AIR HIDUP MENGALIR KELUAR DARI BATU KARANG YANG TERPUKUL (2)
Pembacaan Alkitab:
Kel. 17:1-7; Bil. 20:1-13; 1Kor. 10:1-4
ORANG-ORANG ISRAEL MENCOBAI ALLAH
Ketika orang-orang Israel tiba di suatu tempat yang tidak ada air, mereka bertengkar dengan Musa dan mencobai Allah (Kel. 17:1-2; Bil. 20:2-3). Mereka telah melihat perbuata Allah yang ajaib, tetapi mereka tidak mengenal jalanjalan Allah (Mzm. 103:7). Andaikata pada waktu itu Anda berada di tengah-tengah orang Israel. Anda telah melihat kekuatan Allah yang ajaib dengan menurunkan tulah sampar ke atas orang-orang Mesir. Berikutnya Anda mengalami Paskah dan keluar dari Mesir secara menakjubkan. Kemudian Anda telah melewati Laut Merah seperti berjalan di atas tanah yang kering. Selanjutnya Anda telah merasakan air yang telah diubah, yaitu asalnya pahit kini menjadi manis, dan Anda pun telah menikmati 12 mata air serta 70 pohon korma di Elim. Kemudian Anda mulai mendapat pemberian manna surgawi yang dengan ajaib disediakan oleh Allah. Sekarang dengan mengikuti pimpinan tiang awan, Anda tiba di suatu tempat di padang belantara yang tidak ada air. Jika demikian situasi Anda, apa yang akan Anda perbuat? Apakah Anda akan menggerutu dan bertengkar dengan Musa? Jika kita menjumpai keadaan seperti ini, kita boleh jadi berpikir bahwa kita akan bersyukur kepada Allah. Akan tetapi, jika kita benar-benar bisa bersyukur kepada Tuhan, kita benar-benar adalah kaum beriman yang paling rohani. Jika kita menemui situasi seperti ini, pastilah kita akan bersungut-sungut kepada Tuhan. Boleh jadi kita akan melupakan segala sesuatu, termasuk berdoa, dan hanya mengeluh akan keadaan kita. Seperti orang-orang Israel, kita mungkin akan berkata kepada orang yang memimpin kita, “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (17:3). Saya tidak percaya bahwa di antara kita ada yang akan memuji kepada Tuhan atau mempersembahkan ucapan syukur kepada-Nya. Bahkan sebaliknya, kita akan menyalahkan orang yang memimpin kita dan mengkritik mereka.
Dalam Keluaran 17:2 dikatakan bahwa bangsa itu bertengkar dengan Musa. Kata mereka, “Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum.” Ketika orang-orang Israel bertengkar dengan Musa dan mencobai Tuhan, di tengah-tengah mereka ada tiang, yang berdiri di antara bumi dan langit. Di hadapan tiang ini, orang-orang itu bersungut-sungut kepada Musa. Namun sebagai reaksi terhadap orang-orang itu, Musa berkata, “Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?” (ayat 2). Bangsa itu nampaknya melupakan bahwa tiang tersebut menyertai mereka.
Boleh jadi kita merasa diri kita ini lebih unggul daripada orang-orang Israel dan berpendapat bila kita menemui situasi seperti itu kita tak akan bertengkar, bersungut-sungut, atau mencobai Tuhan. Kita perlu memahami bahwa bagi orang-orang Israel, tiang awan berada di luar mereka. Tetapi bagi kita hari ini, tiang awan ada di dalam kita. Sering kali ketika kita bersungut-sungut tentang suatu keadaan atau lingkungan tertentu, kita mempunyai suatu perasaan yang dalam bahwa Tuhan yang tinggal di dalam kitalah yang telah membawa kita ke dalam situasi ini. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa sering kali ketika kita bersungut-sungut, kita merasakan hadir Allah di dalam kita. Sering kali kita mempunyai perasaan seperti ini ketika kita mengeluh tentang penatua-penatua gereja, atau menyalahkan mereka atas apa yang telah mereka perbuat. Ketika kita mengkritik penatua, kita segera menyadari adanya tiang awan yang di dalam kita. Karena itu, janganlah mengira bahwa Keluaran 17:1-6 semata-mata menggambarkan orang-orang Israel. Potongan firman ini juga merupakan suatu gambaran keadaan kita hari ini.
Andaikata orang-orang Israel mengenal jalan Allah, mereka tidak akan bertengkar dengan Musa atau mencobai Allah. Bahkan, mereka akan menyadari bahwa peristiwa keluarnya mereka dari Mesir bukanlah diprakarsai dan digenapkan oleh mereka. Seluruhnya tak lain adalah pekerjaan Allah, yang dikerjakan menurut prakarsa-Nya. Allah mengutus Musa kepada bangsa itu dan memberi tahu mereka bahwa Ia akan melakukan sesuatu yang penting dengan membawa mereka keluar dari Mesir dan masuk ke padang gurun di mana mereka akan melayani Allah. Kemudian bangsa Israel akan ingat bahwa di Mesir mereka telah melihat perbuatan Allah yang maha kuasa. Dan ini akan memberikan jaminan kepada mereka bahwa Allah akan memenuhi semua kebutuhan mereka. Mereka juga akan mengerti bahwa mereka sekarang tidak lagi di dalam situasi menurut pilihan mereka sendiri, melainkan menurut pimpinan Tuhan. Tuhan memimpin mereka di sana, dan Ia hadir bersama mereka, seperti yang dinyatakan oleh tiang awan yang tegak di antara langit dan bumi. Jadi, mereka tidak perlu khawatir akan persediaan air. Sudah tentu Allah tidak akan membiarkan mereka mati kehausan. Ia akan menyediakan air yang mereka butuhkan. Karena itu, mereka dapat hidup dengan damai.
Jika orang-orang Israel mempunyai kerohanian seperti ini, mereka tidak saja akan mempersembahkan ucapan syukur kepada Tuhan, bahkan mereka akan memuji-Nya dengan nyanyian dan tarian. Mereka dapat mendeklarasikan dengan penuh keberanian: “Allah kita telah membawa kita ke sini. Ia mempunyai rencana-Nya, dan Ia akan memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan.” Sekalipun demikianlah seharusnya sikap umat Allah, tetapi kenyataannya sikap mereka sama sekali berbeda. Nampaknya seolah-olah mereka melupakan segala sesuatu yang telah Allah lakukan bagi mereka. Tidak hanya demikian, mereka bahkan mengabaikan hadir Tuhan dalam tiang awan. Mereka bertengkar dengan Musa dan bertanya apakah Tuhan ada di antara mereka atau tidak.
Janganlah kita coba-coba menertawakan orang-orang Israel atau mencela mereka, kita harus menyadari bahwa situasi kita hari ini sama dengan mereka. Dalam Keluaran 17:1-6, kita mempunyai suatu gambaran diri kita sendiri. Dalam hal doktrin dan pengetahuan boleh jadi kita mengerti sangat jelas dan sangat berpengetahuan, tetapi sewaktu kita berada di dalam situasi yang sebenarnya, kita melupakan segala sesuatu yang kita ketahui. Atas diri kita seolah-olah nampaknya tidak ada lagi Allah, karena kita akan bertanya adakah Allah di antara kita atau tidak. Pada saat seperti itu kita lupa dan tidak sadar bahwa Tuhan ada di dalam kita.
MASA DAN MERIBA
Dalam 17:7 dikatakan bahwa nama tempat itu disebut Masa dan Meriba, karena orang Israel telah bertengkar dan telah mencobai Tuhan. Nama asli atau nama asal tempat ini boleh jadi adalah Rafidim. Masa berarti dites, diuji, dicobai, dibuktikan. Meriba berarti bertengkar atau berjuang. Masa adalah suatu tempat pengujian. Ada tiga kelompok yang terlibat dalam pengujian di Masa: Musa, orang-orang Israel, dan Allah. Israel mencobai Allah; sedangkan Allah menguji Musa di satu pihak dan orang-orang Israel di pihak lain. Karena itu, di Masa, ketiga kelompok ini ditaruh dalam pengujian. Mazmur 81:8 menegaskan fakta bahwa Allah menaruh orang-orang Israel ke dalam pengujian di Masa dan Meriba, karena ayat ini mengatakan Allah menguji orang-orang itu “dekat air Meriba”. Satu-satunya kelompok yang berhasil melewati ujian di Masa adalah Allah. Musa dan orang-orang Israel gagal. Sekalipun Musa dan orang-orang Israel gagal dalam ujian ini, Allah tidak menghukum mereka.
Allah menguji umat itu dengan membawa mereka ke suatu tempat yang kering melalui pimpinan tiang awan. Setelah memimpin umat itu ke suatu tempat yang tidak ada air, Allah berdiam diri dan tidak melakukan sesuatu pun untuk sejangka waktu. Jika Ia dengan segera menyediakan air hidup, umat itu tidak akan pernah tersingkap. Untuk menyingkapkan keadaan umat itu, Allah sengaja menahan diri dalam meleraikan dahaga mereka. Keadaan ini menaruh mereka ke dalam pengujian. Seperti yang telah saya tunjukkan, karena mereka bertengkar dengan Musa dan mencobai Allah, mereka gagal dalam pengujian Allah. Andaikata mereka mengenal jalan Allah, mereka akan bisa melewati ujian di Masa. Pastilah mereka akan berkata, “Tuhan telah membawa kita ke sini dengan satu maksud. Dia tidak akan pernah membiarkan kita jatuh. Dia pasti memenuhi kebutuhan kita. Marilah kita bersyukur kepada-Nya, bernyanyi memuji Dia, dan menari di hadapan-Nya.”
Musa juga gagal dalam ujian di Masa ini. Pada waktu itu Musa adalah orang yang telah tua, usianya lebih dari 80 tahun. Karena ia adalah orang tua, kita mungkin mengharapkan dia bersabar. Tetapi dalam situasi ini Musa tidak sabar. Ketika orang-orang Israel bertengkar dengan dia, segera dia memberikan reaksi dengan berkata mengapa mereka bertengkar dengan dia dan mencobai Allah. Nampaknya Musa seolah-olah berkata, “Tak ada alasan bagimu bertengkar denganku. Aku tak bersalah sedikit pun. Tidakkah kalian tahu bahwa bukan aku yang memimpin kalian ke tempat ini?” Reaksi Musa terhadap orang-orang yang mengajaknya bertengkar itu menunjukkan bahwa dalam situasi ini ia kalah. Seperti orang-orang Israel lainnya, ia pun tak dapat melewati ujian itu.
Sekalipun Musa memberikan reaksi terhadap sungutsungut orang-orang Israel, dalam Keluaran 17 reaksinya tidak terlalu keras. Setelah berbicara kepada mereka, ia berseru kepada Tuhan katanya, “Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!” (ayat 4). Sulit dikatakan, apakah Musa di sini berdoa atau melemparkan tuduhan. Ketika ia berseru kepada Tuhan, nampaknya ia membuat suatu tuduhan melawan bangsa itu.
Jika Anda menjadi Musa, bagaimanakah reaksi yang akan Anda lontarkan menurut pikiran Anda? Secara doktrinal, mungkin kita lebih berpengetahuan daripada Musa, tetapi sebenarnya kita tidak lebih baik daripada dia. Menurut pengertian doktrinal kita, kita tahu bahwa Musa seharusnya berkata, “Tuhan, aku berterima kasih untuk kesetiaan-Mu. Aku memuji-Mu dan menyembah-Mu atas pimpinan-Mu membawa kami ke daerah kering ini. Tuhan, sekalipun tidak ada air di tempat ini, aku menengadah kepada-Mu dan percaya di dalam-Mu. SuplaiMu akan datang pada waktunya.” Namun, Musa tidak berdoa seperti ini. Di satu pihak, ia memberikan reaksi kepada orang-orang Israel; di pihak lain, ia menuduh mereka akan merajam dia. Semuanya ini menunjukkan bahwa di Masa, Musa mengalami kegagalan.
SUATU KEGAGALAN YANG SERIUS
Sekalipun dalam Keluaran 17, Allah tidak menghukum Musa dan orang-orang Israel untuk kegagalan mereka di Masa, tetapi dalam Bilangan 20, Ia menghukum mereka untuk kegagalan mereka di Kadesy. Ketika sekali lagi bangsa itu bersungut-sungut perihal kekurangan air, Musa, yang telah mempelajari pelajaran di Masa, pada mulanya tidak memberikan reaksi. Tetapi karena ia tak bisa sabar lagi menghadapi situasi seperti itu, akhirnya ia membalas dengan keras, katanya: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” (Bil. 20:10). Kemudian, dengan tidak mematuhi perintah Tuhan untuk berkata kepada karang itu, Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali (ayat 11). Dengan berbuat demikian Musa melanggar ekonomi Allah. Sebagai akibatnya, ia dilarang membawa orang-orang Israel masuk ke dalam tanah permai. Menurut 20:12, Tuhan berfirman kepadanya dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.” Seperti saudari mereka Miryam yang mati di Kadesy, Musa dan Harun pun mati di padang gurun. Mereka tidak mempunyai bagian dalam membawa umat itu masuk ke dalam Tanah Kanaan.
Peristiwa dalam Keluaran 17:1-6 terjadi pada awal mereka berada di padang gurun, ketika orang-orang Israel baru mulai mengikuti Tuhan. Karena alasan inilah, maka sekalipun orang-orang Israel berkelakuan kurang baik dan sekalipun diri Musa sendiri juga gagal, Allah tidak marah terhadap mereka. Sebenarnya, Allah telah bersiap sedia untuk menghadapi situasi itu. Seperti yang telah kita tunjukkan, dalam pekerjaan penciptaan-Nya, Allah telah menyediakan batu karang yang terpukul. Kemudian melalui tiang awan Allah memimpin mereka ke tempat ini. Sekalipun bangsa itu bertengkar dengan Musa dan mencobai Allah, Allah tidak memarahi mereka. Tiga puluh delapan tahun kemudian, di Kadesy, situasinya sangatlah berbeda. Karena pada waktu itu, kebanyakan orang yang berada dalam 17:1-6 telah mati. Ini berarti bahwa orang-orang yang berada di Kadesy sekarang ini adalah generasi baru, yang lahir di padang gurun. Dalam pasal-pasal sebelum Bilangan 20, sejumlah besar orang telah dibunuh oleh Tuhan. Dalam Bilangan 20:1, kita bahkan diberi tahu perihal kematian Miryam. Setelah kematiannya, timbullah pertengkaran di Kadesy yang juga mengenai kekurangan air. Peristiwa pertengkaran ini terjadi pada akhir pengembaraan mereka. Karena itu, Tuhan sangat marah kepada mereka. Selanjutnya, Tuhan dengan keras menanggulangi Musa.
Dalam Keluaran 17, kegagalan Musa hanya karena memberikan reaksi dalam pertengkaran dengan orang-orang Israel. Tetapi dalam Bilangan 20, ia bukan hanya membalas dalam pertengkaran dengan umat itu, ia juga melanggar prinsip dasar penebusan Allah. Kristus, yang dilambangkan oleh batu karang, seharusnya hanya dipukul sekali saja. Inilah sebabnya dalam Bilangan 20:8, Tuhan menyuruh Musa berkata kepada batu karang itu, bukan memukulnya. Batu karang telah dipukul dalam Keluaran 17. Namun Musa gagal, karena memukul batu karang untuk kali kedua. Orang-orang Kristen sepanjang zaman juga telah berbuat hal yang sama, yang sebenarnya menyalibkan Kristus sekali lagi. Berbuat demikian merupakan suatu pelanggaran yang serius terhadap prinsip penebusan serta pemerintahan Allah. Jauh lebih serius daripada perkara pribadi, karena ini merupakan suatu masalah yang berhubungan dengan administrasi Allah. Inilah sebabnya Allah menanggulangi Musa demikian keras.
Kita perlu baik-baik belajar dari kegagalan Musa ini dalam hal memberikan reaksi, sehingga kita tidak menyinggung administrasi Allah. Ketika kita marah, kita perlu memperhatikan agar jangan sampai kita berbuat sesuatu yang melanggar prinsip dasar penebusan serta pemerintahan Allah. Karena mengeluarkan reaksi yang menyinggung pemerintahan Allah merupakan sesuatu yang sangat serius.
DISINGKAPKAN OLEH KEKERINGAN
Kita telah nampak bahwa kekurangan air merupakan suatu ujian baik bagi Allah maupun umat Allah. Dalam kehidupan rumah tangga atau hidup gereja kita, Allah sering mengizinkan kita menjumpai tahap keadaan kekeringan. lebih-lebih dalam hidup gereja. Tidak ada satu gereja lokal pun yang selalu mengalirkan aliran-aliran air hidup. Ada kalanya dalam hidup gereja kita sampai di Mara, di tempat yang airnya pahit. Pada kejadian lain, kita tiba di Elim, di mana terdapat 12 mata air. Namun, kita jarang tinggal lama di Elim. Di bawah pimpinan Tuhan, kita dalam gereja selanjutnya dibawa ke Masa, di mana tak ada air sama sekali. Di sini kita ditaruh dalam ujian. Ketika ada air minum cukup banyak, kita mudah berkelakukan dengan layak. Para saudara semuanya berkelakuan seperti orang yang sopan, dan para saudari sangat menyenangkan dan manis. Tetapi ketika tak ada sesuatu pun untuk diminum, kita mudah bertengkar dan sulit diatur, boleh jadi kita bahkan membuang semua tali kekang kita. Situasi yang sama terjadi dalam kehidupan pernikahan. Ketika segala sesuatunya menyenangkan dan positif, suami dan istri boleh jadi rendah hati, ramah, dan lemah lembut. Akan tetapi, ketika kita dipimpin ke tempat yang kering dalam kehidupan pernikahan kita, tindak-tanduk kita akan mengalami suatu perubahan yang drastis. Tak ada lagi keramahan dan kelemahlembutan, sebagai gantinya adalah sungut-sungut serta pertengkaran. Bila terdapat cukup makanan bagi setiap orang, tak ada pertengkaran. Tetapi ketika terjadi kekurangan makanan, orang-orang yang biasanya berkelakuan sebagai wanita dan pria terhormat akan bertengkar untuk makanan itu. Demikian juga, sewaktu terdapat cukup banyak suplai air minum, kita bisa bersikap sopan dan membiarkan yang lain minum lebih dulu. Tetapi ketika kita haus dan merasa tidak puas karena kekurangan air, kita akan bergumul dan berjuang untuk diri kita sendiri. Dengan jalan ini, kita disingkapkan, baik dalam hidup gereja maupun dalam kehidupan keluarga.
Sebenarnya, Tuhan membawa kita ke dalam suatu taraf kekeringan terutama untuk menyingkapkan kita. Dalam situasi seperti ini Tuhan menguji kita, dan kita menguji Dia. Ia menguji kita untuk melihat bagaimana reaksi kita. Akankah kita berdoa, memuji, atau bersyukur kepada Tuhan, atau kita akan bersungut-sungut dan mengomel? Selanjutnya, pemimpin di antara umat Allah juga diuji dengan kekeringan, sama seperti Musa dan Harun. Mereka diuji oleh Allah dan umat Allah. Akan tetapi, di antara semua golongan yang diuji, Allah merupakan satu-satunya yang selalu berhasil melewati ujian itu. Jarang sekali hamba Allah atau para pemimpin di antara umat itu berhasil melewati ujian Allah. Apa lagi umat Allah, jarang sekali mampu melewati ujian secara serempak.
MATA AIR MERIBA
Yehezkiel 47:19 dan 48:28 kedua-duanya mengatakan, “Mata air Meriba dekat Kadesy.” Dalam setiap kasus, dalam bahasa Ibrani, kata “meriba” berarti “pertengkaran”, yaitu nama yang diberikan kepada air dalam Bilangan 20:13. Air yang mengalir dari batu karang yang terpukul seharusnya menjadi mata air perdamaian. Tetapi karena kegagalan kita, air itu menjadi air Meriba, air pertengkaran, air pertikaian, air percekcokan. Sekalipun Allah adalah Allah yang setia dan penuh rahmat, namun kita penuh dosa dan tidak setia. Karena alasan inilah, air yang seharusnya menjadi perdamaian disebut air pertengkaran.
Menurut opini kita, Allah tidak seharusnya menyuplai air hidup kepada orang-orang yang berdosa, jahat, dan tidak setia. Namun, Allah tidak menahan penyuplaian air. Sebaliknya, Ia malah memukul Kristus-Nya dengan hukum Taurat, supaya air hidup bisa teralir untuk meleraikan dahaga kita. Ini menunjukkan kesetiaan dan belas kasihan Allah.
Gambaran air hidup yang mengalir dari batu karang yang terpukul dalam Keluaran 17 menyingkapkan kedosaan dan ketidaksetiaan umat Allah, serta kekurangan hamba-Nya. Kita yang melayani Tuhan di antara umat Allah haruslah memelopori untuk mengakui kekurangan kita. Kita sering mengeluarkan reaksi yang negatif ketika ujian tiba. Kita benar-benar tidak sanggup melewati ujian-ujian yang datangnya dari Allah dan umat-Nya yang menimpa kita. Meskipun Allah setia dan penuh rahmat, namun kita berdosa, sama seperti orang-orang Israel. Sekalipun mereka telah ditebus, di Masa mereka masih berkelakuan seperti orang-orang berdosa. Kristus telah terpukul bagi kita sehingga air hidup keluar dari diri-Nya untuk meleraikan dahaga kaum berdosa. Da-lam gambaran ini kita nampak suatu aspek Injil yang penting.
Dalam Keluaran 17, Musa telah berumur 80 tahun lebih, dan dalam Bilangan 20, ia berusia hampir 120 tahun. Tetapi tak sekali pun ia lulus ketika menemui ujian. Pertengkaran yang terjadi karena kekurangan air menempatkan kita pada suatu ujian yang sangat sulit. Ketika Tuhan membiarkan gereja menjumpai tahap kekeringan semacam itu, bahkan hamba-hamba-Nya yang menjadi pemimpin pun tak mampu melewati ujian. Bila kita kekurangan Kristus sebagai air hidup yang meleraikan dahaga kita, secara otomatis kita menjadi subyek ujian Allah. Karena kekurangan air, orang-orang Kristen hari ini satu demi satu menjadi subyek ujian. Berselisih, bertengkar, bercekcok, saling mengkritik merupakan kejadian yang biasa terjadi karena kekurangan ini.
Supaya kita bisa belajar, sering Tuhan memimpin kita ke daerah yang kering. Di sini kita mempunyai kesempatan untuk menguji Allah dan diuji oleh-Nya. Baik umat Allah maupun hamba-hamba-Nya, tentu diuji. Tetapi seperti yang telah berkali-kali saya tunjukkan, hanya Allahlah yang sanggup melewati ujian ini. Hanya Dia sendirilah yang memenuhi syarat. Ini menunjukkan betapa seriusnya perihal kekurangan Kristus sebagai air hidup untuk meleraikan dahaga kita. Betapa pentingnya kita memiliki Dia guna meleraikan keperluan ini!
Dalam berita berikutnya kita akan melihat, agar air hidup ini mengalir dari kita, kita perlu terpukul bersama Kristus. Ia telah terpukul, kita juga perlu terpukul. Jika dalam perkara ini kita tidak sama dengan Kristus, maka air hidup yang di dalam kita takkan menemukan jalan keluar. Kita semua perlu disamakan dengan Kristus yang terpukul sehingga air hidup bisa mengalir.
MAKAN, MINUM, DAN BERNAFAS
Dalam Alkitab lebih banyak dikatakan perihal air rohani, atau air hayat, daripada perihal makanan rohani. Agaknya para pembaca Alkitab lebih mudah terkesan dengan minum air hayat. Bahkan dalam denominasi-denominasi, kita mendengar berita-berita tentang minum air hidup. Tetapi sangat jarang sekali kita mendengar tentang makan makanan rohani. Di dalam firman Tuhan, minum lebih vital daripada makan.
Menurut wahyu dalam Alkitab, makan ada di dalam minum, dan minum ada di dalam bernafas. Kebanyakan orang Kristen telah nampak pentingnya minum, tetapi tidak nampak akan keperluan bernafas. Sekalipun kita boleh jadi telah memiliki doktrin perihal minum, tanpa bernafas kita takkan mempunyai jalan yang riil untuk minum air hidup. Jika kita mau makan, kita perlu minum; dan jika kita mau minum, kita perlu bernafas. Jika kita mempunyai Keluaran 16 tanpa Keluaran 17, berarti kita makan tanpa minum. Dalam prakteknya kita tidak bisa mempunyai yang satu tanpa yang lain, karena makan selalu di dalam minum.
Urutan dalam Injil Yohanes menunjukkan hal ini. Dalam pasal 6, Yohanes membicarakan makan manna. Kemudian dalam pasal 7, ia mengungkapkan perihal minum air hidup. Urutan makan dan minum dalam Injil Yohanes sama seperti dalam Kitab Keluaran, di mana kita mempunyai manna dalam pasal 16 dan air hidup dalam pasal 17.
Jika kita diterangi oleh Tuhan, kita akan menyadari bahwa kita memerlukan minum lebih daripada makan. Dalam 1Korintus 12:13, Paulus mengatakan bahwa kita semua diberi minum dari satu Roh. Jika kita gagal minum, kita tak akan sanggup makan. Minum meliputi makan. Ini berarti makanan rohani termasuk di dalam air hayat. Karena itu, tanpa air hayat, kita tak akan mempunyai makanan rohani apa pun.
Menurut Wahyu 22:1–2, pohon hayat tumbuh di tepi sungai air hayat. Ini menunjukkan di mana saja air hayat mengalir, di situ pasti tumbuh pohon hayat. Air menumbuhkan pohon bagi kita. Air adalah sumber, karena air hayat, bukan pohon hayat, yang mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba. Fakta bahwa air mengalir dari takhta dan pohon tumbuh di dalam sungai menyatakan bahwa minum air hayat lebih penting daripada makan pohon hayat.