekuatan Kebangkitan Kristus, dengan Kenaikan-Nya dan Penobatan-Nya
Roh sebagai air hayat mengalir dalam kebangkitan dengan kekuatan kebangkitan Kristus (Flp. 3:10), dengan kenaikan Kristus dan penobatan Kristus, yang terdiri dari pemuliaan, pelantikan, dan pengepalaan. Meskipun sukar menerangkannya, semuanya ini menjadi pengalaman kita melalui minum air hayat. Kita dapat bersaksi bahwa kita mengecap kebangkitan Kristus, kenaikan Kristus, dan penobatan Kristus.
2. Untuk Pembentukan Tubuh Kristus
Aliran air hayat dalam kebangkitan adalah untuk pembentukan Tubuh Kristus (1Kor. 12:13). Karena kita semua minum dari Roh yang sama, kita dapat menjadi satu Tubuh. Dengan minum dari satu Roh dalam kebangkitan kita menjadi anggota-anggota Tubuh dan kita terbangun menjadi Tubuh.
3. Untuk Mempersiapkan Mempelai Perempuan Kristus
Aliran air hayat dalam kebangkitan juga untuk mempersiapkan mempelai perempuan Kristus. Menurut Wahyu 22:17, Roh dan mempelai perempuan bersama-sama menyerukan panggilan untuk datang dan minum air hayat. Melalui minum, mempelai perempuan dipersiapkan. Air yang diminum oleh mempelai perempuan adalah Roh itu. Melalui minum Roh itu, mempelai perempuan menjadi satu dengan Roh itu. Ini bukan suatu pengajaran atau doktrin belaka, melainkan sesuatu yang bisa kita praktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika kita minum air hayat setiap hari, Tubuh Kristus akan terbangunkan, dan mempelai perempuan akan dapat dipersiapkan.